Anda di halaman 1dari 34

BAB II

TINJAUAN TEORI

I. Resiko Perilaku Kekerasan


A. Pengertian Risiko Perilaku Kekerasan

Kemarahan adalah suatu perasaan atau emosi yang timbul sebagai reaksi terhadap

kecemasan yang meningkat dan dirasakan sebagai ancaman, pengungkapan marah yang

konstruktif dapat membuat perasaan lega. Perilaku kekerasan atau agresif merupakan

suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun

psikologis (Riyadi & Purwanto, 2009). Perilaku kekerasan menurut Kusumawati dan

Hartono (2011) adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat

membahayakan secara fisik, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain, disertai dengan

amuk dan aduh, gelisah yang tidak terkontrol.

Perilaku kekerasan merupakan respon terhadap stressor yang dihadapi seseorang

yang ditunjukan dengan perilaku aktual melakukan kekerasan, baik pada diri sendiri,

orang lain secara fisik maupun psikologis (Berkowits, 2000 dalam Yosep, 2011). Perilaku

kekerasan adalah suatu keadaan dimana klien mengalami perilaku yang dapat

membahayakan diri sendiri, lingkungan termasuk orang lain dan barang-barang (Maramis,

2009).

Dari beberapa pengertian diatas penulis menyimpulkan bahwa perilaku kekerasan

adalah suatu tindakan dengan tenaga yang dapat membahyakan diri sendiri, orang lain,

maupun lingkungan yang bertujuan untuk melukai yang disebabkan karena adanya konflik

dan permasalahan pada seseorang baik secara fisik maupun psikologis.


B. Rentang Respon

Perilaku kekerasan dianggap suatu akibat yang ekstrem dari marah. Perilaku

agresif dan perilaku kekerasan sering di pandang sebagai rentang di mana agresif verbal di

suatu sisi dan perilaku kekerasan di sisi yang lain. Suatu keadaan yang menimbulkan

emosi, perasaan frustasi, dan marah. Hal ini akan mempengaruhi perilaku seseorang.

Berdasarkan keadaan emosi secara mendalam tersebut terkadang perilaku agresif atau

melukai karena menggunakan koping yang tidak baik.

Respon adptif Respon Maladaptif

Asertif frustasi pasif agresif amuk

Gambar II. 1 Rentang Respon

(Sumber : Yosep, 2011)

Perilaku yang ditampakan mulai dari yang adaptif sampai maladaptif:

Keterangan:

1. Asertif: individu dapat mengungkapkan marah tanpa menyalahkan orang lain

dan memberikan kenyamanan

2. Frustasi: individu gagal mencapai tujuan kepuasan saat mrah dan tidak dapat

menemukan alternatif

3. Pasif: individu tidak dapat mengungkapkan perasaannya


4. Agresif : perilaku yang menyertai marahdan bermusuhan yang kuat serta

hilangnya kontrol

5. Amuk : suatu bentuk kerusakan yang menimbulkan kerusuhan

(Yosep, 2011)

C. Etiologi

1. Faktor predisposisi

Faktor predisposisi adalah faktor yang mendasari atau mempermudah

terjadinya perilaku yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, nilai-nilai kepercayaan

maupun keyakinan berbagai pengalaman yang dialami setiap orang merupakan faktor

predisposisi artinya mungkin terjadi mungkin tidak terjadi perilaku kekerasan (Direja,

2011).

a. Faktor biologis

Beberapa hal yang dapat mmpengaruhi seseorang melakukan perilaku kekerasan

yaitu sebagai berikut:

1) Pengaruh neurofisiologi, beragam komponen sistem neurulogis mempunyai

implikasi dalam memfasilitasi dan menghambat impuls agresif.

2) Pengaruh biokimia yaitu berbagai neurotransmiter (epineprin, noreineprin,

dopamin, asetil kolin dan serotonin sangat berperan dalam menfasilitasi

danmengahambat impuls negatif).

3) Pengaruh genetik menurut riset Murakami (2007) dalam gen manuasia terdapat

doman (potensi) agresif yang sedang tidur dan akan bangun jika terstimulasi oleh

faktor eksternal.

4) Gangguan otak, sindrom otak organik berhubungan dengan gangguan sistem

serebral, tumor otak, trauma otak, penyakit enchepalits epilepsi terbukti

berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan.


b. Faktor psikologis menurut Direja (2011)

1) Terdapat asumsi bahwa sesorang untuk mencapai tujuan mengalami hambatan

akan timbul serangan agresif yang memotivasi perilau kekerasan.

2) Berdasarkan mekanisme koping individu yang masa kecil tidak menyenangkan.

3) Rasa frustasi

4) Adanya kekerasan dalam rumah tangga, keluarga, atau lingkungan.

5) Teori psikoanalitik, teori ini menjelaskan bahwa tidak terpenuhinya kepuasan dan

rasa aman dapat mengkibatkan tidak berkembangnya ego dan dapat membuat

konsep diri yang rendah. Agresi dan kekerasan dapat memberikan kekuatan yang

dapat meningkatkan citra diri serta memberi arti dalam kehidupan.

6) Teori pembelajaran, perilaku kekerasan merupak perilaku yang dipelajari,

individu yang memiliki pengaruh biologik terhadap perilaku kekerasan lebih

cenderung untuk dipengaruhi oleh contoh peran eksternal dibanding anak-anak

tanpa faktor predisposisi biologik.

c. Faktor sosio kultural

1) Social environment theory (teori lingkungan)

Lingkungan sosial akan mempengaruhi sikap individu dalam mengekspresikan

marah. Budaya tertutup dan membalas terhadap perilaku kekerasan akan

menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan di terima.

2) Social learning theory (teori belajar sosial)

Perilaku kekerasan dapat dipelajari secara langsung maupun melalui proses

sosialisasi.

