Anda di halaman 1dari 20

[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

BAB I
Tujuan dan Tinjauan Teori

I.1 Tujuan
– Mengamati perilaku partikel unggun (bed) dengan udara mengalir ke atas.
– Menyelidiki hubungan antara ketinggian unggun dan penurunan tekanan (pressure drop).
– Menyelidiki pengaruh :
• Kecepatan superfisial.
• Kedalaman kerendaman (depth ofimersion).
• Ukuran partikel.
Pada koefisien transfer panas suatu permukaan panas yang terendam dalam unggun
terfluidisasi.

I.2 Tinjauan Teori

Apabila suatu aliran udara melewati partikel unggun yang ada dalam tabung, maka aliran
tersebut memberikan gaya seret (drag force) pada partikel dan menimbulkan pressure drop
sepanjang unggun. Pressure drop akan naik jika kecapatan superfisial naik. Kecepatan superfisial
adalah kecepatan aliran jika tabung kosong.
Pada kecepatan superfisial rendah, unggun mula-mula diam. Jika kemudian kecepatan
superfisial dinaikkan, maka pada suatu saat gaya seret fluida akan menyebabkan unggun
mengambang dan menyebabkan tahanan terhadap aliran udara mengecil, sampai akhirnya gaya
seret tersebut cukup untuk mendukung gaya berat partikel unggun. Kemudian unggun
terfluidisasi dan ssistem padat/fluida menunjukkan sifat-sifat seperti fluida.
Sementara itu pressure drop sepanjang unggunakan tetap walaupun kecepatan superfisial
terus dinaikkan dan sama dengan berat efektif unggun persatuan luas.

Ap =
M
(ρ p − ρ f )g
ρ p .Sb

Kecepatan superfisial terendah yang dibutuhkan untuk terjadinya fluidisasi disebut MINIMUM
FLUIDIZATION VELOCITY (Umf).

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

Jika kecepatan gas di atas Umf, unggun akan mulai “bubbling”, kondisi ini disebut
AGGREGATIVE FLUIDATION dan rongga-rongga seperti gelembung uap akan
membangkitkan sirkulasi partikel unggun.
Sementara itu kecepatan gas antar partikel (interstitial velocity) praktis sehingga
kenaikkan kecepatan superfisial yang ekstrim akan menyebabkan timbulnya gelembung yang
sangat besar, memenuhi seluruh tabung dan mendurung slugs partikel (terjadi slugging bed).

Pada saat ini pressure drop mungkin melampaui berat persatuan luas karena adanya
interaksi partikel dengan dinding tabung. Jika densitas fluidanya lebih besar atau partikel unggun
lebih ringan (1400 kgm) dan lebih kecil (20-100 kgm), kemungkinan unggun dapat tertahan
dalam keadaan mengambang lebih stabil (PARTICULATE FLUIDIZATION), sampai kecepatan
superfisial dua atau tiga kali Umf. Kondisi terfluidisasi non bubbling disebut QUIESCENT BED.
Partikel unggun yang lebih ringan, lebih halus dan bersifat kohesif sangat sukar
terfluidisasi karena gaya tarik antar partikel lebih besar daripada gaya seretnya. Sehingga partikel
cenderung melekat satu sama lain dan gas menembus unggun dengan membentuk CHANNEL.

I.2.1 Penentuan Kecepatan Fluidisasi Minimum.

Untuk memprediksi kecepatan fluidisasi minimum, Ergun menurunkan suatu korelasi


dengan cara menyamakan Pressure Drop pada saat kecepatan fluidisasi minimum dengan berat
unggun persatuan luas dan diperoleh dengan persamaan sebagai berikut :

1 − Emf 1.75 2
Ar = 150 2 3 Remf + Remf
φ .Emf φ .Emf3
µ mf .dp
Remf =
µ

Suku pertama persamaan Ergun dominan pada aliran laminer, sedangkan suku kesua
dominan pada aliran turbulen.

I.2.2 Estimasi Voidage (kekosongan antar partikel)

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

Untuk material yang tidak mempunyai proses internal, voidage dapat diestimasi dari
densiti partikel (ρp) dan densiti unggun (ρb).

ρb
ε = 1−
ρp
ρ bmf
ε mf = 1 −
ρp
Masa partikel dalam unggun
ρ bmf =
Volume unggun pada U mf

Faktor bentuk adalah:

Luas permukaanbola pada volume tertentu


φ=
Luas permukaan partikel pada volume yang sama

Faktor bentuk untuk partikel yang berbentuk tidak teratur susah ditentukan. Untuk bahan yang
dipakai dalam percobaan, kira-kira mempunyai harga Φ = 0.73

I.2.3 Pengukuran Kecepatan Fluida Minimum

Superficial
Pressure
Minimum drop
Velocity
across bed
Fluidization
Velocity

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

Pengukuran kecepatan fluidisasi minimum dapat diperoleh dari grafik pressure drop vs
superficial velocity, yaitu sesuai titik potong antara bagian kurva yang naik dan bagian kurva
yang datar.

