Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi di istregritas tulang, penyebab


terbanyak adalah insiden kecelakaan tetapi factor lain seperti proses degenerative juga dapat
berpengaruh terhadap kejadian fraktur (Brunner & Suddarth, 2008 ).

Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress atau beban yang lebih besar dan kemampuan
tulang untuk mentolelir beban tersebut. Fraktur dapat menyebabkan disfungsi organ tubuh
atau bahkan dapat menyebabkan kecacatan atau kehilangan fungsi ekstremitas
permanen,selain itu komplikasi awal yang berupa infeksi dan tromboemboli (emboli fraktur)
juga dapat menyebabkan kematian beberapa minggu setelah cedera, oleh karena itu radiografi
sudah memastikan adanya fraktur maka harus segera dilakukan stabilisasi atau perbaikan
fraktur( Brunner & Sudart, 2002)

Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat terdapat lebih dari 7 juta orang meninggal
dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 2 juta orang mengalami kecacatan fisik. Usman
(2012) menyebutkan bahwa hasil data Riset Kesehatan Dasar (RIKERDAS) tahun 2011, di
Indonesia terjadinya fraktur yang disebabkan oleh cedera yaitu karena jatuh, kecelakaan lalu
lintas dan trauma tajam / tumpul. Dari 45.987 peristiwa terjatuh yang mengalami fraktur
sebanyak 1.775 orang (3,8 %), dari 20.829 kasus kecelakaan lalu lintas, mengalami fraktur
sebanyak 1.770 orang (8,5 %), dari 14.127 trauma benda tajam / tumpul, yang mengalami
fraktur sebanyak 236 orang (1,7 %). (Depkes 2009).

Di rumah sakit Bayangkara Pekanbaru insiden kecelakaan lalu lintas cukup tinggi ini
terlihat cukup tingginya angka kejadian fraktur yang dapat dilihat banyaknya pasien yang
dirawat dengan kasus fraktur.

2. TUJUAN PENULISAN
a. Tujuan umum:
Mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien fraktur tibia pada Ny. N
Dengan Fraktur Tibia di ruang rawat inap Yudha/Bedah.

1
b. Tujuan khusus
1. Melaksanakan pengkajian pada pasien dengan masalah utama fraktur tibia.
2. Menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien dengan masalah utama fraktur
tibia.
3. Menegakkan intervensi pada pasien dengan masalah utama fraktur tibia.
4. Melakukan implementasi pada pasien dengan masalah utama fraktur tibia.
5. Melakukan evaluasi keperawatan pada pasien dengan masalah utama fraktur tibia.

3. RUMUSAN MASALAH
1) Apakah yang dimaksud dengan fraktur?
2) Apa sajakah etiologi yang menyebabkan terjadinya fraktur?
3) Bagaimanakah mekanisme atau tahapan penyembuhan fraktur?
4) Bagaimanakah penatalaksanaan pasien atau penanganan terhadap fraktur tibia?
5) Bagaimanakah penerapan terapi psikofarmakologi terhadap fraktur?
6) Apakah yang dimaksud dengan kebersihan diri atau perawatan diri?
7) Apakah tujuan dari kebersihan atau perawatan diri?
8) Bagaimanakah kriteria pasien yang mengalami masalah perawatan diri?
9) Bagaimanakah peran perawat dalam mengatasi permasalah perawatan diri?
10) Apa hubungan perawatan diri dengan integritas kulit?
11) Bagaimanakah analisa permasalahan dari kasus?
12) Bagaimanakah asuhan keperawatan yang tepat terkait dengan kasus?

4. SISTEMARIKA PENULLISAN

Makalah ini terdiri dari bab I, bab II, bab III, dan bab IV. Bab I merupakan
pendahuluan, yang terdiri dari paragraf yang menjabarkan latar belakang, rumusan masalah,
tujuan penulisan, dan sistematika penulisan. Bab II merupakan tinjauan teoritis. Bab III
berisi analisis kasus terkait yang didapatkan. Bab IV berisi kesimpulan dan saran yang tepat
untuk makalah ini. Makalah diakhiri dengan halaman daftar pustaka di mana referensi materi
diperoleh.

2
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Teori
I. Definisi Fraktur
Fraktur atau patah tulang adalah terputusya kontinuitas jaringan tulang dan tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (Brunner and Suddarth, 2001).
Fraktur Tibia adalah fraktur yang terjadi pada bagian tibia sebelah kanan maupun kiri
akibat pukulan benda keras atau jatuh yang bertumpu pada kaki. (E. Oswari, 2011).
Fraktur Tibia adalah patah atau gangguan kontinuitas pada tulang tibia.
Klasifikasi fraktur ada empat yang utama adalah :
1. Incomplit
Fraktur yang hanya melibatkan bagian potongan menyilang tulang.
2. Complit
Garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan fragmen
tulang biasanya berubah tempat atau bergeser (bergeser dari posisi normal).
3. Tertutup (simple)
Fraktur tidak meluas dan tidak menyebabkan robekan pada kulit.
4. Terbuka (compound)
Fragmen tulang meluas melewati otot dan adanya perlukaan di kulit yang
terbagi menjadi 3 derajad :
Derajad 1 : luka kurang dari 1 cm, kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada
tanda remuk, fraktur sederhana atau kominutif ringan dan kontaminasi
minimal.
Derajad 2 : laserasi lebih dari 1 cm, kerusakan jaringan lunak, tidak luas,
fraktur kominutif sedang, dan kontaminasi sedang.
Derajad 3 : terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas(struktur kulit, otot, dan
neurovaskuler) serta kontaminasi derajad tinggi.

II. Jenis-Jenis Fraktur


i. Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan
biasanya mengalami pergeseran.
ii. Fraktur tidak komplet : patah hanya pada sebagian dari garis
tengah tulang

3
iii. Fraktur tertutup : fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit
iv. Fraktur terbuka : fraktur dengan luka pada kulit atau membran
mukosa sampai ke patahan tulang.
Fraktur terbuka ada 3 derajat :
 Derajat 1
o Luka dibawah 1 cm
o Kerusakan jaringan lunak sedikit
o Kontaminasi minimal
 Derajat 2
o Laserasi < 1 cm
o Kerusakan jaringan lunak tidak luas
o Kontaminasi sedang
 Derajat 3
o Luas luka 6- 8 cm
o Banyak jejas kerusakan kulit, otot, jaringan saraf dan pembuluh
darah.
Jenis Fraktur secara khusus :
 Greenstick
 Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi lainnya
membengkak.
 Transversal
Fraktur sepanjang garis tengah tulang
 Kominutif
Fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen
 Depresi
Fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam
 Kompresi
Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang
belakang)
 Patologik
Fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau tendo
pada daerah perlekatannnya.

