Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengendalian intern yang digunakan dalam suatu entitas merupakan factor
yang menentukan keandalan laporan keuangan yang dihasilkan entitas. Oleh
karena itu,sebelum auditor melaksanakan audit secara mendalam atas informasi
yang tercantum dalam laporan keuangan, standar pekerjaan lapangan kedua
mengharuskan auditor memahami pengendalian intern yang berlaku didalam
entitas. Dalam bab ini diuraikan isi standar pekerjaan lapangan kedua. Uraian
dimulai dengan penjelasan pengertian pengendalian intern,tujuan pengendalian
intern,dan unsur pengendalian intern. Kemudian dititik beratkan pada bagaimana
auditor memperoleh pemahaman atas pengendalian intern yang digunakan oleh
kliennya,untuk memenuhi tuntutan standar pekerjaan lapangan kedua tersebut.

1.2 Perumusan Masalah


1. Sebutkan Defenisi pengendalian intern?
2. Apakah tujuan pengendalia  intern?
3. Apakah keterbatasan pengendalian intern suatu Entitas?
4. Siapakah yang bertanggungjawab atas pengendlian intern suatu entitas?
5. Apa sajakah unsur pengendalain intern?
6. Bagaimana pemahaman atas pengendalian intern dan pengujian
pengendalian?
7. Bagaimana dokumentasi informasi tentang pengendalian intern yang
berlaku?
8. Apakah sumber informasi yang digunakan untuk memperoleh gambaran
pengendalian intern yang berlaku?
9. Bagaimana hasil pemahaman terhadap pemgendalian intern?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui Defenisi pengendalian intern.
2. Untuk mengetahui tujuan pengendalia  intern.
3. Untuk mengetahui keterbatasan pengendalian intern suatu Entitas.
4. Untuk mengetahui yang bertanggungjawab atas pengendlian intern suatu

1
entitas.
5. Untuk mengetahui unsur pengendalain intern.
6. Untuk mengetahui pemahaman atas pengendalian intern dan pengujian
pengendalian.
7. Untuk mengetahui dokumentasi informasi tentang pengendalian intern
yang berlaku.
8. Untuk mengetahui sumber informasi yang digunakan untuk memperoleh
gambaran pengendalian intern yang berlaku.
9. Untuk mengetahui hasil pemahaman terhadap pemgendalian intern.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2. 1 Pemahaman Pengendalian Intern


Pengendalian intern yang digunakan dalam suatu entitas merupakan faktor
yang menentukan keandalan laporan keuangan yang dihasilkan oleh entitas.Oleh
karena itu,sebelum auditor melaksanakan audit secara mendalam atas informasi
yang tercantumdalam laporan keuangan,standar pekerjaan lapangan kedua
mengharuskan auditor memahami pengendalian intern yang berlaku dalam entitas.

2.2 Standar Pekerjaan Lapangan Kedua


Standar pekerjaan lapangan kedua berbunyi sebagai berikut:
“ Pemahaman memadai ataspengendalian intern harus diperoleh untuk
merencanakan audit dan menentukan sifat,saat, dan lingkup pengujian
yang akan dilakukan”.
            Sebelum diuraikan secara mendalam maksud standar pekerjaan lapangan
kedua ini,akan diuraikan lebih dahulu konsep pengendalian intern sebagai objek
yang harus di pahami oleh auditor.

2.3 Definisi Pengendalian Intern


            SA Seksi 319 Pertimbangan Atas Pengendalian Intern dalam Audit
Laporan Keuangan Paragraf 06 mendefinisikan pengendalian intern sebagai
suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris,manajemen, dan personal lain
yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga
golongan tujuan berikut ini:
1. Keandalan pelaporan keuangan
2. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku
3. Efektivitas dan efisiensi operasi
Dari definisi pengendalian tersebut terdapat beberapa konsep dasar berikut ini:
1. Pengendalian intern merupakan proses.Artinya suatu rangkaian tindakan
yang bersifat pervasif dan menjadi bagian tidak terpisahkan,bukan hanya
sebagai tambahan, dari infrastruktur entitas.
2. Pengendalian intern dijalankan oleh orang.Artinya bukan hanya terdiri dari

3
pedoman kebijakan dan formulir, namun dijalankan oleh orang dari setiap
jenjang organisasi, yang mencakup dewan komisaris, manajemen, dan
personal lain.
3. Pengendalian intern diharapkan mampu memberikan keyakinan memadai,
bukan keyakinan mutlak, bagi manajemen dan dewan komisaris entitas.
4. Pengendalian intern ditujukan untuk mencapai tujuan yang saling
berkaitan;pelaporan keuangan, kepatuhan, dan operasi.

