Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah SWT,


karena atas rahmat dan hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah
Pengetahuan Lingkungan ini tepat pada waktunya. Makalah Pengetahuan Lingkungan
yang berjudul “Perilaku Sadar Lingkungan” ini disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah Pengetahuan Lingkungan (ABKC-2308).

Dalam kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada:


1. Drs. Bunda Halang, M.T., Dr. Dharmono, M.Si., dan Maulana Khalid Riefani.
S.Si., M.Sc.,selaku dosen pengasuh mata kuliah Pengetahuan Lingkungan.
2. Kakak Atika Rahmawati, S.Pd., Aulia Rahman, Muhammad Guntur Al-Ghani, dan
Muhammad Yasin selaku Asisten Dosen Pengetahuan Lingkungan yang telah
memberikan arahan dan bimbingan kepada penyusun selama melaksanakan
praktikum.
3. Serta semua pihak yang telah membantu sehingga laporan ini dapat diselesaikan.
Penyusun menyadari makalah ini masih jauh dari kesempuranaan yang
disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan yang penyusun miliki. Oleh karena itu,
penyusun mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
memperbaiki makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semuanya.
Amin ya rabbal alamin.

Banjarmasin, Desember 2018

Kelompok XIX

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................................ii
BAB I.......................................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................................1
1.1 Latar belakang................................................................................................................1
1.2 Rumusan masalah...........................................................................................................2
1.3 Tujuan............................................................................................................................2
1.4. Metode penulisan.........................................................................................................2
BAB II.....................................................................................................................................3
PEMBAHASAN......................................................................................................................3
2.1 Pencemaran yang Terjadi di Desa Tabanio..............................................................3
2.3.1 Pencemaran Udara............................................................................................3
2.3.2 Pencemaran Air................................................................................................5
2.2. Dampak pencemaran di Desa Tabanio..........................................................................9
2.2.1. Dampak pencemaran udara..............................................................................9
2.2.2. Dampak pencemaran air.................................................................................11
2.2.3 Dampak pencemaran tanah....................................................................................12
2.3. Cara Penanggulangan Pencemaran.........................................................................13
BAB III..................................................................................................................................17
PENUTUP.............................................................................................................................17
3.1 Kesimpulan............................................................................................................17
3.2 Saran............................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................18

ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Perilaku pada hakikatnya adalah suatu aktivitas dari pada manusia itu
sendiri, perilaku juga adalah apa yang di kerjakan oleh organisme tersebut, baik
dapat diamati secara langsung ataupun tidak langsung, hal ini berarti perilaku
terjadi apabila ada sesuatu yang di perlukan untuk menimbulkan reaksi yakni
yang disebut rangsangan, dengan demikian suatu rangsangan tertentu akan
menghasilkan reaksi perilaku tertentu (Notoatmodjo, 2007).
Perilaku sadar lingkungan akan menimbulkan sikap peduli lingkungan
yang dipahami sebagai sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah
kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya
untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Menurut Yaumi (2014),
sikap peduli lingkungan adalah sikap dan tindakan yang berupaya mencegah
kerusakan alam di lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-
upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

Pencemaran adalah perubahan yang tak dikehendaki dari lingkungan yang


sebagian besar akibat dari kegiatan manusia. Perubahan ekosistem atau habitat
dapat berupa perubahan fisik, kimia, atau perilaku biologis yang akan
mengganggu kehidupan manusia, spesies, biota bermanfaat, proses- proses
industri, kondisi kehidupan, dan aset kultural. Selain itu perubahan ekosistem
akibat kegiatan manusia yang merusak atau menghamburkan secara sia-sia
sumberdaya yang ada di alam (Triyani, 2009).

Pencemaran di suatu lingkungan akan memicu timbulnyanya perilaku


sadar lingkungan di masyarakat sekitarnya. Alam yang mengalami pencemaran

1
akan turun kualitasnya. Hanya manusia yang memiliki sikap sadar lingkungan
yang mampu mengatasi permasalahan tersebut. Makalah ini membahas tentang
bagaimana sikap perilaku sadar lingkungan warga di desa Tabanio Kecamatan
Takisung dalam menanggulangi pencemaran di lingkungan tempat tinggalnya.

