Anda di halaman 1dari 69

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam Undang – undang no. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara (ASN) mengamanatkan Instansi Pemerintah untuk wajib memberikan
Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) terintegrasi bagi Calon Pegawai Negeri
Sipil (CPNS) selama 1 (satu) tahun masa percobaan. Tujuan dari Diklat
terintegrasi ini adalah untuk membangun integritas moral, kejujuran,
semangat, dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian
yang unggul dan bertanggungjawab, dan memperkuat profesionalisme serta
kompetensi bidang. Dengan demikian UU ASN mengedepankan penguatan
nilai – nilai dan pembangunan karakter dalam mencetak ASN yang
professional.
Melalui proses pembelajaran aktualisasi ini, peserta Diklatsar dituntut
untuk mengaktualisasikan nilai – nilai dasar profesi ASN yaitu Akuntabilitas
ASN, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi yang
diakronimkan menjadi ANEKA dalam menjalankan tugas dan fungsinya
(Tim Penulis Modul, 2019)
Program 6 (enam) sasaran keselamatan pasien wajib dikomunikasikan
dan diinformasikan untuk tercapainya hal- hal sebagai berikut: 1) ketepatan
identifikasi pasien, 2) peningkatan komunikasi yang efektif, 3) peningkatan
keamanan obat yang perlu diwaspadai, 4) kepastian tepat lokasi, tepat
prosedur, tepat pasien operasi, 5) pengurangan risiko infeksi terkait
pelayanan kesehatan, 6) pengurangan risiko pasien jatuh (Kars, 2011).
Kesalahan yang terjadi di kamar operasi yaitu salah lokasi operasi,
salah prosedur operasi, salah pasien operasi, akibat dari komunikasi yang tidak
efektif atau tidak adekuat antar anggota tim bedah. Kurang melibatkan pasien
dalam penandaan area operasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk
memverifikasi lokasi operasi, asesmen pasien tidak adekuat, telaah catatan

1
medis juga tidak adekuatBerdasarkan hasil tersebut maka judul rancangan
aktualisasi ini adalah Rancangan Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar ASN Dalam
Optimalisasi Rekam Medis Elektronik di Poli Geriatri Di RSUD Kota
Mataram.
RSUD Kota Mataram mengembangkan suatu pendekatan untuk
memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien operasi berbasis
bukti yang diuraikan dalam Surgical Safety Checklist sesuai dengan standard
WHO.
Surgical Safety Checklist dibuat dan disusun oleh World Healt
Organization (WHO) yang bertujuan supaya membantu tim operasi dalam
mengurangi angka kejadian tidak diharapkan (KTD). Pembuatan checklist
ini sendiri sebelumnya telah berkonsultasi dengan para ahli bedah, ahli
anestesi dan perawat, untuk mengidentifikasi hal hal penting dalam tindakan
keselamatan operasi. Tujuan program ini untuk mengatasi isu-isu
keselamatan pasien termasuk tidak memadainya keselamatan pasien dalam
tindakan anestesi, menghindari infeksi nosokomial, meningkatkan
komuniasi saat operasi diantara anggota tim.

Tim operasi (bedah dan anestesi) harus berlatih menggunakan


checklist, dan mengintegrasikannya ke dalam alur kerja di ruang operasi.
Tujuan utama dari pembuatan dan penerapan surgical safety checklist
sendiri adalah untuk menurunkan kejadian yang tidak diinginkan di kamar
operasi .

1.2. Tujuan
A. Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan
Tujuan yang akan dicapai dalam Pelatihan Dasar (LATSAR)
ini adalah mampu mengaktualisasikan nilai-nilai dasar profesi ASN
dalam kegiatan yang akan dilaksanakan RSUD Kota Mataram ,
yaitu:

2
a. Mengaktualisasikan nilai Akuntabilitas sehingga memiliki
tanggung jawab dan integritas terhadap apa yang dikerjakan;
b. Mengaktualisasikan nilai Nasionalisme sehingga bekerja atas
dasar semangat nilai-nilai Pancasila;
c. Mengaktualisasikan nilai Etika Publik sehingga menciptakan
lingkungan pelayanan masyarakat yang baik;
d. Mengaktualisasikan nilai Komitmen Mutu sehingga
mewujudkan pelayanan yang prima terhadap masyarakat yang
datang ke tempat pelayanan publik;
e. Mengaktualisasikan nilai Anti Korupsi sehingga bisa
mewujudkan sikap disiplin maupun menjaga kedisiplinan.

2. Manfaat
a. Mampu mewujudkan akuntabilitas dalam menjalankan tugas
RSUD Kota Mataram ;
b. Mampu mengamalkan sila-sila Pancasila dalam menjalankan
tugas RSUD Kota Mataram ;
c. Mampu menjunjung tinggi standar etika publik dalam
pelaksanaan tugas RSUD Kota MataramMampu
mengedepankan kinerja untuk peningkatan mutu pelayanan
dan pengembangan Sistem Informasi atau jaringan RSUD
Kota Mataram ;
d. Mampu untuk tidak korupsi dan mendorong pemberantasan
korupsi dalam hal apapun di RSUD Kota Mataram Waktu dan
Tempat Pelaksanaan
1.3. Ruang Lingkup
3. Tempat Pelaksanaan
Aktualisasi kegiatan nilai-nilai dasar ASN dilaksanakan
RSUD Kota Mataram , untuk hari kerja dan dilaksanakan di
rumah/ di rumah sakit untuk hari libur.

3
4. Waktu Pelaksanaan
Seluruh kegiatan aktualisasi nilai-nilai dasar profesi ASN telah
terealisasi sesuai rencana, yakni pada kurun waktu tanggal 13
Oktober 2019 s.d. 12 November 2019.

4
BAB II
PENETAPAN ISU
2.1 Identifikasi Isu
Isu adalah sebuah masalah yang muncul akibat dari kesenjangan
antara realita (kondisi saat ini) dengan kondisi ideal (harapan para
stakeholder). Rancangan aktualisasi ini dimulai dengan mengidentifikasi isu
yang muncul pada instansi kerja penulis di Rekam medis. Isu-isu yang
ditemukan oleh penulis antara lain sebagai berikut:

a. Kurang optimalnya penanganan Shivering/ kedinginan pada pasien


yang dilakukan tindakan anestesi spinal
b. Belum optimalnya kepatuhan petugas dalam melaksanankan ceklist
keselamatan (sign in, time out, sign out) pasien di kamar operasi sesuai
dengan SOP
c. Kurangnya pengetahuan pasien tentang penanganan nyeri (sakit) pada
tulang belakang post anestesi spinal
d. Tidak tersedianya sarana/ ruang penerimaan pasien anak untuk
menurunkan tingkat stressor/ kecemasan anak di ruang penerimaan
kamar operasi
e. Tidak tersedianya media pengukuran tingkat kepuasan pasien terhadap
pelayanan yang diberikan di kamar operasi

2.2 Isu yang Diangkat


Untuk menentukan isu mana yang akan diangkat dari isu-isu yang
muncul tersebut, maka di gunakan alat penetapan isu berdasarkan APKL
(Aktual, Problematik, Kekhalayakan, Layak). Aktual artinya benar-benar
terjadi dan sedang terjadi. Problematik artinya sebuah isu memiliki
permasalahan yang kompleks sehingga butuh dicarikan solusi
permasalahannya. Kekhalayakan artinya isu yang menyangkut hajat hidup

5
orang banyak. Layak artinya isu yang diangkat realistis dan masuk akal untuk
dipecahkan masalahnya.
2.2.1. pemilihan Isu Melalui APKL
Adapun analisa isu berdasarkan APKL ditampilkan pada Tabel 2.2.1.
Tabel 2.2.1 Pemilihan Isu Melalui Kriteria APKL

No Isu Kriteria Isu Total Rangking


Skor
A P K L
Belum optimalnya kepatuhan
petugas dalam melaksanankan
ceklist keselamatan (sign in,
1 5 4 4 4 17 I
time out, sign out) pasien di
kamar operasi sesuai dengan
SOP
Kurang optimalnya penanganan
Shivering/ kedinginan pada
2
pasien yang dilakukan tindakan 3 3 4 3 13 III
anestesi spinal
Tidak tersedianya media
pengukuran tingkat kepuasan
3 pasien terhadap pelayanan yang 4 3 3 3 13 II
diberikan di kamar operasi

Kurangnya pengetahuan pasien


tentang penanganan nyeri (sakit) IV
4 3 2 4 3 12
pada tulang belakang post
anestesi spinal
Tidak tersedianya sarana/ ruang
penerimaan pasien anak untuk V
5. menurunkan tingkat stressor/ 3 3 2 2 10
kecemasan anak di ruang
penerimaan kamar operasi
Keterangan: A; Aktual, P; Problematik, K; Kekhalayakan, L; Layak

6
Berdasarkan pemilihan isu dari APKL di dapatkan ketiga isu tersebut,
yang kemudian akan dilakukan analisa penetapan prioritas isu menggunakan
metode USG (Urgency, Seriousness dan Growth).

2.2.2 Pemilihan Isu Melalui USG

pemilihan isu menggunakan USG (Urgency, Seriousness dan Growth)


Urgency artinya seberapa mendesaknya suatu isu untuk segera dibahas,
dianalisis dan ditindak lanjuti. Seriousness artinya seberapa serius suatu isu
untuk segera dibahas dikaitkan dengan akibat yang akan ditimbulkan. Growth
adalah seberapa besar kemungkinan memburuknya isu tersebut jika tidak
ditangani segera.

Tabel 2.2 Pemilihan Isu Berdasarkan Kriteria USG

No Isu U S G Total Prioritas


1 Belum optimalnya kepatuhan
petugas dalam melaksanankan
ceklist keselamatan (sign in, time 5 4 5 14 I
out, sign out) pasien di kamar
operasi sesuai dengan SOP

2 Kurang optimalnya penanganan


Shivering/ kedinginan pada pasien
yang dilakukan tindakan anestesi 3 3 2 8 III

spinal

3 Tidak tersedianya media pengukuran


tingkat kepuasan pasien terhadap
pelayanan yang diberikan di kamar 3 3 3 9 II

operasi

Keterangan:

U :Urgency Skor 5 : sangat USG


S :Seriousness Skor 4 : USG

7
G :Growth Skor 3 : cukup USG
Skor 2 : kurang USG
Berdasarkan analisis isu menggunakan kriteria USG diatas dapat
disimpulkan bahwa isu nomor 1 yaitu bahwa “Belum optimalnya kepatuhan
petugas dalam melaksanankan ceklist keselamatan (sign in, time out, sign out)
pasien di kamar operasi sesuai SOP” mendapatkan jumlah terbesar sehingga
menjadi prioritas utama yang akan dipecahkan permasalahannya. Pencatatan
rekam medis secara elektronik merupakan hal yang sangat mendesak karena
sangat mempengaruhi secara langsung proses pelayanan kepada pasien. Isu
tersebut juga berdampak serius (Seriousness) karena jika tidak segera
ditangani akan menjadi masalah yang memerlukan proses pencarian,
pengurutan, penyisiran, dan akses yang cukup lama. Jika isu tersebut tidak
segera ditangani maka akan meningkatkan (Growth ) keraguan akan
informasi yang berterkaitan dengan rekam medis pasien tersebut.

2.3 Dampak Jika Isu Tidak Dipecahkan


Dampak apabila isu tersebut tidak segera dipecahkan akan mengganggu
pelayanan pasien di RS, sehingga mutu atau kualitas jasa pelayanan yang
diberikan RS menjadi menurun. Dimana kepatuhan petugas dalam melaksanankan
ceklist keselamatan (sign in, time out, sign out) pasien di kamar operasi sesuai
sangatlah penting.