4
III. Etiologi
Fraktur disebabkan oleh trauma di mana terdapat tekanan yang berlebihan pada
tulang yang biasanya di akibatkan secara langsung dan tidak langsung dan sering
berhubungan dengan olahraga, pekerjaan atau luka yang di sebabkan oleh kendaraan
bermotor.
Penyebab patah tulang paling sering di sebabkan oleh trauma terutama pada anak-
anak, apabila tulang melemah atau tekanan ringan. Menurut (Doenges, 2000) adapun
penyebab fraktur antara lain:
1. Trauma Langsung, yaitu fraktur terjadi di tempat dimana bagian tersebut
mendapat ruda paksa misalnya benturan atau pukulan pada anterbrachi
yang mengakibatkan fraktur.
2. Trauma Tak Langsung, yaitu suatu trauma yang menyebabkan patah tulang
ditempat yang jauh dari tempat kejadian kekerasan.
3. Fraktur Patologik, Stuktur yang terjadi pada tulang yang
abnormal(kongenital,peradangan, neuplastik dan metabolik)

IV. Pemeriksaan Penunjang


i. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya
ii. Pemeriksaan jumlah darah lengkap
iii. Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
iv. Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal
v. Pemeriksaan darah rutin dan PT APTT

V. Patofisiologi
Patah tulang biasanya terjadi karena benturan tubuh, jatuh atau trauma. Baik itu
karena trauma langsung misalnya: tulang kaki terbentur bemper mobil, atau tidak langsung
misalnya: seseorang yang jatuh dengan telapak tangan menyangga. dankondisi patologisnya
Juga bisa karena trauma akibat tarikan otot misalnya: patah tulang patela dan olekranon,
karena otot trisep dan bisep mendadak berkontraksi. (Doenges, 2000).
Sewaktu tulang patah perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah dan ke
dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami
kerusakan. Reaksi peradangan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel-sel darah putih dan
sel mast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darahketempat tersebut. Fagositosis
dan pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai. Di tempat patah terbentuk fibrin (hematoma

5
fraktur) dan berfungsi sebagai jala-jala untuk melekatkan sel-sel baru. Aktivitas osteoblast
terangsang dan terbentuk tulang baru imatur yang disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsi
dan sel-sel tulang baru mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati (Carpenito,
2000).
Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf yang berkaitan dengan
pembengkakan yg tidak ditangani dapat menurunkan asupan darah ke ekstremitas dan
mengakibatkan kerusakan saraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan dapat
mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total dapat berakibat anoksia
jaringanyg mengakibatkan rusaknya serabut saraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini
dinamakan sindrom kompartemen (Brunner & suddarth, 2002

6
PATHWAY

Trauma langsung Trauma tdk langsung Kondisi patologis

Fraktur

Diskontinuitas tulang Pergeseran fragmen tlg Nyeri Akut

Perubahan jaringan sekitar Kerusakan fragmen tlg

Pergeseran fragmen tulang Spasme otot Tekanan sumsum tulang


lbh tinggi dari kapiler

Deformitas Peningkatan tek kapiler


Melepaskan katekolamin

Ggn fungsi ekstermitas Pelepasan histamin Metabolisme asam lemak

Hambatan mobilitas fisik Protein plasma hilang Bergabung dg trombosit

Laserasi kulit Edema Emboli

Penekanan pembuluh darah Menyumbat pembuluh


darah

Mengenai jaringan kutis dan sub kutis Ketidakefektifan perfusi


Kerusakan integritas
kulit jaringan perifer

Perdarahan
Resiko Infeksi
Kehilangan volume cairan

Resiko syok
(hipovolemik)

7
VI. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis fraktur tibia adalah :
1. Nyeri hebat pada daerah fraktur, dan bertambah jika ditekan/diraba
2. Tak mampu menggerakan kaki
3. Terjadi deformitas (kelainan bentuk) diakibatkan karena perubahan posisi
fragmen tulang. Dapat membentuk sudut karena adanya tekanan penyatuan
dan tidak seimbangnya dorongan otot. Dapat pula memendek ekstermitas
bawah karena adanya tarikan dari otot ektermitas bawah saat fragmen
tergelincir dan tumpah tindih dengan tulang lainnya. Dan dapat juga terjadi
rotasional karena tarikan yang tidak seimbang oleh otot yang menempel pada
fragmen tulang sehingga fragmen fraktur berputar keluar dari sumbu
longitudinal normalnya.
4. Adanya krepitus (teraba adanya derik tulang) diakibatkan karena gesekan
antara fragmen satu dengan fragmen yang lainnya.
5. Terjadi ekimosis atau perdarahan subkutan diakibatkan kerusakan
pembuluh darah sehingga darah merembes dibawah kulit sekitar area kulit.
6. Terjadi pembengkakan dan perubahan warna pada kulit diakibatkan
karena terjadi ekstravasasi darah dan cairan jaringan di sekitar area fraktur.

VII. Penatalaksanaan
Prinsip penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan
pengembalian fungsi dan kekuatan.
1. Rekognisi (Pengenalan)
Riwayat kecelakaan, derajat keparahan, harus jelas untuk
menentukan diagnosa dan tindakan selanjutnya. Contoh, pada tempat
fraktur tungkai akan terasa nyeri sekali dan bengkak. Kelainan bentuk
yang nyata dapat menentukan diskontinuitas integritas rangka.
2. Reduksi fraktur (setting tulang)
Mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi
anatomis. Reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen
tulang ke posisinya dengan manipulasi dan traksi manual. Reduksi terbuka
dilakukan dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi alat fiksasi
interna (ORIF) dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku, atau batangan

8
logam untuk mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya sampai
penyembuhan tulang yang solid terjadi.
3. Retensi (Imobilisasi fraktur)
Setelah fraktur direduksi fragmen tulang harus diimobilisasi atau
dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi
penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna (OREF)
meliputi : pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu pin, dan tehnik gips atau
fiksator ekterna. Implan logam dapat digunakan untuk fiksasi interna
(ORIF) yang berperan sebagai bidai interna untuk mengimobilisasi fraktur
yang dilakukan dengan pembedahan.
4. Rehabilitasi (Mempertahankan dan mengembalikan fungsi)
Segala upaya diarahkan pada penyembuhan tulang dan jaringan lunak.
Latihan isometric dan setting otot diusahakan untuk meminimalkan atrofi
disuse dan meningkatkan aliran darah. Partisipasi dalam aktivitas hidup
sehari-hari diusahakan untuk memperbaiki kemandirian fungsi dan harga
diri.

