Anda di halaman 1dari 9

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Peran Pola Asuh Orang Tua terhadap Kecemasan Sosial pada Remaja

Disusun Oleh :

Nama Mahasiswa : Duwik Rukayanti

NIM : 010117A021

Program Studi S1 Keperawatan

Universitas Ngudi Waluyo

Tahun 2019/2020

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


1
Penyuluh : Duwik Rukayanti

Pokok Pembahasan : Kecemasan Sosial pada Remaja

Sub-Pokok Pembahasan : Peran Pola Asuh Orang Tua terhadap Kecemasan Sosial

Remaja

Sasaran : Remaja dan orang tua

Hari/tanggal : Sabtu,11 April 2020

Tempat : Ged.Serbaguna,Ds.Gedang Anak

Pukul : 10.00-11.00 WIB

A. Tujuan
 Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 60 menit tentang “Peran Pola Asuh Orang Tua
terhadap Kecemasan Sosial pada Remaja”
 Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 60 menit diharapkan remaja dan orang tua mampu:
1. Mengetahui Pengertian Pola asuh Anak dalam Keluarga
2. Mengetahui Macam-Macam Pola Asuh Anak Dalam Keluarga Secara Umum
3. Mengetahui Pengertian Kecemasan Sosial Pada Remaja
4. Mengetahui Jenis Masalah yang Dihadapi Oleh Remaja
5. Mengetahui Peran Orang Tua dalam Empat Fase Penting Dalam Perkembangan
Intelektual, Sosial dan Keterampilan Emosi Remaja

B. Materi
Materi penyuluhan yang akan disampaikan meliputi :

2
Pengertian Pola asuh Anak dalam Keluarga
Macam-Macam Pola Asuh Anak Dalam Keluarga Secara Umum
Pengertian Kecemasan Sosial Pada Remaja
Jenis Masalah yang Dihadapi Oleh Remaja
Peran Orang Tua dalam Empat Fase Penting Dalam Perkembangan Intelektual, Sosial
dan Keterampilan Emosi Remaja
C. Media Penyuluhan
1. Penyajian materi dengan ppt
D. Metode Penyuluhan
1. Ceramah
2. Demonstrasi
3. Tanya jawab

E. Pengorganisasi
1. Moderator : Diyan Kusumawati
2. Penyuluh : Duwik Rukayanti
3. Fasilitator : Emma Fiana
4. Observer : Elfatria Sri Rejeki
Pembagian Tugas
 Moderator : Mengarahkan seluruh jalannya acara penyuluhan dari awal sampai
akhir
 Penyuluh : Menyajikan materi penyuluhan
 Fasilitator : Memotifasi peserta untuk bertanya
 Observer : Mengamati jalannya acara penyuluhan dari awal sampai akhir

5. Kegiatan Penyuluhan

No Waktu Kegiatan Penyuluhan Respon Peserta

1 Pembukaan 1. Memberi salam 1. Menjawab salam


(10 menit) 2. Memperkenalkan diri 2. Mendengarkan dan
3. Menggali pengetahuan memperhatikan
orang tua tentang pola 3. Menjawab pertanyaan
asuh anak dalam
3
Keluarga
4. Menjelaskan tujuan
Penyuluhan 4. Mendengarkan dan
5. Membuat kontrak waktu memperhatikan
5. Menyetujui kontrak
waktu

2 Kegiatan Inti 1. Menjelaskan tentang 1. Mendengarkan dan


(30 menit)  Pengertian Pola memperhatikan
asuh Anak dalam penjelasan Penyuluh
Keluarga
 Macam-Macam
Pola Asuh Anak
Dalam Keluarga
Secara Umum
 Pengertian
Kecemasan Sosial
Pada Remaja
 Jenis Masalah
yang Dihadapi
Oleh Remaja
 Peran Orang Tua
dalam Empat Fase
Penting Dalam
Perkembangan
Intelektual, Sosial
dan Keterampilan
Emosi Remaja 2. Aktif bertanya
2. Penyajian materi
dengan ppt
3. Memberikan
3. Mendengarkan
kesempatan untuk
bertanya
4. Menjawab pertanyaan
peserta

