Anda di halaman 1dari 30

Mata Kuliah Farmakologi III

Fakultas Farmasi dan Sains


UHAMKA
Era Rahmi M.Si., Apt
Vasodilator

Diuretik

Antiplatelet, antikoagulan,
Trombolitik

Antihiperlipidemia
II.
Penggolongan
dan
Mekanisme
Kerja

Diuretik

III.
Penggunaan
I. Definisi
dan Efek
samping
 Diuretik adalah obat yang meningkatkan
volume urin melalui kerja langsung pada ginjal.
 Diuresis mempunyai dua pengertian:
1. Menunjukkan adanya penambahan volume urin
yang diproduksi mengurangi curah jantung
2. Menunjukkan jumlah pengeluaran zat-zat
terlarut dalam air  dalam hal ini pengeluaran
zat natrium, sehingga disebut juga natriuretik
dan diasumsikan terjadi peningkatan ekskresi
natrium akibat pemakaian diuretik.
 Ginjal merupakan organ
terpenting pada
pengaturan homeostasis,
yakni keseimbangan
dinamis antara cairan intra
dan ekstrasel, serta
pemeliharaan volume total
dan susunan cairan
ekstrasel.
 Ginjal tersusun dari
berjuta-juta nefron. Satu
unit nefron terdiri dari
glomerulus dan tubulus.
 Tergantung jumlah ion Na+,
yang terdapat di luar sel, di
cairan antar sel, dan di
plasma darah.
Ada 3 proses utama dalam pembentukan urin.
1. Filtrasi = pergerakan cairan dari darah ke dalam lumen.
• Organ yang terlibat: membran glomerolus (kapiler dan kapsula Bowman)
yang sangat permeable terhadap air namun tidak permeable terhadap molekul
besar seperti protein.
• Zat yang dihasilkan: ultrafiltrat yang bebas protein dan cairan yang isinya sama
dengan plasma  disebut juga urin primer
• Faktor yang memengaruhi: tekanan onkotik pada kapsula Bowman.

2. Reabsorpsi = sekitar 99% filtrat akan mengalami reabsorpsi pada


tubulus.
• Fungsi: untuk mempertahankan garam dan cairan tubuh.
• Proses yang terjadi : zat-zat yang masih diperlukan di dalam urine primer akan
di serap kembali di tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus
kontortus distal terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea (urin sekunder).
• Pada lengkung henle, ada bagian asendens dan desendens. Bagian desendens
terjadi reabsorpsi dari tubulus sehingga cairan tubulus menjadi pekat. Pada
bagian asendens, membran permiable terhadap ion Na+ dan Cl- sehingga
terjadi pertukaran aktif ion Na dan Cl dan cairan tubulus menjadi lebih encer.
Cairan kemudian menuju ke tubulus distal.
3. Augmentasi
 Proses yang terjadi: perpindahan molekul dari tubulus
kontortus distal ke tubulus pengumpul (duktus
kolektivus) dan disebut urin sesungguhnya, dimana
urin dan sisa-sisa zat makanan yang tidak diperlukan
akan dibuang pada proses ini.
 Urin sesungguhnya kemudian akan diekskresikan
melalui ureter.
 Sekresi K+ dan H+ oleh tubulus distal serta pengaruh
hormon ADH atau vasopresin pada tubulus pengumpul
berperan penting dalam pengaturan homeostasis ion-
ion tersebut.
1. Inhibitor Karbonat Anhidrase: Acetazolamide
2. Osmotic Diuretic : Manitol
3. Loop Diuretic: Furosemid
4. Aldosterone Antagonis : Spironolactone
5. Thiazid: Hydrochlorothiazide
6. Antagonis Hormon Antidiuretik: golongan Vaptan
Lokasi ENZIM Karbonat Anhydrase:
terdapat di banyak tempat bagian nefron, predominan sel
epitel tubulus proksimal
PERAN CARBONIC ANHYDRASE INHIBITOR:
Menyekat reabsorpsi natrium bicarbonat, menyebabkan
diuresis natrium bicarbonat dan penurunan simpanan
bikarbonat tubuh total. Pemakaian jangka panjang
menyebabkan asidosis metabolik
CONTOH:
Acetazolamide. Terutama untuk menurunkan tekanan
intraokuler pada glaukoma.
 CONTOH:
Furosemide dan Asam etakrinat,
Bumetanide, Torsemide
 MEKANISME KERJA
Obat ini menghambat sistem transpor
gabungan Na+/K+/Cl pada membran
luminal di Thick ascending limb ansa
henle  menurunkan reabsorpsi NaCl
dan juga menurunkan potensial positif
lumen normal yang berasal dari daur
ulang K+ sehingga terjadi peningkatan
eksresi Mg2+ dan Ca2+
Ion natrium, kalium, kalsium, dan
magnesium akan keluar.
Segmen ini mempunyai kapasitas yang besar untuk
mengabsorpsi NaCl sehingga obat yang bekerja
pada tempat ini mempunyai efek diuresis yang
lebih kuat dari pada diuretik lain  sangat poten
menurunkan jumlah besar air dan elektrolit.
 CONTOH:
Hydrochlorothiazide,
Metolazone,indapamid dll

