Anda di halaman 1dari 14

Care Plan INFLUENZA

Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 96

3.3.1 Pendahuluan
Care plan adalah rencana strategis yang dibuat oleh apoteker dengan masukan serta
partisipasi pasien yang menggambarkan aktivitas dan tanggung jawab apoteker dan pasien,
dirancang untuk 1) menyelesaikan drug therapy problems; 2) mencapai tujuan terapi pasien
dan prescriber dengan baik; dan 3) mencegah potential drug therapy problems (WHO, 2006).

3.3.1.1 Input Terapi


Pada tanggal 20 November 2012 datang pasien bernama Ny. X dengan membawa resep
sebagai berikut:

dr. X Sp. A
SIP XYZ
Alamat praktik: Jl. Abc

Bangkalan, 20/11/ 2012

R/ Amoxsan 125 mg
Glucose q.s
m.f pulv d.t.d no xv
∫ 3 dd 1

R/ Tremenza 1/10 tab


Avil 2 mg
Romilar 3mg
Salbutamol 0,45 mg
Glucose q.s
m.f pulv d.t.d no xv
∫ 3 dd 1

R/ Sanmol 75mg
Glucose q.s
m.f pulv d.t.d no xv
∫ 3 dd 1

Pro : An. Mt
Umur : 4thn
Alamat : Bangkalan
Care Plan INFLUENZA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 96

3.3.1.2 Tujuan Terapi


Tujuan terapi yang ingin dicapai dalam pengobatan adalah mengurangi atau
menghilangkan gejala influenza seperti demam dan batuk yang diderita pasien dan
meningkatkan kekebalan pasien sehingga dapat sembuh dari influenza.
Data Pasien
Data penderita diperoleh dari hasil skrining resep sebagai berikut, dilakukan pemeriksaan
keabsahan dan kelengkapan resep yang meliputi:
1. Diperiksa dokter penulis resep :
Nama dokter : dr. X Sp. A.
Alamat praktik : Jl. Abc Bangkalan
SIP : ada
2. Diperiksa pasien penerima resep :
Nama pasien : Ny. X
Alamat : BC XX – Bangkalan
3. Kelengkapan resep :
Tempat dan tanggal penulisan resep : Bangkalan, 20 November 2012
Tanda tangan/paraf dokter : ada
Umur : 4 tahun (anak)
Jenis kelamin : Perempuan
Berat badan pasien : tidak dicantumkan
Tanda resep : ada
Nama obat dan jumlah yang diinginkan : ada
Kekuatan obat : ada, jelas
Aturan pakai : ada, jelas
Keputusan  Resep dapat dilayani
Dari hasil assesment diperoleh data bahwa :
Keluhan yang dikatakan ibu pasien antara lain demam 2 hari, batuk tidak berdahak,
pilek, kulit agak gatal-gatal, tenggorokan sakit dibuat menelan. Selama 2 hari sudah
diberi Proris (berisi Ibuprofen) 2 kali sehari 1 sendok teh dan sirup Stimuno namun
gejala tidak kunjung reda. Diagnosa dokter mengatakan pasien mengalami flu.
Care Plan INFLUENZA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 96

3.3.2 Assessment needs


3.3.2.1 Life Style Factor
Faktor keseharian dapat memicu timbulnya influenza, berikut merupakan langkah
untuk menghindari timbulnya influenza:
- Membiasakan selalu mencuci tangan dengan air dan sabun, dan diupayakan selalu dalam
kondisi kering setelah mencuci tangan. Tangan dapat dengan mudah terinfeksi virus
influenza walau hanya berjabat tangan dengan seseorang dengan permukaan kulit yang
terinfeksi;
- Bila mungkin, menghindari orang yang sedang menderita influenza
- Tutuplah mulut dan hidung dengan tisue bila bersin atau batuk, dan segera buang tisu
tersebut di tempat sampah.
- Bersihkan permukaan yang anda sentuh dengan disinfektan;
- Jangan menyentuh hidung, mulut, dan mata, karena dapat memberikan jalan virus
menginfeksi tubuh kita.