I.2.4 Ketinggian Unggun

Tinggi unggun dapat diplot terhadap kecepatan superficial. Untuk kecepatan superficial
tinggi, permukaan menggunakan berfluktuasi karena pecahnya gelembung di permukaan,
sehingga ketinggian unggun hanya dapat diukur dengan perkiraan

I.2.5 Perilaku Gelembung

Gelembung yang lebih besar cenderung naik lebih cepat daripada yang kecil. Sehingga
antara gelembung dapat terjadi tumbukan dan bergabung (Coalescence) dan gelembung semakin
tumbuh besar.
Dinding tabung juga mempengaruhi gerakan gelembung, sehingga gelembung cenderung
bergerak ke arah dalam unggun.

I.2.6 Sifat-Sifat Perpindahan Panas Unggun Terfluidisasi

Unggun yang terfluidisasi oleh gelembung – gelembung tercampur dengan sangat baik
karena partikel – partikel unggun tersirkulasi oleh gelembung – gelembung yang naik. Akibatnya
temperatur unggun sangat seragam, walaupun terdapat reaksi yang sangat eksotermis. Juga luas
permukaan transfer panas antara gas dan unggun cukup tinggi sehingga gas dan partikel cepat
mencapai temperatur yang sama. Laju transfer panas yang tinggi juga dapat diperoleh antara
permukaan panas yang dicelup di dalam unggun yang terfluidisasi. Tiga mekanisme yang
menyumbangkan transfer panas antara unggun terfluidisasi dan permukaan adalah :

1. Untuk partikel unggun dengan diameter lebih kecil 500 dan densiti lebih kecil 4000 kg m
( kecuali partikel halus yang sangat kohesive ), mekanisme utama adalah adanya sirkulasi
antara bulk unggun dan partikel yang berdekatan dengan permukaan panas ( PARTICLE
CONVECTIVE MECHANISME ). Partikel mampu mentransfer banyak panas karena

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

mempunyai kapasitas panas pada saat awal partikel berdekatan dengan permukaan panas,
terdapat gradien temperatur lokal yang besar, terdapat perbedaan temperatur yang besar
antara bulk unggun dan permukaan sehingga laju perpindahan panas sangat besar. Tapi
makin lama temperatur unggun makin mendekati temperatur permukaan sehingga laju
transfer panas turun. Jadi untuk suatu selang waktu tertentu laju transfer panas semakin
tinggi jika partikel bersinggungan dengan permukaan panas dalam residen time yang
singkat, yang dapat diperoleh dengan mengatur kondisi operasi. Tetapi harus diingat
bahwa residen time yang ekstrim kecil untuk memperoleh koefisien perpindahan panas
yang paling tinggi dibatasi oleh konduktivitas panas gas dan jarak jalur transfer panas
terpendek dimana panas mengalir secara konduksi antara partikel unggun dan permukaan
panas. Ini berarti bahwa semakin kecil ukuran partikel diharapkan diperoleh koefisien
(dengan unggun dari material jenis ini, transfer panas secara konveksi melalui gas
diabaikan karena aliran intersial laminer). Jelas bahwa perilaku unggun sangatlah
kompleks, sehingga tidak mungkin memperkirakan harga koefisien transfer panas hanya
dengan meninjau satu prinsip saja. Satu test dengan menggunakan bola kalorimeter
dicelupkan dalam unggun panas dan koefisien transfer panas diturunkan dari laju
perubahan temperatur bola, diperoleh :
−0.96
hpcmax = 35.8 ρ p k g d p
0.2 0. 6

2. Untuk unggun dengan ukuran/densiti lebih besar, kecepatan interstitial adalah turbulen,
yang berarti bahwa transfer panas konveksi melalui gas menjadi penting. Jika transfer
panas mode ini menjadi dominan, maka transfer panas akan naik dengan naiknya
diameter partikel. (karena makin besar partikel, makin besar turbulensi kecepatan
interstitial).
3. Untuk temperatur yang lebih tinggi akan terdapat perbedaan temperatur yang
sangat besar antara unggun dan permukaan panas sehingga transfer panas secara radiasi
menjadi penting.

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

BAB II
Pengolahan Data

II.1 Data Mentah


• Percobaan 1
Laju alir besar → kecil
Q P1 P2 Hb ∆P
1.70 4 3.8 16 0.2
1.40 4.1 3.4 14.5 0.7
1.00 3.1 1.4 9.5 1.7
0.60 2.3 0.5 5.5 1.8
0.40 1.3 0.4 5.5 0.9
0.00 0.1 0.1 5.5 0
Laju alir kecil → besar
Q P1 P2 Hb ∆P
0.00 0.1 0.1 5.5 0
0.40 1.2 0.3 5.5 0.9
0.60 2 0.4 5.5 1.6
1.00 3 1.1 8.7 1.9
1.40 3.5 2.1 14.2 1.4
1.70 3.6 3 15.5 0.6

