Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

CRITICAL THINKING, CLINICAL JUDGEMENT DAN PROBLEM


SOLVING DALAM PELAYANAN KEBIDANAN KESEHATAN
REPRODUKSI DAN KELUARGA BERENCANA
DisusunGunaMemenuhiTugas Mata Kuliah Askeb KB & Kespro
DosenPengampu : Dyah Widiyastuti, SST,M.Keb

Disusun Oleh :

Fitriyanti P20624419011

Singgih Novika Fitriani P20624419030

Siti Aisyah P20624419031

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA
JURUSAN KEBIDANAN
PROGAM STUDI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN CIREBON
JALAN PEMUDA NO.38 CIREBON
2020/2021
KATA PENGANTAR

Assalamu'alaikum wr.wb

Puji dan syukur kami panjatkan pada Allah SWT, karena berkat rahmat,
hidayah dan rizki kesehatan yang Ia berikan kepada kami sehingga kami sebagai
tim penyusun makalah dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun dengan tujuan utama memenuhi tugas mata kuliah
Asuhan Kebidanan KB dan Kespro dan juga untuk menambah wawasan
penyusun makalah sebagai mahasiswa Poltekkes Tasikmalaya Program Studi
Sarjana Terapan Kebidanan Cirebon.
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu kami berharap
mendapat kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan penyusunan
makalah kami kedepannya.
Demikian yang dapat disampaikan oleh kami, atas kekurangannya kami
memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Cirebon, 09 Februari 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................i

DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...................................................................................................2
C. Tujuan.....................................................................................................................2

BAB II : PEMBAHASAN

A. Critical Thinking (Berpikir Kritis).........................................................................3


B. Critical Judgement (Penilaian Klinis)....................................................................6
C. Problem Solving (Pemecahan Masalh)...................................................................7
D. Penerapan Critical Thingking, Clinical Judgemen, Problem Solving Dalam
Asuhan Kesehatan Reproduksi Dan Keluarga Berencana......................................9

BAB III : PENUTUP

A. Simpulan................................................................................................................15

Daftar Pustaka
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di dalam rangka menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan
Angka Kematian Bayi (AKB) dibutuhkan pelayanan kesehatan yang
berkualitas salah satunya yaitu pelayanan kesehatan reproduksi dan
pelayanan keluarga berencana. Karena dengan meningkatkan pelayanan
keluarga berencana akan mengurangi penyebab AKI yang disebabkan
karena 4 terlalu dan 3 terlambat yaitu salah satunya karena terlalu sering
melahirkan dan terlalu dekat jarak anak bisa memicu terjadinya AKI.
Kesehatan reprooduksi adalah suatu keadaan sejahtera fisik,
mental, dan sosial secara utuh tidak semata-mata bebas dari penyakit atau
kecacatan dalam suatu yang berkaitan dengan system reproduksi, fungsi
dan prosesnya (WHO). KB merupakan kegiatan membantu individu atau
pasangan suami istri untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,
mendapat kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval diantara
kelahiran (Hartono, 2004: 27)
Pilar seorang bidan yang terdapat pada kerangka kerja menurut
ICM (2015) adalah pengetahuan, keahlian dalam melaksanakan pelayanan
asuhan kepada bayi baru lahir, wanita, keluarga sepanjang kehidupannya.
Pengetahuan yang ada bisa menjadi pondasi untuk melakukan suatu
keahlian jika dilakukan sesuai tujuan dan setiap bertindak harus diiringi
dengan berpikir kritis dengan menjawab setiap pertanyaan “mengapa” dan
“kenapa” saat bertindak, selain itu mampu memberikan penilaian klinis
dengan baik serta memberikan pemecahan yang tepat berdasarkan data
informasi yang didapatkan.
Dalam dunia kebidanan selain di butuhkan kemampuan berfikir
kritis diharapkan juga memiliki kemampuan dalam penyelesaian semua
masalah (problem solving) yang terjadi terutama dalam kesehatan
reproduksi dan KB. Di bawah ini dijelaskan secara rinci tentang
pengertian critical thingking, clinical judgemen dan problem solving
dalam asuhan kesehatan reproduksi dan KB.