2.4 Tujuan Pengendalian Intern


Seperti telah disebutkan di atas, tujuan pengendalian intern adalah untuk
memberikan keyakinan memadai dalam pencapaian tiga golongan tujuan.(1)
keandalan informasi keuangan, (2) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang
berlaku, (3) efektivitas dan efisiensi operasi. Oleh karena itu tidak semua tujuan
pengendalian intern tersebut relevan dengan audit atas laporan keuangan,
tanggung jawab auditor dalam mematuhi standar pekerjaan lapangan kedua
sebagaimana disajikan di atas, hanya di batasi pada golongan tujuan pertama
keandalan pelaporan keuangan.Oleh karena itu,auditor berkewajiban untuk
memahami pengendalian intern yang ditujukan untuk memberikan keyakinan
memadai bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip
akuntansi  berterima umum di Indonesia.

2.5 Keterbatasan Pengendalian Intern Suatu Entitas


Keterbatasan bawaan yang melekat dalam setiap pengendalian intern sebagai
berikut:
1. Kesalahan dalam pertimbangan. Seringkali, manajemen dan personal lain
dapat salah dalam mempertimbangkan keputusan bisnis yang diambil atau
dalam melaksanakan tugas rutin karena tidak memadainya
informasi,kertebatasan waktu atau tekanan lain.
2. Gangguan. Personal secara keliru memahami perintah atau membuat
kesalahan karena kelalaian,tidak adanya perhatian atau kelelahan,perubahan
yang bersifat sementara dalam personal atau dalam sistem dan prosedur.
3. Kolusi. Tindakan bersama beberapa individu untuk tujuan kejahatan yang
dapat mengakibatkan bobolnya pengendalian intern yang dibangun untuk

4
kekayaan entitas dan tidak terungkapnya ketidakberesan atau tidak terdeteksi
kecurangan oleh pengendalian intern yang dirancang.
4. Pengabaian oleh manajemen. Manajemen dapat mengabaikan kebijakan
atau prosedur yang telah ditetapkan untuk tujuan yang tidak sah seperti
keuntungan pribadi manajer,penyajian kondisi keuangan yang berlebihan,
atau kepatuhan semu.
5. Biaya lawan manfaat. Biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan
pengendalian intern tidak boleh melebihi manfaat yangdiharapkan dari
pengendalian intern tersebut. 

2.6 Siapa Yang Bertanggung Jawab Atas Pengendalian Intern Suatu Entitas?
Pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap pengendalian intern beserta
perannya sebagai berikut:
1. Manajemen. Bertanggung jawab untuk mengembangkan dan
menyelenggarakan secara efektif pengendalian intern organisasinya.
Direktur utama perusahaan bertanggung jawab untuk menciptakan atmosfer
pengendalian di tingkat puncak, agar kesadaran terhadap pentingnya
pengendalian menjadi tumbuh di seluruh organisasi.
2. Dewan komisaris dan komite audit. Bertanggung jawab untuk menentukan
apakah manajemen memenuhi tanggung jawab mereka dalam
mengembangkan dan menyelenggaran  pengendalian intern.
3. Auditor intern. Bertanggung jawab untuk memeriksa dan mengevaluasi
memadai atau tidaknya pengendalian intern entitas dan membuat
rekomendasi peningkatannya.
4. Personal lain entitas. Peran dan tanggung jawab semua personal lain yang
menyediakan informasi atau menggunakan informasi yang dihasilkan oleh
pengendalian intern harus ditetapkan dan dikomunikasikan dengan baik.
5. Auditor independen. Sebagai bagian dari prosedur auditnya terhadap laporan
keuangan, auditor dapat menemukan kelemahan pengendalian intern
kliennya sehingga ia dapat mengkomunikasikan temuan auditnya tersebut
kepada manajemen,komite audit,atau dewan komisaris.
6. Pihak luar lain. Bertanggung jawab atas pengendalian intern entitas adalah
badan pengatur, seperti Bank Indonesia dan Bapepam.