• Percobaan 2
Heater Tidak Tercelup T=100oC
Termoko Q Δh Hb T2 T3
h1 h2
pel (m3/s) (m) (m) (C) (C)
tercelup 0.0017 0.037 0.03 0.007 0.15 40 33
0.02
0.0014 0.034 2 0.012 0.13 40 32
0.01
0.001 0.032 5 0.017 0.087 38 32
0.00
0.0006 0.018 5 0.013 0.055 38 31
0.00
0.0004 0.012 3 0.009 0.055 38 31
0.00
0 0 1 0.001 0.055 40 30
tidak
tercelup 0.0017 0.035 0.03 0.005 0.098 40 35
0.02
0.0014 0.035 4 0.011 0.088 40 35

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

0.01
0.001 0.028 1 0.017 0.075 38 34
0.00
0.0006 0.017 7 0.01 0.055 38 33
0.00
0.0004 0.013 2 0.011 0.055 38 33
0.00
0 0 1 0.001 0.055 40 33
Heater Tidak Tercelup T=120oC
Termoko Q Δh Hb T2 T3
pel (m3/s) h1 h2 (m) (m) (C) (C)
tercelup 0.0017 0.036 0.032 0.004 0.0123 39 31
0.0014 0.036 0.024 0.012 0.083 38 31
0.001 0.033 0.011 0.022 0.068 38 30
0.0006 0.02 0.005 0.015 0.055 37 30
0.0004 0.015 0.004 0.011 0.055 37 30
0 0 0.001 0.001 0.055 37 30
tidak
tercelup 0.0017 0.035 0.029 0.006 0.1 38 33
0.0014 0.034 0.022 0.012 0.087 38 33
0.001 0.03 0.012 0.018 0.073 37 33
0.0006 0.02 0.007 0.013 0.055 37 32
0.0004 0.014 0.003 0.011 0.055 36 31
0 0.001 0.002 0.001 0.055 36 31

Heater Tidak Tercelup T=140oC


Termoko Q Δh Hb T2 T3
pel (m3/s) h1 h2 (m) (m) (C) (C)
tercelup 0.0017 0.04 0.034 0.006 0.13 37 33
0.0014 0.035 0.022 0.013 0.09 37 33
0.001 0.03 0.012 0.018 0.068 35 33
0.0006 0.02 0.005 0.015 0.055 35 33
0.0004 0.012 0.005 0.007 0.055 35 33
0 0 0 0 0.055 37 33
tidak
tercelup 0.0017 0.035 0.027 0.008 0.093 41 35
0.0014 0.032 0.021 0.011 0.086 40 35
0.001 0.029 0.011 0.018 0.077 39 34
0.0006 0.022 0.006 0.016 0.055 38 33
0.0004 0.014 0.004 0.01 0.055 37 33
0 0.001 0.001 0 0.055 37 32

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

Heater Tercelup T= 100oC


Termoko Q Hb T2 T3
pel (m3/s) h1 h2 Δh (m) (m) (C) (C)
tercelup 0.0017 0.04 0.03 0.01 0.095 39 32
0.0014 0.036 0.021 0.015 0.087 39 32
0.001 0.033 0.012 0.021 0.075 38 32
0.0006 0.021 0.004 0.017 0.055 38 32
0.0004 0.013 0.003 0.01 0.055 37 32
0 0 0.001 0.001 0.055 37 32
tidak
tercelup 0.0017 0.036 0.032 0.004 0.1 39 34
0.0014 0.033 0.021 0.012 0.09 39 34
0.001 0.032 0.011 0.021 0.075 38 33
0.0006 0.02 0.003 0.017 0.055 37 33
0.0004 0.015 0.002 0.013 0.055 36 32
0 0 0.001 0.001 0.055 36 32

Heater Tercelup T=120oC


Termoko Q Hb T2 T3
pel (m3/s) h1 h2 Δh (m) (m) (C) (C)
tercelup 0.0017 0.04 0.033 0.007 0.117 39 32
0.0014 0.036 0.024 0.012 0.088 40 32
0.001 0.033 0.014 0.019 0.08 50 31
0.0006 0.02 0.003 0.017 0.055 62 30
0.0004 0.016 0.002 0.014 0.055 64 30
0 0 0.001 0.001 0.055 67 30
tidak
tercelup 0.0017 0.037 0.029 0.008 0.1 40 35
0.0014 0.039 0.024 0.015 0.093 41 35
0.001 0.032 0.011 0.021 0.074 41 35
0.0006 0.023 0.005 0.018 0.055 41 34
0.0004 0.013 0.002 0.011 0.055 40 34
0 0.001 0.001 0 0.055 39 33

Heater Tercelup T=140oC


Termoko Q Hb T2 T3
pel (m3/s) h1 h2 Δh (m) (m) (C) (C)
tercelup 0.0017 0.04 0.034 0.006 0.12 40 33
0.0014 0.035 0.024 0.011 0.11 40 33
0.001 0.03 0.012 0.018 0.08 38 33
0.0006 0.025 0.005 0.02 0.055 38 32