2.4 Gagasan Pemecahan Isu


Isu yang telah didapatkan memiliki dampak yang serius apabila tidak
diselesaikan dengan segera. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam
pemecahan isu tersebut, diantaranya:
1. Faktor pasien
2. Faktor petugas/sumber daya manusia (SDM) RS
3. Faktor persiapan medis
4. Faktor sarana prasarana

8
Untuk melaksanakan rangkaian kegiatan penyelesaian isu, perlu dilakukan
implementasi nilai-nilai dasar ASN, yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika
Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi (ANEKA). Adapun berbagai kegiatan
yang akan dilaksanakan untuk menyelesaikan isu tersebut adalah:

1. Kosultasi dengan pimpinan untuk meminta persetujuan untuk melakukan


kegiatan

2. Membagikan blangko ceklist kepada responden

3. Mengumpulkan blangko ceklist yang sudah diisi oleh responden

4. Evaluasi hasil pengamatan dan pengisian blangko ceklist

5. Pelaporan hasil evaluasi kepada pemimpin

9
BAB III
RANCANGAN AKTUALISASI

3.1 Deskripsi Organisasi


RSUD Kota Mataram adalah rumah sakit milik pemerintah daerah,
merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan rujukan di Kota Mataram dan
sekitarnya, selain melaksanakan upaya penyembuhan dan pemulihan penyakit
juga melaksanakan upaya pencegahan penyakit secara terpadu.

3.1.1 Nama Organisasi, Visi Misi dan Nilai-Nilai Organisasi

1. Profil Organisasi
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Mataram merupakan Rumah
Sakit Milik Pemerintah Kota Mataram Luas Lahan 20.472 m2
Operasional RSUD Kota Mataram dimulai sejak Maret 2010
berdasarkan Surat Keputusan Operasional Nomor : 163/II/2010
tentang izin penyelenggaraanoperasional pelayanan. Sejak 1
Desember 2010 RSUD Kota Mataram menerapan pola pengelolaan
keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) berdasarkan SK
Walikota Mataram No 565/XII/2010

Gambar 3.1 Struktur Organisasi RSUD Kota Mataram

10
2. Visi, Misi, dan Motto
Visi
Rumah sakit pilihan masyarakat dalam bidang pelayanan kesehatan,
pendidikan dan penelitian yang berstandar internasional.
MISI
1. Memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif, berkualitas
dan professional
2. Melaksanakan pendidikan dan penelitian kesehatan yang
berkelanjutan dan berkualitas
3. Meningkatkan kompetensi SDM yang berdaya saing
4. Meningkatkan kesejahteraan karyawan/karyawati
5. Meningkatkan sarana prasana sesuai standar RS pendidikan dan
kemajauan IPTEKDOK
Motto
Motto RSUD Kota Mataram adalah
“SMILE (Senyum Mutu, Inovatif, lengkap, efisien ”

3.1.2 Tugas Pokok dan Fungsi Organisasi


Rumah Sakit mempunyai tugas pokok membantu wali kota
menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan upaya penyembuhan,
pemulihan, peningkatan, pencegahan, pelayanan rujukan, dan
menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, penelitian dan
pengembangan serta pengabdian masyarakat, yang lengkap dan terjangkau
masyarakat, professional, lebih cepat, lebih baik, tepat waktu, tepat sarana
dan penuh empati sehingga memuaskan pelanggan, menurunkan angka
kematian di rumah sakit, dan mewujudkan peningkatan kesejahteraan
semua pegawai Rumah Sakit.

3.1.3 Tugas pokok dan fungsi penulis

Sesuai dengan Tupoksi Penata Anestesi (PMK No. 18 Tahun 2016) adapun
antara lain:

11
Pelayanan asuhan kepenataan praanestesi melakukan pengkajian
penatalaksanaan pra anestesi meliputi:

a. Persiapan administrasi pasien (pemeriksaan kelengkapan status pasien)


b. Pemeriksaan tanda-tanda vital
c. Pemeriksaan lain yang diperlukan sesuai kebutuhan pasien baik
secara inspeksi, palpasi, maupun auskultasi;
d. Pemeriksaan dan penilaian status fisik pasien;
e. Analisis hasil pengkajian dan merumuskan masalah pasien;
f. Evaluasi tindakan penatalaksanaan pelayanan pra anestesia,
mengevaluasi secara mandiri maupun kolaboratif;
g. Mendokumentasikan hasil anamnesis/ pengkajian;
h. Persiapan mesin anestesia secara menyeluruh setiap kali akan
digunakan dan memastikan bahwa mesin dan monitor dalam
keadaan baik dan siap pakai;
i. Pengontrolan persediaan obat-obatan dan cairan setiap hari untuk
memastikan bahwa semua obat- obatan baik obat anestesia
maupun obat emergensi tersedia sesuai standar rumah sakit; dan
j. Memastikan tersedianya sarana prasarana anestesia berdasarkan
jadwal, waktu, dan jenis operasi tersebut.

Pelayanan asuhan kepenataan intraanestesi meliputi:

1. Pemantauan peralatan dan obat-obatan sesuai dengan


perencanaan teknik anestesia;
2. Pemantauan keadaan umum pasien secara menyeluruh dengan
baik dan benar; dan
3. Pendokumentasian semua tindakan yang dilakukan agar seluruh
tindakan tercatat baik dan benar.
(Pelimpahan wewenang secara mandat dari dokter spesialis
anestesiologi/ dokter lain (operator) dalam rangka membantu

12
pelayanan anestesi sesuai PMK No.18 Tahun 2016 Pasal 12-17
tentang pelimpahan wewenang / pendelegasian tugas)

4. Pelaksanaan anestesia sesuai dengan instruksi dokter spesialis


anestesiologi;
5. Pmasangan alat monitoring non invasif;
6. Melakukan pemasangan alat monitoring invasif;
7. Pemberian obat anestesi;
8. Mengatasi penyulit yang timbul;
9. Pemeliharaan jalan napas;
10. Pemasangan alat ventilasi mekanik;
11. Pemasangan alat nebulisasi;
12. Pengakhiran tindakan anestesia; dan
13. Pendokumentasian pada rekam medik

Pelayanan asuhan kepenataan pasca anestesi meliputi:

1. Merencanakan tindakan kepenataan pasca tindakan anestesia;


2. Penatalaksanaan dalam manajemen nyeri sesuai instruksi dokter
spesialis anestesi.
3. Pemantauan kondisi pasien pasca pemasangan kateter epidural;
4. Pemantauan kondisi pasien pasca pemberian obat anestetika
regional;
5. Pemantauan kondisi pasien pasca pemberian obat anestetika
umum;
6. Evaluasi hasil kondisi pasien pasca pemasangan kateter epidural;
7. Evaluasi hasil pemasangan kateter epidural dan pengobatan
anestesia regional;
8. Evaluasi hasil pemasangan kateterepidural dan pengobatan
anestesia umum;
9. Pelaksanaan tindakan dalam mengatasi kondisi gawat;
10. Pendokumentasian pemakaian obat-obatan dan alat kesehatan

13
yang dipakai; dan
11. Pemeliharaan peralatan agar siap untuk dipakai pada tindakan
anestesia selanjutnya.

Nilai – Nilai Dasar Profesi ASN


3. Akuntabilitas
Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau
institusi untuk memenuhi tanggungjawab yang menjadi amanahnya.
Amanah seorang PNS adalah menjamin terwujudnya nilai-nilai publik
berikut :
a. Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik
kepentingan, antara kepentingan publik dengan kepentingan sektor,
kelompok, dan pribadi;
b. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan
mencegah keterlibatan PNS dalam politik praktis;
c. Memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik;
d. Menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat diandalkan
sebagai penyelenggara pemerintahan.
Selain itu, akuntabilitas juga memiliki aspek-aspek yang mencangkup
beberapa hal antara lain :
a. Akuntabilitas adalah sebuah hubungan (Accountability is a
relationship)
b. Akuntabilitas berorientasi pada hasil (Accountability is results
oriented)
c. Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (Accountability require
sreporting)
d. Akuntabilitas memerlukan konsekuensi

14
e. (Accountability is meaning less without consequences)
f. Akuntabilitas memperbaiki kinerja (Accountabilit yimprove
sperformance)
Akuntabilitas publik memiliki 3 fungsi utama, yaitu :
a. Untuk menyediakan kontrol demokratis
b. Untuk mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan
c. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
Nilai-nilai dasar yang terkandung pada aspek akuntabilitas antara lain:
a. Jujur
b. Transparan
c. Integritas
d. Tanggungjawab (responsibilitas)
e. Keadilan
f. Kepercayaan
g. Keseimbangan
h. Kejelasan target
i. Konsisten
j. Partisipatif

4. Nasionalisme
Nasionalisme dapat dirumuskan sebagai satu paham yang menciptakan
dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (nation) dengan
mewujudkan satu identitas sebagai ikatan bersama dalam satu kelompok.
Nasionalisme Pancasila adalah pandangan atau paham kecintaan Warga
Negara Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada
nilai-nilai Pancasila. Dengan adanya nilai-nilai Pancasila diharapkan setiap
ASN memiliki rasa nasionalisme yang kuat dan lebih memikirkan
kepentingan publik, bangsa dan negara dibanding kepentingan pribadi
dalam menjalankan tugasnya.Nilai-nilai dasar nasionalisme yang harus
diperhatikan, antara lain:
a. Religius

15
b. Amanah
c. Disiplin
d. Non Diskriminasi
e. Saling Menghormati
f. Persamaan Derajat
g. Mencintai sesama manusia
h. Rela Berkorban
i. Menjaga Ketertiban
j. Kerja Sama
k. Cinta Tanah Air
l. Musyawarah
m. Kekeluargaan
n. Kepentingan Bersama
o. Hidup Sederhana
p. Tidak menggunakan hak yang bukan miliknya.
q. Kerja Keras
r. Menghargai karya orang Lain
s. Menghormati Keputusan Bersama
t. Tenggang Rasa
5. Etika Publik
Etika publik adalah refleksi tentang baik/buruk, benar/salah perilaku,
tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik dalam
rangka menjalankan tanggungjawab pelayanan publik.Nilai-nilai dasar
etika publik antara lain :
a. Memegang teguh nilai-nilai ideologi Pancasila
b. Setia dan mempertahankan UUD NKRI 1945
c. Profesional
d. Tidak berpihak
e. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian
f. Non diskriminatif
g. Beretika luhur

16
h. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik
i. Memberikan pelayanan dengan jujur, tanggap, cepat, tepat dan akurat
j. Berdaya guna dan berhasil guna
k. Santun dalam berkomunikasi, berkonsultasi dan bekerjasama
l. Transparan
m. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai
n. Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan
o. Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis
sebagai perangkat sistem karir
6. Komitmen Mutu
Penilaian mutu sesuatu berdasarkan pada subyektifitas seseorang, maka
dari itu untuk mengukur penilaian tersebut perlu adanya standar pelayanan
sehingga sebuah mutu pelayanan dapat terkontrol dengan baik. Berikut
adalah nilai-nilai yang perlu diperhatikan dalam komitmen mutu antara
lain :
a. Bekerja dengan berorientasi pada mutu
b. Inovatif
c. Selalu melakukan perbaikan mutu
d. Membangun komitmen pegawai untuk jangka panjang
e. Membangun kerjasama kolegial antarpegawai yang dilandasi
kepercayaan dan kejujuran
f. Memfokuskan kegiatan pada kepuasan pelanggan, baik internal
maupun eksternal
g. Menampilkan kinerja tanpa cacat (zerodefect) dan tanpa pemborosan
(zerowaste), sejak memulai setiap pekerjaan
h. Efektif dan efisien dalam bekerja
7. Anti Korupsi
Korupsi adalah tindakan melanggar hukum dengan tujuan untuk
memperkaya diri sendiri maupun golongan. Nilai-nilai yang terkandung
dalam aspek anti korupsi antara lain :
a. Jujur

17
b. Peduli
c. Mandiri
d. Disiplin
e. Tanggungjawab
f. Kerja Keras
g. Sederhana
h. Berani
i. Adil

