Anda di halaman 1dari 25

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Sistem pembangkitan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

Pusat listrik tenaga air merupakan salah satu jenis pembangkit yang prinsip kerjanya
mengubah energi potensial air menjadi energi kinetik kemudian menjadi energy mekanik
yang ditransmisikan ke generator untuk dikonversikan menjadi listrik. Daya hidrolik yang
dihasilkan air melalui turbin adalah daya input, sedangkan daya listrik merupakan daya
outputnya.

Sistem operasi PLTA saguling yang dimulai dari pembedungan aliran sungai citarum dan
banyak anak sungai nya memiliki debit air yang cukup besar. Air tersebut ditampung
pada sebuah waduk, agar air dalam waduk tersebut dapat dimaksimalkan pemanfaatannya
maka aliran air dikontrol melalui pusat pengendali bendungan (dam control center)
sebelum masuk menuju pintu penyaluran air (intake) yang selanjutnya masuk kedalam
terowongan tekan (headrace tunnel). Langkah selanjutnya air masuk melewati tangki
mendatar (surge tank) yang berfungsi untuk mengamankan pipa pesat apabila terjadi
tekanan kejut (water hammer) dimana katup utama menutup dengan cepat kemudian
masuk ke pipa pesat (penstock). Ketika katup utama (main valve) dibuka aliran air
memasuki rumah keong (spiral case) yang mengarahkan air agar memutar turbin, turbin
dikopel dengan generator sehingga putaran turbin sama dengan putaran generator,
disinilah terjadi pembangkitan energi listrik.

Setelah melewati turbin maka air mengalir melalui saluran keluar (tail race), listrik yang
dihasilkan oleh turbin yang dikopel dengan generator sebesar 16,5 Kv yang mana
dinaikkan oleh trafo menjadi 500 Kv, kemudian masuk ke jaringan interkoneksi Jawa –
Bali. Kemudian melalui gardu induk (GI) energi listrik disalurkan kekonsumen setelah
tegangannya diturunkan menjadi 220/380 V. Pembangkit listrik tenaga air berguna sekali
untuk membantu beban puncak (peak load) karena pembangkit jenis ini memiliki biaya
operasional yang terbilang sangat murah walaupun biaya pembangunannya mahal dan
memerlukan waktu yang lama.
Meskipun demikian pembangkit ini sangat tergantung pada faktor cuaca, contohnya saja
pada saat musim hujan berlangsung produktifitas pembangkit ini sangatlah reliable
sehingga dapat digunakan untuk mem back up pembangkit-pembangkit lain yang biaya
operasionalnya mahal. Tetapi sebaliknya pada saat musim kemarau produktifitas
pembangkit ini biasanya menurun cukup drastic. Pada intinya PLTA sangatlah
bergantung pada debit air yang ada, selain ekonomis pada biaya operasional, PLTA
memiliki keuntungan dari segi teknis yaitu sistem operasi dan perawatannya
(maintenance) tidak terlalu komplek disbanding pembangkit jenis lain.

Generator-generator dengan daya diatas 100 MVA mempunyai transformator penaik


tegangan yang merupakan satu kesatuan dengan generator. Transformator penaik
tegangan umumnya mempunyai hubungan Δ - Y. energi yang dibangkitkan generator
setelah tegangannya dinaikkan oleh transformator disalurkan melalui pemutus tenaga
(CB) ke rel (busbar), penyaluran daya dari generator sampai ke transformator penaik
tegangan dilakukan menggunakan kabel yang diletakkan pada saluran bawah tanah dan
saluran diatas tanah (cable duct) setelah keluar dari sisi tegangan tinggi transformator,
energi disalurkan melalui konduktor tanpa isolasi ke CB (circuit breaker) dan dari CB
(circuit breaker) ke rel juga melalui konduktor tanpa isolasi.

Saluran tenaga listrik dari generator sampai dengan Rel harus rapih dan bersih agar tidak
menimbulkan gangguan, gangguan dibagian ini akan menimbulkan arus hubung singkat
yang relative besar dan mempunyai resiko terganggunyapasokan tenaga listrik dari pusat
listrik ke sistem. Bahkan apabila generator yang digunakan dalam system berukuran besar
maka ada kemungkinan seluruh sistem menjadi terganggu.
Bagian lain dari instalasi listrik generator adalah instalasi arus (medan) penguat. Arus
penguat didapat dari generator arus searah yang umumnya terletak saru poros utama
hubungan listrik antara generator utama dengan generator arus penguat dilakukan melalui
cincin geser dan pengaturan tegangan otomatis pengatur berfungsi mengatur besarnya
arus medan magnet agar tegangan generator utama besarnya konstan. Pada Generator
yang besar diatas 100 MVA seringkali digunakan generator penguat secara bertingkat,
ada generator penguat bantu (pilot exciter) dan generator penguat utama (main exciter).
Generator penguat utama cenderung berkembang menjadi generator arus bolak-balik,
yang dihubungkan ke generator sinkron melalui penyearah yang berputar diporos
generator sehingga tidak perlukan cincin geser.