B. Rumusan Masalah
1. Pengertian Critical Thinking, Clinical Judgement dan Problem Solving?
2. Bagaimana penerapan Critical Thinking, Clinical Judgement dan
Problem Solving dalam pelayanan kebidanan kesehatan reproduksi dan
Keluarga Berencana?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Critical Thinking, Clinical Judgement dan Problem
Solving.
2. Untuk mengetahui penerapan Critical Thinking, Clinical Judgement
dan Problem Solving dalam pelayanan kebidanan kesehatan reproduksi
dan Keluarga Berencana.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Critical Thinking (Berpikir Kritis)


Berpikir kritis adalah cara berpikir tentang subjek, konten, atau
masalah yang dilakukan oleh pemikir secara aktif dan terampil secara
konseptual dan memaksakan standar yang tinggi atas intelektualitas
mereka. Dapat juga diartikan sebagai proses berfikir secara aktif dalam
menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi informasi yang
dikumpulkan dan atau dihasilkan melalui observasi, pengalaman, refleksi,
penalaran, atau komunikasi, sebagai acuan dalam meyakini suatu konsep
dan atau dalam melakukan tindakan.
Dalam pelaksanaannya, hal ini didasarkan pada nilai-nilai universal
intelektual yang melampaui cabang suatu ilmu yang meliputi: kejelasan,
akurasi, presisi, konsistensi, relevansi, bukti suara, alasan yang baik,
kedalaman, luasnya ilmu, dan keadilan.Dengan adanya proses berfikir
kritis diharapkan dapat:
1. Menimbulkan pertanyaan penting terkait topik/masalah yang sedang
difikirkan, kemudian dapat merumuskan masalah dengan jelas dan tepat
2. Mengumpulkan dan menilai informasi yang relevan, menggunakan ide-
ide abstrak untuk menafsirkan secara efektif terkait kesimpulan yang
beralasan dan solusi pemecahan masalah, menguji alternatif pemecahan
masalah terhadap kriteria dan standar yang relevan
3. Berpikir terbuka dalam sistem pemikiran alternatif, mampu mengakui
dan menilai setiap permasalahan dengan asumsi yang beralasan, dapat
menimbulkan implikasi, dan konsekuensi praktis
4. Berkomunikasi secara efektif dengan orang lain dalam mencari tahu
solusi untuk masalah yang kompleks.
Proses berfikir kritis memerlukan komunikasi yang efektif dan
kemampuan pemecahan masalah serta komitmen untuk mengatasi sikap
egois dan tertutup, dengan prosedur:
1. Mengenali masalah untuk menemukan cara-cara yang bisa diterapkan
guna memecahkan masalah tersebut
2. Memahami pentingnya prioritas dan urutan prioritas dalam pemecahan
masalah
3. Mengumpulkan dan menyusun informasi yang terkait (relevan)
4. Mengenali asumsi yang tak tertulis dan nilai-nilai
5. Memahami dan menggunakan bahasa dengan akurat, jelas, dan tajam
6. Menafsirkan data untuk menilai bukti dan mengevaluasi argument/
pendapat
7. Menyadari keberadaan hubungan logis antara proposisi
8. Menarik kesimpulan dan generalisasi yang dibenarkan
9. Menguji kesimpulan dan generalisasi masalah
10. Merekonstruksi pola yang telah diyakini atas dasar pengalaman yang
lebih luas
11. Memberikan penilaian yang akurat tentang hal-hal tertentu dan kualitas
dalam kehidupan sehari-hari.
Singkatnya, tiga kunci utama untuk dapat berfikir kritis: RED
(Recognize assumptions, Evaluate arguments dan Draw conclusions) =
mengenali masalah, menilai beberapa pendapat, dan menarik kesimpulan.
Dalam menyimpulkan hasil pemikiran kritis, diperlukan upaya gigih untuk
memeriksa setiap keyakinan atau pemahaman akan pengetahuan
berdasarkan dukungan bukti ilmiah (evidence based) yang mendukung
kecenderungan pengambilan kesimpulan tersebut.
Proses berfikir kritis merupakan kerangka dasar bidan dalam
memberikan asuhan kebidanan, dalam bingkai manajemen kebidanan.
Sehingga, apabila bidan memberikan asuhan kebidanan kepada klien
dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen kebidanan dengan
sistematis dan terpola, maka bidan tersebut telah menerapkan proses
berfikir kritis.
Seorang bidan yang profesional harus memiliki karakteristik dalam
berpikir kritis. Hal ini meliputi seorang bidan mampu mempertimbangkan
sesuatu sesuai dengan alasan yang rasional dan logis, bersifat reflektif,
mampu menganalisa, mensintesis, mengevaluasi bukti-bukti yang ada
terkait masalah yang akan dipecahkan, memiliki kemampuan pemecahan
masalah (problem solving).
Cara untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis diantaranya:
a. Membaca dengan kritis. Untuk berfikir secara kritis, seorang profesi
bidan harus bisa membaca dengan kritis pula. semua informasi yang
didapatkan dari berbagai sumber harus dipikirkan secara kritis,
disesuaikan dengan kondisi klien disaat memberikan suatu asuhan.
Membaca kritis berarti merupakan keterampilan-keterampilan berfikir
kritis seperti mengamati, menghubungkan teks dengan konteksnya,
mengevaluasi teks dari logika dan kredibilitasnya, merefleksikan
kandungan teks dengan pendapat sendiri dan membandingkan teks
yang satu dengan yang lainnya yang memiliki keterkaitan (OU, 2008)
b. Menulis dengan kritis. Seorang profesi bidan yang telah melakukan
membaca kritis harus menulisakan semua pemahaman yang ada dalam
bentuk tulisan. Salah satu contohnya adalah dokumentasi dalam
manajemen asuhan kebidanan. Dokumen tersebut merupakan suatu
media bagi profesi bidan untuk menuangkan semua asuhan yang
diberikan dan menjadi acuan untuk asuhan berikutnya.
c. Meningkatkan analisis dar yang dibaca dan ditulis. Asuhan kebidanan
yang telah dituliskan dapat menjadi bahan diskusi untuk dievaluasi
atau mencari penyelesaian masalah atau mendiskusikan hal terburuk
yang mungkin terjadi.
d. Mengembangkan kemampuan observasi. Observasi untuk mengamati
suatu kondisi klien yang diamati. Pengamatan tersebut dikritisi dan
pengamatan yang didapatkan bisa menjadi acuan untuk menarik
kesimpulan yang berdampak pula pada pengambilan keputusan.
e. Meningkatkan rasa ingin tahu, kemampuan bertanya dan refleksi.
Pengajuan pertanyaan yang bermutu yaitu pertanyaan yang tidak
memiliki jawaban benar atau salah atau pertanyaa yang mengharuskan
seorang profesi bidan menjelaskan sehingga memperbanyakan
berpikir.