VIII. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada fraktur tibia adalah :
1. Komplikasi awal
Compartemant Syndrome, Komplikasi ini sangat berbahaya karena dapat
menyebabkan gangguan vaskularisasi ektermitas bawah yang dapat
mengancam kelangsungan hidup ektermitas bawah. Mekasnisme terjadi
fraktur tibia terjadi perdarahan intra – compartment, hal ini akan
menyebabkan tekanan intrakompartemen meninggi, menyebabkan aliran
balik balik darah vena terganggu. Hal ini akan menyebabkan oedema.
Dengan adanya oedema tekanan intrakompartemen makin meninggi sampai
akhirnya sedemikian tinggi sehingga menyumbat arteri di
intrakompartemen. Gejalanya rasa sakit pada ektermitas bawah dan
ditemukan paraesthesia, rasa sakit akan bertambah bila jari digerakan secara
pasif. Kalau hal ini berlangsung cukup lama dapat terjadi paralyse pada otot-
otot ekstensor hallusis longus, ekstensor digitorum longus dan tibial anterior.
2. Komplikasi dalam waktu lama :

9
 Malunion : Dalam suatu keadaan dimana tulang yang patah telah
sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya. Malunion merupakan
penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya tingkat kekuatan
dan perubahan bentuk (deformitas).
 Delayed Union : adalah proses penyembuhan yang terus berjalan
dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal. Delayed
union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan
waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan
karena penurunan suplai darah ke tulang.
 Non Union : merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan
memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9
bulan. Non union di tandai dengan adanya pergerakan yang berlebih
pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseuardoarthrosis.
Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.

B. Pengkajian
I. Wawancara
Wawancara adalah menyatakan atau membuat tanya-jawab yang
berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh klien, biasanya juga disebut dengan
anamnesa. Wawancara berlangsung dengan menanyakan hal-hal yang
berhubungan dengan masalah yang dihadapi klien dan merupakan suatu
komunikasi yang direncanakan.

Tujuan dari wawancara adalah untuk memperoleh data tentang masalah


kesehatan dan masalah keperawatan klien. Selain itu wawancara juga
berhubungan untuk membantu klien memperoleh informasi dan berpartisipasi
dalam identifikasi masalah dan tujuan keperawatan, serta membantu perawat
untuk menemukan investigasi lebih lanjut selama tahap pengkajian.
Wawancara yang dilakukan harus terstruktur dan juga real. Wawancara
meliputi :
1) Identitas p asien
Perawat perlu mengetahui nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah,
agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa yang dipakai, status
pendidikan, dan pekerjaan pasien.

10
2) Keluhan utama
Faktor utama yang mendorong pasien mencari pertolongan atau
berobat ke rumah sakit.
3) Riwayat kesehatan saat ini
Riwayat kesehatan yang diderita saat ini. Perlu juga ditanyakan mulai
kapan keluhan itu muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk
menurunkan atau menghilangkan keluhan-keluhannya tersebut.
4) Riwayat kesehatan masa lalu
Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyebab
dari kesehatan terdahulu.

II. Pemeriksaan Fisik


Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata)
untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat
(lokalis).
1) Keadaan umum : baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda,
seperti :
a) Kesadaran penderita : apatis, sopor, koma, gelisah, kompos mentis
tergantung pada keadaan klien.
b) Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan
pada kasus fraktur biasanya akut.
c) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi
maupun bentuk.

1) Pemeriksaan head-to-toe :
a) Kepala
Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada
penonjolan, tidak ada nyeri kepala.
b) Mata
Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak
terjadi perdarahan).
c) Hidung
Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
d) Telinga

11
Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau
nyeri tekan.
e) Mulut dan Gigi
Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut
tidak pucat.
f) Leher
Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek
menelan ada.
g) Thoraks
Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
h) Paru
(1) Inspeksi
Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada
riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.
(2) Palpasi
Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
(3) Perkusi
Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.
(4) Auskultasi
Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan
lainnya seperti stridor dan ronchi.
i) Jantung
(1) Inspeksi
Tidak tampak iktus jantung.
(2) Palpasi
Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
(3) Auskultasi
Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.
j) Abdomen
(1) Inspeksi
Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
(2) Palpasi
Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.
k) Perkusi

12
Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
l) Auskultasi
Peristaltik usus normal  20 kali/menit.
m) Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB.
n) Kulit
Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak,
oedema, nyeri tekan.
o) Ekstermitas
Kekuatan otot, adanya oedema atau tidak, suhu akral, dan ROM.

III. Pemeriksaan Diagnostik


a. Analisa Data

No Data Etiologi Masalah

1. Ds: Pasien mengatakan Trauma langsung Nyeri Akut


nyeri

Do: Pasien tampak


Fraktur
kesakitan

TD: 110 / 80 mmHg


Pergeseran fragmen
N: 103 x/menit
tulang
S: 35.5 C

R: 20 x/menit
Nyeri Akut

2. Ds: Pasien mengatakan Trauma tidak Hambatan


nyeri dikaki langsung mobilitas fisik

Do: Terdapat kerusakan


kulit yang terlihat
Fraktur
menghitam

13
Diskontinuitas tulang

Perubahan jaringan
sekitar

Pergeseran fragmen
tulang

Deformitas

Gangguan fungsi
ekstermitas

Hambatan mobilitas
fisik

3. Ds : Pasien mengeluh Kondisi patologis Ketidakefektifan


perfusi jaringan
Do: Badan pasien terasa
perifer
panas
Fraktur
S: 37.5 derajat celcius

Diskontinuitas tulang

Spasme otot

Peningkatan tek

14
kapiler

Pelepasan histamine

Protein plasma hilang

Edema

Penekanan pembuluh
darah

Ketidakefektifan
perfusi jaringan
perifer

C. Diagnosa Yang Mungkin Muncul


1. Nyeri akut b.d agen cidera.
2. Hambatan mobilitas fisik b.d dengan kekuatan dan tahanan sekunder
akibat fraktur
3. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d nyeri ekstermitas.

D. Rencana Asuhan Keperawatan


No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional Evaluasi
1. Nyeri akut b.d Setelah dilakukan -Observasi - Membantu S : Pasien
agen cidera asuhan TTV pasien untuk mengatakan
keperawatan - pain level mengurangi nyeri dilutut
selama 1X24 jam - pain control rasa nyeri. O : Pasien
dengan kriteria - comfort level tampak baik
hasil : a. mampu dari

15
 Mampu mengontrol sebelumnya
mengatasi nyeri. A : Gangguan
nyeri b. melaporkan rasa nyaman
 Melaporkan bahwa nyeri nyeri sudah
bahwa nyeri berkurang teratasi
berkurang dengan P : Lanjutkan
menggunakan intervensi
manegemen
nyeri.
c. mampu
mengenali
nyeri.
d. mengatakan
rasa nyaman
setelah nyeri
berkurang.

