Anda di halaman 1dari 10

BAB I

TINJAUAN TEORI

1.1. Definisi Urolithiasis

Kencing batu (urolitiasis) adalah kalsifikasi di dalam sistem urine. Umumnya disebut
batu, yaitu batu (batu) yang terbentuk di dalam ginjal (nefrolitiasis) namun dapat pula
terbentuk di dalam atau migrasi ke sistem urine bawah. Kondisi lain yang mempengaruh laju
pembentukan batu mencakup pH urin dan starus cairan pasien (batu cenderung terjadi pada
pasien dehidrasi). Baru dapat ditemukan di setiap bagian ginjal sampai ke kandung kemih dan
ukurannya bervariasi dari deposit granuler yang kecil, yang disebut pasir atau kerikil, sampai
batu sebesar kandung kemih yang berwarna oranye. Perbedaan tempat terjadinya batu di
traktus urinarius. ( Brunner & Suddarth, 2013).

Sering kali asimtomasis hingga pada saat batu tersebut masuk ke saluran kemih bagian
bawah. Kasus kencing batu biasanya ditangani oleh urologist. Batu kandung kemih primer
sangatlah jarang dan biasan terbentuk karena adanya riwayat stasis urine yang dikarenakan
obstruksi atau infeksi kronis. Sampai dengan 4% populasi di Amerika Serikat menderita
urolitiasis. Sekitar 12% dari populasi laki-laki menderita batu ginjal pada usia 70 tahun.
Lebih dari 200.0o0 penduduk Amerika membutuhkan perawatan rumah sakit karena batu
ginjal setiap tahunnya. Kebanyakan orang mengeluarkan batu secara spontan dan hanya
menunjuk manifestasi klinis yang minor sehingga tidak memerlukan pengobatan. Sementara
itu, terdapat pula beberapa orang yang dirawat jalan. Angka kekambuhan untuk batu kaisiurn
oksalat acalah sekitar 50% dalam kurun wa ktu 5 tahun. ( Black, Joyce M. etc 2014 ).

1.2. Etiologi dan Faktor resiko

Dua faktor penyebab primer adalah (1) stasis urine dan (2) supersaturasi urine dengan
kristaloid yang tidak dapat larut. Peningkatan konsentrasi zat terlarut muncul karena
berkurangnya cairan atau peningkatan beban zat terlarut. Peningkatan konsentrasi tersebut
menyebabkan presipitası kristal seperti kalsium, asam urat, dan fosfat. Kadar pH urine
memengaruhi solubilitas enis kristal tertentu dengan beberapa jenis kristal yang sudah siap
berpresipitasi dalam kondisi asam dan beberapa dalam kondisi basa. Angka pH yang
abnormal muncul pada kondisi renal tubular asidosis, pemberian inhibitor karbonik
anhidrase, keberadaan bakteri pemecah urea, dan dalam kondisi diare kronis. Retensi urine

1
yang dikarenakan obstruksi leher kandung kemih, diversi urine continent, dan mobilisasi,
dapat meningkatkan risiko pembentukan batu karena kristal dalam urine yang tidak bergerak
merupakan penyebab yang paling besar.

Infeksi, benda asing, kegagalan pengosongan kandung kemih secara komplet, kelainan
metabolik, obesitas dan peningkatan berat badan, serta obstruksi haluaran kemih,
berkontribusi pada pembentukan batu juga. Keberadaan presipitator dalam urine telah
diketahui (seperti atriks protein dan bakteri atau elemen inflamasi) Substansi penghambat
(inhibitor) seperti sitrat dan magnesium dapat mencegah agregasi partikel dan pembentukan
kristal. Kurangnya zat penghambat tersebut dapat meningkatkan risiko pembentukan batu.
Tidak hanya defisiensi zat penghambat yang dapat meningkatkan risiko terbentuknya batu
namun, terdapat pula "anti-penghambat" (anti-inhibitor) dalam urine seperti alumunium, besi,
dan silikon. Obat-obatan tertentu dapat memicu pembentukan batu seperti, asetazolamid,
alkali yang dapat diserap (misainya, kalsium karbonat dan sodium bi karbonat alumunium
hidroksida. Vitamin C dalam dosis besar juga meningkatkan level oksalat dalam urine.
Terdapat beberapa faktor risiko terbentuknya batu dan semua itu berujung pada terjadinya
stasis atau supersaturasi urine. Beberapa risiko tersebut adalah:

1. Imobilitas dan gaya hidup sedentary, yang menyebabkan stasis.


2. Dehidrasi, yang menyebabkan terjadinya supersaturasi.
3. Gangguan metabolik yang menyebabkan peningkata kadar kalsium atau ion lainnya
dalam urine.
4. Riwayat kencing batu sebelumnya.
5. Tinggal di dalam area "sabuk batu”
6. Minum air yang mengandung mineral dalam kadartinggi.
7. Diet tinggi purin, oksalat, suplemen kalsium, protein hewani
8. Infeksi Saluran Kemih
9. Pemakaian kateter jangka panjang
10. Penyakit kandung kemih neurogenik.
11. Riwayat mutilasi genital pada perempuan. ( Black, Joyce M. etc 2014 ).
1.3. Fisiologi

Ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra membentuk sistem urinarius. Fungsi utama
ginjal adalah mengatur cairan serta elektrolit dan komposisi asam-basa cairan tubuh;
mengeluarkan produk akhir metabolik dari dalam darah; dan mengatur tekanan darah. Urine

2
yang terbentuk sebagai hasil dari proses ini diangkut dari ginjal melalui ureter ke dalam
kandung kemih tempat urin tersebut disimpan untuk sementara waktu. Pada saat urinasi,
kandung kemih berkontraksi dan urin akan diekskresikan dari tubuh lewat uretra.

Meskipun cairan serta elektrolit dapat hilang melalui jalur lain dan ada organ lain yang
turut serta dalam mengatur keseimbangan asam-basa, namun organ yang mengatur
lingkungan kimia internal tubuh secara akurat adalah ginjal. Fungsi ekskresi ginjal diperlukan
untuk mempertahankan kehidupan. Namun demikian, berbeda dengan sistem kardiovaskuler
dan respiratorius, gangguan total fungsi ginjal tidak menimbulkan kematian dalam waktu
yang singkat. Dialisis (‘ginjal artifisial’) dan bentuk-bentuk terapi lainnya dapat dilakukan
untuk menggantikan fungsi-fungsi tertentu dari ginjal

Ciri penting sistem renal terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi terhadap beban
muatan cairan yang sangat bervariasi, sesuai kebiasaan dan pola hidup individu. Ginjal harus
mampu untuk mengekskresikan berbagai produk limbah makanan dan metabolisme dapat
jumlah yang dapat diterima serta tidak dieliminasi oleh organ lain. Jika diukur tiap hari,
jumlah produk tersebut biasanya berkisar dari 1 hingga 2 liter air, 6 hingga 8 g garam
(natrium klorida 0, 6 hingga 8 g kalium klorida dan 70 mg ekuivalen asam per hari. Jumlah
substansi yang diterima ginjal mungkin berbeda jika pasien mendapatkan infus cairan
intravena, nutrisi parenteral total atau nutrisi enteral lewat selang nasogastrik. ( Black, Joyce
M. etc 2014 ).

1.4. Patofisiologi

Mekanisme sesungguhnya dari pembentukan batu belum diketahui secara pasti hingga
saat ini. Beberapa peneliti percaya bahwa diet rendah kalsium memiliki peran dalam
pembentukan batu. Sementara itu, beberapa peneliti lainnya menyebutkan bahwa konsumsi
kalsium yang cukup tinggi adalah penyebabnya.. Kristalisasi tampaknya menjadi faktor
primer dari pembentukan batu seperti dalam kondisi berikut:

1. Supersaturasi urine dengan peningkatan zat terlarut


2. Pembentukan matriks yang disebabkan ikatan mukoprotein terhadap batu
3. Kurangnya zat penghambat (inhibitor) yang disebabkan peningkatan atau tidak
adanya pelindung untuk mencegah pembentukan batu.
4. Kombinasi dari beberapa kondisi tersebut.

