Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Melihat realita saat ini perkembangan zaman terutama dibidang teknologi
informasi yang semakkin berkembang. Hal ini berdampak juga dibidang ekonomi
termasuk dalam ruang lingkup auditing. Teknologi seakan-akan digunakan sebagai alat
untuk mempermudah cara untuk melakukan kecurangan yang didukung oleh tiga
keadaan yakni insentif atau tekanan, kesempatan, dan sikap rasionalisasi.
Disinilah terlihat bahwa perkembangan tekonologi yang semakin canggih akan
mempersulirt pendektisi kecurangan dalam dunia bisnis. Dan tanggung jawab seorang
auditor akan semakin berat untuk mendeteksi kecurangan oleh pihak-pihak tertentu.
Dalam makalah ini akan dibahas lebih detail lagi tentang bagaimana sikap auditor saat
menemukan suatu kecurangan.
   
B.       Manfaat Penulisan Makalah
Selain bermanfaat bagi penulis secara pribadi, penulisan makalah ini dapat
bermanfaat bagi  pembaca selaku pelaku maupun pengamat dunia audit diantaranya
sebagai berikut :
1. Mengetahui jenis jenis kecurangan?
2. Mengetahui bagaimana cara mendeteksi kecurangan?

C.      Tujuan Penulisan Makalah


Selain bertujuan untuk menulis atau membuat makalah ini, penulis juga
bertujuan untuk di antaranya sebagai berikut :
1. Ingin mengetahui lebih dalam tentang apa itu jenis-jenis kecurangan yang
dilakukan oleh perusahaan klien auditor
2. Ingin mengetahui secara jelas tanggung jawab auditor terhadap kecurangan

1
2.1 Definisi Audit Kecurangan

Menurut Alison (2006) dalam artikel yang berjudul Fraud Auditing mendefinisikan
kecurangan (Fraud) sebagai bentuk penipuan yang disengaja dilakukan yang
menimbulkan kerugian tanpa disadari oleh pihak yang dirugikan tersebut dan
memberikan keuntungan bagi pelaku kecurangan. Kecurangan umumnya terjadi
karena adanya tekanan untuk melakukan penyelewengan atau dorongan untuk
memanfaatkan kesempatan yang ada dan adanya pembenaran (diterima secara
umum) terhadap tindakan tersebut.

Karakteristik Kecurangan Akuntansi menurut Alison (2006) dalam artikel yang


berjudul Fraud Auditing, dilihat dari pelaku Fraud maka secara garis besar
kecurangan dapat digolongkan menjadi dua jenis : 

1. Oleh pihak perusahaan, yaitu :


a) Manajemen untuk kepentingan perusahaan, yaitu salah saji yang timbul
karena kecurangan pelaporan keuangan (misstatements arising from
fraudulent financial reporting). Kecurangan pelaporan keuangan
biasanya dilakukan karena adanya dorongan dan ekspektasi terhadap
prestasi kerja manajemen. Salah saji yang timbul karena kecurangan
terhadap pelaporan keuangan lebih dikenal dengan istilah irregulatities
(ketidakberesan). Bentuk kecurangan seperti ini seringkali dinamakan
kecurangan manajemen (management fraud), misalnya berupa :
manipulasi, pemalsuan, atau pengubahan terhadap catatan akuntansi
atau dokumen pendukung yang merupakan sumber penyajian laporan
keuangan, kesengajaan dalam salah menyajikan atau sengaja
menghilangkan (intentional omissions) suatu transaksi, kejadian, atau
informasi penting dari laporan keuangan.
b) Pegawai untuk keuntungan individu, yaitu salah saji yang berupa
penyalahgunaan aktiva (misstatements arising from misappropriation of
assets). Kecurangan jenis ini biasanya disebut kecurangan karyawan
(employee fraud). Salah saji yang berasal dari penyalahgunaan aktiva
meliputi penggelapan aktiva perusahaan yang mengakibatkan laporan
keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang
berlaku umum. Penggelapan aktiva umumnya dilakukan oleh karyawan
yang menghadapi masalah keuangan dan dilakukan kartena melihat

2
adanya peluang kelemahan pada pengendalian internal perusahaan
serta pembenaran terhadap tindakan tersebut.
Contoh salah saji jenis ini adalah :
 Penggelapan terhadap penerimaan kas.
 Pencurian aktiva perusahaaan.
 Mark-up harga.
 Transaksi tidak resmi.
2. Oleh pihak diluar perusahaan, yaitu pelanggan, mitra usaha dan pihak asing
yang dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan melalui persaingan dalam
berbisnis.