3.3.2.2 Disease Factor


A. Pengertian
Influenza adalah sebuah Infeksi Saluran Pernapasan Akut yang disebabkan karena
infeksi virus Influenza. Penyakit ini mempengaruhi saluran pernapasan atas dan bawah.
(Fauci et al., 2008)

B. Gejala
Gejala umum adalah peningkatan suhu secara cepat / demam, myalgia, sakit kepala,
malaise, batuk tak berdahak, sakit tenggorokan, dan rhinitis. Gejala lain pada anak adalah
mual, muntah, dan otitis media. (Dipiro, 2008)

C. Etiologi
Influenza Virus tipe A, B, dan C yang merupakan anggota dari famili
Orthomyxoviridae dan mempengaruhi banyak spesies termasuk manusia, babi, kuda, dan
burung. Influenza disebabkan oleh virus tipe A dan B. (Dipiro, 2008)
Care Plan INFLUENZA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 96

Influenza dapat ditularkan dari orang ke orang melalui droplet pernapasan orang yang
terinfeksi, seperti saat seseorang bersin atau batuk. Penularan juga dapat terjadi bila
seseorang menyentuh benda yang terkontaminasi sekret pernapasan dan menyentuh membran
mukus orang tersebut. (Dipiro, 2008)
Waktu Inkubasi Influenza antara 1-4 hari dengan rata-rata 2 hari. Tranmisi dapat terjadi
selama orang yang terinfeksi mengeluarkan virus dari organ respirasinya. Orang dewasa
dapat menginfeksi sejak sebelum gejala muncul hingga 15 hari setelah puncak penyakit,
sedangkan pada anak-anak dapat menginfeksi hingga 10 hari setelah puncak penyakit. Virus
dapat ditularkan selama berminggu-minggu hingga bulan pada orang dengan penyakit
immunocompromised parah. (Dipiro, 2008)

D. Patofisiologi
Hemagglutinin dan neuraminidase merupakan hal yang penting dalam virulensi, dan
merupakan target untuk menetralisir antibodi acuired immunity ke Influenza. Hemaglutinin
mengikat pada sel epitel respirasi sehingga mampu menginfeksi sel. Neuraminidase
memotong ikatan yang menahan virion baru pada permukaan dinding sel menyebabkan
penyebaran sel. (Gubareva et al., 2000)
Patogenesis Influenza pada manusia masih belum dipahami dengan baik. Tingkat
keparahan infeksi ditentukan oleh keseimbangan antara replikasi virus dengan respon imun
inang. Infeksi yang parah diduga merupakan hasil kekurangan mekanisme pertahanan tubuh
yang kurang untuk menghambat replikasi, dan overproduksi cytokines menyebabkan
kerusakan jaringan pada inang (Dipiro, 2008)

E. Terapi
Tujuan terapi Influenza adalah mengendalikan gejala, mencegah komplikasi,
mengurangi penurunan absen kerja atau sekolah, dan mencegah penyebaran infeksi.

E.1 Non Pharmacological Treatment


Influenza termasuk dalam self limiting desease, yaitu penyakit yang dapat diatasi oleh
sistem imun tubuh.Oleh karena itu pasien yang menderita Influenza harus istirahat/tidur
yang cukup dan tak banyak beraktivitas serta tetap berada di rumah untuk mencegah
penyebaran. Minum air yang banyak juga diperlukan. Untuk membantu meredakan
Care Plan INFLUENZA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 96

gejala batuk dan gangguan tenggorokan dapat menggunakan lozenges, teh hangat atau
sup. (Dipiro, 2008)

E.2 Pharmacological Treatment


a. Terapi Farmakologi untuk Influenza Kronis
a.1 Amantadine dan Rimantadine
Amantadine dan Rimantadine merupakan golongan adamantanes yang
memiliki aktivitas hanya terhadap virus Influenza tipe A H1N1 musiman.
Mekanismenya adalah memblok kanal ion M2, yang spesifik terhadap Virus
Influenza A, dan menghambat viral uncoating.
Dosis Amantadine pengobatan: DEWASA dan ANAK>10 tahun 100 mg
sehari selama 4-5hari. (Martin, 2009)
Dosis Rimantadine: DEWASA 200 mg sehari dalam dosis terbagi,
GERIATRI 100 mg sehari. (Sweetman, 2009)
Efek samping obat yang sering ditimbulkan: mual, muntah, nyeri perut, diare,
dan pusing. Pemakaian perlu diperhatikan.

