Anda di halaman 1dari 7

METODE PENUGASAN FUNGSIONAL DAN METODE KASUS

DALAM RUANG RAWAT

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
NAMA : HENDI LUMBAN GAOL

NIM : 160204015

KELAS : PSIK 4.2

DOSEN PENGAJAR :

Ns.ADVENTY GULO, M.Kep

PROGRAM STUDI NERS


FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
MEDAN
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah Tentang Metode
Penugasan Fungsional dan Metode Kasus dalam ruang rawat. Saya sangat berharap makalah
ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan. Saya juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
telah saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang


membacanya.Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri
maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan di masa depan.

Medan, 02 April 2020

(Hendi Lumban Gaol)


METODE PENUGASAN

1. Metode Fungsional

Metode ini diterapkan dalam penguasaan pekerja didunia industri ketika setiap
pekerja dipusatkan pada saatu tugas atau aktifitas. Dalam memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien dengan menggunakan metode fungsional, setiap perawat
mempperoleh suatu tugas (kemungkinan bisa lebih) untuk semua pasien diunit/ruang
tempat perawat tersebut bekerja. Disatu unit/ruangan, seorang perawat diberikan tugas
mennyuntik maka perawat tersebut bertanggung jawab untuk memberikan program
pengobatan melalui suntikan kepada semua pasien di unit/ruangan tersebut. Contoh
penugasan yang lain adalah membagi obat per oral, mengganti balut, pendidikan
kesehatan pada pasien yang akan pulang, dan sebagainya.                                              

Metode fungsional ini efisien, akan tetapi penugasan seperti ini tidak dapat
memberikan kepuasan kepada pasien maupun perawat. Keberhasilan asuhan
keperawatan secara menyeluruh tidak bias dicapai dengan metode ini karena asuhan
keperawatan yang dibeikan kepada pasien terpisah-pisah sesuai tugas yang
dibebankan kepada perawat. Disamping itu asuhan keperawatan yang diberikan tidak
professional yang berdasarkan pada masalah pasien. Perawat senior cenderung akan
sibuk dengan tugas-tugas administrasi dan manajerial. Sementara asuhan keperawatan
kepada pasien dipercayakan kepada perawat junior. Sekalipun metode fungsional
dalam pemberian asuhan keperawatan ini membosankan perawat karena hanya
berorientasi pada tugas, tetapi metode ini baik dan berguna untuk situasi di rumah
sakit dengan ketenagaan perawat yang kurang. Metode ini juga dapat memberikan
kepuasan kepada pasien yang membutuhkan pelayanan secara rutin.
a)      Kelebihan dan Kelemahan metode fungsional
Penerapan metode fungsional dalam pemberiaan asuhan keperawatan kepada pasien
memiliki beberapa keuntungan. Kelebihan dan metode fungsional yaitu:
1)      Perawat menjadi lebih terampil dalam melakukan satu tugas yang biasa menjadi
tanggung jawabnya.
2)      Pekerjaan menjadi lebih efisien
3)      Relative sedikit dibutuhkan tenaga perawat
4)      Mudah dalam mengoordinasi pekerjaan
5)      Terjadi proses distribusi dan pemantauan tugas atau pekerjaan
6)      Perawat lebih mudah menyesuaikan dengan tugas yang menjadi tanggung
jawabnya sehingga menjadi lebih cepat seleai.

Selain itu terdapat pula kelemahan nya, dimana perawat dalam membeikan asuhan
keperawatan tidak melihat pasien secara holistic dan tidak berfokus pada masalah
pasien sehingga tidak professional, tidak membeikan kepuasaan baik pada pasien
maupun pada perawat, dan kadang bisa terjadi saling melempar tanggung jawab bila
terjadi kesalahan.

b)      Peran Perawat Kepala Ruang


Untuk mengantisipasi kondisi tersebut maka peran perawat kepala ruangan (ners unit
manager) harus lebih peka terhadap anggaran rumah sakit dan kualitas pelayanaan
keperawatan, bertanggung jawab terhadap hasil dan pelayanan keperawatan yang
berkualitas, dan menghindari terjadinya kebosanan perawat serta menghindari semua
kemungkinan terjadinya saling melmpar kesalahan. Sekalipun di akui metode
fungsional ini cocok untuk jangka waktu pendek dalam kondisi gawat atau terjadi
suatu bencana, tetapi metode ini kurang di sukai untuk pelayanan biasa dan jangka
panjang karena asuhan keperawatan yang diberikan tidak komperehensif dan
melakuan pasien kurang manusiawi (Gillies, 1994)

2. Metode Kasus
Metode ini merupakan generasi kedua dan metode keperawatan primer (Zander,
1988). Pengembangan metode ini didasarkan pada bukti-bukti bahwa manajemen
kasus dapat mengurangi pelayanan yang terpisah-pisahdan duplikasi. Rogers (1991)
menyoroti bahwa dengan pengaplikasian metode manajemen kasus akan berdampak
positif yaitu lama perawatan pasien menjadi lebih pendek.