2.2 MENDETEKSI KECURANGAN (FRAUD AUDITING)


Penelitian tradisional tentang kecurangan dilakukan pertama kali oleh Donald
Cressey pada tahun 1950 yang menimbulkan pertanyaan mengapa kecurangan
dapat terjadi. Hasil dari penelitian itu memunculkan faktor-faktor pemicu kecurangan
yang saat ini dikenal dengan “Fraud Triangle”.
Dalam penelitian tersebut Cressey memutuskan untuk mewawancarai pelaku
kecurangan yang menjadi tahanan atas tindakan kecurangan berupa penggelapan.
Cressey mewawancarai 200 pelaku penggelapan yang sedang menjalani masa
tahanan. Satu dari tujuan utama penelitian ini menyimpulkan bahwa setiap
kecurangan yang dilakukan oleh para pelaku memenuhi tiga faktor penting sebagai
faktor pemicu kecurangan, yaitu :
 Pressure (menunjukkan motivasi dan sebagai “unshareable need”).
 Rationalization (personal ethics).
 Opportunity.

3
1. Pressure

Pressure adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan


fraud, contohnya hutang atau tagihan yang menumpuk, gaya hidup mewah,
ketergantungan narkoba, dll. Pada umumnya yang mendorong terjadinya fraud
adalah kebutuhan atau masalah finansial. Tapi banyak juga yang hanya terdorong
oleh keserakahan.

2. Opportunity

Opportunity adalah peluang yang memungkinkan fraud terjadi. Biasanya


disebabkan karena internal control suatu organisasi yang lemah, kurangnya
pengawasan, dan/atau penyalahgunaan wewenang. Di antara 3 elemen fraud
triangle, opportunity merupakan elemen yang paling memungkinkan untuk
diminimalisir melalui penerapan proses, prosedur, dan control dan upaya deteksi
dini terhadap fraud.

3. Rationalization

Rasionalisasi menjadi elemen penting dalam terjadinya fraud, dimana pelaku


mencari pembenaran atas tindakannya, misalnya:

4
1) Bahwasanya tindakannya untuk membahagiakan keluarga dan orang-
orang yang dicintainya.
2) Masa kerja pelaku cukup lama dan dia merasa seharusnya berhak
mendapatkan lebih dari yang telah dia dapatkan sekarang (posisi,
gaji, promosi, dll.)
3) Perusahaan telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan
tidak mengapa jika pelaku mengambil bagian sedikit dari keuntungan
tersebut.

Dari dasar hasil penelitian yang dilakukan oleh Donald Cressey ini juga,
memunculkan banyak pendapat-pendapat lain yang kian beragam, diantaranya :
1) Ramos (2003) dikutip dari Rosyid, menggambarkan penyebab kecurangan dalam
bentuk segitiga (The fraud triangle), sebagai berikut :
a) Penyalahgunaan wewenang / jabatan (Occupational Frauds): kecurangan
yang dilakukan oleh individu-individu yang bekerja dalam suatu organisasi
untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
b) Kecurangan organisatoris (Organisational Fraud): kecurangan yangdilakukan
oleh organisasi itu sendiri demi kepentingan / keuntunganorganisasi itu.
c) Skema kepercayaan (Confidence Schemes). Dalam kategori ini, pelaku
membuat suatu skema kecurangan dengan menyalahgunakan kepercayaan
korban.
2) CKM dr Kurtiyono mengutip pendapat Riduan Simanjuntak mengatakan bahwa
terdapat empat faktor pendorong seseorang untuk melakukan kecurangan, yang
dikenal dengan teori GONE, yaitu :
a. Greed (keserakahan)
b. Opportunity (kesempatan)
c. Need (keinginan)
d. Exposure (Pengungkapan)

Faktor Greed dan Need merupakan faktor yang berhubungan dengan


individu pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual). Sedangkan
faktor Opportunity dan Exposure merupakan faktor yang berhubungan dengan
organisasi sebagai korban perbuatan fraud (disebut juga faktor generik/umum).

