Anda di halaman 1dari 6

TOPIK 5

ADVOKASI JAMBAN SEHAT

Perbaikan terhadap sanitasi, lingkungan dan air bersih, secara substansial akan
mengurangi tingkat kesakitan dan tingkat keparahan berbagai penyakit sehingga dapat
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Namun, Indonesia masih dihadapi masalah
sanitasi yaitu perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) yang mencemari lingkungan.
Indonesia berada di urutan kedua setelah India (626 juta orang) sebagai negara dengan
perilaku BABS terbanyak yaitu 63 juta orang. Begitu pun dengan Kota Serang, masih terdapat
27,2% masyarakat melakukan BABS seperti di sungai, sawah dan lainnya. Penyebab utamanya
adalah faktor kebiasaan.

Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan


membuat lingkungan tempat hidup sehat.Dalam pembuatan jamban sedapat mungkin harus
diusahakan agar jamban tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Penduduk Indonesia yang
menggunakan jamban sehat (WC) hanya 54 % saja padahal menurut studi menunjukkan bahwa
penggunaan jamban sehat dapat mencegah penyakit diare sebesar 28%

Dalam hal ini Kementerian Kesehatan telah mempunyai program Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM) sebanyak lima pilar. Salah satu pilarnya adalah stop Buang Air Besar
Sembarangan (BABS). Di Indonesia, data mengenai perilaku BABS mencakup persentase desa
atau kelurahan yang sudah terverifikasi secara akumulatif bebas perilaku BABS yaitu mencapai
14.020 desa atau kelurahan atau baru mencapai 35,39% dari total desa/kelurahan dengan
STBM (Kementerian Kesehatan, 2018: 244). Dengan kata lain mayoritas desa atau kelurahan di
Indonesia belum terbebas dari masalah BABS maupun belum terverifikasi bebas BABS.
Penyebab utama masih banyaknya masyarakat yang BABS bukan dikarenakan faktor ekonomi
dan ketidakmampuan membangun jamban melainkan rendahnya kesadaran masyarakat
terhadap lingkungan yang sehat (Tim Pikiran Rakyat, 2019).

Penerapan promosi kesehatan dalam program kesehatan pada dasarnya merupakan


bentuk penerapan strategi global yang dijabarkan dalam berbagai kegiatan. Karena sanitasi
lebih cenderung ke arah perubahan perilaku sehingga upaya yang dilakukan melalui
pendekatan strategi promosi kesehatan. Menurut WHO, strategi global tersebut yaitu advokasi,
dukungan sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Advokasi jamban sehat ini akan lebih efektif bila dilaksanakan dengan prinsip kemitraan
atau mendapat dukungan sosial yaitu dengan membentuk jejaring khusus atau forum kerja
sama. Pengembangan kemitraan adalah upaya membangun hubungan para mitra kerja
berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling memberi manfaat. Dukungan sosial
melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat formal maupun informal setempat agar tokoh
masyarakat mampu menyebarkan informasi tentang program kesehatan dan membantu
melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Tokoh masyarakat ini merupakan sasaran
sekunder dari promosi kesehatan.

Beberapa dari bentuk dukungan social antara lain:

 Bina suasana individu dilakukan oleh individu tokoh masyarakat sebagai


panutan dalam mempraktikan program kesehatan.
 Bina suasana kelompok dilakukan oleh para kelompok ada di dalam masyarakat
seperti ketua RT, RW, karang taruna, dan lainnya.
 Bina suasana publik dilakukan oleh masyarakat umum melalui
pemanfaatan media komunikasi yang ada.

Pemberdayaan masyarakat ini juga sangat penting dilakukan dengan manfaat yaitu
memampukan masyarakat melalui kegiatan penyuluhan dan konseling sehingga pengetahuan
dan sikap masyarakat terhadap kesehatan dapat meningkat sedikit demi sedikit,
Prinsip pemberdayaan masyarakat adalah :
 Menumbuh kembangkan potensi masyarakat. Di dalam upaya pemeliharaan dan
peningkatan derajat pengetahuan masyarakat tentang pentingnya jamban sehat.
 Menumbuhkan dan mengembangkan peran serta masyarakat dalam pembangunan
kesehatan,
 Mengembangkan semangat kegiatan gotong-royong dalam pembangunan kesehatan
seperti meningkatkan sanitasi lingkungan salah satunya menerapkan jamban sehat
 Menggalang kemitraan dengan LSM dan organisasi kemasyarakatan yang ada di
masyarakat.

