Anda di halaman 1dari 19

TUGAS PERPAJAKAN

“KASUS : FAKTUR PAJAK PALSU, AMIE HAMID KENA VONIS


TAMBAHAN DARI PN JAKSEL”
Dosen Pengampu: Drs. Ec. RAPEL, Ak., MM., M. Ak

NOVI WULANDARI, SE., MA, Ak

Disusun Oleh:

DESEMBRI PIONITRI BCA 118 027

DESINTHA CAHYANI BCA 118 024

DEVA BCA 118 049

JUNET ALFAYED BCA 118 011

MINGGA JUNIWATI BCA 118 026

OKTAVIANI KUMALA PUTRI BCA 118 004

RIKI PANDORA BCA 117 050

WISNU SETYO NUGROHO BCA 118 029

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
JURUSAN AKUNTANSI
TAHUN 2020
“Kasus Faktur Pajak Palsu, Amie Hamid Kena Vonis Tambahan dari PN
Jaksel”

A. Posisi Kasus

Direktur Jenderal Penegakan Hukum DJP Dadang Suwarna, menyebut tersangka


merupakan pedagang abal-abal yang menjual faktur fiktif kepada supplier kertas.
Menurutnya, Amie merupakan pedagang biasa, bukanlah orang penting.

Modus transaksinya, Amie mengumpulkan sejumlah kertas bekas untuk dijual kepada
supplier kertas, dia juga lah yang menerbitkan faktur fiktif kepada supplier kertas itu.
Padahal, Amie mendapatkan kertas bekas dari pedagang pengumpul sehingga tidak
dikenakan pajak. Faktur fiktif itu selanjutnya digunakan oleh perusahaan supllier berinsial
PK sebagai Pajak Pemasukan (PM).

Dadang mengatakan tersangka bernama Amie Hamid ini diduga melakukan


pencucian uang setelah menjual faktur pajak fiktif sebesar Rp123,41 miliar dengan
keuntungan yang diperoleh mencapai Rp49,15 miliar.

Untuk itu, sebagian aset yang dimiliki tersangka yang disangkakan diperoleh dari
hasil pidana tersebut telah disita dengan estimasi nilai sebesar Rp26,89 miliar yang terdiri
atas uang tunai Rp441,7 juta, properti tanah maupun bangunan Rp24,5 miliar dan unit
kendaraan Rp1,9 miliar.

Dadang menjelaskan penyidikan pencucian uang ini merupakan pengembangan dari


penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan berupa penjualan faktur yang tidak
berdasarkan transaksi yang sebenarnya.

Dari kasus pelanggaran hukum dalam bidang perpajakan ini, tersangka Amie Hamid
telah dijatuhi hukuman pidana penjara selama dua tahun enam bulan serta denda mencapai
Rp246,83 miliar.

Dadang juga memastikan kasus ini merupakan perkara pidana pencucian uang kedua
yang berhasil dikembangkan Direktorat Jenderal Pajak dari kasus pidana perpajakan.
"Kasus baru dengan sangkaan TPPU atas Amie Hamid ini diancam dengan pidana
paling lama 20 tahun dengan denda paling banyak Rp10 miliar," ujarnya.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Pajak telah menyelesaikan kasus pencucian uang di


atas pidana paja terhadap Rinaldus Andry Suseno yang saat ini sedang dalam proses
persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Terkait kasus pidana perpajakan, Dadang menghimbau kepada Wajib Pajak untuk
menghitung, membayar dan melaporkan pajak dengan benar dan tidak tergoda melakukan
perbuatan curang atau penyelewengan lainnya.

Perbuatan curang yang dimaksud seperti mengurangi penghasilan yang dilaporkan


atau mencari keuntungan yang tidak sah dari proses perpajakan seperti menerbitkan atau
menggunakan faktur pajak yang tidak dilandasi transaksi ekonomi nyata.

B. Dasar hukum

1. Pasal 33 ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Pasal 39 ayat (1) huruf c jo pasal 43 Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 16 tahun 2000.
3. Pasal 14 Ayat (1) Huruf d dan Huruf e Undang-Undang Nomor 28 tahun 2007 Tentang
Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 Tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan
4. Pasal 13 Undang - Undang Nomor 42 Tahun 2009 Tentang Perubahan Ketiga Atas
Undang - Undang Nomor 8 Tahun 1983 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan
Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.
5. Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi.
6. Pasal 5 Ayat (2) Undang-Undang Nomor20 Tahun 2001Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pembarantasan Tindak Pidana
Korupsi
7. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pelaksanaa.Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak PertambahanNilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewahsebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 42 tahun 2009
8. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/ PMK.03/2012 tentang TataCara Pembuatan
dan Tata Cara Pembetulan atau PenggantianFaktur Pajak
9. Peraturan Direktur Jendral Pajak Nomor PER- 24 /PJ/2012 Tentang Bentuk, Ukuran,
Tata Cara Pengisian Keterangan, Prosedur Pemberitahuan Dalam Rangka Pembuatan,
Tata Cara Pembetulan Atau Penggatian, Dan Tata Cara Pembatalan Faktur Pajak.