(Direja,2011)
2. Faktor Presipitasi

Faktor-faktor yang dapat mencetus perilaku kekerasan sering kali berkaitan dengan :

a. Ekspresi diri, ingin menunjukan eksistensi diri atau simbol solidarotas seperti dalam

sebuah konser, penonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian masal, dan lain-lain.

b. Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial ekonomi.

c. Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidak mampuan

menempatkan diri sebagai seorang yang dewasa.

d. Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan alkoholisme

dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa frustasi.

e. Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan, perubahan tahap

perkembangan, atau perubahan tahap perkembangan keluarga.

3. Mekanisme Koping

Perawat perlu mengidentifikasi mekanisme orang lain. Mekanisme koping klien

sehingga dapat membantu klien untuk mengembangkan mekanisme koping yang

konstruktif dalam mengekspresikan marahnya. Mekanisme koping yang umum

digunakan adalah mekanisme pertahanan ego seperti displancement, sublimasi,

proyeksi, depresi, dan reaksi formasi.

a. Displacement

Melepaskan perasaan tertekannya bermusuhan pada objek yang begitu seperti pada

mulanya yang membangkitkan emosi.

b. Proyeksi

Menyalahkan orang lain mengenai keinginannya yang tidak baik.

c. Depresi

Menekan perasaan yang menyakitkan atau konflik ingatan dari kesadaran yang

cenderung memperluas mekanisme ego lainnya.


d. Reaksi formasi

Pembentukan sikap kesadaran dan pola perilaku yang berlawanan dengan apa yang

benar-benar di lakukan orang lain.

D. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala perilaku kekerasan menurut Direja (2011) sebagai berikut :

1. Fisik

Mata melotot, pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, wjah merah dan

tegang, serta postur tubuh kaku.

2. Verbal

Mengancam, mengumpat dengan kata-kata kasar, bicara dengan nada keras, kasar, dan

ketus.

3. Perilaku

Menyerang orang lain, melukai diri sendiri/orang lain, merusak lingkungan,

amuk/agresif.

4. Emosi

Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, merasa terganggu, dendam, jengkel, tidak

berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan, dan menuntut.

5. Intelektual

Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, dn jarang mengeluarkan kata-

kata bernada sarkasme.

6. Spiritual

Merasa dirinya berkuasa, merasa dirinya benar, keragu-raguan, tidak bermoral, dan

kreativitas terhambat.
7. Sosial

Menarik diri, pengasingan, penolakan, ejekan, dan sindiran.

8. Perhatian

Bolos, melarikan diri, dan melakukan penyimpangan seksual.

E. Pathofisiologi

Stres, cemas, harga diri rendah, dan bermasalah dapat menimbulkan marah.

Respon terhadap marah dapat di ekspresikan secara eksternal maupun internal. Secara

eksternal ekspresi marah dapat berupa perilaku konstruktif maupun destruktif.

Mengekspresikan rasa marah dengan perilaku konstruktif dengan kata-kata yang dapat di

mengerti dan diterima tanpa menyakiti hati otrang lain. Selain akan memberikan rasa lega,

ketegangan pun akan menurun dan akhirnya perasaan marah dpat teratasi. Ras marah

diekspresikan secara destruktif, mislanya dengan perilaku agresif, menantang biasanya

cara tersebut justru menjadikan masalah berkepanjangan dan dapat menimbulkan amuk

yang di tunjukan pada diri sendiri, orang lain, dan lingkungan (Yosep, 2011).

Perilaku yang submisif seperti menekan perasaan marah karena merasa tidak

kuat, individu akan berpura-pura tidak marah atau melarikan diri dari rasa marahnya,

sehingga rasa marah tidak terungkap. Kemarahan demikan akan menimbulkan rasa

bermusuhan yang lama, pada suatu saat dapat menimbulkan rasa bermusuhan yang lama

dan pada suatu saat dpat menimbulkan kemarahan yang destruktif yang di anjurkan pada

diri sendiri, orang lain dan lingkungan (Dermawan & Rusdi, 2013).
Gambar II.2 Pathofisiologi

(sumber : Stuart, 2007)


F. Pohon masalah
Risiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan akibat

Core
Risiko perilaku kekerasan

Gangguan konsep diri : Harga diri rendah penyebab

Isolasi sosial

gambar II.3 Pohon masalah risiko perilaku kekerasan

(sumber : Keliat, 2006)

G. Masalah keperawatan

1. Risiko Perilaku kekerasan

2. Risiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan

3. Harga diri rendah

4. Isolasi sosial

H. Penatalaksanaan umum

Terapi farmakologi untuk pasien jiwa menurut Kusumawati & Hartono (2010)

adalah sebagai berikut :

1. Anti Psikotik

jenis : Clorpromazin (CPZ), Haloperidol (HLP)

mekanisme kerja : Menahan kerja reseptor dopamin dalam otak sebagai penenang,

menurunkan aktifitas motorik, mengurangi insomnia, sangat

efektif untuk mengatasi : delusi, halusinasi, ilusi, dan gangguan

proses berfikir.
Efek samping :

a. Gejala ekstrapiramidal, seperti kekakuan atau spasme otot, berjalan menyerek kaki,

postur condong kedepan, banyak keluar air liur, wajah seperti topeng, disfagia,

apastisia (kegelisahan motorik), sakit kepala, kejang.

b. Takikardi, aritmia, hipertensi, hipotensi, pandangan kabur, blaukoma.

c. Gastrointestinal : mulut kering, anoreksia, mual, muntah, konstipasi, diare, berat

badan bertambah.

d. Sering berkemih, retensi urine, hipertensi, amenorea, Anemia, leukopenia,

dermatitis

Kontraindikasi : Gangguan kejang, blaukoma, klien lansia, hamil dan menyusui.

2. Anti Ansietas

Jenis : Atarax, Diazepam (chlordiazepoxide)

Mekanisme kerja : meredakan ansietas atau ketegangan yang berhubungan

dengan situasi tertentu.

