Anda di halaman 1dari 14

Penelitian

22 I Ketut Donder

Keesaan Tuhan dan Peta Wilayah Kognitif Teologi Hindu:


Kajian Pustaka tentang Pluralitas Konsep Teologi
dalam Hindu

I Ketut Donder
Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
email: donderjyothi@gmail.com
Naskah diterima redaksi tanggal 19April 2015, diseleksi 15 Juli dan direvisi 25 Juli 2015

Abstract Abstrak

All religions worship to one God yet they Semua agama menyembah Tuhan Yang
have different ways to understand and Maha Esa, hanya nama-Nya, metode
pray. They teach transcendental concept memahami-Nya, dan cara menyembah-
Nya berbeda-beda. Semua agama
that is not easy to understand. Therefore,
mengajarkan hal transendental yang tidak
it is required a knowledgeable spiritual mudah dipahami. Oleh sebab itu, untuk
teacher to understand the religion properly. memahami secara baik dan benar suatu
Different understandings on transcendental agama membutuhkan panduan seorang
concept are caused by different religious guru yang memiliki pengetahuan yang
level that someone has. The Hindu sages mapan tentang agama. Keanekaragaman
have solved this problem by providing pemahaman terhadap yang transendental
sebagaimana diajarkan dalam semua
two areas of cognitive theology, namely
agama disebabkan oleh perbedaan tingkat
Nirguna Brhman and Satguna Brahman pengetahuan rohani setiap orang. Para
and each is divided further into their sub- bijak Hindu memberikan solusi terhadap
theologies. The various Hindu theologies pelan ini dengan membuat dua garis besar
aim to bring human beings whose different peta wilayah kognitif teologis, yaitu teologi
religious level having same understanding Nirguna Brahman dan teologi Saguna
on God. It can avoid misconception on Brahman, selanjutnya dijabarkan menjadi
Hindu teaching. sub-sub teologi sesuai peta pemahaman
teologi setiap orang. Keragaman teologi
Keywords: God, Area, Cognitive, Theology, diciptakan dalam Hindu bertujuan agar
Hindu semua manusia dengan tingkat kerohanian
yang berbeda sama-sama memiliki
pemahaman tentang Tuhan. Melalui
pemahaman yang benar terhadap teologi
Hindu, seseorang tidak akan salahpaham
terhadap Hindu.
Kata kunci: Tuhan, Wilayah, Kognitif,
Teologi, Hindu

Pendahuluan mendapat kritikan baik berasal dari


luar muapun dari umat sendiri (Pandit,
Para intelektual Hindu harus 2010:128 dan Donder, 2013:1). Artikel
berpikir serius untuk memberikan ini para intelektual ingin mendorong
penjelasan rasional tentang berbagai lebih serius berpikir tentang Teologi
hal, seperti ritual Hindu yang sering Hindu. Hal ini sesuai dengan tuntutan

HARMONI Mei - Agustus 2015


Keesaan Tuhan dan Peta Wilayah Kognitif Teologi Hindu: Kajian Pustaka tentang Pluralitas Konsep Teologi... 23

zaman seiring karakter dan peradaban peneliti, penulis dan merangkap sebagai
masyarakat modern yang dibentuk oleh misionaris Kristen. Ia menyusun Teologi
hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan Hindu bersumber pada kitab-kitab
teknologi. Upanisad yang tidak lain adalah pustaka
filsafat. Di Indonesia hanya ada empat
Ciri masyarakat modern dewasa buku yang menyinggung tentang Teologi
ini adalah rasional dan ilmiah, termasuk Hindu, keempat buku tersebut ada yang
ketika berdialog tentang Tuhan. Mereka secara eksplisit berjudul Teologi Hindu
membutuhkan jawaban-jawaban ilmiah dan ada yang bersifat inplisit.
dan rasional. Terkait dengan tuntutan
karakter masyarakat modern seperti Keempat buku tersebut adalah,
itu, umat Hindu belum siap berdialog Pertama, buku yang disusun oleh Gde
teologis dengan umat agama lain. Hal Pudja, M.A., SH. (1977), dengan judul
ini disebabkan karena berteologi dalam Teologi Hindu (Brahma Widya), buku
lingkungan umat Hindu termasuk di ini terlalu kecil dilihat dari jumlah
lingkungan para akademisinya belum halamannya yang hanya berjumlah
lazim. 54 halaman. Buku ini juga terlalu
kecil dilihat dari sudut pandang objek
Di lingkungan umat Hindu baik di formalnya karena di dalam buku ini
India maupun di Indonesia (Bali) lebih belum ada uraian yang jelas tentang apa
lazim berdialog secara filosofis daripada dan bagaimana struktur epistemologi
berdialog secara teologis. Beberapa Teologi Hindu itu.
guru besar (profesor) di bidang filosofi,
mereka juga bersikap dingin terhadap Buku kedua, adalah buku yang
wacana teologi, alasannya karena disusun oleh Dr. I Made Titib (2003).
teologi itu cenderung bersifat dogmatis Buku ini walaupun lebih tebal dari buku
dan apologetik. Walaupun pandangan pertama, yakni 498 halaman, namun di
mereka sah-sah saja, namun dalam abad dalamnya hanya 45 halaman membahas
post modern ini setiap umat beragama secara khusus tentang ketuhanan
(utamanya para tokoh umat) mutlak dalam Hindu. Buku ini juga belum
harus memahami teologi agama yang menunjukkan karakter teologis dan
dianutnya. Jika mereka tidak memiliki prosedur epistemologi Teologi Hindu
pengetahuan teologis, maka mereka secara jelas dan tegas. Dalam buku ini,
tidak akan mampu membedakan antara objek formal Teologi Hindu juga belum
berteologi dan berfilsafat. Dialog teologis dibahas secara lugas. Buku ini hanya
menggunakan sumber teks kitab suci secara implisit menguraikan tentang
sebagai argumentasinya, sedangkan Teologi Hindu, sebab buku ini ditulis
dialog filosofi mengandalkan jawaban dengan judul Teologi dan Simbol-Simbol
spekulatif dari pikiran filosofi secara dalam Agama Hindu.
radikal, dibantu juga oleh pandangan
para filsuf. Buku ketiga, adalah buku yang
ditulis oleh I Ketut Donder (2006)
Tradisi para intelektual Hindu dengan judul Brahmavida – Teologi Kasih
yang tidak suka dengan dialog teologis Semesta. Buku setebal 364 ini di dalamnya
mengakibatkan sangat langkanya karya terdapat uraian ontologi, epistemologi
intelektual Hindu di bidang teologi, dan aksiologi teologi secara umum serta
khususnya karya yang berjudul Teologi ontologi, epistemologi dan aksiologi
Hindu. Berdasarkan data, di India sendiri Teologi Hindu. Selain itu dalam buku ini
hanya ada satu buku Teologi Hindu juga terdapat kritik terhadap bangunan
yang ditulis oleh orang asing, yaitu Dr. ilmu teologi saat ini yang dikungkung
Jose Pereira (1976, 1991, 2012), seorang oleh dogmatika dan apologetika.
Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 14 No. 2
24 I Ketut Donder

