Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Anemia oleh orang awam dikenal sebagai “kurang darah”. Anemia adalah suatu
penyakit dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. Anemia
berbeda dengan tekanan darah rendah. Kalau tekanan darah rendah adalah kurangnya
kemampuan otot jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh sehingga
menyebabkan kurangnya aliran darah yang sampai ke otak dan bagian tubuh lainnya.
Anemia kehamilan yaitu ibu hamil dengan kadar Hb <11g% pada trimester I dan III
atau Hb <10,5g% pada trimester II.

Penyebabnya bisa karena kurangnya zat gizi untuk pembentukan darah, misalnya
zat besi, asam folat dan vitamin B12. Tetapi yang sering terjadi adalah anemia karena
kekurangan zat besi. Anemia defenisi besi adalah anemia yang disebabkan oleh
kurangnya zat besi dalam tubuh, sehingga kebutuhan zat besi (Fe) untuk eritropoesis
tidak cukup yang ditandai dengan gambaran sel darah merah hipokrom-mikrositer,
kadar besi serum ( serum iron), dan jenuh transferin menurun, kapasitas besi total
meninggi dan cadangan besi dalam sumsum tulang serta ditempat yang lain sangat
kurang atau tidak ada sama sekali.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya anemia defesiensi besi, antara
lain kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan, adanya gangguan absorpsi
di usus, perdarahan akut maupun kronis, dan meningkatnya kebutuhan zat besi seperti
pada wanita hamil, masa pertumbuhan dan masa penyembuhan dari penyakit. Gejala
yang mungkin timbul pada anemia adalah keluhan lemah, pucat, dan mudah pingsan,
walaupun tekanan darah masih dalam batas normal. Beberapa faktor yang dapat
menyebabkan terjadinya anemia kehamilan diantaranya gravid, umur, paritas, tingkat
pendidikan, status ekonomi dan kepatuhan konsumsi tablet Fe (Keisnawati, dkk,
2015).

1.2 Rumusan masalah


1. Apakah defenisi anemia kehamilan?
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil?
3. Jelaskan anemia fisiologi dalam kehamilan?
4. Apakah patofisiologi dari anemia pada kehamilan?
5. Apa saja klasifikasi anemia pada ibu hamil?
6. Apa saja bahaya anemia selama kehamilan?
7. Apa saja pencegahan primer, sekunder dan tersier yang dapat dilakukan pada
anemia dalam kehamilan?
8. Apa saja komplikasi yang dapat terjadi akibat anemia selama kehamilan?
9. Bagaimana penatalaksanaan medis dan keperawatan dengan pasien yang
mengalami anemia selama kehamilan?
10. Apa saja pemeriksaan penunjang pada penyakit anemia?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Menambah wawasan penulis tentang anemia pada ibu hamil kepada
mahasiswa keperawatan untuk menunjang dalam penegakan diagnosa dan
pemberian asuhan keperawatan kepada ibu dan janinnya.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Anemia kehamilan


Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan saat
jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen)
dalam sel darah merah berada di bawah normal. Anemia adalah berkurangnya
hingga dibawah nilai normal eritrosit, kuantitas hemoglobin, dan volume packed
red blood cell (hematokrit) per 100 ml darah. Anemia Gizi adalah kekurangan
kadar haemoglobin (Hb) dalam darah yang disebabkan karena kekurangan zat
gizi yang diperlukan untuk pembentukan Hb.Anemia terjadi karena kadar
hemoglobin (Hb) dalam darah merah sangat kurang. Di Indonesia sebagian
besar anemia ini disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) hingga disebut
Anemia Kekurangan Zat Besi atau Anemia Gizi Besi.

Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu, baik
dalam kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Penyulit
penyulit yang dapat timbul akibat anemia adalah : keguguran (abortus),
kelahiran prematurs, persalinan yang lama akibat kelelahan otot rahim di dalam
berkontraksi (inersia uteri), perdarahan pasca melahirkan karena tidak adanya
kontraksi otot rahim (atonia uteri), syok, infeksi baik saat bersalin maupun
pasca bersalin serta anemia yang berat (<4 gr %)dapat menyebabkan
dekompensasi kordis. Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan
kematian ibu pada persalinan (Wiknjosastro, 2007).