Efek samping :

a. Pelambatan menral, mengantuk, vertigo, bingung, tremor, letih, depresi, sakit

kepala, ansietas, insomnia, kejang delirium, kaki lema, ataksia, bicara tidak jelas.

b. Hipotensi, takikardia, perubahan elektro kardio gram, pandangan kabur.

c. Anoreksia, mual, mulut kering, muntah, diare, konstipasi, kemerahan dermatitis,

gatal-gatal.

Kontraindikasi : Penyakit hati, klien lansia, penyakit ginjal, glaukoma,

kehamilan, menyusui, penyakit parnafasan.


3. Anti Depresan

Jenis : Elavil, asendin, anafranil, norpramin, sinequan, tofranil,

ludiomil, pamelor, vivactil, surmontil.

Mekanisme kerja : Mengurangi gejala depresi, penenang.

Efek samping :

a. Tremor, gerakan tersentak-sentak, ataksia, kejang, pusing, ansietas, lemas,

insomnia.

b. Takikardi, aritmia, palpitasi, hipotensi, hipertensi.

c. Pandangan kabur, mulut kering, nyeri epigastrik, mual, muntah, kram abdomen,

diare, hepatitis, ikterus.

d. Retensi urine, perubahan libido, disfungsi erelsi, respon nonorgasme, leucopenia,

terombositopenia, ruam, urtikria.

Kontraindikasi : Glaukoma, penyakit hati, penyakit kardiovaskuler,

hipertensi, eilepsy, kehamilan atau menyusui.

4. Anti Manik

Jenis : Lithoid, klonopin, lamictal

Mekanisme kerja : Menghambat pelepasan scrotonin dan

mengurangi sensitivitas reseptor dopamin.

Efek samping : Sakit kepala, tremor, gelisah, kehilangan memori, suara

tidak jelas, otot lemas, hilang koordinasi, letargi, stupor.


Kontraindikasi : Hipersensitiv, penyakit ginjal, penyakit

kardiovaskuler, gangguan kejang, dehidrasi,

hipotiroidisme, hamil atau menyusui.

5. Anti Parkinson

Jenis : Levodova, Trihexipenidyl (THP)

Mekanisme kerja : Meningkatkan reseptor dopamin, untuk mengatasi gejala

parkinsonisme akibat penggunaan obat antipsikotik.

Menurunkan ansietas, iritabilitas.

Efek samping : Sakit kepala, mual, muntah dan hipotensi.

I. Data yang perlu di kaji

Masalah risiko perilaku kekerasan.

Data subjektif :

1. Klien mengancam

2. Klien mengumpat dengan kata-kata kasar

3. Klien mengatakan dendam dan jengkel

4. Klien mengatakan ingin berkelahi

5. Klien menyalahkan dan menuntut

6. Klien meremehkan

Data objektif :

1. Mata melotot, pandangan tajam

2. Tangan mengepal

3. Rahang mengatup

4. Wajah merah dan tegang


5. Postur tubuh kaku

6. Suara keras

Faktor yang berhubungan dengan masalah perilaku kekerasan, menurut Direja

(2011) antara lain sebagai berikut :

1. Ketidakmampuan mengendalikan dorongan marah

2. Stimulus lingkungan

3. Status mental

4. Putus obat

5. Penyalahgunaan narkoba/alkohol.

J. Fokus intervensi

1. Risiko Perilaku kekerasan

Tujuan Umum :Perilaku kekerasan tidak terjadi

Tujuan Khusus I : Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Kriteria hasil : klien dapat menunjukan tanda-tanda percaya kepada perawat:

a. Wajah cerah

b. Tersenyum

c. Mau berkenalan

d. Ada kontak mata

e. Mau menceritakan perasaan yang dirasakan

f. Mau mengungkapkan masalahnya.


Intervensi :

Bina hubungan saling percaya dengan :

a. Beri salam setiap berinteraksi.

b. Perkenalkan nama, nama panggilan perawat, dan tujuan perawat berkenalan.

c. Tanyakan dan panggil nama kesukaan klien.

d. Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi.

e. Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien.

f. Buat kontrak interaksi yang jelas.

g. Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien.

Tujuan Khusus II : Klien dapat mengidentifikasikan penyebab perilaku kekerasan.

Kriteria hasil :

a. klien dapat mengungkapkan perasaannya

b. klien dapat menceritakan penyebab perasaan marah baik dari diri sendiri maupun

lingkungan.

Intervensi :

a. Bantu klien mengungkapkan perasaan marahnya.

b. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan marahnya.

c. Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel/kesal.

d. Motivasi klien untuk menceritakan penyebab rasa marahnya.


e. Dengarkan tanpa menyela atau memberi penilaian setiap ungkapan perasaan.

Tujuan khusus III : Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.

Kriteria hasil : Klien mampu menceritakan tanda-tanda saat terjadi perilaku kekerasan :

a. Tanda fisik : Mata merah, Tangan mengepal, Ekspresi wajah tegang.

b. Tanda emosional : perasaan marah, jengkel, bicara kasar.

c. Tanda sosial : bermusuhan yang dialami saat terjadi perilaku kekerasan.

Intervensi :

a. Bantu klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku kekerasan yang dialaminya.

b. Motivasi klien menceritakan kondisi fisik (tanda-tanda fisik) saat perilaku

kekerasan terjadi.

c. Motivasi klien menceritakan kondisi emosionalnya (tanda-tanda emosional) saat

terjadi perilaku kekerasan.

d. Motivasi klien menceritakan kondisi hubungan dengan orang lain saat terjadi

perilaku kekerasan.

Tujuan khusus IV : Klien dapat mengidentifikasi jenis perilaku kekerasan.

Kriteria hasil : Klien mampu menjelaskan :

a. Jenis ekspresi kemarahan yang selama ini telah dilakukan

b. Perasaannya saat melakukan kekerasan

c. Efektifitas cara yang di pakai dalam menyelesaikan masalah.


