Anda di halaman 1dari 17

A.

ASFIKSIA NEONATORUM
1. Pengertian
Asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir tidak bernapas secara spontan segera
setelah lahir. Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO 2 dan asidosis.
Bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau
kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya.
(Saifuddin,2010)
2. Klasifikasi Asfiksia
Menurut Saifuddin (2010) nilai Appearance, Pulse, Grimace, Activity,
Respiration (APGAR) asfiksia diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:
a. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3.
b. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
c. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9.

Berikut ini tabel penilaian untuk menentukan klasifikasi asfiksia :

Tabel 2.1 Nilai APGAR


Nilai 0 1 2
Nafas Tidak ada Tidak teratur Teratur
Denyut jantung Tidak ada <100 >100
Warna kulit Biru atau & pucat. Tubuh merah Merah jambu
jambu kaki,
tangan biru
Gerakan/tonus Tidak ada Sedikit fleksi Fleksi
otot
Reflex (menangis) Tidak ada Lemah/lambat Kuat
Sumber : Ghai, 2010
3. Etiologi
Asfiksia pada BBL dapat disebabkan oleh faktor ibu, faktor bayi dan faktor tali pusat
atau plasenta.
a. Faktor Ibu
Keadaan ibu yang mengakibatkan aliran darah ibu melalui plasenta berkurang,
sehingga aliran oksigen ke janin berkurang yang mengakibatkan gawat janin dan
akan berlanjut sebagai asfiksia BBL, antara lain:
1) Preeklamsia dan eklamsia
2) Perdarahan antepartum abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
3) Partus lama atau partus macet
4) Demam sebelum dan selama persalinan
5) Infeksi berat (malaria, siphilis, TBC, HIV)
6) Kehamilan lebih bulan (≥ 42 minggu kehamilan)
b. Faktor Bayi
Keadaan bayi yang dapat mengalami asfiksia walaupun kadang-kadang tanpa
mendahului tanda gawat janin :
1) Bayi kurang bulan/prematur (kurang dari 37 minggu kehamilan)
2) Air ketuban bercampur mekonium
3) Kelainan kongenital yang memberi dampak pada pernapasan bayi
c. Faktor plasenta dan Tali Pusat
1) Infark plasenta
2) Hematoma plasenta
3) Lilitan tali pusat
4) Tali pusat pendek
5) Simpul tali pusat dan prolapsus tali pusat
4. Faktor Predisposisi
Beberapa keadaan pada ibu dapat menyebabkan aliran darah ibu melalui plasenta
berkurang, sehingga aliran oksigen ke janin berkurang, akibatnya terjadi asfiksia.
Keadaan tersebut diantaranya:
a. Gangguan sirkulasi menuju janin yang disebabkan adanya gangguan aliran pada
tali pusat.
b. Pengaruh obat karena narkosa saat persalinan.
c. Faktor ibu yang disebabkan adanya gangguan his.
d. Penurunan tekanan darah dapat mendadak (perdarahan pada plasenta previa, dan
solusio plasenta).
e. Vasokontriksi arterial (hipertensi dalam kehamilan dan gestosis preeklamsi dan
eklamsia). (Mochtar, 2012)
5. Diagnosis
Diagnosis asfiksia dapat ditegakkan melalui :
a. Anamnesis
1). Gangguan atau kesulitan waktu lahir (perdarahan antepartum, lilitan tali pusat,
sungsang, ekstraksi vakum, ekstraksi forcep, dll)
2). Lahir tidak bernapas/menangis
3). Air ketuban bercampur mekonium
b. Pemeriksaan Fisik :
1). Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap
2). Denyut jantung kurang dari 100x/menit
3). Kulit sianosis, pucat.
4). Tonus otot menurun. (saifuddin, 2010)
6. Patofisiologi Asfiksia pada Preeklamsia
Vasokontriksi pembuluh darah mengakibatkan kurangnya suplai darah ke
plasenta sehingga terjadi hipoksia janin. Akibat lanjut dari hipoksia janin adalah
gangguan pertukaran gas antara oksigen dan karbon dioksida sehingga terjadi asfiksia
neonaturum.(Wiknjosastro, 2006)
Pengembangan paru bayi baru lahir terjadi pada menit-menit pertama kemudian
disusul dengan pernapasan teratur dan tangisan bayi. Proses perangsangan pernapasan
ini dimulai dari tekanan mekanik dada pada persalinan, disusul dengan keadaan
penurunan tekanan arterial dan peningkatan karbon dioksida arterial, sehingga sinus
karotikus terangsang terjadinya proses bernapas. Bila mengalami hipoksia akibat
suplai oksigen ke plasenta menurun karena efek hipertensi dan proteinuria sejak
intrauterin, maka saat persalinan maupun pasca persalinan beresiko asfiksia.