2. Hambatan Setelah dilakukan - -- bantu klien S : Pasien


mobilitas fisik asuhan jointmovement untuk mengatakan
b.d kekuatan keperawatan : active menggunkan nyeri dan linu
dan tekanan selama 1X24 jam- - mobility level tongkat saat dikaki bagian
sekunder dengan kriteria self care: berjalan dan lutut
akibat fraktur hasil : ADLS tranfer cegah O : Pasien
performance terhadap sudah bisa
 Hambatan
oObservasi TTV cedera beraktivitas
mobilitas
a. pasien - Membantu sendiri
fisik,
meningkat pasien A : Masalah
dengan
dalam aktivitas supaya teratasi
kekuatan
fisik mobilitas sebagian
dan
b. mengerti fisiknya P : Intervensi
tahanan
tujuan dari tidak dilanjutkan
sekunder
peningkatan terhambat
akibat

16
fraktur mobilitas
menjadi c.menverbalisas
teratasi. ikan perasaan
dalam
peningkatan
kekuatan dan
kemampuan
berpindah.
d.memperagaka
n penggunaan
alat bantu
untuk
mobilisasi.

3. Ketidakefektif Setelah dilakukan - Circulation - Batasi S : Pasien


an perfusi asuhan status tissue gerakan mengeluh linu
jaringan keperawatan perfusion : tubuh pasien dilutut dan
perifer b.d selama 1X24 jam cerebral - Membantu cemas
nyeri dengan kriteria Obsevasi TTV pasien untuk O : Pasien
ekstermitas. hasil: a. Tekanan mengurangi/ sudah bisa
 ketidak systole dan menghilangk beraktivitas
efektifan diastole an nyeri pada kembali
perfusi dalam ekstremitas A : Masalah
jaringan rentang teratasi
perifer, yang sebagian
dengan diharapkan. P : Lanjutkan
nyeri b. Tidak ada intervensi
ekstermitas ortostatik
teratasi hipertensi
c. Memproses

17
imformasi
d. Membuat
keputusan
dengan
benar

BAB III

KASUS DAN PEMBAHASAN

1. LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN


1) Pengkajian
a. Identitas klien
Nama : Ny. Neni widiawati
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 33 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Pend. Terakhir : SMP
Suku/bangsa : Jawa
Gol. Darah :O

18
Alamat : Desa Pangenan, RT/RW 03/05 / Kec.Pangenan
Kab. Cirebon
Diagnosa Medis : Fraktur
Tanggal masuk RS : 07 - 02 - 2020
Tanggal Pengkajian : 07 – 02 -2020
b. Identitas penanggung jawab
Nama : Tn. Mugni
Umur : 37 tahun
Alamat : Desa Pangenan RT/RW 03/05 Kec. Pangenan
Kab. Cirebon
Pekerjaan : Supir
2) Keluhan utama/ Alesan kunjungan
Pasien mengeluh linu di kaki bagian lutut
3) Riwayat kesehatan saat ini
Tidak ada
4) Riwayat kesehatan masa lalu
Tidak ada
5) Riwayat kesehatan keluarga
Darah tinggi
6) Pemeriksaan fisik
a. Penampilan umum : Bersih, Rapih
b. Tanda – tanda vital :
 Tekanan darah : 110/80 mmHg
 Nadi : 103 x/menit
 Suhu : 33,8 °C
 RR : 20 x/menit
7) Riwayat Psikososial
a. Kemampuan mengenal masalah kesehatan
Pasien mengatakan tidak mengenal penyakitnya
b. Konsep Diri
Pasien mengatakan bersyukur terhadap dirinya
c. Sumber Stress
Pasien cemas terhadap kondisinya

19
d. Mekanisme Koping
Keluarga selalu mendoakan pasien
e. kebiasaan dan pengaruh budaya
Tidak ada
8) Dukungan emosional
 Emosional
Keluargannya selalu mendoakan pasien
 Finansial
Pasien menggunakan BPJS selama menjalani perawatan
9) Pola Aktivitas

No. Pola kebiasaan Sebelum dirawat Saat dirawat


1. Pola Makan 3x/ hari Diit yang disediakan
(nasi, lauk pauk) MBTKTP 3x /H
Habis 1 porsi Habis 1 Porsi

2. Pola minum Air putih Air putih


2-3 botol perhari 3-4 botol perhari
3. Pola tidur 7-8 jam /hari 4-5 Jam/hari
Nyenyak Berkurang
4. Pola eliminas BAK ± 5-7 x/hari BAK terpasang
(BAK/BAB) Warna khas Cateter
BAB 1 x/hari BAB
Warna khas, Selama di RS belum
Kuntiniutas lembek ada BAB
5. Aktivitas sehari- Tidak ada Tidak ada aktifitas
hari
6. Rekreasi Tidak ada Tidak ada

10) Pemeriksaan Head to Toe

No Jenis Inspeksi Palpasi Auskultasi Perkusi


1 Kepala - Simetris Tidak ada nyeri -- -
- Tidak ada lesi tekan
- Kulit kepala
bersih
2 Wajah - Simetris - - -

20
- Bulat
Mata - Simetris - - -
- Konjungtiva
anemis
- Sclera anikterik
Hidung - Simetris Tidak ada polip - -
- Tidak ada sekret
Telinga - Simetris Tidak ada nyeri - -
- Tidak ada sekret tekan
3 Leher - Simetris Tidak ada tyroid - -
- Tidak ada lesi dan KGB
4 Dada - Simetris - Intregritas kulit - -
- Warna kulit baik
sama dengan - Tidak ada nyeri
warna kulit yang tekan
lain
Paru-paru - Tidak ada - - -
edema
Jantung - Lotus cardis - - -
tidak terlihat
5 Abdomen - Simetris Tidak ada nyeri - -
- Warna kulit tekan
sama dengan
warna kulit yang
lain
- Tidak ada
edema
6 Ektremitas :
a. Atas Normal - - -
b. Bawah Normal Normal - -

11) Pemeriksaan Penunjang


 Pemeriksaan Laboratorium

No Jenis Pemeriksaan Nilai Hasil Nilai Normal Interpretasi


Hematologi
1 Haemoglobin 11,7 g/dl Wanita 12,0-14,0 g/dl <Normal
2 Leukosit 14,5 ribu/mm3 4,0-10,0 ribu/mm3 >Normal

21
3 Erytrosit 4,10 juta/mm3 Wanita 4-4,5 juta/mm3 >Normal
4 Haematokrit 36,4 % Wanita 37-43 % Normal
5 Thrombosit 317 ribu/mm3 150-390 ribu/mm3 Normal