C. Analisis kasus

Faktur Pajak merupakan komponen penting dalam pelaksanaan kewajiban PPN. Hal
ini disebabkan fungsi Faktur Pajak bukan hanya sebagai bukti pungutan pajak yang dibuat
PKP tetapi juga merupakan syarat mutlak yang harus ada dalam mekanisme pengkreditan
pajak masukan dan pajak keluaran. Namun yang harus diperhatikan adalah terpenuhinya
syarat formil dan material secara kumulatif menurut ketentuan pajak yang berlaku, jika
salah satu syarat tidak terpenuhi maka Faktur Pajak dapat dikatakan cacat atau fiktif.
Perilaku Wajib Pajak yang tidak sepenuhnya memenuhi kewajiban perpajakannya dalam
hal ini menggunakan Faktur Pajak untuk meminimalkan beban pajak yang terutang yang
dapat diartikan berkurangnya penerimaan pajak kepada negara. Faktur Pajak Fiktif
menurut surat edaran DJP No. SE-132/PJ/2010 adalah Faktur Pajak yang tidak sesuai
dengan transaksi penyerahan BKP/JKP dan/atau penyerahan BKP/JKP dilakukan
pengusaha yang  belum dikukuhkan sebagai PKP. Berdasarkan uraian diatas dapat
disimpulkan  bahwa Faktur Pajak Fiktif merupakan salah satu isu kepatuhan yang marak
terjadi di negara  berkembang, oleh karena itu diperlukan pengawasan secara reguler
terhadap transaksi yang dilakukan oleh PKP. Keberhasilan sistem self
assessment bergantung pada kejujuran PKP dalam melaksanakan kewajiban
perpajakannya. Tidak mudah untuk mengetahui apakah Wajib Pajak melakukan
penyelundupan atau tidak. Dukungan adanya bank data tentang Wajib Pajak dan seluruh
aktivitas usahanya sangat diperlukan.

Pajak mempunyai peranan yang sangat penting sebagai salah satu sumber pendapatan
negara terbesar, khususnya dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan
sumber pendapatan negara untuk membiayai berbagai pengeluaran negara termasuk
pengeluaran pembangunan.
Dalam bidang perpajakan dikenal beberapa pihak yang saling berhubungan, antara lain:
1. Subjek Pajak
Subjek pajak adalah orang atau badan, yang telah memenuhi syarat subjektif.
Syarat subjektif yaitu syarat yang melekat pada diri subjek yang bersangkutan,
seperti lahir di Indonesia, tinggal di Indonesia, atau tidak tinggal di Indonesia dan
berkedudukan di Indonesia, maka memiliki kekayaan di Indonesia atau memperoleh
penghasilan dari Indonesia. Subjek dinilai potensial untuk dikenakan pajak, tetapi
belum mempunyai kewajiban untuk membayar pajak.
Menurut Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, yaitu sekumpulan orang dan atau modal
yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak
melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan
lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan
dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan,
perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi
lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan
bentuk usaha tetap.

2. Wajib Pajak
Wajib pajak mempunyai kewajiban untuk membayar pajak. Wajib pajak
adalah subjek pajak yang telah memenuhi syarat objektif, selain syarat subjektif
syarat objektif adalah syarat yang berkaitan dengan sasaran pengenaan pajak (objek
pajak).
Sebagai contoh adalah seseorang yang tinggal di Indonesia memperoleh penghasilan
dan penghasilan tersebut memenuhi syarat bagi dikenakannya pajak.

3. Penanggung Pajak
Berdasarkan Pasal 1 ayat (28) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007
Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, penanggung pajak adalah
orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk
wakil yang menjalankan hak dan memenuhi kewajiban wajib pajak sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Penanggung pajak merupakan
orang atau pihak yang bertanggung jawab dalam pemenuhan kewajiban pajak.
4. Fiskus
Fiskus dalam perkembangan terkini sering diartikan sebagai aparatur
pemerintah yang menangani pemasukan uang dari rakyat berupa pajak untuk
dimasukkan ke dalam kas negara. Bahkan tidak jarang aparatur pemerintah yang
berhubungan dengan pajak juga disebut-sebut oleh masyarakat sebagai fikus, jadi
fiskus tidak hanya menangani pemungutan pajaknya.
Dalam perikatan perdata hubungan hukum terjadi diantara para pihak yang
mempunyai kedudukan sama atau sederakat, sementara di dalam perikatan pajak
kedudukan para pihaknya tidak sederajat. Dalam hal ini perikatan pajak melibatkan
orang yang telah memenuhi syarat tertentu untuk membayar suatu jumlah tertentu
kepada negara yang dapat dipaksakan.
Pendekatan seperti itu, pajak lebih menitikberatkan pada perikatan beserta hak
dan kewajiban para pihak. Dalam hal ini perikatan terjadi antara pemerintah selaku
fiskus dengan rakyat selaku subjek pajak atau wajib pajak tersebut memberikan
posisi yang berbeda kepada para pihak. Hal tersebut mengingat, fiskus dilekati oleh
adanya kewenangan hukum publik untuk kepentingan negara.