Anemia yang paling sering dijumpai dalam kehamilan adalah anemia akibat
kekurangan zat besi karena kurangnya asupan unsur besi dalam makanan.
Gangguan penyerapan, peningkatan kebutuhan zat besi atau karena terlampau
banyaknya zat besi yang keluar dari tubuh, misalnya pada perdarahan.Wanita
hamil butuh zat besi sekitar 40 mg perhari atau 2 kali lipat kebutuhan kondisi
tidak hamil.Beberapa penyebab anemia yaitu :
a. Zat besi yang masuk melalui makanan tidak mencukupi kebutuhan.
b. Meningkatnya kebutuhan tubuh akan zat besi, terutama ibu hamil,
masa tumbuh kembang pada remaja, penyakit kronis, seperti
tuberculosis dan infeksi lainnya.
c. Perdarahan yang disebabkan oleh infeksi cacing tambang, malaria,
haid yang berlebihan dan melahirkan

2.2 Faktor yang mempengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil


a. Umur Ibu Menurut Amiruddin (2007)
Bahwa ibu hamil yang berumur kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35
tahun yaitu 74,1% menderita anemia dan ibu hamil yang berumur 20 – 35
tahun yaitu 50,5% menderita anemia. Wanita yang berumur kurang dari
20 tahun atau lebihdari 35 tahun, mempunyai risiko yang tinggi untuk
hamil, karena akan membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu hamil
maupun janinnya, beresiko mengalami pendarahan dan dapat
menyebabkan ibu mengalami anemia.

b. Paritas Menurt Herlina (2006)


Ibu hamil dengan paritas tinggi mempunyai resiko 1.454 kali lebih besar
untuk mengalami anemia di banding dengan paritas rendah. Adanya
kecenderungan bahwa semakin banyak jumlah kelahiran (paritas), maka
akan semakin tinggi angka kejadian anemia.

c. Kurang Energi Kronis (KEK)


41% (2.0 juta) ibu hamil menderita kekurangan gizi. Timbulnya masalah
gizi pada ibu hamil, seperti kejadian KEK, tidak terlepas dari keadaan
sosial, ekonomi, dan bio sosial dari ibu hamil dan keluarganya seperti
tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, konsums pangan, umur, paritas,
dan sebagainya.

d. Infeksi dan Penyakit


Zat besi merupakan unsur penting dalam mempertahankan daya tahan
tubuh agar tidak mudah terserang penyakit. Menurut penelitian, orang
dengan kadar Hb <10 G/dl memiliki kadar sel darah putih (untuk
melawan bakteri) yang rendah pula. Seseorang dapat terkena anemia
karena meningkatnya kebutuhan tubuh akibat kondidi fisiologis (hamil,
kehilangan darah karena kecelakaan, pascabedah atau menstruasi),
adanya penyakit kronis atau infeksi (infeksi cacing tambang, malaria,
TBC) (Anonim, 2004). Ibu yang sedang hamil sangat peka terhadap
infeksi dan penyakit menular. Beberapa di antaranya meskipun tidak
mengancam nyawa ibu, tetapi dapat menimbulkan dampak berbahaya
bagi janin. Diantaranya, dapat mengakibatkan abortus, pertumbuhan janin
terhambat, bayi mati dalam kandungan, serta cacat bawaan.

e. Jarak kehamilan
Menurut Ammirudin (2007) proporsi kematian terbanyak terjadi pada ibu
dengan prioritas 1 – 3 anak dan jika dilihat menurut jarak kehamilan
ternyata jarak kurang dari 2 tahun menunjukan proporsi kematian
maternal lebih banyak. Jarak kehamilan yang terlalu dekat menyebabkan
ibu mempunyai waktu singkat untuk memulihkan kondisi rahimnya agar
bisa kembali ke kondisi sebelumnya. Pada ibu hamil dengan jarak yang
terlalu dekat beresiko terjadi anemia dalam kehamilan.

f. Pendidikan
Pada beberapa pengamatan menunjukkan bahwa kebanyakan anemia
yang di derita masyarakat adalah karena kekurangan gizi banyak di
jumpai di daerah pedesaan dengan malnutrisi atau kekurangan gizi.
Kehamilan dan persalinan dengan jarak yang berdekatan, dan ibu hamil
dengan pendidikan dan tingkat social ekonomi rendah (Manuaba, 2010).