13
2.2 Generator
2.2.1 Konsep Dasar Generator
Sebagian besar energy listrik yang dipergunakan oleh konsumen untuk kebutuhan
sehari-hari dihasilkan oleh generator sinkron phasa banyak (polyphase) yang ada dipusat
pembangkit tenaga listrik. Generator sinkron yang dipergunakan ini mempunyai rating
daya dari ratusan sampai ribuan Mega Volt Ampere (MVA). Generator arus bolak balik
yang kadang-kadang disebut dengan generator sinkron atau alternator adalah sebuah
peralatan listrik yang berfungsi untuk mengubah energy gerak (mekanis) menjadi energy
listrik AC dimana kecepatan putaran medan dan kecepatan putaran rotornya sama atau
tidak ada slip. Kumparan medan pada generator sinkron terletak pada rotornya sedangkan
kumparan jangkarnya terletak pada stator.

Prinsip pembangkitan tegangan pada generator adalah sepotong penghantar yang


dialiri arus dan bergerak dengan kecepatan v didalam pengaruh medan magnet, akan
menimbulkan tegangan induksi sebesar V. untuk menentukan besarnya tegangan induksi
yang ditimbulkan oleh arah gerakan penghantar tersebut digunakan kaidah flaming
tangan kanan. Medan magnet mempunyai arah dari kutub utara ke kutub selatan. Arus
didalam oenghantar searah dengan empat jari, sedangkan arah gerakan searah dengan ibu
jari, seperti ditunjukan pada gambar berikut.

Gambar 2.1 Kaidah Flamming Tangan Kanan

Generator sinkron disebut juga mesin sinkron, karena bekerja pada kecepatan dan
frekuensi konstan dibawah kondisi “steady state”. Mesin sinkron bias dioperasikan baik
sebagai generator maupun motor. Mesin sinkron bila difungsikan sebagai motor berputar

14
dalam kecepatan konstan. Apabila dikehendaki kecepatan yang bersifat variable, maka
motor sinkron dilengkapi dengan pengubah frekuensi seperti inverter atau cyclo
converter.

2.2.2 Fungsi dan Prinsip Kerja Bagian Utama Generator


Generator adalah mesin pembangkit listrik yang prinsipnya merubah energi
mekanik menjadi energi listrik. Pada generator sinkron, arus DC diterapkan pada lilitan
rotor untuk menghasilkan medan magnet rotor. Rotor generator diputar oleh prime mover
menghasilkan medan magnet berputar pada mesin. Medan magnet putar ini menginduksi
tegangan tiga fasa pada kumparan stator generator.

Gambar 2.2 Penampang Generator

Dalam konstruksi generator sinkron arus bolak-balik terdiri dari dua bagian utama, yaitu:
(1) stator, yakni bagian diam yang mengeluarkan tegangan bolak-balik, dan (2) rotor
yakni bagian bergerak yang menghasilkan medan magnet yang menginduksikan ke stator.
Stator terdiri dari badan generator yang terbuat dari baja yang berfungsi melindungi
bagian dalam generator, kotak terminal dan name plate pada generator. Inti stator yang
terbuat dari bahan ferromagnetic yang berlapis-lapis dan terdapat alur-alur tempat
meletakan lilitan stator. Lilitan stator yang merupakan tempat untuk menghasilkan

15
tegangan. Sedangkan rotor berbentuk kutub sepatu (salient) atau kutub dengan celah
udara sama rata (rotor silinder). Konstruksi dari generator sinkron ini dapat dilihat pada
gambar 3.3.

Gambar 2.3 Konstruksi Generator Arus Bolak-balik

a) Stator
Stator pada altenator merupakan gulungan kawat penghantar yang disusun sedemikian
rupa dan ditempatkan pada alur-alur inti besi. Pada penghantar tersebut adalah tempat
terbentuknya GGL induksi yang diakibatkan dari medan magnet putar dari rotor yang
memotong kumparan penghantar stator. Kumparan yang ditempatkan pada alur-alur
tersebut dibagi menjadi 3 grup, sehingga menjadi keluaran 3 phasa, dan biasanya
disambung sistem bintang (Y). inti besi stator terdiri dari laminasi-laminasi plat besi yang
satu dan lainnya terisolasi dengan vernis atau kertas isolasi (implagnated paper).