A. Modus Dalam Kasus Pemalsuan Faktur Pajak

Masalah tindak pidana dibidang perpajakan merupakan hal penting khususnya dalam
rangka penegakan hukum yang harus dilaksanakan agar ketentuan undang-undang dapat
dilaksanakan sebagaimana mestinya terlebih dalam memenuhi rasa keadilan di masyarakat
dalam kepastian hukum itu sendiri. Pemalsuan faktur pajak adalah tindakan menggunakan
faktur pajak yang tidak sesuai dengan transaksi sebenarnya.
Penegakan hukum atas peristiwa tindak pidana pajak tentu mempunyai implikasi luas
yang pada akhirnya akan bermuara pada penerimaan negara yang menjadi tugas
pemerintah guna kepentingan bersama.
Kasus Subandi Budiman alias Aban menimbulkan kerugian negara karena manipulasi
faktur pajak. Kasus ini terjadi karena wajib pajak terbukti menggunakan dokumen faktur
pajak yang tidak benar, seolah-olah wajib pajak benar-benar telah menerbitkan faktur
pajak, tetapi tidak diikuti dengan adanya transaksi jual beli barang yang sebenarnya.
Penerbit faktur pajak yang tidak diikuti dengan transaksi jual beli yang benar tentu saja
akan merugikan negara dari sisi penerimaan pajak.
Kasus pemalsuan faktur pajak yang dilakukan Subandi Budiman alias Aban, melalui
metode penggunaan faktur fiktif itu untuk mengelabui setoran pajak pelaku, dengan
demikian modus akal-akalan dalam menggunakan dan menerbitkan faktur fiktif guna
menghindari setoran pajak.
Pengungkapan kasus ini merupakan salah satu kasus yang terungkap dari penyidikan
kasus sejenis, lebih dari 50 persen kasusnya adalah faktur fiktif. Modus operandi yang
biasa digunakan oleh pelaku dalam memanipulasi pajak ditempuh dengan membentuk
perusahaan serta kepengurusan perusahaan fiktif.
Dalam operasionalnya, perusahaan itu kemudian menerbitkan faktur fiktif untuk
mengurangi pajak. Tersangka menyiasati harga dengan menggunakan faktur palsu atau
fiktif, kemudian mengatur nominal harga produk yang kena pajak menjadi lebih rendah.
Otomatis setoran pajak yang ditang-gung perusahaan tersangka menjadi lebih kecil.
Menurut data tim penyidik Ditjen Pajak, sebelum menangkap tersangka AG dan DM,
tim gabungan kasus pajak menangkap tersangka dengan inisial Aban, selaku petinggi PT
Sinar Terang Sentosa Jaya. Pendirian PT Sinar Terang Sentosa Jaya untuk mendapatkan
restitusi pajak pertambahan nilai (PPN) dengan menyampaikan surat pemberitahuan (SPT)
fiktif.
Modus operandi tindak pidana pajak melalui faktur fiktif dimulai dari transaksi riil
antara pabrikan dan konsumen. Dalam transaksi ini ada penyerahan barang dan
pembayaran, tapi penjual tidak membuat faktur pajak atas nama konsumen. Alasan
pertama yaitu, pembeli bukan pengusaha kena pajak atau konsumen akhir. Kedua, pembeli
tidak ingin atau tidak memerlukan dokumen pajak. Penjual kemudian membuat seolah-
olah transaksi dilakukan antara pabrikan dan PT Sinar Terang Sentosa Jaya.
Faktur pajak fiktif, bersama dokumen penjualan lainnya, dilaporkan sebagai kredit
pajak dalam SPT masa PPN PT Sinar Terang Sentosa Jaya. Sebagian faktur pajak fiktif
itulah yang digunakan untuk mengajukan restitusi PPN. PT Sinar Terang Sentosa Jaya
juga menerbitkan faktur pajak yang tidak berdasarkan transaksi sebenarnya kepada pihak
ketiga dan dilaporkan ke dalam SPT masa PPN sebagai pajak keluaran. Pihak ketiga
tersebut mengkreditkan faktur pajak dengan tujuan memperkecil setoran PPN, melaporkan
SPT lebih bayar dan kemudian mengajukan permohonan restitusi.
Kasus faktur pajak fiktif harus ditangani dengan tindakan konkret, karena efek yang
ditimbulkan dari kasus ini bisa mengganggu pendapatan negara. Kejahatan faktur pajak
fiktif atau palsu yang sulit ditelusuri ini dipicu oleh kemampuan pelaku. Intinya, para
pelaku kejahatan faktur pajak adalah orang-orang intelek. Artinya, orang-orang yang
punya pengetahuan atau wawasan seputar pajak, dan mengerti seluk-beluk pajak. Berbekal
pengetahuan yang dimiliki pelaku, para pelaku bisa mengelabui aparat pajak dengan
mudahnya. Ada beberapa serangkaian proses yang benar-benar mereka pahami. Di situ
mereka memanfaatkan kelemahan petugas pajak.
Menurut pengamat hukum Alfons Leomau, penanganan kasus manipulasi pajak lewat
penggunaan faktur fiktif, hendaknya difokuskan pada serangkaian upaya pengembalian
kerugian negara secara optimal. Tanpa ada usaha mengembalikan aset negara, upaya
hukum yang dijalani kurang memberikan efek jera pada para pelaku. Pada prinsipnya
upaya hukum dilakukan untuk memberikan pembinaan dan efek jera, serta juga harus ada
unsur pemaksa seperti diberlakukannya denda atau ganti rugi.
Diharapkan semangat profesionalitas penyidik pajak maupun kepolisian dalam
menangani kasus penyimpangan pajak dikedepankan. Artinya, kalau benar ada temuan
atau tindak pidana pada kasus pajak, secepatnya hal tersebut dikoordinasikan kepada
penyidik kepolisian. perkara penyelewengan pajak yang terjadi di sini sudah sangat
kompleks. Karenanya dibutuhkan sinergi antar lembaga penegak hukum dalam
meminimalisasi kejahatan di sektor pajak.