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

0.0004 0.015 0.003 0.012 0.055 36 32


0 0.002 0.001 0.001 0.055 36 31
tidak
tercelup 0.0017 0.04 0.033 0.007 0.095 42 34
0.0014 0.038 0.024 0.014 0.09 43 34
0.001 0.024 0.019 0.02 0.075 43 33
0.0006 0.024 0.006 0.018 0.055 42 33
0.0004 0.017 0.003 0.014 0.055 42 32
0 0.003 0.002 0.001 0.055 41 32

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

II.2 Pengolahan Data

Dengan menggunakan persamaan berikut pengolahan data untuk percobaan 2 dapat dilakukan:

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

Q T2 T3
rmokopel h1 h2 Δh (m) Hb (m) U (m/s) ∆P (N/m2) μ (Ns/m2) Re Nu Cs Cp ε h
(m3/s) (C) (C)

tercelup 0.0017 0.037 0.03 0.007 0.15 40 33 0.200795 0.08232 1.3048E-05 2.29E-02 8.13E-02 19.5546 3.534975 0.999985 2.07E-02

0.0014 0.034 0.022 0.012 0.13 40 32 0.165903 0.14112 1.3048E-05 1.89E-02 8.28E-02 19.5546 3.534975 0.999971 2.10E-02

0.001 0.032 0.015 0.017 0.087 38 32 0.117745 0.19992 1.2983E-05 1.35E-02 7.61E-02 19.46784 3.533825 0.999938 1.94E-02

0.0006 0.018 0.005 0.013 0.055 38 31 0.070879 0.15288 1.2983E-05 8.12E-03 5.32E-02 19.46784 3.533825 0.999925 1.35E-02

0.0004 0.012 0.003 0.009 0.055 38 31 0.047253 0.10584 1.2983E-05 5.42E-03 3.51E-02 19.46784 3.533825 0.999948 8.92E-03

0 0 0.001 0.001 0.055 40 30 0 0.01176 1.3048E-05 0.00E+00 0.00E+00 19.5546 3.534975 0.999994 0.00E+00
tidak
tercelup 0.0017 0.035 0.03 0.005 0.098 40 35 0.199492 0.0588 1.3048E-05 2.28E-02 8.27E-02 19.5546 3.534975 0.999984 2.10E-02

0.0014 0.035 0.024 0.011 0.088 40 35 0.164287 0.12936 1.3048E-05 1.87E-02 8.86E-02 19.5546 3.534975 0.99996 2.25E-02

0.001 0.028 0.011 0.017 0.075 38 34 0.116978 0.19992 1.2983E-05 1.34E-02 7.86E-02 19.46784 3.533825 0.999928 2.00E-02

0.0006 0.017 0.007 0.01 0.055 38 33 0.070416 0.1176 1.2983E-05 8.07E-03 4.95E-02 19.46784 3.533825 0.999942 1.26E-02

0.0004 0.013 0.002 0.011 0.055 38 33 0.046944 0.12936 1.2983E-05 5.38E-03 3.67E-02 19.46784 3.533825 0.999936 9.33E-03

0 0 0.001 0.001 0.055 40 33 0 0.01176 1.3048E-05 0.00E+00 0.00E+00 19.5546 3.534975 0.999994 0.00E+00

Q T2 T3
termokopel (m3/s) h1 h2 Δh (m) Hb (m) (C) (C) U (m/s) ∆P (N/m2) μ (Ns/m2) Re Nu Cs Cp ε h

tercelup 0.0017 0.036 0.032 0.004 0.0123 39 31 0.201471 0.04704 1.3015E-05 2.30E-02 1.33E-01 19.51139 3.5344 0.999896 3.37E-02

0.0014 0.036 0.024 0.012 0.083 38 31 0.165385 0.14112 1.2983E-05 1.90E-02 9.26E-02 19.46784 3.533825 0.999954 2.36E-02

0.001 0.033 0.011 0.022 0.068 38 30 0.118522 0.25872 1.2983E-05 1.36E-02 8.68E-02 19.46784 3.533825 0.999897 2.21E-02

0.0006 0.02 0.005 0.015 0.055 37 30 0.070885 0.1764 1.295E-05 8.14E-03 5.52E-02 19.42397 3.53325 0.999913 1.40E-02

0.0004 0.015 0.004 0.011 0.055 37 30 0.047256 0.12936 1.295E-05 5.43E-03 3.69E-02 19.42397 3.53325 0.999936 9.39E-03

0 0 0.001 0.001 0.055 37 30 0 0.01176 1.295E-05 0.00E+00 0.00E+00 19.42397 3.53325 0.999994 0.00E+00
tidak
tercelup 0.0017 0.035 0.029 0.006 0.1 38 33 0.199512 0.07056 1.2983E-05 2.29E-02 8.64E-02 19.46784 3.533825 0.999981 2.20E-02