7. Komplikasi
Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain :
a. Edema otak dan Perdarahan otak
b. Anuria atau oliguria
c. Kejang
d. Koma
8. Resusitasi Bayi Baru Lahir
Resusitasi neonatus merupakan suatu prosedur yang diaplikasikan untuk neonatus
yang gagal bernafas secara apontan dan adekuat. Resusitasi bertujuan memberikan
ventilasi yang adekuat, pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk
menyalurkan oksigen pada otak, jantung dan alat-alat vital lainnya.
Menurut saifuddin (2010), langkah-langkah resusitasi BBL dengan asfiksia
adalah:
a. Langkah awal
1) Sebelum bayi lahir
Lakukan penilaian sebagai berikut:
a) Apakah kelahiran cukup bulan ?
b) Apakah air ketuban jernih dan tidak terkontaminasi dengan mekonium?
2) Setelah bayi lahir
a) Apakah bayi bernapas adekuat atau menangis?
b) Apakah tonus otot bayi baik?
Jika semua pertanyaan dijawab YA, cukup dilakukan perawatan rutin, yaitu:
memberikan kehangatan. membuka/membersihkan jalan napas, mengeringkan dan
menilai warna. Bila salah satu atau lebih pertanyaan dijawab TIDAK lakukan langkah
awal resusitasi, meliputi:
a. Jaga bayi tetap hangat
1) Letakkan bayi di atas kain yang ada di perut ibu
2) Selimuti bayi dengan kain tersebut, dadan dan perut tetap terbuka, potong tali
pusat.
3) Pindahkan bayi ke atas kain di temapat resusitasi yang datar, rata, keras, bersih,
kering, dan hangat.
4) Jaga bayi tetap diselimuti dan di bawah pemancar panas.
b. Atur posisi bayi
1) Baringkan bayi terlentang dengan kepala sedikit penolong.
2) Ganjal bahu agar kepala sedikit ekstensi

Gambar Posisi Kepala yang Benar untuk Membuka Saluran Napas

c. Isap lender menggunakan alat penghisap lendir DeLee dengan cara isap lendir
mulai dari mulut kemudian dari hidung.
d. Keringkan dan rangsang bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh
lainnya dengan sedikit tekanan.
e. Atur kembali posisi kepala bayi dan selimuti bayi.
f. Lakukan penilaian bayi
1) Lakukan penilaian apakah bayi bernapas normal atau megap-megap.
2) Bila bayi bernapas normal, lakukan asuhan pasca resusitasi.
3) Bila bayi megap-megap atau tidak bernapas, mulai lakukan ventilasi bayi.
g. Ventilasi Tekanan Positif (VTP)
VTP dilakukan apabila pada penilaian pasca langkah awal didapatkan salah
satu keadaan berikut :
1). Apnu
2). Frekuensi jantung < 100 kali/menit
3). Tetap sianosis sentral walaupun telah diberikan oksigen aliran bebas.
Persiapan dan Prosedur Ventilasi Tekanan Positif (VTP)
a) Sebelum VTP diberikan pastikan posisi kepala dalam keadaan setengah
tengadah.
b) Pilihlah ukuran sungkup. Ukuran 1 untuk bayi berat normal, ukuran 0 untuk
bayi berat lahir rendah (BBLR).
c) Sungkup harus menutupi hidung dan mulut, tidak menekan mata dan tidak
menggantung di dagu (lihat gambar).
d) Tekan sungkup dengan jari tangan (lihat gambar 2.2). Jika terdengar udara
keluar dari sungkup, perbaiki perlekatan sungkup. Kebocoran yang paling
umum adalah antara hidung dan pipi (lihat gambar 2.2).
e) VTP menggunakan balon sungkup diberikan selama 30 detik dengan
kecepatan 40-60 kali/menit atau 20-30 kali/30 detik.
f) Pastikan bahwa dada bergerak naik turun tidak terlalu tinggi secara
sistematis.
g) Lakukan penilaian setelah VTP 30 detik.

