Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMANENAN HASIL HUTAN


ACARA VI
TAKSIRAN PRODUKTIVITAS TRAKTOR

Oleh :
Nama : Afnahanan Fakhira Wiratno
NIM : 17/412473/KT/08472
Coass : Suci Wigati
Shift : Rabu, 15.30 WIB

LABORATORIUM PEMANENAN HASIL HUTAN


DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2019
ACARA VI
TAKSIRAN PRODUKTIVITAS TRAKTOR

I. TUJUAN
a. Mempelajari analisa beban dan tenaga kerja serta pemilihan kecepatan traktor pada
kegiatan penyaradan.
b. Menaksir produktivitas traktor sarad.
II. DASAR TEORI
Kegiatan pemanenan kayu meliputi penebangan, penyaradan, muat bongkar dan
pengangkutan. Kegiatan tersebut dapat dilakukan baik secara manual maupun mekanis.
System pemanenan kayu secara mmekanis banyak dipilih karena menghasilkan
produktivitas alat yang tinggi dibandingkan secara manyak dan ketersediaan tenaga kerja
yang relative sedikit dimana hal ini umum terjadi di luar Jawa dengan areal hutan yang
luas. Kegiatan pemanenan kayu harus memperhatikan aspek teknis, ekonomis dan
ekologis (Dipodiningrat, 1981).
Penyaradan merupakan salah satu tahap penting dalam pemanenan kayu yang
bertujuan untuk memindahkan kayu dari tempat tebangan ke tempat pengumpulan
sementara di jalan angkutan yang perlu mendapatkan perhatian mengingat hutan
Indonesia tersebar luas dengan keadaan lapangan, antara lain topografi, lokasi dan jarak
yang beragam. Factor utama yang menentukan pemilihan system penyaradan adalah
diameter kayu serta kondisi topografi (Kulak et al., 2017).
Traktor dibagi menjadi dua yakni traktor roda rantai (crawler traktor) dan traktor
roda ban (wheel Tractor). Adapun perbedaannya ialah (Kim et al., 2017):

Crawler tractor (rodarantai) Wheel tractor (roda ban)


Tenaga tarik lebih besar Tenaga tarik lebih kecil
Kecepatan relative rendah Kecepatan lebih tinggi
ground contact lebih besar ground contact lebih kecil
Dapat bekerja pada kondisi tanah yang Sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah di
buruk lapangan
Kemungkinan slip kecil Ada kemungkinan slip

Arah penyaradan kayu juga penting karena bertujuan mempermudah dalam


mengangkut kayu agar dapat disimpan di TPn. Adapun beberapa pertimbangan dalam
menentukan arah penyaradan kayu yakni lokasi penyaradan, kelerengan, kerusakan
vegetasi, dan keselamatan kerja. Apabila arah penyaradan kayu menjauhi jalan sarad
maka akan memperlambat proses penyaradan sehingga produksi kayu menjadi barang
yang bernilai akan berkurang dan keuntungan yang diperoleh secara ekonomis akan lebih
sedikit. Apabila  arah penyaradan kayu lebih mengacu kepada lereng yang lebih landai
maka proses pengangkutan kayu akan lebih cepat dengan kondisi kayu baik. Sedangkan
kerusakan vegetasi akan lebih tinggi apabila arah penyaradan kayu mengarah kepada
lokasi penyaradan yang banyak memiliki tegakan tinggal dan tanaman dilindungi.
Apabila arah penyaradan kayu tidak memperhatikan keselamata pekerja penyaradan
kayu maka akan terjadi kesalahan kerja maupun dampak lain sebagai contoh adalah salah
satu pekerja akan tertimpa kayu dan kayu yang akan disarad menyulitkan pekerja dalam
penganggkutan sehingga dalam proses penyaradan pekerja tidak akan terjaga
keselamatannya (Dulsalam, 2011).
Pada hutan alam tropika dataran kering penyaradan kayu dilakukan dengan sistem
mekanis yakni dengan menggunakan traktor. Oleh karena itu upaya untuk menekan biaya
penyaradan sangat penting. Efisiensi penyaradan dengan mengurangi waktu kerja tidak
efektif dan hilang akan meningkatkan produktivitas penyaradan yang pada akhirnya
mengurangi biaya-biaya yang tidak perlu (Muhdi, 2015). Teknik penyaradan yang
dilakukan harus dapat meningkatkan produktivitas penyaradan dengan biaya produksi
minimal sehingga memberi keuntungan bagi perusahaan. Teknik RIL dalam penyaradan
yang selama ini sudah ada, harus dapat diimplementasikan secara bertanggung jawab.
RIL tidak hanya di atas kertas, perlu penerapan yang sesuai dengan pedoman yang telah
dibuat (Suhartana dan Yuniarti, 2015).

