Anda di halaman 1dari 6

Optimalisasi Pola Makan sebagai Inovasi Intervensi Keperawatan Keluarga

dengan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh


Intervensi unggulan yang dilakukan pada keluarga adalah dengan edukasi
kesehatan tentang pola makan pada anak dan melatih psikomotor keluarga untuk
menyusun dan menerapkan jadwal menu harian dalam rangka mengoptimalkan
pola makan anak.
Orang tua merupakan individu-individu yang melakukan pengasuhan,
bimbingan dan perlindungan mulai dari lahir sampai dengan dewasa. Orang tua
merupakan orang yang memberikan perhatian langsung pada anak seperti
memberikan makan, bermain dan mengajarkan suatu keterampilan. Pengasuhan
merupakan proses tindakan dan interaksi antara orang tua dan anak sehingga dapat
saling mengubah satu sama lain. Hal tersebut di dukung oleh penelitian yang
dilakukan oleh Asrar, Hadi dan Boediman di masyarakat suku Naulu di
Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah, Propinsi Maluku (2009) tentang
pola asuh, pola makan, asupan gizi dan hubungannya dengan status gizi anak anak
bahwa ada hubungan yang bermakna antara pola asuh dengan status gizi anak.
A. Pola Makan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pola merupakan sistem; cara kerja,
dalam hal pemikiran pola merupakan sesuatu yang diterima seseorang dan dipakai
sebagai pedoman, sebagaimana diterimanya dari masyarakat sekelilingnya.
Sedangkan makan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia makan merupakan
kegiatan memasukkan makanan ke dalam mulut serta mengunyah dan
menelannya. Jadi pola makan dapat diartikan sebagai cara atau usaha dalam
mengatur kegiatan makan untuk memenuhi kebutuhan tubuh untuk menjadi lebih
baik.
Menurut Depkes RI, pola makan adalah suatu cara atau usaha dalam
pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan maksud tertentu seperti
mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan
penyakit.

B. Jenis makanan
Bicara tentang jenis, di Indonesia mengenal pola makanan pokok, lauk
hewani, lauk nabati, sayur dan buah. Pemberian makan yang sebaik-baiknya pada
anak harus memperhatikan keseimbangan gizi. Gizi seimbang adalah pola makan
yang seimbang antar zat gizi yang diperoleh dari aneka ragam makanan dalam
memenuhi kebutuhan zat gizi untuk hidup sehat, cerdas dan produktif.
Susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi yang jenis dan
jumlahnya disesuaikan oleh kebutuhan tubuh, dengan prinsip Pedoman Gizi
Seimbang (PGS). Orang tua harus membiasakan dan mengajari anak
mengkonsumsi makanan sesuai prinsip Pedoman Gizi Seimbang (PGS). PGS
adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis
dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan hidup, dengan memperhatikan 4
prinsip yaitu:
1. Variasi makanan
2. Pentingnya pola hidup bersih
3. Pentingnya pola hidup aktif dan olahraga
4. Pemantauan berat badan ideal
Direktorat Gizi Masyarakat Indonesia mengeluarkan Pedoman Umum Gizi
Seimbang sebagai panduan untuk mengatur pola makan sehat agar sesuai dengan
gizi seimbang. Pedoman ini berisi 13 pesan dasar gizi seimbang disertai logo
tumpeng (kerucut) dan anjuran porsi makan menurut umur.
Bahan makanan dikelompokan berdasarkan fungsi utama zat gizi, yang
dikenal dengan istilah Tri Guna Makanan, yaitu: Sumber zat tenaga (padi-padian,
umbiumbian, dan tepung-tepungan); Sumber zat pengatur (sayuran dan buah);
Sumber zat pembangun (kacang-kacangan, makanan hewani dan hasil olahannya).
Digambarkan kelompok bahan makanan yang penggunaannya dibatasi yaitu gula
dan garam.