Metode manajemen kasus keperawatan adalah bentuk pemberian asuhan keperawatan


dan manajemen sumber-sumber terkait yang memungkinkan adanya manajemen yang
straegis dari cozt dan quality oleh seorang perawat untuk suatu episode penyakit
hingga perawatan lanjut. Menurut American Nurses Asociation (1988), manajemen
kasus (case managemen) adalah suatu system pemberian pelayanan kesehatan yang
didesain untuk memfasilitasi pencapaian tujuan pasien yang di harapkan dalam kurun
waktu perawatan di rumah sakit.
Tujuan dari metode manajemen kasus keperawatan dalam memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien adalah untukmermuskan dan mencapai hasil yang standar
dalam perawatan untuk setiap pasien, memfasilitasi pasien yang akan pulang baik
lebih awal dan masa perawatan yang ditentukan maupun pada waktu yang
direncanakan, menggunakan sedikit mungkin sumber pelayanan kesehatan untuk
mencapai hasil yang di harapkan, meningkatkan profesionalisasi perawat dan
kepuasan kerja.

Dalam manajemen kasus keperawatan, seorang perawat akan bertugas sebagai case
manager untuk seorang (mungkin lebih) pasien, sejak masukrumah sakit hingga
pasien tersebut selesai dari masa perawatan dan pengobatan. Sebagai case manager,
perawat memiliki tanggung jawab dan kebebasan untuk perencanaan, pelaksanaan,
koordinasi, dan evaluasi.

Kelebihan Metode Kasus

a) Bersifat kontinue dan konfrehensif 

b) Perawat dalam metode kasus mendapatkan akuntabilitas yang tinggi terhadap


pasien, perawat, dokter, dan rumah sakit ( Gillies,1998). Keuntungan yang
dirasakan adalah pasien merasa dimanusiawikan karena terpenuhinya kebutuhan secar
a individu.Selain itu asuhan diberiakan bermutut tinggi dan tercapai pelayanan yang
efektifterhadap pengobatan, dukungan, proteksi, informasi dan advokasi sehingga
pasienmerasa puas.

c) Dokter juga merasakan kepuasan dengan model primer karena


senantiasamendapatkan informasi tentang kondisi pasien yang selalu diperbaharui
dankomprehensif.

d) Masalah pasien dapat dipahami oleh perawat

.e) Kepuasan tugas secara keseluruhan dapat dicapai

Kekurangan Metode Kasus

a) Kemampuan tenga perawat pelaksana dan siswa perawat yang terbatas


sehingga tidakmampu memberikan asuhan secara menyeluruh.
b) Membutuhkan banyak tenaga.
c) Beban kerja tinggi terutama jika jumlah klien banyak sehingga tugas rutin
yangsederhana terlewatkan.d) Pendelegasian perawatan klien hanya sebagian
selama perawat penaggung jawab klien bertugas

Tugas Perawat Dalam Metode Kasus

1) Menerima pasien dan mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif

2) Membuat tujuan dan rencana keperawatan

3)  Melaksanakan semua rencana yang telah dibuat selama ini

4) Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang diberikan oleh


disiplinlain maupun perawat lain.

5) Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai.

6) Menerima dan menyesuaikan rencana.

7) Menyiapkan penyuluhan pulang.

8) Melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak
dengan lembaga sosial masyarakat.

9) Membuat jadwal perjanjian klinik.

10) Mengadakan kunjungan rumah.

Ketenagaan Metode Kasus

 1)Setiap perawat primer adalah perawat “bed side”

 2) Beban kasus pasien 4-6 orang untuk satu perawat

3) Penugasan ditentukan oleh kepala jaga.

Peran Dari Pembagian Tugas Modifikasi Tim Metode Kasus

 Kepala Perawat

 1. Memimpin rapat

2. Evaluasi kinerja perawat

3. Membuat daftar dinas
4. Menyediakan material

5. Perencanaan, pengawasan, pengarahan

 Perawat primer

  1. Membuat perencanaan asuhan keperawatan

2. Mengadakan tindakan kolaborasi

3. Memimpin timbang terima

4. Mendelegasikan tugas

5. Memimpin ronde keperawatan

6. Evaluasi pemberian asuhan keperawatan

7. Bertanggung jawab terhadap klien

8. Memberi petunjuk jika klien akan pulang

9. Mengisi resume keperawatan

 Perawat Associate

 1. Memberikan asuhan keperawatan

2. Mengikuti timbang terima

3. Melaksanakan tugas yang didelegasikan·

4. Mendokumentasikan tindakan· 

5.Melaporkan asuhan keperawatan yang dilaksanakan