Gambar 2.2 Pemilihan Sungkup Ukuran dan Posisi yang Benar


h. Asuhan Pasca Resusitasi
1). Resusitasi berhasil: bayi menangis dan bernapas normal sesudah langkah
awal atau sesudah ventilasi. Ajari ibu dan atau keluarga untuk membantu
bidan menilai keadaan bayi. Jelaskan mengenai pemantaun BBL bagaimana
memperoleh pertolongan segera bila bayi mengalami masalah.
2). Resusitasi belum/kurang berhasil: bayi perlu rujukan yaitu sesudah
resusitasi 2 menit belum bernapas atau megap-megap atau pada pemantauan
didapatkan kondisinya memburuk.
3). Resusitasi tidak berhasil: sesudah resusitasi 10 menit dihitung dari bayi
tidak bernapas dan detak jantung 0. Bila bayi tidak bernapas setelah
resusitasi selama 10 menit dari denyut jantung 0, pertimbangkan untuk
menghentikan resusitasi. Biasanya bayi tersebut tidak tertolong dan
meninggal. Ibu maupun keluarga memerlukan banyak dukungan moral
sesuai budaya setempat.
Gambar Resusitasi Bayi Baru Lahir

2.1 ASFIKSIA

2.1.1. PENGERTIAN ASFIKSIA


Asfiksia sendiri menurut WHO adalah kegagalan bernapas secara spontan dan teratur
segera setelah lahir. Asfiksia neonatorium adalah keadaan dimana bayi tidak dapat bernafas
secara spontan dan teratur setelah lahir (Sarwono, 2007).

Asfiksia merupakan kegagalan bernapas secara spontan dan teratur pada saat lahir
atau beberapa saat setelah lahir yang ditandai dengan keadaan PaO2 di dalam darah rendah
(hipoksemia), hiperkarbia Pa CO2 meningkat dan asidosis. (Asuhan Kebidanan
Kegawatdaruratan Maternal Neonatal,hal 166).

Asfiksia atau mati lemas adalah suatu keadaan berupa berkurangnya kadar oksigen
(O2) dan berlebihnya kadar karbon dioksida (CO2) secara bersamaan dalam darah dan
jaringan tubuh akibat gangguan pertukaran antara oksigen (udara) dalam alveoli paru-paru
dengan karbon dioksida dalam darah kapiler paru-paru. Kekurangan oksigen disebut hipoksia
dan kelebihan karbon dioksida disebut hiperkapnia.

Asfiksia neonatorium adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan
teratur,sehingga dapat menurunkan O2 dan mangkin meningkat CO2 yang menimbulkan
akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut (Manuaba 1998).

Umur muda (< 20 tahun) berisiko karena ibu belum siap secara medis (organ
reproduksi) maupun secara mental. Umur > 35 tahun secara fisik ibu mengalami kemunduran
untuk menjalani kehamilan dan merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya preeklamsia.
Pada ibu yang mengalami preeklamsia terjadi penurunan aliran darah ke plasenta
mengakibatkan gangguan fungsi plasenta sehingga dapat mengakibatkan asfiksia bayi baru
lahirserta gawat janin karena kekurangan oksigenasi (Wiknjosastro, 2007).

