Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN INDIVIDU

LAPORAN PENDAHULUAN PADA NY “A” DENGAN


DIAGNOSA PNEMONIA DI RUANG ICU RSUD HAJI
MAKASSAR

Oleh :
Meysie Priskila Pajula S.Kep
NS0619098

CI Lahan CI Institusi

(..……………………………) (……………………………...)

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
NANI HASANUDDIN MAKASSAR
2020
1.1 Laporan Pendahuluan
1.1.1 Konsep Penyakit/ Kasus
1.1.2 Definisi Pnemonia
Pnemonia adalah salah atu penyakit peradangan akut parenkim paru yang
biasanya dari suatu infeksi saluran pernapasan bawah akut (ISPA) dengan gejala batuk
dan disertai dengan sesak nafas yang disebabkan agen infeksius seperti virus, bakteri
mycoplasma (fungi) dan asprasi supstansi asing berupa radang paru – paru yang di sertai
eksudasi dan konsilidasi dan dapat di lihat melalui gambaran radiologis.(Nurarif &
Hardhi, 2015)
pnemonia adalah suatu radang paru – paru yang di sebabkan oleh bermacam –
macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.(Ngastiyah, 2015)
Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli) dan
mempunyai gejala batuk, sesak nafas, bunyi nafas ronki, dan infiltrat pada foto rontgen.
Terjadinya pneumonia pada anak sering kali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi
akut disebut bronkopneumonia. Dalam pelaksanaan pengendalian penyakit ISPA semua
bentuk pneumonia (baik pneumonia maupun bronkopneumonia), disebut “Pneumonia”
saja(Christian, 2016)

1.1.3 Patofisiologi
Pneumonia merupakan inflamasi paru yang ditandai dengan konsulidasi
karena eksudat yang mengisi elveoli dan brokiolus. Saat saluran nafas bagian bawah
terinfeksi, respon inflamasi normal terjadi, disertai dengan jalan obstruksi nafas.
Sebagian besar pneumoni didapat melalui aspirasi partikel inefektif seperti
menghirup bibit penyakit di udara. Ada beberapa mekanisme yang pada keadaan normal
melindungi paru dari infeksi. Partikel infeksius difiltrasi dihidung, atau terperangkap
dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia disaluran napas. Bila suatu partikel
dapat mencapai paru- paru , partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler,
dan juga dengan mekanisme imun sistemik dan humoral.
Infeksi pulmonal bisa terjadi karena terganggunya salah satu mekanisme
pertahanan dan organisme dapat mencapai traktus respiratorius terbawah melalui aspirasi
maupun rute hematologi. Ketika patogen mencapai akhir bronkiolus maka terjadi
penumpahan dari cairan edema ke alveoli, diikuti leukosit dalam jumlah besar.
Kemudian makrofag bergerak mematikan sel dan bakterial debris. Sisten limpatik
mampu mencapai bakteri sampai darah atau pleura viseral. Jaringan paru menjadi
terkonsolidasi. Kapasitas vital dan pemenuhan paru menurun dan aliran darah menjadi
terkonsolidasi, area yang tidak terventilasi menjadi fisiologis right-to-left shunt
dengan ventilasi perfusi yang tidak pas dan menghasilkan hipoksia. Kerja jantung
menjadi meningkat karena penurunan sarutasi oksigen dan hiperkapnia.(Ngastiyah,
2015)
1.1.4 Pemeriksaan Penunjang
1.1.4.1 Sinar X : mengidentifikasi distribusi struktural (misalnya lobar, bronchial. dapat juga
menyatakan abses)
1.1.4.2 Biopsi Paru : untuk menetapkan diagnosis
1.1.4.3 pemeriksaan gram/kultur, sptumdan darah : untuk dapat mengidentifikasi semua
organisme yang ada
1.1.4.4 pemeriksaaan serologi untuk membedakan diagnosis organisme khusus
1.1.4.5 pemeriksaaan fungsi paru/spirometri untuk memeriksa kondisi dan fungsi saluran
pernapasan.
1.1.4.6 bronkoskopi untuk menetapan diagnosis dan mengangkat benda asing.(Nurarif & Hardhi,
2015)