B. Critical Judgement (Penilaian Klinis)


a. Pengertian Clinical Judgement
Penilaian diartikan sebagai suatu kemampuan untuk membuat
keputusan logis atau rasional dan menentukan apakah suatu tindakan
yang akan dilakukan benar atau salah. Sedangkan klinis berkaitan
dengan klinik atau tempat perawatan; didasarkan pada observasi dan
perawatan klien yang sebenarnya, dan terdiri atas tanda-tanda klinis
dari suatu masalah kesehatan.
Clinical Judgement (Penilaian Klinis) merupakan penerapan
informasi berdasarkan pengamatan aktual pada klien yang
dikombinasikan dengan data subjektif dan objektif yang mengarah
pada kesimpulan akhir/analisis/diagnosis. Dapat pula didefinisikan
sebagai suatu proses dimana bidan menetapkan data-data mengenai
keadaan klien yang akan dikumpulkan, kemudian mengidentifikasi
tindakan kebidanan yang tepat.
b. Pengambilan Keputusan Klinis
Pengambilan keputusan dapat diartikan sebagai pemilihan
alternatifterbaik dari beberapa pilihan alternatif yang tersedia. Proses
pengambilankeputusan merupakan bagian dasar dan integral dalam
praktik suatu profesidan keberadaanya sangat penting karena akan
menentukan tindakanselanjutnya. Menurut Terry, pengambilan
keputusan adalah memilih alternatifyang ada. Sedangkan pengambilan
keputusan klinis yang dibuat oleh seorantenaga kesehatan sangat
menentukan kualitas pelayanan kesehatan.Pengambilan keputusan
klinis dapat terjadi mengikuti suatu proses yangsistematis, logis, dan
jelas.
Proses pengambilan keputusan klinis dapat dijelaskan, diajarkan,
dandipraktikkan secara gamblang. Kemampuan ini tidak hanya
tergantung pada pengumpulan informasi, tetapi tergantung juga pada
kemampuan untukmenyusun, menafsirkan, dan mengambil tindakan
atas dasar informasi yangdidapat saat pengkajian. Kemampuan dalam
pengambilan keputusan klinissangat tergantung pada pengalaman,
pengetahuan, dan latihan atau praktek.Ketiga faktor ini sangat
berpengaruh terhadap pengambilan keputusan klinisyang dibuat
sehingga menentukan tepat tidaknya tindakan yang petugaskesehatan
berikan pada klien.
Keputusan yang baik adalah yang berdasarkan kepentingan klien
dan pada saat yang bersamaan juga menunjukkan integritas orang-
orang yangterlibat. Bidan mempunyai kewajiban moral terhadap klien
mereka, terhadap pimpinan mereka, dan kepada penyedia pelayanan
primer, sehingga bidan harus menetukan faktor tantangan ketika
membuat keputusan. Tanggung jawab logika etika adalah rasional dan
sistemik. Ini harus berdasarkan pada prinsip etika dan kode etik dari
pada emosi, intuisi, kebijakan yang telah ada atau preseden.