Buku keempat, adalah buku yang Pembahasan


juga ditulis oleh I Ketut Donder (2010)
Kesalahpahaman terhadap Hindu Akibat
berjudul Teologi – Memasuki Gerbang Ilmu
Studi Orientalisme
Pengetahuan Ilmiah Tentang Tuhan Paradigma
Sanatana Dharma. Buku ini merupakan Agama Hindu dengan Veda sebagai
perluasan dari buku sebelumnya. Dalam kitab sucinya merupakan agama paling
buku ini terdapat uraian tentang wilayah- tua di dunia (Bleeker, 2004:7). Sivānanda
wilayah kognitif teologi yang sangat menyatakan bahwa: Veda merupakan
berguna untuk mempelajari temtang pustaka suci tertua dalam kepustakaan
evolusi pemahaman manusia terhadap umat manusia. Veda merupakan sumber
pengetahuan ketuhanan (teologi). utama dari agama. Sejak dahulu kala
Perbedaan kognitif teologis pada setiap Veda hanya dilapalkan, namun abad-
orang dan kelompok orang tidak perlu abad belakangan setelah manusia mulai
diperdebatkan. Perbedaan cara pandang berkurang kualitas daya hafalnya, maka
merupakan esensi dari isi dunia yang Veda mulai dituliskan. Veda bersifat abadi
bersifat plural (pluralism). Sesuai dengan dan tanpa pribadi.
karakter dunia yang plural, maka
Tanggal atau waktu turunnya wahyu
Teologi Hindu (Brahmavidya) dibangun yang ditulis dalam Veda tidak mungkin
atas dua cabang utama, yaitu Teologi dapat diketahui secara pasti. Para ahli
Nirguna Brahman dan Teologi Saguna sejarah agama seperti Joachim Wach dan
Brahman. Kedua cabang teologi tersebut yang lainnya tidak akan dapat menetapkan
dikembangkan dalam berbagai derivasi secara eksakta waktu turunnya wahyu
(cabang, turunan) teologis berupaya Tuhan yang kemudian ditulis di dalam
memberikan solusi terhadap konflik Veda. Sivānanda menambahkan bahwa
pemahamn teologis dari semua orang Veda merupakan kebenaran spiritual
dalam semua tingkatan umur dan semua abadi, Veda juga merupakan perwujudan
tingkatan pengetahuan. dari pengetahuan ketuhanan. Buku-
buku mungkin dapat dihancurkan tetapi
Artikel ini merupakan jenis
pengetahuan ketuhanan tidak mungkin
studi kualitatif dengan pendekatan
dapat dimusnahkan. Pengetahuan itu
teologi Hindu. Studi kualitatif yang
abadi, sehingga dalam pengertian ini Veda
dimaksudkan dalam artikel ini adalah juga abadi (Donder, 2006:v).
kualitatif interteks yang terfokus pada
teks (buku) karya Donder (2010) dengan Uraian Sivānanda di atas
judul Teologi: Memasuki Gerbang Ilmu mempermaklumkan kesulitan para ahli
Pengetahuan Ilmiah Tentang Tuhan Perspektif sejarah agama untuk menetapkan umur
Sanatana Dharma. Alasan tentang fokus Veda. Mereka hanya mampu menyatakan
studi teks pada buku karya Donder tahunnya secara spekulatif. Perkiraan
tersebut karena hanya dalam buku dari para ahli sejarah sangat berbeda-
tersebut terdapat perihal uraian secara beda, ada yang memperkirakan 6000 SM,
jelas tentang pluralisme konsep Teologi 5000 SM, 4000 SM, 1500 SM dan bahkan
Hindu, evolusi kesadaran teologi, yang ada yang memperkirakan 400 SM, selisih
disebut wilayah-wilayah teologi. Data- perbedaannya hingga ribuan tahun
data diperoleh langsung dari teks-teks sehingga tampak sebagai suatu yang
(buku) yang berkaiatan dengan teologi sangat tidak masuk akal (Donder, 2004:5
Hindu yang selanjutnya diverifikasi, dan 2010:413).
reduksi, dan kemudian dianalisis secara Swami Prakashnanda Saraswati
deskriptif. Pada bagian terakhir dari studi menyatakan bahwa kegamangan dan
ini dilakukan penarikan kesimpulan. kekaburan pengetahuan-pengetahuan

HARMONI Mei - Agustus 2015


Keesaan Tuhan dan Peta Wilayah Kognitif Teologi Hindu: Kajian Pustaka tentang Pluralitas Konsep Teologi... 25