3
Pada umumnya, perkembangan kristal melibatkan proses nukleasi, di mana kristal
dibentuk dari urine yang supersaturasi. Selanjutnya, proses agregasi akan menghasilkan
partikel yang ukurannya lebih besar. Salah satu partikel ini mungkin masuk ke dalam saluran
kemih hingga akhirnya terjebak pada satu area yang lebih sempit di mana akan terjadi
pembentukan batu.

Zat inhibitor (misalnya, sitrat, pirofosfat, dan magnesium) telah diidentifikasi sebagai
agen kelasi (chelating). Ketika zat tersebut terdapat dalam jumlah yang adekuat, mereka
dapat mencegah agregasi kristal dan pembentukan batu. Ketika inhibitor tersebut tidak ada,
maka akan terjadi pembentukan batu setelah proses agregasi kristal. Selain itu, matriks
berserabut dari materi organik urine (kebanyakan adalah mukoprotein) dapat berbentuk di
dalam ginjal atau kandung kemih, membentuk suatu substansi dimana zat kristal akan
menempel. Hal tersebut kemudian menjadi cikal bakal batu. Produksi berlebih dari
mukoprotein mungkin berhubungan dengan terdapatnya riwayat keluarga menderita
urolitiasis. ( Black, Joyce M. etc 2014 ).

1.5. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis adanya batu dalam traktus urinarius bergantung pada adanya
obstruksi, infeksi, dan adema. Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi
menyebabkan peningkatan tekanan hidrostaúk dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal.
Infeksi (pielonetrit dan sistitis yang disertai menggigil, demam, dan disuria) dapat terjadi dari
iritasi batu yang rerus- menerus, Beberapa batu, jika ada, menyebabkan sedikit gejala namun
secara perlahan merusak unit fungsional (nefron) ginjal: sedangkan yang lain menyebabkan
nyeri yang luar biasa dan ketidaknyamanan. Batu di piala ginjal mungkin berkaitan dengan
sakit yang dalam dan terus - menerus di area kostovertebral. Hematuria dan piuria dapat
dijumpai. Nyeri yang berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita
kebawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria mendekati testis. Bila nyeri
mendadak menjad akut, disertai nyeri tekan diseluruh area kostovertebral, dan muncul mual
dan muntah, maka pasien sedang mengalami episode kolik renal. Diare dan ketidaknyamanan
abdominal dapat terjadi. Gejala strointestinal ini akibat dari refleks renointestinal dan
proksimitas anatomik ginjal ke lambung, pankreas dan usus besar. Batu yang terjebak di
ureter menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa, akut, dan kolik yang menyebar ke
paha dan genitalia. ( Brunner & Suddarth, 2013).
1.6. Komplikasi

4
Tanpa memperdulikan tipe batu yang terbentuk, potensi kerusakan yang terjadi tetaplah
sama:

1) Nyeri, spasme, atau kolik dari gerakan peristaltik ureter yang berkontraksi pada batu
2) Obstruksi dengan kemungkinan hidronefrosis atau hidroureter
3) Trauma jaringan dengan perdarahan sekunder
4) Infeksi ( Black, Joyce M. etc 2014 ).
1.7. Penatalaksanaan

Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu,
mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi, dan mengurangi obstruksi yang terjadi.

1. Pengurangan Nyeri
Tujuan segera dari penanganan kolik renal atau ureteral adalah mengurangi
nyeri sampai penyebabnya dapat dihilangkan. Morfin atau meriden diberikan untuk
mencegah syok dan sinkop akibat nyeri yang luar biasa. Mandi air panas atau air
hangat di area panggul dapat bermanfaat. Cairan diberikan, kecuali pasien mengalami
muntah atau menderita gagal jantung kongestif atau kondisi lain yang memerlukan
pembatasan cairan. Ini meningkatkan tekanan hidrostatik pada ruang dibelakang batu
sehingga mendorong pasase batu tersebut ke bawah. Masukan caira sepanjang hari
mengurangi konsentrasi kistaloid urin, mengencerkan urin, dan menjamin aliran urin
yang besar.
2. Pengangkatan Batu
Pemeriksaan sitoskopik dan pasase keteter urin kecil untuk menghilangkan
batu yang menyebabkan obstruksi (jika mungkin), akan segera mengurangi tekanan-
belakang pada ginjal dan mengurangi nyeri.
Ketika batu telah ditemukan, analisis kimiawi dilakukan untuk menentukan
komposisinya. Analisis batu dapat membuktikan indikasi yang jelas mengenai
penyakit yang mendasari.
3. Terapi Nutrisi dan Medikasi
Terapi nutri berperan pentingdalam mencegah batu renal. Masukan cairan
yang adekuat dan menghindari makanan terntentu dalam diet yang merupakan bahan
utama pembentuk batu (mis, Kalsium) efektif untuk mencegah pembentukkan batu
atau lebih jauh meningkatkan ukuran batu yang telah ada. Setiap pasien dengan batu