C. Problem Solving (Pemecahan Masalah)


Problem solving adalah suatu proses mental dan intelektual dalam
menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi
yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat
(Hamalik, 1994, dalam Yasin, 2009). Problem solving yaitu suatu
pendekatan dengan cara identifikasi problem untuk dilanjutkan ketahap
sintesis kemudian dianalisis dengan pemilahan seluruh masalah sehingga
mencapai tahap aplikasi selajutnya pada tahap komprehensif untuk
mendapatkan solution dalam penyelesaian masalah tersebut. Pendapat lain
problem solving adalah suatu pendekatan 5 dimana langkah-langkah
berikutnya sampai penyelesaian akhir lebih bersifat kuantitatif yang umum
sedangkan langkah-langkah berikutnya sampai dengan penyelesaian akhir
lebih bersifat kuantitatif dan spesifik (dalam Yasin, 2009).
Sedangkan Edward (2007) menjelaskan bahwa problem solving
merupakan suatu proses kognitif yang diterapkan saat mengatasi
permasalahan untuk meraih suatu tujuan. Jadi problem solving adalah
proses kognitif yang berfungsi untuk menemukan dan memecahkan
masalah melalui proses sintesis, analisis dan bersifat komprehensif.
Berpikir memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu yang baru
adalah kegiatan yang kompleks dan berhubungan erat satu dengan yang
lain. Suatu masalah umumnya tidak dapat dipecahkan tanpa berpikir, dan
banyak masalah memerlukan pemecahan yang baru bagi orang-orang atau
kelompok. Sebaliknya, menghasilkan sesuatu (benda-benda, gagasan-
gagasan) yang baru bagi seseorang, menciptakan sesuatu, itu mencakup
problem solving. Ini berarti informasi fakta dan konsep-konsep itu
penting. Seperti telah kita ketahui, penguasaan informasi itu perlu untuk
memperoleh konsep; keduanya itu harus diingat dan dipertimbangkan
dalam problem solving dan perbuatan kreatif. Begitu pula perkembangan
intelektual sangat penting dalam problem solving(Slameto,1990 : 139).
Dengan demikian problem solving merupakan suatu proses taraf yang
dilalui dengan cara memahami sejumlah pengetahuan dan ketrampilan
kerja dan merupakan hasil yang dicapai individu setelah individu yang
bersangkutan mengalami suatu proses belajar problem solving yang
diajarkan suatu pengetahua tertentu. Dengan problem solving suatu
masalah akan mempunyai banyak solusi dan kesimpulan yang diambil
lebih realistik (Lawson, 1991, dalam Yasin, 2009.
Yasin (2009) berpendapat bahwa ada tiga langkah untuk problem
solving, yaitu: mengidentifikasi masalah, menentukan sumber dan akar
masalah, dan mencari solusi yang efektif dan efisien. Adapun langkah-
langkah lain yaitu menurut konsep Dewey (dalam Yasin, 2009) yang
menjadikan berpikir sebagai dasar untuk problem solving adalah sebagai
berikut:
1. Adanya kesulitan yang dirasakan atau kesadaran akan adanya
masalah.
2. Masalah itu diperjelas dan dibatasi.
3. Mencari informasi atau data dan kemudian data itu diorganisasikan
atau diklasifikasikan.
4. Mencari hubungan-hubungan untuk merumuskan hipotesa-hipotesa
kemudian hipotesa-hipotesa dinilai, diuji agar dapat ditentukan untuk
diterima atau ditolak.
5. Penerapan pemecahan terhadap masalah yang dihadapi sekaligus
berlaku sebagai pengujian kebenaran pemecahan tersebut untuk dapat
sampai kepada kesimpulan.
Langkah-langkah dalam problem solving ini tidak selalu mengikuti
urutan yang teratur, melainkan dapat meloncat meloncat antara macam-
macam langkah tersebut, lebih-lebih apabila orang berusaha memecahkan
masalah yang kompleks.
Williamsdan Carey(2003) menjelaskan ada enam langkah problem
solving yaitu: identifikasi masalah, mencari informasi dan menetapkan
tujuan, menemukan berbagai akternatif solusi, memilih solusi, menyiapkan
pelaksanaan solusi yang dipilih, dan mengevalusi dan merevisisolusi. Jadi
proses problem solving dimulai dari mengidentifikasi masalah terlebih
dahulu, dilanjutkan mencari penyebab munculnya masalah dan diakhiri
dengan mencari berbagai alternatif solusi yang dapat digunakan untuk
menyelesaikan masalah.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi problem solving, seperti:
motivasi, kepercayaan dan sikap yang salah, kebiasaan dan emosi(Rahmat
(2001). Ahli yang lain berpendapat bahwa problem solvingdipengaruhi
kemampuan kognitif atau kecerdasan (Rahmat, 2001dan Sheryl, 2012).