B. Penerapan PER-24/PJ/2012 sebagai solusi Penyalahgunaan Faktur Pajak Fiktif

Melihat banyaknya kasus penyalahgunaan faktur pajak, Direktorat Jenderal Pajak


lebih memperketat sistem administrasi mengenai pemungutan PPN, sebagai bukti
pemungutan digunakan dokumen Faktur Pajak, sehingga Direktorat Jenderal Pajak
membuat kebijakan baru yang tertuang dalam PER-24/PJ/2012. Dalam kebijakan baru ini
diatur mengenai tata cara pengisian faktur pajak, perubahan yang paling signifikan
mengenai penomoran seri faktur pajak, perubahan kebijakan ini bertujuan untuk lebih
menertibkan administrasi pajak mengenai faktur pajak sebagai penyempurna kebijakan
PER-13/PJ/2010. Di mana pelaksanaan penerapan kebijakan PER-24/PJ/2012 akan mulai
tanggal 1 April 2013.
Penomoran faktur pajak berubah sesuai dengan PER-24/PJ/2012, di mana PKP tidak
lagi mempunyai wewenang dalam memberikan nomor seri pada faktur pajak, penomoran
seri faktur pajak dikendalikan oleh Direktorat Jenderal Pajak dengan cara PKP harus
mengaktifkan kode aktivasi dan password terlebih dahulu dengan mengajukan surat
permohonan Kode Aktivasi dan Password ke Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP
dikukuhkan, hal ini tentu akan memberikan dampak yang positif khususnya bagi
penerimaan faktur pajak. Dalam PER-24/PJ/2012 bukan hanya tentang penomoran seri
faktur pajak saja yang mengalami perubahan signifikan, tetapi juga mengenai peraturan
penandatanganan faktur pajak oleh oknum terkait, yakni pejabat kelurahan untuk yang
memiliki KTP dan pejabat imigrasi bagi yang tidak memiliki KTP. Dengan diterapkanya
PER-24/PJ/2012 memberikan celah yang sempit bagi para oknum yang terlibat dalam
penyalahgunaan faktur pajak fiktif. PER-24/PJ/2012 bertujuan untuk pengendalian nomor
seri faktur pajak, dalam pelaksanaanya nomor seri faktur pajak tidak di isi sendiri oleh
PKP yang bersangkutan.
Mendapatkan hasil yang maksimal dalam pelaksanaan PER-24/PJ/2012 dibutuhkan
kerjasama antara Direktorat Jenderal Pajak dengan lembaga Penegak Hukum, baik
kepolisian maupun kejaksaan, kerjasama tersebut meliputi penyidikan pajak, pengamanan
kegiatan dan pelaksanaan tugas Dirjen Pajak, pemanfaatan data dan informasi untuk
meningkatkan kepatuhan dan penerimaan pajak. Dengan kerjasama yang dilakukan oleh
Dirjen Pajak dengan aparat hukum diharapakan penerimaan kas negara yang didapat dari
faktur pajak akan terserap secara maksimal. Dan nantinya Sanksi yang diberikan dapat
membuat efek jera bagi para pelaku penyalahgunaan faktur pajak.
Penerapan kebijakan PER-24/PJ/2012 bukan hanya mengenai penomoran seri faktur
pajak saja yang berubah secara signifikan melainkan juga, PKP harus mengajukan surat
permohonan Kode Aktivasi dan Password ke kantor Pelayanan Pajak tempat PKP
dikukuhkan, surat permintaan nomor seri faktur pajak harus diisi secara lengkap dan
disampaikan langsung ke Kantor Pelayanan Pajak, setelah itu Kantor Pelayanan Pajak
akan menyeleksi pengusaha yang dianggap layak untuk diberikan nomor seri faktur pajak,
setelah dinyatakan layak maka Kantor Pelayanan Pajak akan menerbitkan surat
pemberitahuan nomor seri faktur pajak.
Jumlah nomor seri faktur pajak yang diberikan kepada PKP paling banyak 75 nomor
seri faktur pajak untuk PKP baru dan PKP yang masih menggunakan Surat Pemberitahuan
(SPT) PPN Manual, sedangkan bagi mereka yang sudah menggunakan SPT Elektronik (e-
SPT) diberikan nomor faktur pajak seabnyak 120% dari jumlah faktur pajak dalam 3 bulan
terakhir yang telah jatuh tempo. Sebagai contoh PKP menggunakan e-SPT yang hendak
meminta nomor faktur pajak pada bulan April 2013, maka pengusaha tersebut harus
menyampaikan SPT PPN bulan Desember, Januari dan Februari. Misal pada ketiga bulan