Intervensi :

a. Diskusikan dengan klien perilaku kekerasan yang dilakukannya selama ini

b. Motivasi klien menceritakan jenis-jenis tindak kekersan yang selama ini pernah di

lakukannya.

c. Motivasi klien menceritakan perasaan klien setelah tindak kekerasan tersebut

terjadi.

d. Diskusikan apakah dengan tindak kekerasan maslah yang di alami teratasi.

Tujuan khusus V : Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.

Kriteria hasil : Klien dapat menjelaskan akibat tindak kekerasan yang dilakukannya :

a. Diri sendiri : luka, dijauhi teman, dan lain-lain.

b. Orang lain atau keluarga : luka, tersinggung, ketakutan, dan lain-lain.

c. Lingkungan : barang atau benda rusak.

Intervensi :

a. Bicarakan akibat atau kerugian dari cara yang di lakukan klien.

b. Bersama klien menyimpulakn akibat dari cara yang di lakukan klien.

c. Tanyakan pada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat.

Tujuan khusus VI : klien dapat mendemonstrasikan cara fisik untuk mencegah perilaku

kekerasan.
Kriteria hasil :

a. Klien menyebutkan contoh mencegah perilaku kekerasan secara fiik.

b. Tarik nafas dalam.

c. Pukul bantal dan kasur.

d. Kegiatan fisik yang lain.

e. Klien dapat mendemonstrasikan cara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan.

Intervensi :

a. Diskusikan kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien

b. Beri pujian atas kegiatan fisik yang biasa di lakukan

c. Diskusikan dua cara fisik yang paling mudah di lakukan untuk mencegah perilaku

kekerasan : tarik nafas dalam, pukul bantal dan aksur

d. Diskusikan cara melakukan tarik nafas dlam dengan klien

e. Beri contoh kepada klien tentang cara menarik nafas dalam

f. Minta klien mengikuti contoh yang di berikan sebanyak 5 kali.

g. Beri pujian positif atas kemampuan klien mendemonstrsikan cara menarik nafas

dalam.

Tujuan khusus VII : klien dapat mendemonstrasikan cara sosial untuk mencegah

perilaku kekerasan

Kriteria hasil :

a. Klien mampu memperagakan cara mengontrol perilaku kekerasan.

b. Fisik : tarik nafas dalam, pukul bantal atau kasur.


c. Verbal : mengungkapkan perasaan kesal atau jengkel pada prang lain tanpa

menyakiti.

d. Spiritual : zikir, medikasi dan lain-lain

Intervensi :

a. Diskusikan cara yang mungkin dipilih dan di anjurkan klien memilih cara yang

mungkin untuk mengungkapkan kemarahan.

Latih klien memperagakan cara yang di pilih:

a. Peragakan cara melaksanakn cara yang di pilih.

b. Jelaskan manfaat cara tersebut.

c. Anjurkan klien menirukan perasaan yang sudah di lakukan

d. Beri penguatan pada klien, perbaik cara yang masih belum sempurna.

e. Anjurkan klien mengungkapkan cara yang sudah dilatih saat marah.

Tujuan khusus VIII : klien dapat mendemonstrasikan cara spiritual untuk mencegah

perilaku kekerasan

Kriteria hasil :

a. klien dapat menyebutkan nama ibadah yang biasa dilakukan.

b. Klien dapat mendemonstrasikan cara ibadah yang di pilih.

c. Klien mempunyai jadwal untuk melatih kegiatan ibadah.

d. Klien dapat mengevaluasi terhadp emampuan melakukan kegiatan.


Intervensi :

a. Diskusikn dengan klien keiatan ibadah yang pernah di lakukan.

b. Bantu klien menilai kegiatan ibadah yang dpat di lakukan

c. Bantu klien memilih kegiatan yang akan di lakukan

d. Minta klien mendemonstrasikan kegiatan ibadah yang di pilih

e. Beri pujian ats keberhasilan klien

Tujuan khusus IX : Klien menggunakan obat sesuai program yang telah di tetapkan.

Kriteria hasil : Klien mampu menjelaskan :

a. Manfaat minum obat

b. Kerugian tidak minum obat

c. Nama obat

d. Bentuk dan warna obat

e. Dosis yang di berikan kepadanya, waktu, cara, dan efek.

f. Klien mampu menggunakan obat sesuai program.

Intervensi :

a. Jelaskan manfaat menggunakan obat secra teratur dan kerugaian jika tidak

menggunakan obat

b. Jelaskan kepada klien :

1) Jenis obat (nama. warna dan bentuk)


2) Dosis, waktu, cara dan efek

c. Anjurkan kliean :

1) Minta dan menggunakan obat tepat waktu.

2) Laporkan jika mengalami efek yang tidak biasa.

3) Beri pujian kedisilinan klien menggunakan obat.

2. Isolasi Sosial

Tujuan umum : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain.

Tujuan khusus I : Klien dapat membina hubungan saling

percaya.

Kriteria Hasil : Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata,

mau berjabat tangan, mau menyebut nama, mau menjawab salam,

klien mau duduk berhadapan dengan perawat, mau mengutarakan

masalah yang dihadapi.

Intervensi :

a. Sapa Klien dengan ramah.

b. Perkenalkan diri dengan sopan.

c. Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai.

d. Jelaskan tujuan pertemuan kepada klien.

e. Jujur dan menepati janji.

f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.

g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.


Tujuan khusus II : Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri.

Kriteria Hasil : Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri yang berasal dari diri

sendiri, orang lain, dan lingkungan.

Intervensi :

a. Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri, dan tanda-tandanya.

b. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab menarik diri.

c. Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, dan tanda-tandanya.

d. Beri pujian kepada klien tentang ungkapan perasaannya.

Tujuan khusus III : Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang

lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.