18
Rancangan Kegiatan
Adapaun rancangan aktualisasi yang akan dilakukan dijabarkan dalam tabel sebagai berikut:

NO KEGIATAN TAHAPAN KEGIATAN OUTPUT/HASIL KETERKAITAN KOSTRIBUSI PENGUATAN


KEGIATAN SUBSTANTIF MATA TERHADAP VISI NILAI-NILAI
PELATIHAN MISI ORGANISASI ORGANISASI
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
1. Identifikasi 1. Kosultasi dengan Tersedianya data- Sebelum melaksanakan Dengan melakukan Dengan melakukan
kepatuhan petugas pimpinan untuk data penunjang kegiatan saya harus identifikasi kepatuhan kegiatan identifikasi
dalam meminta persetujuan untuk melakukan berkonsultasi dengan petugas dalam kepatuhan petugas
melaksanakan untuk melakukan kegiatan selanjutnya pimpinan dengan bahasa melaksanakan ceklist dalam melaksanakan
tindakan ceklist kegiatan yang sopan sehingga keselamatan (sign in, ceklist keselamatan
keselamatan (sign tercipta komunikasi yang time out, sign out) (sign in, time out,
in, time out, sign efektif (Etika Publik), pasien, dapat diketahui sign out) pasien
out) pasien sesuai 2. Menyiapkan data/ dalam menyiapkan blangko masalah yang tepat menguatkan nilai
dengan SOP blangko ceklist untuk ceklist saya bekerja dengan dialami oleh petugas, professional,
mengidentifikasi penuh rasa tanggung sehingga dibuat konsisten dan
kepatuhan petugas jawab (Akuntabilitas), perencanaan kegiatan disiplin dalam
13 dalam melaksanakan ketika mendistribusikan sesuai dengan SOP, bekerja
ceklist keselamatan blangko cheklist saya sehingga dapat
(sign in, time out, sign melakukan dengan jujur mewujudkan “visi”
out) pasien sesuai (Anti Korupsi) dan tanpa organisasi yaitu
dengan SOP harus diketahui oleh orang terwujudnya pelayanan
lain sehingga hasilnya rumah sakit yang
3. Membagikan blangko berkualitas (Komitmen berkualitas
ceklist kepada Mutu) Evaluasi dilakukan
responden secara disiplin dan

19
Transparan
4. Mengumpulkan (Akuntabilitas) sehingga
blangko ceklist yang dapat mengetahui
sudah diisi oleh kepatuhan dan kosistensi
responden (WoG) petugas dalam
menerapkan ceklist
5. Evaluasi hasil keselamatan pasien pada
pengamatan dan sebuah tindakan operasi.
pengisian blangko Pelaporan hasil evaluasi
ceklist kepada pimpinan untuk
dipertanggung
6. Pelaporan hasil jawabkan(Nasionalisme)
evaluasi kepada
pemimpin

2. Membuat Surat 1. Kosultasi dengan Kegiatan ini Dalam pembuatan surat Dengan adanya Dengan adanya
Pernyataan/ pimpinan untuk menghasilkan surat pernyataan/ kesepakatan, kesepakatan bersama kesepakatan bersama
Kesepakatan meminta persetujuan pernyataan/ terlebih dahulu saya harus ditandai dengan ditandai dengan
bersama petugas untuk melakukan kesepakatan konsultasikan (WoG) pengisian dan pengisian dan
untuk senantiasa kegiatan bersama agar tetap kepada pimpinan. Setelah penandatangan surat penandatangan surat
menerapkan konsisten dalam mendapatkan persetujuan pernyataan di atas pernyataan di atas
ceklist 2. Menyiapkan surat melaksanakan dari pimpinan, saya materai 6000 tersebut, materai 6000
keselamatan pernyataan/ ceklist keselamatan menyiapkan surat diharapkan petugas tersebut, diharapkan
pasien sesuai kesepakatan dan pasien sesuai pernyataan beserta materai tetap / senantiasa petugas tetap /
dengan SOP materai 6000 dalam dengan SOP 6000 dimana dalam menjaga konsistensinya senantiasa menjaga
melaksanakan ceklist pengadaannya tidak dalam melaksanakan konsistensinya
keselamatan (sign in, menggunakan dana kantor kegiatan pengisian dalam melaksanakan
time out, sign out) tetapi menggunakan dana lembar ceklist kegiatan pengisian
pasien sesuai dengan mandiri (Anti Korupsi). keselamatan (sign in, lembar ceklist
SOP Sebelum membagikan surat time out, sign out) pasien keselamatan (sign in,
pernyataan/ kesepakatan sesuai dengan SOP, time out, sign out)

20
3. Membagikan surat tersebut terlebih dahulu kita sehingga dapat pasien sehingga
pernyataan/kesepakatan harus melakukan mewujudkan “visi” menguatkan nilai
kepada petugas kamar pendekatan ilmiah dan organisasi yaitu professional,
operasi inovatif (Komitmen terwujudnya pelayanan konsisten dan
Mutu) kepada petugas, rumah sakit yang disiplin dalam
4. Mengumpulkan surat sehingga petugas mengerti berkualitas bekerja
pernyataan yang sudah dan mau menandatangani
ditandatangani petugas surat pernyataan tersebut
di atas materai 6000 tanpa adanya unsur
sesuai kesepakatan pemaksaan
bersama (Nasionalisme). Setelah
semua surat ditandatangani
5. Evaluasi surat dan sepakati kemudian
pernyataan dikumpul dan di Evaluasi
secara disiplin dan
6. Pelaporan hasil Transparan
evaluasi kepada (Akuntabilitas) Pelaporan
pemimpin hasil evaluasi Kegiatan ini
harus didukung oleh semua
pihak, sehingga dapat
dipertanggung jawabkan
(Nasionalisme) bersama
dihadapan pimpinan

3. Mereview kembali 1. Koordinasi dengan Kegiatan ini dapat Sebelum memulai kegiatan Dengan melakukan Dengan mereview
tentang kegiatan pemimpin motivasi petugas tersebut, kita sebagai ASN kegiatan review dalam kembali tentang
penerapan ceklist untuk senantiasa yang baik, terlebih dahulu penerapan ceklist kegiatan penerapan
keselamatan (sign 2. Menyiapkan media/ melakukan kegiatan melakukan koordinasi keselamatan (sign in, ceklist keselamatan
in, time out, sign sarana yang dibutuhkan penerapan ceklist (WoG) dengan pimpinan. time out, sign out) (sign in, time out,
out) pasien sesuai dalam melaksanakan keselamatan (sign Pada saat konsultasi/ pasien diharapkan dapat sign out) pasien
dengan SOP kegiatan penerapan in, time out, sign komunikasi dengan memotivasi petugas maka dapat

21
ceklist keselamatan out) pasien sesuai pimpinan kita harus kamar operasi untuk memperkuat nilai
(sign in, time out, sign dengan SOP bersikap hormat, ramah, senantiasa meningkatkan profesionalitas dari
out) pasien sesuai SOP sopan dan santun (Etika mutu pelayanan, hal ini organisasi
Publik). Dalam sesuai dengan “Misi”
3. Melaksanakan kegiatan menyiapkan media/ sarana ke-2 “meningkatkan
penerarapan ceklist yang dibutuhkan dengan kualitas pelayanan
keselamatan (sign in, penuh rasa tanggung keperawatan” dan ke-3
time out, sign out) yang jawab (Akuntabilitas). “meningkatkan
sebenarnya Dalam melaksanakan kualitas pelayanan
kegiatan penerapan ceklist medik”
4. Evaluasi hasil kegiatan keselamatan pasien,
petugas harus tetap
5. Pelaporan hasil menjaga dan
kegiatan menghormati hak-hak
pasien (Nasionalisme)
serta serius dalam
mengikuti kegiatan review
tersebut, Sehingga waktu
yang digunakan lebih
efektif dan efisien (Asas
Manajemen ASN). Pada
tahap Evaluasi dilakukan
secara disiplin dan
Transparan
(Akuntabilitas).
Melaporkan semua hasil
kegiatan kepada pimpinan
dengan penuh rasa
tanggung jawab
(Nasionalisme) Setelah
mereview beberapa jam

17
22
kemudian dievalusi sejauh
mana petugas konsisten
(Akuntabilitas) terhadap
kegiatan tersebut,
kemudian melaporkan hasil
evaluasinya ke pimpinan
untuk dapat dipertanggung
jawabkan (Akuntabilitas)

4. Roll Play kegiatan 1. Konsultasi dengan Kegiatan ini Semua kegiatan harus Dengan melakukan Dengan melakukan
penerapan ceklist pemimpin menghasilkan video dikonsultasikan (WoG) kegiatan Roll play dalam Roll Play tentang
keselamatan (sign tentang tata cara terlebih dahulu kepada penerapan ceklist kegiatan penerapan
in, time out, sign 2. Menyiapkan penerapan ceklist pimpinan, agar keselamatan (sign in, ceklist keselamatan
out) pasien yang perlengkapan rollplay keselamatan pasien pelaksanaannya tidak time out, sign out) pasien pasien maka dapat
sesuai dengan yang dibutuhkan yang sesuai dengan mendapatkan hambatan. sebagai acuan / motivasi memperkuat nilai
SOP SOP sehingga Dalam menyiapkan buat petugas kamar disiplin,
3. Melaksanakan kegiatan nantinya dapat perlengkapan rollplay saya operasi untuk profesionalitas dari
rollplay tentang diputar berulang melakukannya dengan meningkatkan mutu organisasi
penerapan ceklist khususnya di kamar penuh rasa tanggung pelayanan, hal ini sesuai
keselamatan (sign in, operasi jawab (Nasionalisme). dengan “Misi” ke-2
time out, sign out) Dalam melaksanakan organisasi yaitu
pasien sesuai dengan kegiatan diharapkan semua meningkatkan kualitas
SOP petugas yang terlibat pelayanan keperawatan
berperan aktif serta tetap
4. Pendokumentasian menjaga Integritas dan
hasil rollplay Tanggung Jawabnya
(Akuntabilitas) sehingga
18 5. Evaluasi kegiatan hasil yang dicapai
maksimal/ sesuai dengan
6. Laporan hasil kegiatan yang diharapkan bersama.
Pada Proses

23
pendokumentasian kegiatan
Roll Play harus menjaga
nilai/ norma kode etik
profesi (Etika Publik).
Kemudian dievaluasi
sejauhmana petugas
mampu beradaptasi
dengan perubahan/
perkembangan
(Komitmen Mutu),
kemudian melaporkan hasil
kegiatannya kepada
pimpinan untuk
dipertanggung jawabkan
(Akuntabilitas)

5. Membuat benner/ 1. Konsultasi dengan Kegiatan ini Sebelum membuat benner/ Dengan adanya benner/ Dengan melakukan
poster tentang pimpinan menghasilkan poster tersebut, kita harus poster ceklist kegiatan pembuatan
penerapan ceklist produk benner / berkoordinasi (WoG) keselamatan pasien benner tentang
keselamatan 2. Menyiapkan desain poster yang akan untuk mendapatkan tersebut diharapkan dapat penerapan ceklist
pasien benner / poster dipajang/dipasang persetujuan terlebih dahulu mengingatkan petugas keselamatan pasien
di sudut kamar dengan pimpinan, sehingga agar senantiasa menguatkan nilai
3. Mencetak/ memprint operasi khususnya dapat dipertanggung melakukuan penerapan professional,
desain benner/ poster di ruang penerimaan jawabkan (Nasionalisme). ceklist keselamatan konsisten dan
pasien sebagai Pada saat bertemu dengan pasien sesuai dengan disiplin dalam
4. Memasang benner / motivasi/ pengingat pimpinan kita harus SOP sehingga dapat bekerja
poster petugas kesehatan bersikap ramah dan sopan mewujudkan “Visi”
agar senantiasan (Etika Publik). Setelah organisasi yaitu
5. Evaluasi melaksanakan mendapatkan persetujuan, terwujudnya pelayanan
ceklist keselamatan kemudian lanjut ketahap Rumah Sakit yang
6. Laporan evaluasi pasien sesuai pendesainan/ pembuatan. berkualitas

24
kepada pimpinan dengan SOP Pada tahap ini kita harus
memiliki kreatifitas /
inovasi (Komitmen Mutu)
sehingga menghasilkan
benner/ poster yang
bermutu. Dalam pembuatan
benner/ poster kita juga
harus memperhatikan
beberapa aspek seperti
tidak melanggar norma/
aturan yang ada, tidak
ada unsur pornografi,
kekerasan, dll (Etika
Publik). Setelah desainnya
sudah siap dicetak, saya
lalu membawa desain
tersebut ke percetakan
untuk dicetak dengan biaya
Mandiri (Anti Korupsi).
Setelah benner/ poster
selesai dibuat, kemudian
lanjut ketahap pemasangan,
dimana benner/ poster
tersebut dipasang pada
tempat-tempat yang
strategis/ mudah dilihat
sehingga dapat
dimanfaatkan secara efektif
dan efisien (Asas
Manajemen ASN). Setelah
dipajang beberapa hari

25
kemudian dievalusi sejauh
mana petugas beradaptasi
dengan perubahan/
perkembangan
(Komitmen Mutu),
kemudian melaporkan hasil
evaluasinya ke pimpinan
untuk dapat dipertanggung
jawabkan (Akuntabilitas)

