Anda di halaman 1dari 3

BISNIS INTERNASIONAL DAN STRATEGI MULTINASIONAL

Nama : Kartika Utami


Kelas : 4 EB05
Tugas Softskill Akuntansi Internasional
BISNIS INTERNASIONAL DAN STRATEGI MULTINASIONAL

Bisnis internasional mencakup transaksi-transaksi bisnis yang melibatkan dua negara atau lebih.
Transaksi ini bisa saja dilakukan oleh sektor swasta atau negara. Pemahaman bisnis internasional
menjadi penting karena apresiasi terhadap tantangan dan peluang akuntansi internasional sangat
dipenngaruhi oleh pemahaman lingkungan internasional dan pemikiran strategis yang bersifat
global.
Alasan Menjalankan Bisnis Internasional
1. Memperluas pemasaran atau penjualan bagi perusahaan yang mempunyai kapasitas (produksi)
berlebih dan tidak ada lagi peluang atau kesempatan memasarkan atau menjual produk di negara
tempat perusahaan berada.
2. Memperoleh akses bahan baku dan faktor-faktor produksi lain dimana perusahaan harus
mempertimbangkan sumber daya alam dan iklim yang memungkinkan untuk menjalankan
aktivitasnya dan mencari daerah yang biaya tenaga kerja dan overheadnya murah.
3. Mendapatkan akses pengetahuan, khususnya teknologi karena dengan dikuasainya teknologi
akan meningkatkan daya saing perusahaan dalam koompetisi di pasar global.
Macam Bisnis Internasional
1. Ekspor dan impor yang bisa berupa barang atau jasa.
2. Kontrak manajemen. Misalnya sebuah hotel yang dimiliki oleh investor lokal membayar
manajer untuk mengelola hotel tersebut.
3. Pemakaian lisensi pada perusahaan yang memiliki aset spesial seperti proses produksi, merek,
paten, hak cipta, dan lain-lain bisa memberikan lisensi kepada seseorang di luar negeri untuk
menggunakan aset tersebut dengan membayar royalti atas penggunaan aset tersebut. Biasa
dikenal dalam bentuk franchise. Di Indonesia banyak sekali franchise seperti Mc. Donald’s,
KFC, Pizza Hut, Starbucks, dan lain-lain.
4. Investasi bisa dilakukan antar negara. Dengan ini berarti perusahaan tersebut telah
menjalankan bisnis internasional.

Trend Multinasional Enterprises

Istilah yang paling sering digunakan untuk menggambarkan perusahaan yang menjalankan bisnis
internasional adalah Multinational Enterprise (MNE), yang menunjuk suatu perusahaan yang
memiliki worldwide view atas produksi, pengadaan bahan baku dan berbagai komponen lain
juga pasar. Tidak ada konsensus tentang seberapa besar penjualan, aset, laba, dan karyawan di
luar negeri sehingga suatu perusahaan bisa dinamakan MNE. Indikator lain dari perusahaan yang
menjalankan bisnis internasional adalah tingkat pengalaman internasional dari eksekutif kunci
suatu perusahaan.
Menurut United Nation Centre on Transnational Corporations, beberapa trend pokok yang terjadi
dalam aktivitas MNEs adalah :
1. Perusahaan-perusahaan Jepang semakin besar jika diukur dari penjualan dan kapitalisasi pasar
dan dalam ekspor kapital dalam tahun 1980-an. Mereka muncul sebagai leading firms pada
kebanyakan industri dan jasa.
2. MNEs Eropa Barat menjadi semakin penting. Mereka memperluas pengaruhnya di Eropa
Barat dan juga bergerak ke Amerika Utara.
3. MNEs Amerika Serikat masih berinvestasi di luar negeri dalam jumlah yang signifikan. Meski
demikian mereka merasa harus menghentikan ekspansi globalnya dan berinvestasi dalam jumlah
yang signifikan di negerinya sendiri.
4. MNEs mengurangi ekspansinya di negara-negara berkembang dan berkonsentrasi di pasar
yang lebih stabil.
5. Yang banyak melakukan ekspansi global adalah MNEs yang berukuran kecil dan menengah
daripada yang berukuran besar. Selain itu ekspansi yang banyak dituju adalah sektor jasa.
6. Semakin meningkatnya global spread MNEs dari negara di Eropa Tengah dan Timur dan
mantan Uni Sovyet.