D. Penerapan Critical Thingking, Clinical Judgemen, Problem Solving


Dalam Asuhan Kesehatan Reproduksi Dan Keluarga Berencana.
Penerapan berfikir kritis, penilaian klinis dan pemecahan masalah
tertuangdalam manajemen kebidanan. Dalam pelaksanaanya dilakukan
denganmengggunakan SOAP atau 7 langkah Varney yang meliputi :
a. Langkah I : Pengkajian
PengkajianPada langkah ini bidan mengumpulkan semua informasi
yang akurat danlengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan
kondisi klien berkaitandengan masalah kesehatan reproduksi dan KB,
untuk memperoleh data dapatdilakukan dengan cara:
1. Anamnesa
2. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-
tanda vital
3. Pemeriksaan khusus
4. Pemeriksaan penunjang
Bila klien mengalami komplikasi yang perlu di konsultasikan
kepadadokter dalam penatalaksanaan maka bidan perlu melakukan
konsultasi ataukolaborasi dengan dokter. Tahap ini merupakan
langkah awal yang akanmenentukan langkah berikutnya, sehingga
kelengkapan data sesuai dengankasus yang di hadapi akan
menentukan proses interpretasi yang benar atautidak dalam tahap
selanjutnya, sehingga dalam pendekatan ini harus yangkomprehensif
meliputi data subjektif, objektif dan hasil pemeriksaan sehinggadapat
menggambarkan kondisi / masukan klien yang sebenarnya dan
valid.Kaji ulang data yang sudah di kumpulkan apakah sudah tepat,
lengkap dan akurat.
b. Langkah II: Merumuskan Diagnosa/Masalah Kebidanan
KebidananPada langkah ini identifikasi terhadap diagnosa atau
masalah berdasarkaninterpretasi yang akurat atas data-data yang telah
dikumpulkan. Data dasaryang sudah dikumpulkan diinterpretasikan
sehingga dapat merumuskandiagnosa dan masalah yang spesifik.
Rumusan diagnosa dan masalah keduanyadigunakan karena masalah
tidak dapat didefinisikan seperti diagnosa tetapitetap membutuhkan
penanganan. Masalah sering berkaitan dengan hal-halyang sedang
dialami wanita terkait kesehatan reproduksi dan KB yangdiidentifikasi
oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah juga
seringmenyertai diagnosa. Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang
ditegakkan bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi
standar nomenklatur diagnosa kebidanan.
c. Langkah III: Mengantisipasi Diagnosa/Masalah Kebidanan
Pada langkah ini mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis
potensial berdasarkan diagnosa/masalah yang sudah diidentifikasi dan
melauitahapan berfikir kritis dan penilaian secara klinis. Langkah ini
membutuhkanantisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan.
Pada langkah ketiga ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi
masalah potensial tidak hanyamerumuskan masalah potensial yang akan
terjadi tetapi juga merumuskantindakan antisipasi agar masalah atau
diagnosa potesial tidak terjadi.
d. Langkah IV: Menetapkan Kebutuhan Tindakan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter
danatau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota
timkesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah ini
mencerminkankesinambungan dari proses penatalaksanaan kebidanan.
Jadi, penatalaksanaan bukan hanya selama asuhan primer periodik atau
kunjungan prenatal saja tetapi juga selama wanita tersebut bersama
bidan terus-menerus. Pada penjelasandiatas menunjukkan bahwa bidan
dalam melakukan tindakan harus sesuaidengan prioritas
masalah/kebutuhan yang dihadapi kliennya. Setelah bidanmerumuskan
tindakan yang perlu dilakukan untuk mengantisipasidiagnosa/masalah
potensial pada langkah sebelumnya, bidan juga harusmerumuskan
tindakan emergency/segera untuk segera ditangani baik ibumaupun
bayinya. Dalam rumusan ini termasuk tindakan segera yang
mampudilakukan secara mandiri, kolaborasi atau yang bersifat rujukan.
e. Langkah V: Merencanakan Asuhan Secara Menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh
yangditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini
merupakankelanjutan penatalaksanaan terhadap masalah atau diagnosa
yang telahteridentifikasi atau diantisipasi sebagai bagian dari
pemecahan masalah dan pemberian solusi. Pada langkah ini informasi
data yang tidak lengkap dapatdilengkapi. Rencana asuhan yang