6. Membuat sticker 1. Konsultasi dengan Kegiatan ini Sebelum melakukan Stiker penerapan ceklist Dengan melakukan
tentang penerapan pimpinan menghasilkan pembuatan sticker, sebagai keselamatan pasien dapat kegiatan pembuatan
ceklist produk stiker yang seorang ASN / bawahan mengingatkan petugas stiker tentang
keselamatan 2. Menyiapkan desain akan yang baik, saya harus kamar operasi agar penerapan ceklist
pasien sticker dipajang/dipasang berkonsultasi/ koordinasi senantiasa melakukuan keselamatan pasien
3. Mencetak/ memprint di pintu kamar (WoG) terlebih dahulu penerapan ceklist menguatkan nilai
desain stiker operasi sebagai dengan pimpinan. Pada saat keselamatan pasien professional,
motivasi/ pengingat konsultasi dengan pimpinan sesuai dengan SOP konsisten dan
4. Memasang stiker petugas kesehatan kita harus bersikap sopan, sehingga dapat disiplin dalam
agar senantiasa ramah (Etika Publik) mewujudkan “Visi” bekerja
5. Evaluasi melaksanakan dengan menggunakan organisasi yaitu Rumah
ceklist keselamatan bahasa Indonesia yang sakit pilihan
6. Laporan evaluasi pasien sesuai baik dan benar masyarakat dalam
kepada pimpinan dengan SOP (Nasionalisme) sesuai bidang pelayanan
dengan etika kesopanan. kesehatan, pendidikan
Setelah meminta petunjuk
dan penelitian yang
dari pimpinan, saya
kemudian mencari literatur/ berstandar
contoh - contoh sticker internasional
yang sesuai. Setelah
menemukan beberapa

26
22
contoh bentuk stiker,
kemudian kita harus punya
inovasi (komitmen mutu)
untuk mengembangkan
kreatiftas sehingga
menghasilkan produk
yang berkualitas tinggi
(Komitmen Mutu).
Setelah desain siap,
kemudian saya membawa
desain tersebut ke
percetakan untuk dicetak,
Sticker yang dicetak harus
memiliki kejelasan materi
(Akuntabilitas) dan
sederhana (Anti Korupsi)
sehingga pesan yang ingin
kita sampaikan melalui
sticker tersebut
tersampaikan. Penempelan/
memasang sticker
dilakukan di pintu – pintu
utama kamar operasi,
sticker yang sudah ditempel
merupakan tanggung
jawab (Nasionalisme)
bersama.
Setelah dipajang beberapa
hari kemudian dievalusi
sejauh mana petugas
beradaptasi dengan

27
perubahan/
perkembangan
(Komitmen Mutu),
kemudian melaporkan hasil
evaluasinya ke pimpinan
untuk dapat dipertanggung
jawabkan (Akuntabiltas)

7 Melakukan Sebagai perawat di RSUD Menjamin cheklist Akuntabilitas Akuntabilitas Dengan melakukan
evaluasi tugas tambahan yang saya berjalan dengan Komitmen mutu Bertanggung jawab kegiatan ini kita
lakukan kota adalah baik dan sesuai dengan teknik ketelitian dapat menerapkan
mengingatkan kembali aturan yang berlaku dan kecermatan nilai-nilai dasar RS
pada teman sejawat Komitmen mutu yaitu pengawai
terhadap kegiatan yang Teknik komunikasi yang Rumah Sakit
dilakukan oleh coass. efektif dan efisien, teknik menghormati atasan,
Supervisi ilmiah dapat mempertahankan standar bawahan dan selaras
dilakukan di ruang operasi pelayanan anestesi serasa dengan teman
maupun di ruang SMF. sejawat.
Stakeholder yang terlibat:
1. Dokter spesialis
anestesiologi

28
Jadwal/Rencana Tabel 3.2 Rencana Pelaksanaan Aktualisasi Pelaksanaan Aktualisasi

NO Kegiatan Oktober – November2019


    14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 Konsultasi dengan
atasan langsung terkait √ √ √
rancangan aktualisasi
2 Menyiapkan surat
pernyataan/
√ √ √
kesepakatan dan
materai 6000

3 Membagikan surat
pernyataan /
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
kesepakatan kepada
petugas kamar operasi

4 Mengumpulkan surat
pernyataan/
kesepakatan yang √ √ √
sudah ditandatangani
oleh petugas

5 Evaluasi surat √ √

pernyataanDisiplin,

29
Transparan
(Akuntabilitas

6 Pelaporan hasil
evaluasi kepada √ √ √
pimpinan

30
BAB IV
CAPAIAN HASIL AKTUALISASI

A. Deskripsi Core Isu

Pembedahan merupakan komponen penting dari perawatan kesehatan di seluruh


dunia. Diperkirakan setiap tahun ada 230 juta operasi utama dilakukan di
seluruh dunia. Tindakan pembedahan bertujuan untuk menyelamatkan nyawa,
mencegah kecacatan dan komplikasi. Namun, pembedahan juga dapat
menimbulkan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), Kejadian Nyaris Cidera
(KNC), baik cidera medis maupun komplikasi yang dapat membahayakan
nyawa.

Penelitian di 56 negara dari 192 negara anggota WHO tahun 2008 diperkirakan
234,2 juta prosedur pembedahan dilakukan setiap tahun berpotensi komplikasi
dan kematian. Oleh sebab itu diperlukan program untuk lebih memperbaiki
proses pelayanan, karena sebagian KTD merupakan kesalahan dalam proses
pelayanan yang sebetulnya dapat dicegah melalui program keselamatan pasien.

Salah satu upaya mutu peningkatan di Rumah Sakit adalah menjalankan


program keselamatan pasien (patient safety). Patient safety adalah pasien bebas
dari cedera yang tidak seharusnya terjadi atau bebas atas cedera potensial yang
mungkin terjadi terkait dengan pelayanan kesehatan. Patient safety merupakan
suatu system dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Hal ini
termasuk: assessment resiko, identifikasi dan pengolahan hal yang berhubungan
dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari
insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan
timbulnya resiko.

Kurang optimalnya kepatuhan petugas dalam melaksanakan ceklist keselamatan


pasien merupakan salah satu masalah yang terjadi di dalam pelayanan IBS
(Instalasi Bedah Sentral) RSUD KOTA MATARAM meliputi kegiatan:
sebelum dilakukan induksi anestesi (Sign In), setelah induksi dan sebelum
dilakukan sayatan bedah (Time Out) dan periode selama atau segera setelah

31
B. Strategi Pemecahan Isu
Kejadian yang tidak diharapkan (KTD) di kamar operasi yaitu salah lokasi
operasi, salah prosedur operasi, salah pasien operasi, akibat dari komunikasi yang
tidak efektif atau tidak adekuat antar anggota tim bedah. Kurang melibatkan
pasien dalam penandaan area operasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk
memverifikasi lokasi operasi, asesmen pasien tidak adekuat, telaah catatan medis
juga tidak adekuat.
Untuk dapat memberikan pelayanan yang professional dan mencegah terjadinya
KTD (Kejadian Tak Diharapkan), maka strategi pemecahan isu yang dilakukan
adalah mengoptimalkan kepatuhan petugas dalam melaksanakan kegiatan ceklist
keselamatan pasien sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) di IBS
RSUD KOTA MATARAM, sehingga dapat mencegah terjadinya kejadian yang
tidak diinginkan/ diharapkan (KTD) selama proses pembedahan/ operasi
berlangsung.

C. Proses Penerapan Inisiatif / Kegiatan


1. Capaian Hasil Aktualisasi Kegiatan 1
Kegiatan : Identifikasi kepatuhan petugas dalam melaksanakan
tindakan ceklist keselamatan (sign in, time out, sign
out) pasien sesuai dengan SOP
Tanggal : 12 Oktober s/d 17 Oktober 2019
Daftar Lampiran : 1. Surat permohonan melaksanakan kegiatan
rancangan aktualisasi latihan dasar di RSUD
KOTA MATARAM
2. Disposisi surat ijin dari pimpinan manajemen
rumah sakit untuk mengambil/
mendokumentasikan gambar dan video di IBS/OK
RSUD Kota Mataram
3. Surat Persetujuan menjadi responden dalam
pengisisan kusioner
4. Kusioner penilaian kepatuhan petugas dalam
melaksanakan ceklist keselamatan pasien
Keterangan : Terlaksana

32
a. Tahapan Kegiatan
1) Kosultasi dengan pimpinan untuk meminta persetujuan untuk
melakukan kegiatan
2) Menyiapkan data/ blangko/ kusioner ceklist untuk
mengidentifikasi kepatuhan petugas dalam melaksanakan ceklist
keselamatan (sign in, time out, sign out) pasien sesuai dengan
SOP
3) Membagikan blangko/ kusioner ceklist kepada responden
4) Mengumpulkan blangko ceklist yang sudah diisi oleh responden
5) Evaluasi hasil pengamatan dan pengisian blangko ceklist
6) Pelaporan hasil evaluasi kepada pemimpin

b. Uraian Kualitas Hasil Kegiatan (Output)


Kegiatan Identifikasi kepatuhan petugas dalam melaksanakan
tindakan ceklist keselamatan (sign in, time out, sign out) pasien sesuai
dengan SOP saya lakukan di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD
Kota Mataram pada tanggal 12 Oktober s/d 17 Oktober 2019.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
kepatuhan petugas dalam melaksanakan ceklist keselamatan pasien
sesuai dengan SOP.
Pada awal kegiatan tanggal 12 Oktober 2019 saya
berkonsultasi/ meminta ijin untuk melaksanakan kegiatan aktualisasi
terlebih dahulu kepada pimpinan ditandai dengan adanya surat
permohonan melakukan tindakan aktualisasi di IBS RSUD KOTA
MATARAM, setelah mendapatkan ijin dari pimpinan kemudian surat
tersebut saya serahkan langsung kepada kepala ruang OK (Kamar
Operasi)/ IBS (Instalasi Bedah Sentral) sambil menjelaskan masksud
dan tujuan dari kegiatan tersebut. Pada tahap ini beliau selaku kepala

33
ruang OK (kamar operasi) sangat mendukung akan kegiatan yang saya
nantinya laksanakan dan beliau berharap dengan adanya kegiatan
tersebut, dapat memotifasi/ mendorong petugas agar senantiasa patuh
dalam melaksanakan ceklist keselamatan pasien sesuai dengan standar
operasional prosedur (SOP) yang sudah ditetapkan. Kemudian pada
tanggal 13 Oktober 2019 saya membuat lembar kusioner/ blangko
penilaian kepatuhan petugas dalam melaksanakan kegiatan ceklist
keselamatan pasien sesuai dengan SOP.
Setelah lembar kusioner/ blangko penilaian telah siap
digunakan, kemudian pada tanggal 14 Oktober s/d 18 Oktober 2019,
saya mendistribusikan kusioner tersebut, kepada para calon responden
tetapi sebelum responden mulai menilai kepatuhan petugas dalam
melaksanakan ceklist keselamatan pasien, terlebih dahulu saya
meminta persetujuan kepada calon responden dan menjelaskan cara
pengisian format kusioner/ blangko penilaian tersebut, ditandai
dengan adanya surat keterangan bersedia menjadi responden dalam
kegiatan aktualisasi tersebut. Setelah mendapatkan persetujuan dari
para calon responden kemudian responden mulai menilai sejauh mana
kepatuhan petugas dalam melaksanakan kegiatan ceklist keselamatan
pasien sesuai dengan SOP.
Setelah menilai / mengisi lembar kusioner /blangko penilaian,
kemudian pada tanggal 20 Oktober 2019 saya kumpulkan dan
melaporkan seluruh hasilnya kepada pimpinan untuk dapat
dipertanggung jawabkan.
Hasil dari penilaian tersebut menunjukkan bahwa petugas tidak
melaksanakan kegiatan ceklist keselamatan pasien sesuai dengan SOP
pada tahap time out (sebelum insisi), selebihnya mereka laksanakan
sesuai dengan SOP.

