Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gigi Tiruan Sebagian Lepasan


1. Definisi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan
GTSL adalah suatu protesa yang menggantikan satu atau lebih gigi yang
hilang tetapi tidak semua gigi yang dapat dipasang dan dilepaskan oleh
pemakainya tanpa bantuan dokter gigi (Gunadi, 1991:14).
GTSL dapat didefinisikan sebagai alat untuk mengganti gigi dan jaringan
pendukung yang telah hilang dengan menggunakan piranti tiruan yang di desain
dapat dilepas pasang sendiri oleh penggunanya (Dangkeng Zulkarnain, 2016:1).
GTSL merupakan alternatif perawatan prostodontik yang tersedia dengan biaya
yang lebih terjangkau untuk sebagian besar pasien dengan kehilangan gigi
(Wahjuni Sri, 2017:76-77).

2. Fungsi Gigi Tiruan Sebagian Lepasan


GTSL memiliki fungsi sebagai berikut :
a. Pemulihan fungsi estetik
Alasan utama seorang pasien mencari perawatan prostodontik biasanya
karena masalah estetik, baik yang disebabkan hilangnya gigi geligi, perubahan
bentuk wajah, susunan, warna maupun berjejalnya gigi geligi (Siagian Krista,
2016:5).
b. Peningkatan fungsi bicara
Alat bicara yang tidak lengkap dan kurang sempurna dapat mempengaruhi
suara penderita seperti pasien yang kehilangan gigi depan. Kesulitan bicara dapat
timbul meskipun hanya bersifat sementara. Gigi tiruan dapat meningkatkan dan
memulihkan kemampuan bicara, artinya pasien mampu kembali mengucapkan
kata-kata dengan jelas (Siagian Krista, 2016:5).

4
5

c. Perbaikan dan peningkatan fungsi pengunyahan


Pola kunyah penderita yang sudah kehilangan sebagian gigi biasanya
mengalami perubahan. Kehilangan beberapa gigi di kedua rahang pada sisi yang
sama, maka pengunyahan akan dilakukan semaksimal mungkin oleh gigi asli pada
sisi lainnya, sehingga tekanan kunyah akan dipikul oleh satu sisi atau sebagian
saja. Setelah pasien memakai protesa, terjadi perbaikan karena tekanan kunyah
dapat disalurkan lebih merata keseluruh bagian jaringan pendukung (Siagian
Krista, 2016:5).
d. Mempertahankan jaringan mulut
Pasien yang menggunakan gigi tiruan dapat mencerna makanan dengan
baik, menjaga gigi yang masih ada dan mencegah resorpsi tulang alveolar
(Siagian Krista, 2016:5).
e. Pencegahan migrasi gigi
Bila sebuah gigi dicabut atau hilang, gigi tetangganya dapat bergerak
memasuki ruangan yang kosong. Migrasi ini menyebabkan renggangnya gigi-gigi
sehingga menimbulkan plak pada interdental dan menyebabkan peradangan
periodontal. Bila pasien menggunakan gigi tiruan, migrasi dan overeruption gigi
antagonis akan dapat diatasi (Siagian Krista, 2016:6).

3. Macam-Macam Gigi Tiruan Sebagian Lepasan


Terdapat tiga jenis gigi tiruan sebagian lepasan yang dibedakan menurut
bahan basis gigi tiruannya, yaitu :
a. Gigi tiruan sebagian lepasan kerangka logam
Kobalt kromium merupakan bahan untuk pembuatan gigi tiruan berbasis
logam. Basis gigi tiruan logam ini diperkenalkan oleh E. Haynes pada tahun 1907,
tetapi baru populer setelah tahun 1937 karena cukup tipis, harga cukup murah,
tahan terhadap noda atau korosi, dan memiliki modulus elastisitas yang tinggi.
Kekurangan GTSL kerangka logam adalah tidak bisa digunakan pada
pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap nikel dan kesulitan dalam
penyesuaian (Dangkeng Zulkarnain, 2016:10-1).
6