5
CARA MENDETEKSI KECURANGAN
1. Memahami Gejala Kecurangan
perkembangan ekonomi saat ini adalah hasil dari proses pembangunan yg
membuat dunia usaha semakin semarak, kompleks, variatif dan dinamis. Setiap
perusahaan berusaha untuk mencari semua potensi yang ada agar tetap bertahan
dan memenuhi kebutuhan pelanggannya. Namun, seperti juga yang dialami oleh
negara-negara maju maupun Negara berkembang, setiap pencapaian kemampuan
di bidang ekonomi, cenderung diiringi pula dengan munculnya bentuk-bentuk
kejahatan baru, baik di bidang ekonomi maupun social.

Prosedur, tata kerja, perangkat hukum, kelemahan para pegawai maupun


pengawasan yang belum sempat dibenahi membuat para pelaku kejahatan
cenderung untuk mencari dan memanfaatkan berbagai kelemahan tersebut.
Berbagai cara dan usaha telah dilakukan oleh hampir seluruh perusahaan untuk
mencegah terjadinya kecurangan baik dengan cara mempromosikan integritas,
maupun pengenaan sanksi yang sepadan dengan perbuatan yang dilakukannya.
Namun, risiko kecurangan tetap mungkin saja terjadi dalam suatu perusahaan. Hal
yang menjadi prtanyaan selanjutnya adalah bagaimana menilai kemungkinan
masalah demikian muncul.

Ketika kita memahami gejala kecurangan (Red Flags) seorang manajemen


dapat mengidentifikasi kondisi kecurangan yang kemungkinan besar akan terjadi
atau telah terjadi. setelah belajar dari kecurangan yang pernah terjadi,maka
kecurangan dapat sediri mungkin ditangani oleh manajemen atau internal auditor.
Dalam hal ini internal auditor dan manajemen harus “jeli” melihat tanda-tanda atau
kecurangan,yaitu antara lain:
 Angka pada laporan keuangan terdapat perbedaan yang mencolok dengan
tahun-tahun sebelumnya
 Perbedaan antara Buku Besar dengan Buku Tambahannya
 Perbedaan yang terungkapkan dari hasil konfirmsi
 Transaksi yang tidak didukung oleh bukti yang memadai
 Transaksi yang tidak dicatat sesuai dengan otorisasi manajemen secara
khusus maupun yang umum
 Pada tugas pekerjaan karyawan terdapat perbedaan kepentingan (conflict of
interest)

6
Tanda awal (Red Flags) terjadinya kecurangan sebagai berikut:
1. Situasi pribadi yang mengakibatkan timbulnya tekanan yang tidk
diharapkan,seperti dililit hutang ,dan menderita sakit berat
2. Keadaan perusahaan yang membuat tekanan, seperti peningkatan persaingan,
pinjaman kredit yang terbatas kesulitan ekonomi dan peningkatan hutang.
3. Terjadi pengendalian yang spesifik,seperti hanya satu orang yg menangani
banyak transaksi penting, ketidakjelasan penugasan dan tanggung jawab

Selain hal-hal di atas,terdapat kondisi-kondisi tertentu yang dapat menjadi pemicu


terjadinya kecurangan dalam suatu perusahaan :
a) Sistem pengendalian internal yang tidak memadai (lack of internal control
sistem) seperti tidak menekankan perlunya peranan internal control,
membiarkan pelaku kecurangan, para eksekutif  menunjukkan sikap hidup yg
mewah, internal auditor tidak diberikan kewenangan untuk menyelidiki
kegiatan para eksekutif terutama menyangkut pengeluaran yang besar
b) Prosedur penerimaan pegawai yang kurang memepertimbangkan kejujuran
dan integritas calon pegawai
c) Kegiatan dalam manajemen perusahaan selaliu cenderung mengarah
terhadap kegiatan korup atau tidak efisien
d) Karyawan yang terlalu banyak problem yang belum terselesaikan,terutama
masalah-masalah keuangan seperti banyak hutang pendaatan rendah, gaya
hidup mewah

2. Mendeteksi Kecurangan
Ketika kita ingin mendeteksi kecurangan kita harus tau tentang hal-hal yang
menjadi pemicu terjadinya kecurangan dan siapa atau pihak mana yang
kemungkinan dapat melakukan kecurangan.Hal ini sangat perlu diketahui oleh pihak
yang mendapat tugas untuk melakukan pendeteksian kecurangan,karenadengan
mengetahui factor pemicu terjadinya kecurangan dan siapa atau pihak mana yang
dilakuakan akan lebih terarah.