Hindu ini disebabkan oleh usaha berbagai macam simbol yang bertujuan
penghancuran sejarah dan kitab-kitab untuk menggambarkan Tuhan yang
Hindu oleh penjajah Inggris melalui tak terlukiskan. Oleh sebab itu agama
organisasi Asiatic Society yang lebih Hindu adalah agama yang sangat
dikenal dengan kajian-kajian Orientalism kompleks (Smith, 2004:19) membutuhkan
(Saraswati, 2014:245). Hal ini sesuai pemahaman yang mendalam.
pendapat Richard King dan Edward W.
Said yang menguraikan Orientalisme yang Bagi orang-orang yang tidak
selalu mengacu pada wacana-wacana memahami Hindu secara mendalam bisa
khusus untuk mengkonseptualisasi salah sangka terhadap Hindu. Sebagai
Timur (Said, 2010:3), menyebabkan contoh, wahyu-wahyu Tuhan yang
Timur sangat mudah dikendalikan diperoleh para maharsi melalui cara
dan diatur. Orientalis selalu dikaitkan samadhi (Bleeker, 2004:9) dianggap bukan
dengan agenda imperial yang bertujuan wahyu oleh orang-orang yang tidak
untuk mengendalikan atau menjajah memahami agama Hindu.
Timur (King, 2001:162). Dokumen-
dokumen tentang usaha Dr. William
Jones sebagai wakil pemerintahan Hindu Menyembah Tuhan Yang Maha Esa
kolonial Inggris di India dan juga
Sebagaimana telah diuraikan bahwa
sebagai Directur Asiatic Society yang
pada dasarnya semua agama menyembah
berobsesi untuk mengkaburkan sekaligus
Tuhan Yang Satu dan Tuhan Yang Sama,
menghancurkan ajaran Hindu sampai saat
karena itu Hindu juga menyembah Tuhan
ini masih tersimpan di Museum Calcutta
Yang Maha Esa sebagaimana diyakini
sebagaimana tertulis dalam buku The
oleh semua penganut agama. Hal ini
True History and The Religion of India karya
secara eksplisit tersurat dalam Veda yang
Swami Prakashananda Saraswati (2014).
menyatakan eko narayanadvityo’sti kascit
Studi orientalisme merupakan artinya ’hanya satu Tuhan tidak ada
faktor utama kesalahpahaman terhadap duanya’. Pernyataan lainnya dalam Veda
Hindu. Studi orientalisme telah berhasil ekam sat viprah bahuda vadanti artinya
merusak pengetahuan sejarah dan ’hanya satu Tuhan tetapi orang bijaksana
kitab-kitab suci Hindu. Akibatnya, menyebutnya dengan banyak nama’
kesalahpahaman tersebut tidak saja dari (Sudharta dan Atmaja, 2014:5-6).
pihak non-Hindu, tetapi juga dialami oleh
Ide dasar bahwa Hindu adalah
umat Hindu sendiri. Kesalahpahaman
agama menyembah Tuhan Yang Maha Esa
tersebut adalah wajar dan alamiah,
sebagaimana juga semua agama sangat
sebab kesalahpahaman itu disebabkan
jelas terdapat dalam teks-teks suci Hindu,
ketidaktahuan. Sumber kesalahpahaman
hanyalah pada penggunaan metode untuk
itu adalah ketidaktahuan (Jelantik,1982:44
memahamiNya dan cara menyembahNya
dan Wisasmaya, 2012:87). Cara untuk
saja yang berbeda. Perbedaan tersebut
mengurangi kesalahpahaman terhadap
adalah wajar dan dibenarkan oleh
segala suatu termasuk terhadap agama
Tuhan. Hal tersebut sebagai wujud cinta
adalah mempelajarinya secara objektif,
dan kasih sayang Tuhan kepada umat
jujur, baik dan benar melalui sumber yang
manusia yang masing-masing memiliki
valid (Jelantik,1982:67 dan Wisasmaya,
perbedaan level pemahaman. Hal
2012:104). Hanya dengan cara demikian
tersebut sesuai dengan sloka Bhagavadgῑtā
maka seseorang akan memiliki
IV.11 yang berbunyi: ”dari manapun
pemahaman yang benar terhadap suatu
dan dengan cara apapun umat manusia
agama terlebih pada agama Hindu
datang kepada Tuhan akan diterima”.
yang penuh dengan penggunaan

Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 14 No. 2


26 I Ketut Donder

Madrasuta (2010:17) menguraikan bahwa sebagai sinar-sinar suci (Dev). Dua macam
sekalipun Veda menyatakan Tuhan itu teologi ini sesuai dengan peta wilayah
Satu dan hal ini dipertegas lagi dalam kognitif pemahaman teologis manusia
Upanisad, tapi karena Hindu tidak yang selanjutnya dijabarkan ke dalam
melarang umatnya untuk memuja hanya sub-sub peta wilayah kognisia teologis
salah satu aspek, salah satu sifat, salah berdasarkan level pemahaman teologi
satu sinar (Dev) dari Tuhan, maka timbul setiap orang.
kesan (sebagai kesalahpahaman) bahwa
Hindu menyembah banyak Tuhan.
Teologi Hindu dan Kesalahpahaman
Setiap agama mengajarkan untuk terhadap Hindu
menyembah Tuhan Yang Maha Esa,
namun karena Tuhan bersifat abstrak, Kata-kata Teologi Hindu sampai
metafisik dan transenden (paravidya), saat ini masih sangat asing di telinga
maka Tuhan tidak mudah untuk dipahami umat Hindu termasuk di telinga para
oleh setiap orang, karena itu setiap orang intelektual Hindu. Padahal Teologi
membutuhkan panduan seorang guru Hindu mutlak harus dipahami oleh setiap
yang mapan. Hal ini sangat relevan umat Hindu. Donder (2010) dalam Teologi
dengan uraian pustaka Sarasamuscaya 40 Sanatana Dharma menguraikan bahwa
dan Geguritan Sucita I.XII.40. pembahasan tentang teologi dalam
Hindu sesungguhnya bukanlah sesuatu
Sarasamuscaya 40 menyatakan: yang baru. Bhagavadgita sebagai pustaka
”Kitab Suci takut pada orang bodoh Hindu yang sangat tua pada setiap
sebab khawatir akan disalahartikan”. akhir percakapan selalu ditutup dengan
Selanjutnya Geguritan Sucita I.XII.40 kalimat: Ity śrῑmad bhagavadgῑtāsupaniatsu
menyatakan: ”Karena demikian luhur brahmavidyāyām ......., yang artinya:
dan halusnya isi sastra dan agama, “Inilah wejangan Bhagavadgῑtā, yaitu
karena itu tidak mudah dipelajari secara ilmu tentang Tuhan Yang Maha
mandiri, karena harus meminta petunjuk Mutlak (teologi).” Kalimat ini diulang
dari guru yang mapan. Jika tidak, maka sebanyak 18 kali pada setiap akhir bab
seseorang bisa sangat bertentangan Bhagavadgῑtā. Hal tersebut membuktikan
dengan apa yang dipahaminya” (Krishna, bahwa pembicaraan tentang Brahmavidya
2015:41; Jelantik,1982:67 dan Wisasmaya, atau ilmu ketuhanan (teologi) bukanlah
2012:104). hal baru dalam khazanah pengetahuan
Hindu.
Menyadari keanekaragaman kualitas
pemahaman akibat perbedaan evolusi Aryabhatta (dalam Titib, 1996:7 dan
dan level kecerdasan setiap orang dalam 2003:7) menyatakan bahwa Bhagavadgῑtā
memahami yang transendental, maka diwejangkan oleh Sri Krishna saat
para bijak Hindu secara garis besarnya Bharatayuda yang jatuh pada tanggal 18
membuat dua macam teologi. Pertama, Februari 3102 SM, sehingga Teologi Hindu
teologi Nirguna Brahman, yaitu teologi telah dibicarakan sejak 5117 tahun yang
yang menjelaskan tentang Tuhan yang lalu. Sejak lima ribu tahun lebih Teologi
tidak dikaitkan dengan atribut apapun, Hindu telah dibahas dengan cakupan
tidak bisa diasumsikan dengan sifat teologi yang sangat luas meliputi bidang
apapun dan tidak bisa dibayangkan seperti pengetahuan dan kepercayaan yang
apapun. Kedua teologi Saguna Brahman sangat luas pula meliputi segala macam
adalah teologi yang menjelaskan tentang isme yang dianut oleh manusia, karena
Tuhan dengan atribut dan bermanifestasi itu pula Brahmavidya dapat disebut