0.0014 0.034 0.022 0.012 0.087 38 33 0.164304 0.14112 1.2983E-05 1.88E-02 9.11E-02 19.46784 3.533825 0.999956 2.32E-02

0.001 0.03 0.012 0.018 0.073 37 33 0.116983 0.21168 1.295E-05 1.34E-02 8.04E-02 19.42397 3.53325 0.999921 2.04E-02

0.0006 0.02 0.007 0.013 0.055 37 32 0.07042 0.15288 1.295E-05 8.09E-03 5.30E-02 19.42397 3.53325 0.999925 1.35E-02

0.0004 0.014 0.003 0.011 0.055 36 31 0.046949 0.12936 1.2918E-05 5.41E-03 3.68E-02 19.37975 3.532675 0.999936 9.36E-03

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

0 0.001 0.002 0.001 0.055 36 31 0 0.01176 1.2918E-05 0.00E+00 0.00E+00 19.37975 3.532675 0.999994 0.00E+00

Q T2 T3
termokopel (m3/s) h1 h2 Δh (m) Hb (m) (C) (C) U (m/s) ∆P (N/m2) μ (Ns/m2) Re Nu Cs Cp ε h

tercelup 0.0017 0.04 0.034 0.006 0.13 37 33 0.198871 0.07056 1.295E-05 2.29E-02 8.08E-02 19.42397 3.53325 0.999985 2.06E-02

0.0014 0.035 0.022 0.013 0.09 37 33 0.163776 0.15288 1.295E-05 1.88E-02 9.20E-02 19.42397 3.53325 0.999954 2.34E-02

0.001 0.03 0.012 0.018 0.068 35 33 0.116228 0.21168 1.2885E-05 1.34E-02 8.16E-02 19.33518 3.5321 0.999916 2.08E-02

0.0006 0.02 0.005 0.015 0.055 35 33 0.069737 0.1764 1.2885E-05 8.05E-03 5.47E-02 19.33518 3.5321 0.999913 1.39E-02

0.0004 0.012 0.005 0.007 0.055 35 33 0.046491 0.08232 1.2885E-05 5.37E-03 3.27E-02 19.33518 3.5321 0.999959 8.30E-03

0 0 0 0 0.055 37 33 0 0 1.295E-05 0.00E+00 0.00E+00 19.42397 3.53325 1 0.00E+00


tidak
tercelup 0.0017 0.035 0.027 0.008 0.093 41 35 0.200129 0.09408 1.308E-05 2.28E-02 9.44E-02 19.59749 3.53555 0.999973 2.40E-02

0.0014 0.032 0.021 0.011 0.086 40 35 0.164287 0.12936 1.3048E-05 1.87E-02 8.91E-02 19.5546 3.534975 0.999959 2.27E-02

0.001 0.029 0.011 0.018 0.077 39 34 0.117354 0.21168 1.3015E-05 1.34E-02 7.93E-02 19.51139 3.5344 0.999926 2.02E-02

0.0006 0.022 0.006 0.016 0.055 38 33 0.070416 0.18816 1.2983E-05 8.07E-03 5.57E-02 19.46784 3.533825 0.999907 1.42E-02

0.0004 0.014 0.004 0.01 0.055 37 33 0.046793 0.1176 1.295E-05 5.38E-03 3.58E-02 19.42397 3.53325 0.999942 9.10E-03

0 0.001 0.001 0 0.055 37 32 0 0 1.295E-05 0.00E+00 0.00E+00 19.42397 3.53325 1 0.00E+00

Q T2 T3
termokopel (m3/s) h1 h2 Δh (m) Hb (m) (C) (C) U (m/s) ∆P (N/m2) μ (Ns/m2) Re Nu Cs Cp ε h

tercelup 0.0017 0.04 0.03 0.01 0.095 39 32 0.20081 0.1176 1.3015E-05 2.30E-02 9.98E-02 19.51139 3.5344 0.999966 2.54E-02

0.0014 0.036 0.021 0.015 0.087 39 32 0.165373 0.1764 1.3015E-05 1.89E-02 9.67E-02 19.51139 3.5344 0.999945 2.46E-02

0.001 0.033 0.012 0.021 0.075 38 32 0.117745 0.24696 1.2983E-05 1.35E-02 8.33E-02 19.46784 3.533825 0.999911 2.12E-02

0.0006 0.021 0.004 0.017 0.055 38 32 0.070647 0.19992 1.2983E-05 8.10E-03 5.67E-02 19.46784 3.533825 0.999902 1.44E-02

0.0004 0.013 0.003 0.01 0.055 37 32 0.046947 0.1176 1.295E-05 5.39E-03 3.59E-02 19.42397 3.53325 0.999942 9.12E-03

0 0 0.001 0.001 0.055 37 32 0 0.01176 1.295E-05 0.00E+00 0.00E+00 19.42397 3.53325 0.999994 0.00E+00
tidak
tercelup 0.0017 0.036 0.032 0.004 0.1 39 34 0.199502 0.04704 1.3015E-05 2.28E-02 7.79E-02 19.51139 3.5344 0.999987 1.98E-02

