Anda di halaman 1dari 20

DIABETES MELITUS PENYAKITl YANG TIDAK DAPAT

DISEMBUHKAN TETAPI DAPAT DIKENDALIKAN

APA ITU DIABETES MELITUS?

Di masyarakat saat ini penyakit yang banyak diderita salah satunya diabetes melitus.
Gula dalam darah yang tidak dapat digunakan menyebabkan tingginya kadar gula dalam darah
disebut diabetes melitus (Kemenkes RI, 2019). Pada tahun 1999, WHO mendefinisikan diabetes
mellitus sebagai “kelainan metabolisme berbagai etiologi, ditandai oleh hiperglikemia kronis
dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein akibat ketidaksempurnaan fungsi
sekresi (pengeluaran) insulin, aksi insulin, atau keduanya. Efek dari diabetes mellitus termasuk
kerusakan jangka panjang, disfungsi dan kegagalan berbagai organ “. Salah satu horman yang
berperan dalam mengatur keseimbangan kadar gula darah yaitu insulin. Akibatnya saat
terjadinya gangguan insulin dapat menyebabkan terjadinya kadar glukosa dalam darah
peningkatan (Infodatin, 2014). Terdapat 2 kategori utama diabetes mellitus, diantaranya:
- Diabetes tipe 1 (insulin-dependent)
Diabetes ini ditandai dengan kurangnya produksi insulin, biasanya disebabkan faktor
keturunan (Infodatin, 2014). Diabetes tipe 1 menunjukkan proses kerusakan sel-B dimana
tidak dapat menghasilkan insulin yang diperlukan untuk bertahan hidup, sehingga
menyebabkan diabetes mellitus (WHO, 2006).
- Diabetes tipe 2 (non insulin dependent)
Diabetes tipe ini terjadi dikarenakan tidak efektifnya penggunaan insulin dalam tubuh.
Resistensi insulin terjadi pada tipe ini karena obesitas dan faktor life style atau pola hidup
tidak sehat (Infodatin, 2014).

PENYEBAB DIABETES MELLITUS

Faktor-faktor penyebab diabetes mellitus, diantaranya (Kementrian Kesehatan Republik


Indonesia, 2019):
1. Obesitas
Diketahui penderita DM tipe 2 mengalami berat badan berlebih sebesar >85%.
Dianjurkan pada penderita DM secara rutin berolahraga untuk mengurangi berat badan
serta menurunkan resiko resistensi insulin.
2. Stress
Seseorang yang mengalami stress akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan
kortisol agar gula darah naik dan tersedia cadangan energi untuk beraktivitas. Namun,
apabila gula darah sering terus dipicu tinggi karena mengalami stres yang
berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan melakukan bunuh diri pelan-pelan.
3. Riwayat keluarga
Penyakit diabetes dapat disebabkan karena faktor keturunan yang biasanya diturunkan
oleh orang tua yang didiagnosis penyakit diabetes tipe 2, maka beresiko menderita
penyakit diabetes.
4. Keadaan tertentu pada wanita
Pada wanita yang memiliki sindrom ovarioum polikistik lebih beresiko untuk menderita
diabetes. Sindrom ovarioum polikistik merupakan ketidakseimbangan hormonal yang
menyebabkan tidak teraturnya masa siklus menstruasi pada wanita. Wanita yang pernah
melahirkan bayi dengan kategori gemuk (4kg atau lebih) diketahui berisiko terkena
diabetes. Adapun wanita hamil yang dapat menderita diabetes gestasional (diabetes
terjadi selama masa kehamilan), diketahui 7 kali lebih beresiko terkena diabetes tipe 2
pada masa yang akan datang.
5. Perokok
Penelitian di Amerika melibatkan setidaknya 4.572 relawan pria dan wanita menemukan
bahwa resiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22%. Naiknya risiko tidak
cuma disebabkan oleh fakor merokok saja, tetapi kombinasi antara berbagai gaya hidup
tidak sehat.
6. Makanan tinggi lemak dan gula
Sering mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak merupakan salah satu hal penyebab
diabetes. Mengkonsumsi makanan seperti ini berisiko dapat meningkatkan kadar
kolesterol dan tekanan darah. Tekanan darah dan kadar kolesterol yang tinggi sering
dikaitkan dengan diabetes dan penyakit jantung.
7. Rasa takut kulit menjadi hitam
Berdasarkan jurnal Diabetes Care, wanita beresiko paling rendah terkena diabetes tipe 2
apabila memakan asupan vitamin D yang tinggi dan kalsium berisiko. Sumber vitamin D
dapat diperoleh pada sinar matahari pagi selama 20 menit dan sejumlah makanan
Dianjurkan sebaiknya menggunakan sunscreen selama 10-15 menit sebelum berjemur
terhadap paparan sinar matahari pagi.
8. Gorengan
Makanan yang menjadi pemicu penyakit seperti stroke, diabetes mellitus, dan penyakit
kardiovaskular (pkv) salah satunya adalah gorengan. Dyslipidemia yaitu adanya
penyumbatan pembuluh darah coroner yang menjadi salah satu penyebab utama penyakit
kardiovaskular. Meningkatnya dyslipidemia dikarenakan kebiasaan konsumsi gorengan,
makanan tinggi lemak dan makanan rendah serat.