5
renal harus menim paling sedikit 8 gelas air sehari untuk mempertahankan urin encer,
kecuali dikontraindikasikan.
4. Lithoripsi Gelombang Kejut Ekstrakorporeal
Lithotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal (ESWL) adalah prosedur
noninvasif yang digunakan untuk menghancurkan batu di kaliks ginjal. Setalah batu
tersebut pecah menjadi bagian kecil seperti pasir, sisa batu-batu tersebut dikeluarkan
secara spontan. Kebutuhan anestesi pada prosedur ini tergantung pada tipe lithotripsi
yang digunakan, ditentukan oleh jumlah dan intensitas gelombang kejut yang
disalurkan.
Penyuluhan pasien, perawat menyediakan intruksi perawatan di rumah dan
pentingnya tindak lanjut karena ESWL terbukti efektif pada pasien rawat jalan. Pasien
didorong untuk meningkatkan masukan cairan untuk memfasilitasi pasase serpihan
batu, yang mungkin 6 minggu sampai beberapa bulan setelah prosedur. Pasien dan
keluarga diintruksikan adanya tanda dan gejala yang menunjukkan adanya
komplikasi, seperti demam, penurunan haluan urin, dan nyeri.

5. Metode Endourologi Pengankatan Batu


Bidang endourologi menggabungkan keterampilah ahli radiologi dan urologi
untuk mengangkat batu renal tanpa pembedahan mayor. Dengan metode yang sama,
cairan elektrikal digunakan untuk membuat gelombang kejut hidraulik untuk
menghancurkan batu (lithotripsi elektrohidraulik). Sebuah alat dimasukkan melalui
sistoskop, dan ujung lithtriptor diletakkan dekat batu. Setelah batu diambil, selang
nefostomi perkutan dibiarkan di tempatnya untuk beberapa waktu untuk menjamin
bahwa ureter tidak mengalami obstruksi oleh edema atau bekuan darah. Komplikasi
yang sering terjadi adalah hemoragi, infeksi, dan ekstravasasi urinarius. Setelah
selang dilepaskan trakrus nefosomi ditutup secara spontan.
6. Ureteroskopi