 Radiologi
Tidak ada
 Terapi Obat-obatan
o Cefatoxime
o Tramadol
o Omz (omeprazol)
o Keterolak
 Terapi lain
Tidak ada
12) Data Fokus

No Data Subjektif Data Objektif


1 Pasien mengataka nyeri dilutut Pasien tampak kesakitan
- TD : 110/80 mmHg
- S : 35,8°C
- N : 103 x/menit
- RR : 20 x/menit
2 Pasien mengatakan nyeri dan linu Pasien tampak pucat
dibagian lutut
3 Pasien mengatakan linu di bagian Terdapat kerusakan kulit yang tampak
lutut menghitam
4 Pasien mengatakan cemas Pasien tampak kesakitan dikaki

13) Diagnosa Keperawatan


 Analisa Data

No Data Etiologi Masalah

22
1. Ds: Pasien mengatakan Trauma langsung Nyeri Akut
nyeri

Do: Pasien tampak


Fraktur
kesakitan

TD: 110 / 80 mmHg


Pergeseran fragmen
N: 103 x/menit
tulang
S: 35.5 C

R: 20 x/menit
Nyeri Akut

2. Ds: Pasien mengatakan Trauma tidak Hambatan


nyeri dikaki langsung mobilitas fisik

Do: terdapat kerusakan kulit


yang terlihat menghitam
Fraktur

Diskontinuitas tulang

Perubahan jaringan
sekitar

Pergeseran fragmen
tulang

Deformitas

Gangguan fungsi

23
ekstermitas

Hambatan mobilitas
fisik

3. Ds :Pasien mengeluh Kondisi patologis Ketidakefektifan


perfusi jaringan
Do: Badan pasien terasa
perifer
panas
Fraktur
S: 37.5 derajat celcius

Diskontinuitas tulang

Spasme otot

Peningkatan tek
kapiler

Pelepasan histamine

Protein plasma hilang

Edema

Penekanan pembuluh
darah

24
Ketidakefektifan
perfusi jaringan
perifer

 Diagnosa Keperawatan (NANDA)


1. Nyeri akut b.d agen cidera
2. Hambata mobilitas fisik b.d kekuatan dan tekanan sekunder akibat
fraktur
3. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d nyeri ekstremitas

14) Perencanaan Keperawatan

No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi dan Rasional


Keperawatan
1. Nyeri akut NOC: pain level dan pain NIC:Pain Managament
berhubungan control 1.1 lakukan pengkajian nyeri
dengan agen Kriteria Hasil: secara komprehensif (lokasi,
cidera - Pasien mampu mengontrol karakteristik, durasi,
(terputusnya nyeri (tahu penyebab nyeri dan frekuensi, kualitas)
jaringan mampu menggunakan tehknik 1.2 kontrol lingkungan pasien
tulang, gerakan nonfarmakologi untuk yang dapat mempengaruhi
fragmen mengurangi nyeri) nyeri seperti suhu ruangan,
tulang, edema - Mampu mengenali nyeri pencahayaan, dan kebisingan
dan cedera (skala, intensitas, frekuensi) 1.3 ajarkan tentang tekhnik non
pada jaringan) Menyatakan rasa nyaman farmakologi seperti teknik
setelah nyeri berkurang relaksasi nafas dalam
1.4 berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
1.5 tingkatkan istirahat
1.6 evaluasi keefektifan control
nyeri

2. Hambatan NOC: joint movement dan NIC:Exercise therapy

25
mobilitas fisik mobility level (ambulation)
berhubungan Kriteria Hasil: 2.1 monitor vital sign sebelum
dengan - Peningkatan aktivitas pasien dan sesudah latihan
kekuatan dan - Memperagakan penggunaan 2.2 kaji kemampuan pasien dalam
tahanan alat bantu untuk mobilisasi mobilisasi
sekunder - 2.3 dampingi dan bantu pasien
akibat fraktur saat mobilisasi dan bantu
penuhi kebutuhan sehari hari
pasien (ADLS)
2.4 berikan alat bantu jika pasien
membutuhkan
2.5 ajarkan pasien bagaimana
mengubah posisi dan berikan
bantuan jika diperlukan.
3. Ketidakefektif NOC: tissue integrity (skin and NIC: Pressure Management
anperfusi mocus membranes) 3.1 Monitor adanya paretese
jaringan Kriteria Hasil: 3.2 Intruksikan keluarga untuk
perifer - ketidak efektifan perfusi mengobservasi kulit juka ada
berhubungan jaringan perifer, dengan nyeri lesi atau laseransi
dengan nyeri ekstermitas teratasi 3.4 Batasi gerakan tubuh pasien
ekstermitas. - Tidak ada luka, lesi pada kulit 3.5 Monitor adanya
- Perfusi jaringan baik trombopleditis
- Integritas kulit yang baik bisa 3.6 Diskusikan mengenai
dipertahankan (sensasi, penyebab perubahan
elastisitas, temperature, hidrasi sensasi.pasien
pigmentasi)

15) Catatan Keperawatan

Hari/Tangga No. Tindakan dan Responsi Nama


l Dx Jelas Paraf
Sabtu, 08-02- 1  Tindakan
2020 - Observasi TTV

26
- Kaji kultur yang mempengaruhi respon
nyeri
- Tingkatkan Istirahat
- Monitor penerimaan pasien tentang
manajemen nyeri
 Respon
- Pasien mengatakan nyeri berkurang
Sabtu, 08-02- 2  Tindakan
2020 - Kaji kemampuan pasien dalam mobilitas
- Bantu pasien untuk meggunakan tongkat
saat berjalan dan cegah terhadap cedera
 Respon
- Pasien mengatakan linu berkurang
Sabtu, 08-02- 3  Tindakan
2020 - Monitor adanya paretese
- Batasi gerakan tubuh pasien
- Anjurkan pasien untukrelaksasi
 Respon
- Pasien mengatasi nyeri dilutut berkurang
dan tidak ada bengkak

16) Catatan Perkembangan

Hari/Tangga No. Catatan Perkembangan Nama


l Dx Jelas Paraf
Minggu, 09- 1 S : Pasien mengatakan nyeri berkurang
02-2020 O : Pasien tampak baik dari sebelumnya
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
Minggu, 09- 2 S : Pasien tidak ada peningkatan dalam aktivitas
02-2020 fisik
O : pasien sudah mampu beraktivitas
A : Masalah teratasi

27
P : Pertahankan intervensi
Minggu, 09- 3 S : Pasien mengatakan tidak ada bengkak
02-2020 O : Tidak terlihat adanya edema, CRT <3 detik
akral pasien hangat
A : Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer
tercapai sebagian
P : Lanjutkan intervensi

2. ANALISA PEMECAHAN MASALAH KEPERAWATANBERBASIS BUKTI


(Hasil Penelitian)