 MEKANISME KERJA:
Thiazide menghambat reabsorpsi
NaCl di sisi luminal sel epitel di
tubulus distal setelah lengkung
henle dengan menghambat
pengangkut Na+/Cl-.
Ion yang diekskresikan yaitu natrium
dan klor.
Obat ini diabsorpsi baik di pencernaan
dan diberikan pada pagi hari.
 CONTOH:
Spironolaktone, eplerenon,
triamterene, amiloride.
 MEKANISME KERJA:
Bekerja pada nefron tubulus distal dan
duktus kolektivus.
Diuretik ini menghambat reabsorpsi
Na+ dan mencegah sekresi K+ dengan
melawan efek aldosteron di tubulus
pengumpul. Inhibisi terjadi melalui
antagonisme farmakologis langsung
reseptor mineralokortikoid
(Spironolaktone, eplerenon) atau dg
menghambat influks Na+ melalui
saluran ion di membran luminal
(triamterene, amiloride)
 CONTOH: Manitol
 MEKANISME KERJA:
meningkatkan osmolaritas plasma dan cairan dalam
tubulus proksimal ginjal sehingga tidak terjadi
reabsorpsi natrium menyebabkan air tertahan di
segmen-segmen ini  mendorong diuresis air.
Ion yang dikeluarkan: natrium, klor, dan kalium.
Peningkatan yang cukup besar pada laju aliran urin
menurunkan waktu kontak antara cairan dan epitel
tubulus, sehingga menurunkan reabsorpsi Na+.
Natriuresis yang dihasilkan lebih kecil daripada diuresis
air, yang akhirnya membawa pada hipernatremia.
.
 CONTOH:
golongan Vaptan, Litium dan demeklosiklin
(digunakan secara terbatas pada situasi tertentu)

 MEKANISME KERJA:
Konivaptan dan tolvaptan merupakan antagonis
langsung reseptor hormon diuretik (vasopresin).
Litium dan demeklosiklin mengurangi cAMP dalam
sel tubulus pengumpul yang ditimbulkan oleh
hormon diuretik melalui mekanisme yang belum
sepenuhnya diketahui.
Loop Diuretik

Edema Paru akut Tuli (pada dosis tinggi, dapat


Edema penyakit jantung kongestif menginduksi perubahan komposisi
(pilihan utama karena mula kerja elektrolit dalam endolimfe)
cepat) Hiponatremia
Penyakit ginjal (udem kronis) Hipotensi
Penyakit hati (udem kronis) Hipovolemia
Hiperkalsemia Hipokalemia
Hiperkalemia Hipomagnesemia
Diuresis paksa (misal pada Berkurangnya toleransi glukosa
keracunan) Hiperurisemia
Thiazide, contohnya adalah hydrochlorothiazide.

Antihipertensi Hipokalemi
Gagal jantung ringan Hiperurisemia
Udem Hiperglikemia
Diabetes insipidus (inhibisi pelepasan
nefrogenik insulin dari pankreas)
Hiperkalsemia
AldosteronAntagonis (Diuretik Hemat Kalium)
Spironolakton
Secara kompetitif memblok ikatan aldosteron pada reseptor sitoplasma
sehingga meningkatkan ekskresi Na+ (Cl- dan air) dan menurunkan ekskresi K+
Penggunaan : Hipertensi dan udem yang refrakter. Biasanya dikombinasi
dengan diuretik lain untuk memperoleh efek hemat kalium dan memperbesar
diuresis.
Amilorid dan Triamteren
2% filtrat dieskresikan (Efek diuretik lemah)
Inhibitor kanal Na+ :
meningkatkan ekskresi Na+ (Cl- dan air) dan menurunkan ekskresi K+
Penggunaan : Udem dan hipertensi. Biasanya diberikan bersama dengan
diuretik lain.
Antagonis ADH

Termasuk golongan ini adalah Li+ dan demeclocyclin


digunakan secara terbatas pada situasi tertentu, misal
kondisi hiponatremia pada gagal jantung bawaan.
 Pencegahan renal failure
Pada kondisi gagal sirkulasi (shock), pembentukan urin di ginjal terganggu
(anuria), sementara diuretik menjaga agar ginjal selalu mendapatkan aliran
darah untuk membentuk urin  diuretik furosemid

 Hiperkalsemia
Diuretik furosemid, diberikan bersama infus NaCl hipertonis.
 Batu ginjal (kebanyakan karena gangguan reabsorpsi Ca2+ 
batu kalsium)
Diuretik tiazid (meningkatkan reabsorpsi Ca2+  mengurangi
konsentrasi Ca2+ di urin).
 Diabetes insipidus (karena defisiensi produksi hormon
antidiuretik)
Diuretik golongan tiazid disertai dengan diet rendah garam.
 Open angle glaucoma
Diuretik asetazolamid digunakan untuk jangka panjang.
 Sindrom nefrotik
Biasanya digunakan tiazid atau diuretik kuat bersama dengan
spironolakton.
 Acute angle closure glaucoma
Diuretik osmotik atau asetazolamid digunakan prabedah. Untuk pemilihan
obat diuretik yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan
konsultasi ke dokter.
 Payah ginjal akut
Manitol dan/atau furosemid, bila diuresis berhasil, volume cairan tubuh
yang hilang harus diganti dengan hati-hati.
 Penyakit hati kronik
spironolakton (sendiri atau bersama tiazid atau diuretik kuat).
 Udem otak
Diuretik osmotik