GEJALA- GEJALA DIABETES MELLITUS

Beberapa pasien diabetes mellitus terlambat menyadari penyakitnya karena tidak


melakukan deteksi awal. Langkah tepat untuk mengatasinya adalah dengan melakukan
pengecekan kadar glukosa darah secara berkala. Namun, sebetulnya terdapat beberapa gejala dari
penyakit diabetes yang dapat dijadikan deteksi awal. Gejala tersebut terkadang sudah dirasakan
oleh pasien tapi sering sekali diabaikan karena kurangnya pengetahuan. Berikut ini adalah gejala
awal penyakit diabetes

1. Cepat merasa haus


2. Sering lapar atau makan banyak
3. Sering buang air kecil
4. Berat badan menurun secara tiba-tiba
5. Sering kesemutan di tangan atau kaki
6. Penglihatan sering kabur
7. Luka tidak sembuh-sembuh
8. Cepat lelah atau lemas tiap waktu
(Ramachandran, 2014)

PARAMETER PENGENDALIAN DIABETES

Pengendalian Diabaetes Melitus (DM) dapat dilakukan dengan cara menerapkan pola
hidup sehat bersamaan dengan intervensi farmakologi dengan obat anti hiperglikemia. Obat anti
hiperglikemia dapat digunakan sebagai terapi tunggal atau kompinasi (lebih dari satu obat). Pada
keaadan darurat seperti metabolic berat seperti ketoasisdosis, stress berat, penurunan berat badan
yang cepat, dan juga timbulnya ketonuria, maka sebaiknya disarankan ke pelayanan kesehatan
sekunder atau tersier dengan cepat. Parameter klinik yang baik untuk seseorang terhadap DM
antara lain dapat dilihat pada tabel diabwah ini:

(Perkeni, 2015).

Dalam pengendalian DM kriterianya didasarkan pada hasl pemeriksaan kadar gula darah,
profil lipid dalam tubuh , dan kadar HbA1C. DM dikatakan terkendali saat kadar lemak, HbA1C,
dan kadar gula darah tubuh mencapai kadar yang normal atau diharapkan, juga status gizi dan
tekanna darah telah memenuhi kriteria. Tabel diatas menunjukkan keberhasilan pengendalian
DM.
Untuk mengendalikan DM secara sehat salah satunya dengan cara menjaga nutrisi yang
masuk kedalam tubuh seperti jumlah karbohidrat dan lemak yang dikonsumsi. Dianjurkan
karbohidrat yang dikonsumsi sebesar 45-65% total asupan energi.
Dianjurkan makan tiga kali sehari dan jika perlu diberikan selingan makanan seperti buah
atau makanan lain sesuai kebutuhan kalori sehari-hari. Asupan lemak yang dikonsumsi
sebaiknya sekitar 20-25% kebutuhan kalori, dan akan lebih baik jika mengkonsumsi lebih dari
30% total energi (lemak jenuh kurang dari 7% dan tidak jenuh kurang dari 10%). Kandungan
protein juga penting seperti makanan berupa ikan, kedelai, dan ayam tanpa kulit. Kebutuhan
keseharian mencapai 10-20% perhari.
TERAPI APA YANG DIGUNAKAN UNTUK DIABETES MELLLITUS?