b. Gigi tiruan sebagian lepasan akrilik


Polymethyl methacrylate (PMMA) atau yang biasa disebut akrilik
merupakan bahan pembuat basis gigi tiruan lepasan yang paling banyak
digunakan saat ini. PMMA diperkenalkan oleh Rohm & Hass pada tahun 1936
dalam bentuk sediaan lembaran dan Nemours pada tahun 1937 dalam bentuk
sediaan bubuk.
Pada tahun 1937 Dr. Walter Wright memperkenalkan PMMA sebagai
bahan pembuatan basis gigi tiruan dan menjadi polimer yang paling banyak
digunakan 10 tahun kemudian. Bahan ini dibagi menjadi 2 tipe berdasarkan cara
aktivasinya yaitu Heat-activited PMMA atau akrilik heat curing dan Chemical
activated PMMA atau akrilik self curing (Dangkeng Zulkarnain, 2016:10-11).
c. Gigi tiruan sebagian lepasan flexi
Gigi tiruan sebagian lepasan flexi merupakan gigi tiruan dengan basis yang
biokompatibel. Bahan ini memiliki sifat fisik bebas monomer sehingga tidak
menimbulkan reaksi alergi dan tidak ada unsur logam yang dapat mempengaruhi
estetika (Soesetijo Ady, 2016:59).

B. Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Flexi


Gigi tiruan sebagian lepasan flexi merupakan basis gigi tiruan yang terbuat
dari bahan thermoplastic, cengkram menyatu dengan basis gigi tiruan serta warna
yang menyerupai jaringan mulut (Gilang, 2010:88). Gigi tiruan sebagian lepasan
flexi memiliki derajat fleksibelitas yang sangat baik, dapat dibuat lebih tipis sesuai
rekomendasi, ringan dan tidak mudah patah. Desain gigi tiruan ini sangat simpel
tanpa menggunakan cengkram kawat atau logam sebagai retensinya (Soesetijo
Ady, 2016:59).
Retainer diperoleh dari perluasan basis nilon termoplastik kearah gigi
penyangga berupa resin clasp, sehingga secara estetika menyenangkan bagi
pasien. Retensi GTSL flexi juga diperoleh dari perluasan basis pada daerah
undercut gigi penyangga atau memanfaatkan undercut pada alveolar ridge
(Soesetijo Ady, 2016:59-60).
7

1. Indikasi Dan Kontra Indikasi GTSL Flexi


GTSL flexi relatif lebih murah dibandingkan GTSL kerangka logam,
restorasi cekat dan implant, sehingga secara ekonomis lebih efisien. Nilai estetik
baik, ringan dan nyaman dipakai, sehingga merupakan pilihan ideal sebagai basis
protesa. Pada pasien yang memiliki sensitivitas terhadap bahan akrilik dan logam,
maka GTSL flexi merupakan alternatif yang tepat. Pada kasus mahkota klinis
yang tinggi, ada undercut, dan eksostosis ekstrim atau pertumbuhan tulang jinak
yang menyulitkan insersi akrilik atau logam, maka gigi tiruan flexi menjadi
pilihan yang sesuai (Soesetijo Ady, 2016:60).
Kontra indikasi dari GTSL flexi adalah pada pasien yang tidak kooperatif
dan memiliki oral hygiene (OH) yang buruk. Pada kasus dimana gigi asli yang
tersisa memiliki mahkota klinis pendek, jarak antara oklusal kurang dari 4mm,
deep bite lebih dari 4mm, dan kasus berujung bebas yang disertai penyusutan
ridge serta bentuk ridge yang tajam juga merupakan kontra indikasi (Soesetijo
Ady, 2016:61).

2. Komponen GTSL Flexi


Komponen GTSL flexi adalah sebagai berikut :
a. Basis gigi tiruan
Basis atau plat protesa adalah salah satu komponen dari gigi tiruan
sebagian lepasan yang menutupi mukosa mulut di daerah palatum, labial, bukal
dan lingual. Plat dasar gigi tiruan merupakan bagian dari gigi tiruan yang
berkontak dengan mukosa mulut, tepat menempel dan mendukung anasir gigi
tiruan, menyalurkan tekanan oklusal ke jaringan pendukung yang memberi retensi
dan stabilisasi pada gigi tiruan (Sari Mesyia, 2014:4).
Basis gigi tiruan flexi adalah basis gigi tiruan yang bebas monomer,
bersifat hypoallergenic atau tidak menyebabkan alergi sehingga menjadi alternatif
bagi pasien yang sensitif terhadap resin akrilik konvensional, nikel atau kobalt
(Said Siska, 2015:23).
b. Elemen gigi tiruan
Elemen gigi tiruan merupakan bagian gigi tiruan sebagian lepasan yang
berfungsi menggantikan gigi asli yang hilang. Elemen gigi tiruan memerlukan
8