3 Penutup 1. Menyimpulkan materi 1. Mendengarkan dan


(20 menit) yang disampaikan oleh Memperhatikan
penyuluh
4
2. Mengevaluasi peserta
atas penjelasan yang 2. Menjawab pertanyaan
disampaikan dan yang diberikan
penyuluh menanyakan
kembali mengenai
materi penyuluhan
3. Salam Penutup
3. Menjawab salam

6. Evaluasi Lisan
 Pengertian Pola asuh Anak dalam Keluarga
 Macam-Macam Pola Asuh Anak Dalam Keluarga Secara Umum
 Pengertian Kecemasan Sosial Pada Remaja
 Jenis Masalah yang Dihadapi Oleh Remaja
 Peran Orang Tua dalam Empat Fase Penting Dalam Perkembangan Intelektual, Sosial dan
Keterampilan Emosi Remaja

1. Materi

Peran Pola Asuh Orang Tua terhadap Kecemasan Sosial pada Remaja

5
A. Pengertian Pola Asuh Anak Dalam Keluarga
Gaya pengasuhan orang tua adalah sikap yang diekspresikan terhadap anak dengan
berbagai macam situasi.(Rachmawaty, 2015)
Studi psikologi telah mengatakan bahwa gaya pengasuhan memiliki korelasi yang
signifikan terhadap gangguan kecemasan sosial (Lieb, 2000).
B. Macam-Macam Pola Asuh Anak Dalam Keluarga Secara Umum

1) Pola Asuh Demokrasi : Pola asuh ini ditandai dengan orang tua yang memberikan
kebebasan yang memadai pada anaknya tetapi memiliki standar perilaku yang jelas.

Manfaat dari pola asuh ini adalah :

 Anak akan belajar menghargai, menghormati pendapat orang lain


 Anak selalu memberi perhatian  kepada sesamanya
 Anak akan berusaha membangun kerjasama dengan orang lain

2) Pola Asuh Otoriter : Pola asuh ini cukup ketat dengan apa yang mereka harapkan dan
anaknya dan hukuman dan perilaku anak yang kurang baik juga berat.

Dampak dari pola asuh ini adalah :

 Anak tertekan secara psikis dan fisik


 Hilang semangat dan selalu menyalahkan diri sendiri
 Tidak memiliki inisiatif, ide-ide cemerlang karena merasa selalu ditekan
 Tidak berani berpendapat dan menentukan pilihan

3) Pola Asuh Tanpa Kendali : Orang tua pada kelompok ini membiarkan anaknya untuk
menampilkan dirinya dan tidak membuat aturan yang jelas serta kejelasan tentang
perilaku yang mereka harapkan.

Dampak dari pola asuh ini adalah :

 Anak akan bertindak sekehendak hati


 Tidak dapat mengendalikan dirinya
 Hidup bebas tanpa aturan
 Selalu memaksakan kehendak dan egois
 Selalu ragu membedakan yang mana benar yang mana yang salah.

4) Pola Asuh Perlindungan Yang Berlebihan : Dalam hal ini semangat untuk memberikan
perlakuan dan perlindungan yang baik, namun berlebihan caranya akan menimbulkan
masalah karena anak anak akan memiliki mentalitas yang lemah bila mengahadapi
tantangan dan kesulitan.
Dampak dari pola asuh ini adalah :
6
 Menghilangkan kesempatan kepada anak untuk bersoisalisasi
 Anak akan selalu merasa ketakutan dan tidak memiliki kemandirian
 Kurang bertanggung jawab dan tidak bisa mengambil keputusan
 Selalu ragu-ragu, mudah cemas dan penakut
 Kurang percaya diri, sulit membangun relasi dan tidak berani menghadapi
kenyataan.

C. Pengertian Kecemasan Sosial Pada Remaja

Definisi remaja yang dipaparkan oleh Sri Rumini & Siti Sundari, Zakiah Darajat, dan
Santrock tersebut menggambarkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa
anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dimana pada masa
tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis.