a.2 Oseltamivir dan Zanamivir


Oseltamivir dan Zanamivir merupakan golongan inhibitor neuraminidase
yang memiliki aktivitas terhadap virus Influenza A dan B. Tanpa neuraminidase,
pelepasan virus dari sel yang terinfeksi tak dapat terjadi sehingga dapat mencegah
penyebarannya.
Dosis Oseltamivir pengobatan: DEWASA dan ANAK > 13 tahun, 75 mg
tiap 12 jam selama 5 hari. ANAK < 1 tahun 2mg/kg BB sehari 2 kali selama 5 hari.
ANAK 1-13 tahun, BB<15kg 30 mg tiap 12 jam, BB 15-23kg 45 mg tiap 12 jam,
BB 23-40kg 60 mg tiap 12 jam, BB>40kg sama dengan dosis dewasa. (Martin,
2009)
Dosis Zanamivir pengobatan: DEWASA dan ANAK>5 tahun 10 mg sehari 2
kali selama 5 hari. (Martin, 2009)
Care Plan INFLUENZA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 96

Efek samping obat yang sering ditimbulkan: mual, muntah, nyeri perut, diare,
dan sakit kepala. Pemakaian perlu diperhatikan.

Tabel 3.1 Penggunaan Antiviral pada pasien Influenza. (WHO, 2010)

b. Terapi Farmakologi untuk pengobatan gejala


b.1 Antipiretik dan Analgesik
Obat yang dapat digunakan untuk mengatasi keluhan demam yaitu:
Parasetamol/Asetaminofen atau ibuprofen untuk menurunkan demam serta
mengurangi rasa sakit dan Asetosal (Aspirin) untuk mengurangi rasa sakit,
menurunkan demam, antiradang.
b.2 Antitusif/ekspektoran
Antitusif atau obat penekan batuk yang umumnya digunakan adalah
dekstrometorfan HBr (DMP HBr) penekan batuk cukup kuat kecuali untuk batuk
akut yang berat. Serta Difenhidramin HCl untuk penekan batuk dan mempunyai
efek antihistamin (antialergi).
b.3 Antihistamin.
Antihistamin dibagi menjadi 2 golongan, yaitu antihistamin 1(AH1) dan
antihistamin 2(AH2). AH1 mencegah kontraksi otot polos bronkus dan
menghambat vasodilatasi yang diinduksi oleh histamin dan peningkatan
Care Plan INFLUENZA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 96

permeabilitas kapiler dengan cara memblok reseptor H1 yang berada di otot polos
bronkus dan usus sehingga AH1 berguna untuk mengobati alergi. AH1 generasi 1
(klorfeniramin, siproheptadin, dimenhidrinat, prometazin, dan lain-lain) cukup
larut dalam lemak sehingga dapat menembus sawar darah otak, dan menyebabkan
sedasi. Efek sedatif bisa menguntungkan pada pasien yang sulit tidur karena gejala
alergi. Sedangkan AH generasi 2 (astemizol, feksofenadin, dan loratadin) kurang
dapat larut dalam lemak sehingga tidak dapat menembus sawar darah otak dan
tidak menyebabkan sedasi.
b.4 Dekongestan Oral.
Dekongestan merupakan zat simpatomimetik yang bekerja pada reseptor
adrenergik pada mukosa hidung yang dapat menyebabkan vasokontriksi,
memperbaiki mukosa yang membengkak, dan memperbaiki ventilasi. Dekongestan
bekerja dengan baik dalam kombinasi dengan antihistamin jika kongesti hidung
menjadi salah satu gambaran klinik. Obat dekongestan oral antara lain:
Fenilpropanolamin, Fenilefrin, Pseudoefedrin dan Efedrin. Obat tersebut pada
umumnya merupakan salah satu komponen dalam obat flu.