c. Pemaknaan Nilai – Nilai Dasar


1) Etika Publik

34
Sebelum melakukan kegiatan saya terlebih dahulu berkonsultasi
dengan pimpinan menggunakan bahasa yang sopan sehingga tercipta
komunikasi yang efektif
2) Akuntabilitas
Dalam menyiapkan blangko/ kusioner untuk menilai kepatuhan
petugas dalam melaksanakan ceklist keselamatan pasien, saya
bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab
Evaluasi kusioner yang telah diisi dilakukan secara disiplin dan
transparan
3) Anti korupsi
Saat mendistribusikan blangko/ kusioner ceklist keselamatan
pasien kepada calon responden, saya melakukan dengan jujur.
4) Komitmen Mutu
Dalam pengisian kusioner ini status responden disembunyikan/
disamarkan sehingga kehadirannya sebagai responden tidak
diketahui oleh petugas, sehingga hasil yang dicapai berkualitas
5) Whole of Government (WoG)
Dengan hasil kusioner yang berkualitas, kita dapat mengetahui
sejauh mana kepatuhan dan konsistensi petugas dalam
melaksanakan ceklist keselamatan pasien pada sebuah tindakan
operasi
6) Nasionalisme
Semua hasil evaluasi pengisian kusioner oleh para responden
dilaporkan kepada pimpinan untuk dipertanggungjawabkan

d. Konstribusi Hasil Kegiatan Terhadap Pencapaian Visi dan Misi


Organisasi
Dengan melakukan identifikasi/ penilaian tentang kepatuhan
petugas dalam melaksanakan ceklist keselamatan pasien (sign in, time
out, sign out) sesuai dengan SOP, dapat diketahui masalah yang tepat
dialami oleh petugas sehingga belum maksimal dalam melaksanakan

35
ceklist keselamatan pasien sesuai dengan standar operasional prosedur
yang ada, sehingga dibuat perencanaan kegiatan sesuai dengan SOP,
guna dapat mewujudkan “visi” organisasi yaitu terwujudnya
pelayanan rumah sakit yang berkualitas

e. Konstribusi Hasil Kegiatan Terhadap Penguatan Nilai- Nilai


Organisasi
Dengan melakukan kegiatan identifikasi kepatuhan petugas
dalam melaksanakan ceklist keselamatan (sign in, time out, sign out)
pasien dapat menguatkan nilai professional dalam melaksanakan
tugas, konsisten dan disiplin dalam bekerja

f. Analisa Dampak
1) Nilai Dasar : Etika Publik
Indikator : Sopan dan Komunikasi Efektif
Dampak : Jika nilai dasar etika publik tidak dilaksanakan
dalam berkonsultasi dengan pimpinan, maka dapat
berdampak buruk terhadap proses kegiatan yang
kita laksanakan dan dapat membuat hubungan
kerja antara pimpinan dengan bawahan menjadi
tidak baik.
2) Nilai Dasar : Akuntabilitas
Indikator : Tanggung Jawab, Disiplin dan Transparan
Dampak : Jika nilai dasar akuntabilitas tidak dilaksanakan
dalam menyiapkan blangko/ kusioner untuk
menilai kepatuhan petugas dalam melaksanakan
ceklist keselamatan pasien, maka dapat
menyebabkan proses kegiatannya berjalan lambat
dan membutuhkan waktu yang lama.
3) Nilai Dasar : Anti Korupsi

36
Indikator : Jujur
Dampak : Jika nilai dasar anti korupsi tidak dilaksanakan
dalam mendistribusikan blangko/ kusioner ceklist
keselamatan pasien dapat menyebabkan hasil yang
dicapai dalam kegiatan tersebut tidak maksimal
4) Nilai Dasar : Komitmen Mutu
Indikator : Berkualitas
Dampak : Jika nilai dasar komitmen mutu tidak
dilaksanakan dalam pengisian kusioner ini,
diamana status responden tidak disembunyikan/
disamarkan sehingga kehadirannya sebagai
responden diketahui oleh petugas, sehingga hasil
yang dicapai tidak akurat/ maksimal
5) Nilai Dasar : Whole of Government (WoG)
Indikator : Konsistensi
Dampak : Jika nilai dasar whole of government (WoG) tidak
dialksanakan dalam kegiatan ini, maka hasil
kusioner tidak berkualitas, sehingga kita tidak
dapat mengetahui sejauh mana kepatuhan dan
konsistensi petugas dalam melaksanakan ceklist
keselamatan pasien pada sebuah tindakan operasi
6) Nilai Dasar : Nasionalisme
Indikator : Dipertanggungjawabkan
Dampak : Jika nilai dasar nasionalisme tidak dilaksanakan,
ketika saya tidak melaporkan semua hasil evaluasi
pengisian kusioner oleh para responden kepada
pimpinan, maka kegiatan tersebut tidak dapat
dipertanggungjawabkan oleh pimpinan

37
g. Kendala dan Cara Mengatasinya
Dalam melaksanakan kegiatan ini, saya menemukan sedikit kendala
yaitu jumlah responden yang sedikit. Hal ini disebabkan karena
Instalasi Bedah Sentral (IBS)/ Kamar Operasi (OK) merupakan
ruangan khusus di RSUD KOTA MATARAM, dimana ruangan
tersebut tidak sembarangan orang yang bisa bebas keluar masuk
kecuali petugas yang ada di dalam lingkup kamar operasi tersebut. Hal
ini menjadi kendala buat saya dalam melaksanakan kegiatan
identifikasi kepatuhan petugas dalam melaksanakan tindakan ceklist
keselamatan pasien sesuai dengan SOP, karena jumlah responden
yang sedikit yaitu hanya 4 orang saja.

h. Dokumentasi Kegiatan

Konsultasi dengan coach

38
2. Capaian Hasil Aktualisasi Kegiatan 2
Kegiatan : Membuat Surat Pernyataan/ Kesepakatan bersama
petugas untuk senantiasa menerapkan ceklist
keselamatan pasien sesuai dengan SOP
Tanggal : 18 Oktober s/d 22 Oktober 2019
Daftar Lampiran : 1. Surat permohonan melaksanakan kegiatan
rancangan aktualisasi latihan dasar di RSUD Kota
Mataram
2. Surat ijin pengambilan data di RSUD Kota
Mataram
3. Surat ijin mengambil/ mendokumentasikan gambar
dan video di RSUD Kota Mataram
4. Surat pernyataan kesepakatan bersama kepatuhan
petugas dalam melaksanakan ceklist keselamatan
pasien sesuai dengan SOP ditandatangani di atas
materai 6000

Keterangan : Terlaksana

39
a. Tahapan Kegiatan
1) Kosultasi dengan pimpinan untuk meminta persetujuan untuk
melakukan kegiatan
2) Menyiapkan surat pernyataan/ kesepakatan dan materai 6000
dalam melaksanakan ceklist keselamatan (sign in, time out, sign
out) pasien sesuai dengan SOP
3) Membagikan surat pernyataan/kesepakatan kepada petugas
kamar operasi
4) Mengumpulkan surat pernyataan yang sudah ditandatangani
petugas di atas materai 6000 sesuai kesepakatan bersama
5) Evaluasi surat pernyataan
6) Pelaporan hasil evaluasi kepada pemimpin
b. Uraian Kualitas Hasil Kegiatan (Output)
Kegiatan membuat surat pernyataan/ kesepakatan bersama petugas
untuk senantiasa menerapkan ceklist keselamatan pasien sesuai
dengan SOP ini saya laksanakan pada tanggal 13 oktober s/d 18
oktober 2019.
Kegiatan ini bertujuan unuk membuat kesepakatan/ komitmen
bersama agar senantiasa patuh dalam melaksanakan kegiatan ceklist
keselamatan pasien sesuai dengan SOP baik pada fase sign in
(sebelum induksi anestesi), time out (sebelum insisi) dan sign out
(sebelum pasien meninggalkan kamar operasi).
.

c. Pemaknaan Nilai – Nilai Dasar


1) Whole of Government (WoG)
Dalam pembuatan surat pernyataan/ kesepakatan, terlebih dahulu saya
berkoordinasi / konsultasikan dengan pimpinan
2) Anti Korupsi

40
Dalam menyiapkan surat pernyataan/ kesepakatan beserta materai
6000 dimana dalam pengadaannya tidak menggunakan dana kantor
tetapi menggunakan dana mandiri
3) Komitmen Mutu
Sebelum membagikan surat pernyataan kesepakatan bersama kepada
petugas, terlebih dahulu saya melakukan pendekatan ilmiah dan
inovatif
4) Nasionalisme
Dalam penandatanganan surat kesepakatan bersama tersebut, petugas
menandatanganinya dengan sepenuh hati ini tanpa adanya unsur
pemaksaan
Kegiatan yang dilakukan ini, harus didukung oleh semua pihak
sehingga dapat dipertanggungjawabkan dihadapan pimpinan

5) Akuntabilitas
Semua surat pernyataan yang telah ditandatangani dan disepakati oleh
petugas, kemudian surat pernyataan tersebut dikumpulkan dan
dievaluasi secara disiplin dan transparan

d. Konstribusi Hasil Kegiatan Terhadap Pencapaian Visi dan Misi


Organisasi
Dengan adanya kesepakatan bersama ditandai dengan pengisian dan
penandatangan surat pernyataan di atas materai 6000 tersebut,
diharapkan petugas tetap / senantiasa menjaga konsistensinya dalam
melaksanakan kegiatan pengisian lembar ceklist keselamatan (sign in,
time out, sign out) pasien sesuai dengan SOP, sehingga dapat
mewujudkan “visi” organisasi yaitu terwujudnya pelayanan rumah
sakit yang berkualitas

e. Konstribusi Hasil Kegiatan Terhadap Penguatan Nilai- Nilai


Organisasi

41
Dengan adanya kesepakatan bersama ditandai dengan pengisian dan
penandatangan surat pernyataan di atas materai 6000 tersebut,
diharapkan petugas tetap / senantiasa menjaga konsistensinya dalam
melaksanakan kegiatan pengisian lembar ceklist keselamatan (sign in,
time out, sign out) pasien sehingga menguatkan nilai professional,
konsisten dan disiplin dalam bekerja

f. Analisa Dampak
1) Nilai Dasar : Whole of Government (WoG)
Indikator : Koordinasi dan Konsultasi
Dampak : Jika nilai dasar Whole of Government (WoG)
tidak dilaksanakan, maka dapat membuat
kepercayaan pimpinan kepada kita selaku bawahan
menjadi berkurang, sehingga dapat menghambat
proses pelaksanaan kegiatan
2) Nilai Dasar : Anti Korupsi
Indikator : Mandiri
Dampak : Jika nilai dasar Anti Korupsi tidak dilaksanakan,
maka dapat membebankan anggaran rumah sakit
dan proses kegiatannya tidak dapat berjalan lancer
karena harus menunggu pengadaan barang/ materai
dari rumah sakit
3) Nilai Dasar : Komitmen Mutu
Indikator : Pendekatan Ilmiah dan Inovatif
Dampak : Jika nilai dasar komitmen Mutu tidak
dilaksanakan, maka ketika saya melaksanakan
kegiatan tersebut mendapat hambatan, karena
petugas tidak kooperatif/ cuek terhadap kegiatan
yang saya laksanakan
4) Nilai Dasar : Nasionalisme
Indikator : Unsur Pemaksaan dan Dipertanggungjawabkan

42
Dampak : Jika nilai dasar Nasionalisme tidak dilaksanakan,
jika saya dalam melaksanakan kegiatan ini
melakukan intimidasi atau pemaksaan, maka
kegiatan ini otomatis tidak dapat berjalan karena
petugas tidak mau menyetujui/ ikut serta dalam
pelaksanaan kegiatan tersebut
5) Nilai Dasar : Akuntabilitas
Indikator : Disiplin dan Transparan
Dampak : Jika nilai dasar Akuntabilitas tidak dilaksanakan,
maka surat pernyataan yang telah ditandatangani
dan disepakati oleh petugas, kemudian surat
pernyataan tersebut dikumpulkan dan dievaluasi
secara disiplin dan transparan

g. Kendala dan Cara Mengatasinya


Dalam melaksanakan kegiatan ini tidak ditemukan adanya kendala
dan semua prosesnya berjalan dengan lancar

h. Dokumentasi Kegiatan

Photo sign in pasien

43
Penandatanganan Surat Pernyataan Oleh Tim Kamar Operasi
3. Capaian Hasil Aktualisasi Kegiatan 3
Kegiatan : Mereview kembali tentang kegiatan penerapan ceklist
keselamatan (sign in, time out, sign out) pasien sesuai
dengan SOP
Tanggal : 23 Oktober s/d 27 Oktober 2019
Daftar Lampiran : 1. Surat permohonan melaksanakan kegiatan
rancangan aktualisasi latihan dasar di RSUD Kota
Mataram
2. Surat ijin pengambilan data di RSUD Kota
Mataram
3. Surat Undangan dan absensi kegiatan review
pelaksanaan ceklist keselamatan pasien sesuai
dengan SOP (Standar Operasional Prosedur)
4. Lembar observasi pengisian ceklist keselamatan
pasien
5. Standar Operasional Prosedur (SOP) ceklist
keselamatan pasien