Kriteria Hasil : Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain

misalnya banyak teman, tidak sendiri, dan bisa diskusi. Klien dapat

menyebutkan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain misalnya

sendiri, tidak memiliki teman, dan sepi.

Intervensi :

a. Kaji pengetahuan klien tentang keuntungan dan kerugian tidak berhubungan

dengan orang lain.

b. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan dan

kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.

c. Diskusikan dengan klien tentang keuntungan dan kerugian tidak berhubungan

dengan orang lain.

d. Beri pujian positif tentang kemampuan klien mengungkapkan perasaannya

tentang keuntungan dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.


Tujuan khusus IV : Klien dapat berhubungan sosial secara bertahap.

Kriteria Hasil : Klien dapat mendemonstrasikan berhubungan dengan

orang lain (klien-perawat)

Intervensi :

a. Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain.

b. Ajarkan klien berkenalan antara :

1) Klien-perawat

2) Klien-perawat-perawat lain

3) Klien-perawat-klien lain

c. Beri pujian positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.

d. Bantu klien untuk mengevaluasi keuntungan berhubungan dengan orang lain dan

kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.

e. Motivasi klien untuk berhubungan dengan orang lain.

Tujuan khusus V : Klien dapat berhubungan dengan orang lain (klien-perawat lain).

Kriteria Hasil : Klien dapat mendemonstrasikan berhubungan dengan orang lain (klien-

perawat lain).

Intervensi :

a. Beri kesempatan klien untuk berkenalan dengan seorang perawat.

b. Diskusikan dengan klien tentang perasaan bila berhubungan dengan orang lain.

c. Beri pujian positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan tentang

manfaat berhubungan dengan orang lain.

Tujuan umum VI : Klien dapat berhubungan dengan orang lain (klien-kelompok

perawat/klien lain).

Kriteria Hasil : Klien dapat mendemonstrasikan berhubungan dengan orang lain (klien-

perawat-klien lain).
Intervensi :

a. Beri kesempatan klien untuk berhubungan dengan orang lain (klien-kelompok

perawat/klien lain).

b. Beri pujian positif atas kemampuan klien berhubungan dengan orang lain (klien-

kelompok perawat/klien lain).

c. Motivasi klien untuk berhubungan dengan orang lain.

Tujuan khusus VII : Klien dapat memberdayakan sistem Pendukung atau keluarga

mampu mengungkapkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan

orang lain.

Kriteria Hasil : Keluarga dapat menjelaskan perasaannya, cara merawat klien menarik

diri, mendemonstrasikan perawatan klien menarik diri, berpartisipasi

dalam perawatan klien.

Intervensi :

a. Bina hubungan saling percaya dengan keluarga.

b. Diskusikan dengan keluarga tentang perilaku menarik diri, penyebab menarik diri,

dan cara menghadapi klien menarik diri.

c. Dorong keluarga untuk memberi dorongan kepada klien untuk berhubungan

dengan orang lain.

d. Anjurkan anggota keluarga secara rutin atau bergantian untuk menjenguk klien di

rumah sakit, minimal 1 minggu sekali.

e. Beri pujian positif atas hal yang telah dicapai keluarga.

3. Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah.

Tujuan umum : Klien memiliki konsep diri yang positif.

Tujuan khusus 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya.


Kriteria Hasil : Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata,

mau berjabat tangan, mau menyebut nama, mau menjawab salam, klien

mau duduk berhadapan dengan perawat, mau mengutarakan masalah

yang dihadapi.

Intervensi :

a. Bina hubungan saling percaya.

b. Bersikap terbuka dan empati.

c. Terima klien apa adanya.

d. Tepati janji.

e. Pertahankan kontak mata.

Tujuan khusus II : Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang

dimiliki.

Kriteria Hasil : Klien mengidentifikasi aspek positif keluarga dan di lingkungan.

Intervensi :

a. Diskusikan dengan klien kelebihan yang dimiliki

b. Tanyakan pada klien penyebab tidak mau bergaul dengan orang lain.

Tujuan khusus III : Klien dapat menetapkan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang

dimiliki.

Kriteria Hasil : Klien membuat rencana kegiatan sehari-hari.

Intervensi :

a. Rencanakan dengan klien kegiatan yang dapat dilakukan selama di rumah sakit.

b. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan kondisi klien.

c. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan.

Tujuan khusus IV : Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit.

Kriteria Hasil : Klien melakukan kegiatan sesuai kondisi klien.


Intervensi :

a. Beri kesempatan klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.

b. Beri pujian atas keberhasilan klien.

c. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah.

4. Defisit perawatan diri.

Tujuan umum : Klien dapat mandiri dalam perawatan diri.

Tujuan khusus I : Klien dapat membina hubungan saling

percaya.

Kriteria Hasil : Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata,

mau berjabat tangan, mau menyebut nama, mau menjawab salam,

klien mau duduk berhadapan dengan perawat, mau mengutarakan

masalah yang dihadapi.

Intervensi :

a. Sapa Klien dengan ramah.

b. Perkenalkan diri dengan sopan.

c. Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai.

d. Jelaskan tujuan pertemuan kepada klien.

e. Jujur dan menepati janji.

f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.

g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.

Tujuan khusus II : Klien mengetahui pentingnya perawatan diri.

Kriteria Hasil : Klien dapat menyebutkan penyebab tidak merawat diri, manfaat

menjaga kebersihan diri, tanda-tanda bersih dan rapi, masalah yang

dialami jika perawatan diri tidak diperhatikan.


Intervensi :

a. Diskusikan dengan klien penyebab klien tidak merawat diri.

b. Diskusikan dengan klien manfaat perawatan diri untuk keadaan fisik, mental, dan

sosial.

c. Diskusikan dengan klien tanda-tanda perawatan diri yang baik.

d. Diskusikan dengan klien penyakit atau masalah kesehatan yang bisa dialami oleh

klien bila perawatan diri tidak dilakukan.