 Promosi, pendidikan dan pelatihan dengan sebanyak mungkin tentang jamban sehat.
Dalam tatanan rumah tangga, sasaran primer promosi kesehatan adalah anggota rumah
tangga yang memiliki masalah kesehatan seperti ibu, bayi dan balita. Sasaran sekunder adalah
kepala keluarga, orang tua, kader masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM, petugas
kesehatan. Sementara, sasaran tersier adalah ketua RT, RW, kepala desa dan lainnya upaya
mengenalkan kesehatan kepada berbagai pihak perlu dipacu agar memperoleh dukungan dan
kepedulian semua pihak. Untuk mencapai hal ini, perlu dilakukan pendekatan persuasif, cara-
cara yang komunikatif dan inovatif yang memperhatikan setiap segmen sasaran untuk
meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan.
Pemerintah Indonesia melakukan upaya peningkatan akses sanitasi sejak tahun 2006.
Salah satu upaya melalui Kementerian Kesehatan adalah melakukan perubahan arah kebijakan
dari yang sebelumnya memberikan subsidi perangkat keras menjadi pemberdayaan
masyarakat dengan fokus pada perubahan perilaku Stop BABS menggunakan metode
Community Led Total Sanitation (CLTS). Pendekatan CLTS dikembangkan dengan
menambahkan empat pilar perubahan perilaku lainnya yang dinamakan STBM. Sehingga pada
tahun 2008, pemerintah menetapkan STBM menjadi kebijakan nasional melalui Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat. Saat ini Kepmenkes tersebut sudah diganti dengan Peraturan Menteri
Kesehatan RI Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Pendekatan
STBM terbukti telah mampu mempercepat akses sanitasi di Indonesia. Berdasarkan data
Badan Pusat Statistik tahun 2013, peningkatan rata-rata akses sanitasi dari tahun 1993–2006
mencapai 0,78% per tahun. Sejak penerapan CLTS pada tahun 2006 yang kemudian menjadi
kebijakan nasional STBM pada tahun 2008 rata-rata peningkatan akses sanitasi per tahun
mencapai 3,53%, dan berdasarkan penghitungan dari data BPS 2009–2017 rata-rata
peningkatan rumah tangga yang memiliki akses sanitasi layak adalah 2,23% per tahun
(Kementerian Kesehatan, 2018: 242).Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun
2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, STBM merupakan pendekatan untuk
mengubah perilaku higienis dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara
pemicuan. Pemicuan adalah cara untuk mendorong perubahan perilaku higiene dan sanitasi
individu atau masyarakat atas kesadaran sendiri dengan menyentuh perasaan, pola pikir,
perilaku, dan kebiasaan individu atau masyarakat. Perubahan perilaku dalam STBM dilakukan
melalui metode pemicuan yang mendorong perubahan perilaku masyarakat sasaran secara
kolektif dan mampu membangun sarana sanitasi secara mandiri sesuai kemampuan.
Dalam mengatasi permasalahan BABS, diperlukan komitmen dari stakeholders terkait agar
selalu memprioritaskan sanitasi melalui program-program inovatif. Mengubah perilaku
masyarakat yang mendukung hidup bersih dan sehat membutuhkan komitmen dari para
pembuat dan pelaksana kebijakan. Perubahan perilaku harus diakui memerlukan waktu yang
cukup panjang. Dinas Kesehatan selaku pihak yang berwenang terhadap peningkatan derajat
kesehatan masyarakat setempat, perlu konsisten melakukan advokasi, memperkuat dukungan
sosial dan memberdayakan masyarakat setempat. Masalah kesehatan masyarakat melibatkan
semua pihak termasuk pemerintah, pihak swasta, masyarakat, dan akademisi.