1.2 Rumusan masalah

1. Apa saja pencemaran yang terjadi di desa Tabanio?

2. Apa saja dampak pencemaran yang terjadi di desa Tabanio?

3. Bagaimana penanggulangan pencemaran yang dilakukan warga desa Tabanio?

4. Bagaimana tingkat perilaku sadar lingkungan warga di desa Tabanio?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pencemaran yang terjadi di desa Tabanio?

2. Untuk mengetahui dampak pencemaran yang terjadi di desa Tabanio?

3. Untuk mengetahui penanggulangan pencemaran yang dilakukan warga desa


Tabanio?

4. Untuk mengetahui tingkat perilaku sadar lingkungan warga di desa Tabanio?

2
1.4. Metode penulisan

Penulisan makalah dibuat dengan metode pengumpulan data hasil wawancara


lapangan dan didukung dari sumber-sumber yang relevan seperti jurnal-jurnal.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pencemaran yang Terjadi di Desa Tabanio

3
Pencemaran atau polusi adalah suatu kondisi yang telah berubah dari
bentuk asal pada keadaan yang lebih buruk. Pergeseran bentuk tatanan dari
kondisi asal pada kondisi yang buruk ini dapat terjadi sebagai akibat masukan
dari bahan-bahan pencemar atau polutan. Bahan polutan tersebut pada umumnya
mempunyai sifat racun (toksik) yang berbahaya bagi organisme hidup. Toksisitas
atau daya racun dari polutan itulah yang kemudian menjadi pemicu terjadinya
pencemaran (Palar, 1994). Berdasarkan hasil wawancara yang telah kami
lakukan dengan responden yang bernama Etnawati (50 tahun) beliau mengatakan
bahwa beliau tidak mengetahui tentang pencemaran beserta dampak negatifnya.

Adapun berdasarkan hasil pengamatan yang didukung hasil wawancara,


pencemaran di desa Tabanio yaitu;
2.3.1 Pencemaran Udara
Pencemaran udara adalah suatu kondisi di mana kualitas udara
menjadi rusak dan terkontaminasi oleh zat-zat, baik yang tidak berbahaya
maupun yang membahayakan kesehatan tubuh manusia. Pencemaran udara
biasanya terjadi di kota-kota besar dan juga daerah industri yang
menghasilkan gas-gas yang mengandung zat diatas batas kewajaran.
Menurut asalnya, pencemaran udara dibagi menjadi pencemaran udara
alami dan pencemaran udara non-alami.
a. Pencemaran Udara Alami
Pencemaran udara alami adalah masuknya zat pencemar ke dalam
udara/atmosfer, akibat proses-proses alam seperti asap kebakaran hutan
dan debu gunung berapi.
b. Pencemaran Udara Non-alami
Pencemaran udara non-alami adalah masuknya zat pencemar ke dalam
udara yang di sebabkan oleh aktifitas manusia seperti gas beracun, asap
dari hasil industry, asap kendaraan bermotor maupun asap rokok yang

4
mengandung karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), sulfur
oksida (SO2), nitrogen monoksida (NOx), CFC dan sebagainya.

Pencemaran udara yang terjadi di desa Tabanio merupakan


salah satu bentuk dari pencemaran udara non-alami. Menurut hasil
wawancara dengan ibu Etnawati, beliau mengatakan bahwa di
lingkungan tempat tinggalnya udara tidak cukup bersih di karenakan
asap dari kendaraan bermotor yang lalu-lalang di depan rumahnya.
Selain itu, angin dari kendaraan bermotor tersebut juga menerbangkan
debu yang mengotori teras rumahnya.
Selain itu, pencemaran udara yang terjadi di desa Tabanio
menurut hasil wawancara responden yaitu; pembakaran sampah rumah
tangga.

Cara menangani sampah yang ada di


lingkungan ?