Secara umum hal-hal yang menjadi pemicu terjadinya kecurangan baik yang
dilakukan  oleh seseorang ataupun sekelompok orang dapat dirangkum dalam kata
GONE (GONE THEORY yang merupakan singkatan dari Greed (Keserakahan),
Opportunity (Kesempatan), Need(Kebutuhan), dan Exposure (Pengungkapan). Dua
factor  yaitu Greed danNeed terutama berhubungan dengan individu (pelaku

7
kecurangan), sedangkan Opportunity dan Exposure berhubungan dengan
organisasi (korban perbuatan kecurangan). Dalam pembahasan selanjutnya,factor-
faktor tersebut dikelompokkan ke dalam factor generic dan factor individu.

o Faktor Generik
a) Kesempatan atau adanya peluang bagi pelaku kecurangan (opportunity) :
Kesempatan melakukan kecurangan tergantung pada kedudukan pelaku
terhadap obyek kecurangan. Usaha untuk menghilangkan kesempatan terjadinya
kecurangan secara keseluruhan menjadi tidak ekonomis dan tidak produktif
selama perusahaan tersebut masih memiliki asset, dimana asset tersebut
diperdagangkan, mengalir, dan ada dalam pengendalian pihak lain seperti
karyawan, pembeli, dan penjual.
b) Kemungkinan bahwa kecurangan akan dapat diketahui dan diungkapkan
(exposure) :
Kondisi saat ini ada kecenderungan makin tipisnya kepekaan
seseorang/sekelompok orang terhadap kecurangan yang terjadi di sekelilingnya.
Hal ini mungkin dikarnakan kekhawatiran orang-orang yg berkaitan dengan
perlindungan terhadap pihak-pihak yang mengungkapkan terjadinya kecurangan
tersebut. Apabila kondisi ini terus terjadi, maka secara logika kecurangan makin
merajalela, karena para pelaku kecurangan tersebut merasa bahwa kecurangan
apapun yang mereka lakukan tidak ada pihak lain yang berani
mengungkapkannya.
c) Sanksi yang dikenakan kepada pelaku jika tertangkap dan perbuatannya
terungkap (exposure) :
Terungkapnya kecurangan tidak cukup untuk mencegah terulang
kembalinya kejadian tersebut dimasa yang akan datang. Oleh karena itu harus
ada saksi atas perbuatan tersebut yang jelas, tegas, dan diterapkan sesuai
dengan peraturan yang berlaku. perusahaan yang ingin melindungi assetnya
harus memiliki kebijakan (policy) yang jelas mengenai sifat dan besarnya sanksi
terhadap pelaku kecurangan, seperti :
 siapapun yang terlibat kecurangan akan dipecat
 semua kecurangan akan dilaporkan kepada pihak yang
berwenang

o Factor Individu
Secara umum, factor dikategorikan menjadi dua bagian yaitu :

8
 moral yang berhubungan dengan keserakahan (greed). Keserakahan
berhubungan dengan atribut seseorang. Bagaimana dengan atribut lainnya yang
ada dalam diri manusia seperti kejujuran, integritas, loyalitas dan sebagainya,
adalah sulit untuk mengetahui apakah seseorang memiliki atribut serakah ini atau
tidak.
 Motivasi yang berhubungan dengan kebutuhan (need). Salah satu yang
menjadi penyebab seseorang atau sekelompok orang melakukan kecurangan
adalah berhubungan dengan kebutuhan ekonomi dan ketidakpuasan atas
kebijakan yang ditetapkan oleh manajemen, balas dendam, dan tantangan.

Tujuan utama dari pendeteksian kecurangan adalah dalam rangka membantu


perusahaan menciptakan suasana sehat dan menguntungkan di dalam lingkungan
perusahaan dengan mencegah terjadinya kerugian akibat kecurangan.