2.3 Anemia fisiologi dalam kehamilan


Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena ibu hamil mengalami hemodelusi
(pengenceran) dengan peningkatan volume 30 % sampai 40 % yang
puncaknya pada kehamilan 32 sampai 34 minggu. Jumlah peningkatan sel
darah 18 % sampai 30 % dan hemoglobin sekitar 19 % (Manuaba, 2010).
2.4 Patofisiologi Anemia
Anemia adalah suatu kondisi yang mengakibatkan kekurangan zat besi dan
biasanya terjadi secara bertahap. (Zulhaida Lubis, 2003).
a. Stadium 1 Kehilangan zat besi melebihi ukuran, menghabiskan cadangan
dalam tubuh terutama disumsum tulang.
b. Stadium 2 Cadangan zat besi yang berkurang tidak dapat memenuhi
kebutuhan membentuk sel darah merah yang memproduksi lebih sedikit.
c. Stadium 3 Mulai terjadi anemia kadar hemoglobin dan haemotokrit
menurun.
d. Stadium 4 Sumsum tulang berusaha untuk menggantikan kekurangan zat
besi dengan mempercepat pembelahan sel dan menghasilkan sel darah
merah baru yang sangat kecil (Mikrositik).
e. Stadium 5 Semakin memburuknya kekurangan zat besi dan anemia maka
timbul gejala - gejala karena anemia semakin memburuk (Anonim,
2004). Ibu hamil memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan
jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah, janin dan
plasenta. Kenaikan volume darah selama kehamilan akan meningkatkan
kebutuhan Fe dan zat besi (Zulhaida Lubis, 2003).

2.5 Klasifikasi anemia pada ibu hamil


Secara umum menurut Proverawati (2009) anemia dalam kehamilan
diklasifikasikan menjadi:
A. Anemia defisiensi besi sebanyak 62,3%
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi
dalam darah. Pengobatannya adalah pemberian tablet besi yaitu keperluan zat
besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam 14 laktasi yang dianjurkan.
Untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan
anamnese. Hasil anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing,
mata berkunang-kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada
pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan
metode sahli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan
III.
B. Anemia Megaloblastik sebanyak 29%.
Anemia ini disebabkan karena defisiensi asam folat (pteryglutamic acid) dan
defisiensi vitamin B12 (cyanocobalamin) walaupun jarang. Menurut Hudono
(2007) tablet asam folat diberikan dalam dosis 15-30 mg, apabila disebabkan
oleh defisiensi vitamin B12 dengan dosis 100- 1000 mikrogram sehari, baik
per os maupun parenteral.

C. Anemia Hipoplastik dan Aplastik sebanyak %


Anemia disebabkan karena sum-sum tulang belakang kurang mampu membuat
sel-sel darah baru.

D. Anemia Hemolitik sebanyak 0,7%


Anemia disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih
cepat daripada pembuatannya. Menurut penelitian, ibu hamil dengan anemia
paling banyak disebabkan oleh kekurangan zat besi (Fe) serta asam folat dan
viamin B12. Pemberian makanan atau diet pada ibu hamil dengan anemia pada
dasarnya ialah memberikan makanan yang banyak mengandung protein, zat
besi (Fe), asam folat, dan vitamin B12.