2.1.2 EPIDEMIOLOGI ASFIKSIA


Berdasarkan data dari WHO November 2013, jumlah kelahiran bayi hidup di
Indonesia pada tahun 2010 adalah 4.371.800, dengan kelahiran prematur sebanyak 675.700
(15,5 per 100 kelahiran hidup) dan angka kematian sebesar 32.400 (nomor 8 penyebab
kematian di Indonesia).1 Dalam 10 tahun terakhir, Angka Kematian Neonatal di Indonesia
cenderung stagnan yaitu 20/1000 kelahiran hidup (SDKI 2002- 2003) menjadi 19/1000
kelahiran hidup (SDKI 2012). Selain itu proporsi kematian neonatal terhadap kematian anak
balita cenderung meningkat dari 43% (SDKI 2002- 2003) menjadi 48% (SDKI 2012).
Penyebab utama kematian neonatal pada minggu pertama (0-6 hari) adalah asfiksia (36 %),
BBLR/ Prematuritas (32%) serta sepsis (12%) sedangkan bayi usia 7-28 hari adalah sepsis
(22%), kelainan kongenital (19%) dan pneumonia (17 %). Upaya menurunkan angka
kematian bayi adalah perawatan antenatal dan pertolongan persalinan sesuai standar yang
harus disertai dengan perawatan neonatal yang adekuat dan upaya untuk menurunkan
kematian bayi akibat bayi berat lahir rendah, infeksi pasca lahir (seperti tetanus neonatorum,
sepsis), hipotermia dan asfiksia. Dalam dekade terakhir pelayanan persalinan sudah lebih
baik namun bayi baru lahir masih banyak menderita asfiksia dan pada kasus asfiksia berat
menyebabkan Hipoksia Iskemik Ensefalopati (HIE) dan bisa menyebabkan kerusakan
neurologis permanen. Prevalensi asfiksia pada persalinan adalah 25 tahun, per 1000
kelahiran hidup di antaranya 15% adalah sedang atau berat. Pada bayi prematur, 73 per 1000
kelahiran hidup di antaranya 50% adalah sedang atau berat.3,4 Di negara berkembang, sekitar
3% bayi lahir mengalami asfiksia derajat sedang dan berat. Bayi asfiksia yang mampu
bertahan hidup namun mengalami kerusakan otak, jumlahnya cukup banyak. Hal ini
disebabkan karena resusitasi tidak adekuat atau salah prosedur.
(https://www.researchgate.net/publication/319661900_Asfiksia_pada_Bayi_Baru_Lahir_dan
_Resusitasi )[accessed Mar 19 2018].

2.1.3 ETIOLOGI ASFIKSIA


Asfiksia pada BBL dapat disebabkan oleh faktor ibu, faktor bayi dan faktor tali pusat atau
plasenta.

1. Faktor Ibu

Keadaan ibu yang dapat mengakibatkan aliran darah ibu melalui plasenta berkurang,
sehingga aliran oksigen ke janin berkurang akibatnya akan mengakibatkan gawat janin dan
akan berlanjut sebagai Asiksia BBL, antara lain :

a. Preeklampsia dan eklampsia


b. Perdarahan antepartum abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
c. Partus lama atau partus macet
d. Demam berat ( malaria, sifilis, TBC, HIV )
e. Kehamilan lebih bulan (>42 minggu kehamilan)
f. Faktor Plasenta Dan Tali Pusat

2. Faktor tali pusat

Keadaan plasenta atau tali pusat yang dapat mengakibatkan asfiksia BBL akibat penurunan
aliran darah dan oksigen melalui tali pusat bayi

a. Hematom plasenta
b. Lilitan tali pusat2
c. Talipusat pendek
d. Simpul tali pusat
e. Prolapsus tali pusat

3. Faktor Bayi

Keadaan bayi yang dapat mengalami asfiksia walaupun kaang-kadang tanpa didahului tanda
gawat.

a. Gangguan atau kesulitan waktu lahir (perdarahan antepartum, lilitan tali pusat, sungsang,
ekstaksi vakum, ekstraksi frsep, dll)
b. Lahir tidak bernafas/mensngis.
c. Air ketuban bercampur meconium ( warna hijau ).