Hal-hal yg harus diperhatikan dalam mendeteksi kecurangan:


1. Jangan mengabaikan hal-hal yang jelas. Hal ini berguna untuk menghilangkan
kesan bahwa penyelidikan kecurangan selalu merupakan aktivitas kompleks,
padahal dalam prakteknya tidak selalu seperti kesan tersebut di atas. Disamping
itu, dalam prekteknya, kebanyakan perbuatan kecurangan meninggalkan jejak
yang jelas.
2. Berikan perhatian pada penyimpangan yang terjadi, jangan selalu mencari
penyelesaian yang kompleks, dan mulailah dengan mencari penyelesaian yang
paling sederhana.
3. Lakukan konsentrasi ada titik yang paling lemah dan sederhana di dalam
kecurangan.
4. Pendeteksian dan pencegahan kecurangan harus dilakukan rutin
5. Tujuan utama mendeteksi kecurangan adalah mencegah terjadinya, bukan
mendeteksi seluruh kecurangan.
6. Sumber daya dan kemampuan harus dialokasikan secara khusus untuk
melakukan tugas tersebut.
7. Mendeteksi kecurangan berarti kerja keras.
8. Kecurangan dapat lolos dari deteksi disebabkan tidak seorangpun ditugaskan
untuk itu.

2.3 Teknik Mendeteksi Kecurangan


 Critical Point Auditing (CPA)

9
Setiap perusahaan pasti memiliki titik rawan terjadinya kecurangan. Apabila
kecurangan terjadi pada titik tersebut, akan dengan mudah diketahui. Namun,
dalam banyak hal keberhasilan suatau kecurangan lebih banyak disebabkan
kepandaian pelaku dalam menyembunyikan kegiatannya diantara transaksi-
transaksi yang ada.

CPA merupakan suatu teknik dimana melalui pemeriksaan atas


catatan pembukuan, gejala suatu manipulasi dapat diidentifikasi. Hasilnya
berupa gejala atau kemungkinan terjadinya kecurangan yang pada gilirannya
mengarah kepada penyelidikan yang lebih detail. Metode ini dapat digunakan
pada setiap perusahaan. Semakin akurat dan komprehensif suatu catatan,
maka semakin efektif teknik ini dalam mengetahui gejala kecurangan.

Critical Point Auditing ini adalah :


1) Analisis Tren
Pengujian ini terutama dilakukan atas kewajaran pembukuan pada
rekening buku besar dan menyangkut pula pembandingannya dengan data
sejenis untuk periode sebelumnya maupun dengan sejenis dari cabang-
cabang perusahaan. Data-data yang digunakan biasanya berupa :
Rekening Buku Besar, Neraca, dan Anggaran.
Pembandingan dengan periode sebelumnya dapat diarahkan untuk :
 mendapatkan gejala manipulasi yang dilakukan oleh pihak
internal perusahaan yang melakukan kecurangan.
 mendeteksi kemungkinan adanya kerugian kecurangan.

Dampak atas kecurangan yang didasarkan atas analisis rasio dan


kinerja adalah hal yang penting untuk diamati lebih lanjut. Pelaku tersebut
mungkin cukup agresif, namun, kecurangan akan dapat dideteksi jika
pengawasan ditingkatkan atau jika prosedur ataupun pengendalian yang
efektif diterapkan. Dengan adanya ketidakteraturan dalam kesempatan untuk
melakukan kecurangan, maka memberi dampak tehadap ketidakkonsistenan
pelaku kecurangan dalam melakukan kecurangan tersebut akan nampak
dalam pembukuan perusahaan.
2) Pengujian Khusus
Pengujian khusus dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan yang
memiliki risiko tinggi untuk terjadinya kecurangan. Kegiatan-kegiatan
tersebut seperti:

10
 Pembelian
Kecurangan pembelian umumnya dilakukan dengan cara
meninggikan nilai yang terdapat dalam faktur. Dalam setiap kecurangan
pembelian, hampir selalu terdapat pengkreditan yang salah pada rekening
kreditur. Hutang yang timbul kemudian dilunasi oleh perusahaan, bukan
kepada pemasok, namun kepada pelaku kecurangan. Walaupun rekening
dapat dibukukan, namun pelaku kecurangan tidak mampu menyiapkan bukti
pendukung yang lengkap. Oleh karena itu, untuk meyakinkan keabsahan
pemasok pengujian pertama yang sangat penting untuk dilakukan
Langkah_langkah yang dapat digunakan untuk meykinkan keabsahan
tersebut adalah :
 Membandingkan data pemasok dengan data karyawan perusahaan,
tentang alamat dan nomor teleponnya supaya untuk mengetahui jika
karyawan menciptakan pemasok fiktif dengan menggunakan alamat
karyawan tersebut atau alamat kerabatnya untuk menerima
pengiriman uang dari perusahaan.
 Teliti nama perusahaan tempat karyawan bekerja sebelumnya.
Bandingkan data perusahaan tersebut denagan data rekanan
perusahaan. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinana
karyawan melakukan kolusi dengan karyawan tempat dia bekerja
sebelumnya.
 Periksa beberapa rekanan yang mengajukan penawaran kepada
perusahaan, dan teiti hubungan antara satu dengan yang lainnya.
Pngujian ini dimaksudkan untuk mengetahui adanya tender yang
hanya diikuti rekanan yang mempunyai keterkaitan satu sama lain.
 Teliti faktur pembelian, jika terdapat seperti ini maka perlu diteliti lebih
lanjut :
 Tidak terdapat nomor telepon
 Faktur pembeliannya bukan faktur asli
 Faktur tidak dikirim melalui pos
 Tidak terdapat rincian barang-barang yang dibeli (selain kode
barang)

 Verifikasi buku besar


Perhatikan rekening hutang yang muncul setelah penunjukan pejabat
perusahaan yang baru, khususnya yang menangani pembelian. Tidak

11
jarang, pejabat memilih pemasok yang telah dikenalnya (kemungkinan
karena ada hubungan istimewa)
Bandingkan buku pembelian tahun berjalan dengan tahun
sebelumnya, perhatikan hal-hal berikut ini :
 Rekening-rekening yang dihapuskan
 Rekening yang baru
 Kecenderungan (trend) yang tidak wajar atas suatu rekening
 Pengkreditan atas suatu rekening selain dari barang yang diterima
dan pendebetan selain kas
 Periksa tingkat kewenangan pejabat dalam melakukan pambelian dan
menyetjui faktur. Perhatian harus diarahkan pada kemungkinan memecah
pembelian menjadi beberapa pesanan.
 Lakukan uji-petik terhadap beberapa kontrak, terutama dari pemasok
yang barang-barangnya dibeli tanpa ada harga resminya. Perhatikan hal-
hal berikut ini :
 Barang dibeli dari pemasok yang bukan merupakan kegiatan
bisnisnya
 Pembelian tanpa melalui penawaran yang kompetitif
  Mutu barang dibawah standar
 Adanya perubahan harga dan/atau perpanjangan waktu
 Harga kontrak sedikit dibatas ataas (plafon anggaran). Apabila dari
hasil pengujian terdapat indikasi adanya kecurangan, langkah berikut
harus dilakukan :
o Teliti kepemilikan perusahaan yang memenagkan tender
o Teliti kepemilikan perusahaan yang kalah dalam tender

 Penjualan dan Pemasaran


Kecurangan dalam aktivitas ini biasanya dilakukan dengan seolah-olah
terjadi penjualan yang diikuti dengan pengiriman barang namun tanpa
pendebetan pada rekening debitur. Kebalikan dengan pembelian, verifikasi
atas penjualan dilakukan melalui penelitian atas sumber dokumen.
Selanjutnya yakinkan bahwa transaksi tersebut dibukukan dalam rekening
yang tepat.
Uraian lengkap pengujian yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
 Lakukan pengujian terhadap pembeli yang memperoleh harga
terendah/memperoleh potongan harga (discount) paling besar

12
 Teliti saldo piutang yang melampaui plafon kredit
 Teliti pembayaran/pelunasan piutang yang melampaui batas waktu
tertentu
 Lakukan analisis atas pesanan penjualan, catatan gudang dan faktur,
selanjutnya bandingkan antara ketiganya
 Teliti pngiriman barang contoh ke gudang/cabang atau pengiriman
barang kepada pihak ketiga tersebut. Prosedur ini dimaksudkan untuk
mendeteksi kemungkinan penyalahgunaan pengiriman barang sampel
 Teliti nota kredit untuk barang-barang yang dikembalikan (diretur) dan
bandingkan dengan penerimaan barangnya (di gudang)
 Teliti surat menyurat berkaitan dengan transaksi pembelian.
Perhatikan keluhan konsumen, seperti kesalahan dalam faktur dan
sebagainya. Trasir keluhan-keluhan tersebut kepada barang yang
dipesan, pengiriman barang, dan faktur penjualan
 Teliti catatan pelunasan piutang ke rekening yang bersangkutan. Trasir
ke buku kasnya dan slip pembayaran. Perhatikan perbedaan tanggal,
nama pembayar. Prosedur ini dilakukan dalam rangka mendeteksi
kemungkinan terjadinya lapping. Dalam lappin, pembayaran dari
debitur tertentu dibukukan dalam rekening debitur lainnya seolah-olah
salah pembukuan untuk menutupi kecurangan yang telah dilakukan.