C. Frekuensi Makan
Frekuensi pemberian makan, sangat tergantung kelompok umur. Khusus
untuk umur di atas 1 tahun, pola frekuensi makan ialah 3 kali makanan utama, dan
2 kali makanan selingan. pola ini berlaku untuk kelompok masyarakat yang sehat,
sedangkan bagi mereka yang menjalani diet khusus tentu memiliki pola tersendiri.
Pola makan berdasarkan jumlah menggunakan acuan Angka Kecukupan Gizi
(AKG) yang saat ini AKG terbaru adalah tahun 2012.
D. Jumlah
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), Asupan gizi seimbang dari
makanan memegang peranan penting dalam proses pertumbuhan fisik dan
kecerdasan anak, dibarengi dengan pola makan yang baik dan teratur yeng perlu
diperkenalkan sejak dini, antara lain dengan pengenalan jam-jam makan dan
variasi makanan dapat membantu mengkondisikan kebutuhan akan pola makan
sehat pada anak.
Pola makan yang bergizi dapat meningkatkan kekebalan tubuh pada anak.
Kebiasaan makan berpengaruh pada siklus kehidupan yaitu pada penampilan,
energi, stamina, daya tahan terhadap penyakit, keseimbangan mental, tingkat
stress, pencapaian prestasi akademis dan kesuksesan kehidupan masyarakat. Gizi
yang baik adalah bahan dasar untuk membantu anak-anak tumbuh kuat, bugar dan
sehat. Kebiasaan makan yang keliru dapat mempengaruhi status gizi anak, oleh
sebab itu perlu perhatian khusus dalam pemberian makan pada anak. Pemberian
makanan yang terlalu manis dan terlalu bergaram kepada anak sebelum makan
makanan utama dapat menyebabkan anak kehilangan nafsu makannya. Makanan
cepat saji pada masa sekarang sangat disukai oleh anak-anak karena rasanya yang
gurih dan enak. Makanan cepat saji bisa dikonsumsi anak-anak tetapi diharapkan
tidak berlebihan karena kandungan gizi didalamnya kurang mencukupi kebutuhan
anak dan mengandung lebih banyak lemak.
Pola asuh makan adalah praktek-praktek pengasuhan yang diterapkan ibu
kepada anak yang berkaitan dengan cara-cara dan situasi makan. Kemampuan ibu
untuk mengambil keputusan yang berdampak pada kehidupan seluruh anggota
keluarga menjadi dasar penyediaan pola pengasuhan yang tepat dan bermutu pada
anak termasuk asupan nutrisi. Jumlah dan kualitas makan yang dibutuhkan untuk
dikonsumsi anak sangat penting dipahami oleh ibu atau pengasuh anak.
Pengaruh gizi kurang terhadap perkembangan otak sangat erat hubungannya
dengan perkembangan mental dan kemampuan berfikir.. Seorang anak yang
mempunyai masalah gizi kurang akan mengalami keterlambatan dalam
kemampuan berfikirnya. Perkembangan fisik dan intelektual seseorang banyak
dipengaruhi status gizi.

E. Pola Makan Lima Kali Sehari


Jadwal makan yang ideal dijalankan agar mempunyai pola makan yang baik
adalah lima sampai enam kali sehari yaitu sarapan pagi, kudapan siang, makan
siang, kudapan sore, makan malam, dan bila perlu ditambah dengan snack malam
agar terhindar dari sakit maag. Dianjurkan mengkonsumsi makanan dalam porsi
kecil tapi sering.
Pola makan lima kali sehari merupakan pola penjadwalan makan dengan
menambah waktu makan menjadi lima kali dalam satu hari, yaitu sarapan pagi,
kudapan siang, makan siang, kudapan sore, dan makan malam. Pola makan ini
membagi porsi makan yang dianjurkan dalam panduan umum gizi seimbang
menjadi lima kali. Pembagian ini bertujuan agar dapat memenuhi kebutuhan
tubuh untuk terus mencerna makanan dan menyerap nutrisi dari makanan dan
merubahnya menjadi energi agar tubuh tidak kekurangan energi saat melakukan
aktivitas sehari-hari.
Pola makan lima kali sehari tentu akan lebih baik dari pola makan tiga kali
sehari karena pola makan lima kali sehari membuat tubuh selalu mencerna
makanan, pada pola makan tiga kali sehari rentan waktu dari jadwal makan satu
(pukul 06.00) ke jadwal makan dua (12.00) memiliki rentang waktu enam jam,
sedangkan proses pencernaan manusia terjadi tiga jam setelah itu tidak ada bahan
makanan yang dapat dicerna oleh tubuh sehingga dapat membuat tubuh menjadi
lemas dan malas dalam melakukan aktivitas. Sedangkan pada pola makan lima
kali sehari tubuh dapat mencerna makanan terus menerus karena rentan waktu
antara jam makan tiga jam, sehingga akan dapat membuat tubuh selalu terpenuhi
kebutuhan nutrisinya. Hal terpenting yang harus diingat mengenai pola makan si
kecil adalah, selalu siapkan makanan dalam porsi kecil dan cek berat badannya
setiap bulan.
Asuhan Keperawatan
Pola Makan Anak