retensi mekanik untuk dapat menyatu dengan plat flexible denture. Secara
laboratories diperlukan pengeburan pada elemen gigi tiruan berupa retentive hole,
yaitu lubang-lubang retensi pada bagian lingual/palatal (Soesetijo Ady, 2016:62).
c. Cengkram
Macam-macam jenis cengkram pada flexi denture:
1) Clasp standar atau clasp utama
Desain clasp ini dibuat besar dan tebal, penempatan cengkram sangat
penting untuk menambah retensi dan stabilisasi serta tidak perlu menutup seluruh
permukaan gigi pejangkaran (Kaplan, 2008:5).

Gambar 2.1 Cengkram Bulky


(Sumber : Kaplan, 2008:5)

2) Clasp circumferential
Clasp Circumferential mengelilingi gigi yang berdiri sendiri.

Gambar 2.2 Clasp Circumferential


(Sumber : Kaplan, 2008:5)
9

3) Clasp continuous circumferential


Clasp Circumferential melibatkan semua permukaan gigi yang masih ada
pada gigi abutment molar.

Gambar 2.3 Clasp Continuous Circumferential


(Sumber : Kaplan, 2008:5)

4) Clasp kombinasi
Clasp ini merupakan kombinasi dari clasp circumferential dan clasp
conventional. Komponennya adalah rest-seat yang memberikan stabilitas dan
kekuatan pada gigi tiruan sebagian lepasan fleksibel dengan menghubungkan
komponen palatal (lingual) ke buccal.

Gambar 2.4 Clasp kombinasi


(Sumber : Kaplan, 2008:6)
10

3. Jenis Bahan Gigi Tiruan Flexi


Jenis-jenis bahan gigi tiruan flexi adalah sebagai berikut :
a. Nilon termoplastik
Nilon termoplastik diperkenalkan oleh Arpas F. Nagy dan Tibor F. Nagy
pada tahun 1950-an. Sejak saat itu masyarakat tertarik pada bahan-bahan gigi
termoplastik yang terbuat dari bahan nilon yang tersedia dalam varian warna pink
dan bening (Septiawan Dodi, 2018:17).
Nilon thermoplastik disuntikkan kedalam mould space pada suhu 274 -
293º C. Adanya bahan nilon untuk pembuatan gigi tiruan flexi dapat menjadi
alternatif selain gigi tiruan logam maupun akrilik (Nandal S, 2013:140).
Nilon termoplastik adalah poliamida, merupakan polimer yang terdiri dari
monomer amida yang tergabung dalam ikatan peptida. Poliamida dapat terbentuk
secara alami ataupun sintetis. Poliamida sintetis dapat dibuat melalui polimerisasi
atau fasa padat yang menghasilkan bahan nilon. Umumnya digunakan pada
tekstil, otomotif, karpet dan pakaian olah raga karena daya tahan yang tinggi
(Nandal S, 2013:140).
b. Asetal termoplastik
Asetal termoplastik memiliki karakter yang sangat kuat, tahan aus dan
patah serta cukup flexible sehingga ideal digunakan sebagai cengkram pada gigi
tiruan sebagian lepasan (Nandal S, 2013:141).
c. Polikarbonat termoplastik
Polikarbonat sangat kuat, tahan patah dan cukup flexible, memiliki sifat
tembus pandang yang alami serta menghasilkan estetika yang sangat baik.
Polikarbonat tidak cocok digunakan untuk gigi tiruan lengkap lepasan atau
sebagian lepasan tetapi ideal untuk mahkota dan jembatan sementara (Nandal S,
2013:141).
d. Termoplastik akrilik
Termoplastik akrilik atau sering disebut thermosens adalah campuran
khusus dari polimer yang merupakan tingkatan tertinggi dari resin akrilik dan
tidak retak bila jatuh sehingga sangat populer untuk perawatan bruxism.
Termoplastik akrilik tersedia dalam warna gigi dan gingival, tembus cahaya dan
memberikan estetika yang sangat baik (Nandal S, 2013:141).
11

C. Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Flexi dengan Bahan Thermosen