Terapi farmakologi

Pengendalian kadar glukosa (gula) darah bisa dilakukan menggunakan terapi obat ketika
pengaturan olahraga dan pola makan belum berhasil. Terapi untuk pengendalian kadar gula
darah dilakukan dengan penggunaan obat-obat antidiabetik, insulin ataupun kombinasi (Dirjen,
2005).

1. Terapi Insulin
Penggunaan insulin sangat penting sebagai terapi bagi penderita diabetes tipe I (DM
tipe I. Hal ini dikarenakan pada penderita DM tipe I sel-sel pada kelenjar pankreas yang
menghasilkan insulin yaitu  Langerhansnya sudah mengalami kerusakan sehingga tidak
dapat memproduksi insulin lagi. Inilah yang menyebabkan penderita DM tipe I tersebut
harus memperoleh insulin dari luar (eksogen) sebagai gantinya sehingga metabolisme
dalam tubuh kembali normal. Meskipun begitu, bukan berarti penderita DM tipe II tidak
membutuhkan terapi insulin. Bahkan kurang lebih 30% penderita DM tipe II membutuhkan
insulin sebagai terapinya (Dirjen, 2005).

Mekanisme Kerja Insulin


Mekanisme kerja dari insulin yaitu dengan membentuk transport glukosa dalam darah
yang kemudian masuk ke dalam sel. Apabila terjadi kekurangan insulin mengakibatkan
terhambatnya glukosa darah masuk ke dalam sel. Dan mengakibatkan terjadinya glukosa
darah meningkat dan sumber energi bagi sel-sel pun berkurang, serta energi tidak dapat
diproduksi sebagaimana mestinya (Dirjen, 2005).

Cara Pemberian Insulin


Lokasi penyuntikan insulin yang disarankan dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Daerah abdomen, kemudian lengan, lalu daerah paha dibagian atas dan bokong
merupakan daerah yang penyerapannya paling cepat. Melakukan kegiatan fisik segera
seusai penyuntkn dapat mempercepat onset atau waktu mula kerja insulin dan dapat
mempersingkat durasi/ lama kerja insulin (Dirjen, 2005).

Penggolongan Sediaan Insulin


Berikut pembagian Insulin dalam beberapa jenis berdasarkan waktu mulai kerja
(onset) dan masa kerjanya (durasi).
1) Short acting insulin, yaitu insulin dengan masa kerjanya yang singkat, sebutan
lainnya yaitu insulin regular
2) Intermediate acting, yaitu insulin yang masa kerjanya sedang
3) Insulin yang masa kerjanya sedang dan waktu mula kerjanya cepat
4) Long acting insulin, yaitu insulin dengan masa kerjanya yang panjang
Setiap individu mempunyai respon yang berbeda terhadap terapi insulin. Maka dari
itu, penentuan dari jenis sediaan dan frekuensi penyuntikannya pun tergantung pada
individunya. Umumnya insulin yang memiliki kerja sedang diberikan sebagai tahapan
awal. Setelah itu insulin yang memiliki kerja cepat sitambahkan agar hiperglikemia yang
dapat terjadi setelah makan bisa diatasi (Dirjen, 2005).