HARMONI Mei - Agustus 2015


Keesaan Tuhan dan Peta Wilayah Kognitif Teologi Hindu: Kajian Pustaka tentang Pluralitas Konsep Teologi... 27

sebagai Teologi Kasih Semesta (Donder, hanya dikuasai oleh orang-orang suci
2006; 2010). (para rsi, yogi, sufi), yaitu mereka yang
sudah terbebas dari kesadaran fisik atau
Pengkajian Teologi Hindu mutlak kesadaran materi. Orang seperti itu
harus dilakukan sebagaimana pustaka adalah orang yang setiap detik selalu
Brahma Sūtra I.I.1 menyatakan athāto ingat dan berhubungan dengan Tuhan,
brahmajijñāsā yaitu ’penyelidikan ke dalam atau dalam setiap tarikan napasnya selalu
Brahman harus dilakukan’ (Śakarācārya, ada Tuhan yang melampaui batasan
2011:6). Svami Viresvarananda (dalam nama, bentuk, atribut, manifestasi, dsb.
Donder, 2010:69) menyatakan bahwa Sedangkan untuk kebutuhan manusia
penyelidikan adalah hal yang sangat pada umumnya, maka para bijak
penting, karena ada ketidak-pastian menciptakan pengetahuan tentang Tuhan
mengenai hal itu, dan kita menemukan yang memiliki nama, bentuk, atribut dan
berbagai pandangan yang berlainan berbagai manifestasi yang spesifik sesuai
bahkan bertentangan mengenai sifat-sifat- tujuan pemujaan. Pengetahuan tentang
Nya. Hasil penyelidikan itu akan mampu Tuhan dengan atribut ini masuk dalam
mengungkap tentang pengetahuan Sang wilayah kognitif teologi Saguna Brahma.
Diri yang selanjutnya membawa manusia
untuk dapat mengalami pembebasan Sesungguhnya teologi Saguna
sejati. Karena itu secara aksiologis Brahma ini bersifat metodologis agar
penyelidikan tentang Brahman melalui seluruh umat manusia mengalami
pengujian dengan naskah-naskah Vedanta pencerahan dan sampai kepada
yang berkaitan denganNya menjadi pengetahuan transenden serta dapat
sangat penting dan berharga. mengalami hubungan dengan Tuhan.
Pada wilayah kognitif teologi Saguna
Lebih lanjut, Svami Viresvarananda Brahma inilah munculnya ñyasa atau
(dalam Donder 2010: 69) menguraikan bentuk-bentuk simbol keagamaan dalam
bahwa agar manusia memahami bentuk gambar, patung, wajah dewa, dsb.
pengetahuan tentang Brahman (Tuhan) Sehingga kehadiran segala bentuk simbol
secara benar, maka Tuhan harus diberikan harus dilihat sebagai sarana atau alat
atribut seperti nama atau gelar, manifestasi yang digunakan untuk mempermudah
atau sifat-sifatNya yang tertentu. Jika aplikasi metode pengetahuan tentang
Tuhan tidak beratribut maka tidak Tuhan Saguna Brahama. Jika saja setiap
mungkin dapat dijangkau oleh manusia orang atau para penulis buku, pengarang
suci sekalipun apalagi manusia biasa buku, para peneliti, para teolog, dan
atau masyarakat awam. Brahman yang tak para ilmuwan memahami hal ini, maka
terjangkau oleh pengetahuan manusia niscaya tidak akan ada kesalahpahaman
itu, masuk dalam wilayah pengetahuan dan tudingan yang sumir terhadap Hindu
paravidya, pengetahuan ketuhanan atau (Donder (2010).
teologi pada wilayah pemahaman ini
disebut pengetahuan Nirguna Brahma. Dalam upaya membangun
Tuhan pada wilayah teologi ini tidak hubungan yang harmonis antara sesama
mungkin diajarkan secara umum kepada manusia, maka setiap penganut agama
masyarakat luas sebagaimana juga sangat penting memahami secarai baik
diisyaratkan dalam Bhagavadgita X:2 dan dan benar tentang teologi sebagaimana
XII.5 (Radhakrishnan, 2014: 303 dan 346; diajarkan di dalam agama yang dianutnya.
Krishna, 2015:389 dan 476). Tidak ada iman yang kokoh tanpa
dilandasi oleh pemahaman teologi sesuai
Pengetahuan teologi Nirguna dengan agama yang dianutnya. Artikel
Brahma hanya dapat dikuasai oleh yang ditulis Donder (2008:22-23) dalam
sebagian kecil umat manusia atau
Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 14 No. 2
28 I Ketut Donder

majalah Media Hindu Jakarta dengan agar umat beragama tidak bertengkar
judul Umat Hindu Mutlak Memahami Teologi hanya karena perbedaan lereng gunung
Hindu. Pada artikel tersebut ditulis bahwa agama yang dilalui. Hal ini sangat sesuai
”Semua konversi agama yang selama ini dengan pernyataan Bhagavadgita III.21
dialami umat Hindu sejak zaman dulu (Radhakrishnan, 2014:160 dan Krishna,
hingga saat ini merupakan isyarat bahwa 2015:163).
Teologi Hindu tidak tertanam kuat hingga
menjadi dasar keyakinan yang kuat
terhadap sebagian besar umat Hindu di Gambar 1
Indonesia, India dan khususnya di Bali. Sketsa Tesis Frithjof Schuon tentang
Selain itu, setiap penganut agama penting Titik Temu Agama-agama
juga untuk memahami agama lain secara
proporsional untuk membangun sikap
dan pikiran yang positif terhadap semua
agama sebagai suatu realitas yang tidak
bisa diabaikan.