5
2.7 Unsur Pengendalian Intern
SA Seksi 319 Pertimbangan atas Pengendalian Intern dalam Audit Laporan
Keuangan Paragraf 07 menyebutkan lima unsur pokok pengendalian intern:
1) Lingkungan Pengendalian (Control Environment)
Lingkungan pengedalian menciptakan suasana pengendalian dalam suatu
organisasi dan mempengaruhi kesadaran personal organisasi tentang
pengendalian.Berbagai faktor yang membentuk lingkungan pengendalian
dalam suatu entitas antara lain:
a) Nilai integritas dan etika. Efektivitas pengendalian intern bersumber dari
dalam diri orang yang mendesain dan melaksanakannya. Pengendalian
intern yang memadai desainnya, namun dijalankan oleh orang-orang
yang tidak menjunjung tinggi integritas dan tidak memiliki etika akan
mengakibatkan tidak terwujudnya tujuan pengendalian intern.
b) Komitmen terhadap kompetensi. Untuk mencapai tujuan entitas,
personel di setiap tingkat organisasi harus memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya secara
efektif.
c) Dewan komisaris dan komite audit. Dewan komisaris adalah wakil
pemegang saham dalam perusahaan berbadan hokum perseroan terbatas.
Dewan ini berfungsi mengawasi pengelolaan perusahaan yang
dilaksanakan oleh manajemen (direksi). Dengan demikian, dewan
komisaris yang aktif menjalankan fungsinya dapat mencegah konsentrasi
pengendalian yang terlalu banyak di tangan manajemen puncak
perusahaan.
d) Filosofi dan gaya operasi manajemen. Filosofi adalah seperangkat
keyakinan dasar (basic beliefs) yang menjadi parameter bagi perusahaan
dan karyawan. Filosofis merupakan apa yang seharusnya dikerjakan dan
apa yang seharusnya tidak dikerjakan oleh perusahaan. Gaya operasi
mencerminkan ide manajer tentang bagaimana operasi suatu entitas
harus dilaksanakan.
e) Struktur organisasi. Organisasi dibentuk oleh manusia untuk mencapai
tujuan-tujuan tertentu. Orang bergabung dalam suatu organisasi dengan

6
maksud utama untuk mencapai tujuan-tujuan yang tidak dapat
dicapainya dengan kemampuan yang dimilikinya sendiri. Struktur
organisasi memberikan kerangka untuk perencanaan, pelakasanaan,
pengendalian, dan penentuan aktivitas entitas.
f) Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab. Ini merupakan
perluasan lebih lanjut pengembangan struktur organisasi. Dengan
pembagian wewenang yang jelas, organisasi akan dapat mengalokasikan
berbagai sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai tujuan
organisasi.
g) Kebijakan dan praktik sumber daya manusia. Karyawan merupakan
unsur penting dalam setiap pengendalian intern. Jika perusahaan
memiliki karyawan yang kompeten dan jujur, unsur pengendalian intern
yang lain dapat dikurangi sampai batas minimum, dan perusahaan tetap
mampu menghasilkan pertanggungjawaban keuangan yang dapat
diandalkan.
2) Penaksiran risiko
Penasiran risiko untuk tujuan pelaporan keuangan adalah identifikasi,
analisis, dan pengelolaan risiko entitas yang berkaitan dengan penyusunan laporan
keuangan, sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia.
Penaksiran risiko manajemen untuk tujuan pelaporan keuangan adalah
penaksiran risiko yang terkandung dalam asersi tertentu dalam laporan keuangan
dan desain dan implementasi aktivitas pengendalian yang ditujukan untuk
mengurangi risiko tersebut pada tingkat minimum.
Penaksiran resiko manajemen harus mencakup pertimbangan khusus
terhadap risiko yang dapat timbul dari perubahan keadaan,seperti:
a) Bidang baru bisnis atau transaksi yang memerlukan prosedur akuntansi
yang belum pernah dikenal.
b) Perubahan standar akuntansi.
c) Hukum dan peraturan baru.
d) Perubahan yang berkaitan dengan revisi sistem dan teknologi baru
yang digunakan untuk pengolahan informasi.
e) Pertumbuhan pesat entitas yang menuntut perubahan fungsi