Insulin yang sudah Beredar di Indonesia


Tabel 1. Insulin yang sudah Beredar di Indonesia
Penyimpanan Sediaan Insulin
Cara penyimpanan dari sediaan insulin harus berdasarkan pada rekomendasi dari
produsen yang bersangkutan. Berikut ini merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
penyimpanan sediaan insulin (Dirjen, 2005):
a) Simpan insulin di lemari es tepatnya pada suhu 2-8C.
b) Apabila isi dari vial seluruhnya akan digunakan dalam waktu 1 bulan maka
insulin bisa disimpan pada 15-20C (suhu ruang) dengan penyejuk.
c) Penfill yang regular dengan tutupnya yang sudah ditusuk bisa disimpan selama 30
hari pada suhu ruang.
d) Insulin yang dingin sebaiknya diguling-gulingkan terlebih dahulu pada telapak
tangan sebelum disuntikkan untuk mengurangi terjadinya iritasi lokal atau dengan
meletakkannya dulu pada suhu ruang.
2. Terapi Obat Hipoglikemik Oral
Tujuan dari penggunaan obat-obat antidiabetik ini yaitu membantu penanganan
penderita DM tipe II. Terapi obat dipilih berdasarkan dari tingkat keparahan dan pada
kondisi penderita, termasuk penyakit lainnya yang menyertai (komplikasi) untuk
menentukan terapi tunggal atau terapi kombinasi (Dirjen, 2005).

Penggolongan Obat Hipoglikemik Oral


Berikut penggolongan obat antidiabetik dibagi menjadi 3 berdasakan dari mekanisme
kerjanya (Dirjen, 2005):
a) Sulfonilurea dan glinida merupakan obat-obat yang dapat meningkatkan sekresi
insulin.
b) Biguanida yang merupakan obat-obat sensitiser insulin, yaitu yang dapat membuat
meningkatkan sensitifitas sel terhadap insulin dan pemanfaatan insulin secara efektif
oleh tubuh dengan bantuan tiazolidindion.
a) Inhibitor α-glukosidase yaitu menhambat terjadinya katabolisme pada karbohidrat
dengan cara menghambat penyerapan glukosa. Ini umumnya digunakan untuk
pengendalian post meal hyperglycemia (post prandial) atau nama lainnya “starch-
blocker”.
Tabel 2. Penggolongan obat hipoglikemik oral

Golongan Sulfonilurea
Sulfonilurea merupakan drug of choice atau pilihan obat bagi penderita diabetes
baru yang mempunyai berat badan yang normal maupun kurang, dan tidak pernah
menderita ketoasidosis sebelumnya. Sebaiknya penderita dengan gangguan ginjal, tiroid
dan gangguan hati tidak diberikan sulfonilurea (Dirjen, 2005).
Efek samping: sakit kepala, gangguan saluran cerna (sakit perut, diare, kelebihan asam
lambung, mual, dan sebaginya), gangguan susunan syaraf pusat (bingung, ataksia, vertigo).
Umumnya efek sampingnya ringan dengan frekuensinya rendah (Dirjen, 2005).
Interaksi obat: sulfonamide, oksifenbutazon, fenformin, alkohol, salisilat dosis besar,
kloramfenikol, fenfluramin, fenilbutazon, insulin, steroida anabolik, dikumarol, klofibrat,
probenezida, guanetidin dan penghambat Mono Amin Okigenase (MAO) (Dirjen, 2005).
Peringatan dan kontraindikasi:
- Penderita dengan gangguan fungsi ginjal, hati, penderita yang usia lanjut penggunaan
sulfonilurea harus diperhatikan. Tidak disarankan pemberian klorpropamida dan
glibenklamida bagi penderita insufisiensi ginjal dan penderita usia lanjut. Gliklazida,
tolbutamida dan glikuidon yang memiliki kerja singkat masih dapat digunakan pada
penderita gangguan fungsi ginjal.
- Wanita yang sedang hamil, wanita menyusui, ketoasidosis dan porfiria tidak
dianjurkan pemberiannya.
- Penderita dengan kebutuhan insulin tidak stabil, penderita diabetes berat dan
penderita diabetes yuvenil, sulfonilurea tidak boleh digunakan sebagai terapi tunggal
- Cenderung terjadi peningkatan berat badan dengan penggunaan sulfonilurea.
Tabel 3. Obat Hipoglikemik Oral Golongan Sulfonilurea
Obat Meglitinida dan Turunan Fenilalanin
Meglitinid memiliki mekanisme kerja yang mirip dengan sulfonilurea dan merupakan
obat generasi baru. Secara umum golongan ini pemberiannya dikombinasi bersama dengan
obat antidiabetik yang lain (Dirjen, 2005).
Tabel 4. Antidiabetik Oral Golongan Meglitinida Dan Turunan Fenilalanin
Golongan Biguanida
Mekanisme kerja dari biguanida dengan menurunkan produksi atau pembenukan
glukosa hati dan bekerja secara langsung pada hepar (hati). Biguanida tidak menyebabkan
terjadinya hipoglikemia dan juga tidak merangsang pengeluaran insulin. Metformin
merupakan slah satu biguanida yang masih digunakan saat ini (Dirjen, 2005).
Efek samping: dapat menyebabkan asidosis laktat, kadang-kadang terjadi diare, muntah
dan mual (Dirjen, 2005).
Kontraindikasi: wanita hamil, penderita penyakit jantung kongestif, gangguan fungsi pada
ginjal dan hepar (hati), pada keadaan yang gawat, tidak boleh pemberian biguanida (Dirjen,
2005).
Tabel 5. Obat Hipoglikemik Oral Golongan Biguanida