Wilayah Teologi Secara Esoteris dan


Eksoteris

Frithjof Schuon membagi Sumber: Buku Frithjof Schuon (1987:x)


umat manusia dalam dua kelompok
pemahaman teologis yang dituangkan Sejalan dengan pandangan Schuon,
dalam sketsa esoteris dan eksoteris Donder (2010:31-33) sesuai dengan
sebagaimana gambar (Gbr.1) di bawah. fokus artikel ini menguraikan bahwa
Schoun (1987) berpendapat bahwa konflik ajaran Hindu mengelompokkan seluruh
tentang Tuhan terjadi pada masyarakat umat manusia dalam dua kelompok
umum yang belum memiliki pengetahuan teologis, yaitu kelompok ahli (jñani) dan
teologis yang mapan. Tetapi pada tataran kelompok awam (ajñani). Kelompok
perspektif spiritualitas agama yang sangat jñani akan menggunakan teologi Nirguna
mapan seperti para yogi dan para sufi Brahman, yaitu teologi yang menjelaskan
tidak ada lagi konflik teologis. Kenyataan tentang Tuhan Yang Tidak Diberi
ini dapat dianalogikan seperti para Atribut Apapun atau Tuhan Yang Tidak
pemanjat gunung, mereka akan melihat Termanifestasikan. Sedangkan kelompok
pemandangan yang berbeda sesuai ajñani menggunakan teologi Saguna
dengan lereng gunung yang dilaluinya. Brahman, yaitu teologi yang menjelaskan
Semua pemandangan yang berbeda- tentang Tuhan yang sebaliknya. Hal ini
beda itu akan terlihat secara keseluruhan relevan dengan tesis Schuon tentang
ketika semua pemanjat gunung sampai wilayah pemahaman esoteris dan
pada puncak gunung. eksoteris.

Pada tingkat esoteris semua jalan Berdasarkan analisis teologis


dan semua cara mendapat penghargaan itulah maka muncul konsep dan metode
dan pengakuan yang sama. Untuk berbeda-beda untuk menggambarkan
m emban gun keh armon is an a ta u Tuhan Yang Sama. Kehadiran konsep
kedamaian antarumat beragama, para Tuhan yang digambarkan seperti
pendaki gunung spiritualitas agama yang manusia, leluhur, benda-benda kosmis
sudah sampai pada level esoteris memiliki dibutuhkan untuk kelompok awam
kewajiban untuk memberi teladan (ajñani atau orang pada umumnya).

HARMONI Mei - Agustus 2015


Keesaan Tuhan dan Peta Wilayah Kognitif Teologi Hindu: Kajian Pustaka tentang Pluralitas Konsep Teologi... 29

Sedangkan kehadiran konsep Tuhan Nirguna Brahma, Wilayah Pengetahuan


Yang tidak dapat dibayangkan seperti Ketuhanan Tanpa Wujud (A)
apapun adalah konsep teologi untuk
para jñani (para resi atau yogi). Pluralitas Objek pertama dan utama
teologis yang muncul dalam Hindu Brahmavidya atau teologi adalah Tuhan,
untuk menolong umat manusia yang Tuhan dalam pengertian pertama adalah”
memiliki berbagai level pengetahuan dan Tuhan Yang Tidak Dapat Dibatasi oleh
kesadaran spiritual agar semua manusia Ruang dan Waktu”. Tuhan dalam definisi
secara bersama-sama mencapai yang ini berada pada wilayah tanpa batas (Gbr.
transendental sebagaimana (Gbr.2). Jika 2) yaitu gambar sketsa ilustrasi yang
pluralitas konsep teologi Hindu dipahami hendak menggambarkan posisi tentang
secara komprehensif maka seseorang wacana Tuhan berada pada wilayah
tidak akan salahpaham terhadap Agama yang diberi simbol (A) (Donder, 2006:13,
Hindu. 2010:33). Oleh sebab itu tidak mungkin
bagi manusia dengan pengetahuan sangat
terbatas dapat membatasi Tuhan yang
Wilayah-Wilayah Kognitif Teologis Tak Terbatas. Tuhan dalam konsep teologi
dalam Teologi Hindu Nirguna Brahma, tidak memiliki bentuk
tertentu, tidak memiliki nama tertentu,
Kepercayaan seseorang kepada tidak dapat dibayangkan sebagai sesuatu
Tuhan atau yang bersifat transendensi apapun. Brahman atau Tuhan bukan ini
ditentukan oleh tingkat kematangan
atau itu (neti neti) atau Impersonal God.
pengetahuan seseorang tentang konsep
Selama kita memberi nama apapun
Tuhan atau transendensi tersebut.
namaNya, hal itu telah mendefinisikan
Semakin mampu seseorang berinsteraksi
Tuhan Yang Tak Terbatas ke dalam nama
makin mampu seseorang memahami hal
yang abstrak. Oleh sebab itu pemahaman atau bahasa yang terbatas. Hal ini tidak
umat manusia terhadap Tuhan yang mungkin, oleh sebab itu Brahmavidya
abstrak atau Tuhan yang transenden ’Pengetahuan tentang Tuhan’ pada
dapat dikelompokkan dan dipetakan wilayah ini tidak mengizinkan pemuja-
berdasarkan konsep wilayah-wilayah Nya untuk membayangkan Tuhan yang
kognitif teologis (Donder, 2010:31-44). Tak Terpikirkan (Acintya) sebagai apapun.

Gambar. 2
Sketsa Wilayah-Wilayah Teologi

Sumber: Donder (2010:34)

Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 14 No. 2


30 I Ketut Donder

Sungguh sangat sulit membayangkan terbuka (kosong) yang menjadi tempat


bagaimana cara memuja Tuhan Yang bagi hadirnya ciptaan. Kedua, huruf (U)
Tidak Terbayangkan. Kitab suci Hindu yang membuat mulut seolah membentuk
dengan lugas menggambarkan wilayah simbol union ( ), simbol ini diasumsikan
Tuhan yang Nirguna Brahma (Bhagavadgita sebagai “saat pemeliharaan”. Dan yang
X.2; XII.5). ketiga, huruf (M) atau jika diguling ke
kiri akan membentuk simbol jumlah
(S), bentuk simbol ini sama dengan
Nirguna Brahma, Wilayah Pengetahuan simbol (=), membentuk mulut tertutup
Ketuhanan Sebagai Simbol (B) rapat yang mengandung makna sebagai
kondisi berakhirnya sesuatu, penutup,
Donder (2010:116, 2013:60) atau peleburan. Ketiga simbol tersebut
menguraikan bahwa definisi Tuhan mengandung hakikat dari Tri Murti (tiga
sebagai bukan sesuatu, tidak berwujud manifestasi Tuhan sebagai Pencipta,
sesuatu, tidak mirip dengan apapun Pemelihara, dan Pelebur), mewakili
menjadi persoalan besar bagi seluruh manifestasiNya. Tidak ada kata-
manusia. Karena manusia tidak dapat kata di dunia dalam bahasa apapun
memfokuskan pikirannya pada sesuatu yang dapat mewakili seluruh manifestasi
yang tidak berwujud apa-apa. Karena Tuhan melebih dari kata AUM (Donder,
itu, maka muncullah simbol bunyi 2010:36, 2013:60).
sebagaimana dilukiskan pada Gbr. 2
dengan huruf AUM OM yang juga
dijelaskan dalam Bhagavadgita X.25, 33.
Nir-saguna Brahma, Wilayah Pengetahuan
Konsep Tuhan pada wilayah teologi (B),
Ketuhanan Semipribadi (C)
masih termasuk dalam wilayah teologi
Nirguna Brahma atau Tuhan tidak dapat Wilayah ketiga dari peta wilayah-
dibayangkan. Sebagai Tuhan yang tidak wilayah pengetahuan ketuhanan (teologi)
dapat dibayangkan, maka Ia sulit dipuja seperti terlihat pada (Gbr. 2) di atas
oleh umat manusia pada umumnya, sebab adalah wilayah yang ditunjukkan oleh
Tuhan sebagai objek pemujaan sifatnya daerah (C) terdiri dari wilayah (C1 dan
harus dapat dibayangkan. Aktivitas C2). Wilayah irisan antara wilayah teologi
pemujaan, persis seperti seorang yang Nirguna Brahma (A) dan wilayah teologi
akan memanah, jika pikirannya tidak Saguna Brahma (E). Sehingga wilayah ini
terfokuskan maka sasaran pemujaan dapat disebut sebagai wilayah perpaduan
bisa meleset. Demikian pula hakikat antara Nirguna Brahma dan Saguna Brahma.
Tuhan sebagai objek yang disembah oleh Wilayah teologis ini dapat disebut sebagai
manusia, untuk itu orang suci berkenan wilayah semi antara Nirguna Brahma dan
memberikan solusi melalui simbol aksara Saguna Brahma atau dapat disebut sebagai
(huruf). wilayah teologi Nir-saguna Brahma atau
wilayah yang non-rasional tetapi dapat
Dari sekian banyaknya aksara,
dideskripsikan secara rasional. Deskripsi
maka ada 3 (tiga) aksara yang mewakili
ini termasuk dalam kawasan Tuhan yang
semuanya itu, yaitu: pertama huruf (A) yang
tidak dapat dibayangkan, namun karena
karena artikulasinya menyebabkan mulut
kebutuhan manusia, maka penjelasan-
dalam posisi terbuka yang mirip dengan
penjelasan di wilayah Saguna Brahma
tanda “lebih besar” (>) atau tanda lebih
dapat dijadikan sebagai sarana untuk
kecil (<) dalam simbol-simbol matematik.
memperkuat deskripsi dan argumenasi
Simbol itu diasumsikan sebagai “saat
teologi Nirguna Brahma (Donder, 2010:35).
penciptaan”, karena ada ruang yang
Dalam hal ini manusia boleh memahami

HARMONI Mei - Agustus 2015


Keesaan Tuhan dan Peta Wilayah Kognitif Teologi Hindu: Kajian Pustaka tentang Pluralitas Konsep Teologi... 31

Tuhan melalui atribut-atribut nama, Wilayah Saguna Brahma, Tuhan Berperibadi


warna, dan wujud sesuatu. Apapun nama (E)
yang ditujukan kepada Tuhan adalah
Di wilayah-wilayah teologis,
simbol sekaligus bentuk, paling tidak
maka teologi Saguna Brahma (E) atau
dalam bentuk kata-kata. Chandra Bose teologi yang mengasumsikan Tuhan
(dalam Donder, 2010:37:) dalam karyanya menggunakan berbagai macam atribut
yang berjudul The Call of Veda mengatakan adalah wilayah teologi yang paling
bahwa nama Tuhan dalam pikiranpun mudah untuk di dekati oleh nalar
adalah suatu simbol yang sama manusia. Nalar, atau akal menjadi sangat
esensinya dengan gambar atau patung. penting dan perlu dihargai (Donder,
Sesungguhnya teologi dari semua agama 2010:39). Suyono (2008:157) dalam
berada pada wilayah teologi ini. Jika saja Reformasi Teologi menyatakan bahwa ilmu
hakikat teologi seperti ini dipahami oleh Kalam (Teologi Islam) sejak awal berciri
para pemeluk agama, maka tidak akan rasional-dialektis. Karena itu teologi Islam
ada pertengkaran atau pelecehan agama mampu berdialog dengan perkembangan
oleh siapapun hanya karena perbedaan ilmu pengetahuan kontemporer. Abduh
nama Tuhan yang dipujaNya. (dalam Suyono, 2008:171) menyatakan
bahwa dalam Risalat, akal diakui
sebagai kekuatan atau daya yang dapat
membedakan manusia dengan mahluk
Saguna Brahma, Wilayah Pengetahuan lain. Dengan akal manusia dapat
Ketuhanan Berperibadi (D) mengetahui baik hal-hal konkrit di alam
ini yang harus terus diselidiki, dengan
Donder (2010:38) menguraikan
itu bisa menggapai keyakinan adanya
bahwa sesungguhnya apa yang disebut
Sang Pencipta maupun hal-hal yang
oleh teologi Barat sebagai teologi
abstrak seperti sifat-sifat Tuhan. Suyona
monotheisme berada pada wilayah teologi (2008:172) menguraikan bahwa akal
Saguna Brahma ini. Dalam monotheisme yang dimaksudkan di sini adalah akal
Barat ini, Tuhan dibayangkan sebagai yang berada pada derajat tinggi, bukan
laki-laki yang berada jauh (transendent) akal orang-orang awam. Tingkatan akal
di suatu tempat yang disebut sorga. Dari tertinggi yang mendapat limpahan dari
tempat yang jauh itu, Tuhan menguasai Tuhan bisa menjadi pendukung dan
dan mengurus alam semesta berserta penopang agama yang paling kokoh
seluruh ciptaan-Nya. Toynbee (dalam dan merupakan sumber keyakinan bagi
Madrasuta, 2010:17) menyatakan bahwa iman yang benar. Sesuai sifat filsafat yang
Tuhan Yang Esa dan transenden terpisah mengandalkan akal secara radikal, maka
atau berada di luar universum. Selaras dalam filsafat Ketuhanan juga ada banyak
dengan Toynbee dalam Hindu, Tuhan cara melihat Tuhan.
sebagai personal God dilukiskan sebagai Uraian Suyono dan Santoso
sosok manifestasi (para Deva) dengan penting dirujuk pada tulisan ini untuk
fungsi atau tugas masing-masing sesuai menunjukkan bahwa keanekaragaman
dengan sifatNya. Dalam wilayah teologi teologi di antara berbagai agama
Saguna Brahma (D), masih terdapat rasa adalah suatu keniscayaan karena
enggan untuk mengeksplisitkan Tuhan keanekaragaman itu lahir dari
yang personal sebagai yang benar-benar kemampuan akal manusia yang berbeda-
personal, karena di dalamnya masih ada beda dalam menggambarkan yang
berbagai pertimbangan termasuk juga transenden. Sehingga keanekaragaman
memasukkan unsur Nirguna Brahma. teologi dalam satu agama juga merupakan

Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 14 No. 2


32 I Ketut Donder

suatu keniscayaan. Perbedaan teologi itu Berdasarkan uraian di atas sangat


lahir dari tantangan nyata yang dialami jelaslah bahwa ontologi atau objek
oleh komunitas umat beragama. Dalam material teologi adalah Tuhan. Teologi
rangka memecahkan persoalan-persoalan berhadapan dengan objek yang sulit
teologis yang dialami oleh umat beragama dideskripsikan, yaitu objektif yang bersifat
di berbagai tempat, ruang, dan waktu melampaui realitas (super-realitas) atau
yang berbeda maka lahirlah perbedaan- nirguna. Walaupun demikian manusia
perbedaan teologi (Gbr.1 dan Gbr.2). dengan segenap akalnya berupaya agar
Hal ini dapat menjelaskan keberadaan dapat memuja Tuhan secara sungguh-
bermacam-macam teologi mulai dari pra- sungguh, maka manusia mencetuskan
animisme hingga monoteisme semuanya ide-ide metodologi yang dituangkan
dalam prosedur teologi. Melalui prosedur
itu berguna bagi manusia. Semua bentuk
tersebut Tuhan Yang Maha Abstrak atau
teologi sebagai jawaban atas persolan
Objek Yang Melampaui Realitas (super-
teologis yang pada akhirnya dapat
realitas), direalisasikan melalui simbol-
dikonsumsi oleh umat manusia sesuai
simbol yang berkenaan dengan sifat-sifat
dengan situasi dan kondisi atau perspektif
tertentu yang ada pada-Nya (saguna).
tempat, ruang, dan waktu. Karena itu
para tokoh umat harus menjadi teladan Dengan demikain, Tuhan Yang
dalam menghargai perbedaan konsep Tak Terbatas, diberikan batasan-batasan
teologis sesuai sloka Bhagavadgita III.21 tertentu demi kebutuhan manusia agar
dan Bhagavadgita III.26 (Krishna, 2015:163, umat manusia dapat melaksanakan
166). hubungan dengan Tuhan. Teologi apapun
yang lahir melalui prosedur epistemologis
sesuai dengan pandangan setiap agama
adalah hal mulia karena teologi itu
Wilayah Tuhan Berperibadi (F)
sangat membantu umat manusia dalam
Wilayah teologi Personal God (F) mewujudkan hubungan dengan Tuhan.
sebagaimana ditunjukkan pada Gbr.1 Hubungan dengan Tuhan Yang Tak
dan Gbr.2 di atas yang terhubung Terbatas tidak mudah dilaksanakan oleh
dengan kotak-kotak agama relevan manusia yang terbatas (Bhagavadgita
dengan tesis Schuon tentang esoteris XII.5), sebab para dewa dan para maharsi
dan eksoteris. Hal itu menunjukkan sekalipun tidak mengenal Tuhan dalam
bahwa setiap agama memiliki teologi arti yang sebenar-Nya (Bhagavadgita X.2)
sebagaimana kedua sloka Bhagavadgita
sendiri (Donder, 2010:43). Objek teologi
tersebut telah dikutif di atas. Jadi
semua agama adalah sama, yaitu Tuhan
kehadiran Tuhan dalam Saguna Brahma
Yang Maha Esa, perbedaannya terletak
bersifat metodologis. Walaupun Tuhan
pada prosedur epistemologisnya.
dalam dimensi Saguna Brahma bersifat
Seharusnya setiap teologi agama sebagai metodis, namun di dalamnya terdapat
sebuah ilmu pengetahuan ilmiah tidak semua kebenaran absolut ‘mutlak tak
membenturkan prosedur epistemologi terbantahkan’.
yang memang berbeda. Sebuah perspektif
pasti akan berbeda dengan perspektif Dalam masyarakat Hindu
yang lainnya. Hal terpenting yang Bali, Teologi Saguna Brahman ini
harus dipertimbangkan adalah bahwa dimplementasikan dalam bentuk ritual
apapun pengetahuan teologi itu, harus yang beraneka macam, seperti ritual
bermanfaat sebesar-besarnya dalam Labuh Gentuh (Sukabawa, 2014) bahkan
mewujudkan rasa damai dan bahagia ritual Tantik Ngerehang Barong (Subagia,
dalam kehidupan umat manusia. Itulah 2015) dan berbagai ritual lainya seperti
aksiologi yang terpenting dari teologi. upacara pemujaan pada berbagai

