Anda di halaman 1dari 7

CRITICAL JOURNAL REVIEW

ENERGI KISI

Mata Kuliah : Ikatan Kimia


Dosen Pengampu : Dr. Iis Siti Jahro, M.Si.

Disusun Oleh :

EFRAHIM MELINDA BR PURBA (4173131008)


KIMIA DIK A 2017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA 2017


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018/2019
I. Identitas Jurnal:
Jurnal I:
Judul Artikel : Pengaruh Iradiasi-Γ Terhadap Regangan Kisi Dan Konduktivitas
Ionik Pada Komposit Padat (Lii)0,5(Al2o3.4sio2)0,5
Nama Journal : URANIA,
Edisi terbit : 2010
Pengarang artikel : P. Purwanto , S. Purnama , D.S.Winatapura dan Alfian
Penerbit : Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir (PTBIN)-BATAN
Kota terbit : Kawasan Puspiptek Serpong, Banten
Nomor ISSN : 0852-4777

Jurnal II:
Judul : Lattice Energy Determination And Molecular Simulation Of
Perovskite Oxides
Jurnal : Indo. J. Chem.
Volume & Halaman : Vol.8 No.3 / 385 – 391
Tahun : 2008
Penulis : Indo. J. Chem
Publikasi : 23 Juni 2008
Diterima : 05 Mei 2008
Penerjema : Hellna Tehubijuluw dan Ismunandar

II. Ringkasan Jurnal


II.1. Ringkasan Jurnal I

Pengaruh radiasi-γ pada komposit (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 menurunkan


intensitas difraksi. Penurunan intensitas pada bahan komposit ini terjadi interaksi
yang melemahkan antara bahan komposit dengan dosis radiasi. Hal ini juga
nampak pada konduktivitas ionik pada bahan komposit yang menurun.
Peningkatan konduktivitas ionik terjadi bila terjadi cacat Shoctky atau Frenk
Regangan kisi pada komposit (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 menurun seiring dengan
naiknya dosis radiasi. Penurunan regangan ini, diikuti dengan penurunan
konduktivitas. Penurunan konduktivitas berarti pada komposit tersebut gerakan
ion-ion agak terhambat.
Pengukuran konduktivitas komposit (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 dengan variasi
frekuensi antara 0,1 Hz - 100 kHz. Kurva konduktivitas komposit
(LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 sebelum dan sesudah iradiasi-γ dengan laju dosis 100,
300 dan 400 kGy, Selanjutnya untuk menganalisis konduktivitas komposit ionik
(LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 dengan menerapkan model  = of s dimana  adalah
konduktivitas dan s adalah faktor eksponent power ( 0 < s < 1). Sedangkan nilai
konduktivitas komposit (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 setelah iradiasi menurun
seiring dengan naiknya dosis iradiasi. Penurunan konduktivitas komposit
(LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 tidak terjadi cacat Frenkel atau schotky, dimana kedua
jenis cacat itu merupakan cacat intertisi atau substitusi yang dapat meningkatkan
konduktivitas ionik pada komposit. Hal ini juga ditunjukkan pada pola difraksi
sinar-x pada komposit (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 tidak nampak perubahan pada
struktur, tapi intensitas menurun.

Dosis radiasi terhadap konduktivitas ionik dengan membuat kurva antara dosis
radiasi terhadap konduktivitas, diperoleh kemiringan garis yang merupakan
ketahanan komposit (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 terhadap dosis radiasi. Hubungan
antara dosis radiasi terhadap konduktivitas pada komposit
(LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5. Konduktivitas pada komposit
(LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 menurun seiring dengan naiknya dosis radiasi gamma.
Penurunan konduktivitas pada komposit (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 dikarenakan
adanya cacat kisi dan disertai penurunan regangan kisi akibat pengaruh radiasi
gamma.

Dosis radiasi terhadap regangan konduktor ionik. Dengan dibuat kurva antara
dosis radiasi terhadap regangan, menunjukkan regangan kisi kristal pada komposit
(LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 menurun seiring dengan naiknya dosis radiasi. Dari
hasil analisa terlihat bahwa dosis radiasi tidak dapat meningkatkan konduktivitas
komposit tersebut. Dosis radiasi dapat meningkatkan konduktivitas pada komposit
(LiCl)x(Al2O3.4SiO2)1-x[7]. Perbedaan konduktivitas pada
(LiCl)x(Al2O3.4SiO2)1-x lebih tinggi daripada (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 ,
karena pada bahan (LiCl)x(Al2O3.4SiO2)1-x dipanaskan dahalu sampai suhu
600oC, sedangkan pada komposit (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 tanpa pemanasan.
Dengan pemanasan tidak semua bahan komposit dapat meningkat konduktivitas
dan tergantung pada sifat fisis bahan komposit, pemanasan dapat meningkatkan
konduktivitas sampai suhu tertentu dan turun pada suhu transisi.