Thermosens adalah bahan baru untuk pembuatan gigi tiruan yang memiliki
fleksibelitas yang dapat dikontrol dan mengalami shringkage yang sangat kecil di
bandingkan akrilik. Bahan akrilik mengalami shrinkage sebesar 8%, sedangkan
Thermosens hanya mengalami shrinkage kurang dari 1%.
Thermosens merupakan bahan jenis polyamide yang lebih unggul,
memiliki tingkat kekuatan dan kenyamanan yang baik, tingkat biokompatibel baik
karena tidak menggunakan cairan kimia saat pembuatan hingga proses finishing.
Thermosens merupakan bahan basis yang memiliki struktur kimia dasar berupa
polyamide. Polyamid diproduksi melalui reaksi kondensasi antara diamine NH2-
(CH2)6-NH2 dan asam adipat CO2H-(CH2)4-COOH. Thermosens mempunyai
kepadatan yang tinggi dan cairan tidak dapat berpenetrasi sehingga meminimalkan
perubahan warna yang sering terjadi pada gigi tiruan akrilik (Dangkeng
Zulkarnain, 2016:18-19).

1. Desain
Desain gigi tiruan ini sangat simpel tanpa menggunakan retainer berupa
cengkram kawat atau logam sebagai retensinya. Retainernya adalah perluasan
basis ke arah gigi penyangga berupa resin clasp sehingga secara estetika
menyenangkan bagi pasien (Soesetijo Ady, 2016:60).
Dalam pembuatan desain perlu memperhatikan empat tahap yaitu
menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi (saddle), menentukan
macam dukungan dari setiap saddle, menentukan macam penahan, dan konektor
(Gunadi, 1995:309).

2. Retensi dan Stabilisasi


Retensi diperoleh dari perluasan basis kearah gigi penyangga sebagai
cengkram atau resin clasp. Retensi merupakan kemampuan gigi tiruan melawan
gaya-gaya pemindah yang cenderung memindahkan protesa kearah oklusal.
Stabilisasi gigi tiruan flexi diperoleh dari sifat bahan yang fleksibel sehingga
mudah menyesuaikan pada permukaan mukosa. Stabilisasi merupakan gaya untuk
melawan pergerakan gigi tiruan kearah horizontal. (Soesetijo Ady, 2016:61).
12

3. Kelebihan dan Kekurangan


Kelebihan bahan thermosens adalah sebagai berikut:
a. Memiliki estetik dan kenyamanan yang baik.
Tingkat estetik dan kenyamanan bahan thermosens lebih baik
dibandingkan dengan bahan basis gigi tiruan lainnya. Thermosens dapat dibuat
lebih tipis, pas dan nyaman digunakan oleh pasien (Dangkeng Zulkarnain,
2016:19). Kelebihan ini dapat dibuktikan dengan hasil penelitian pembuatan snap-
on smile menggunakan bahan thermosens. Snap-on smile adalah sebuah restorasi
gigi tanpa mengubah bentuk gigi atau bisa disebut tanpa preparasi gigi asli. Snap-
on smile dibuat sangat tipis dan sangat kuat (Wulandari Gading, 2018:5).
b. Memiliki kekuatan yang lebih dari bahan akrilik.
Basis thermoplastik akan meredam benturan yang terjadi untuk
menghindari patahnya basis gigi tiruan. Kekuatan thermoplastik lebih baik
dibandingkan akrilik juga dapat dibuktikan dari laporan kasus seorang pasien
wanita berusia 73 tahun yang mengalami keluhan utama kesulitan dalam
pengunyahan karena gigi tiruannya fraktur. Dokter menyarankan untuk
melakukan pembuatan gigi tiruan dengan bahan thermosens. Setelah perawatan
selesai dan pasien rutin melakukan pemeriksaan berkala selama 1 bulan, 3 bulan,
dan 6 bulan, tidak terjadi fraktur pada gigi tiruan thermosens yang telah digunakan
(Sumarsongko dan Sari, 2018:8-11).
c. Sistem pewarnaan yang lebih baik.
Pencampuran warna pada thermosens dilakukan pada setiap beads (biji
thermosens) sehingga distribusi warna lebih merata dan konsisten serta mencegah
kekeliruan pewarnaan (Dangkeng Zulkarnain, 2016:19).
d. Biokompatibel.
Selama penggunaan thermosens hingga proses finishing tidak ada cairan
kimia yang ditambahkan ataupun di gunakan, sehingga dapat menjadi alternatif
bagi pasien yang alergi terhadap cairan kimia ataupun resin akrilik. Thermosens
bebas monomer dan sangat cocok untuk pasien yang tidak mau atau tidak dapat
menerima gigi palsu yang terbuat dari bahan yang dapat menyebabkan reaksi
alergi atau masalah sensitivitas lainnya (Dangkeng Zulkarnain 2016:19).
13

e. Volume shrinkage yang rendah.