7
pengelolaan dan pelaporan informasi dan personal yang terlibat di
dalam fungsi tersebut.
3) Informasi dan Komunikasi
Sistem akuntansi diciptakan untuk mengidentifikasi, merakit,
menggolongkan, menganalisis, mencatat, dan melaporkan transaksi suatu entitas,
serta menyelenggarakan pertanggungjawaban kekayaan dan utang entitas tersebut.
Transaksi terdiri dari pertukaran aktivitas dan jasa antara entitas dengan pihak
luar, dan transfer atau penggunaan aktiva dan jasa dalam netitas.
4) Aktivitas Pengendalian
Adalah kebijakan dan prosedur yang dibuat memberikan keyakinan bahwa
petunjuk yang dibuat oleh manajemen dilaksanakan.Kebijakan dan prosedur ini
memberikan keyakinan bahwa tindakan yang diperlukan telah dilaksanakan untuk
mengurangi risiko dalam pencapaian tujuan entitas.Aktivitas pengendalian
memiliki berbagai macam tujuan dan diterapkan dalam berbagai tingkat dan
fungsi organisasi. Aktivitas pengendalian yang relevan dengan audit atas laporan
keuangan dapat digolongkan ke dalam berbagai kelompok. Salah satu cara
penggolongan adalah sebagai berikut:
1. Pengendalian pengolahan informasi.
a. Pengendalian umum.
b. Pengendalian aplikasi.
(1) Otoritas memadai
(2) Perencanaan dan penggunaan dokumen dan catatan memadai.
(3) Pengecekan secara indepnden.
2. Pemisahan fungsi yang memadai.
3. Pengendalian fisik atas kekayaan dan catatan.
4. Review atas kinerja.
5) Pemantauan
Adalah proses penilaian kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang
waktu.Pemantauan dilaksanakan oleh personal yang semestinya melakukan
pekerjaan tersebut,baik pada tahap desain maupun pengoperasian pengendalain,
pada waktu yang tepat, untuk menentukan apakah pengendalian intern beroperasi
sebagaimana yang diharapkan, dan untuk menentukan apakah pengendalian intern

8
tersebut telah memerlukan perubahan karena terjadinya perubahan keadaan.

2.8 Pemahaman Atas Pengendalian Intern Dan Pengujian Pengendalian


a) Mengapa Auditor Perlu Memperoleh Pemahaman tentang Pengendalian
Intern Kliennya?
Secara umum,auditor perlu memperoleh pemahaman tentang pengendalian
intern kliennya untuk perencanaan auditnya.Secara khusus,pemahaman auditor
tentang pengendalian intern yang berkaitan dengan suatu asersi adalah untuk
digunakan dalam kegiatan berikut ini:
1) Kemungkinan dapat atau tidaknya audit dilaksanakan.
2) Salah saji material yang potensial dapat terjadi.
3) Risiko deteksi.
4) Perancangan pengujian substantif.
b) Pemahaman atas Pengendalian Intern
Dalam memperoleh pemahaman atas pengendalian intern,auditor
menggunakan 3 macam prosedur audit berikut:
1) Mewawancarai karyawan perusahaan yang berkaitan dengan unsur
pengendalian.
2) Melakukan inspeksi terhadap dokumen dan catatan.
3) Melakukan pengamatan atas kegiatan perusahaan
c) Pemahaman atas Lingkungan Pengendalian
Informasi tentang lingkungan pengendalian umumnya dikumpulkan oleh
auditor dengan cara:permintaan keterangan dari manajer yang bertanggung jawab
atas unsur pengendalian intern,inspeksi dokumen dan catatan,dan pengamatan atas
kegiatan perusahaan.
d) Pemahaman atas penaksiran Risiko
Auditor harus mengumpulkan informasi tentang bagaimana manajemen
mengidentifikasi risiko yang berkaitan dengan penyajian laporan keuangan secara
wajar dan kepedulian manajemen terhadap risiko tersebut,serta bagaimana
manajemen merancang aktivitas pengendalian untuk mengatasi risiko tersebut.
e) Pemahaman atas Informasi dan Komunikasi
Sistem informasi entitas sangat menentukan risiko salah saji dalam laporan
keuangan.Sistem akuntansi yang didesain dengan baik dan diimplementasikan