F. Pencegahan
Cara tebaik untuk menghindari kematian karena Influenza adalah dengan melakukan
vaksinasi. Pengendalian infeksi seperti higienitas tangan, etika pernapasan (seperti pada
orang batuk harus menutupi), menghindari kontak, juga penting untuk mencegah penyebaran.
Alternatif lain adalah menggunakan kemoprofilaksis.

3.3.2.3 Drug Factor


Pada resep tersebut tertulis nama obat Amoxsan®, Salbutamol, Tremenza®, Avil® ,
Sanmol®, dan Romilar®
a. Amoxsan®
- Bahan aktif : Amoksisilin 500 mg per tablet (125 mg per bungkus puyer)
- Indikasi : Untuk infeksi yang disebabkan bakteri gram negatif dan gram
positif sepeti faringitis, ISPA, infeksi saluran kencing, dll.
- Farmakologi : Bersifat bakteriostatik dengan cara penghambatan pada
pembentukan dinding sel bakteri, terikat secara reversibel dalam
lipopolisakarida.
Care Plan INFLUENZA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 96

- Dosis : Dewasa dosis rata-rata : Hingga 1500 mg/hari dalam 3 dosis


terbagi. Pada infeksi berat, fase akut dapat ditingkatkan hingga
2000 mg per hari. Dosis anak-anak 25 mg/kg per hari untuk
anak dengan berat badan kurang dari 40 kg Lama pengobatan
biasanya : 7-10 hari.
- Efek samping : Efek hipersensitivitas seperti rash, urtikaria, kolitis, dll.
- Kontra indikasi : Pasien alergi terhadap antibiotik golongan penisilin dan
turunanya.
- Perhatian : Monitoring terhadap kemungkinan alergi pada pasien terutama
pasien anak.
-
b. Romilar®
- Bahan aktif : Dekstrometorphan 15 mg per tablet (3 mg per bungkus puyer)
- Indikasi : Pasien dengan batuk tak berdahak.
- Farmakologi : Dektrometorphan bekerja sentral pada pusat batuk di medula.
Walau struktur mirip dengan morfin, tetapi tidak memiliki
kemampuan analgesik, dan sedikit sedatif.
- Dosis : Dosis anak 2-6 tahun, 2,5-5mg setiap 4 jam, atau 7,5 mg setiap
6-8 jam, maksimum 30 mg dalam 24 jam. Dosis anak 6-12
tahun, 5-10 mg setiap 4 jam atau 15 mg setiap 6-8 jam,
maksimum 60 mg dalam 24 jam.
- Efek samping : Efek samping Dekstrometorphan jarang terjadi dan termasuk
pusing dan gangguan gastrointestinal.
- Kontra indikasi : Pasien yang mengalami serangan Asma atau mempunyai
riwayat asma.
- Perhatian : Dekstrometorphan sebaiknya tidak diberikan pada pasien
dengan resiko gangguan pernapasan.
-
c. Tremenza®
- Bahan aktif : Pseudoefedrin HCl 60 mg per tablet (6 mg per bungkus puyer),
Triprolidin 2,5 mg per tablet (0,25 mg per bungkus puyer).
- Indikasi : Meringankan gejala flu karena alergi pada saluran nafas atas
yang memerlukan dekongestan dan antihistamin.
Care Plan INFLUENZA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 96