2.1.4 TANDA DAN GEJALA ASFIKSIA


Gejala dan tanda asfiksia neonatorum yang khas antara lain meliputi pernafasan cepat,
pernafasan cuping hidung, sianosis, nadi cepat.
Gejala Lanjut Pada Asfiksia :

1.      Pernafasan megap-magap dalam

2.      Denyut jantung terus menurun

3.      Tekanan darah mulai menurun

4.      Bayi terlihat lemas (flaccid)

5.      Menurunnya tekanan O2 anaerob (PaO2)

6.      Meningginya tekanan CO2 darah (PaO2)


7.      Menurunnya PH (akibat acidosis respiratorik dan metabolik)

8.      Dipakainya sumber glikogen tubuh anak metabolisme anaerob

9.      Terjadinya perubahan sistem kardiovaskular

10.  Pernafasan terganggu

11.  Detik jantung berkurang


12.  Reflek / respon bayi melemah
13.  Tonus otot menurun
14.  Warna kulit biru atau pucat

2.1.5 PENATALAKSANAAN ASFIKSIA


A.PERSIAPAN
Resusitasi BBL disiapakan sebelum menolong setiap persalianan

1.Persiapan Keluarga

1) Keluarga diberitahukan tentang persiapan persalinan dan resusitasi BBL


2) Diagnosa ,penatalaksanaan dan komplikasi yang mugkin terjadi dijelaskan pada suami
/keluarga
3) Persetujuan tindakan (informed consent)ditanda tangani oleh keluarga

2.Persiapan tempat

1) Ruangan yang hangat tidak berangin ,terang disiapakan penolong


2) Tempat /meja resusitasi rata ,keras,bersih,kering,hangat disiapakan penolong

3.Persiapan Alat

Alat resusitasi disediakan penolong lengkap ,yaitu:

1) Kain 3 helai (handuk,selimut,ganjal bahu)


 Kain ke 1 /handuk ,diletakan di atas perut ibu untuk mengeringkan bayi
 Kain ke 2,di gelar di atas meja /tempat resusitasi untuk membungkus bayi
 Kain ke 3,di gulung dan di letakan di bawah kain 2 untuk menganjal bahu bayi
2) Alat penghisap lendir De Lee steril dalam kotal alat steril
3) Alat resusitasi tabung dan sungkup steril dalam kotak alat steril
4) Jam /pencatat waktu (stop watch )untuk mencataat waktu
5) Sarung tangan untuk pencegahan infeksi
6) Kotak alat resusitasi steril didekatkan di tempat resusitasi
7) Radian warmer/lampu sorot 60 watt jaral 60 cm

4.Persiapan Diri :

1) Alat pelindung diri di pakai pada saat persalinan


2) Kedua tangan di cuci dengan air mengalir dan sabun,lalu di keringkan
3) Kedua sarung tangan di pkai menjelang kelahiran

B.PENILAIAN

Penilaian resusitasi BBL di nilai :

1) Pada saat klien datang dengan tanda persaliana :umur kehamilan


2) Sebelum bayi lahir:apakah air ketuban bercampur mekonium
3) Segera sesudah lahir :menangis kuat atau tidak

Keputusan Resusitasi BBL

Resusitasi BBL di putuskan ,bila :

 Bayi tidak bernafas atau bernafas megap-megap


 Air ketuban bercampur mekonium ,segera setelah lahir :
-letakan bayi di perut ibu dengan kepala dekat penolong
-mult bayi di buka lebar denga jari penolong dilindungi kasa
-lendir di hisap dari mulut ,baru hidung ,dihisap pada saat melepaskan balon de
lee
-segera bungkus bayi ,potong tali pusat ,bawa kemeja resusitsi