Satu hal yang sulit untuk menentukan secara tepat MNEs terbesar di dunia. Hal ini disebabkan
adanya perbedaan pandangan tenatang parameter yang digunakan. Parameter yang banyak
dipakai untuk mengukur besarnya MNEs adalah penjualan dan nilai pasar. Tapi sebenarnya ada
ukuran lain yang bisa dipakai, misalnya profit, return on shareholders equity, dan stock market
valuations karena ini mencerminkan opini investor.
Berikut disajikan tabel MNEs sepuluh besar dilihat dari aspek penjualan dan nilai pasar
(Radebaugh, 1993) :

Top 10 Global Corporation by Sales


Rangking Perusahaan Negara Sales
(US$ milyar)
1991 1990
1 1 C. Itoh Japan 151,6
2 3 Sumitomo Japan 149,7
3 2 Mitsui Japan 148,2
4 4 Mitsubishi Japan 140,4
5 5 Marubeni Japan 139,2
6 6 Exxon U.S. 115
7 8 General Motors U.S. 105
8 9 Royal Dutch/Shell U.K./Netherlands 102,7
9 7 Nissho Iwai Japan 97,3
10 10 Ford Motor U.S. 88,3
Top 10 Global Corporation by Market Value
Rangking Perusahaan Negara Market Value
(US billions)
1992 1991
1 2 Royal Dutch/Shell U.S. 77,82
2 1 Nippon Telegraph & Telephone Japan 77,52
3 3 Exxon U.S. 75,30
4 6 Philip Morris U.S. 71,29
5 4 General Electric U.S. 66
6 1 Wal-Mart Stores U.S. 60,82
7 20 Coca-Cola U.S. 58,47
8 15 Merck U.S. 58,41
9 18 American Telephone & Telegraph U.S. 55,85
10 7 International Business Machines U.S. 51,82
Multidomestik vs Global

Salah satu strategi MNE adalah melakukan investasi secara langsung, selain itu sebenarnya ada
dua strategi yang patut dipertimbangkan, yaitu strategi multidomestik dan strategi global. Dalam
strategi multidomestik setiap cabang di luar negeri relatif diberi kebebasan untuk menjalankan
operasinya. Dengan demikian MNE tersenut beroperasi berdasarkan domestic-by-domestic
market. Alasannya adalah bisnis tersebut mempunyai produk yang berbeda pada pasar masing-
masing negara dan biaya transportasi yang tinggi, atau industri tersebut kurang memiliki skala
ekonomis untuk berkompetisi secara global.
Startegi yang kedua adalah strategi global. Hal iini berdasarkan pada alasan bahwa potensi
kesuksesan menjadi lebih besar karena diperolehnya keuntungan yang signifikan dengan adanya
worldwide volume, baik karena berkurangnya biaya per unit, reputasi maupun pelayanan yang
lebih baik daripada biaya tambahan yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan volume yang
besar tersebut. Dalam strategi ini tidak hanya menganggap home country sebagai sumber bahan
baku dan komponen-komponen manufakturing dan asembling, dan distribusi akhir serta
penjualan. Strategi ini berusaha mengintegrasikan aktivitas global untuk mendapatkan
keuntungan bagi perusahaan sebagai satu kesatuan dan bukan masing-masing cabang. Strategi ini
juga relatif tidak memberikan kebebasan bagi cabang-cabangnya untuk menerapkan strategi
masing-masing. Meski demikian, dalam strategi ini bukan berarti produk yang dihasilkan harus
sama persis pada masing-masing negara. Produk tetap bisa dimodifikasi untuk memenuhi selera
dan preferensi lokal dengan catatan tidak terlalu signifikan, sehingga skala ekonomis tetap masih
bisa dipertahankan.
Apapun strategi yang dipilih, yang jelas untuk menjadi perusahaan global tetap bergantung pada
seberapa efektif manajemen menangani dua dimensi yang berbeda tapi interaktif, yaitu
lingkungan eksternal dan kemampuan internal perusahaan. Ada banyak hambatan lokal dan
internasional yang mempengaruhi sebuah MNE. Hambatan tersebut dikelompokkan menjadi 4,
yaitu:
1. Pendidikan, mencakup tingkat literacy, ketersediaan pendidikan tinggi, dan pendidikan
khusus, sikap terhadap pendidikan, dan kemampuan pendidikan menyediakan skill yang
dibutuhkan untuk kegiatan ekonomi.
2. Sosiologi/sosiokultural, meliputi pandangan terhadap manajer dan otoritas, kerjasama
interorganisasional, pandangan terhadap pres