 Persediaan
Teliti secara detail catatan-catatan persediaan berkaitan dengan hal-hal
berikut ini :
 Produk yang mempunyai perputaran (turnover) paling tinggi
 Produk yang ada dalam persediaan, padahal tidak terdapat dalam
persediaan tahun sebelumnya
 Produk yang ada dalam persediaan tahun-tahun lalu, namun tidak
tersedia tahun ini
 koreksi semua atas catatan persediaan yang disebsbkanadanya
perbedaan pada saat dilakukan stock opname
 Periksa jadual pelaksanaan stock opname tahun lalu dengan
cara :
1. Meneliti setiap jenis barang dan kaitkan dengan kewajaran
persediaan, perputaran dan ruang penyimpanan yang
tersedia

13
2. Meneliti catatan kerja pengemudi perusahaan pada saat
dilakukan inventarisasi
3. Meneliti apakah terdapat pembayaran biaya pengangkutan
untuk pihak ketiga pda saat inventarisasi
4. Verifikasi kebenaran barang dalam perjalanan

 Analisis Hubungan
 Teliti debitur yang volume pembeliannya menurun dibandingkan dengan
tren normal, terutama yang disebabkan oleh pembatalan pesanan maupun
retur penjualan
 Teliti jumlah pembelian yang dilakukan oleh pedagang besar dan
dibandingkan dengan jumlah kartu garansi yang dikembalikan oleh
konsumen akhir
 Teliti rasio penerimaan terhadap penjualan kredit, piutang ragu-ragu
terhadap penjualan
 Dapatkan anggaran biaya untuk setiap pusat biaya, dan lakukan penelitian
atas biaya-biaya yang realisasinya masih dibawah 50% pada awal triwulan
III namun mencapai lebih dari 90% mendekati akhir tahun.

 Job Sensitivity Analysis (JSA)


Setiap pekerjaan dalam suatu perusahaan memiliki berbagai
peluang/kesempatan untuk terjadinya kecurangan. Hal ini tergantung dari
beberapa factor seperti : akses, kemampuan, dan waktu yang tersedia untuk
merencanakan dan melaksanakannya.

Teknik analisis kepekaan pekerjaan (job sensitivity analysis) ini


didasarkan pada suatu asumsi, yakni bila seseorang/sekelompok karyawan
bekerja pada posisi tertentu, peluang/tindakan negative (kecurangan) apa
saja yang dapat dilakukan. Dengan kata lain, teknik ini merupakan analisis
dengan risiko kecurangan dari sudut “pelaku potensial”, sehingga penegahan
terhadap kemungkinan terjadinya kecurangan dapat dilakukan mesalnya
dengan memperketat pengendalian intern pada posisi-posisi yang rawan
kecurangan.
1. Metode Pendekatan
Langkah awal yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasikan
semua posisi pekerjaan di dalam perusahaan yang menjadi obyek

14
pemeriksaan. Oleh karena itu, hal-hal yang perlu diamati dan dipelajari
adalah:
 Struktur organisasi
 Uraian tugas masing-masing pejabat yang ada dalam perusahaan
 Manual akuntansi dan formulir-formulir yang digunakan
 Pendelegasian wewenang
Langkah berikutnya adalah menyiapkan analisis setiap pejabat.
Simpulan yang diperoleh dari langkah ini harus dapat menunjukkan spesifikasi
setiap pekerjaan dan mencatat perbedaan antara akses yang diperbolehkan
dengan akses yang direncanakan. Sebagai contoh, petugas bagian pesanan
penjualan tidak tidak diperkenankan memiliki akses terhadap catatan
pembelian. Namun kita juga harus mempertimbangkan kondisi nyata dari
ruangan yang tersedia dalam paerusahaan yang bersangkutan, artinya
apabila ruangan petugas bagian penjualan bersama-sama dengan karyawan
bagian pembelian, adalah suatu hal yang tidak realistis menganggap petugas
penjualan tersebut tidak mungkin membaca, merubah, atau menyembunyikan
catatan.