tersebut jumlah faktur yang diterbitkan untuk bulan Desember 50 faktur, Januari 100
faktur dan Februari 150 faktur maka jumlah faktur yang diberikan di bulan April adalah
sejumlah 360 (300x120%=360) faktur pajak.
Waktu yang dibutuhkan PKP menjadi tidak efisien, PKP harus bolak balik ke Kantor
Pelayanan Pajak untuk mendapatakan nomor seri faktur pajak tersebut, belum lagi jika
permintaan kode aktivasi dan password tersebut di tolak oleh Kantor Pelayanan Pajak,
maka waktu yang dibutuhkan PKP menjadi lebih lama. Dalam penyerahan faktur pajak
PKP diharuskan membubuhkan tanda tangan yang telah dilegalisir oleh pejebat yang
berwenang. Dalam kebijakan baru ini juga penegasan keterangan faktur pajak mengenai
alamat dan jenis barang/jasa harus diisi sesuai dengan keterangan yang sebenarnya dan
sesungguhnya. Dalam penggunaan nomor faktur pajak akan dipantau oleh Direktorat
Jenderal Pajak, dan jika terjadi kelebihan nomor faktur pajak harus dikembalikan ke
Kantor Pelayanan Pajak terkait, dan apabila terjadi kekurangan nomor seri faktur pajak
sebelum jangka waktu tiga bulan maka PKP harus meminta kembali pemberian nomor seri
faktur pajak, tentu hal ini sangat membuat repot.
Diterapkannya kebijakan baru ini bukan hanya menjadi pekerjaan tambahan bagi
PKP, melainkan juga bagi petugas pajak berupa pelayanan pemberian kode aktivasi dan
password, pelayanan pemberian nomor seri faktur pajak dan pengawasan nomor seri
faktur pajak yang diberikan, nomor seri yang dilaporkan dan nomor seri yang tidak
digunakan.
Kebijakan baru ini diharapkan penerimaan kas negara yang didapat dari faktur pajak
akan terserap secara maksimal, dan setiap kebijakan baru tentunya bertujuan untuk lebih
baik dalam hal pelaksanaan kedepanya, hanya saja jika tidak diiringi dengan sosialisasi
yang matang, tentu dampak yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan, disini peran
Pelayanan Pajak sangat dibutuhkan terutama bagi para Account Representative. Bukan
hanya pelayanan pajak saja yang perlu ditingkatkan melainkan juga sistem yang
digunakan juga perlu ditingkatkan. Pemantauan nomor seri faktur pajak dilakukan oleh
Kantor Pajak Pusat, sehingga sistem yang baik sangat penting dalam memantau nomor seri
faktur pajak.

C. Analisa Kelebihan dan Kekurangan PER-24/PJ/2012

Setiap kebijakan tentu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapanya,


berdasarkan analisa yang ada dapat diambil dari kebijakan baru ini di antaranya:

Kelebihan Kebijkan baru faktur pajak PPN:


1. PKP akan lebih transparan dalam penerbitan nomor seri faktur pajak, di mana dalam
pelaksanaanya penggunaan nomor seri faktur pajak akan terus dipantau oleh Direktorat
Jenderal Pajak
2. Peyalahgunaan faktur pajak fiktif bisa di minimalkan, dengan penerapan nomor seri
faktur pajak, PKP tidak akan mempunyai celah dalam penyalahgunaan faktur pajak
fiktif.
3. Penerimaan pajak dari faktur pajak bisa terlaksana secara maksimal, dengan
meyempitnya penyalahgunaan faktur pajak, maka penerimaan kas negara yang didapat
dari faktur pajak menjadi lebih maksimal
4. Memberikan kenyamanan dalam pelaksanaan penerbitan faktur pajak, dengan
kebijakan baru ini diharapkan memberikan kenyaman bagi PKP yang melakukan
pembayaran faktur pajak.
5. Meningkatkan pengawasan dalam pelaksanaan faktur pajak, Kebijakan PER-
24/PJ/2012 meningkatkan pengawasan dalam pelaksanaan pembayaran faktur pajak.
6. Menertibkan pelaksanaan faktur pajak, dengan kebijakan yang baru ini pelaksanaan
faktur pajak menjadi lebih tertib, dimana PKP akan menggunakan nomor seri faktur
pajak sesuai dengan ketentuan yang telah diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