6
Ureteroskopi mencangkup visualisasi dan akses ureter dengan memasukkan
suatu alat ureteroskop melalui sistoskop. Batu dapat dihancurkan menggunakan laser,
lithotripsi elektrohidraulik, atau ultrasound kemuadian diangkat
7. Pelarutan Batu
Infus cairan kemolitik misalnya agens pembuat basa (alkylating) dan
pembuatan asam (acidifying) untuk melarutkan batu dapat dilakukan sebagai alternatif
penanganan untuk pasien kurang berisiko terhadap terapi lain, dan menolak metode
lain, atau mereka yang memiliki batu yang mudah larut (struvit).
8. Pengangkatan Bedah
Jika batu terdapat di dalam ginjal, pembedahan dilakukan dengan nefrolitotomi (insisi
pada ginjal untuk mengangkat batu) atau nefrektomi, jika ginjal tidak berfungsi akibat
infeksi atau hidronefrosis. Jika batu berada di dalam kandung kemih, suatu alat
dimasukkan ke uretra ke dalam kandung kemih, batu kemudian di hancurkan oleh
penjepit pada alat ini. ( Brunner & Suddarth, 2013).
1.8. Pengkajian
Aktifitas Atau Istirahat
Gejala : Perkerjaan monoton, pekerjaan dimana pasien terpajan pada lingkungan bersuhu
tinggi. Keterbatasan aktifitas atau imobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya
(contoh penyakit tak sembuh, cedera medula spinalis).
Sirkulasi tanda : peningkatan TD atau nadi (nyeri, ansietas, gagal ginjal). Kulit hangat dan
kemerahan; pucat.
Eliminasi
Gejala : Riwayat adanya /ISK kronis; obstruksi sebelumnya (kalkulus). Penurunan
haluaran urine, kandung kemih penuh. Rasa terbakar, dorongan berkemih. Diare.
Tanda: Oliguria, hematuria, piuria. Perubahan pola berkemih.
Makanan / Cairan
Gejala : Mual/muntah, nyeri tekan abdomen. Diet tinggi purin, kalsium aksalat,
dan/posfat. Ketidakcukupan pemasukan cairan; tidak minum air dengan cukup.
Tanda: Distensi abdominal ; penurunan/ tak adanya bising usus. Muntah
Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Episode akut nyeri berat, nyeri kolik. Lokasi tergantung pada lokasi batu, contoh
pada panggul diregio sudut kostovertebral; dapat menyebar ke punggung, abdomen, dan
turun ke lipat paha genetilia. Nyeri dangkal konstan menunjukkan kalkulus ada di perlvis

7
atau kalkulus ginjal. Nyeri dapat digambarkan sebagai akut, hebat tidak hilang dengan
posisi atau tindakan lain
Tanda : Melindungi: perilaku distraksi. Nyeri tekan pada area ginjal pada palpasi.
Keamanan
Gejala : Penggunaan alkohol. Demam menggigil ( Doenges, Marilynn E,etc. 2002 ).
1.9. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan frekuensi atau dorongan kontraksi
ureteral. Trauma jaringan, pembentukan edema, iskemia selular.
2) Eliminasi urine : perubahan berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu,
iritasi ginjal atau ureteral. Obstruksi mekanik, inflamasi.
3) Kekurangan volume cairan, resiko tinggi terhadap berhubungan dengan mual muntah.
Diuresis pasca obstruksi.
4) Kurang pengetahuan tentang kondisi, Prognosis, dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurang terpajan atau mengingat. Salah interpretasi informasi.
Tidak mengenal sumber informasi
1.10. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri akut
1) Membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan kemajuan gerakan kalkulus. Nyeri
panggul sering menyebar ke punggung, lipat paha, genitalia sehubungan dengan
proksimitas saraf plektus dan pembuluh darah yang menyuplai area lain. Nyeri
tiba-tiba dan hebat dapat mencetuskan ketakutan, gelisah, ansietas berat.
2) Memberikan kesempatan untuk pemberian analgesi sesuai waktu ( membantu
dalam meningkatkan kemampuan koping pasien dan dapat menurunkan
ansietas ).

8
BAB III

ANALISA JURNAL

3.1.

BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Kencing batu (urolitiasis) adalah kalsifikasi di dalam sistem urine. Umumnya disebut
batu, yaitu batu (batu) yang terbentuk di dalam ginjal (nefrolitiasis) namun dapat pula
terbentuk di dalam atau migrasi ke sistem urine bawah. Kondisi lain yang mempengaruh
laju pembentukan batu mencakup pH urin dan starus cairan pasien (batu cenderung terjadi
pada pasien dehidrasi). Baru dapat ditemukan di setiap bagian ginjal sampai ke kandung
kemih dan ukurannya bervariasi dari deposit granuler yang kecil, yang disebut pasir atau
kerikil, sampai batu sebesar kandung kemih yang berwarna oranye. Perbedaan tempat
terjadinya batu di traktus urinarius.

9
Kebanyakan orang mengeluarkan batu secara spontan dan hanya menunjuk
manifestasi klinis yang minor sehingga tidak memerlukan pengobatan. Sementara itu,
terdapat pula beberapa orang yang dirawat jalan.

DAFTAR PUSTAKA

10