9
denagn baik akan menghasilkan informasi yang andal.
f) Pemahaman atas Aktivitas Pengendalian
Informasi tentang aktivitas pengendalian umumya diperoleh auditor
bersamaan dengan pengumpulan informasi mengenai lingkungan pengendalian
dan aktivitas pengendalian.
g) Pemahaman atas Pemantauan
Auditor harus memahami jenis aktivitas yang digunakan oleh klien untuk
memantau efektivitas pengendalian intern untuk menghasilkan laporan keuangan
yang andal.

2.9 Pengujian  Pengendalian
Untuk menguji kepatuhan terhadap pengendalian intern, auditor
melakukan dua macam pengujian yaitu:

1. Pengujian Adanya Kepatuhan


Untuk menentukan apakah informasi mengenai pengendalian yang
dikumpulkan oleh auditor benar-benar ada,auditor melakukan dua macam
pengujian:
a) Pengujian transaksi dengan cara mengikuti pelaksanaan transaksi
tertentu
b) Pengujian transaksi tertentu yang telah terjadi dan yang telah dicatat.

2. Pengujian Tingkat Kepatuhan


Dalam pengujian pengendalian terhadap pengendalian intern,auditor tidak
hanya berkepentingan terhadap eksistensi unsur-unsur pengendalian intern,namun
auditor juga berkepentingan terhadap tingkat kepatuhan klien terhadap
pengendalian intern.

2.10 Dokumentasi  Informasi Tentang Pengendalian Intern Yang Berlaku


            Ada tiga cara yang biasanya digunakan oleh auditor untuk
mendokumentasikan informasi mengenai pengendalian intern yang berlaku dalam
perusahaan:
1.       Kuesioner pengendalian intern baku (standard international control
questionnaire)
Kuesioner merupakan cara yang banyak dipakai oleh auditor dalam

10
mendokumentasikan informasi pengendalian intern kliennya.
2.       Uraian tertulis (written description)
Ini biasanya berisi identitas karyawan yang melaksanakan suatu fungsi dan
uraian terinci cara pelaksanaan fungsinya.Penggunaan uraian tertulis hanya
praktis diterapkan pada audit atas laporan keuangan perusahaan yang kecil
saja.
3.       Bagan alir system (system flowchart)
Cara ini suatu sistem yang digambarkan dengan menggunakan simbol-
simbol tertentu.Simbol-simbol yang dapat digunakan oleh auditor untuk
membuat deskripsi pengendalian intern kliennya.

2.11 Sumber Informasi Untuk Memperoleh Gambaran Pengendalian Intern


Yang Berlaku
Sumber informasi yang digunakan oleh auditor dalam melakukan audit
terhadap pengendalian intern kliennya adalah:
1. Bagan organisasi dan deskripsi jabatan
2. Buku pedoman akun
3. Buku pedoman sistem akuntansi
4. Permintaan Keterangan kepada karyawan inti
5. Permintaan keterangan kepada karyawan pelaksana
6. Laporan,kertas kerja,dan program audit auditor intern
7. Pemeriksaan terhadap catatan akuntansi,dokumen,perlatan mekanis,dan
media lain yang digunakan untuk mencatat transaksi
8. Laporan mengenai rekomendasi perbaikan pengendalian intern dan laporan
auditor tahun sebelumnya yang telah diterbitkan.

2.12 Hasil Pemahaman Terhadap Pengendalian Intern


            Hasil pemahaman auditor atas pengendalian intern dicantumkan dalam
suatu kertas kerja,yang berisi kelemahan dan kekuatan pengendalian intern
klien,pengaruh kelemahan dan kekuatan pengendalian intern tersebut terhadap
luas prosedur audit yang akan dilaksanakan dan rekomendasi yang ditujukan
kepada klien untuk memperbaiki bagian-bagian yang lemah dalam pengendalian
intern.