HARMONI Mei - Agustus 2015


Keesaan Tuhan dan Peta Wilayah Kognitif Teologi Hindu: Kajian Pustaka tentang Pluralitas Konsep Teologi... 33

manifestasi Tuhan yang diekspresikan Dunia ini tidak hanya dihuni


kepada segmen-segmen alam, termasuk orang-orang yang mapan pengetahuan
kurban binatang ataupun animal sacrifice spiritualnya, tetapi juga orang-orang
(Donder, 2012). biasa. Teologi Saguna Brahman adalah
teologi yang cocok untuk umat manusia
pada umumnya. Teologi ini membolehkan
Penutup manusia untuk membayangkan Tuhan
Yang Tak Terbayangkan. Berdasarkan
Agama Hindu sebagaimana juga konsep Teologi Saguna Brahman inilah
agama-agama lainnya, menyembah Tuhan kemudian muncul konsep manifestasi
Yang Maha Esa, persoalan pokok yang Tuhan dan munculnya simbol-simbol
membedakan antara Hindu dan agama- religius untuk membantu manusia dalam
agama lainnya adalah bahwa secara garis mengatasi kesulitan membayangkan
besarnya Hindu memiliki dua macam Tuhan.
teologi, yaitu Teologi Nirguna Brahman,
yaitu teologi yang membahas tentang Menyadari adanya dua konsep
Tuhan yang tidak dapat disamakan teologi di atas, para tokoh agama harus
dengan apa saja. Teologi jenis pertama menjadi teladan dalam menghargai
ini bukan ditujukan kepada umat biasa. perbedaan teologi setiap agama. Sikap ini
Teologi ini hanya bisa dipahami oleh penting karena apapun dilakukan oleh
orang-orang yang memiliki pengetahuan para tokoh akan diikuti oleh masyarakat
spiritual yang mapan seperti para rsi, yogi dan bahkan oleh dunia.
atau para sufi.

Daftar Pustaka

Amin, M. Darori. Konsepsi Manunggaling Kawula Gusti dalam Kesusastraan Islam Kejawen.
Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan
Kementerian Agama RI, 2011
Bose, A.C. The Call of Vedas. terj. I Wayan Maswinara. Surabaya: 2005
Donder, I Ketut. Panca Dhatu – Atom, Atma dan Animisme. Surabaya: Paramita, 2004
Donder, I Ketut dan I Ketut Wisarja. Mengenal Agama-Agama. Surabaya: Paramita, 2010.
Donder, I Ketut dan I Ketut Wisarja. Teologi Sosial Perspektif Hindu. Surabaya: Paramita,
2013.
Donder, I Ketut. ”Logical Interpretation of Some Permofming Hindu Rituals.” Thesis
Philosophy Doctor. India: Department of Sanskrit, Faculty of Arts, Rabindra
Bharati University Kolkata, 2013.
Donder, I Ketut. Brahmavidya Teologi Kasih Semesta. Surabaya: Paramita, 2006.
Donder, I Ketut. Teologi – Paradigma Sanatana Dharma. Surabaya: Paramita, 2010.
Donder, I Ketut. ”Agama dan Taman Bunga yang Indah,” Majalah Media Hindu, Februari
2015, hal.46-47.

Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 14 No. 2


34 I Ketut Donder

Donder, I Ketut. “The Essence of Animal Sacrifice in Balinese Hindu Ritual: Discourse
Around Theological, Philosophical, Mythological, Ritual and Scientific Phenomenna”
International Journal Multidisciplinary Educational Recearchn, Vol. 1, Issue 4,
September 2012 p.1-27.
Donder, I Ketut. ”Pemikiran Swami Vivekananda Tentang Pluralisme Agama-Agama,”
Majalah Media Hindu, September 2011, hal. 32-33.
Donder, I Ketut.”Umat Hindu Mutlak Harus Memahami Teologi Hindu,” Majalah Media
Hindu, September 2008, hal.22-23.
Jelantik, Ida Ketut. Geguritan Sucita. Surabaya: Paramita, 1982
Krishnan, Anand, Bhagavad Gita Bagi Orang Modern. Cibubur: Centre for Vedic and
Dharmic Studies, 2015
Krishnan, Anand. Dvipantara Dharma Sastra-Sarasamuscaya, Slokantara, Sevaka Dharma.
Cibubur: Centre for Vedic and Dharmic Studies, 2015
Madrasuta, Ngakan Made. Tuhan Agama & Negara. Jakarta: Media Hindu, 2010
Pandit, Bansi. The Hindu Mind – Fundamentals of Hindu Religion and Philosophy for All
Ages. New Delhi: New Age Books, 2009
Pereira, Jose, Teologi Hindu. Ed. I Ketut Donder. Surabaya: Paramita, 2012.
Prasoon, Shikant. Hinduism Eternal Human Religion – Clarified and Simplified. Delhi:
Hindologi Book, 2009
Puja, I Gde. Bhagavadgita. Surabaya: Paramita, 2013
Puja, I Gde. Teologi Hindu (Brahma Widya), Surabaya: 1999.
Radhakrishnan, S. The Bhagavadgita. India: HarperCollin Publisher, 2014
Said, Edward W. Orientalisme – Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukan Timur Sebagai
Subjek. Yogyakarta: 2010
Śaṅkarācārya. Brahma Sūtra Bhāṣya. Kolkata: Advaita Ashram,2011:
Saraswati, Swami Prakshānanda. Kebenaran Sejarah dan Agama Hindu, terj. I Ketut Donder.
Surabaya: World Hindu Parisad dan Paramita, 2014.
Schuon, Frithjof. Mencari Titik Temu Agama-Agama, terj. Saafroedin Bahar. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia, 1987.
Subagia, I Made. “Ritual Tantrik Ngerehang Barong dan Rangda Di Desa Pakraman Kerobokan,
Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung”, Disertasi Doktor Ilmu Agama.
Denpasar: Pascasarjana Institut Hindu Dharma, 2014.
Sudharta, Tjok Rai dan I Wayan Sukabawa, ”Teo-Ekologi Caru Labuh Gentuh Di Jalan Tol
Bali Mandara Desa Adat Tuban, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung”,Disertasi
Doktor Ilmu Agama. Denpasar: Pascasarjana Institut Hindu Dharma, 2015
Suka Yasa, I Wayan. “Rasa: Daya Estetik – Religius Geguritan Sucita”, Disertasi Doktor
Linguistik. Denpasar: Pascasarjana Universitas Udayana, 2010.
Suka Yasa, I Wayan. “Omkara Pranawa: Aksara, Tattva, Sastra”, Penelitian Dosen Program
Doktor Universitas Hindu Indonesia, 2015.

HARMONI Mei - Agustus 2015


Keesaan Tuhan dan Peta Wilayah Kognitif Teologi Hindu: Kajian Pustaka tentang Pluralitas Konsep Teologi... 35

Suyono, H. Yusuf, Reformasi Teologi Muhammad QAbduh Vis ậ Vis Muhammad Iqbal.
Semarang: RaSAIL, 2008
Titib, I Made. Teologi dan Simbol-Simbol dalam Hindu. Surabaya: Paramita, 2006
Wisasmaya, Ida Komang. Geguritan Sucita-Subudi Karya Besar Ida Ketut Jelantik. Surabaya:
Paramita, 2012

Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 14 No. 2