Tujuan khusus III : Klien mengetahui cara-cara melakukan perawatan diri.

Kriteria Hasil : Klien dapat menyebutkan frekuensi menjaga perawatan diri, frekuensi

mandi, gosok gigi, keramas, ganti pakaian, berhias, gunting kuku.

Intervensi :

a. Diskusikan frekuensi menjaga perawatan diri seperti mandi, gosok gigi, keramas,

berpakaian, berhias, gunting kuku.

b. Berikan pujian untuk setiap respons klien yang positif.

Tujuan khusus IV : Klien dapat melaksanakan perawatan diri dengan bantuan perawat.

Kriteria Hasil : Klien dapat mempraktekkan perawatan diri dengan dibantu oleh

perawat seperti mandi, gosok gigi, keramas, berpakaian, berhias,

gunting kuku.

Intervensi :

a. Bantu klien saat perawatan diri seperti mandi, gosok gigi, keramas, berpakaian,

berhias, gunting kuku.

b. Beri pujian setelah klien selesai melaksanakan perawatan diri.


Tujuan khusus V : Klien dapat melaksanakan perawatan diri secara mandiri.

Kriteria Hasil : klien dapat melaksanakan perawatan diri secara mandiri seperti mandi 2

kali sehari, gosok gigi sehabis makan, keramas 2 kali seminggu, ganti

pakaian 1 kali sehari, berhias sehabis mandi, gunting kuku jika kuku

sudah mulai panjang.

Intervensi :

a. Pantau klien dalam melaksanakan perawatan diri seperti mandi, gosok gigi,

keramas, berpakaian, berhias, gunting kuku.

b. Beri pujian setelah klien melaksanakan perawatan diri secara mandiri.

Tujuan khusus VI : Klien mendapat dukungan keluarga untuk meningkatkan perawatan

diri.

Kriteria Hasil : keluarga dapat menjelaskan cara-cara membantu klien dalam memenuhi

kebutuhan perawatan dirinya.

Intervensi :

a. Diskusikan dengan keluarga penyebab klien tidak melaksanakan perawatan diri.

b. Diskusikan dengan keluarga mengenai tindakan yang telah dilakukan klien selama

di rumah sakit dalam menjaga perawatan dan kemajuan yang telah dialami klien.

c. Diskusikan dengan keluarga mengenai dukungan yang bisa diberikan oleh

keluarga untuk meningkatkan kemampuan klien dalam perawatan diri.

d. Diskusikan dengan keluarga tentang sarana yang dibutuhkan untuk menjaga

perawatan diri klien.

e. Diskusikan dengan keluarga hal-hal yang perlu dilakukan keluarga dalam

perawatan diri klien.

f. Anjurkan keluarga untuk mempraktekkan perawatan diri pada klien.


II. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Psikoaktif

A. Pengertian Napza
Zat adiktif atau istilah yang paling dikenal kalangan masyarakat luas dengan istilah
narkoba adalah berasal dari kata narkotik dan bahan adiktif. Istilah tersebut kemudian
berkembang menjadi napza, yang merupakan kependekan dari narkotik, alkohol, psikotropika,
dan zat adiktif lainnya. Narkotik adalah obat-obatan yang bekerja pada susunan saraf pusat dan
digunakan sebagai analgesik (pengurang rasa sakit) pada bidang kedokteran. Psikotropika
adalah obat-obatan yang efek utamanya pada aktivitas mental dan perilaku, biasanya digunakan
untuk pengobatan gangguan kejiwaan. Bahan adiktif adalah bahan yang apabila digunakan
dapat menimbulkan kecanduan atau ketergantungan. Pemakai dapat merasa tenang, merasa
segar, bersemangat, menimbulkan efek halusinasi, dan memengaruhi suasana perasaan
pemakai. Efek inilah yang sering dimanfaatkan pemakai saat ia merasa kurang percaya diri,
khawatir tidak diakui sebagai kawan, melarikan diri dari permasalahan, atau bahkan hanya
untuk sekedar rekreasi (bersenang-senang).
Tanpa disadari, narkoba sekali digunakan akan menimbulkan keinginan mencoba lagi,
merasakan lagi, dan mengulang terus sampai merasakan efek dari obat-obatan yang dikonsumsi,
yang akibatnya akan terjadi overdosis. Jika tidak mengonsumsi, maka tidak tahan untuk
memenuhi keinginannya, tetapi jika mengonsumsi akan khawatir mati akibat overdosis. Hal ini
merupakan lingkaran setan. Oleh karena itu, narkoba sekali dicoba akan membelenggu seumur
hidup.
B. Jenis Zat Adiktif
Saat membahas penyalahgunaan zat adiktif, maka akan ditemukan beberapa istilah
seperti zat adiktif, zat psikoaktif, dan narkotik.
Zat adiktif adalah suatu bahan atau zat yang apabila digunakan dapat menimbulkan
kecanduan atau ketergantungan. Zat psikoaktif adalah golongan zat yang bekerja secara selektif
terutama pada otak, sehingga dapat menimbulkan perubahan pada perilaku, emosi, kognitif,
persepsi dan kesadaran seseorang. Ada dua macam zat psikoaktif, yaitu bersifat adiksi dan
nonadiksi. Zat psikoaktif yang bersifat nonadiksi adalah obat neuroleptika untuk kasus
gangguan jiwa, psikotik, dan obat antidepresi.
Narkotik adalah istilah yang muncul berdasar Undang-Undang Narkotika Nomor 9
Tahun 1976, yaitu zat adiktif kanabis (ganja), golongan opioida, dan kokain. Ketiga istilah ini
sering disebut sebagai narkoba, yang kemudian berkembang menjadi istilah napza.
C. Akibat Penggunaan Zat Adiktif
Seseorang yang menggunakan zat adiktif akan dijumpai gejala atau kondisi yang disebut
intoksikasi (teler) yaitu kondisi zat adiktif tersebut bekerja dalam susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan memori, perilaku, kognitif, alam perasaan, dan kesadaran Apabila
seseorang menggunakan berulang kali atau sering secara berkesinambungan, maka akan dicapai
suatu kondisi toleransi, yaitu terja dinya peningkatan jumlah penggunaan zat adiktif untuk
mencapai tujuan dari pengguna (memerlukan dosis lebih tinggi untuk mencapai efek yang
diharapkan). Kondisi toleransi ini akan terus berlangsung sampai mencapai dosis yang optimal
(overdosis). Pada pemakaian yang terus-menerus tercapai, maka menyebabkan tingkat dosis
toleransi yang tinggi. Pengguna zat adiktif bila meng hentikan atau tidak menggunakan zat
adiktif lagi akan menimbulkan gejala-gejala sindroma putus zat atau pasien dalam kondisi with
drawal.
Gejala-gejala intoksikasi dan putus zat berbeda untuk masing-masing zat, seperti pada
Tabel 17.2.
D. Rentang Respons Gangguan Penggunaan Zat Adiktif