0.0014 0.033 0.021 0.012 0.09 39 34 0.164296 0.14112 1.3015E-05 1.88E-02 9.02E-02 19.51139 3.5344 0.999958 2.29E-02

0.001 0.032 0.011 0.021 0.075 38 33 0.11736 0.24696 1.2983E-05 1.35E-02 8.31E-02 19.46784 3.533825 0.999911 2.11E-02

0.0006 0.02 0.003 0.017 0.055 37 33 0.07019 0.19992 1.295E-05 8.06E-03 5.65E-02 19.42397 3.53325 0.999902 1.44E-02

0.0004 0.015 0.002 0.013 0.055 36 32 0.046795 0.15288 1.2918E-05 5.39E-03 3.83E-02 19.37975 3.532675 0.999925 9.73E-03

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

0 0 0.001 0.001 0.055 36 32 0 0.01176 1.2918E-05 0.00E+00 0.00E+00 19.37975 3.532675 0.999994 0.00E+00

Q T2 T3
termokopel (m3/s) h1 h2 Δh (m) Hb (m) (C) (C) U (m/s) ∆P (N/m2) μ (Ns/m2) Re Nu Cs Cp ε h

tercelup 0.0017 0.04 0.033 0.007 0.117 39 32 0.20081 0.08232 1.3015E-05 2.30E-02 8.67E-02 19.51139 3.5344 0.999981 2.20E-02

0.0014 0.036 0.024 0.012 0.088 40 32 0.165903 0.14112 1.3048E-05 1.89E-02 9.13E-02 19.5546 3.534975 0.999957 2.32E-02

0.001 0.033 0.014 0.019 0.08 50 31 0.122691 0.22344 1.3369E-05 1.37E-02 8.12E-02 19.96944 3.540725 0.999924 2.06E-02

0.0006 0.02 0.003 0.017 0.055 62 30 0.076601 0.19992 1.3749E-05 8.29E-03 5.85E-02 20.42946 3.547625 0.999902 1.49E-02

0.0004 0.016 0.002 0.014 0.055 64 30 0.051372 0.16464 1.3811E-05 5.53E-03 4.03E-02 20.5025 3.548775 0.999919 1.03E-02

0 0 0.001 0.001 0.055 67 30 0 0.01176 1.3905E-05 0.00E+00 0.00E+00 20.61024 3.5505 0.999994 0.00E+00
tidak
tercelup 0.0017 0.037 0.029 0.008 0.1 40 35 0.199492 0.09408 1.3048E-05 2.28E-02 9.26E-02 19.5546 3.534975 0.999975 2.35E-02

0.0014 0.039 0.024 0.015 0.093 41 35 0.164812 0.1764 1.308E-05 1.87E-02 9.45E-02 19.59749 3.53555 0.999949 2.40E-02

0.001 0.032 0.011 0.021 0.074 41 35 0.117723 0.24696 1.308E-05 1.34E-02 8.32E-02 19.59749 3.53555 0.99991 2.12E-02

0.0006 0.023 0.005 0.018 0.055 41 34 0.070864 0.21168 1.308E-05 8.06E-03 5.74E-02 19.59749 3.53555 0.999896 1.46E-02

0.0004 0.013 0.002 0.011 0.055 40 34 0.047092 0.12936 1.3048E-05 5.37E-03 3.67E-02 19.5546 3.534975 0.999936 9.32E-03

0 0.001 0.001 0 0.055 39 33 0 0 1.3015E-05 0.00E+00 0.00E+00 19.51139 3.5344 1 0.00E+00

Q T2 T3
termokopel (m3/s) h1 h2 Δh (m) Hb (m) (C) (C) U (m/s) ∆P (N/m2) μ (Ns/m2) Re Nu Cs Cp ε h

tercelup 0.0017 0.04 0.034 0.006 0.12 40 33 0.200795 0.07056 1.3048E-05 2.29E-02 8.27E-02 19.5546 3.534975 0.999984 2.10E-02

0.0014 0.035 0.024 0.011 0.11 40 33 0.165361 0.12936 1.3048E-05 1.89E-02 8.42E-02 19.5546 3.534975 0.999968 2.14E-02

0.001 0.03 0.012 0.018 0.08 38 33 0.11736 0.21168 1.2983E-05 1.35E-02 7.86E-02 19.46784 3.533825 0.999928 2.00E-02

0.0006 0.025 0.005 0.02 0.055 38 32 0.070647 0.2352 1.2983E-05 8.10E-03 5.91E-02 19.46784 3.533825 0.999884 1.50E-02

0.0004 0.015 0.003 0.012 0.055 36 32 0.046795 0.14112 1.2918E-05 5.39E-03 3.75E-02 19.37975 3.532675 0.999931 9.54E-03

0 0.002 0.001 0.001 0.055 36 31 0 0.01176 1.2918E-05 0.00E+00 0.00E+00 19.37975 3.532675 0.999994 0.00E+00
tidak
tercelup 0.0017 0.04 0.033 0.007 0.095 42 34 0.20142 0.08232 1.3112E-05 2.29E-02 9.11E-02 19.64005 3.536125 0.999977 2.32E-02