Kekurangan Kebijakan baru faktur pajak PPN:

1) Program e-SPT belum bisa mengakomodir perubahan kebijakan yang baru, terutama
mengenai faktur pajak pengganti
2) Waktu yang kurang efisien di mana PKP harus meluangkan waktu lebih banyak untuk
bolak balik, termasuk legalisasi dari pejebat yang berwenang dalam membubuhkan
tanda tangan ke faktur pajak
3) Kebijakan ini juga akan menambah pekerjaaan lain di KPP berupa pelayanan pemberian
kode aktivasi dan password, pelayanan pemberian nomor seri faktur pajak, dan
pengawasan atas nomor seri faktur pajak yang diberikan
4) Penomoran seri faktur pajak pada perusahaan manufaktur akan menjadi sangat sulit, di
mana dalam perusahaan manufaktur faktur pajak yang digunakan menjadi lebih banyak.
5) PKP diharuskan untuk melek teknologi, karena pengiriman kode aktivasi dan password
yang diterima dikirim melalui e-mail.
6) Jika terjadi kelebihan ataupun kekurangan nomor seri faktur pajak dalam pelaksanaan
akan menjadi sulit, dimana PKP harus selalu memantau penggunaan faktur pajak agar
penggunaanya sesuai dengan pelaksanaan awal. Jika terjadi kelebihan dalam
penggunaan nomor faktur pajak harus dikembalikan kepada Kantor Pelayanan Pajak
terkait, dan jika terjadi kekurangan maka PKP harus meminta tambahan nomor seri
faktur pajak kepada Kantor Pelayanan Pajak terkait.

D. Upaya Perbaikan Pada Undang-undang Pajak

Sebagaimana kita ketahui pada tanggal 15 Oktober 2009 telah terbit Undang-undang
Nomor 42 Tahun 2009 yang merupakan perubahan ketiga atas Undang-undang Nomor 8
Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM. Beberapa perubahan yang dilakukan oleh Undang-
undang PPN yang baru ini coba saya uraikan di paragraf-paragraf di bawah ini.

1) Penyerahan Barang Kena Pajak

Dalam Pasal 1A ayat (1) dimuat tambahan yang termasuk dalam pengertian
penyerahan Barang Kena Pajak yaitu : penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pengusaha
Kena Pajak dalam rangka perjanjian pembiayaan yang dilakukan berdasarkan prinsip
syariah, yang penyerahannya dianggap langsung dari Pengusaha Kena Pajak kepada
fihak yang membutuhkan Barang Kena Pajak.

2) Objek PPN Pasal 16D

Terdapat perubahan materi di Pasal 16D UU PPN. Di UU PPN yang lama


dinyatakan bahwa Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan aktiva oleh
Pengusaha Kena Pajak yang menurut tujuan semula aktiva tersebut tidak untuk
diperjualbelikan, sepanjang Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar pada saat
perolehannya dapat dikreditkan.
Kini dengan UU PPN baru, dinyatakan bahwa PPN dikenakan terhadap aktiva
yang menurut tujuan semula tidak diperjualbelikan, kecuali yang pajak masukannya
tidak dapat dikreditkan sesuai Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c. Dengan demikian,
tetap dikenakan PPN walaupun pajak masukannya tidak dapat dikreditkan jika tidak
dapat dikreditkannya adalah berdasarkan Pasal 9 ayat (8) huruf a, d, f, g, h, I dan j.
3) Non Barang Kena Pajak dan Non Jasa Kena Pajak

Bila dalam UU PPN lama, barang kena pajak dan jasa kena pajak yang
dikecualikan dari pengenaan PPN diatur dalam Peraturan Pemerintah, maka dalam UU
Nomor 42 Tahun 2009 ini, jenis BKP dan JKP yang dikecualikan ini diatur langsung
dalam UU PPN sehingga tidak perlu lagi ada Peraturan Pemerintah. Rincian dan
penjelasan dari BKP dan JKP yang tidak dikenai PPN ini diatur dalam bagian
penjelasan Pasal 4A.
Beberapa perubahan penting di antaranya adalah perluasan jenis barang
kebutuhan pokok yang tidak dikenakan PPN yang meliputi beras, gabah, jagung, sagu,
kedelai, garam, daging, telur, susu, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Makanan dan
minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau katering juga tidak dikenakan
PPN. Di bidang jasa, jasa tata boga atau katering juga sekarang termasuk jasa yang
tidak dikenai PPN.