menyeluruh tidak hanya meliputi apa-apayang sudah teridentifikasi dari
kondisi klien atau dari masalah yang berkaitantetapi juga dari krangka
pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut sepertiapa yang
diperkirakan akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan
penyuluhankonseling dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-
masalah yang berkaitan dengan sosial ekonomi-kultural atau masalah
psikologi.
Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua belah pihak,
yaituoleh bidan dan klien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena
klien jugaakan melaksanakan rencana tersebut. Semua keputusan yang
dikembangkandalam asuhan menyeluruh ini harus rasional dan benar-
benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date serta
sesuai dengan asumsi tentang apayang akan dilakukan klien.
f. Langkah VI: Implementasi
Pada langkah ke enam ini rencana asuhan menyeluruh seperti
yangtelah diuraikan pada langkah ke lima dilaksanakan secara aman
dan efisien.Perencanaan ini dibuat dan dilaksanakan seluruhnya oleh
bidan atau sebagianlagi oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya.
Walaupun bidan tidakmelakukannya sendiri, bidan tetap bertanggung
jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya. Dalam kondisi dimana
bidan berkolaborasi dengan dokteruntuk menangani klien yang
mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidandalam penatalaksanaan
asuhan bagi klien adalah tetap bertanggung jawabterhadap
terlaksananyarencana asuhan bersama yang menyeluruh
tersebut.Pelaksanaan yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya
sertameningkatkan mutu dan asuhan klien.
g. Langkah VII: Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang
sudahdiberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah
benar-benartelah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah
diidentifikasididalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dapat
dianggap efektif jikamemang benar-benar efektif dalam
pelaksanaannya.Langkah-langkah proses penatalaksanaan umumnya
merupakan pengkajianyang memperjelas proses pemikiran yang
mempengaruhi tindakan serta berorientasi pada proses klinis, karena
proses penatalaksanaan tersebut berlangsung di dalam situasi klinik dan
dua langkah terakhir tergantung padaklien dan situasi klinik.
Adapun langkah-langkah analisis masalah kesehatan reproduksi adalah
sebagai berikut:
1. Mengenal masalah kesehatan reproduksi Tentukan masalah kesehatan
reproduksi,masalah determinan/faktor-faktor kesehatan kesehatan
reproduksi, dan masalah program kesehatan kesehatan reproduksi
yang akan dipecahkan; bila ada lebih darisatu masalah, tetapkan yang
menjadi prioritas.
2. Mengenal penyebab masalah Kesehatan Reproduksi Penyebab
masalah yangdimaksud dikelompokkan ke dalam penyebab masalah
kesehatan reproduksi, penyebab faktor/determinan kesehatan
reproduksi dan masalah program kesehatan reproduksi.
3. Mengenal sifatnya masalah kesehatan reproduksi.
4. Mengenal epidemiologi masalah program KIE kesehatan reproduksi
yang berhasil ialah yang memfokuskan pada perilaku sasaran (target
sasaran) yang terbatas jumlahnya. Dalam berusaha merubah perilaku,
harus memperkecil jumlah perilaku ideal dan memilih target perilaku
yang merupakan inti program KesehatanReproduksi. Target behavior
merupakan suatu proses eliminasi. Artinya,menghilangkan perilaku
yang tidak jelas dampaknya terhadap masalah yang sedangditangani
atau tidak feasible dilaksanakan oleh target sasaran. Memilih target
behavior juga merupakan proses negosiasi. Artinya, untuk memilih
target behavior,harus mengadakan negosiasi dan pembahasan dengan
target sasaran dan pemukamasyarakat lainnya yang terkait. Semua
perilaku harus digambarkan secara jelas,sederhana dan spesifik.
Semua kegiatan pokok dalam berperilaku tersebut harusdisebutkan.
(Prijatni, ida dan Sri Rahayu, 2016).
Dalam penerapan berfikir kritis, penilaian klinis dan pemeecahan
masalahmeliputi melakukan pelayanan kesehatan reproduksi dan
keluarga berencana sesuaidengan standar dan evidence based secara
prima sehingga menghasilkan keputusanyang dapat diterima dengan
baik oleh klien.
BAB III