Golongan tiazolidindion (TZD)


Mekanisme kerja dari tiazolidindion adalah berikatan dengan PPAPγ (peroxisome
proliferator activated receptor-gamma) pada hati, otot dan jaringan lemak akan
meningkatkan kepekaan terhadap insulin oleh tubuh sehingga resistensi insulin serta
kecepatan glikoneogenesis menurun (Dirjen, 2005).
Tabel 6. Antidiabetik Oral Golongan Tiazolidindion
Golongan Inhibitor α-Glukosidase
Mekanisme kerjanya yaitu enzim alfa glukosidase (seperti maltase, sukrase,
glukomaltase dan isomaltase) yang berfungsi menghidrolisis oligosakarida yang ada di
dinding usus halus dihambat oleh golongan obat ini. Penderita dengan kadar glukosa
plasma puasa 180mg/dL dan sedang diet tinggi karbohidrat, inhibitor α-glukosidase
efektif untuk diberikan.
Efek samping: kadang-kadang mengalami diare yang berkurang setelah penggunaan obat
lebih lama, lebih banyak buang angin dan perut terasa kurang nyaman. Hipoglikemia dapat
terjadi apabila diminum bersamaan sulfonilurea atau insulin, dan hanya dengan glukosan
murni cara mengatasinya (Dirjen, 2005).
Tabel 7. Antidiabetik Oral Golongan Inhibitor α-Glukosidase

3. Terapi Kombinasi
Beberapa obat antidiabetik yang dikombinasi ataupun kombinasi antara obat
antidiabetik dengan insulin diperlukan untuk keadaan tertentu. Kombinasi antara obat dari
golongan sulfonilurea dengan obat dari golongan biguanida merupakan kombinasi yang
umumnya digunakan. Sulfonilurea yang bekerja dengan merangsang pengeluaran insulin
akan membuat kerja dari biguanida menajdi efektif sehingga efek dari kombinasi keduanya
saling menunjang satu sama lain (Dirjen, 2005).

Hal-hal yang perlu Diperhatikan dalam Penggunaan Obat Antidiabetik


a) Dosis rendah harus digunakan pada awal pemberian obat antidiabetik yang kemudian
dinaikkan dengan bertahap.
b) Ketahui terlebih dahulu mengenai efek samping, lama kerja, cara kerja dari obat-obat
antidiabetik yang digunakan.
c) Diperhatikan interaksi yang mungkin terjadi apabila diberikan bersamaan dengan obat
lain.
d) Apabila kegagalan sekunder terjadi terhadap obat antidiabetik, usahakan untuk
menggunakan obat golongan lain. Bila kegagalan terjadi, pertimbangkan untuk beralih ke
insulin
e) Obat antidiabetik yang janga panjang sebaiknya tidak diberikan kepada penderita yang
usia lanjut untuk menghidari terjadinya hipoglikemia.
f) Pemberian obat antidiabetik yang terjangku bagi penderita.