4) Pemusatan PPN

Perubahan mendasar dalam hal pemusatan tempat terutang PPN adalah bahwa
dalam Pasal 12 ayat (2) UU PPN baru, pemusatan PPN cukup dilakukan dengan
pemberitahuan secara tertulis saja, tidak dengan permohonan seperti pada UU PPN
yang lama. Konsekuensinya adalah bahwa tidak perlu lagi keputusan menerima atau
menolak pemusatan PPN oleh Dirjen Pajak yang selama ini dipraktekan.

5) Pembuatan Faktur Pajak

Masalah pembuatan faktur pajak ini diatur dalam Pasal 13 UU PPN. Beberapa
hal mendasar telah dilakukan terkait dengan pembuatan faktur pajak ini. Pertama, jika
pada UU PPN lama PKP wajib membuat faktur pajak untuk setiap penyerahan BKP di
dalam daerah pabean dan ekspor BKP, maka pada UU PPN baru ini, ditambahkan lagi
kondisinya yaitu untuk setiap penyerahan eks Pasal 16D, ekspor BKP tidak berwujud
dan ekspor jasa kena pajak.
Kedua, ditambahkannya ketentuan tentang saat pembuatan faktur pajak di
Pasal 13 ayat (1a) dan ayat (2a) untuk faktur pajak gabungan.
Ketiga, penghapusan Pasal 13 ayat (7) tentang faktur pajak sederhana. Dengan
demikian, dengan berlakunya UU PPN baru ini, nampaknya tidak akan ada lagi istilah
faktur pajak sederhana. Yang ada adalah faktur pajak standar dan dokumen tertentu
yang kedudukannya dipersamakan dengan faktur pajak.
Terakhir, ditambahkannya ketentuan Pasal 13 ayat (9) yang menyatakan
bahwa faktur pajak harus memenuhi persyaratan formal dan material.

6) Batas Waktu Pelaporan dan Pembayaran PPN

Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 ini juga memuat ketentuan tentang


batas waktu pembayaran atau penyetoran dan pelaporan SPT PPN. Agak mengherankan
bagi saya, karena semestinya hal seperti ini diatur dalam Undang-undang KUP karena
sifatnya ketentuan formal, bukan ketentuan material. Dengan demikian, nantinya akan
ada dualisme ketentuan yang mengatur batas waktu penyetoran dan pelaporan PPN ini,
kecuali tentunya ada perubahan di ketentuan KUP nya.
Dalam Pasal 15A UU ini, diatur bahwa batas waktu penyetoran adalah akhir
bulan berikutnya sebelum SPT Masa disampaikan. Sementara itu batas waktu
penyampaian SPT Masa PPN adalah akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya masa
pajak. Tentu saja dengan ketentuan ini akan membuat PKP lebih punya waktu untuk
membayar dan melaporkan SPT PPN nya. Antrian pembayaran pajak di bank pun bisa
dipecah. Begitu juga antrian pelaporan SPT tidak akan menumpuk lagi di tanggal 20.

7) Tanggung Renteng

Pasal 16F UU PPN memberikan ketentuan tentang tanggung renteng di mana


pembeli BKP atau penerima JKP bertanggung jawab secara renteng atas pembayaran
pajak (maskudnya PPN dan PPnBM?) sepanjang tidak dapat menunjukkan bukti bahwa
pajak telah dibayar.
Menurut hasil pemeriksaan pajak Aban melalui STSJ mengeluarkan faktur
pajak lebih dari sepuluh perusahaan yang menjual produk-produk mereka pada
perusahaan lain. Keberadaan perusahaan penjual maupun pembeli memang benar
adanya. Tapi, Aban membuat faktur pajak transaksi jual beli oleh kedua pihak yang tak
pernah diakui oleh perusahaan penyuplai dan pembeli.
Aban memanipulasi sejumlah faktur pajak fiktif yang digunakan untuk
restitusi PPN, sesuai UU No.49 Tahun 2009 tentang PPN. Namun, upaya Aban terendus
pemeriksa pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pademangan, Jakarta Utara. Kemudian hal
itu dilaporkan pada Kanwil DJP Jakarta Utara yang kemudian melakukan tindakan
secara hukum sehingga Aban divonis dua tahun.
Sedangkan modus pidana Aban yang kedua adalah menerbitkan faktur pajak
bermasalah, atas nama perusahaan fiktif. Kemudian, faktur bodong itu dijual Aban pada
pengguna faktur pajak bermasalah lain. Kemudian, faktur pajak tersebut pengguna lain
untuk meminta restitusi, mengurangi setoran PPN, dan digunakan pada pengguna lain.
Direktorat Jenderal Pajak menangani penyalahgunaan wewenang wajib pajak
yang diberikan undang-undang. Seperti diketahui, UU No.6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) seperti diperbarui dengan UU No.5
Tahun 2008 menerapkan sistem self assessment pada wajib pajak.
Wewenang tersebut memberikan keleluasaan pada wajib pajak untuk
mengitung, melaporkan, lalu membayar kewajiban mereka. Jika kewenangan itu
diselewengkan, penegakan hukum pasti dilakukan oleh kasus Aban yang telah kami
uraikan.