0.0014 0.038 0.024 0.014 0.09 43 34 0.166402 0.16464 1.3145E-05 1.88E-02 9.41E-02 19.6823 3.5367 0.99995 2.39E-02

0.001 0.024 0.019 0.02 0.075 43 33 0.119247 0.2352 1.3145E-05 1.35E-02 8.25E-02 19.6823 3.5367 0.999915 2.10E-02

0.0006 0.024 0.006 0.018 0.055 42 33 0.071322 0.21168 1.3112E-05 8.09E-03 5.76E-02 19.64005 3.536125 0.999896 1.47E-02

0.0004 0.017 0.003 0.014 0.055 42 32 0.047704 0.16464 1.3112E-05 5.41E-03 3.92E-02 19.64005 3.536125 0.999919 9.98E-03

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

0 0.003 0.002 0.001 0.055 41 32 0 0.01176 1.308E-05 0.00E+00 0.00E+00 19.59749 3.53555 0.999994 0.00E+00

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

III. Perolehan Grafik

Keterangan : Hubungan antara tinggi bed dengan laju alir udara

Keterangan : Hubungan antara pressure drop dengan laju alir udara

Keterangan : Hubungan antara pressure drop dengan kecepatan superficial

Keterangan : Hubungan antara pressure drop dengan kecepatan superficial

Keterangan : Hubungan antara pressure drop dengan kecepatan superficial

Keterangan : Hubungan antara pressure drop dengan kecepatan superficial

Keterangan : Hubungan antara pressure drop dengan kecepatan superficial

Keterangan : Hubungan antara tinggi bed dengan kecepatan superficial

Keterangan : Hubungan antara pressure drop dengan tinggi bed

Keterangan : Hubungan antara tinggi bed dengan kecepatan superficial

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

BAB III
Analisa

III.1 Analisa Percobaan


Fluida yang dialirkan pada partikel unggun sampai dapat memberikat gaya yang
membuat partikel unggun bergerak dan menunjukan sifat-sifat seperti fluida maka fenomena ini
disebut fluidisasi. Fluidisasi terjadi ketika gaya seret udara (drag force) telah mengimbangi gaya
berat partikel, pada keadaan ini kecepatan udara telah mencapai kecepatan superfisial minimum
fluidisasi.

III.1.1 Analisa Percobaan Mengamati perilaku unggun dengan udara mengalir keatas.

● Pengaruh kecepatan superfisial terhadap ∆ P


Kecepatan superfisial merupakan kecepatan aliran udara jika tabung kosong. Kecepatan superfisial
dihitung oleh flowmeter sebelum udara melewati partikel unggun Dengan maksud jika kecepatan udara
yang diukur adalah udara yang berada didalam tabung, maka laju alir udara itu akan dipengaruhi oleh
partikel unggun.
Dari percobaan didapat hubungan antara kecepatan superfisial dengan ∆ P, yaitu semakin
tingginya kecepatan superfisial maka pressure dropnya juga meningkat. Hal ini terjadi karena,
apabila kecepatan superfisial dinaikan maka semakin banyak partikel unggun yang bergerak ke
atas (mengalami gaya drag force: gaya seret).
Dengan semakin banyaknya partikel unggun yang bergerak keatas maka laju alir udara
didalam tabung akan banyak dipengaruhi oleh partikel unggun yang memiliki ukuran yang
berbeda (ruang udara didalam tabung semakin sempit dan kontak udara dengan partikel unggun
juga meningkat.). Hal ini lah yang menyebabkan meningkatnya pressure drop seiring naiknya
kecepatan superfisial.
Lihat pada grafik:

Keterangan : Penurunan pressure drop pada kecepatan tertentu, hal ini mungkin karena hanya
sebagian unggun yang terfluidisasi dan kecepatan udara didalam tabung sudah mencapai batas
maksimal untuk mencapai fluidisasi total.

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

● Laju alir udara terhadap ∆ P


Pressure drop juga akan meningkat seiring dengan kecepatan aliran udara (karena Q ~ U),
Pressure drop dengan kecepatan superfisial (U vs. ∆P) sebanding dengan profil pressure drop
dengan laju alir udara (Q vs. ∆P). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perubahan kecepatan
superfisial sebanding dengan perubahan laju alir udara.

Tetapi pada saat mencapai kecepatan tertentu, pressure drop akan cenderung konstan dan
turun. Lihat pada grafik:

Keterangan : Pada grafik diatas juga ditemukan adanya penurunan pressure drop pada
kecepatan tertentu, hal ini mungkin karena hanya sebagian unggun yang terfluidisasi dan
kecepatan udara didalam tabung sudah mencapai batas maksimal untuk mencapai fluidisasi total.