C.TINDAKAN RESUSITASI BBL

TINDAKAN RESUSITASI BBL:LANGKAH AWAL

Bayi tidak bernafas /tidak menangis atau bernafas megap-megap

Jaga bayi tetap hangat :

1) Bayi dibungkus dan dipindahkan ketempat resusitasi


Atur posisi Bayi

2) Bahu bayi di ganjal kain dan posisi kepala diatur sedikit ektensi
3) Kepala bayi dimiringkan pada satu sisi
4) Buka daerah muka,dada dan perut bayi

Isap Lendir

5).Lendir pada mulut di hisap terlebih dahulu ,sedalam <5cm (posisi balon de lee di takan )
pada sat ujung de lee sudah berada di daerah mulut baru tekanan pada balon de lee di
lepaskan dan lendir akan terhisap

6)hisap lendir pada daerah mulut sampai bersih .(pada saat balon de lee di pencet untuk
membung cairan sudah tidak ada lagi cairan lendir yang keluar )

7)Lendir pada hidung dihisap kemudian ,sedalam <3 cm (pada saat balon de lee di ujung
hidung posisi balon susdah di tekan di lepaskan perlahan .

8)hisap lendir pada daerah mulut sampai bersih (posisi saat balon dee lee di pencet untuk
membuang cairan sudah tidak ada lagi/cairan yang keluar )

Keringkan dan Rasangan bayi

9).Bayi di keringkan mulai muka ,kepala ,tubuh dengan sedikit tekanan

10).Punggung ,perut,dada,atau tungakai bayi digososk dengan sedikit tekanan

11).Kain yang basah di ganti denfan kain yang kering.

Reposisi kepala bayi dan bungkus bayi:

12).Bayi di bungkus dengan kain yang kering,bagian muka dan dada di buka

13).Posisi kepala bayi diatur kembali agar sedikt ekstensi

Penilaian bayi:

14). Hitung denyut jantung anak selama 6 detik, lalau dikalikan 10

Jika hasilnya :

 <100/mnt/mnt,…lanjutkan langkah 15
 >1oox/mnt ,…lanjutkan**
15). Bila bayi tidak bernapas atau megap-megap atau Denyut jantung <100x/menit segera
lakukan ventilasi

 Pasang sungkup pada muka bayi, menutup hidung dan mulut


 Lakukan tekanan pada bag mask ventilasi (BMV) (lihat no 16)
 Perhatikan daerah dada bayi pada saat BMV ditekan, apabila dada bayi tidak
mengembang maka lakukan :
o Periksa sungkup bayi
o Reposisi bayi
o Lakukan kembali ventilasi, bila dada bayi mengembang , lanjutkan ventilasi
sebanyak 49 kali selama 60 detik

16). Bila dada bayi mengembang , lamgkah ventilasi dilanjutkan Dengan cara menekan
BMV sebanyak 49 kali dalam 60 detik

17). Lakukan penilaian :

 Jika denyut jantung <100x/menit segera rujuk, (maksimal persiapan rujukan 10 menit)
 Jika denyut jantung > lanjutkan langkah **

18). Bila denyut jantung >100x/menit, maka

1) Ventilasi dihentikan ,
2) Asuhan pasca resusitasi diberikan pada BBL **

Bila bayi tidak Bernafas sesudah ventilasi 10 menit

 Hentikan tindakan resusitasi


 Beritahu keluarga tentang kematian bayinya

**PEMANTAUAN DAN DUKUNGAN

Lakukan Pemantauan Seksama Bayi Pasca Resusitasi Selama 2 Jam (1 jam pertama tiap 15
menit,