Tujuan dari laminasi-laminasi tersebut adalah mengurangi besarnya arus eddy (Eddy
Current), karena arus pusar ini dapat menimbulkan panas pada inti stator dan akhirnya
dapat merusak isolasi kumparan penghantar. Kumparan penghantar yang bertegangan
tersebut harus terisolasi dengan baik, bahan isolasi tersebut biasanya dari fiber glass atau
pita mica.

b) Rotor
Rotor pada generator merupakan bagian untuk menempatkan kumparan medan magnet
eksitasi. Kumparan medan magnet disusun pada alur-alur inti besi rotor, sehingga apabila
pada kumparan tersebut dialirkan arus searah (DC) maka akan membentuk kutub-kutub
magnet utara dan selatan. Mesinmesin pembangkit listrik yang biasa untuk putaran tinggi

16
seperti pembangkit termal, kutub magnetnya berbentuk silindris adapun jumlah kutub
magnetnya untuk mesin dengan putaran tinggi biasanya sebanyak 2 buah kutub magnet
atau 4 buah kutub magnet.

c) PMG (Permanent Magnetic Generator)


Permanent magnet generator merupakan generator sinkron yang menggunakan magnet
permanent dirotornya. PMG ini berfungsi sebagai penyuplai arus eksitasi ke exciter
stator. Pada awal generator berputar tegangan GGL akan dibangkitkan di PMG stator.
Tegangan 3 fasa pada PMG stator tersebut akan dihubungkan ke AVR. AVR akan
berfungsi sebagai rectifier yang menyearahkan arus AC dari PMG menjadi arus DC.
Setelah itu perangkat elektronika daya pada AVR akan mengatur tegangan eksitasi ke
exciter stator. Sama seperti pada umumnya, pada PMG juga terdapat rotor dan stator.
Rotor (bagian yang berputar) menggunakan magnet permanent, dan stator merupakan
kumparan jangkar. Stator merupakan bagian dari PMG yang
tidak bergerak dan berfungsi membangkitkan tegangan AC dan teganga tersebut diapakai
untuk beban, Pada PMG akan dibangkitkan tegangan 3 fasa.

Gambar 2.4 Permanent Magnet Generator

Magnet permanent adalah megnet yang diletakan pada inti rotor PMG. Rotor PMG yang
terdapat magnet permanent diletakkan seporos dengan exciter rotor dan main rotor.
Magnet permanent pada PMG umumnya menggunakan bahan ferromagnetic seperti
alnico dan ferrites.

d) AVR (Automatic Voltage Regulator)


AVR (Automatic Voltage Regulator) adalah suatu perangkat yang dipasang pada
generator yang dapat bekerja secara otomatis mengatur tegangan atau amplitude

17
gelombang yang dihasilkan agar generator tetap stabil. AVR bekerja dalam mengatur
tegangan keluaran generator dengan cara mengontrol arus penguatan dari generator
tersebut.

Unit AVR (Automatic Voltage Regulator) berfungsi untuk menjaga agar tegangan
generator tetap konstan dengan kata lain generator akan tetap mengeluarkan tegangan
yang selalu stabil tidak terpengaruh pada perubahan beban yang selalu berubah-ubah
dikarenakan beban sangat mempengaruhi tegangan output generator. Prinsip kerja dari
AVR adalah mengatur arus penguatan (excitacy) pada exciter.

Apabila tegangan output generator dibawah tegangan nominal tegangan generator maka
AVR akan memperbesar arus penguatan (excitacy) pada exciter. Dan juga sebaliknya
apabila tegangan output generator melebihi tegangan nominal generator maka AVR akan
mengurangi arus penguatan (excitacy) pada exciter. Dengan demikian apabila terjadi
perubahan tegangan output generator akan dapat distabilkan. AVR secara otomatis
dikarenakan dilengkapi dengan peralatan seperti alat yang digunakan untuk pembatasan
penguat minimum ataupun maximum yang bekerja secara otomatis. AVR dioperasikan
dengan mendapat satu daya dari permanen magnet generator (PMG) dengan tegangan
110V, 20A, 400Hz. Serta mendapat sensor dari Potential Transformer (PT) dan Current
Transformer (CT). Dibawah ini adalah contoh model sederhana dari AVR, yaitu:

Gambar 2.5 Model AVR Sederhana


e) Transformator Eksitasi
Transformator/trafo adalah peralatan listrik untuk memindahkan atau mengubah tegangan
dan arus listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian lkistrik yang lain
melalui prinsip-prinsip induksi elektromagnetik. Sistem eksitasi dengan penguatan sendiri
membutuhkan trafo eksitasi untuk menurunkan tegangan terminal generator sebelum
disalurkan ke jembatan thristor. Trafo eksitasi ini juga berfungsi sebagai power supply
untuk menambah tegangan penguat ke rotor generator.