Hubungan tersebut dapat terlihat pada persamaan berikut :

Q T2 10−3
U=
S b T3

dimana : Q = laju alir udara (m3/s)


T2 = suhu bed (oC)
Sb = 8,66 . 10-3 m2
T3 = suhu udara (oC)
U = kecepatan superfisial

Pressure drop dipengaruhi oleh laju alir udara. Seperti telah dijatakan sebelumnya bahwa
apabila kecepatan superfisial dinaikan maka pressure drop dalam unggun juga akan semakin
meningkat secara terus hingga unggun mengembang. Apabila kecepatan superfisial semakin
meningkat maka unggun akan semakin mengembang. Dari grafik dapat dilihat bahwa pada laju
aliran udara tertentu, tinggi unggun akan semakin meningkat. Dimana peningkatan tinggi unggun
berbanding lurus dengan laju alir udara. Dengan demikian laju alir udara berbanding lurus
dengan kecepatan superfisial sehingga dapat disimpulkan tinggi unggun berbanding lurus dengan
kecepatan superfisial pada saat telah terjadi fluidisasi.

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

Disaat unggun mencapai tinggi maksimum terfluidisasi maka pressure drop perlahan
menjadi konstan akibat peristiwa fluidisasi tersebut dimana pressure drop tersebut akan
cenderung konstan setelah mencapai laju alir tertentu dengan terbentuknya rongga. Selain itu hal
ini dipengaruhi oleh adanya gaya seret udara yang telah dapat menampung seluruh gaya berat
partikel.

● Menyelidiki hubungan antara ketinggian unggun dan pressure drop

Ketinggian unggun berbanding lurus dengan meninggkatnya pressure drop . Hal ini
dikarenakan ∆P (pressure drop) berbanding lurus dengan kecepatan superfisial dan berbanding
lurus juga dengan kecepatan fluida. Semakin meningkatnya kecepatan fluida maka ketinggian
unggun juga semakin tinggi.

Keterangan: Grafik tersebut sekaligus menggambarkan hubungan antara tinggi unggun dengan
pressure drop karena pressure drop akan berbanding lurus dengan kecepatan superficial.
III.1.2 Menyelidiki pengaruh fluidisasi terhadap proses transfer panas

● Laju alir udara terhadap temperatur unggun

Dari percobaan didapat bahwa semakin besar laju alir fluida (udara) maka koefisien
transfer panas makin besar pula. Hal ini karena seiring naiknya laju alir fluida dalam bed
maka terjadi persitiwa fluidisasi. Dengan peristiwa fluidisasi ini, sirkulasi partikel-partikel
dalam bed akan makin merata dimana partikel akan bercampur baur secara acak dan merata
dalam seluruh tabung tersebut. Transfer aliran panas dalam bed yang telah tersikulasi akan
semakin besar, karena konveksi dalam bed tersikulasi berjalan dengan baik. Dan dapat
ditemukan juga bahwa ketinggian bed dan penurunan tekanan tidak dipengaruhi oleh
perubahan temperatur dan kedalaman heater

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

BAB IV
Penutup

Kesimpulan setelah menyusun makalah ini adalah sebagai berikut,

1. Partikel bed di dalam chamber akan mulai mengunggun ketika gaya seret udara sudah
mampu mengimbangi gaya berat partikel bed.
2. Jika kecepatan superficial dinaikan, maka nilai pressure drop akan semakin besar sampai
mencapai nilai maksimumnya dan akhirnya menjadi konstan. Dalam percobaan ini, nilai
pressure drop belum mencapai konstan tetapi sedang menuju konstan.
3. Semakin besar kecepatan superfisial, maka ketinggian bed akan menjadi konstan sampai
pada nilai kecepatan superfisial tertentu (kecepatan superfisial sama dengan Umf) maka
ketinggian bed akan naik.
4. Fluidisasi yang terjadi di dalam percobaan ini adalah Bubbling Fluidization yang terjadi tidak
sempurna. Hal tersebut dikarenakan setelah mencapai Vs, nilai pressure drop tidak menjadi
konstan melainkan menjadi turun.
5. Adanya heater tidak begitu mempengaruhi nilai pressure drop ketinggian bed yang
terfluidisasi.
6. Semakin besar laju alir udara maka turbulensi di dalam chamber akan bertambah
sehingga tranfer panas semakin merata.
7. Peristiwa fluidisasi akan mempengaruhi transfer panas. Semakin partikel bed mengunggun,
maka peristiwa transfer panas yang terjadi akan semakin merata.

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I
[LAPORAN AKHIR POT 1 | FLUIDISASI] December 15, 2010

DAFTAR PUSTAKA

 Petunjuk Praktikum Proses & Operasi Teknik I, Teknik Gas dan Petrokimia Universitas
Indonesia.
 C. J. Geankopis, Transport Processes and Unit Operation 2 ed.
 McCabe, Warren L. dkk. Unit Operations of Chemical Engineering 4th Edition. 1985. New
York : McGraw-Hill Inc.
 De Nevers, Noel. Fluid Mechanics Chemical Engineering. 1951. New York : McGraw-Hill
Inc.

Page K e l o m p o k 7 | T e k n o l o g i B i o p r o s e s | D T K U I