Keterangan : Terlaksana

a. Tahapan Kegiatan
1) Koordinasi dengan pemimpin
2) Menyiapkan media/ sarana yang dibutuhkan dalam melaksanakan
kegiatan penerapan ceklist keselamatan (sign in, time out, sign
out) pasien sesuai SOP
3) Melaksanakan kegiatan penerarapan ceklist keselamatan (sign in,
time out, sign out) yang sebenarnya
4) Evaluasi hasil kegiatan
5) Pelaporan hasil kegiatan

b. Uraian Kualitas Hasil Kegiatan (Output)


Mereview kembali tentang kegiatan penerapan ceklist
keselamatan (sign in, time out, sign out) pasien sesuai dengan SOP

44
saya laksanakan mulai tanggal 23 Oktober s/d 27 Oktober 2019.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan/ mereview kembali
kepada petugas tentang tahapan pelaksanaan kegiatan ceklist
keselamatan pasien sesuai dengan SOP (Standar Operasional
Prosedur) yang dulu sudah diterapkan tetapi dengan berjalannya
waktu kemudian mulai terlupakan karena kurangnya kepatuhan/
kepedulian petugas dalam pelaksanaan ceklist keselamatan pasien atau
karena jumlah operasi yang sedikit sehingga mereka menganggap
bahwa mereka dapat mengontrol resiko/ hal-hal yang tidak diinginkan
yang mungkin terjadi selama proses pembedahan/ anestesi. Dengan
adanya kegiatan yang saya lakukan ini diharapkan petugas dapat
mengoptimalkan kepatuhannya dalam melaksanakan kegiatan ceklist
keselamatan pasien sesuai dengan SOP tersebut.
Pada awal kegiatan tanggal 23 Oktober 2019, terlebih dahulu
saya meminta ijin/ berkoordinasi langsung dengan pimpinan/ kepala
ruangan OK (Kamar Operasi) dan menjelaskan maksud/ tujuan dari
kegiatan tersebut. Setelah mendapatkan ijin/ dukungan dari pimpinan,
kemudian saya membuat surat/ undangan pertemuan dengan seluruh
petugas kamar operasi dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan
kamar operasi dan menurunkan angka KTD (Kejadian Tak
Diharapkan) sehingga diadakan kegiatan sosialisasi/ mereview
kembali tentang pelaksanaan ceklist keselamatan pasien sesuai dengan
SOP.
Pada saat pertemuan tersebut tanggal 25 Oktober 2019, saya
menjelaskan/ mereview kembali tentang tahapan prosedur
pelaksanaan ceklist keselamatan pasien sesuai dengan SOP mulai dari
tahap sign in (sebelum pasien diinduksi/ anestesi), time out (sebelum
pasien diinsisi/ pengirisan), dan sign out (sebelum luka operasi
ditutup/ sebelum pasien meninggalkan kamar operasi). Dengan adanya
kegiatan tersebut saya mengharapkan semua petugas kamar operasi
dapat mengoptimalkan kepatuhannya dalam melaksanakan kegiatan

45
ceklist keselamatan pasien sesuai dengan SOP (Standar Operasional
Prosedur).
Setelah kegiatan tersebut selesai, kemudian pada tanggal 27
Oktober 2019 saya melaporkan hasil pertemuan tersebut kepada pimpinan
untuk dipertanggungjawabkan.

c. Pemaknaan Nilai – Nilai Dasar


1) Whole of Government (WoG)
Kita sebagai ASN yang baik, terlebih dahulu kita melakukan
koordinasi dengan pimpinan sebelum melakukan kegiatan
2) Etika Publik
Melakukan konsultasi/ komunikasi kepada pimpinan kita harus
bersikap hormat, ramah, sopan dan santun
3) Akuntabilitas
Menyiapkan segala keperluan kegiatan dilakukan dengan penuh
rasa tanggung jawab
Melaporkan hasil kegiatan tersebut kepada pimpinan untuk dapat
dipertanggungjawabkan
4) Nasionalisme
Dalam melaksanakan kegiatan penerapan ceklist keselamatan
pasien oleh petugas kamar operasi, harus tetap menjaga dan
menghormati hak – hak pasien
5) Asas Manajemen ASN
Dalam kegiatan ini diharapkan petugas serius dalam
melaksanakannya, sehigga waktu yang digunakan lebih efektif dan
efisien

d. Konstribusi Hasil Kegiatan Terhadap Pencapaian Visi dan Misi


Organisasi
Dengan melakukan kegiatan review dalam penerapan ceklist
keselamatan (sign in, time out, sign out) pasien diharapkan dapat

46
memotivasi petugas kamar operasi untuk senantiasa meningkatkan
mutu pelayanan, hal ini sesuai dengan “Misi” ke-2 “meningkatkan
kualitas pelayanan keperawatan” dan ke-3 “meningkatkan
kualitas pelayanan medik”

e. Konstribusi Hasil Kegiatan Terhadap Penguatan Nilai- Nilai


Organisasi
Dengan mereview kembali tentang kegiatan penerapan ceklist
keselamatan (sign in, time out, sign out) pasien maka dapat
memperkuat nilai profesionalitas dari organisasi

f. Analisa Dampak
1) Nilai Dasar : Whole of Government (WoG)
Indikator : Koordinasi
Dampak : Jika nilai dasar Whole of Government (WoG)
tidak dilaksanakan, maka dapat membuat kepercayaan pimpinan
kepada kita selaku bawahan menjadi berkurang, sehingga dapat
menghambat proses pelaksanaan kegiatan
2) Nilai Dasar : Etika Publik
Indikator : Hormat, Ramah, dan Sopan Santun
Dampak : Jika nilai dasar Etika Publik tidak dilaksanakan,
maka pimpinan akan menilai bahwa saya memiliki
etika yang kurang baik karena tidak bisa
menghargai pimpinan saat melakukan konsultasi
3) Nilai Dasar : Akuntabilitas
Indikator : Tanggung Jawab
Dampak : Jika nilai dasar Akuntabilitas tidak dilaksanakan,
jika saya tidak bertanggung jawab dalam
melaksanakan kegiatan tersebut, maka akan
menghambat proses pengerjaan kegiatannya,

47
sehingga kegiatan tersebut tidak dapat
terselesaikan
4) Nilai Dasar : Nasionalisme
Indikator : Tetap Menjaga dan Menghormati Hak- Hak Pasien
Dampak : Jika nilai dasar Nasionalisme tidak dilaksanakan,
jika saya dalam melaksanakan kegiatan ini tidak
menghormati/ menghargai hak-hak pasien, maka
pasien pasti merasa dilecehkan dan sewaktu- waktu
bisa melaporkannya kepada pimpinan atau pihak
yang berwenang tentang sikap yang saya lakukan
5) Nilai Dasar : Asas Manajemen ASN
Indikator : Efektif dan Efisien
Dampak : Jika nilai dasar Asas Manajemen ASN tidak
dilaksanakan, maka dalam pelaksanaan kegiatan
tersebut membutuhkan waktu yang lama, karena
kurang seriusnya petugas dalam mengikuti
kegiatan tersebut, sehingga menghambat proses
kegiatan berikutnya

g. Kendala dan Cara Mengatasinya


Dalam melaksanakan kegiatan ini tidak ditemukan adanya kendala
dan semua prosesnya berjalan dengan lancer

h. Dokumentasi Kegiatan

48
Koordinasi Dengan Kepala Ruang Kamar Operasi

Review Tentang Pelaksanaan Ceklist Keselamatan Pasien


Sesuai Dengan SOP

4. Capaian Hasil Aktualisasi Kegiatan 4


Kegiatan : Roll Play kegiatan penerapan ceklist keselamatan (sign
in, time out, sign out) pasien yang sesuai dengan SOP
Tanggal : 3 Juni s/d 10 Juni 2019
Daftar Lampiran : 1. Surat permohonan melaksanakan kegiatan
rancangan aktualisasi latihan dasar di RSUD Kota
Mataram
2. Disposisi dari pimpinan/ manajemen Rumah Sakit
terkait Surat ijin mengambil/ mendokumentasikan
gambar dan video di RSUD Kota Mataram
3. Surat persetujuan dokter spesialis bersedia ikut
serta dalam kegiatan Roll Play pembuatan video
penerapan ceklist keselamatan pasien sesuai
dengan SOP
4. Surat persetuan pasien (informed consent)
keikutsertaan dalam kegiatan roll play ceklist

49
keselamatan passion sesuai dengan SOP
5. Gambar/ Video hasil dokumentasi kegiatan
pelaksanaan ceklist keselamatan pasien sesuai
dengan SOP

Keterangan : Terlaksana

a. Tahapan Kegiatan
1) Konsultasi dengan pemimpin
2) Menyiapkan perlengkapan rollplay yang dibutuhkan
3) Melaksanakan kegiatan rollplay tentang penerapan ceklist
keselamatan (sign in, time out, sign out) pasien sesuai dengan
SOP
4) Pendokumentasian hasil roll play
5) Evaluasi kegiatan
6) Laporan hasil kegiatan

b. Uraian Kualitas Hasil Kegiatan (Output)


Roll Play kegiatan penerapan ceklist keselamatan pasien (sign in, time
out, sign out) yang sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur)
saya laksanakan pada tanggal 31 oktober s/d 7 November 2019.
Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk mempraktekkan kembali/
mengingat kembali proses pelaksanaan ceklist keselamatan pasien
sesuai dengan SOP secara bertahap. Dalam kegiatan Roll Play ini juga
saya dan petugas kamar operasi membuat video tentang pelaksanaan
ceklist keselamatan pasien sesuai dengan SOP mulai dari tahap sign
in, time out dan sign out dengan harapan nantinya video tersebut dapat
digunakan/ ditampilkan dimonitor/ TV di ruang penerimaan/
persiapan pasien sebelum operasi untuk selalu mengingatkan petugas
agar senantiasa patuh dalam melaksanakan ceklist keselamatan pasien
tersebut.