5
a. Dibakar 17 60,71 %
b. Dibuang kesungai
c. TPA
d. Dikubur 7 25,00 %
e. Dipilah

2 7,14 %

1 3,57 %

1 3,57 %

Tabel tersebut menunjukan persentasi warga Desa Tabanio


dalam menanggulangi sampah rumah tangga mereka. Disana terlihat
bahwa penanganan sampah dengan cara dibakar berada di urutan
pertama dengan besar persentae 60,71% dengan rincian 17 dari 28
responden menangani sampahnya dengan cara dibakar.
Ibu Etnawati merupakan salah satu dari 17 orang yang
menangani sampahnya dengan cara dibakar. Menurut hasil wawancara
kami dengan responden. Ibu Etnawati mengumpulkan sampah rumah
tangganya di sebuah ember bekas yang digunakannya sebagai tempat
sampah sementara. Sampah yang sudah dikumpulkan akan di bakar di
dekat tepian sungai.
Upaya masyarakat dalam meminimalisir sampah yang
dihasilkan dengan cara membakarnya di tempat terbuka sebenarnya
proses-proses pembakaran tersebut memberikan efek negatif pada
lingkungan. Proses pembakaran sampah secara terbuka sebenarnya
dapat menghasilkan polutan, salah satunya partikulat. Pembentukan
partikulat terjadi pada pembakaran tidak sempurna.

6
2.3.2 Pencemaran Air
Pencemaran air yaitu masuknya makhluk hidup, zat, energi atau
komponen lain ke dalam air, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat
tertentu yang menyebabkan tidak berfungsi lagi sesuai dengan
peruntukannya. Pencemaran air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari
keadaan normal (Kristanto. 2002).

Menurut ibu Etnawati, kondisi sungai lingkungan sekitarnya sudah


mulai kurang bersih karena banyaknya sampah yang dibuang sembarangan
ke sungai. Selain itu, kapal-kapal nelayan yang berlabuh di pinggiran
sungai juga tidak jarang membuang bekas-bekas bahan bakar berupa
minyak dan solar di sungai.

Cara menangani sampah yang ada di


lingkungan ?

17 60,71 %
a. Dibakar
b. Dibuang kesungai
c. TPA 7 25,00 %
d. Dikubur
e. Dipilah

7
2 7,14 %

1 3,57 %

1 3,57 %

Tabel tersebut menunjukan persentase penanganan sampah dari warga


di desa Tabanio dengan hasil wawancara dari 28 orang responden. Disana
terlihat bahwa ada 7 dari 28 orang membuang sampah rumah tangganya ke
sungai dengan persentase 25,00%. Namun walau begitu, hal tersebut
mengindikasikan bahwa sungai di desa Tabanio sudah tercemar. Walau
terjadi pembuangan limbah minyak dan sampah, namun belum melewati
baku mutu dan menunjukan ciri-ciri air tercemar. Maka sungai di desa
Tabanio belum dapat dikatakan tercemar.
Ciri-ciri air yang tercemar adalah berwarna (tidak jernih), berbau dan
berasa. Air yang berwarna menunjukkan bahwa terjadi perubahan warna
pada air yang disebabkan oleh adanya zat pencemar. Air yang memiliki bau
busuk, menyengat, dan berbau aneh juga menunjukkan indikasi bahwa air
tersebut telah tercemar oleh zat polutan seperti sampah rumah tangga,
limbah industry maupun limbah pertanian. Selain warna dan bau ada satu
ciri lagi yang mengindikasikan bahwa air tersebut tercemar yaitu terjadi
perubahan pada rasa (air tidak sengaja ditambah dengan zat perasa).

2.2.3. Pencemaran Tanah


Pencemaran tanah adalah suatu keadaan yang terjadi karena
perubahan kondisi tata lingkungan tanah yang (menguntungkan atau
merusak dan merugikan manusia, binatang, dan tumbuhan) yang

8
disebabkan oleh kehadiran benda-benda asing. Hal ini salah satunya
sebagai akibat perbuatan manusia, sehingga mengakibatkan lingkungan
tersebut tidak berfungsi seperti semula.