18
f) Circuit Breaker
Circuit breaker atau sakelar pemutus tenaga (PMT) adalah suatu peralatan pemutus
rangkaian listrik pada suatu sistem tenaga listrik, yang mampu untuk membuka dan
menutup rangkaian listrik pada semua kondisi, termasuk arus hubung singkat, sesuai
dengan ratingnya. Juga pada kondisi tegangan yang normal ataupun tidak normal.
Jenis-jenis PMT berdasarkan media insulator dan material dielektriknya, adalah terbagi
menjadi empat jenis, yaitu: sakelar PMT minyak, sakelar PMT udara hembus, sakelar
PMT vakum dan sakelar dengan gas SF6.

g) Battery
Battery adalah suatu alat penyimpan energy listrik yang dapat di isi (charger) setelah
energi yang digunakan. Kapasitas atau kemampuan menyimpan energi ditentukan oleh
semua komponen didalam baterai seperti jenis material yang digunakan dan jenisnya
elektrolitnya sehingga dikenal baterai asam dan baterai alkali.

Baterai aki merupakan sumber arus searah yang digunakan dalam suatu pusat pembangkit
listrik. Baterai aki harus selalu diisi melalui penyearah. Gambar 3.6 akan menunjukan
instalasi baterai dan pengisiannya.

Gambar 2.6 Battery Aki

2.3 Sistem Eksitasi

Berdasarkan cara penyaluran arus searah pada rotor generator sinkron, sistem
eksitasi terdiri dari dua jenis yaitu sistem eksitasi dengan menggunakan sikat
(brushless excitation) dan sistem eksitasi tanpa menggunakan sikat (brushless). Ada
dua jenis sistem eksitasi dengan menggunakan sikat yaitu:
1. Sistem eksitasi konvensional (menggunakan generator arus searah).

19
2. Sistem eksitasi statis.
Sedangkan sistem eksitasi tanpa menggunakan sikat terdiri dari:
1. Sistem eksitasi dengan menggunakan baterai.
2. Sistem eksitasi dengan menggunakan Permanen Magnet Generator (PMG).

2.3.1 Sistem Eksitasi Konvensional (Menggunakan Generator Arus Searah)

Untuk sistem eksitasi yang konvensional, arus searah diperoleh dari sebuah
generator arus searah berkapasitas kecil yang disebut eksiter. Generator sinkron dan
generator arus serah tersebut terkopel dalam satu poros, sehingga putaran generator arus
searah sama dengan putaran generator sinkron.

Tegangan yang dihasilkan oleh generator arus searah ini diberikan kebelitan rotor
generator sinkron melalui sikat karbon dan slip ring. Akibatnya arus searah mengalir ke
dalam rotor atau kumparan medan dan menimbulkan medan magnet yang diperlukan
untuk dapat menghasilkan tegangan arus bolak-balik pada kumparan utama yang terletak
sistem generator sinkron.

Pada generator konvensional ini ada beberapa kerugian yaitu generator arus searah
merupakan beban tambahan untuk penggerak mula. Penggunaan slip ring dan sikat
menimbulkan masalah ketika digunakan untuk mensuplai sumber arus searah padabelitan
medan generator sinkron. Terdapat sikat arang yang menekan slip ring sehingga timbul
rugi gesekan pada generator utamanya. Selain itu pada generator arus searah juga terdapat
sikat karbon yang menekan komutator. Selama pemakaian slip ring dan sikat harus
diperiksa secara teratur, generator arus searah juga memiliki keandalan yang rendah.
Karena hal-hal seperti diatas dipikirkan hubungan lain dan dikenal apa yang dikenal
sebagai generator sinkron static exciter (penguat statis). Gambar 4.2 adalah sistem
eksitasi yang menggunakan generator arus searah.

20
Gambar 2.7 Sistem Eksitasi Meggunakan Generator Arus Searah

2.3.2 Sistem Eksitasi Statis

Sistem eksitasi statis menggunakan peralatan eksitasi yang tidak bergerak (static),
artinya peralatan eksitasi tidak ikut berputar bersama dengan rotor generator sinkron.
Sistem eksitasi statis (static excitation sistem) atau disebut juga dengan self excitation
merupakan sistem eksitasi yang tidak memerlukan generator tambahan sebagai sumber
eksitasi generator sinkron. Sumber eksitas pada sistem eksitasi statis berasal dari
tegangan output generator itu sendiri yang disearahkan terlebih dahulu dengan
menggunakan penyearah thyristor.