Lakukan pemantauan tanda bahaya pada bayi

1. Mengamati adanya napas megap-megap


2. Mengamati apakah bayi merintih
3. Mengamati adanya tarikan dinding dada
4. Mengamati apakah tubuh dan bibir biru
5. Menghitung frekwensi napas, apakah <40x/menit atau >60x/menit
6. Menghitung frekwensi jantung, apakah <120x/menit atau >160x/menit
7. Mengamati apakah tubuh bayi pucat
8. Mengamati apakah tubuh bayi kuning
9. Mengamati apakah bayi lemas
10. Mengamati apakah bayi kejang
11. Merujuk segera bila ada salah satu tanda-tanda bahaya
12. Melakukan tindakan pra rujukan bila terdapat salah satu atau lebih tanda bahaya
13. Lakukan pemantauan dan perawatan tali pusat
14. Memantau perdarahan tali pusat, jikan ikatan lepas betulkan
15. Menjelaskan perawatan tali pusat yang benar

Pencegahan hipotermi

16. Membaringkan bayi dalam ruangan>25c bersama ibunya


17. Mendekap bayi dengan lekatan kulit ke kulit sesering mungkin (setelah 2 jam
observasi K/U baik)
18. Menunda memandikan bayi sampai dengan 6-24jam
19. Mengukur panjang badan dan lingkar kepala bayi
20. Menimbang berat badan terselimuti, kurangi berat selimut
21. Menjaga bayi tetap hangat selama pemeriksaan , buka selimut bayi sebagian-sebagian

Pemberian vitamin K

22. Memberikan suntikan vitamin K 1 di paha kiri 1 mg IM

Pencegahan infeksi

23. Memberikan salep mata antibiotika


24. Memberikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan 0,5 mL IM, 1-2 jam setelah
pemberian vitamin K1
25. Memberitahu ibu dan keluarga cara pencegahan infeksi bayi
26. Lakukan pemeriksaan fisik

Setelah 2 jam pemantauan pasca resusitasi :

27. Meletakan bayi di dada ibu (kulit ke kulit), menyelimuti keduanya


28. Membantu ibu untuk menyusui bayi dalam 1 jam pertama
29. Menganjurkan ibu mengusap bayinya dengan kasih saying

Jaga bayi tetap hangat dan kering

30. Memandikan bayi ditunda sampai 6-24 jam

Bila kondisi bayi memburuk

31. Bayi dirujuk bila ada tanda-tanda bahaya

Apa yang perlu dicatat?

32. Catatn identitas , kondisi bayi, laporan tindakan, waktu, hasil, dibuat

Bila Bayi Perlu Rujukan :

Yang harus dilakukan terhadap keluarga

33. Konseling diberikan untuk merujuk bayi dengan ibunya dan keluarga
34. Petunjuk perawatab BBL diberikan dalam perjalanan
35. Selama dalam perjalanan lakukan VTP
36. Yang perlu disiapkan
1) Catatan lengkap dibuat untuk sarana rujukan dan untuk arsip
2) Surat rujukan dibuat

Bila Resusitasi Tak Berhasil

37. Konseling dilakukan kepada ibu/keluarga


38. Ibu diberikan petunjuk untuk perawatan payudara
39. Pencatatan dan laporan kematian dibuat

DOKUMENTASI

1. Tanggal dan jam lahir


2. Kondisi saat bayi baru lahir
3. Jam mulai resusitasi
4. Tindakan yang dilakukan sewaktu resusitasi
5. Kapan bayi bernapas spontan atau berhenti resusitasi
6. Hasil resusitasi
7. Perawatan yang diberikan pasca resusitasi
2.1.6 ASUHAN KEBIDANAN
Bidan berwenang melakukan sesuai Standar 24 : Penanganan Asfiksia Neonaturum yaitu :

Bidan mengenali secara tapat bayi baru lahir dengan asfiksia, serta melakukan tindakan
secepatnya, memulai resusitasi, mengusahakan bantuan medis, merujuk bayi baru lahir
dengan tepat dan memberiakan perawatan lanjutan yang tepat. Tujuan yang diharapkan yaitu
mengenal dengan tepat bayi baru lahir dengan asfiksia, mengambil tindakan yang tepat dan
melakukan pertolongan kegawatdaruratan.