Pencemaran tanah yang terjadi di desa Tabanio yang pertama yaitu;


sampah. Di desa Tabanio sudah ada sebuah tempat khusus layaknya TPA
untuk menampung sampah rumah tangga warga. Namun, sampah-sampah
tersebut lambat dalam di tangani sehingga menggunung, hal ini dapat
memicu bahan kimia berbahaya dari sampah-sampah plastik masuk dan
mengkontaminasi tanah.

9
Selain sampah, faktor lain yang menyebabkan terjadinya
pencemaran tanah di desa Tabanio adalah kepadatan penduduknya.
Menurut hasil wawancara dengan responden ibu Etnawati. Air bekas dari
bak pencucian alirannya langsung jatuh ke tanah dan tidak dialirkan ke
suatu penampungan khusus. Hal ini mengakibatkan limbah rumah tangga
berupa cairan, seperti larutan detergen akan langsung menyentuh tanah.
Hal ini akan berdampak pada mikroorganisme tanah seperti kapang, bakteri
bahkan hewan-hewan seperti cacing terancam karena zat kimia dari
detergen tersebut. Padahal kapang dan cacing berperan penting dalam
menjaga kesuburan tanah.
Kontaminasi pada tanah diakibatkan oleh penyebab termasuk limbah
industri, limbah pertambangan, pupuk residu, dan pestisida hingga bekas
instalasi senjata kimia. Bentuk kontaminasi berupa berbagai unsur atau
substransi kimia berbahaya yang mengganggu keseimbangan fisik, kimia
dan biologi tanah.
Ketika suatu zat berbahaya telah mencemari permukaan tanah, maka
ia dapat menguap, tersapu air huhan dan masuk ke dalam tanah.
Pencemaran yang masuk ke dalam tanah tersebut kemudian akan terendap
sebagai zat kimia beracun dalam tanah. Zat beracun dalam tanah tersebut

10
dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat
mencemari air tanah dan udara di atasnya. (Susilo. 2003)
2.2. Dampak pencemaran di Desa Tabanio
2.2.1. Dampak pencemaran udara

Berdasarkan hasil wawancara kami dengan ibu Etnawati,


pencemaran udara di desa Tabanio masih tergolong bersih. Hal ini
dikarenakan walau kadang jalanan dan halaman berdebu dan berasap,
namun jumlah kendaraan bermotor di desa tidak sebanyak di kota-kota
besar.

Kondisi udara di lingkungan sekitar ?

a. Bersih 18 94,74 %
b. Tidak

1 5,26 %

Berdasarkan tabel persentasi tersebut, dari 18 dari 19 responden


menyatakan bahwa udara di desa Tabanio masih tergolong bersih. Hal
ini dikarenakan jumlah asap kendaraan bermotor belum melewati baku
mutu pencemaran udara. Sehingga belum ada dampak yang spesifik
akibat adanya pencemaran udara di desa Tabanio.

Adapun berdasarkan literatur menurut dampak pencemaran


udara yaitu;

11
1. Dampak pada Kesehatan Manusia.
Pada tingkat konsentrasi tertentu zat-zat pencemar udara dapat
berakibat langsung terhadap kesehatan manusia, baik secara mendadak
atau akut, menahun atau kronis/sub-klinis dan dengan gejala-gejala yang
samar. Dimulai dari iritasi saluran pernafasan, iritasi mata, dan alcrgi
kulit sampai pada timbulnya tumbuhan atau kanker paru. Gangguan
kesehatan yang disebabkan oleh pencemaran udara dengan sendirinya
mempengaruhi daya kerja seseorang, yang berakibat turunnya nilai
produktivitas serta mengakibatkan kerugian ekonomis pada jangka
panjang dan timbulnya permasalahan sosial ekonomi keluarga dan
masyarakat. Dampak buruk polusi udara bagi kesehatan manusia tidak
dapat dibantah lagi, baik polusi udara yang terjadi di alam bebas
(Outdoor air polution) ataupun yang terjadi di dalam ruangan (Indoor air
polution), polusi yang terjadi di luar ruangan terjadi karena bahan
pencemar yang berasal dari industri, transportasi, sementara polusi yang
terjadi di dalam ruangan dapat berasal dari asap rokok, dan gangguan
sirkulasi udara.
2. Dampak terhadap tumbuhan
Tumbuh-tumbuhan memiliki reaksi yang besar dalam menerima
pengaruh perubaha n atau gangguan akibat polusi udara dan perubahan
lingkungan. Hal ini terjadi karena banyak faktor yang berpengaruh,
diantaranya spesies tanaman, umur, keseimbangan nutrisi. Beberapa
contoh kerusakan yang terjadi pada gangguan nutrisonal dan gangguan
atraksional biologis adalah terjadinya penurunan tingkatan kandungan
enzym, gangguan pada respon fisiologis adalah perubahan pada sistem
fotosintesa, sedang gangguan yang nampak secara visual adalah
chlorosis (perusakan zat hijau daun/menguning), Flecking (daun bintik-
bintik), Reduced crop yield (penurunan hasil panen).
3. Dampak terhadap hewan