Pada mulanya pada rotor ada sedikit magnet sisa, manet sisa ini akan menimbulkan
tegangan pada stator tegangan ini kemudian masuk dalam penyearah dan dimasukkan
kembali pada rotor, akibatnya medan magnet yang dihasilkan makin besar dan tegangan
AC naik demikian seterusnya sampai dicapai tegangan nominal dari generator AC
tersebut. Biasanya penyearah itu mempunyai pengatur sehingga tegangan generator dapat
diatur konstan. Bersama dengan penyearah, blok tersebut sering disebut AVR.

Dibandingkan dengan generator yang konvensional generator dengan sistem


eksitasi statis memang sudah jauh lebih baik yaitu tidak ada generator arus searah (yang
keandalannya rendah) dan beban generator arus searah pada penggerak mula hilang.
Eksiter diganti dengan eksiter yang tidak berputar yaitu penyearah karena itu disebut
eksiter statis. Gambar 2.14 berikut adalah sistem eksitasi statis.

21
Gambar 2.8 Sistem Kksitasi Statis

Untuk keperluan eksitasi awal pada generator sinkron, maka sistem eksitasi statis
dilengkapi dengan field flashing. Hal ini dibutuhkan karena generator sinkron tidak
memiliki sumber arus dan tegangan sendiri untuk mensuplai kumparan medan.
Penggunaan slip ring dan sikat pada eksitasi ini menyebabkan sistem eksitasi ini tidak
efisien dan efektif.

2.3.3 Sistem Eksitasi Menggunakan Baterai

Sistem eksitasi tanpa sikat diaplikasikan pada generator sinkron, dimana suplai arus
searah kebelitan medan dilakukan tanpa melalui sikat. Arus searah untuk suplai eksitasi
untuk awal start generator digunakan suplai dari baterai, yang sering dinamakan penguat
mula, dimana arus ini selanjutnya disalurkan ke belitan medan AC exiter. Tegangan
keluaran dari generator sinkron ini disearahkan oleh penyearah yang menggunakan dioda,
yang disebut rotating rectifier, yang diletakkan pada bagian poros ataupun pada bagian
dalam dari rotor generator sinkron, sehingga rotating rectifier tersebut ikut berputar
sesuai dengan putaran rotor, seperti pada gambar 4.4 berikut:

22
Gambar 2.9 Sistem Eksitasi Dengan Menggunakan Baterai

Dari Gambar 4.4 diatas, untuk menghindari adanya kontak geser pada bagian rotor
generator sinkron, maka penguat medan generator dirancang sedemikian sehingga arus
searah yang dihasilkan dari penyearah langsung disalurkan kebagian belitan medan dari
generator utama. Hal ini dimungkinkan karena dioda penyearah ditempatkan pada bagian
poros yang dimiliki bersama-sama oleh rotor generator utama dan penguat medannya.
Arus medan pada generator utama dikontrol oleh arus yang mengalir pada kumparan
medan penguat (eksiter).

Setelah tegangan generator mencapai tegangan nominalnya maka catu daya DC


(baterai) biasanya dilepasdan digantikan oleh penyearah. Penguatan yang dipakai adalah
sistem self exitation system yaitu sistem dimana sumber daya untuk penguatannya
diperoleh dari keluaran tiga phasa generator itu sendiri. Gambar 4.4 menggambarkan
sistem eksitasi tanpa sikat dengan suplai tiga phasa.

23
Gambar 2.10 Sistem Eksitasi Dengan Suplai Tiga Phasa

Pada Gambar 4.5 untuk membangkitkan arus medan digunakan penyearah,


dimana arus yang disearahkan diperoleh dari keluaran tiga phasa generator itu sendiri
melalui transformator atau sering disebut Eksitasi Transformator, berfungsi menurunkan
tegangan keluaran generator untuk disuplai pada penyearah.

2.3.4 Sisten Eksitasi Menggunakan Pemanen Magnet Generator

Suatu generator sinkron harus memiliki sebuah medan magnet yang berputar agar
generator tersebut menghasilkan tegangan pada statornya. Medan magnet ini dapat
dihasilkan dari belitan rotor yang disuplai dengan sumber listrik arus searah. Cara lain
untuk menghasilkan medan magnet pada rotor adalah dengan menggunakan magnet
permanen sebagai sumber eksitasinya ini disebut dengan Permanen Magnet Generator
(PMG).

Generator sinkron yang berkapasitas besar biasanya menggunakan sistem eksitasi


brushless yang dilengkapi dengan permanen magnet generator. Hal ini dimaksudkan agar
sistem eksitasi dari generator sama sekali tidak tergantung pada sumber daya listrik dari
luar mesin itu. Pada Gambar 4.6 dapat dilihat bentuk skematik dari sistem eksitasi dengan
menggunakan Permanen Magnet Generator.