2.6 Bahaya anemia dalam kehamilan ( Manuaba, 2010)


Pengaruh anemia pada kehamilan. Risiko pada masa antenatal : berat badan
kurang, plasenta previa, eklamsia, ketuban pecah dini, anemia pada masa
intranatal dapat terjadi tenaga untuk mengedan lemah, perdarahan intranatal,
shock, dan masa pascanatal dapat terjadi subinvolusi. Sedangkan komplikasi
yang dapat terjadi pada neonatus : premature, apgar scor rendah, gawat janin.
Bahaya pada Trimester II dan trimester III, anemia dapat menyebabkan
terjadinya partus premature, perdarahan ante partum, gangguan pertumbuhan
janin dalam rahim, asfiksia intrapartum sampai kematian, gestosisdan mudah
terkena infeksi, dan dekompensasi kordis hingga kematian ibu (Mansjoer A.
dkk, 2008). Bahaya anemia pada ibu hamil saat persalinan, dapat
menyebabkan gangguan his primer, sekunder, janin lahir dengan anemia,
persalinan dengan tindakan-tindakan tinggi karena ibu cepat lelah dan
gangguan perjalanan persalinan perlu tindakan operatif (Mansjoer A. dkk.,
2008).
Anemia kehamilan dapat menyebabkan kelemahan dan kelelahan sehingga
akan mempengaruhi ibu saat mengedan untuk melahirkan bayi (Smith et al.,
2012). Bahaya anemia pada ibu hamil saat persalinan : gangguan hiskekuatan
mengejan, Kala I dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar, Kala II
berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan
operasi kebidanan, Kala III dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan
postpartum akibat atonia uteri, Kala IV dapat 16 terjadi perdarahan post
partum sekunder dan atonia uteri. Pada kala nifas : Terjadi subinvolusi uteri
yang menimbulkan perdarahan post partum, memudahkan infeksi puerperium,
pengeluaran ASI berkurang, dekompensasi kosrdis mendadak setelah
persalinan, anemia kala nifas, mudah terjadi infeksi mammae (Saifudin, 2006).

2.7 Pencegahan anemia selama kehamilan


A. Pencegahan Primer
Pencegahan primer meliputi segala kegiatan yang dapat menghentikan
kejadian suatu penyakit atau gangguan sebelum hal itu terjadi. Promosi
kesehatan, pendidikan kesehatan dan perlindungan kesehatan adalah tiga
aspek utama di dalam pencegahan primer. Dalam hal ini pencegahan
primer ditujukan kepada ibu hamil yang belum anemia. Tujuan
pencegahan ini untuk mencegah atau menunda terjadinya kasus baru
penyakit dan memodifikasi faktor risiko atau mencegah berkembangnya
faktor risiko. Pencegahan primer meliputi:

a. Edukasi (Penyuluhan)
Petugas kesehatan dapat berperan sebagai edukator seperti memberikan
nutrition education berupa dorongan agar ibu hamil mengkonsumsi
bahan makanan yang tinggi Fe dan konsumsi tablet besi atau tablet
tambah darah minimal selama 90 hari. Edukasi tidak hanya diberikan
pada saat ibu hamil, tetapi ketika belum hamil. Penanggulangannya,
dimulai jauh sebelum peristiwa melahirkan. Selain itu, petugas kesehatan
juga dapat berperan sebagai konselor atau sebagai sumber berkonsultasi
bagi ibu hamil mengenai cara mencegah anemia pada kehamilan
Suplementasi Fe adalah salah satu strategi untuk meningkatkan intake Fe
yang berhasil hanya jika individu mematuhi aturan konsumsinya. Banyak
faktor yang mendukung rendahnya tingkat kepatuhan tersebut.

b. Suplementasi Fe (Tablet Besi)


Anemia defisiensi besi dicegah dengan memelihara keseimbangan antara
asupan Fe dan kehilangan Fe. Jumlah Fe yang dibutuhkan untuk
memelihara keseimbangan ini bervariasi antara satu wanita dengan yang
lainnya tergantung pada riwayat reproduksi. Jika kebutuhan Fe tidak
cukup terpenuhi dari diet makanan, dapat ditambah dengan suplemen Fe
terutama bagi wanita hamil dan masa nifas. Suplemen besi dosis rendah
(30mg/hari) sudah mulai diberikan sejak kunjungan pertama ibu hamil.

c. Fortifikasi Makanan dengan Zat Besi


Fortifikasi makanan yang banyak dikonsumsi dan yang diproses secara
terpusat merupakan inti pengawasan anemia di berbagai Negara.
Fortifikasi makanan merupakan cara terampuh dalam pencegahan
defisiensi besi. Produk terpusat merupakan inti pengawasan anemia di
berbagai Negara. Fortifikasi makanan merupakan cara terampuh dalam
pencegahan defisiensi besi. Produk makanan fortifikasi yang lazim
adalah tepung gandum serta roti makanan yang terbuat dari jagung dan
bubur jagung serta beberapa produk susu.

B. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder lebih ditujukan pada kegiatan skrining kesehatan
dan deteksi untuk menenmukan status patogenik setiap individu di dalam
populasi. Pencegahan sekunder bertujuan untuk menghentikan
perkembangan penyakit menuju suatu perkembangan kearah kerusakan
atau ketidakmampuan. Dalam hal ini pencegahan sekunder merupakan
pencegahan yang dilakukan pada ibu hamil yang sudah mengalami
gejala-gejala anemia atau tahap pathogenesis yaitu mulai pada fase
asimtomatis sampai fase klinis atau timbulnya gejala penyakit atau
gangguan kesehatan. Pada pencegahan sekunder, yang dapat dilakukan
oleh tenaga kesehatan diantaranya adalah :
a. Skrining
Skrining diperlukan untuk mengidentifikasi kelompok wanita yang harus
diobati dalam mengurangi morbiditas anemia. Bagi wanita hamil harus
dilakukan skrining pada kunjungan I dan rutin pada setiap trimester.
Skrining dilakukan dengan pemeriksaan hemoglobin (Hb) untuk
mendeteksi apakah ibu hamil anemia atau tidak, jika anemia, apakah ibu
hamil masuk dalam anemia ringan, sedang, atau berat. Selain itu, juga
dilakukan pemeriksaan terhadap tanda dan gejala yang mendukung
seperti tekanan darah, nadi dan melakukan anamnesa berkaitan dengan
hal tersebut. Sehingga, tenaga kesehatan dapat memberikan tindakan
yang sesuai dengan hasil tersebut. Jika anemia berat ( Hb < 9 g/dl) dan
Hct <27%) harus dirujuk kepada dokter ahli yang berpengalaman untuk
mendapat pertolongan medis.

b. Pemberian terapi dan Tablet Fe


Jika ibu hamil terkena anemia, maka dapat ditangani dengan memberikan
terapi oral dan parenteral berupa Fe dan memberikan rujukan kepada ibu
hamil ke rumah sakit untuk diberikan transfusi (jika anemia berat).

C. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier mencakup pembatasan terhadap segala
ketidakmampuan dengan menyediakan rehabilitasi saat penyakit, cedera
atau ketidakmampuan sudah terjadi dan menimbulkan kerusakan. Dalam
hal ini pencegahan tersier ditujukan kepada ibu hamil yang mengalami
anemia yang cukup parah dilakukan untuk mencegah perkembangan
penyakit ke arah yang lebih buruk untuk memperbaiki kualitas hidup
klien seperti untuk mengurangi atau mencegah terjadinya kerusakan
jaringan, keparahan dan komplikasi penyakit, mencegah serangan ulang
dan memperpanjang hidup. Contoh pencegahan tersier pada anemia ibu
hamil diantaranya yaitu :
a. Memeriksa ulang secara teratur kadar hemoglobin
b. Mengeliminasi faktor risiko seperti intake nutrisi yang tidak adekuat pada
ibu hamil, tetap mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan dan tetap
mengkonsumsi makanan yang adekuat setelah persalinan.

2.8 Komplikasi anemia dalam kehamilan


Hemoglobin memiliki peran penting dalam mengantar oksigen ke seluruh
bagian tubuh untuk konsumsi dan membawa kembali karbon dioksida kembali
ke paru menghembuskan nafas keluar dari tubuh. Kadar hemoglobin terlalu
rendah, proses ini dapat terganggu, sehingga tubuh memiliki tingkat oksigen
yang rendah (hipoksia). Anemia umumnya memiliki prognosis yang sangat
baik dan mungkin dapat disembuhkan dalam banyak hal. Prognosis
keseluruhan tergantung pada penyebab anemia, tingkat keparahan, dan
kesehatan keseluruhan pasien. Anemia yang parah dapat menyebabkan
rendahnya kadar oksigen pada organ-organ vital seperti jantung, dan dapat
menyebabkan serangan jantung.