50
Pada awal tahap kegiatan tanggal 31 Oktober 2019 terlebih dahulu
saya koordinasi/ konsultasi dengan pimpinan dengan tujuan
mendapatkan ijin pengambilan gambar dan video (dokumentasi)
terkait dengan kegiatan tersebut. Surat ijin ini sangat penting,
mengingat undang- undang telah mengatur tentang larangan
pengambilan gambar/ video di rumah sakit yaitu (pasal Undang-
Undang Praktik Kedokteran No. 29/ 2004 Pasal 48 dan 51 dan
Undang-Undang Telekomunikasi No. 36 Tahun 1999 Pasal 40),
setelah mendapatkan ijin untuk melakukan kegiatan tersebut,
kemudian dihari yang sama saya menyiapkan semua perlengkapan
yang dibutuhkan dengan penuh rasa tanggung jawab.
Setelah semua perlengkapan yang dibutuhkan telah siap, pada tanggal
1 November 2019 saya dan petugas lainnya mulai melakukan kegiatan
roll play tersebut mulai dari tahap sign in, time out dan sign out.
Tetapi sebelum memulai kegiatan roll play tersebut terlebih dahulu
saya meminta ijin kepada pasien dan dokter spesialis untuk
melakukan pengambilan gambar/ video ditandai dengan surat
pernyataan bersedia diikut sertakan dalam kegiatan pembuatan video/
roll play tersebut.
Setelah proses pembuatan video berakhir, kemudian tanggal 6
November 2019 masuk ke tahap editing. Setelah proses editing
selesai, tanggal 7 November 2019 hasil dari video tersebut kemudian
saya laporkan kepada pimpinan untuk dapat dipertanggung jawabkan.

c. Pemaknaan Nilai – Nilai Dasar


1) Whole of Government (WoG)
Sebelum melakukan kegiatan aktualisasi, terlebih dahulu saya
harus berkonsultasi dengan pimpinan, agar dalam pelaksanaannya
tidak mendapatkan hambatan
2) Nasionalisme

51
Dalam menyiapkan kebutuhan/ perlengkapan yang dibutuhkan
dalam kegiatan rollplay pembuatan video pelaksanaan ceklist
keselamatan pasien sesuai dengan SOP, senantiasa dilakukan
dengan penuh rasa tanggung jawab
3) Akuntabilitas
Dalam melaksanakan kegiatan rollplay pembuatan video tentang
pelaksanaan ceklist keselamatan pasien sesuai dengan SOP,
diharapkan petugas yang terlibat dalam pembuatan video tersebut
senantiasa berperan aktif serta tetap menjaga integritas dan
tanggung jawabnya sebagai seorang petugas
Hasil dari kegiatan rollplay ini, dilaporkan kepada pimpinan untuk
dipertanggung jawabkan
4) Etika Publik
Dalam proses pendokumentasian kegiatan roll play pembuatan
video tentang ceklist keselamatan pasien sesuai dengan SOP harus
menjaga nilai/ norma kode etik profesi
5) Komitmen Mutu
Setelah kegiatan rollplay pembuatan video tentang pelaksanaan
ceklist keselamatan pasien sesuai dengan SOP telah rampung/
selesai, kemudian dievaluasi kembali sejauh mana petugas mampu
beradaptasi dengan perubahan/ perkembangan yang telah
dilakukan

d. Konstribusi Hasil Kegiatan Terhadap Pencapaian Visi dan Misi


Organisasi
Dengan melakukan kegiatan Roll play pembuatan video dalam
penerapan ceklist keselamatan (sign in, time out, sign out) pasien
sebagai acuan/ motivasi buat petugas kamar operasi untuk
meningkatkan mutu pelayanan terutama dalam kepatuhan petugas
melaksanakan ceklist keselamatan pasien sesuai dengan SOP,

52
sehingga dapat mewujudkan “Misi” ke-2 organisasi yaitu
meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan

e. Konstribusi Hasil Kegiatan Terhadap Penguatan Nilai- Nilai


Organisasi
Dengan melakukan Roll Play tentang kegiatan penerapan ceklist
keselamatan pasien maka dapat memperkuat nilai disiplin,
profesionalitas dari organisasi

f. Analisa Dampak
1) Nilai Dasar : Whole of Government (WoG)
Indikator : Konsultasi
Dampak : Jika nilai dasar Whole of Government (WoG)
tidak dilaksanakan, maka saya tidak dapat
melaksanakan kegiatan tersebut karena tidak
mendapat ijin dari pimpinan, sehingga dapat
menghambat proses pelaksanaan kegiatan
2) Nilai Dasar : Nasionalisme
Indikator : Tanggung Jawab
Dampak : Jika nilai dasar Nasionalisme tidak dilaksanakan,
maka kegiatan rollplay ini tidak dapat berjalan
dengan baik dan hasil yang diharapkan kurang
maksimal karena tidak didasari rasa tanggung
jawab dalam pelaksanaannya
3) Nilai Dasar : Akuntabilitas
Indikator : Integritas dan Tanggung Jawab
Dampak : Jika nilai dasar Akuntabilitas tidak dilaksanakan,
maka saya dan petugas lainnya hanya berfokus
pada kegiatan rollplay pembuatan video saja,
sehingga lupa akan tugas dan tanggung jawab kita
sebagai seorang petugas medis yang dapat

53
menyebabkan pelayanan di rumah sakit menjadi
terhambat
4) Nilai Dasar : Etika Publik
Indikator : Nilai / Norma Kode Etik Profesi
Dampak : Jika nilai dasar Etika Publik tidak dilaksanakan,
maka akan berdampak pada buruknya citra petugas
di mata masyarakat tentang pelayanan rumah sakit
tersebut
5) Nilai Dasar : Komitmen Mutu
Indikator : Mampu Beradaptasi Dengan Perubahan/
Perkembangan
Dampak : Jika nilai dasar Komitmen Mutu tidak
dilaksanakan, maka perilaku petugas dalam
melaksanakan kepatuhan ceklist keselamatan
pasien hanya bersifat sementara/ tidak mengalami
perubahan apapun, sebab petugas tidak mampu
beradaptasi terhadap perubahan pelayanan sesuai
dengan yang diharapkan

g. Kendala dan Cara Mengatasinya


Dalam melaksanakan kegiatan ini tidak ditemukan adanya kendala
dan semua prosesnya berjalan dengan lancar

h. Dokumentasi Kegiatan

54
Koordinasi Dengan Pimpinan (Ijin Pengambilan Gambar/ Vidio)

Sign In (Sebelum Induksi/ Anestesi)

Fase Time Out (Sebelum Insisi/ Pengirisan)

55
Fase Sign Out (Sebelum Penutupan Luka Operasi/ Sebelum Pasien Meninggalkan
Kamar Operasi

5. Capaian Hasil Aktualisasi Kegiatan 5


Kegiatan : Membuat benner/ poster tentang penerapan ceklist
keselamatan pasien
Tanggal : 8 November s/d 12 November 2019
Daftar Lampiran : 1. Surat permohonan melaksanakan kegiatan
rancangan aktualisasi latihan dasar di RSUD Kota
Mataram
2. Surat ijin pengambilan data di RSUD Kota
Mataram
3. Surat ijin mengambil/ mendokumentasikan gambar
dan video di RSUD Kota Mataram
4. Surat persetujuan bersedia menjadi model dalam
gambar benner

Keterangan : Terlaksana

a. Tahapan Kegiatan
1) Konsultasi dengan pimpinan
2) Menyiapkan desain benner / poster
3) Mencetak/ memprint desain benner/ poster
4) Memasang benner / poster
5) Evaluasi
6) Laporan evaluasi kepada pimpinan

56
b. Uraian Kualitas Hasil Kegiatan (Output)
Pembuatan Benner/ Poster saya mulai laksanakan pada tanggal 7
November s/d 12 November 2019. Kegiatan ini bertujuan untuk
senantiasa mengingatkan petugas agar senantiasa patuh dalam
menjalankan ceklist keselamatan pasien sesuai dengan SOP (Standar
Operasional Prosedur) Agar Kejadian Yang Tak Diharapkan (KTD)
tidak terjadi selama proses pembedahan/ anestesi berlangsung.
Pada tahap awal kegiatan tanggal 7 November 2019, terlebih dahulu
saya meminta persetujuan dari pimpinan untuk melakukan kegiatan
pembuatan dan pemasangan benner/ poster tersebut agar prosesnya
berjalan lancar. Setelah mendapatkan persetujuan dari pimpinan
kemudian pada hari yang sama, saya mulai mendesain/ mencari
referensi dari media internet. Setelah desain tersebut telah selesai,
kemudian besok tanggal 8 November 2019 saya membawa desain
tersebut ke percetakan untuk diprint/ dicetak. Tanggal 11 November
2019 benner/ poster tersebut sudah selesai dibuat. Kemudian saya
memajang/ memasang benner/ poster tersebut di beberapa sudut ruang
penerimaan/ persiapan pasien di kamar operasi. Lalu kemudian
tanggal 12 November 2019 hasil dari pemasangan benner ini saya
laporkan kepada pimpinan untuk dipertanggungjawabkan.

c. Pemaknaan Nilai – Nilai Dasar


1) Whole of Government (WoG)
Sebelum melakukan kegiatan pembuatan benner/ poster, terlebih
dahulu kita koordinasi dengan pimpinan dan petugas yang terkait
2) Nasionalisme
Koordinasi dengan pimpinan dan petugas yang terkait bertujuan agar
dalam pelaksanaan kegiatan pembuatan benner/ poster tersebut
mendapatkan persetujuan dan tidak menemukan hambatan sehingga
dapat dipertanggung jawabkan

57
3) Etika Publik
Pada saat bertemu dengan pimpinan untuk mendapatkan persetujuan
dan menjelaskan maksud /tujuan dari kegiatan tersebut kita harus
bersikap ramah dan sopan santun
Dalam pembuatan benner/ poster tersebut, kita juga harus
memperhatikan beberapa aspek seperti tidak melanggar norma/
aturan yang ada, tidak memiliki unsur pornografi, kekerasan, dll
4) Komitmen Mutu
Setelah mendapatkan persetujuan/ ijin dari pimpinan untuk
melaksanakan kegiatan pembuatan benner/ poster, kemudian lanjut
ketahap pendesainan/ pembuatan, kita harus memiliki kreatifitas /
inovasi sehingga menghasilkan benner/ poster yang berkualitas
5) Anti Korupsi
Dalam keiatan pembuatan benner/ poster tersebut, segala biaya yang
dikeluarkan dalam pembuatan benner/ poster tersebut tidak
menggunakan dana rumah sakit tetapi menggunakan dana pribadi/
mandiri
6) Asas Manajemen ASN
Benner/ poster yang sudah jadi, kemudian dipajang/ dipasang di
tempat – tempat yang strategis/ mudah dilihat sehingga dapat
dimanfaatkan secara efektif dan efisien
7) Akuntabilitas
Capaian hasil dari kegiatan tersebut, kemudian dilaporkan kepada
pimpinan untuk dipertanggung jawabkan

d. Konstribusi Hasil Kegiatan Terhadap Pencapaian Visi dan Misi


Organisasi
Dengan adanya benner/ poster ceklist keselamatan pasien tersebut
diharapkan dapat mengingatkan petugas agar senantiasa melakukuan
penerapan ceklist keselamatan pasien sesuai dengan SOP sehingga

58
dapat mewujudkan “Visi” organisasi yaitu terwujudnya pelayanan
Rumah Sakit yang berkualitas

e. Konstribusi Hasil Kegiatan Terhadap Penguatan Nilai- Nilai


Organisasi
Dengan melakukan kegiatan pembuatan benner tentang penerapan
ceklist keselamatan pasien menguatkan nilai professional, konsisten
dan disiplin dalam bekerja

f. Analisa Dampak
1) Nilai Dasar : Whole of Government (WoG)
Indikator : Koordinasi
Dampak : Jika nilai dasar Whole of Government (WoG)
tidak dilaksanakan, maka saya tidak dapat
melaksanakan kegiatan tersebut karena tidak
mendapat ijin dari pimpinan, sehingga dapat
menghambat proses pelaksanaan kegiatan
pembuatan benner/ poster tersebut
2) Nilai Dasar : Nasionalisme
Indikator : Tanggung Jawab/ Dipertanggung Jawabkan
Dampak : Jika nilai dasar Nasionalisme tidak dilaksanakan,
maka ketika saya melakukan kegiatan pembuatan
benner/ poster ini tidak dapat berjalan dengan baik
dan hasil yang diharapkan kurang maksimal karena
tidak didasari rasa tanggung jawab dalam
pelaksanaannya
3) Nilai Dasar : Etika Publik
Indikator : Ramah dan Sopan Santun
Dampak : Jika nilai dasar Etika Publik (Ramah dan Sopan
Santun) tidak dilaksanakan, ketika saya bertemu/
meminta ijin kepada pimpinan menggunakan kata-

59
kata yang kasar, bersifat memaksa dan
menunjukkan sikap yang tidak baik, maka akan
membuat pimpinan marah serta tidak mau
menyetujui kegiatan yang saya lakukan, sehingga
kegiatan tersebut tidak dapat terlaksana
4) Nilai Dasar : Komitmen Mutu
Indikator : Kreatifitas dan Inovasi
Dampak : Jika nilai dasar Komitmen Mutu (Kreatifitas dan
Inovasi) tidak dilaksanakan, maka ketika saya
melaksanakan pembuatan desain benner/ poster
tersebut hanya mengikuti/ mencontoh sumber yang
sudah ada, sehingga produk yang dihasilkan tidk
berkualitas.
5) Nilai Dasar : Anti Korupsi
Indikator : Dana Pribadi dan Mandiri
Dampak : Jika nilai dasar Anti Korupsi (Dana Pribadi dan
Mandiri) tidak dilaksanakan, maka dalam kegiatan
pembuatan benner/ poster tersebut menjadi
terlambat karena harus menunggu anggaran rumah
sakit terlebih dahulu dimana pengusulan
anggarannya membutuhkan proses yang panjang
sehingga dapat menghambat kegiatan tersebut
6) Nilai Dasar : Asas Manajemen ASN
Indikator : Efektif dan Efisien
Dampak : Jika nilai dasar Asas Manajemen ASN (Efektif
dan Efisien) tidak dilaksanakan, maka benner/
poster yang telah selesai, tidak dapat dimanfaatkan
sebaik mungkin untuk memotivasi petugas dalam
melaksanakan kegiatan tersebut karena
pemasangannya tidak di tempat yang strategis
7) Nilai Dasar : Akuntabilitas