24
Gambar 2.11 Sistem Eksitasi Dengan Menggunakan Permanen Magnet Generator

Dari Gambar 2.17, bahwa pada bagian mesin yang berputar (rotor) terdapat magnet
permanen, kumparan jangkar generator eksitasi, kumparan medan generator utama. Hal
ini memungkinkan generator tersebut tidak menggunakan slip ring dan sikat dalam
pengoperasiannya sehingga lebih efektif dan efisiensi.

2.4 Karakteristik Generator Sinkron

2.4.1 Karakteristik Beban Nol

Pengujian tanpa beban terkait dengan karakteristik beban nol yaitu hubungan antara
tegangan induksi Ea dengan arus penguat/eksitasi If. Pada pengujian beban nol, rotor
generator diputar pada kecepatan nominal dan terminal jangkar dalam keadaan terbuka.
Arus medan If diatur bertahap dari nol hingga diperoleh harga tegangan induksi Ea
berkisar kurang lebih 125% dari tegangan nominal generator. Pada kondisi ini arus
jangkar Ia = 0 dan tegangan induksi Ea=Vt. Pembacaan tegangan induksi jangkar dengan
pengaruh variasi medan eksitasi digambarkan dalam sebuah kurva yang ditunjukkan oleh
dibawah.

25
Gambar 2.12 Karakteristik Beban Nol

Dari gambar diatas tampak bahwa kurva tersebut memiliki garis linear sampai
diperoleh harga saturasi dari arus medan. Pada keadaan belum jenuh (unsaturated),
rangka (frame) besi mesin sinkron memiliki reluktansi yang besarnya beberapa ribu kali
lebih kecil dibandingkan dengan reluktansi celah udara, sehingga pada mulanya hampir
semua ggl melalui celah udara, sebagai akibatnya fluks meningkat secara linear. Ketika
pada akhirnya inti besi tersebut jenuh, reluktansinya meningkat secara dramatis, sehingga
peningkatan fluks jauh lebih lambat dari pada peningkatan ggl (hal ini yang digambarkan
oleh kurva melengkung). Garis linear pada kurva tersebut disebut juga sebagai
karakteristik celah udara (air gap).

2.4.2 Karakteristik Hubung Singkat

Pengujian hubung singkat terkait dengan karakteristik hubung singkat yaitu


hubungan antara arus jangkar Ia dengan arus penguat/eksitasi If. Pada pengujian hubung
singkat, mula-mula arus medan dibuat menjadi nol dan terminal jangkar dihubung singkat
melalui amperemeter. Lalu arus jangkar diperbesar dengan menaikkan secara bertahap
arus medan hingga tercapai nilai arus jangkar maksimum yang masih aman sekitar 125%
- 150% dari arus nominal jangkar. Karakteristik hubung singkat merupakan garis lurus.
Pada kondisi hubung singkat, tegangan terminal Vt =0 dan arus jangkar sama dengan arus
hubung singkat (Ia=Isc), sehingga dapat dirumuskan:

Ea
Ia=Isc= ……………...……………………………………… (2.1)
Ra + j X s

26
Pembacaan arus jangkar atau arus hubung singkat dengan pengaruh variasi medan
eksitasi digambarkan dalam sebuah kurva yang ditunjukkan oleh Gambar 4.8.

Gambar 2.13 Karakteristik Hubung Singkat

Kurva tersebut merupakan kurva linier karena tidak adanya efek saturasi. Saat tegangan
terminal sama dengan nol, lebih dari 90% tegangan jatuh muncul akibat reaktansi
sinkron. Pada Gambar 4.8 terlihat fasor untuk kondisi hubung singkat dimana terlihat arus
jangkar Ia tertinggal dari tegangan induksi Ea hampir 900, dengan kata lain reaksi jangkar
yang dihasilkan Ia hampir sepenuhnya melawan fluks medan yang menghasilkan
tegangan induksi Ea. Kedua fluksi yang berlawanan tersebut menjaga fluksi resultan
celah udara pada tingkat yang rendah sehingga tidak terjadi efek saturasi.