PENUTUP

A. Simpulan
Berfikir kritis adalah cara berfikir tentang subjek, konten, atau
masalah yang dilakukan oleh pemikir secara aktif dan terampil secara
konseptual dan memaksakan standar yang tinggi atas intelektualitas
mereka.
Clinical Judgement (penilaian klinis) merupakan penerapan
informasi berdasarkan pengamatan aktual pada klien yang dikombinasikan
dengan data subjektif dan objektif yang mengarah pada kesimpulan
akhir/analisis/diagnosa.
Pemecahan masalah adalah suatu proses terencana yang perlu
dilaksanakan agar memperoleh penyelesaian tertentu dari sebuah masalah
yang mungkin tidak didapat dengan segera (Saad & Ghani, 2008: 120)
Dalam penerapan berfikir kritis, penilaian klinis dan pemecahan
masalah meliputi melakukan pelayanan kesehatan reproduksi dan keluarga
berencana sesuai dengan standar dan evidence based prima sehingga
menghasilkan keputusan yang dapat diterima dengan baik oleh klien.
DAFTAR PUSTAKA

Handajani, Siti Rini. 2016. Modul Bahan Ajar Cetak Kebidanan Komunikasi
Dalam Praktik Kebidanan. Kementrian Kesehatan Indonesia.

Insani, Adinda Ayunda, dkk. 2016. “Berpikir Kritis” Dasar Bidan Dalam
ManajemenAsuhan Kebidanan. Padang:FK Unand.

Prijatni, ida & Sri rahayu. 2016. Modul Bahan Ajar Cetak Kebidanan Kesehatan
Repoduksi Dan Keluarga Berencana. Kementrian Kesehatan Indonesia.

Saad, N.S & Ghani,A.S. 2008. Teaching Mathematics in Secondary School:


Theories and Practices. Perak:Universiti Sultan Idris

Varney Helen., Jan.M Krie & Carolyn L.Gegor. 2004.Varney’s Midwifery.


Journal of Midwifery & Women’s Health 49(1), pp 62-63available at
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1526952303004203