12
Dampak negatif zat-zat pencemar udara terhadap fauna (hewan) tidak
berbeda jauh dengan dampak-dampak lain seperti terhadap manusia dan
tumbuhan. Dampak terhadap hewan dapat terjadi secara langsung dan
tidak langsung, secara langsung terjadi bila ada interaksi melalui sistem
pernafasan sebagaimana terjadi pada manusia. Dampak tidak langsung
terjadi melalui suatu perantara, baik tumbuhan atau perairan yang
berfungsi sebagai bahan makanan hewan.
2.2.2. Dampak pencemaran air

Berdasarkan hasil wawancara kami dengan ibu Etnawati, menurut


beliau air di sungai kurang bersih di karenakan masih banyak warga yang
membuang sampahnya di sungai. Akibatnya sungai di desa Tabanio nampak
keruh dan terdapat sampah-sampah di tepian yang berdampak menurunnya
kualitas air dan estetika sungai. Namun walaupun begitu, sungai di desa
Tabanio belum sepenuhnya tercemar karena tidak sepenuhnya memenuhi ciri-
ciri air tercemar. Walau air di desa Tabanio sudah berubah warna menjadi
keruh, namun belum ada muncul bau yang tidak sedap ataupun rasa. Maka
dari itu belum ada dampak yang spesifik mengenai pencemaran air di desa
Tabanio selain dari estetika sungai itu sendiri.

Adapun menurut literatur (Efrianti, susi, 2018) pencemaran air pada


umumnya dibagi atas 4 kelompok, yaitu:

1. Dampak terhadap kehidupan biota air


Banyaknya zat pencemaran pada air limbah akan menyebabkan
meurunnya kadar oksigen terlarut dalam air tersebut. Sehingga
mengakibatkan kehidupan dalam air membutuhkan oksigen terganggu
serta mengurangi perkembangannya. Akibat matinya bakteri-bakteri,
maka proses penjernihan air secara alamiah yang seharusnya terjadi
pada air limbah juga terhambat.

13
2. Dampak terhadap kualitas air tanah
Pencemaran air tanah oleh tinja yang biasanya diukur dengan faecal
coliform telah terjadi dalam skala ynag luas, hal ini dibuktikan oleh
suatu survey sumur dankal di Jakarta. Banyak penelitian yang
mengindikasikan terjadinya pencemaran tersebut.
3. Dampak terhadap kesehatan
Peran air sebagai pembawa penyakit menular bermacam-macam antara
lain :
 Air sebagai media untuk hidup mikroba pathogen
 Air sebagai sarang insekta prnyebar penyakit
 Jumlah air yang tersedia tidak cukup, sehingga manusia
bersangkutan tak dapat membersihkan diri
 Air sebagai media untuk hidup vector penyakit
4. Dampak terhadap estetika lingkungan
Dengan semakin banyaknya zat organik yang dibuang ke lingkungan
perairan, maka perairan tersebut akan semakin tercemar yang biasanya
ditandai dengan bau yang menyengat disamping tumpukan yang dapat
mengurangi estetika lingkungan.
2.2.3 Dampak pencemaran tanah
Berdasarkan hasil wawancara kami dengan ibu Etnawati, beliau
menangani sampahnya dengan cara di bakar di pinggir sungai yang mana
abu sisa pembakaran sampah akan larut dan terserap ke dalam tanah dan
tersebar ke dalam rantai makanan makhluk hidup yang ada di dalam tanah.
Walaupun begitu tidak semua tanah yang ada di Desa Tabanio tercemar,
melainkan hanya tanah yang ada di pinggir sungai itu saja dikarenakan
aktifitas warga membakar sampahnya hanya pada tempat itu.
Adapun menurut (Muslimah, 2015) Berikut ini dampak pencemaran
tanah sebagai berikut :