Terapi Nonfarmakologi
1. Edukasi
Edukasi mengenai pentingnya perawatan kaki sangat penting mengingat risiko yang
ditimbulkan ketika terjadi luka disekitar kaki yaitu sulit mengeringnya luka pada kaki.
a. Perawatan Kaki
1) Memastikan kaki selalu bersih, tidak basah, dan kering.
2) Dilakukan pemeriksaan kaki setiap hari, bila kulit terkelupas, kemerahan, atau luka
segera konsultasikan dengan dokter.
3) Ketika berjalan harus selalu menggunakan alas kaki dan memeriksa alas kaki setiap
kali sebelum digunakan.
4) Kuku selalu dipotong secara teratur.
5) Menggunakan kaos kaki yang tidak dapat menyebabkan lipatan pada bagian ujung-
ujung jari kaki yaitu dari bahan katun.
6) Sepatu harus longgar, tidak boleh sempit dan hindari pemakaian sepatu hak tinggi.

b. Pola hidup sehat


Perilaku hidup sehat bagi penyandang Diabetes Melitus adalah memenuhi anjuran:
1) Membiasakan pola makan yang sehat.
2) Melakukan kegiatan jasmani dan latihan jasmani secara teratur
2. Terapi Nutrisi Medis (TNM)
Terapi nutrisi sangatlah penting bagi penderita DM, terutama bagian pasien DM tipe 2
karena DM tipe 2 ini diketahui sangat progesif. Berikut terapi nutrisi yang dapat dilakukan oleh
penderita DM:

a. Makanan yang disarankan terdiri dari:


1) Penderita DM diharapkan menonsumsi karbohidrat berserat tinggi, biji-bijian utuh,
gandum, karbohidrat kompleks (nasi merah, oatmeal, sereal, dan biji-bijian utuh), ubi
jalar panggang. Makanan-makanan tersebut diketahui dapat menurunkan resiko
terkenanya penyakit pembuluh darah pada pasien DM dan jantung. Karbohidrat yang
harus dibatasi konsumsinya adalah sukrosa, sukrosa ini konsumsinya maksimal 5%
total asupan energi. Konsumsi sukrosa ini juga harus menyesuaikan jumlah insulin
maupun obat anti diabetes yang digunakan. Pasien DM diharap dapat mengurangi
maupun menghindari konsumsi makanan yang digoreng, makanan dengan olahan
tepung, dan juga konsumsi sereal yang banyak mengandung gula. Pembatasan
karbohidrat total kurang dari 130 g/hari tidak dianjurkan.
2) Konsumsi lemak dan kolesterol bagi pasien DM harus sangat dibatasi, hal ini
dilakukan agar pasien DM terhindar dari penyakit jantung maupun gangguan
pembuluh darah. Selain itu diketahui bahwa konsumsi omega-3 yang berasal dari
minyak ikan itu dapat mengurangi terjadinya penyakit jantung dan pembuluh darah
bagi pasien DM. Lemak yang dianjurkan tidak boleh melebihi 30% total asupan energy
dan dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori.
3) Konsumsi protein sangat dianjurkan untuk pasien DM terutama pasien DM tipe 2,
karena diketahui bahwa konsumsi protein dalam batas yang cukup dapat menurunkan
gula darah dan resistensi insulin, sehingga produksi insulin yang dibutuhkan tubuh
akan meningkat. Konsumsi protein yang terlalu banyakpun juga harus dihindarkan yah,
karena konsumsi protein dalam jumlah yang tinggi dapat menyebabkan efek jangka
panjang seperti gangguan ginjal yang belum diketahui pasti. Protein yang disarankan
untuk dikonsumsi oleh pasien DM adalah udang , ayam tanpa kulit, kacang-kacangan,
ikan, putih telur, tahu, tempe, dan cumi. Protein yang dianjurkan sebesar 10 – 20%
total asupan energi. Penurunan asupan protein diperlukan pada pasien dengan nefropati
diabetik menjadi 0,8 g/kg BB perhari atau 10% dari kebutuhan energi, dengan 65%
diantaranya bernilai biologik tinggi. Sedangkan pada penderita DM yang sudah
melakukan hemodialisis asupan protein menjadi 1-1,2 g/kg BB perhari.
4) Jumlah asupan natrium yang dikonsumsi oleh pasien DM dan orang sehat sama yaitu <
2300 mg per hari.
5) Penderita DM diharapkan menonsumsi serat yang berasal dari buah dan sayuran,
kacang-kacangan, maupun karbohidrat yang kaya akan serat. Konsumsi serat
dianjurkan 20-35 gram.hari.