8) Sanksi yang dikenakan

1. Sesuai UU No.49 Tahun 2009 tentang PPN, sehingga Aban divonis dua tahun.
2. Pasal 39 ayat (1) huruf c UU KUP (dakwaan primer). Serta melanggar Pasal 39 ayat
(1) huruf a UU KUP sebagai dakwaan sekunder. Tim penuntut yang dipimpin
Martha Berliana, pada 10 Maret 2011, menuntut Aban pidana penjara selama empat
tahun dan denda empat miliar rupiah.
3. Ancaman hukuman dari pasal seperti dakwaan primer adalah paling lama enam
tahun dan denda empat kali pajak yang tidak/kurang dibayar. Adapun, kerugian
negara akibat perbuatan
Kesimpulan

Faktur Pajak merupakan bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena
Pajak (PKP) karena penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) atau penyerahan Jasa Kena Pajak
(JKP) atau oleh Ditjen Bea dan Cukai karena import BKP.
Faktur Pajak sangatlah berguna bagi PKP, dengan adanya faktur pajak maka PKP memiliki
bukti bahwa PKP telah melakukan penyetoran, pemungutan hingga pelaporan SPT Masa PPN
sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Orang pribadi dan badan yang tidak dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak
dilarang membuat Faktur Pajak. Larangan membuat Faktur Pajak oleh bukan Pengusaha
Kena Pajak dimaksudkan untuk melindungi pembeli dari pemungutan pajak yang tak
semestinya. Jumlah pajak yang tercantum dalam Faktur Pajak harus disetorkan ke kas negara.
Faktur Pajak tidak harus dibuat secara khusus atau berbeda dengan Faktur Penjualan, artinya
Faktur Penjualan dapat sekaligus berfungsi sebagai Faktur Pajak.
  Dalam beberapa tahun belakangan ini, marak sekali terjadi kasus pembobolan uang
Negara dengan cara memanipulasi restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dengan modus
menerbitkan atau membuat Faktur Pajak Palsu, akibatnya negara pun dirugikan hingga
triliunan Rupiah.
Dengan masih adanya oknum-oknum yang memalsukan Faktur Pajak demi
mengurangi atau bahkan menghindari pembayaran Pajak, pihak Pemerintah pun tidak hanya
tinggal diam, beberapa upaya telah dilakukan oleh Pemerintah untuk mencegah pemalsuan
Faktur Pajak ini, antara lain dengan Penggunaan e-tax invoice dan pembenahan sistem
administrasi PPN.

Saran
Dari keselurahan paparan menganai penyalagunaan faktur pajak Saran yang dapat di
sampaikan kepada instansi yang berwenang dalam pengungutan pajak atau dalam hal ini
Direktorat Jenderal Pajak untuk meningkatkan pengawasan terhadap setiap pelaporan wajib
pajak, pajak pribadi maupun badan hukum dan bila di mungkinkan dalam pelaporan wajib
pajaknya di lakukan secara online agar tidak terjadi kecurangan dalam pelaporan wajib pajak
nya dan dari Direktorat Jenderal Pajak mensurve terlebih terhadap faktur pajak yang tidak
jelas atau fiktif hal tersebut dapat mengurangi kerugian negara yang diakibatkan kasus faktur
pajak fiktif.
Referensi:

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.


Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2000.
Undang-Undang Nomor 28 tahun 2007 Tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang
Nomor 6 tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
Undang - Undang Nomor 42 Tahun 2009 Tentang Perubahan Ketiga Atas Undang - Undang
Nomor 8 Tahun 1983 Tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa Dan Pajak
Penjualan Atas Barang Mewah.
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Uundang-Undang Nomor
31 Tahun 1999 Tentang Pembarantasan Tindak Pidana Korupsi
Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Pelaksanaa.Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 42 tahun 2009
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/ PMK.03/2012 tentang Tata Cara Pembuatan dan
Tata Cara Pembetulan atau Penggantian Faktur Pajak
Peraturan Direktur Jendral Pajak Nomor PER- 24 /PJ/2012 Tentang Bentuk, Ukuran, Tata
Cara Pengisian Keterangan, Prosedur Pemberitahuan Dalam Rangka Pembuatan, Tata
Cara Pembetulan Atau Penggatian, Dan Tata Cara Pembatalan Faktur Paja
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-24/PJ/2012, ketentuan tentang Bentuk,
ukuran, tata cara pengisian keterangan, prosedur pemberitahuan dalam rangka
pembuatan, tata cara pembetulan atau penggantian, dan tata cara pembatalan faktur pajak
Andri Donnal Putera. Kompas.com. “Kasus Faktur Pajak Palsu, Ame Hamid Kena Vonis
Tambahan dari PN Jaksel”. Di akses dari
https://ekonomi.kompas.com/read/2018/01/11/113000326/kasus-faktur-pajak-palsu-
amie-hamid-kena-vonis-tambahan-dari-pn-jaksel. Pada tanggal 07 Maret 2020. Pukul
14.02 WIB