III. ALAT DAN BAHAN


Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
a. Spesifikasi traktor
b. Kurva drawbar pull dan travel speed
c. Status kawasan yang ditebang (HP atau HPT)
d. Kalkulator
e. Alat tulis.
f.
IV. CARA KERJA

Tenaga kerja yang tersedia dihitung.

Beban tarik log dihitung.


Kecepatan kerja dihitung.

Kecepatan kerja dengan grafik drawpull vs travel speed dicari.

Produktivitas kegiatan penyaradan dengan traktor sarad dihitung.

Analisis penaksiran produktivitas traktor sarad dilakukan dengan perbandingan 3


alat. Langkah pertama adalah mempelajari data spesifikasi traktor yang akan
digunakan dalam kegiatan penyaradan. Data spesifikasi traktor merupakan dasar
dalam melakukan taksiran produktivitas. Hal ini akan membantu untuk mengetahui
kemampuan traktor dalam melakukan suatu kegiatan contohnya penyaradan.
Kemudian menghitung tahanan-tahanan yang bekerja pada traktor, tujuannya untuk
mengetahui besarnya hambatan yang bekerja pada traktor. Setelah diperoleh nilainya
kemudian menentukan beban maksimum yang dapat disarad traktor yang diperoleh
dari hasil beban tarik log yang dijumlahkan dengan tahanan kelandaian. Hasil ini
digunakan untuk pemilihan kecepatan kerja. Setelah diperoleh kecepatan berdasarkan
grafik Drawpull vs Travel Speed selanjutnya menghitung taksiran produktivitas
penyaradan dari masing-masing traktor yang digunakan dengan membedakan tipe
hutan HPT atau HP.

VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini, dipelajari mengenai taksiran produktivitas traktor.
Penyaradan merupakan proses pemindahan log dari areal tebangan ke tempat
pengumpulan atau penimbunan kayu melalui jalan atau jalur yang sudah direncanakan
terlebih dahulu. Dalam penyaradan terdapat 3 metode yang dilakukan. Setiap metode
memiliki proses dan penggunaan alat yang berbeda-beda. Tiga metode tersebut meliputi:
manual, semi-mekanis dan mekanis. Penyaradan dengan metode manual menggunakan
tenaga dari binatang seperti manusia, sapi, kuda dan kerbau. Penyaradan dengan metode
semi-mekanis dilakukan dengan alat bantu seperti bulldozer dalam skidding dan kabel
dalam yarding. Metode terakhir adalah metode mekanis yaitu dilakukan dengan tenaga
mesin 90% seperti penggunaan alat Forwarder. Biasanya metode ini dilakukan pada
luasan hutan yang sangat luas seperti hutan di luar Jawa yaitu hutan di Kalimantan,
Sumatera, Sulawesi, dan Papua Barat. Terkait dengan usaha meminimalkan kerusakan
akibat penyaradan, alat sarad, serta jalan sarad yang akan dilalui harus dipertimbangkan
karena turut mempengaruhi kelestarian hasil perusahaan pengelola. Pemilihan metode
penyaradan secara luas harus memperhatikan beberapa faktor yang terdiri dari 3 aspek,
yaitu aspek finansial, aspek teknis, dan aspek sosial lingkungan.
Penyaradan dengan traktor dibedakan menjadi 2, yaitu traktor berban baja
(Crawler Tractor) dan traktor berban pompa (Wheeled Tractor). Masing-masing
memiliki kelebihan dan kekurangan, yang terpenting adalah menempatkan keduanya di
tempat dan situasi yang tepat sehingga dapat menghasilkan produksi (produktivitas) yang
tinggi. Kelebihan dari traktor berban baja yaitu dapat digunakan pada keadaan lokasi
atau area dengan kesulitan yang tinggi atau keadaan topografi yang tidak landai. Selain
itu, ban yang digunakan dapat membantu mesin jika terselip, penggunaan biasanya
dilakukan pada hutan dengan luasan yang luas dan memiliki jalur akses yang susah.
Kekurangannya berupa ban lebih berat, jarang digunakan pada daerah landai dan luasan
kecil, dan kecepatannya relatif rendah. Traktor dengan ban pompa memiliki kelebihan
berupa ban yang dipakai termasuk ringan dan sering digunakan pada daerah landai,
sering digunakan pada hutan dengan luasan yang kecil seperti hutan di dalam pulau
Jawa, dan memiliki kecepatan relatif tinggi. Kekurangannya dikarenakan ban pompa,
maka jarang dipakai pada medan yang berat. Jika dibandingkan dengan metode yang
sudah ada, tenaga hewan memiliki kelebihan dalam hemat tenaga dan kerusakan yang
ditimbulkan kecil. Namun memiliki kekurangan seperti waktu yang digunakan tergolong
lama dan produktivitas lebih kecil dibanding dengan alat mekanis (traktor sarad).
Kondisi lapangan sangat memperngaruhi kinerja traktor sarad, sehingga bisa
mungkin dipilih jenis traktor yang sesuai untuk kondisi lapangan. Faktor yang
mempengaruhi produktivitas traktor sarad, antara lain volume rata-rata per hektar per
pohon. Hal ini berkaitan dengan traktor yang tersedia untuk menarik log yang ada.
Faktor yang paling berpengaruh adalah jarak sarad, karena apabila jaraknya semakin jauh
maka semakin sedikit jumlah trip yang dapat dilakukan dan berimbas pula pada biaya
penyaradan yang dikeluarkan oleh perusahaan. Kemudian, banyaknya muatan yang
diangkut dan jumlah trip yang dikerjakan juga turut berpengaruh pada produktivitas
traktor sarad, karena berkaitan langsung dengan kapasitas menarik log. Selain itu,
kelerengan tempat kegiatan pemanenan dimana apabila kelerengan semakin kecil atau
rendah akan lebih memudahkan proses penyaradan. Kegiatan menaksir produktivitas
traktor merupakan kegiatan yang harus dilakukan sebelum membeli atau menggunakan
alat sarad, karena sangat berperan untuk mengetahui potensi produksi dan efisiensi alat
sesudah dioperasikan. Kekuatan traktor sarad dipengaruhi beban yang ditanggung dan
kondisi traktor tersebut yang dipengaruhi oleh interaksi antara roda dengan permukaan
tanah, ketinggian tempat, dan ketahanan gesek. Penggunaan traktor dalam kegiatan
penyaradan memang lebih efektif dan efisien dibanding penyaradan manual yang
dilakukan dengan tenaga hewan dan tenaga manusia. Selain lebih hemat tenaga, dengan
menggunakan traktor sarad akan lebih banyak trip yang dapat dilakukan, sekaligus
membuka dan meratakan tempat pengumpulan sementara (landing), dalam pembawaan
lebih ringan, daya lebih besar, jarak sarad dari dekat sampai sedang, tenaga lebih sedikit,
dapat menyarad pada kelerengan curam, serta produktivitas yang lebih tinggi. Akan
tetapi, dengan cara manual hanya membutuhkan investasi yang rendah atau kecil dan
dampak lingkungan yang lebih rendah. Sehingga untuk pemilihan metode penyaradan,
perusahaan harus mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan (ekologi)
yang telah dijelaskan sebelumnya.
Melalui data faktor lingkungan, data mengenai log kayu dan spesifikasi traktor
dapat dilakukan perhitungan produktivitas traktor sarad sampai pada jumlah hari yang
diperlukan untuk menyelesaikan kegiatan penyaradan. Dari data yang diperoleh,
terdapat gross power dari 3 alat yang berbeda, yaitu dari spesifikasi Caterpillar 525B
Skidder senilai 180hp atau 134280 N, Ranger F67 Skidder senilai 132 hp atau 98472 N
dan John Deere 540G Skidder senilai 121 hp atau 90266 N. Dari data tersebut diketahui
untuk ketiga alat koefisien 0,9 dan berat operasi atau Gd senilai 28.472, sehingga dapat
dicari WS atau tahanan kelandaian. Tahanan kelandaian yang diperoleh adalah sebesar
4944,111 N. Kemudian dicari traksi kritis atau Fd senilai 30179,613 N. Kemudian dicari
tenaga tarik log, didapat nilai secara berurutan: 99156,276 N; 63348,276 N dan
55142,276 N. Selanjutnya dicari massa log, didapat nilai 2420,120 kg untuk semua jenis
alat. Setelah massa log diketahui maka dapat dihitung berat log, dengan diperoleh nilai
23717,176 N untuk semua jenis alat. Selanjutnya dicari beban tarik log, didapat nilai
25139,617 N untuk semua jenis alat. Dari beban tarik log dicari kapasitas tarik log,
diperoleh hasil kapasitasnya 3 batang untuk Caterpillar 525B dan 2 batang untuk Ranger
F67 serta John Deere 540G. Dilakukan pembulatan ke bawah guna mempermudah dalam
jumlah penyaradan log. Setelah itu dicari nilai F melalui grafik. Hasil yang diperoleh
rerata F masing-masing alat secara berurutan adalah 112,983; 119,589; dan 119,589
dalam satuan m/menit. Adapun nilai rerata R untuk semua alat adalah sama yaitu sebesar
133,687 m/menit. Dihitung Taksiran produktivitas pada masing-masing alat dan
dihasilkan 7,543 m3/jam untuk tipe 525B; dan 7,566 m3/jam untuk tipe F67 dan 540G.
Berdasarkan hasil TP yang sudah diperoleh dihitung tiap masing-maasing alat untuk
waktu penyaradan, PK1, PK2, dan waktu yang diperlukan untuk penebangan pada tiap
tipe hutan apakah HPT atau HP. Hasil yang diperoleh untuk perhitungan waktu yang
diperlukan untuk penebangan adalah 2502,963 HOK untuk tipe 525B dan 2495,308
HOK untuk tipe F67 dan 540G. Dari hasil perhitungan di atas, dapat diketahui bahwa,
dari ketiga alat yang ada memiliki produktivitas yang berbeda-beda. Alat dengan
produktivitas paling besar yaitu alat F67 dan 540G sebesar 7.566 m 3/jam. Karena alat
traktor merupakan alat sarad, maka produktivitas dilihat dari tenaga dan waktu sarad
yang diperlukan. Waktu sarad yang diperlukan traktor F67 dan 540G lebih kecil daripada
alat 525B dengan jatah tebang yang sama. Hal ini membuktikan alat F67 dan 540G
memiliki produktivitas yang lebih besar daripada 525B.