Hari/Tangga No. Tindakan dan Responsi Nama Jelas


l Dx Paraf

Sabtu, 08-02- 1  Tindakan


2020 - Observasi TTV
- Kaji kultur yang mempengaruhi respon
nyeri
- Tingkatkan Istirahat
- Monitor penerimaan pasien tentang
manajemen nyeri
 Respon
- Pasien mengatakan nyeri berkurang
Sabtu, 08-02- 2  Tindakan
2020 - Kaji kemampuan pasien dalam mobilitas
- Bantu pasien untuk meggunakan tongkat
saat berjalan dan cegah terhadap cedera

28
 Respon
- Pasien mengatakan linu berkurang
Sabtu, 08-02- 3  Tindakan
2020 - Monitor adanya paretese
- Batasi gerakan tubuh pasien
- Anjurkan pasien untukrelaksasi
 Respon
- Pasien mengatasi nyeri dilutut berkurang
dan tidak ada bengkak

3. ANALISA MASALAH PRINSIP LEGAL ETIS DALAM PELAYANAN


KEPERAWATAN
1) Mengkaji situasi

Dalam hal ini perawat harus bisa melihat situasi, mengidentifikasi masalah/situasi dan
menganalisa situasi. Dari kasus diatas dapat ditemukan permasalahan atau situasi sebagai
berikut.

Ny. N menggunakan haknya sebagai pasien untuk mengetahui penyakit yang


dideritanya sekarang sehingga Ny. N meminta perawat tersebut memberikan informasi
tentang hasil pemeriksaan kepadanya.    

Rasa kasih sayang keluarga Ny. N terhadap Ny. N membuat keluarganya berniat
menyembunyikan informasi tentang hasil pemeriksaan tersebut dan meminta perawat untuk
tidak menginformasikannya kepada Ny. N dengan pertimbangan keluarga takut jika Ny. N
akan frustasi tidak bisa menerima kondisinya sekarang. Perawat merasa bingung dan dilema
dihadapkan pada dua pilihan dimana dia harus memenuhi permintaan keluarga, tapi disisi lain
dia juga harus memenuhi haknya pasien untuk memperoleh informasi tentang hasil
pemeriksaan atau kondisinya.

29
2) Mendiagnosa Masalah Etik Moral

Berdasarkan kasus dan analisa situasi diatas maka bisa menimbulkan permasalahan
etik moral jika perawat tersebut tidak memberikan informasi kepada Ny. N terkait dengan
penyakitnya karena itu merupakan hak pasien untuk mendapatkan informasi tentang kondisi
pasien termasuk penyakitnya.

3) Membuat Tujuan dan Rencana Pemecahan

Alternatif-alternatif rencana harus dipikirkan dan direncanakan oleh perawat bersama tim
medis yang lain dalam mengatasi permasalahan dilema etik seperti ini. Adapun alternatif
rencana yang bisa dilakukan antara lain :

 Perawat akan melakukan kegiatan seperti biasa tanpa memberikan informasi hasil
pemeriksaan/penyakit Ny. N kepada Ny. N saat itu juga, tetapi memilih waktu yang
tepat ketika kondisi pasien dan situasinya mendukung.
Hal ini bertujuan supaya Ny. N tidak panik yang berlebihan ketika mendapatkan
informasi seperti itu karena sebelumnya telah dilakukan pendekatan-pendekatan oleh
perawat. Selain itu untuk alternatif rencana ini diperlukan juga suatu bentuk
motivasi/support sistem yang kuat dari keluarga. Keluarga harus tetap menemani Ny.
N tanpa ada sedikitpun perilaku dari keluarga yang menunjukkan denial ataupun
perilaku menghindar dari Ny. N. Dengan demikian diharapkan secara perlahan, Ny. N
akan merasa nyaman dengan support yang ada sehingga perawat dan tim medis akan
menginformasikan kondisi yang sebenarnya.

Ketika jalannya proses sebelum diputuskan untuk memberitahu Ny. N tentang


kondisinya dan ternyata Ny. N menanyakan kondisinya ulang, maka perawat tersebut bisa
menjelaskan bahwa hasil pemeriksaannya masih dalam proses tim medis.

Alternatif ini tetap memiliki kelemahan yaitu perawat tidak segera memberikan informasi
yang dibutuhkan Ny. N dan tidak jujur saat itu walaupun pada akhirnya perawat tersebut akan
menginformasikan yang sebenarnya jika situasinya sudah tepat. Ketidakjujuran merupakan
suatu bentuk pelanggaran kode etik keperawatan.

 Perawat akan melakukan tanggung jawabnya sebagai perawat dalam memenuhi hak-
hak pasien terutama hak Ny. N untuk mengetahui penyakitnya, sehingga ketika hasil

30
pemeriksaan sudah ada dan sudah didiskusikan dengan tim medis maka perawat akan
langsung menginformasikan kondisi Ny. N tersebut atas seijin dokter.

Alternatif ini bertujuan supaya Ny. N merasa dihargai dan dihormati haknya sebagai
pasien serta perawat tetap tidak melanggar etika keperawatan. Hal ini juga dapat berdampak
pada psikologisnya dan proses penyembuhannya. Misalnya ketika Ny. N secara lambat laun
mengetahui penyakitnya sendiri atau tahu dari anggota keluarga yang membocorkan
informasi, maka Ny. N akan beranggapan bahwa tim medis terutama perawat dan
keluarganya sendiri berbohong kepadanya. Dia bisa beranggapan merasa tidak dihargai lagi
atau berpikiran bahwa perawat dan keluarganya merahasiakannya karena fraktur merupakan
“aib” yang dapat mempermalukan keluarga dan Rumah Sakit.

Kondisi seperti inilah yang mengguncangkan psikis Ny. N nantinya yang akhirnya bisa
memperburuk keadaan Ny. N. Sehingga pemberian informasi secara langsung dan jujur
kepada Ny. N perlu dilakukan untuk menghindari hal tersebut.Kendala-kendala yang
mungkin timbul

 Keluarga tetap tidak setuju untuk memberikan informasi tersebut kepada Ny. N

Sebenarnya maksud dari keluarga tersebut adalah benar karena tidak ingin Ny. N
frustasi dengan kondisinya. Tetapi seperti yang diceritakan diatas bahwa ketika Ny. N tahu
dengan sendirinya justru akan mengguncang psikisnya dengan anggapan-anggapan yang
bersifat emosional dari Ny. N tersebut sehingga bisa memperburuk kondisinya. Perawat
tersebut harus mendekati keluarga Ny. N dan menjelaskan tentang dampak-dampaknya jika
tidak menginformasikan hal tersebut. Jika keluarga tersebut tetap tidak mengijinkan, maka
perawat dan tim medis lain bisa menegaskan bahwa mereka tidak akan bertanggung jawab
atas dampak yang terjadi nantinya. Selain itu sesuai dengan Kepmenkes 1239/2001 yang
mengatakan bahwa perawat berhak menolak pihak lain yang memberikan permintaan yang
bertentangan dengan kode etik dan profesi keperawatan.