A. Pengkajian
1. Kemampuan Keluarga Mengenal Masalah Kesehatan
Pengkajian dimaksud untuk menilai pengetahuan keluarga terkait
masalah kesehatan yang sedang dialami oleh anggota keluarga terkait
masalah nutrisi kurang. Pengetahuan yang dikaji meliputi tanda dan gejala,
penyebab, dan mengidentifikasi anggota keluarga yang mengalami gangguan
nutrisi kurang.
2. Kemampuan Keluarga Mengambil Keputusan
Mengenai tindakan kesehatan yang tepat. Sejauh mana keluarga mengerti
mengenai sifat dan luasnya masalah, bagaimana masalah dirasakan,
menyerah terhadap masalah yang dialami, takut akibat dari tindakan
penyakit, mempunyai sikap negatif terhadap masalah kesehatan, dapatkah
menjangkao fasilitas kesehatan, serta mendapat informasi yang salah
terhadap tindakan dalam mengatsi masalah.
3. Merawat Anggota Keluarga Yang Mengalami Masalah Kesehatan
Sejauh mana keluarga mengetahui perawatan anak dengan gizi kurang,
melalui sifat dan perkembangan perawat anak dibutuhkan, mematuhi
sumber-sumber yang ada dikeluarga. Mengetahui keberadaan fasilitas yang
diperlukan untuk perawatan dan sikap keluarga terhadap yang sakit, oleh
kerna itu keluarga memiliki tanggung jawab primer untuk memulai dan
mengkoordinasi layanan yang diberikan oleh professional kesehatan.
4. Modifikasi Keluarga
Sejauh mana keluarga mengetahui sumber-sumber yang dimiliki,
keuntungan pemeliharaan lingkungan, mengetahui pentingnya hygiene
sanitasi dan kekompakan antar anggota keluarga pada praktik lingkungan.
Apakan sat ini keluarga terpapar polusi udara, air atau kebisingan dari
lingkungan tempat tinggalnya, apayang dilakukan keluarga untuk mencegah
penyakit, siapa orang yang berperan mengambila keputusan terkait masalah
kesehatan keluarga, serta bagaimana pengetahuan keluaraga tentang cara
merawat anggota keluarga yang sakit.

5. Manfaat Fasilitas Kesehatan


Apakah keluarga mengatehui keberadaan fasilitas kesehatan, memahami
keuntungan yang diperoleh dari fasilitas kesehatan, tingkat kepercayaan
keluarga terhadap petugas kesehatan, dan fasilitas kesehatan tersebut
terjangkau oleh keluarga.

B. Diagnose keperawatan
1. Diagnose Actual
a. Ketidakefektifan dinamika makan anak berhubungan dengan nafsu
makan anak.
2. Diagnose Resiko
a. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
bergubungan dengan asupan nutrisi yang kurang.
b. Resiko berat badan berlebih berhubungan dengan nafsu makan anak
tinggi.
3. Diagnose Potensial
a. Kesiapan meningkatkan nutrisi berhubungan dengan gizi kurang
pada anak akibat pola makan tidak teratur.