14
1. Dampak pada kesehatan
Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe
polutan, jalur masuk ke dalam tubuh dan kerentana populasi yang
terkena. Timbal sangat berbahaya pada anak-anak dan dapat
menyebabkan kerusakan otak, kerusakan ginjal.
2. Dampak pada ekosistem
Pencemaran tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem.
Perubahan kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan
kimia bercun/berbahaya bahkan pada dosis yang rendah sekalipun.
Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan metabolism dari
mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan
tanah. Akibatnya bahkan dapat memusnahkan beberapa spesie primer
dari rantai makanan.
2.3. Cara Penanggulangan Pencemaran
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden yang bernama
Etnawati desa Tabanio RT. 06 RW 03 responden mengatakan terdapat lahan
kosong di sekitar rumah beliau namun lahan tersebut tidak dimanfaatkan.
Perkarangan rumah responden terdapat tumbuhan, tumbuhan tersebut tidak
ditanam namun tumbuh dengan sendirinya. Selain itu, menurut responden
kondisi lingkungan disekitar bersih karena penduduk menjaga kebersihan
rumah.

Kerja bakti yang pernah dilakukan ?

a. Gotong Royong 7 36,84 %


b. Membersihkan desa
c. Membersihkan pantai
d. Pembangunan jalan 1 5,26 %
e. Penanaman pohon
f. Memotong rumput

15
g. Tidak ada 3 15,79 %

1 5,26 %

2 10,53 %

1 5,26 %

4 21,05 %

Apakah pernah melakukan penanaman pohon ?

a. Pernah 9 47,37 %
b. Tidak

10 52,63 %

Berdasarkan hasil data hasil presentase wawancara 10 dari 19 responden


tidak pernah melakukan penanaman pohon, namun hasil dari presentase
wawancara kondisi lingkungan sekitar bersih. Selain itu berdasarkan hasil
wawancara kami dengan responden ibu Etnawati. Beliau menangani sampah
rumah tangga di rumahnya dengan cara di bakar. Penanganan sampah dengan
cara di bakar seperti ini sebenarnya dinilai masih kurang tepat di karenakan
pembakaran sampah hanya akan menambah polutan di udara yang bisa
membahayakan bagi lingkungan.

Pembuangan sampah dilingkungan sekitar?


Berapa jumlahnya ?

16
a. 1 buah
b. 2 buah
c. 3 buah
d. 22 buah 9 47,37 %
e. Tidak ada

2 10,53 %

1 5,26 %

1 5,26 %

6 31,58 %

Berdasarkan tabel hasil persentase diatas, 9 dari 19 responden atau


dengan persentase 47,37 % mengatakan bahwa tempat pembuangan sampah di
desa Tabanio hanya satu buah bahkan ada 6 dari 19 responden mengatakan
bahwa tidak ada tempat pembungan sampah sama sekali.
Menambah jumlah TPA juga bisa untuk menanggulangi pencemaran
lingkungan, jika tempat pembungan sampah hanya satu, di khawatirkan sampah
yang menumpuk terlalu banyak dapat menimbulkan bau tidak sedap dan
menjadi bibit-bibit penyakit berbahaya bagi warga di sekitarnya.
Responden masih belum mengetahui dampak dari pembakaran sampah
tersebut dikarenakan masih kurangnya pengetahuan tentang pentingnya
kesadaran menjaga lingkungan sekitar. Selain itu dari data persentase diatas,
masih ada 4 dari 19 responden yang mengatakan tidak adanya kerja bakti di
desa. Hal ini menunjukan masih ada warga yang belum menunjukan perilaku
sadar lingkungan yang baik. Walaupun seperti itu persentase menyatakan
bahwa lingkungan di desa Tabanio masih bersih.