Nutrisi yang baik bagi pasien DM adalah jikalau terdiri dari karbohidrat, protein, lemak,
kolesterol, vitamin dalam porsi yang cukup dan harus saling melengkapi. Berikut merupakan
piramida makanan yang dapat dicontoh bagi pasien DM maupun pasien sehat dan pasien dengan
resiko tinggi terkena DM.

3. Jasmani
Latihan fisik yang merupakan kegiatan jasmani dilakukan secara teratur sebanyak tiga
hingga lima kali setiap minggu dan dilakukan sekitar 30-45 menit. Pada saat latihan jeda
dilakukan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut. Sebelum latihan fisik dimulai, pemeriksaan
glukosa darah perlu dilakukan. Pasien dengan kadar glukosa darah <100 mg/dL harus
mengkonsumsi karbohidrat terlebih dahulu, namun apabila >250 mg/dL maka dianjurkan untuk
menunda latihan fisik. Fungsi latihan fisik yaitu untuk menjaga kesehatan dan kebugaran,
memperbaiki sensitivitas insulin, dapat terkendalinya kadar glukosa darah, dan menurunkan
berat badan. Latihan fisik yang disarankankan yaitu bersifat aerobic, seperti jogging, bersepeda
dan berenang dengan intensitas sedang (50-70% denyut jantung maksimal). Denyut jantung
maksimal harus selalu diperhatikan dalam latihan fisik (Denyut jantung maksimal= 220 - usia
pasien). Umur dan status kesegaran jasmani perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan
jenis latihan fisik. Durasi latihan jasmani pada penderita DM yang disertai komplikasi durasi
latihannya perlu dikurangi dan disesuaikan dengan masing-masing individu, sedangkan pada
penderita DM yang relatif sehat dapat ditingkatkan.

SEBERAPA PENTING PERAWATAN TUBUH BAGI PASIEN DIABETES?

Diabetes menjadi ancaman yang cukup serius untuk pembangunan kesehatan akibat
komplikasi yang dapat ditimbulkannya seperti gagal ginjal, kebutaan, gangrene (kaki diabetes)
sehingga harus diamputasi. Menurut WHO (2010), diabetes merupakan penyakit tidak menular
yang menduduki tingkat ke-6 penyebab kematian di dunia.

Selain terapi penyembuhan, perlu juga dilakukan tindakan pencegahan komplikasi yang
dapat ditimbulkan dari perparahan penyakit diabetes ini. Salah satu caranya dengan melakukan
perawatan tubuh.

Senam Kaki Diabetes

Pada penderita diabetes dianjurkan untuk melakukan olahraga minimal tiga kali sepekan
dengan lama durasi minimal 30 menit. Senam kaki diabetes dapat menjadi salah satu pilihan
aktivitas fisik yang mudah dilakukan dimana pun. Manfaat yang diinginkan dari gerakan senam
kaki diabetes adalah tidak terjadi komplikasi yang biasa terjadi pada kaki penderita diabetes
yaitu luka infeksi yang sulit sembuh dan menyebar.