2.4.3 Karakteristik berbeban

Dalam keadaan berbeban arus jangkar akan mengalir dan mengakibatkan terjadinya
reaksi jangkar. Reaksi jangkar besifat reaktif karena itu dinyatakan sebagai reaktansi, dan
disebut reaktansi magnetisasi (Xm). Reaktansi pemagnet (Xm) ini bersama-sama dengan
reaktansi fluks bocor (Xa) dikenal sebagai reaktansi sinkron (Xs). Persamaan tegangan
pada generator adalah:

Ea = VT + I.Ra + j I.Xs ………………………………………………... (2.2)

Xs = Xm + Xa………………………………………………………….. (2.3)

Dimana:

Ea = tegangan induksi pada jangkar

27
VT = tegangan terminal output

Ra = resistansi jangkar

Xs = reaktansi sinkron

Pada generator berbeban Ia = IL bernilai konstan karena beban (Z L) tetap. Terlihat


pada gambar 2.14 di bawah ini:

Gambar 2.14 Karakteristik Generator Berbeban

2.5 Sistem Eksitasi General Unit 1 PLTA Saguling.

2.5.1 Umum

Sistem eksitasi terbagi menjadi 2 secara utama untuk mesin sinkron yaitu dinamis
dan statis, eksiter dinamis mempunyai ciri khas automatic voltage regulator contact atau
tipe penguat magnetic (magnetic amplifier type), tapi belakangan ini pengembangan
mengakibatkan pembuatan keandalan elemen thyristor ditingkatkan dan kapasitas yang
semakin besar, memperbolehkan pengembangan dari sistem eksitasi tipe thyristor secara
penuh pada konstruksi statis. Karena banyak keuntungan ekonomi, perawatan yang
mudah, karakteristik respon yang unggul dan konstruksi mesin utama yang sederhana,
sistem thyristor sekarang digunakan juga untuk generator steam turbin.

28
Sistem eksitasi seperti ini yang dipakai sebagai sistem eksitasi generator pada PLTA
Saguling yaitu sistem eksitasi statis tipe thyristor AVR MEC-3400-W.

Tabel 2.1 Karakteristik Sistem Eksitasi

1 Type of System Static (MEC - 3400)


2 Nominal output capacity 377 KW
3 Nominal voltage 290 V
4 Nominal current 1300 A
5 Celling voltage Positive : 498 V
Negative : 439 V
6 THYRISTOR BRIDGE
Type of rectifier 3 Phase full bridge
Thyristor FT 500 A – 50
Reverse voltage 2500 V
Average on-state current 500A
Number of series 1
Number of parallels 5 (4+spare)
Cooling Force air
7 FIELD CIRCUIT BREAKER
Type DBF-16
Nominal field voltage 375 V
Maximum field voltage 500V
Nominal field current 1600 A
Maximum breaking current 1600 A
Maximum voltage of DC side At short 2200 V
circuit of AC side
8 INITIAL EXCITION
DC power source 110 X
Current Approx. 315 A, 30 sec
9 AUTOMATIC VOLTAGE REGULATOR
Type Solid state
Range of voltage adjuster (90 R) -20 0
+10 %
Range of manual adjuster (70E) 30 110%
10 INSULATION
Field current AX 2900 V, 1 sec

1. Static Exciter

a) Capacity of the static exciter : 317 KW


b) Capacity of the excitation transformer : 850 KVA
c) Connection of power excitation : Full bridge type
d) Required initial excitation : 200 A ; 0,1 Second

29
e) Respone time : 0,1 second

2. Data Generator

a) Capacity : 206,1 KVA


b) Voltage : 16,5 KV
c) Frequency : 50 Hz
d) Power factor : cosθ = 0,85

3. Calculation of capacity

a. Rated excitation current


IR = If full x α (α = design margin)
= 1180 x 1,1
= 1298 → 1300 A
1300 A > 1197 A (rated excitation current is confirmed as 1300 A)
b. Rated excitation voltage
VR = IR x Rf max
= 1300 x 0,221
= 287 V → 290 V
290 V > 264 V (rated excitation voltage is confirmed as 290 V)
c. Rated excitation capacity
PR = IR x VR
= 1300 x 290
= 377 KW
d. Ceiling voltage
Nominal slipring voltage
Efv = IR x Rf 75”
= 1300 x 0,188
= 244 V
244 V > 224 V (Nominal slip ring voltage is confirmed as 244 V)
Ceiling voltage
CV = 2 x Efv
= 2 x 244 = 488 V

2.5.2 Eksitasi Awal (Initial Excitation)

30
Sistem eksitasi pada PLTA Saguling adalah sistem eksitasi thyristor
dengan penguatan sendiri, ketika generator mulai beroperasi, generator akan
disuplai eksitasi oleh sumber energi lain, setelah tegangan terminal generator
muncul sampai nilai tertentu, sistem eksitasi thyristor akan beroperasi secara
normal atau menggunakan penguatan sendiri. Baterai digunakan sebagai suplai
energi awal mulai eksitasi, ketika starting generator mencapai sekitar 90% dari
kecepatan normal, circuit breaker 41 (CB 41) akan menutup (normally closed),
ketika tegangan terminal generator mencapai sekitar 30% dari keadaan normal,
thyristor akan mengisi dan menghasilkan tegangan keluaran sehingga tegangan
generator naik, arus eksitasi disuplai secara otomatis dari baterai menuju
rangkaian eksitasi thyristor, dan ketika tegangan generator mencapai sekitar 80%
dari keadaan normal, rangkaian suplai baterai akan diputus.