17
Adapun menurut literatur, penanggulangan dan pencemaran yang baik
adalah sebagai berikut;

Penanggulangan pencemaran lingkungan dapat dengan mengurangi


penggunaan bahan pencemar (reduce), menggunakan kembali barang untuk
kegunaan yang sama (reuse) dan melakukan daur ulang barang (recycle)

2.5.1. Mengurangi pemakaian bahan-bahan pencemar lingkungan (reduce)


Salah satu upaya untuk mengurangi pencemaran lingkungan adalah dengan
mengurangi konsumsi barang dan bahan yang dapat merusak lingkungan.
Kebiasan-kebiasan berikut ini mencerminkan upaya untuk mengurangi
barang-barang atau bahan-bahan yang dapat mencemari lingkungan, yaitu;
1. Menggunakan kendaraan ramah lingkungan
Pencemaran udara diantaranya terjadi karena banyaknya
bahan-bahan pencemar dari kendaraan bermotor. Untuk mengurangi
pencemaran tersebutm sebaiknya manusia mulai mengurangi
pemakaian kendaraan bermotor yang konsumsi bahan bakarnya tinggi
dan memilih kendaraan bermotor yang berteknologi ramah
lingkungan.
2. Mengurangi pemakaian kendaraan bermotor
Mengurangi pemakaian kendaraan bermotor dapat dilakukan
dengan cara mengurangi frekuensi penggunaan kendaraan bermotor.
Menggunakan motor bisa dilakukan pada saat-saat tertent, misalnya
jarak bepergian yang jauh, perlu waktu yang cepat dan lain-lain. Jika
jarak yang ditempuh relatif dekat, sebaiknya berjalan kaki atau
menggunakan sepeda yang ramah lingkungan.
3. Mengurangi penggunaan bahan-bahan yang sulit terurai.
Mengurangi bahan-bahan yang sulit terurai bisa dnegan
membiasakan diri untuk membawa kantong atau tempat belanja dari
rumah jika bepergian ke pasar atau toko. Selain itu bisa dengan

18
membiasakan diri untuk mengurangi mengoleksi bahan-bahan
berbahan plastik, gelas ataupun logam.
4. Menghindari penggunaan detergen secara berlebihan
Salah satu kegiatan rumah tangga yang dapat mencemari
lingkungan adalah kegiatan mencuci. Kegiatan tersebut menghasilkan
bahan pencemar berupa deterjen yang mengalir ke selokan dan
akhirnya mencemari sungai.
2.5.2. Memakai ulang (reuse)
Sesuai dengan istilahnya, reuse berarti memanfaatkan sampah atau limbah
yang sudah tidak di pakai untuk kepentingan yang sama dengan peruntukan
semula. Sebagai contoh, botol minuman dari gelas yang telah di minum
isinya, kemudian diserahkan lagi ke tempat pengecer. Dari pengecer, botol
tersebut di kembalikan ke pabrik dan di gunakan lagi sebagai botol minuman
yang sama berkali-kali. Cara ini sangat bermanfaat dalam menghemat
sumber daya alam karena tidak perlu membuat botol bar uterus menerus.
Penambahan bahan galian untuk membuat botol dapat di kurangim sehingga
menghemat cadangan bahan pembuat boto dan mengurangi kerusakan
lingkungan akibat kegiatan penambangan (Yuliana, 2017).
3. Daur Ulang (recycle)
Daur ulang merupakan upaya mengolah barang atau benda yang
sudah dipakai untuk dipakai kembali. Barang atau benda tersebut digunakan
untuk keperluan atau maksud yang berbeda dnegan peruntukan semula.
Sebagai contoh sebuah kaleng makanan yang telah habis isinya, kemudian
dibentuk menjadi sebuah mainan anak-anak. Kaleng tersebut awalnya adalah
untuk pembungkus makanan, tapi kemudian diolah menjadi mainan anak-
anak. Sampah organik dapat pula di daur ulang. Sampah tersebut biasanya
berupa sisa berbagai jenis makanan. Sampah organik masih menyimpan
kandungan zat tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh makhluk hidup lainnya
yaitu hewan dan tumbuhan. Contoh yang sederhana adalah pembuatan pellet

19
atau pakan ikan dari sampah organik. Sampah tersebut tadinya merupakan
bahan makanan manusia, kemudian setelah menjadi sampah dan di daur
ulang berubah peruntukannya menjadi pakan ikan (Yuliana, 2017).