 Keluarga telah mengijinkan tetapi Ny. N denial dengan informasi yang diberikan


perawat.

Denial atau penolakan adalah sesuatu yang wajar ketika seseorang sedang
mendapatkan permasalahan yang membuat dia tidak nyaman. Perawat harus tetap melakukan
pendekatan-pendekatan secara psikis untuk memotivasi Ny. N. Perawat juga meminta
keluarga untuk tetap memberikan support sistemnya dan tidak menunjukkan perilaku
31
mengucilkan Ny. N tersebut. Hal ini perlu proses adaptasi sehingga lama kelamaan Ny. N
diharapkan dapat menerima kondisinya dan mempunyai semangat untuk sembuh.

 Melaksanakan Rencana

Alternatif-alternatif rencana tersebut harus dipertimbangkan dan didiskusikan dengan


tim medis yang terlibat supaya tidak melanggar kode etik keperawatan. Sehingga bisa
diputuskan mana alternatif yang akan diambil. Dalam mengambil keputusan pada pasien
dengan dilema etik harus berdasar pada prinsip-prinsip moral yang berfungsi untuk membuat
secara spesifik apakah suatu tindakan dilarang, diperlukan atau diizinkan dalam situasi
tertentu ( John Stone, 1989 ), yang meliputi :

o Autonomy / Otonomi

Pada prinsip ini perawat harus menghargai apa yang menjadi keputusan pasien
dan keluarganya tapi ketika pasien menuntut haknya dan keluarganya tidak setuju
maka perawat harus mengutamakan hak Tn. A tersebut untuk mendapatkan informasi
tentang kondisinya.

o Benefesience / Kemurahan Hati

Prinsip ini mendorong perawat untuk melakukan sesuatu hal atau tindakan
yang baik dan tidak merugikan Ny. N. Sehingga perawat bisa memilih diantara 2
alternatif diatas mana yang paling baik dan tepat untuk Ny. N dan sangat tidak
merugikan Ny. N.

o Justice / Keadilan

Perawat harus menerapkan prinsip moral adil dalam melayani pasien. Adil
berarti Ny. N mendapatkan haknya sebagaimana pasien yang lain juga mendapatkan
hak tersebut yaitu memperoleh informasi tentang penyakitnya secara jelas sesuai
dengan konteksnya/kondisinya.

o Nonmaleficience / Tidak merugikan

Keputusan yang dibuat perawat tersebut nantinya tidak menimbulkan kerugian


pada Ny. N baik secara fisik ataupun psikis yang kronis nantinya.

o Veracity / Kejujuran

32
Perawat harus bertindak jujur jangan menutup-nutupi atau membohongi Ny. N
tentang penyakitnya. Karena hal ini merupakan kewajiban dan tanggung jawab
perawat untuk memberikan informasi yang dibutuhkan Ny. N secara benar dan jujur
sehingga Ny. N akan merasa dihargai dan dipenuhi haknya.

o Fedelity / Menepati Janji

Perawat harus menepati janji yang sudah disepakati dengan Ny. N sebelum
dilakukan pemeriksaan yang mengatakan bahwa perawat bersdia akan
menginformasikan hasil pemeriksaan kepada Ny. N jika hasil pemeriksaannya sudah
selesai. Janji tersebut harus tetap dipenuhi walaupun hasilnya pemeriksaan tidak
seperti yang diharapkan karena ini mempengaruhi tingkat kepercayaan Ny. N
terhadap perawat tersebut nantinya.

o Confidentiality / Kerahasiaan

Perawat akan berpegang teguh dalam prinsip moral etik keperawatan yaitu
menghargai apa yang menjadi keputusan pasien dengan menjamin kerahasiaan segala
sesuatu yang telah dipercayakan pasien kepadanya kecuali seijin pasien.

Berdasarkan pertimbangan prinsip-prinsip moral tersebut keputusan yang bisa


diambil dari dua alternatif diatas lebih mendukung untuk alternatif ke-2 yaitu secara
langsung memberikan informasi tentang kondisi pasien setelah hasil pemeriksaan
selesai dan didiskusikan dengan semua yang terlibat. Mengingat alternatif ini akan
membuat pasien lebih dihargai dan dipenuhi haknya sebagai pasien walaupun kedua
alternatif tersebut memiliki kelemahan masing-masing. Hasil keputusan tersebut
kemudian dilaksanakan sesuai rencana dengan pendekatan-pendekatan
dan caring serta komunikasi terapeutik.

o Mengevaluasi Hasil

Alternatif yang dilaksanakan kemudian dimonitoring dan dievaluasi sejauh mana Ny.
N beradaptasi tentang informasi yang sudah diberikan. Jika Ny. N masih denial maka
pendekatan-pendekatan tetap terus dilakukan dan support sistem tetap terus diberikan
yang pada intinya membuat pasien merasa ditemani, dihargai dan disayangi tanpa ada
rasa dikucilkan.

33
4. ANALISA PENERAPAN FUNGSI ADVOKASI DALAM PELAYANAN
KEPERAWATAN

Perawat bertanggung jawab untuk membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasi
informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan memberikan informasi lain yang diperlukan
untuk mengambil prsetujuan (inform consent) atas tidakan keperawatan yang diberikan klien,
perawat berfungsi sebagai penghubung antara klien dengan tim kesehatan lain dalam upaya
pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien dan membantu klien memahami
semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan oleh tim kesehatan dengan pendekatan
tradisional maupun professional. Peran advokasi sekaligus mengharuskan perawat bertindak
sebagai nara sumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan terhadap upaya
kesehatan yang harus dijalani oleh klien.

Dalam menjalankan peran sebagai advocat (pembela klien) perawat harus dapat
melindungi dan memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam pelayanan keperawatan.