2.9 Penatalaksanaan medis dan keperawatan dengan anemia pada kehamilan


A. Terapi medis yang dapat diberikan berupa:
a. Transfusi darah
b. Pemberian kortikosteroid atau obat-obatan lain yang dapat
menekan sistem imun.
c. Pemberian eritropoietin, yaitu hormon yang berperan pada proses
hematopoiesis yang berfungsi untuk membentuk sumsum tulang.
d. Pemberian suplemen besi, vitamin b12, asam folat atau vitamin
dan mineral lainnya

2.10 Pemeriksaan penunjang


A. Interpretasi hasil laboratorium
Tes laboratorium untuk anemia dapat mencakup sebagai berikut:
a. Hitung darah lengkap (CBC): Menentukan tingkat keparahan dan
jenis anemia.
b. Tes hemoglobin pada feses: Tes darah dalam tinja yang dapat
mendeteksi pendarahan dari perut atau usus (tinja Guaiac
pengujian atau tes darah tersembunyi tinja).
c. Pemeriksaan darah tepi: Tampak pada sel-sel darah merah di
bawah mikroskop untuk menentukan ukuran, bentuk, jumlah, dan
warna serta menilai sel-sel lainnya dalam darah.
d. Tes fungsi hati: Sebuah tes umum untuk menentukan bagaimana
hati bekerja, yang mungkin memberikan petunjuk untuk penyakit
lain yang mendasari penyakit anemia.
e. Tes fungsi ginjal: Suatu tes yang sangat rutin dan dapat membantu
menentukan apakah ada disfungsi ginjal.
f. Biopsy sumsum tulang: Mengevaluasi produksi sel darah merah
dan dapat dilakukan ketika diduga ada maslah sumsum tulang.
g. Ultrasonografi (USG) adalah suatu alat non infasif yang
memungkinkan visualisasi janin dalam uterus (in Utero) untuk
menginformasikan pertumbuhan janin terhambat atau tidak serta
mendeteksi kelainan structural tertentu (Hendersan &
Jones, 2001). Cara kerja USG adalah dengan menghantarkan
gelombang suara dengan frekuensi antara 3,5 to 7,0 Megahertz ke
janin atau pembuluh darah dan akan dipantulkan kembali dalam
bentuk gambar yang dapat kita lihat di monitor USG (Adenin,
2006).

Pada pemeriksaan USG Pada Kehamilan Trimester II dan III


kadang-kadang letak dan presentasi janin dengan pemeriksaan
Leopold sulit ditentukan, misalnya pasien yang gemuk, kehamilan
preterm, hidramnion dan sebagainya. Pada situasi demikian
pemeriksaan USG sangat membantu diaknosis, disamping juga
mencari kemungkinan faktor penyebab kelainan letak atau
presentasi janin. Pada kehamilan preterm terutama pada trimester
II, letak dan presentasi janin belum stabil, sehingga pada
pemeriksaan USG akan terlihat berubah-ubah. Pada
akhir trimester III, bagian terendah janin mulai memasuki pintu
atas panggul sehingga letak dan presentasi janin biasanya tidak
berubah lagi (Wiknjosastro, 2006).
Hasil pemeriksaan USG biasanya diberikan kepada pasien dalam
bentuk salina berupa foto janin berukuran 10 x 10 cm, berwarna
hitam putih, bergaris-garis bentuk tertentu dan terdapat beberapa
kode dibawahnya. Beberapa tulisan atau kode
tersebut diantaranya BPD (bilateral diameter) berisikan data
tentang ukuran diameter janin, FL (femur length) merupakan
ukuran panjang femur/tulang paha, CRL (crow-rump
length) berupa ukuran kepala sampai bokong, AC (abdominal
circumference) atau ukuran lingkar abdomen/perut (Djuwantono,
2006).