60
Indikator : Tanggung Jawab/ Dipertanggung Jawabkan
Dampak : Jika nilai dasar Akuntabilitas (Tanggung Jawab/
Dipertanggung Jawabkan) tidak dilaksanakan,
maka pimpinan tidak mau bertanggung jawab atas
segala resiko atau dampak yang mungkin terjadi
terhadap kegiatan yang saya lakukan

g. Kendala dan Cara Mengatasinya


Dalam melaksanakan kegiatan ini tidak ditemukan adanya kendala
dan semua prosesnya berjalan dengan lancar

Konsultasi Dengan Pimpinan Untuk Kegiatan Pemasangan Benner/ Poster

Tahap Kegiatan Desain Benner/ Poster

61
Pemasangan Benner/ Poster

6. Capaian Hasil Aktualisasi Kegiatan 6


Kegiatan : Membuat sticker tentang penerapan ceklist
keselamatan pasien
Tanggal : 15 November s/d 18 November 2019
Daftar Lampiran : 1. Surat permohonan melaksanakan kegiatan
rancangan aktualisasi latihan dasar di RSUD Kota
Mataram
2. Surat ijin pengambilan data di RSUD Kota
Mataram
3. Surat ijin mengambil/ mendokumentasikan gambar
dan video di RSUD Kota Mataram
4. Surat persetujuan menjadi model dalam gambar
stiker ceklist keselamatan pasien

Keterangan : Terlaksana

a. Tahapan Kegiatan
1) Konsultasi dengan pimpinan
2) Menyiapkan desain sticker
3) Mencetak/ memprint desain stiker
4) Memasang stiker
5) Evaluasi
6) Laporan evaluasi kepada pimpinan

b. Uraian Kualitas Hasil Kegiatan (Output)

62
Pembuatan Sticker saya mulai laksanakan pada tanggal 15 November
s/d 18 November 2019. Kegiatan ini bertujuan untuk senantiasa
mengingatkan petugas agar senantiasa patuh dalam menjalankan
ceklist keselamatan pasien sesuai dengan SOP (Standar Operasional
Prosedur) Agar Kejadian Yang Tak Diharapkan (KTD) tidak terjadi
selama proses pembedahan/ anestesi berlangsung.

c. Pemaknaan Nilai – Nilai Dasar


1) Whole of Government (WoG)
Sebelum melakukan pembuatan sticker, sebagai seorang ASN /
pelayan masyarakat yang baik, saya harus berkonsultasi/ koordinasi
terlebih dahulu dengan pimpinan
2) Etika Publik
Pada saat berkonsultasi/ meminta ijin dengan pimpinan kita harus
bersikap sopan dan ramah dengan menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar
3) Nasionalisme
4) Komitmen Mutu
Setelah stiker tersebut dipasang, kemudian dievaluasi sejauh mana
petugas beradaptasi dengan perubahan/ perkembangan yang ada
5) Akuntabilitas
Setelah kegiatan pembuatan dan pemasangan stiker ini selesai
dilaksanakan, kemudian kita melaporkan hasilnya kepada pimpinan
untuk dipertanggungjawabkan
6) Anti Korupsi
Semua biaya yang dibutuhkan dalam pembuatan stiker tentang ceklist
keselamatan pasien sepenuhnya menggunakan biaya mandiri tanpa
membebankan anggaran rumah sakit

d. Konstribusi Hasil Kegiatan Terhadap Pencapaian Visi dan Misi


Organisasi

63
Dengan adanya sticker penerapan ceklist keselamatan pasien tersebut,
diharapkan dapat mengingatkan dan memotivasi petugas kamar
operasi agar senantiasa melaksanakan penerapan ceklist keselamatan
pasien sesuai dengan SOP sehingga dapat mewujudkan “Visi”
organisasi yaitu terwujudnya pelayanan Rumah Sakit yang
berkualitas

e. Konstribusi Hasil Kegiatan Terhadap Penguatan Nilai- Nilai


Organisasi
Dengan melakukan kegiatan pembuatan stiker tentang penerapan
ceklist keselamatan pasien menguatkan nilai professional, konsisten
dan disiplin dalam bekerja

f. Analisa Dampak
1) Nilai Dasar : Whole of Government (WoG)
Indikator : Konsultasi dan Koordinasi
Dampak : Jika nilai dasar Whole of Government (WoG)
tidak dilaksanakan, maka dapat menghambat
proses kegiatan pembuatan sticker tersebut karena
terhalang masalah ijin operasional dari pimpinan

2) Nilai Dasar : Etika Publik


Indikator : Sopan, Ramah, Menggunakan Bahasa Indonesia
yang Baik dan Benar
Dampak : Jika nilai dasar Etika Publik (Sopan, Ramah,
Menggunakan Bahasa Indonesia yang Baik dan
Benar) tidak dilaksanakan, maka pimpinan akan
menilai bahwa saya memiliki etika yang kurang
baik karena tidak bisa menghargai pimpinan dan
bersikap kasar saat melakukan konsultasi

64
3) Nilai Dasar : Nasionalisme
Indikator : Tanggung Jawab
Dampak : Jika nilai dasar Nasionalisme (Tanggung Jawab)
tidak dilaksanakan, maka poster yang telah
dipasang/ ditempel di tempat tertentu, mudah
dirusak oleh orang lain, sehingga kegiatan tersebut
menjadi sia- sia
4) Nilai Dasar : Komitmen Mutu
Indikator : Perubahan dan Perkembangan
Dampak : Jika nilai dasar Komitmen Mutu (Perubahan dan
Perkembangan) tidak dilaksanakan, maka
pemasangan sticker tersebut menjadi sia- sia
karena tidak dapat merubah pola fikir petugas dan
memberikan motivasi untuk senantiasa patuh
dalam melaksanakan kegiatan ceklist keselamatan
pasien sesuai dengan SOP.
5) Nilai Dasar : Akuntabilitas
Indikator : Dipertanggungjawabkan
Dampak : Jika nilai dasar Akuntabilitas
(Dipertanggungjawabkan) tidak dilaksanakan,
maka dalam pelaksanaan kegiatan tersebut
membutuhkan waktu yang lama, karena kurang
seriusnya petugas dalam mengikuti kegiatan
tersebut, sehingga menghambat proses kegiatan
berikutnya

6) Nilai Dasar : Anti Korupsi


Indikator : Mandiri
Dampak : Jika nilai dasar Anti Korupsi (Mandiri) tidak
dilaksanakan, maka dalam pelaksanaan kegiatan
pembuatan sticker tersebut menjadi terhambat,

65
karena harus menunggu pengadaan anggaran/
barang yang memerlukan proses yang cukup lama.

g. Kendala dan Cara Mengatasinya


Dalam melaksanakan kegiatan ini tidak ditemukan adanya kendala
dan semua prosesnya berjalan dengan lancar

Kegiatan Pemasangan Sticker

BAB V
PENUTUP

66
A. KESIMPULAN
Penata Anestesi adalah bagian dari tenaga kesehatan sebagaimana
disebutkan dalam PMK No. 18 Tahun 2016 Tentang Izin dan
Penyelenggaraan Praktik Penata Anestesi yang mepunyai kewenangan untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan berupa asuhan kepenataan anestesi
sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki.
Oleh karena itu, sebagai seorang penata anestesi yang professional
dengan kemampuan keilmuan yang dimiliki dituntut melakukan pelayanan
dalam memberikan asuhan kepenataan anestesi yang efektif kepada pasien
(individu, keluarga, kelompok dan komunitas). Penata anestesi dalam
melaksanakan tugasnya sebagai profesi memegang sumpah kepenataan
anestesi, tanggung jawab profesi dan senantiasa menerapkan etika dalam
memberikan pelayanan asuhan kepenataan anestesi secara otonomi, mandiri
dan bersedia menanggung resiko dan tanggung jawab terhadap keputusan dan
tindakan yang dilakukan serta setiap keputusan dibuat berdasarkan keinginan
untuk melakukan yang terbaik dan tidak merugikan pasien. Hal ini sebanding
dengan pelayanannya selaku abdi masyarakat yaitu Aparatur Sipil Negara
(ASN). Dimana penata anestesi selalu dituntut untuk melakukan tugas dan
tanggung jawabnya harus sesuai dengan nilai- nilai dasar ASN yaitu
ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan
Anti Korupsi), Whole of Government, Manajemen ASN.
Ceklist keselamatan pasien merupakan bagian dari seorang dokter
anestesi/ penata anestesi dalam melaksanakan assessment/ pemeriksaan pra
anestesi pada pasien sebelum dilakukan operasi, hal ini dilakukan untuk
menghindari Kejadian Tak Diharapkan (KTD) selama proses pembiusan/
anestesi.
Ceklist keselamatan pasien sudah mulai dilaksanakan sejak RSUD
KOTA MATARAM terakreditasi pada tahun 2016, namun karena kurangnya
kepatuhan petugas dalam pelaksanaannya, sehingga seiring berjalannya
waktu kegiatan tersebut mulai terlupakan atau tidak dilaksanakan
sepenuhnya. Hal ini terjadi karena kurangnya pengawasan, penghargaan dan

67
motivasi kepada petugas, sehingga mereka beranggapan bahwa pelaksanaan
tindakan ceklist keselamatan pasien tersebut tidak terlalu penting.
Dengan adanya kegiatan aktualisasi yang telah saya lakukan, maka
diharapkan petugas dapat mengoptimalkan kepatuhannya dalam
melaksanakan ceklist keselamatan pasien sesuai dengan SOP, sehingga dapat
mewujudkan “visi” rumah sakit yaitu terwujudnya pelayanan rumah sakit
yang berkualitas. Rumah sakit memiliki peranan yang sangat penting dalam
memberikan sosialisasi, dukungan dan pengawasan agar semua tim kamar
operasi yang terlibat mempuyai tujuan, keyakinan dan kerjasama yang baik
untuk memanfaatkan penggunaan cheklist secara optimal sehingga dapat
memberikan pelayanan pembedahan yang terbaik buat masyarakat.
Penggunaan Surgery safetyNchecklist WHO dimaksudkan untuk
memfasilitasi komunikasi yang efektif dalam prosedur pembedahan sehingga
meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan dan peningkatan keselamatan
pasien di kamar bedah baik sebelum operasi, selama operasi dan sesudah
operasi.
B. SARAN
1. Bagi Rumah Sakit
a. Agar melakukan evaluasi dan tetap memotivasi tim kamar operasi
(dokter, tim bedah dan tim anestesi) untuk lebih konsekuen
melakukan surgical safety checklist agar kondisi apapun tetap
menggunakannya.
b. Khususnya di kamar operasi surgery safety checklist sangat
bermanfaat karena melindungi pasien dari tindakan dan kajadian
yang tidak diharapkan.
c. Diharapkan pada manajemen rumah sakit melakukan inhouse
training kepada perawat kamar operasi, untuk meningkatkan
pengetahuan perawat dalam pelaksanaan keselamatan pasien
dikamar operasi.
d. Untuk memotivasi petugas dan tim bedah dalam melaksanakan
surgical safety checklist diadakan sisten reword dan penishment

68
kepada tim operasi. Dengan adanya evaluasi setiap bulannya oleh
tim mutu rumah sakit.
2. Bagi keperawatan
khususnya di kamar operasi surgery safety checklist sangat bermanfaat
karena melindungi perawat, karena dapat dijadikan sebagai aspek legal
yang dapat dipertanggungjawabkan karena seluruh kegiatan yang
dilakukan pada pasien akan diverifikasi dan terdokumentasi didalamnya
termasuk kegiatan persiapan pembedahan, seperti informed concent akan
melindungi perawat bedah yang terlibat didalam tim karena ada
pernyataan khusus yang ditujukan kepada perawat sebagai instrumentator
yang akan diverifikasi persiapan alat dan kelengkapan alat setelah
tindakan pembedahan selesai

69

Anda mungkin juga menyukai