Tidak seperti gigi tiruan berbahan akrilik yang mengalami shrinkage
sebesar 8%, thermosens hanya mengalami shrinkage sebesar <1%. Gigi tiruan
akan memiliki tingkat presisi yang sangat baik dalam mulut.
f. Non-absorbable.
Bahan thermosens mempunyai tingkat kepadatan yang tinggi sehingga
cairan dan partikel sisa makanan tidak dapat berpenetrasi ke dalam bahan ini. Hal
ini akan meminimalkan perubahan warna, bahkan pada pasien yang memiliki
kebiasaan minum kopi, perokok atau penikmat minuman asam.

Kekurangan dari bahan thermosens adalah:


a. Gigi artificial akrilik melekat secara mekanis sehingga ada
kemungkinan akan lepas dari basis gigi tiruan.
b. Gigi tiruan flexible akan gagal digunakan jika tidak diinsersi secara
adekuat. Teknik insersi dan penyesuaian bahan thermosens berbeda
dengan bahan pada umumnya sehingga dibutuhkan pengetahuan
tambahan.
c. Dibutuhkan alat yang berbeda dalam pembuatan gigi tiruan flexible
sehingga biayanya relatif lebih besar.
d. Gigi tiruan flexi tidak dapat memberikan sensasi panas dan dingin
(Dangkeng Zulkarnain, 2016:19-20).

4. Prosedur Pembuatan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan Thermosens


Prosedur dalam pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan thermosens adalah
sebagai berikut :
a. Persiapan model kerja
Model kerja dibersihkan dari nodul dan sisa bahan cetak untuk
memperlancar proses pembuatan gigi tiruan.
b. Pemasangan model pada artikulator
Rahang atas dan rahang bawah dipasang pada artikulator yang mewakili
sendi rahang dan bagian-bagiannya (Gunadi, 1995:273)
c. Survey
14

Survey merupakan prosedur penentuan letak undercut dan garis luar


(outline) dari kontur terbesar gigi dan jaringan sekitarnya pada model kerja.
Tujuannya untuk menunjukkan daerah undercut yang menguntungkan dan tidak
menguntungkan, serta membantu menentukan desain gigi tiruan (Septian Dodi,
2018:19).
d. Block out
Block out adalah proses penutupan undercut yang tidak menguntungkan
menggunakan gips agar tidak menghalangi pemasangan serta pelepasan gigi tiruan
saat digunakan pasien.
e. Desain
Proses menentukan bentuk basis gigi tiruan dan cengkram berupa gambar
pada model kerja. Dalam pembuatan desain perlu memperhatikan empat tahap
yaitu menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi (saddle),
menentukan macam dukungan dari setiap sadel, menentukan macam penahan, dan
konektor (Gunadi, 1995:309).

f. Penyusunan elemen gigi


Penyusunan elemen gigi adalah proses yang paling penting untuk
menentukan faktor estetik. Elemen gigi tiruan dipasang dengan cara memberi
lubang pada bagian mesial, distal dan dasar sebagai retensi mekanik yang
berdiameter 0,9-1,3 mm berbentuk seperti koneksi T (Singh dan Gupta,
2012:304).

Gambar 2.5 Pemberian retensi pada gigi


(Sumber: Singh dan Gupta, 2012:304 )
15

g. Flasking
Flasking adalah proses penanaman model pola malam dan elemen gigi
tiruan pada kuvet untuk mendapatkan mould space. Flasking menggunakan
metode pulling the cast (Singh dan Gupta, 2012:304).

h. Pemasangan sprue
Pemasangan sprue dilakukan sebelum bahan tanam pada kuvet atas diisi
untuk mengalirkan bahan thermosens ke dalam mould space pada cuvet. Sprue
menggunakan diameter 6-8 mm (Alkhinani Ghazwan, 2014:29).