Mesin USG sudah dilengkapi dengan perhitungan otomatis hingga


dapat menunjukkan umur kehamilan dan perkiraan berat badan
janin. Hasil tersebut kemudian akan dibandingkan dengan siklus
haid pasien untuk memastikannya (Djuwantono, 2006).
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pembahasan Intervensi Dan Penatalaksanaan Pendidikan Pada Ibu Hamil
Dengan Anemia Oleh Perawat.
A.Judul Jurnal : Penatalaksanaan Pendidikan Kesehatan Diit Anemia Ibu
Hamil
Dengan Masalah Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari
Kebutuhan Tubuh
B. Penulis Jurnal : Yeni Sulistyaningsih Dan Tutik Yuliyanti
C. Pembahasan
Angka kematian ibu di negara berkembang seperti di Indonesia masih
tinggi. Tiga penyebab kematian adalah perdarahan, infeksi, dan eklampsia.
Beberapa kondisi tersebut disebabkan secara tidak langsung oleh anemia
kekurangan zat besi. Banyak program nutrisi yang sudah dilakukan oleh
pemerintah Indonesia, tetapi nutrisi pada wanita hamil masih merupakan
masalah yang besar di Indonesia.
Menurut World Health Organization (WHO) (2012) prevalensi anemia
pada ibu hamil mencapai 41,8% di dunia, dan Asia menduduki peringkat
kedua di dunia setelah Afrika dengan persentase prevalensi penderita anemia
dalam kehamilan 48,2 %. Menurut penelitian Pusponegoro dan Anemia World
Map, pada tahun 2012 Indonesia merupakan salah satu negara di Asia dengan
kejadian anemia dalam kehamilan cukup tinggi sebesar 51% (Lampost, 2013).
Nutrisi prenatal yang adekuat merupakan faktor lingkungan terpenting
yang mempengaruhi kesehatan wanita hamil dan bayinya karena hal tersebut
dari sebuah jurnal didapat kan bahwa penting diteliti pelaksanaan keperawatan
pendidikan kesehatan diit anemia ibu hamil dengan masalah
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan yang merupakan salah sau
diagnosis keperawatan pada pasien anemia.
Penatalaksanaan meliputi pencegahan yang dapat dilakukan
penatalaksanaan medis: pemberian suplemen fero sulfat atau glukonat oral
(defisiensi zat besi), suplemen asam folat oral, diit makanan tinggi zat besi dan
asam folat. Penata laksanaan keperawatan : observasi adanya komplikasi dari
anemia, berikan penyuluhan terkait diit anemia ibu hamil, dan program obat
zat besi dan asam folat.
Dari penelitian dilakukan intervensi keperawatan mulai dari pengkajian
terhadap tingkat pengetahuan pasien pada kebutuhan nutrisi selama kehamilan.
Ke 2 menentuka apakah pasien memiliki motivasi untuk merubah kebiasaan
makan. Ke 3 Beri penkes diit anemia pada ibu hamil. Ke 4 menjaga pola
makan pasien sehingga pasien makan makan sesuai diit. pada Perkembangan
klien setelah diberikan tindakan keperawatan selama 4 kali kunjungan dalam
satu bulan ketidak seimbangan nutrisi teratasi sebagian. Terdapat peningkatan
Hb dan peningkatan asupan zat besi setelah pemberian pendidikan kesehatan
diit anemia ibu hamil. Dari berbagai intervensi yang disiapkan peneliti
melakukan selama 1 bulan dan didapatkan hasil peningkatan pada hb ibu
hamil dan kesiimbangan asupan nutrisi.
Penilitian terkait anemia juga dikombinasikan dengan pemberian jus
bayam dan tomat sebagai penambah zat besi dari kebutuhan ibu hamil dan dari
penelitian dan eksperimen yang dilakukan peningkatan Hb pada ibu hamil
anemia terdapat peningkatan yang tinggi juga, dari hal tersebut dapat juga
disimpulkan bahwa nutrisi dan suplemen-suplemen seperti zat besi sangat
menjadi faktor ibu hamil dalam hal anemia.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam
kehamilan, persalinan, maupun nifas dan masa selanjutnya. Penyulit penyulit yang
dapat timbul akibat anemia adalah : keguguran (abortus), kelahiran prematurs,
persalinan yang lama akibat kelelahan otot rahim di dalam berkontraksi (inersia uteri),
perdarahan pasca melahirkan karena tidak adanya kontraksi otot rahim (atonia uteri),
syok, infeksi baik saat bersalin maupun pasca bersalin serta anemia yang berat (<4 gr
%) dapat menyebabkan dekompensasi kordis. Hipoksia akibat anemia dapat
menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan (Wiknjosastro, 2007).

Angka kematian ibu di negara berkembang seperti di Indonesia masih tinggi.


Tiga penyebab kematian adalah perdarahan, infeksi, dan eklampsia. Beberapa kondisi
tersebut disebabkan secara tidak langsung oleh anemia kekurangan zat besi. Banyak
program nutrisi yang sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, tetapi nutrisi pada
wanita hamil masih merupakan masalah yang besar di Indonesia.