11
2.13 Audit Intern (Internal Auditing)
SA Seksi 322 Pertimbangan Auditor atas Fungsi Audit Intern dalam Audit
atas Laporan Keuangan memberikan panduan bagi auditor independen dalam
mempertimbangkan pekerjaan auditor intern dan dalam menggunakan pekerjaan
auditor intern untuk membantu pelaksanaan audit atas laporan keuangan klien.
Fungsi audit intern merupakan kegiatan penilaian yang bebas, yang
terdapat dalam organisasi, yang dilakukan dengan cara memeriksa akuntansi,
keuangan, dan kegiatan lain, untuk memberikan jasa bagi manajemen dalam
melaksanakan tanggung jawab mereka. Untuk mencapai tujuan tersebut auditor
intern melaksanakan kegiatan-kegiatan berikut ini:
1. Pemeriksaan dan penilaian terhadap efektivitas pengendalian intern dan
mendorong penggunaan pengendalian intern yang efektif dengan biaya yang
minimum.
2. Menentukan sampai seberapa jauh pelaksanaan kebijakan manajemen
puncak di patuhi
3. Menentukan sampai seberapa jauh kekayaan perusahaan
dipertanggungjawabkan dan dilindungi dari segala macam kerugian.
4. Menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian
dalam perusahaan.
5. Memberikan rekomendasi perbaikan kegiatan-kegiatan perusahaan.

12
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
SA Seksi 319 pertimbangan atas pengendalian intern dalam audit laporan
keuanagn paragraf 06 mendefinisikan pengendalian intern sebagai suatu proses
yang dijalankan oleh dewan komisaris,manajemen, dan personal lain yang
didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian 3 golongan
tujuan berikut ini: (1)Keandalan pelaporan keuangan(2)Kepatuhan terhadap
hukum dan peraturan yang berlaku,dan (3)Efektivitas dan efisiensi operasi.
Tujuan pengendalian intern adalah untuk memberikan keyakinan memadai
dalam pencapaian tiga golongan tujuan.(1) keandalan informasi keuanagn, (2)
kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, (3) efektivitas dan
efisiensi operasi. Untuk menentukan apakah informasi mengenai pengendalian
yang dikumpulkan oleh auditor benar-benar ada,auditor melakukan dua macam
pengujian:
a. Pengujian transaksi dengan cara mengikuti pelaksanaan transaksi tertentu
b. Pengujian transaksi tertentu yang telah terjadi dan yang telah dicatat.

3.2 Saran
Suatu pemahaman pengendalian intern yang mencukupi diperoleh untuk
merencanakan audit dan untuk menentukan sifat, waktu, serta luasya pengujian-
pengujian yang akan dilaksanakan. Pertimbangan kemudian diberikan untuk
memperoleh suatu pemahaman mengenai pengendalian intern yang mencukupi
untuk merencanakan audit, dan untuk mendokumentasikan pemahaman tersebut.

13
DAFTAR PUSTAKA

Mulyadi, Auditing, Edisi 6 Buku 1,Jakarta Salemba Empat,2008


AICPA. AICPA Professional Standards as of June 1,1998.Volume II. Chicago:
Commerce Clearing House, Inc.,1998
AICPA.AICPA Professional Standards as of June 1,1998.Volume I. Chicago:
Commerce Clearing House, Inc.,1998
Boynton, William C., Winter G. Kell. Modern Auditing. Sixth Editing.New York:
John Wiley & Sons,1996
Carmichael,D.R.,Alan J. Winter. The evolution of Audit Reporting. Dalam D.R.
Carmichael, John. J. Willingham (Eds.).Perpective in Auditing. Fourth
Edition.McGraw-Hill Book Campany,1985.
Ikatan Akuntan Indonesia, Kompartemen Akuntan Publik. Standar Professional
Akuntan Publik per 1 januari 2001. Jakarta: PT Salemba Empat,2001
Mulyadi. Sistem akuntansi. Edisi ke 3 Jakarta: PT Salemba Empat,2001
Taylor,Donald H.,G. William Glezen. Auditing: Integted Concept and Procedures.
5th Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc.,1991.
Arens, Alvin A., James K. Loebbecke. Auditing An Integrated Approach. Eight
Edition. Upper Saddle River:prentice-Hall,INC.,2000.

14