Berikut gerakan senam kaki diabetes yang harus dilakukan secara teratur oleh penderita diabetes:

1. Pasien duduk di kursi dengan telapak kaki yang menyentuh permukaan lantai.
2. Posisikan tumit di lantai dan gerakan jari-jari kaki dengan cara diluruskan ke atas
kemudian dibengkokkan ke bawah secara bergantian seperti cakar ayam.
3. Masih pada posisi tumit di lantai. Angkat telapak kaki ke atas-bawah secara bergantian.
4. Ujung kaki diangkat, lakukan gerakan memutar pada pergelangan kaki.
5. Kemudian posisikan jari kaki di lantai, angkat tumit kaki dan buat gerakan memutar.
6. Angkat salah satu lutut, kemudian luruskan. Gerakan jari-jari kaki ke depan-belakang.
Lakukan bergantian dengan kaki lainnya.
7. Luruskan salah satu kaki, lalu angkat. Putar kaki pada pergelangan kaki. Lakukan
gerakan seperti menulis angka 0 sampai 10. Lakukan bergantian dengan kaki lain.
8. Siapkan selembar kertas Koran. Bentuk Koran menjadi bola hanya dengan menggunakan
kedua belah kaki. Kemudian buka kembali menjadi lembaran seperti semula
9. Robek Koran menjadi 2 bagian, lalu sobek 1 bagian menjadi sobekan kecil. Kumpulkan
sobekan kecil di atas Koran yang utuh dengan kedua kaki.
10. Bungkus sobekan tadi dengan kedua kaki dan bentuk kembali menjadi bola.
Perawatan kuku dan kaki

Masalah cedera kaki yang sering terjadi menjadi perhatian yang perlu segera ditanggulangi untuk
meminimalisasi luka baru yang dapat memperburuk keadaan penderita diabetes. Menurut
Pedoman dasar untuk perawatan kaki dan pemilihan alas kaki yang dikembangkan oleh National
Institutes of Health dan American Diabetes Association untuk dapat mencegah terjadinya
cedera, diantaranya:

a. Kaki Bersih, Kering dan Lembut


Mencuci kaki dan antara jari-jari kaki dengan air hangat (tidak panas) dan sabun
kemudian dikeringkan dengan kain lembut. Gunakan lotion pada atas atau bawah kaki
dan bukan antara jari-jari kaki. Dapat pula digunakan bedak antara jari-jari kaki untuk
menjaga kulit tetap kering.
b. Perawatan Kulit
Penderita diabetes melitus harus menggunakan alas kaki di dalam ruangan maupun di
luar ruangan. Memakai pakaian hangat dan kaos kaki pada musim dingin guna
melindungi kulit dari cuaca dingin dan basah. Kaos kaki tidak memiliki lubang atau
bersambung, memiliki jahitan tebal, atau memiliki band elastis yang menyebabkan
cedera pada kulit. Mengganti kaos kaki setiap hari.
c. Perawatan Kuku
Kuku harus dipotong untuk menghindari lesi pada kuku. Apabila pasien mengalami
kesulitan menjangkau jari-jari kaki atau memiliki kuku kaki maka diperlukan bantuan
orang lain untuk memotong kuki kaki. Menghilangkan kalus untuk mengurangi beban
tekanan setempat untuk mengurangi kemungkinan pembentukan ulkus dan
mengurangi tekanan di bawah tulang.
d. Sepatu
Kedua bagian sepatu kanan dan kiri harus dicoba sebelum membeli. Setiap membeli
sepatu baru harus diukur karena struktur kaki yang mungkin berubah. Hindari
pemakaian sepatu yang pada bagian jari kaki yang sempit, sepatu dengan hak tinggi,
sol yang keras dan tali diantara jari kaki. Sepatu yang digunakan harus nyaman,
sesuai dengan bentuk kaki dan terbuat dari bahan lembut dengan tempat tumit kaku,
bantalan dan fleksibilitas pada bola kaki, kotak jari kaki yang mendalam dan luas, dan
dukungan lengkungan yang baik. Disarankan untuk selalu memeriksa sepatu setiap
hari untuk memastikan tidak adanya benda asing dan daerah kasar yang dapat
menyebabkan cedera. Tekanan sepatu yang terlalu ketat atau longgar dapat
menyebabkan iritasi mekanis. Sepatu harus disimpan pada udara kering pada malam
hari untuk mencegah terjadinya penumpukan air yang dapat menyebabkan iritasi kulit
lebih lanjut.