VII. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
a. Analisa beban dan tenaga kerja sangat diperlukan dalam pengoprasian suatu alat berat.
Penggunaan tenaga dan pemilihan kecepatan traktor sarad yang tepat dapat
meningkatkan produktivitas dan efisiensi alat. Analisa beban juga dapat
memperhitungkan efektivitas penggunaan traktor dalam rangka memperoleh
keuntungan maksimal. Beban total untuk masing-masing alat yaitu pada alat 525B
sebesar 8.20x103 kg, alat F67 sebesar 5.635x103 kg, dan alat 540G sebesar 5.635x103
kg. Sementara kecepatan masing-masing alat saat kondisi terisi yaitu pada alat 525B
sebesar 112.983 m/menit, pada alat F67 sebesar 119.589 m/menit, dan pada alat 540G
sebesar 119.589 m/menit.
b. Taksiran produktivitas didapat dari volume tebangan per waktu sarad. Terdapat tiga
tipe traktor sarad yang digunakan pada praktikum ini. Untuk tipe caterpillar 525B
skidder, mempunyai taksiran produktivitas sebesar 10,320 m3/jam, dengan waktu
menyelesaikan penebangan selama 1829,552 HOK. Sedangkan untuk tipe ranger F67
grapple skidder dan john deere 540G skidder memiliki taksiran produktivitas sebesar
10,393 m3/jam, dengan waktu menyelesaikan penebangan selama 1816,689 HOK.
Dengan demikian, dapat dipilih traktor tipe john deere 540G skidder untuk digunakan
dalam kegiatan penyaradan karena lebih efisien waktu dan produktivitasnya tertinggi
dengan tenaga lebih rendah dibandingkan traktor tipe lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Dipodiningrat, S. 1981. Analisis Biaya Pengusahaan Hutan. Fakultas Kehutanan Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta.
Kim, Y., Chung W., Han H., dan Anderson N.M. 2017. Effect of downed trees on harvesting
productivity and costs in beetle-killed stands. Forest Science. 63(6) : 596-605.
Kulak, D., Stańczykiewicz A,. dan Szewczyk G. 2017. Productivity and time consumption of
timber extraction with a grapple skidder in selected pine stands. Croatian Journal of
Forest Engineering: Journal for Theory and Application of Forestry Engineering.
38(1) : 55-63.
Muhdi. 2015. Analisis Biaya dan Produktivitas Penyaradan Kayu dengan Traktor Caterpillar
D7G di Hutan Alam Tropika Basah PT Inhutani II Kalimantan Utara. Jurnal
Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol. 1 (2). Fakultas Kehutanan Universitas
Sumatera Utara. Medan
Suhartana, Sona dan Yuniawati. 2015. Peningkatan Produktivitas Penyaradan Kayu Acacia
crassicarpa Melalui Penerapan Teknik Ramah Lingkungan. Jurnal Hutan Tropis Vol.
3 (2). Penelitian Pusat Hasil Hutan. Bogor
Ulsalam S, Tinambunan D. 2011. Produktivitas dan biaya penyaradan kayu dengan traktor
pertanian yang dilengkapi alat bantu. Litbang. Bogor.