31
Gambar 2.15 Blok Diagram Sistem Eksitasi Generator Unit 1 PLTA Saguling

32
2.5.3 Cara Kerja Operasi Regulator dan Firing Circuit Sistem Eksitasi Generator
Saguling
Peralatan penyearah dari tipe full-wave bridge diterapkan sebagai peralatan kendali
fasa, jembatan 3 fasa tersusun secara penuh dari thyristor, keluaran dapat dengan bebas
diubah-ubah dari tegangan negatif menjadi tegangan positif oleh pengendalian sudut
penyalaan dari thyristor.
Operasi dasar dari sistem eksitasi thyristor AVR (automatic voltage regulator)
untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Saguling akan dijelaskan pada gambar 3.16
adalah representasi grafik input dan output dari regulator tegangan, the firing circuit,
rangkaian daya thristor dan generator AC.

Gambar 2.16 Grafik Input dan Ouput regulator tegangan, the firing circuit, rangkaian daya thristor
dan generator AC

33
Jika regulator sedang dalam perbaikan, keluaran eksiter dikendalikan secara manual
oleh base adjuster control switch dimana kendali motor dioperasikan base adjuster dan
penguat tegangan keluaran medan dinaikan atau diturunkan, penguat tegangan keluaran
medan akan mengendalikan keluaran eksiter statis oleh perubahan sudut fasa firing dari
rangkaian firing menuju rangkaian gate thyristor.
Masing-masing nilai input-output dari rangkaian firing, eksiter dan generator
ditunjukan oleh hubungan titik antara poin A’ dan A pada gambar 4.10, itu akan menjadi
catatan eksitasi mesin adalah directly proportional untuk pengaturan base adjuster,
neglecting machine saturation. Tegangan terminal dari generator akan berubah dengan
kecepatan turbin ketika dibawah kendali dasar, karena kurva saturasi dari putaran mesin
berbeda langsung dengan kecepatan.
Asumsi regulator sedang dalam operasi dan keseimbangan untuk memberikan
tegangan mesin pada poin A, dimana keluaran regulator adalah nol, pada kasus ini total
kendali input untuk rangkaian firing thyristor berasal dari input base adjuster.
Selanjutnya asumsi dengan tanpa perubahan pengaturan dari base adjuster dan
pengaturan tegangan regulator , kondisi generator berbeban diganti menjadi kondisi
beban rendah di indikasikan pada poin B.

2.5.4 Cara Kerja Operasi Thyristor Bridge


Jembatan thyristor (thyristor bridge) mengendalikan tegangan medan (field
voltage If) generator dengan mengubah pulsa firing, jembatan thyristor meliputi
penyearah konverter 3 fasa (3 phase unidirectional converter), gambar 4.22 dan
gambar 4.23 menunjukan gelombang tegangan AC sebagai masukan jembatan
thyristor.

Gambar 2.17 Penyearah Terkendali Thyristor Jembatan Penuh (Three Phase full-converter)

34
Gambar 2.18 Gelombang masukan Thyristor

35
Pulsa pemicu dari firing drawer masuk ke thyristor CR1 melalui pulse transformer,
disinkronkan dengan tegangan XZ. Dengan cara yang sama, pulsa pemicu ke CR3 dan
CR5 disinkronkan dengan tegangan XY dan ZY. Jadi urutan pemicuan thyristor adalah
CR1 → CR6 → CR3 → CR2→ CR5→ CR4.

Jika sudut pemicu besarnya 0º maka output thyristor akan maksimum. Pada kondisi ini
nilai outputnya adalah 1,35 x tegangan AC input, namun jika sudut pemicuan dibuat
sebesar 10º maka tegangan output akan turun dari nilai tersebut diatas.

Jika sudut pemicu 30º maka nilai tegangan output lebih kecil lagi dibandingkan jika sudut
pemicu 10º. Jika sudut pemicu 90º dengan beban induktif maka tegangan output DC
besarnya 0 volt. Jika sudut pemicu 150º dengan beban induktif maka tegangan DC akan
negatif. Pada kondisi ini energi dari beban induktif akan diregenerasi dan dikirim ke
bagian AC (input/ lilitan PMG) dengan arah arus yang tetap. Namun jika energi ini telah
habis maka arus akan menjadi 0 amper dan tegangan output DC menjadi 0 volt juga,
karena thyristor terpanjar mundur.

36