20
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Pencemaran yang terjadi di desa Tabanio adalah pencemaran udara yang
diakibatkan asap kendaraan bermotor dan pembakaran sampah. Pencemaran
air yang diakibatkan buangan limbah rumah tangga dan minyak serta
pencemaran tanah akibat penumpukan sampah rumah tangga.
2. Dampak pencemaran yang ada di desa Tabanio yaitu; debu dan asap akibat
polusi kendaraan bermotor dan air sungai keruh akibat buangan limbah
minyak dari kapal-kapal nelayan.
3. Penanggulangan pencemaran di desa Tabanio yaitu dengan gotong royong dan
membakar sampah. Namun pembakaran sampah masih dinilai kurang tepat di
karenakan akan menambah polusi di udara.
4. Perilaku sadar lingkungan warga di desa Tabanio masih kurang dikarenakan
masih ada warga yang membakar sampah rumah tangga di lingkungan dan
membuang sampah rumah tangga di sungai. Serta jarangnya warga melakukan
kerja bakti untuk membersihkan lingkungan pemukiman.
3.2 Saran

21
Perlu adanya pengelolaan sampah yang baik pada Desa Tabanio sehingga dapat
mengurangi pencemaran lingkungan sekitar dan Desa Tabanio berpotensi sebagai
tempat objek wisata dikarenakan banyak wisata alam yang bisa di eksplor salah
satunya pantai nya, namun kebersihan lingkungan masih perlu diperhatikan
untuk menarik wisatawan, karena terlihat di sepanjang jalan Desa Tabanio
ditemukan kotoran sapi dan ayam yang mengganggu pemandangan dan
penciuman wisatawan yang berkunjung nantinya.

DAFTAR PUSTAKA

Apriliyana, Esti. 2016. 8 Bab II Kajian Pustaka. Diakses melalui


http://repository.ump.ac.id pada tanggal 27 Desember 2018.

Budiyono, A. (2001). Pencemaran Udara: Dampak Pencemaran Udara Pada


Lingkungan. 2.

Kristanto. 2002. Ekologi Industri. Yogyakarta: Penerbit Andi

Nugroho, Bagong Setyo. 1999. Pemahaman Masyarakat di Bantaran Sungai


Ciliwung tentang Sanitasi Lingkungan (Studi Kasus di Kelurahan Kampung
Melayu Jakarta Timur). Thesis tidak diterbitkan. Program Pasca Sarjana
Universitas Indonesia. Depok

Keraf, A., Sonny. 2010. Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: PT Kompas Medua
Nusantara.

22
Muslimah. (2015). Dampak Pencemaran Tanah dan Langkah Pencegahan. Jurnal
Penelitian.

Notoadmojo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta

Palar. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta: Rinneka Cipta

Purwanto, Nova. 2018. Perilaku Sadar Lingkungan Pemukiman Bantaran Sungai


Jelai, Sukamara. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota. Vol.14 No. 1

Sumampouw, OJ. 2015. Diktat Pencemaran Lingkungan. Diakses melalui


https://www.researchgate.net pada tanggal 27 Desember 2018.

Susilo, Y. 2003. Menuju Keselarasan Lingkungan. Jakarta: Averroes Press

Thoha, Miftah. 2001. Perilaku Organisasi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta:
Raja Grafindo.

Triyani, A. 2009. Tijauan Pustaka II. Diakses melalui http://e-journal.uajy.ac.id pada


tanggal 27 Desember 2018.

Walgito, Bimo. 2003. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: ANDI

Yuliana. 2017. Penanggulangan dan Pencemaran. Jakarta: UPI

23