2. Pengawasan Rutin
Suatu hal yang mudah bagi pelaku kejahatan dalm suatu perusahaan
untuk beroperasi, bila mana manajer sibuk dengan tanggung jawab lain.
Dalam melakukan pengendalian juga harus diperhatikan hal-hal seperti
bawahan lebih pandai dari atasannya, atau bila atasan memiliki bawahan
yang mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda.

3. Karakter Pribadi
Karakter pribadi karyawan harus dipertimbangkan. Hal-hal yang harus
diperhatikan seperti :
- Kekayaan yang tidak bisa dijelaskan
- Pola hidup mewah
- Pegawai yang sering merasa kecewa/tidak puas atas keputusan
manajemen/tidak naik-naik pangkat
- Sifat egois dari karyawan (mementingkan diri sendiri)
- Karyawan yang sering mengabaikan instruksi/prosedur
- Karyawan yang merasa dianggap paling penting
4. Tindak Lanjut

15
Hasil analisis akan memberikan gambaran tentang jenis pekerjaan mana
yang mengandung risiko tinggi dan metode fraud yang bagaimana yang
sebaiknya diterapkan. Pengujian secara detail harus dilakukan guna
menentukan apakah kesempatan yang ada telah digunakan.

BAB III
PENUTUP
Simpulan
Kecurangan didefinisikan sebagai salah saji dalam laporan keuangan yang
dilakukan dengan sengaja. Dua kategori utama kecurangan adalah kecurangan
dalam laporan keuangan dan penyalahgunaan asset. Kecurangan dalam laporan
keuangan merupakan salah saji atau penghapusan terhadap jumlah ataupun
pengungkapan yang sengaja dilakukan dengan tujuan untuk mengelabui para
penggunanya. Penyalahgunaan aset merupakan kecurangan yang melibatkan
pencurian atas aset milik suatu entitas.
Dengan menerapkan program-program dan pengendalian antikecuragan,
manajemen dapat mencegah kecurangan dengan mengurangi kesempatan yang
memungkinkan terjadinya kecurangan. Untuk membantu manajemen dan dewan
direksi dalam menjalankan usaha antikecurangan, AICPA, bekerja sama dengan
beberapa organisasi profesi terkait, menerbitkan Program dan Pengendalian

16
Antikecurangan bagi Manajemen: Panduan untuk Membantu Mencegah,
Mengantisipasi, dan Mendeteksi Kecurangan.
Panduan tersebut mengidentifikasi adanya 3 elemen untuk mencegah,
mengantisipasi dan mendeteksi kecurangan, yaitu Budaya kejujuran dan etika yang
bernilai tinggi, Tanggung jawab manajemen untuk mengevaluasi resiko-resiko
kecurangan dan pengawasan dari komite Audit.
1. Mengubah Keseluruhan Pelaksanaan Audit
Pelaku kecurangan seringkali memiliki pengetahuan yang baik dalam
prosedur audit. Untuk alasan itu maka PSA 70 mengharuskan auditor untuk
menerapkan rencana audit yang tidak dapat diprediksi.
2. Merancang dan Melakukan Prosedur Audit untuk Menghadapi Resiko
Kecurangan
3. Auditor merancang prosedur audit yang tepat digunakan untuk mengatasi
resiko audit spesifik sesuai dengan akun yang sedang diaudit dan jenis resiko
kecurangan yang teridentifikasi.

Sepanjang pengauditan, auditor terus-menerus mengevaluasi apakah bukti-bukti


yang didapatkan dan pengamatan-pengamatan lainnya mengindikasikan adanya
salah saji material yang disebabkan oleh kecurangan.
- Jenis teknik-teknik wawancara
- Tanya jawab informal
- Tanya jawab evaluasi
- Tanya jawab interogatif
- Mengevaluasi respons tanya jawab
- Teknik mendegarkan
- Mengamati tanda-tanda perilaku
- Tanggung jawab lainnya ketika dicurigai

DAFTAR PUSTAKA
Elder, J. Randal, Beasley, S. Mark, Dkk. 2008. Jasa Audit dan Assurance. Salemba Empat :

17