Selain itu, perawat juga harus dapat mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, hak-
hak klien tersebut antara lain: hak atas informasi; pasien berhak memperoleh informasi
mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah sakit/sarana pelayanan kesehatan
tempat klien menjalani perawatan. Hak mendapat informasi yang meliputi hal-hal berikut:

1) penyakit yang dideritanya;


2) tindakan medik apa yang hendak dilakukan;
3) kemungkinan penyulit sebagai akibat tindakan tersebut dan tindakan untuk
mengatasinya;
4) alternatif terapi lain beserta resikonya;
5) prognosis penyakitnya;
6) perkiraan biaya pengobatan/rincian biaya atas penyakit yang dideritanya;
7) hak atas pelayanan yang manusiawi, adil, dan jujur;
8) hak untuk memperoleh pelayanan keperawatan dan asuhan yang bermutu sesuai
dengan standar profesi keperawatan tanpa diskriminasi;
9) hak menyetujui/ memberi izin persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan oleh
perawat/ tindakan medik sehubungan dengan penyakit yang dideritanya (informed
consent);

34
10) hak menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri
pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sesudah memperoleh informasi yang
jelas tentang penyakitnya;
11) hak didampingi keluarganya dalam keadaan kritis;
12) hak menjalankan ibadah sesuai agama/ kepercayaan yang mengganggu pasien lain;
13) hak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di rumah sakit;
14) hak mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan rumah sakit terhadap dirinya;
15) hak menerima atau menolak bimbingan moral maupun spiritual;
16) hak didampingi perawat keluarga pada saat diperiksa dokter;
17) hak untuk memilih dokter, perawat atau rumah sakit dan kelas perawatan sesuai
dengan keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit atau
sarana pelayanan kesehatan;
18) hak atas rahasia medic atau hak atas privacy dan kerahasian penyakit yang diderita
termasuk data-data medisnya;
19) hak meminta konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di rumah sakit tersebut
(second opion), terhadap penyakit yang dideritanya dengan sepengetahuan dokter
yang menangani;
20) hak untuk mengetahui isi rekam medik ( Kusnanto,2004 ).

5. Penerapan Fungsi Advokasi dalam Pelayanan Keperawatan yang telah


dilaksanakan
Memberi kemampuan kepada klien untuk memberdayakan sasaran primer dan
sekunder agar klien ikut serta berperan aktif dalam proses penyembuhan, terutama masalah
utama yang diderita oleh klien terutama demam.

1) Tujuan

DX.1 :

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1X24 jam dengan kriteria hasil :

 Mampu mengatasi nyeri


 Melaporkan bahwa nyeri berkurang

DX.2 :

35
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1X24 jam dengan kriteria hasil :

 Hambatan mobilitas fisik, dengan kekuatan dan tahanan sekunder akibat


fraktur menjadi teratasi.

DX.3 :

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1X24 jam dengan kriteria hasil:

 Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer, dengan nyeri ekstermitas teratasi.

2) Rasional

DX.1 :

 Membantu pasien untuk mengurangi rasa nyeri.

DX.2 :

 Membantu klien untuk menggunkan tongkat saat berjalan dan cegah terhadap
cedera.
 Membantu pasien supaya mobilitas fisiknya tidak terhambat.

DX.3 :

 Batasi gerakan tubuh pasien.


 Membantu pasien untuk mengurangi/menghilangkan nyeri pada ekstremitas.

3) Rencana Tindakan

DX.1 :

1) lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi,


frekuensi, kualitas)
2) kontrol lingkungan pasien yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan, dan kebisingan
3) ajarkan tentang tekhnik non farmakologi seperti teknik relaksasi nafas dalam
4) berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
5) tingkatkan istirahat

36
6) evaluasi keefektifan control nyeri
DX.2 :

1) monitor vital sign sebelum dan sesudah latihan


2) kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
3) dampingi dan bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan sehari
hari pasien (ADLS)
4) berikan alat bantu jika pasien membutuhkan
5) ajarkan pasien bagaimana mengubah posisi dan berikan bantuan jika diperlukan.

DX.3 :

1) Monitor adanya paretese


2) Intruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit juka ada lesi atau laseransi
3) Batasi gerakan tubuh pasien
4) Monitor adanya trombopleditis

I. Tindakan
DX.1 :

1) Observasi TTV
2) Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
3) Tingkatkan Istirahat
4) Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

DX.2 :

1) Kaji kemampuan pasien dalam mobilitas


2) Bantu pasien untuk meggunakan tongkat saat berjalan dan cegah terhadap cedera

DX.3 :
1) Monitor adanya paretese
2) Batasi gerakan tubuh pasien

II. Tindakan dan Respon


DX.1 :

37
1) Observasi TTV
2) Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
3) Tingkatkan Istirahat
4) Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

Respon klien : Pasien mengatakan nyeri berkurang.

DX.2 :

1) Kaji kemampuan pasien dalam mobilitas


2) Bantu pasien untuk meggunakan tongkat saat berjalan dan cegah terhadap cedera

Respon klien : Pasien mengatakan linu berkurang.

DX.3 :

1) Monitor adanya paretese


2) Batasi gerakan tubuh pasien

Respon klien : Pasien mengatasi nyeri dilutut berkurang dan tidak ada bengkak.

BAB IV
PENUTUP

1. KESIMPULAN

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai
jenis dan luasnya (Smeltzer S.C & Bare B.G, 2001) atau setiap retak atau patah pada tulang
yang utuh (Reeves C.J, Roux G & Lockhart R, 2001).
Fraktur adalah masalah yang akhir-akhir ini sangat banyak menyita perhatian masyarakat,
pada arus mudik dan arus balik hari raya idul fitri banyak terjadi kecelakaan lalu lintas yang
sangat banyak yang sebagian korbannya mengalami fraktur. Banyak pula kejadian alam yang
tidak terduga yang banyak menyebabkan fraktur. Sering kali untuk penanganan fraktur ini
tidak tepat mungkin dikarenakan kurangnya informasi yang tersedia contohnya ada seorang
yang mengalami fraktur, tetapi karena kurangnya informasi untuk menanganinya Ia pergi ke
dukun pijat, mungkin karena gejalanya mirip dengan orang yang terkilir.

2. SARAN

38
Setelah membaca makalah ini penulis menyarankan agar pembaca dapat memahami
tentang gejala, penyebab fraktur sehingga dapat membuat kita lebih hati-hati dalam bekerja
ataupun melakukan aktifitas sehari-hari serta dapat membantu pasien fraktur .

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 10. Jakarta:
EGC.
Ed. 8. Jakarta : EGC.
Ignatavicius, Donna D. 1995. Medical Surgical Nursing : A Nursing Process
Approach. W.B. Saunder Company.
Mansjoer, Arif. dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga Jilid 1. Jakarta:
Media Aesculapsis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Marilynn, Doenges. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien),Edisi 3. Jakarta: EGC.
NANDA. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA, 2005-2006 Definisi &
Klasifikasi. Philadelphia, NANDA International.
Price, Sylvia. 2006. PATOFISIOLOGI Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6
Volume 2. Jakarta: EGC.
Reeves. Charlene. J. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika.

39
Smeltzer, Susanne. C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner and
Suddarth,
Syamsuhidajat, R & Jong, D.W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah (Edisi 2). Jakarta: EGC

40