Kecemasan sosial adalah rasa takut yang intens dan evaluasi yang negatif yang
berlebihan ketika dihadapkan pada situasi sosial.Kecemasan sosial ditandai dengan adanya
persepsi marabahaya dalam situasi sosial serta munculnya potensi penolakan oleh orang
lain.
D. Jenis Masalah yang Dihadapi Oleh Remaja

 Masalah di Sekolah

 Masalah di Rumah

 Masalah dengan Teman-Teman

 Masalah dengan Orang yang Disukai

 Masalah dengan Kekhawatiran Masa Depan

 Masalah dengan Hobi

 Masalah dengan Agama

E. Peran Orang Tua dalam Empat Fase Penting Dalam Perkembangan Intelektual, Sosial
dan Keterampilan Emosi Remaja.(Yusainy, Fitriani, Psikologi, & Brawijaya, n.d.)

 Usia 11 - 12 tahun

Orang tua dapat membantu dan membimbing mereka untuk meningkatkan


ketrampilan berorganisasi dan mengambil keputusan yang baik, berpikir melalui pro
dan kontra, serta melihat suatu masalah dari sudut pandang yang lain.

 Usia 13 - 14 tahun
7
Memasuki usia 13 - 14 tahun, remaja menjadi lebih emosional.

Orang tua dapat mengajarkan dan memberikan contoh ketrampilan menenangkan


diri, seperti meditasi, berolahraga dan mendengarkan musik. Juga dapat
membimbing remaja mereka meningkatkan ketrampilan antar personal, termasuk
membaca ekspresi dan bahasa tubuh.

 Usia 15 - 16 tahun

Inilah masa di mana kecenderungan remaja untuk melakukan perbuatan yang


berbahaya meningkat.

Remaja yang tumbuh di tengah kehangatan keluarga dan dukungan orang tua
memperlihatkan kecenderungan untuk tidak melakukan perbuatan berisiko tinggi.

 Usia 17 - 18 tahun

menempatkan diri sejajar dengan remajanya atau berperan sebagai teman, maka para
remaja semakin menganggap ini sebagai kesempatan untuk mendekatkan diri secara
emosional. Hal ini akan memudahkan proses perkembangan remaja dan pemahaman
orang tua tentang perilaku mereka.

2. Sumber :

Rachmawaty, F. (2015). Peran Pola Asuh Orang Tua terhadap Kecemasan Sosial pada Remaja.
Jurnal Psikologi Tabularasa, 10(1), 31–42. https://doi.org/10.1016/j.jpowsour.2017.02.081

Yusainy, C. Al, Fitriani, A., Psikologi, P. S., & Brawijaya, U. (n.d.). Pengaruh Self Control
Training Terhadap Kecemasan Sosial Pada Remaja.

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

8
SELF CONTROL TRAINING

TERHADAP KECEMASAN SOSIAL PADA REMAJA

Mata Kuliah : Keperawatan Keluarga

Kompetensi : Pengaruh pemberian self control training terhadap kecemasan sosial pada remaja

Pengertian : Self control training merupakan pelatihan yang ditujukan agar individu mampu

belajar mengendalikan setiap tindakan yang akan dilakukan.

Tujuan : Mengurangi kecemasan sosial pada remaja .

Alat & bahan :

1. Skala Kecemasan Sosial/SIAS (Social Interaction Anxiety Scale)


2. Diary improving posture

Prosedur :

A. Fase Orientasi
1) Membina hubungan saling percaya dengan klien
2) Memberikan informed consent
3) Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan dengan benar
B. Fase Kerja
1) Memberikan pre-test kepada subjek dengan menggunakan skala kecemasan
sosial dan peserta diharapkan mengisi data demografis (nama, umur, jenis
kelamin) terlebih dahulu.
2) Setelah proses pretest selesai,bagikan diary improving posture (sebagai
manipulation check).
3) Klien diminta untuk memantau dan memperbaiki postur mereka sendiri
(duduk tegak, berjalan tegak, dll) klien harus mematuhi dan selalu menilai
postur diri (menggunakan diary reminder) mereka selama dua minggu
4) Setelah proses treatment selama dua minggu selesai, selanjutnya klien
mengumpulkan kolom hasil Diary Reminder
C. Terminasi
1) Evaluasi kegiatan
2) Simpulkan hasil kegiatan
3) Berikan umpan balik positif
4) Kontrak pertemuan selanjutnya
5) Akhiri kegiatan dengan cara yang baik.