Komposit (LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 telah dibuat dengan pencampuran antara


LiI dan Al2O3.4SiO2. Struktur yang tampak pada komposit
(LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 adalah LiI dan Al2O3.4SiO2. Konduktivitas komposit
(LiI)0,5(Al2O3.4SiO2)0,5 dan regangan kisi kristal menurun seiring dengan
naiknya dosis radiasi gamma.

II.2. Ringkasan Jurnal II


Perovskit merupakan kelompok oksida ionik yang saat ini banyak disintesis.
Beragamnya aplikasi dan masih aktifnya usaha eksplorasi sintesis perovskit baru
menyebabkan penentuan energi kisi senyawa berstruktur perovskit penting
dilakukan. Oleh karena itu diperlukan suatu rumusan yang sederhana dan dapat
dengan cepat digunakan untuk memprediksi secara khusus energi kisi oksida
perovskit. Glasser berhasil menentukan energi kisi pada berbagai senyawa ionik
biner yang diilhami oleh suksesnya Kapustinskii dalam menyederhanakan
persamaan Born-Mayer 3. Penentuan energi kisi pada senyawa ionik
kompleks, Glasser memasukkan konsep kekuatan ionik dan jarak rata-rata kation-
anion dalam struktur dengan memakai jari-jari ion (Goldschmidt) koordinasi enam
sebagai berikut: di mana 1213,9 (kJ/mol Å) = faktor konversi elektrostatik, <r> =
jarak rata-rata kation-anion dalam struktur, yakni rata-rata dari penjumlahan jari-
jari ion Goldscmidt koordinasi enam; 0,345 adalah konstanta ; kekuatan ion ini
menggambarkan kekuatan interaksi antara kation-kation dengan anion-anion
(sama dengan kekuatan ionik pada teori kimia larutan dari Debye dan Huckel;
istilah ini belum umum untuk kimia padatan) Glasser dan Jenkins mengenalkan
istilah energi potensial, UPOT yang menggambarkan seluruh energi sebagai hasil
interaksi antar muatan dalam kisi. Harga UPOT ini merupakan hasil koreksi
energi kisi terhadap sumbangan derajat kebebasan (vibrasi, rotasi, dan translasi)
ion-ion.
Menurut mereka, terdapat korelasi yang dekat antara harga rata-rata jarak
kation-anion dengan distribusi muatan dalam struktur senyawa ionik kompleks.
Yoder dan Flora telah merumuskan energi kisi berdasarkan siklus Born-Haber
U(BHC) pembentukan senyawa-senyawa ionik kompleks. Dari penelitian tersebut
telah didapatkan kesimpulan bahwa pada pembentukan garam rangkap dari
garam-garam sederhananya hanya menghasilkan perubahan entalpi yang sangat
kecil. Perubahan entalpi yang sangat kecil ini membawa kepada istilah yang
sangat kecil pula antara energi kisi garam rangkap dengan jumlah energi kisi
garam-garam sederhana pembentuknya (atau yang diasumsikan).
Sampai saat ini belum ada kajian secara khusus perihal prediksi energi kisi
oksida-oksida yang berstruktur perovskit. Ketiga persamaan energi kisi yang
berlaku untuk senyawa ionik kompleks tersebut masih perlu diuji keberlakuannya
terhadap senyawa oksida perovskit. Sebagai kelanjutan usaha pencarian
persamaan empiris energi kisi oksida. dilakukan pencarian rumusan energi kisi
yang berlaku pada senyawa oksida perovskit. Dalam pekerjaan ini juga dilakukan
perbandingan energi kisi dari persamaan sederhana dengan hasil simulasi
molekuler.
Metode
Langkah-langkah penelitian yang dilakukan sebagai berikut:
Pertama, menentukan energi kisi oksida-oksida perovskit dalam hal ini
golongan lantanoid ferat dan aluminat dengan siklus Born-Haber, U(BHC);
Kedua, menghitung nilai energi kisi oksida-oksida perovskit golongan lantanoid
ferat dan aluminat dengan persamaan Glasser, U(G), Glasser - Jenkins,U(GJ), dan
Yoder-Flora,U(YF), hasilnya dibandingkan (dalam % selisih) dan diplotkan
terhadap U(BHC); Ketiga, mempertimbangkan keberlakuan penggunaan ketiga
persamaan tersebut; Keempat, mencari korelasi paling dekat dan aplikatif di
antara ketiga persamaan tersebut terhadap hasil perhitungan dengan siklus Born-
Haber; Kelima, simulasi molekuler dengan perangkat lunak GULP dengan sistem
operasi linux. Hasil simulasi ini kemudian dibandingkan dengan hasil energi kisi
persamaan sederhana.
Hasil
Penetapan energi kisi standar U(BHC) oksida perovskit pada oksida golongan
lantanoid ferat dan aluminat melalui siklus Born-Haber, diawali dengan tabulasi
data perubahan entalpi pembentukan, Hfox, LnFeO3 dan LnAlO3 (Ln = unsur-
unsur lantanida) dari oksida-oksida binernya yaitu Ln2O3, Fe2O3, dan
Al2O3yang merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Navrotsky dan
Kanke. Data hasil penelitian ini menjadi acuan untuk mencari energi kisi standar
U(BHC) oksida perovskit golongan lantanoid ferat dan aluminat. Mengingat
hanya diperoleh data perubahan entalpi pembentukan, ʌHfox, dari oksida-
oksidanya maka untuk menentukan energi kisi standar perlu dibuat siklus Born-
Haber oksida perovskit.
Pada penentuan energi kisi oksida perovskit lantanoid ferat dan aluminat
dengan pemakaian persamaan Glasser-Jenkins hasil korelasi U(BHC) dengan
U(GJ) menunjukkan selisih yang lebih besar daripada U(BHC) vs U(G). Yoder
dan Flora mengusulkan bahwa energi kisi mineral-mineral ionik kompleks dapat
dihitung dengan memperlakukannya sebagai gabungan energi kisi masing-masing
jumlah mol garam-garam tunggal penyusunnya . Perhitungan energi kisi oksida
perovskit lantanoid ferat dan aluminat.Persentase selisih U(BHC) dengan U(YF)
yang diperoleh antara 0,1367 % – 0,4637 %. Hasil yang diperoleh tersebut
membuktikan bahwa persamaan Yoder-Flora pada oksida perovskit paling akurat,
menghasilkan rata-rata selisih kurang dari 1 %. Hasil yang serupa telah diperoleh
juga dalam penelitian Yoder - Flora pada sejumlah mineral oksida dan Suhendar-
Ismunandar pada oksida piroklor.
III. KEUNGGULAN MASING-MASING JURNAL
III.1. Kedalaman atau Kelengkapan Uraian materinya