1.1.5 Penatalaksanaan Medis


Menurut Nanda Nic Noc (2015) kepada penderita yang penyakitnya tidak terlalu berat,
bisa diberikan antibiotic per-oral dan tetap tinggal di rumah. Penderita yang lebih tua dan
penderita dengan sesak nafas atau dengan penyakit jantung atau penyakit paru lainnya,
harus dirawat dan antibiotic diberikan melalui infus. Mungkin perlu diberikan oksigen
tambahan, cairan intervena dan alat bantu nafas mekanik. Kebanyakan penderita akan
memberikan respon terhadap pengobatan dan keadaannya membaik dalam waktu 2
minggu. Penatalaksanaan umum yang dapat diberikan antara lain:

1.1.1.1. Oksigen 1-2L/menit.


1.1.1.2. IVFD dekstrose 10%:NACl 0,9% = 3:1, + KCl 10 mEq/500 ml cairan. Jumlah
cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu, dan status hidrasi.
1.1.1.3. Jika sesak tidak terlalu berat, dapat dimulai makanan eternal bertahap melalui
selang nasogastrik dengan feeding drip.
1.1.1.4. Jika sekresi lender berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal dan
beta agonis untuk memperbaiki transport mukosilier. Koreksi gangguan kesimbangan
asam basa dan elektrolit.

Penatalaksanaan untuk pneumonia bergantung pada penyebab, antibiotic diberikan sesuai


hasil kultur.
Untuk kasus pneumonia community based:
1. Ampasilin 100mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian.
2. Kloramfenikol 75mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian.
Untuk kasus pneumonia hospital based:
1. Sefatoksim 100mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian.
2. Amikasin 10-15mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian.

1.1.6 Konsep Tindakan Keperawatan yang Diberikan


1.1.6.1 Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk
mengumpulkan informasi atau data tentang pasien, agar dapat mengidentifikasi,
mengenali masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan pasien, baik fisik,
mental, sosial dan lingkungan.

1.1.6.2 Diagnosa Keperawatan


1. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kurang asupan makanan
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tirah baring
4. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis
1.1.6.3 Intervensi Keperawatan
Rencana Tindakan Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan
Tujuan Dan Kriteria Hasil Intervensi
1. Gangguan pertukaran gas Pertukaran gas Terapi oksigen
Kriteria hasil : 1.monitor kecepatan
Skala target outcome aliran oksigen
dipertahankan pada 1
(Meningkat) di tingkatkan ke 5 2.bersihkan sekret pada
(Menurun). mulut hidung dan
1.Dispnea
trakea
2.Bunyi napas tambahan
3.berikan oksigen
tambahan
4.ajarkan pasien dan
keluarga cara
menggunakan oksigen
di rumah
5.kolaborasi penggunaan
oksigen saat aktivitas
dan/ tidur

2 hipertermia berhubungan Pengaturan suhu


1. Termorgulasi
dengan proses penyakit 1. Monitor tekanan darah,
Skala target outcome di
nadi, respirasi suhu
pertahankan pada 3 (cukup)
sesuai keutuhan
di tingkatkan ke 5 (tidak
2. Tingkatkan intake cairan
terganggu)
dan nutrisi
2. Tingkat ketidaknyamanan
3. Sesuaikan suhu
Skala target outcome di
lingungan untuk
pertahankan pada 3 (sedang)
kebutuhan pasien
di tingkatan ke 5 (tidak ada)
4. Berikan medikasi yang
tepat untk mencegah
atau mengotrol meggigil
5. Berikan pengobatan
antipiretik sesuai
kebutuhan