Eksperimental Rekreasional Situasional Penyalahgunaan Ketergantungan


1. Eksperimental adalah kondisi penggunaan tahap awal, yang disebabkan rasa ingin
tahu. Biasanya dilakukan oleh remaja, yang sesuai tumbuh kembangnya ingin mencari
pengalaman baru atau sering juga dikatakan sebagai taraf coba-coba.
2. Rekreasional adalah penggunaan zat adiktif pada waktu berkumpul dengan teman
sebayanya, misalnya waktu pertemuan malam minggu, ulang tahun, dan sebagainya.
Penggunaan ini bertujuan untuk rekreasi bersama teman sebayanya.
3. Situasional merupakan penggunaan zat yang merupakan cara untuk melarikan diri atau
mengatasi masalah yang dihadapi. Biasanya individu meng gunakan zat bila sedang
dalam konflik, stres, dan frustasi.
4. Penyalahgunaan adalah penggunaan zat yang sudah bersifat patologis, sudah mulai
digunakan secara rutin, paling tidak sudah ber langsung selama 1 bulan, sudah terjadi
penyimpangan perilaku, serta mengganggu fungsi peran di lingkungan sosialnya,
pendidikan, dan pekerjaan. Walaupun pasien menderita cukup serius akibat
menggunakan, pasien tersebut tidak mampu untuk menghentikan.
5. Ketergantungan adalah penggunaan zat yang sudah cukup berat, sehingga telah terjadi
ketergantungan fisik dan psikologis. Ketergantungan fisik ditandai dengan kondisi
toleransi dan sindroma putus zat.

E. Zat Adiktif Yang Disalahgunakan


Zat adiktif yang biasa digunakan ini penting diidentifikasi untuk mengkaji masalah keperawatan
yang mungkin terjadi sesuai dengan zat yang digunakan.
TABEL Zat Adiktif yang Disalahgunakan
Golongan Jenis

Opioida Morfin, heroin (puthao), candu, kodein, petidin.

Kanabis Ganja (mariyuana), minyak hasish.

Kokain Serbuk kokain, daun koka.

Alkohol Semua minuman yang mengandung ethyl alkohol, seperti brandy, bir,
wine, whisky, cognac, brem, tuak, anggur cap orang tua, dan lain-lain.

Sedatif–Hipnotik Sedatin (BK), rohipnol, mogadon, dulomid, nipam, mandrax.

MDA (Methyl Dioxy Amfetamin, benzedrine, dexedrine


Amphe
tamine)

MDMA (Methyl Dioxy Ekstasi


Meth
Amphetamine)

Halusinogen LSD, meskalin, jamur, kecubung.

Solven & Inhalasia Glue (aica aibon), aceton, thinner, N2O.

Nikotin Terdapat dalam tembakau.

Kafein Terdapat dalam kopi.

dan lain-lain

F. Efek Dan Cara Penggunaan


Efek dan cara penggunaan zat adiktif ini perlu dikenali agar masyarakat dapat mengidentifikasi
karakteristik atau bahan dan alat yang biasa digunakan oleh penyalah guna zat. Beberapa cara
dan efek pada tubuh tampak seperti pada tabel berikut.
No. Jenis Cara Penggunaan Efek pada Tubuh
1. Opium, Dihirup melalui hidung, Merasa bebas dari rasa sakit, tegang,
heroin, morfin disuntikkan melalui otot euforia.
atau
pembuluh darah vena.

2. Kokain Ditelan bersama minuman, Merasa gembira, bertenaga, lebih percaya


diisap seperti rokok, atau diri
disuntikkan.
3. Kanabis, Dicampur dengan Rasa gembira, lebih percaya diri, relaks.
mariyuana, tembakau.
ganja
4. Alkohol Diminum Bergantung kandungan alkoholnya.

5. Amfetamin Diisap, ditelan Merasa lebih percaya diri, mengurangi rasa


lelah, meningkatkan konsentrasi.

6. Sedatif Ditelan Merasa lebih santai, menyebabkan kantuk.

7. Shabu-shabu Diisap Badan serasa lebih segar, gembira,


nafsu
makan menurun, lebih percaya diri.
8. XTC Ditelan Meningkatkan kegembiraan, stamina
meningkat.
9. LSD Diisap atau ditelan Perasaan melayang (fly), muncul
halusinasi
yang bentuknya berbeda pada tiap
individu

G. Permasalahan Yang Sering Timbul


Ada berbagai macam masalah kesehatan yang sering muncul pada keadaan penyalahgunaan zat,
antara lain sebagai berikut.