i. Boiling out
Boiling out adalah proses pembuangan pola malam dengan cara
memasukkan kuvet kedalam panci yang berisi air mendidih 70ºC selama 3-5
menit. Setelah wax bersih olesi mould space dengan separator ThermoFlow
(Singh dan Gupta, 2012:304).

j. Injection
Injection merupakan proses memasukkan bahan thermosens cair kedalam
mould space. Caranya cairkan beads atau biji thermosens pada catridge terlebih
dahulu dengan menghidupkan mesin catridge furnace, masukkan catridge ke
dalam mesin catridge furnace dengan suhu 290ºC selama 18 menit. Tunggu
hingga thermosens mencair, letakkan cuvet ke dalam mesin injection system,
setelah siap bahan thermosens diinjeksikan dengan tekanan 6,5 bar. Kemudian
tunggu selama 1 menit, keluarkan kuvet dari mesin injection system dan biarkan
dingin (Singh dan Gupta, 2012:304).

Gambar 2.6 Injection


(Sumber: Singh dan Gupta, 2012:304)
16

k. Deflasking
Deflasking adalah proses melepaskan gigi tiruan 15-20 menit setelah
proses injection (Singh dan Gupta, 2012:304).

l. Pemotongan sprue
Setelah protesa lepas dari bahan tanam, potong saluran injeksi dengan
diamond disc (Singh dan Gupta, 2012:304).

m. Finishing
Finishing adalah proses menghaluskan gigi tiruan yang telah dilepaskan
dari kuvet setelah dilakukan pemotongan sprue. Finishing dilakukan
menggunakan Thermo Silicon Polisher (Singh dan Gupta, 2012:304).

n. Polishing
Polishing adalah proses mengkilapkan gigi tiruan dan siap dipasangkan
pada pasien. Proses polishing menggunakan thermogloss dan sikat pemoles serat
mikro (Singh dan Gupta, 2012:304).

D. Ruang Gigitan Yang Sempit


Hubungan rahang atas dan rahang bawah merupakan hal yang sangat
penting dalam pembuatan gigi tiruan. Free way space atau jarak interoklusal
adalah jarak diantara permukaan oklusal gigi-gigi rahang atas dan bawah ketika
mandibula dalam keadaan posisi istirahat (Karolina Yunita;dkk,2014:229).
Idealnya jarak interoklusal pada posisi istirahat sekitar 2-4mm (Amiruddin
Maqhfirah; dkk,2019:28).
Kehilangan gigi menyebabkan migrasi dan rotasi gigi. Hilangnya
kesinambungan lengkung gigi dapat menyebabkan pergeseran, miring atau
berputarnya gigi. Gigi tidak menempati posisi yang normal untuk menerima
beban pada saat pengunyahan dan mengakibatkan kerusakan struktur periodontal
(Siagian Krista,2016:3).
Pergerakan vertikal gigi ada dua jenis yaitu pergerakan intrusi dan
ekstrusi. Intrusi merupakan pergerakan gigi ke dalam alveolus. Ekstrusi
17

merupakan pergerakan gigi yang keluar dari alveolus dimana akar mengikuti
mahkota (Sya’bani Dini,2018:8-9).
Bila gigi sudah tidak memiliki antagonis, maka akan terjadi erupsi berlebih
(overeruption). Erupsi berlebih dapat terjadi tanpa atau disertai pertumbuhan
tulang alveolar. Bila erupsi berlebih terjadi disertai pertumbuhan tuang alveolar
berlebih, maka akan menimbulkan kesulitan jika suatu saat penderita ingin
dibuatkan gigi tiruan. Bila erupsi berlebih terjadi tanpa perubahan tulang alveolar,
maka struktur periodontal akan mengalami kemunduran sehingga gigi mulai
ekstrusi (Siagian Krista,2016:3).
Penyebab paling umum pada kasus ekstrusi gigi posterior rahang atas
adalah hilangnya gigi antagonis dalam jangka waktu yang lama, sehingga ruang
tak bergigi mengecil dan dipenuhi oleh gigi antagonis yang menyebabkan ruang
gigitan menjadi sempit (Suminy Dewi : 3).

Gambar 2.7 Pergerakan vertikal ekstrusi


(Sumber: Sya’bani Dini,2018:9)

Gambar 2.8 Pergerakan ekstrusi pada gigi posterior


(Sumber: Sya’bani Dini,2018:9)