Kedalam atau kelengkapan uraian materi pada kedua jurnal ini lengkap. Kedua
jurnal menjelaskan tentang energi kisi melalui siklus Born-Haber juga dengan
persamaan Glasser-Jenkins dan Yoder-Flora.
III.2. Keterkaitan antar konsepnya

Keterkaitan antar konsep pada jurnal 1 dan jrnal 2 yaitu memiliki konsep dan
keterkaitan yang sama yaitu sma sama membahas tentang siklus born-haber dan
energy kisi, tetapi pada konsepnya sedikit berbeda sebab pada penelitian jurnal
utama bertujuan untuk mencari rumusan yang dapat digunakan untuk meramalkan
energi kisi oksida piroklor. Sedangkan pada penelitian jurnal pembanding
bertujuan untuk mengetahui pengaruh iradiasi-y terhadap regangan kisi dan
konduktivitas ionik komposit padat.
IV. KELEMAHAN MASING-MASING JURNAL
IV.1. Kemutakhiran antar konsep

Kemutakhiran antara konsep pada kedua jurnal tersebut sangat penting bagi
siklus born-haber dan energy kisi, kedua jurnal kurang sejalan. Salah satu jurnal
menggunakan persamaan Glasser-Jenkins dan Yoder-Flora untuk menentukan
energi kisi. Sedangkan yang satu lainnya dengan iradiasi-y.
IV.2. Kedalaman atau Kelengkapan Uraian materinya

Kedua jurnal kurang menjelaskan bagaimana energi kisi yang menjadi patokan
materi sebenarnya. Sehingga kurang memunculkan keterkaitan antar jurnal satu
dan lainnya dalam materi Energi Kisi kristal. Ketidak sinkronan materi antar
jurnal menimbulkan kurang paham reviewer dalam menjelaskan materi yang
menjadi kata kunci Critical Journal Review.