 Ancaman Kehidupan (Kondisi Overdosis)

Tahap ini kondisi pasien sudah cukup serius dan kritis, penggunaan cukup berat, tingkat
toleransi yang tinggi, serta cara penggunaan yang impulsif. Masalah kesehatan yang sering
timbul antara lain sebagai berikut.
1. Tidak efektifnya jalan napas (depresi sistem pernapasan) berhubungan dengan
intoksikasi opioida, sedatif hipnotik, alkohol.
2. Gangguan kesadaran berhubungan dengan intoksikasi sedatif hipnotik, alkohol.
3. Gangguan keseimbangan cairan elektrolit berhubungan dengan delirium tremens (putus
zat alkohol).
4. Amuk berhubungan dengan intoksikasi sedatif hipnotik.
5. Potensial melukai diri/lingkungan berhubungan dengan intoksikasi alkohol, sedatif
hipnotik.
6. Potensial merusak diri/bunuh diri berhubungan dengan putus zat MDMA (ekstasi).

 Kondisi intoksikasi
1. Cemas berhubungan dengan intoksikasi ganja.
2. Perilaku agresif berhubungan dengan intoksikasi sedatif hipnotik, alkohol.
3. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan intoksikasi sedatif hipnotik, alkohol,
opioida.
4. Gangguan kognitif berhubungan dengan intoksikasi sedatif hipnotik, alkohol, kanabis,
opioida.
5. Gangguan rasa nyaman, seperti mual/muntah berhubungan dengan intoksikasi MDMA
(ekstasi).

 Sindroma Putus Zat (Withdrawal)


1. Kejang berhubungan dengan putus zat alkohol, sedatif hipnotik.
2. Gangguan persepsi (halusinasi) berhubungan dengan putus zat alkohol, sedatif hipnotik.
3. Gangguan proses berpikir (waham) berhubungan dengan putus zat alkohol, sedatif
hipnotik.
4. Gangguan tidur (insomnia, hipersomnia) berhubungan dengan putus zat alkohol, sedatif
hipnotik, opioida, MDMA (ekstasi).
5. Gangguan rasa nyaman (mual, muntah) berhubungan dengan putus zat alkohol, sedatif
hipnotik, opioida.
6. Gangguan rasa nyaman (nyeri sendi, otot, tulang) berhubungan dengan putus zat
opioida.
7. Gangguan afektif (depresi) berhubungan dengan putus zat MDMA (ekstasi).
8. Perilaku manipulatif berhubungan dengan putus zat opioida.
9. Terputusnya program perawatan (melarikan diri, pulang paksa) berhubungan dengan
kurangnya sistem dukungan keluarga.
10. Cemas (keluarga) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dalam merawat pasien
ketergantungan zat adiktif.
11. Potensial gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan putus zat
opioida.

 Pascadetoksikasi (Rehabilitasi Mental Emosional)


1. Gangguan pemusatan perhatian berhubungan dengan dampak penggunaan zat adiktif.
2. Gangguan kegiatan hidup sehari-hari (activity daily life—ADL) berhubungan dengan
dampak penggunaan zat adiktif.
3. Pemecahan masalah yang tidak efektif berhubungan dengan kurang pengetahuan, pola
asuh yang salah, dan tidak mampu asertif.
4. Gangguan konsep diri (harga diri rendah) berhubungan dengan pemecahan masalah
yang tidak adekuat sehingga melakukan penggunaan zat adiktif.
5. Kurang kooperatif dalam program perawatan berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan perawatan gangguan penggunaan zat adiktif.
6. Potensial melarikan diri berhubungan dengan ketergantungan psikologis ganja dan
alkohol.
7. Potensial kambuh (relaps) berhubungan dengan kurang/tidak adanya sistem dukungan
keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ali, Mochamad., Titin, A., & Lilik, S. 2015. Pengaruh Latihan Asertif Dalam
Memperpendek Fase Intesif Dan Menurunkan Gejala Perilaku Kekerasan Di Ruang
Intensive Psychiatric Care Unit (IPCU) RSJ. Dr. Radjiman Wedioningrat
Lawang. (2): 169-173.
2. Ariwidiyanto, Dedy. (2015). Hubungan Antara Persepsi Perawat Tentang
Perilaku Agresif Dengan Sikap Perawat Pada Pasien Skizofrenia Di Ruang Akut
RS Jiwa Darah Surakarta. Skripsi tidak dipublikasi. Surakarta: Program Studi S1
Keperawatan, Stikes KusumaHusada.
3. Damayanti, M. (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika
Adiatama.Herni, R. (2007). Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan
Kepercayaan Diri Pada Mahasiswa. Skripsi tidak dipublikasikan. Jakarta: Fakultas
Psikologi Universitas Gunadarma.
4. Rahman, Fathul. (2017). Upaya Penurunan Risiko Perilaku Kekerasan Pada Klien
Dengan Melatih Asertif Secara Verbal. 1 (1): 3-11.
5. Sutejo. (2017). Konsep dan Praktik Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa:
Ganguan Jiwa dan Psikososial. Yogyakarta: PT. Pustaka
Baru.http://repository.unimus.ac.id
6. Wahyuningsih, Dyah. (2011). Penurunan Perilaku Kekerasan Pada Klien
Skizoprenia Dengan Asertiveness Training (AT).14 (1): 51-56.
7. Yosep, H. I., dan Sutini, T. (2014). Buku Ajar Keperawatan Jiwa dan Advance
Mental Health Nursing. Bandung: Refika Aditama.
8. Yosep, I. (2007). Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama.
9. Yuni, Dwi. (2015). Asuhan Keperawatan Pada Ny. H Dengan Risiko Perilaku
Kekerasan Di Ruang Nakula Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas. Thesis
(diploma) tidak dipublikasikan. Purwokerto: Program Studi Ilmu
Keperawatan D3, FIK UMP.
10. Yusuf, Ah. Fitryasari, Rizki dan Endang, Hanik. (2015). Buku Ajar Keperawatan
Kesehatan Jiwa. Jakarta : Salemba Medika