RINGKASAN
1. Advokasi jamban sehat ini akan lebih efektif bila dilaksanakan dengan prinsip kemitraan
atau mendapat dukungan sosial yaitu dengan membentuk jejaring khusus atau forum kerja
sama.
2. Salah satu upaya melalui Kementerian Kesehatan adalah melakukan perubahan arah
kebijakan dari yang sebelumnya memberikan subsidi perangkat keras menjadi
pemberdayaan masyarakat dengan fokus pada perubahan perilaku Stop BABS
menggunakan metode Community Led Total Sanitation (CLTS).
3. Dalam mengatasi permasalahan BABS, diperlukan komitmen dari stakeholders terkait agar
selalu memprioritaskan sanitasi melalui program-program inovatif. Mengubah perilaku
masyarakat yang mendukung hidup bersih dan sehat membutuhkan komitmen dari para
pembuat dan pelaksana kebijakan.

TES 5

1. Dukungan sosial melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat formal maupun informal
setempat agar tokoh masyarakat mampu menyebarkan informasi tentang program
kesehatan dan membantu melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Tokoh masyarakat
ini merupakan sasaran ..... dari promosi kesehatan
a. Sekunder
b. Primer
c. Tersier
d. Kuartener
e. Prima
2. Memampukan masyarakat melalui kegiatan penyuluhan dan konseling sehingga
pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan dapat meningkat sedikit demi
sedikit, merupakan manfaat dari ...
a. Sosialisasi
b. Pemberdayaan masyarakat
c. Lobilisasi
d. Negosisasi
e. Persuasi
3. Berikut merupakan prinsip pemberdayaan masyarakat, kecuali?
a. a. Menumbuh kembangkan potensi masyarakat. Di dalam upaya pemeliharaan dan
peningkatan derajat pengetahuan masyarakat tentang pentingnya jamban sehat.
b. Menumbuhkan dan mengembangkan peran serta masyarakat dalam pembangunan
kesehatan,
c. Mengembangkan semangat kegiatan gotong-royong dalam pembangunan kesehatan
d. Menggalang kemitraan dengan LSM dan organisasi kemasyarakatan yang ada di
masyarakat
e. Bina suasana kelompok dilakukan oleh para kelompok ada di dalam masyarakat
seperti ketua RT, RW, karang taruna, dan lainnya.
4. Pemerintah Indonesia melakukan upaya peningkatan akses sanitasi sejak tahun 2006.
Salah satu upaya melalui Kementerian Kesehatan adalah melakukan perubahan arah
kebijakan dari yang sebelumnya memberikan subsidi perangkat keras menjadi
pemberdayaan masyarakat dengan fokus pada perubahan perilaku Stop BABS
menggunakan metode..
a. Community Led Total Sanitation
b. Free BABS
c. Stakeholder
d. Pemberdayaan masyarakat
e. Bina Suasana
5. Penerapan promosi kesehatan dalam program kesehatan pada dasarnya merupakan
bentuk penerapan strategi global yang dijabarkan dalam berbagai kegiatan. Karena sanitasi
lebih cenderung ke arah perubahan perilaku sehingga upaya yang dilakukan melalui
pendekatan strategi promosi kesehatan. Menurut WHO, strategi global tersebut yaitu
dengan ...
a. Sosialisasi, lobilisasi, dan negosiasi
b. Persuasi, lobilisadi, dan negosiasi
c. Advokasi, dukungan sosial dan pemberdayaan masyarakat
d. Dukungan sosial, negosiasi, pemberdayaan masyarakat
e. Negosiasi, persuasi, pemberdayaan masyarakat

KUNCI JAWABAN
1. A
2. B
3. E
4. A
5. C

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan RI. (2018). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2017. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.
Utami, T. N., et al.(2015). Perspektif Kesehatan Masyarakat Teori dan Aplikasi. Yogyakarta:
Budi Utama.
WHO. (2010). Water Sanitation Hygiene. Diakses pada tanggal 28 Maret 2020
Winarti, A. & Nurmalasari, S. (2016). Hubungan Perilaku Buang Air Besar (BAB) dengan
Kejadian Diare di Desa Krajan Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten. Jurnal Involusi
Kebidanan, 7(12), 13–25.