3 ketidakseimbangan nutrisi 1. status nutrisi manajemen nutrisi


kurang dari kebutuhan tubuh skala target outcome di 1. monitor kalori dan
berhubungan dengan kurang pertahankan pada 3 (cukup asupan makanan
asupan makanan menyimpang dari tentang 2. anjurkan keluarga untuk
normal) di tingkatkan ke 5 membawa makanan
(tidak menyimpang dari favorit pasien untuk
rentang normal) sementara berda dalam
2. status nutrisi asupan nutrisi di rumah sakit
pertahankan pada 1 (tidak 3. tawarkan makanan
adekuat) di tingkatkan ke 5 ringan padat gizi
(sepenuhnya adekuat) 4. monitor terjadinya
kecenderungan
penurunan dan kenaikan
BB
4 intoleransi aktivitas 1. toleransi terhadap aktivitas manajemen energi
berhubungan dengan tirah skala target outcome 1. anjurkan pasien
baring dipertahankan pada 1 (sangat mengungkapkan
terganggu) ditingkatkan ke 5 perasaan secara verbal
(tidak tergganggu) 2. batasi jumlah dan
2. daya tahan gangguan pengunjung
skala target outcome di dengan tepat
pertahankan pada 2 (banyak 3. tingkatkan tirah
tergganggu) di tingkatkan ke baring/pembatasan
5 (tidak tergganggu) kegiatan
4. anjurkan tidur siang jika
diperlukan
5. bantu pasien dalam
aktivitas sehari – hari
yang teratur sesuai
dengan
kebutuhan(amblasi,
berpindah, bergerak,
dan perawatan diri)

nyeri akut b.d agen pencedera Kepuasan klien : Manajemen nyeri :


fisiologis Manajemen nyeri. Skala target 1. Lakukan pengkajian
outcome : Dipertahankan pada 1 nyeri komprehensif
ditingkatkan ke 5 yang meliputi lokasi,
1. Nyeri terkontrol karakteristik, durasi,
2. Mengambil tindakan frekuensi kualitas,
untuk mengurangi nyeri. intensitas/ beratnya
3. Mengambil tindakan nyeri dan faktor
untuk memberikan pencetus
kenyamanan 2. Observasi adanya
Masalah keamanan ditangani petunjuk nonverbal
dengan penggunaan obat mengenai
nyeri. ketidaknyamanan
terutama pada mereka
yang tidak dapat
berkomunikasi dengan
efektif
3. Pastikan perawatan
analgesic bagi pasien
dilakukan dengan
pemantauan yang ketat
4. Dukung istirahat/ tidur
yang adekuat untuk
membantu penurunan
nyeri.
1.1.6.4 Implementasi
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan
oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi ke
status kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan.
1.1.6.5 Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yg
menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaannya
sudah berhasil dicapai.
1.1.6.6 Program perencanaan pulang/discharge planning
1.1.6.6.1 ajarkan pada orang tua pasien tentang pemberian obat
1. dosis, rute dan waktu yang cocok dan menyeleskan dosis seluruhnya
2. efek samping
3. respon anak
1.1.6.6.2 berikan informasi pada orang tua pasien tentang cara pengendalian infeksi serta cara
pencegahannya
1. hindari pemajanan kontak infeksius
2. ikuti jadwal imunisasi
1.1.6.6.3 gizi seimbang dan cukup sesuaidengan kebutuhan anak
1.1.6.6.4 tutup mulut saat batuk karena penularan pnemonia banyak berasal dari percikan batuk
atau bersin pasien yang mengalami pnemonia
1.1.6.6.5 hindari asap rokok(Nurarif & Hardhi, 2015)
DAFTAR PUSTAKA

Christian, A. (2016). Gambaran Karakteristik Pneumonia Pada Anak. 4, 2.

Nanda. (2015). diagnosis keperawatan defenisi dan klasifikasi 2015-2017 (10th ed.; T. heather
Herdman & S. Kamitsuru, eds.). jakarta.

Ngastiyah. (2015). Perawatan Anak Sakit (2nd ed.). Jakarta: Buku Kedokteran (EGC).

Nurarif, amin huda, & Hardhi, K. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda NIC-NOC Edisi Revisi Jilid 3. Yogyakarta: MediAcion.