- Farmakologi : Pseudoefedrin merupakan direct and indirect acting


simpatomimetis dikombinasi dengan triprolidin yang
merupakan antihistamin sedating dengan efek antimuskarinik
dan sedatif.
- Dosis : 3-4xsehari, dewasa dan anak 12 th atau lebih: 1 tablet atau 2 sdt;
anak 6-12 th: 1/2 tablet atau 1 sdt; 2-5 th: 1/2 sdt. Seluruh dosis
diberikan 3-4x / hari.
- Efek samping : Mulut, hidung, tenggorokan kering. sedasi, pusing, gangguan
koordinasi, tremor, insomnia, halusinasi, tinitus.
- Kontra indikasi : Penyakit saluran pernapasan bawah, termasuk asma, galukoma,
hipertensi, diabetes, penyakit arteri koroner, terapi MOAI
- Perhatian : Ibu hamil & menyusui. anak <2 tahun. Mempengaruhi
kemampuan mengemudi dan mengoperasikan mesin.
-
d. Avil®
- Bahan aktif : Feniramin hidrogen maleat 25 mg per tablet (2 mg per bungkus
puyer).
- Indikasi : Alergi seperti hay fever dengan bersin, gatal, inflamasi
konjungtiva,urtikaria, dan pruritis.
- Farmakologi : Menghambat reseptor histamin-1 secara nonspesifik.
- Dosis : Dewasa dan anak-anak kurang dari 12 tahun 12,5 mg hingga 25
mg digunakan 2 hingga 3 kali sehari.
- Efek samping : Mulut kering, retensi urin, palpitasi, gangguan pencernaan.
- Kontra indikasi : Pasien hipersensitivitas, hipertrofi prostat.
- Perhatian : Dapat menyebabkan mengantuk, dialarang dikonsumsi bersama
alkohol
e. Salbutamol
- Bahan aktif : Salbutamol (0,45 mg per bungkus puyer)
- Indikasi : Asma bronkial, bronkitis asmastis, dan emfisema pulmonum.
- Farmakologi : Sebagai bronkodilator bekerja dengan cara mengagonis reseptor
beta adregenik nonspesifik.
- Dosis : Dosis dewasa dan anak-anak diatas 12 tahun 2-4 mg per hari,
anak-anak dibawah 12 tahun 0,5 mg hingga 2 mg per hari
Care Plan INFLUENZA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 96

- Efek samping : Nausea, sakit kepala, palpitasi, vasodilatasi periferal, takikardi,


dan hipokalemia.
- Kontra indikasi : Hipersensitif terhadap bahan obat.
- Perhatian : Hati-hati pada pemberian pada pasien tirotoksikosis, wanita
hamil dan menyusui, hindari penggunaan pada pasien
hipertensi.
f. Sanmol®
- Bahan aktif : Parasetamol 500 mg per tablet (75 mg per bungkus puyer)
- Indikasi : Rasa sakit termasuk sakit kepala, gigi, demam disertai
influenza.
- Farmakologi : Bekerja merubah set poin suhu tubuh di hipothalamus,
menghambat secara lemah siklooksigenase nonspesifik.
- Dosis : Dewasa hingga 2 gram per hari terbagi dalam 3-4 kali dosis,
anak-anak 1-12 tahun hingga 300 mg per hari terbagi dalam 3-4
kali dosis.
- Efek samping : Penggunaan dosis besar dan jangka penjang menyebabkan
toksisitas hepar.
- Kontra indikasi : Pasien dengan gangguan hepar kronik atau akut, dengan
gangguan fungsi ginjal.
- Perhatian : Dosis pada anak-anak

3.3.2.4 Identify Drug Problems


Apoteker menyusun suatu care plan untuk menjamin bahwa pasien dapat
menggunakan obat dengan benar sehingga kualitas hidupnya dapat meningkat. Dari
pengobatan yang diterima pasien ditemukan adanya DTP. Berikut adalah tabel yang
menunjukkan adanya DTP pada pengobatan pasien:
Care Plan INFLUENZA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 96

Tabel 3.2 Drug Therapy Problems pada pengobatan pasien


Drug Therapy Monitoring Penggunaan Obat Rencana Tindakan Profesi
Problem (DTP) (Mx) (AX)
Penggunaan obat Menginformasikan kepada Setelah 1hari, menelepon pasien
pasien penggunaan obat, untuk untuk menanyakan penggunaan
puyer Amoxsan® 3 kali sehari 1 obat, bila kurang tepat, beri KIE
bungkus (selisih 8 jam) hingga lagi.
habis, puyer Avil®, Romilar®,
Salbutamol dan Tremenza®
diminum sehari 3 kali 1 bungkus
untuk batuk dan pilek, puyer
Sanmol® diberikan sehari 3 kali
1 bungkus untuk demam

Efek Samping Obat Menginformasikan kepada Setelah 1 hari, menelepon


pasien bahwa obat dapat pasien, menanyakan tentang
menyebabkan rasa kantuk kondisi pasien, dan bila reaksi
sehingga disarankan untuk yang muncul dirasa ada yang
diminum saat akan beristirahat. cukup mengganggu pasien,
disarankan segera menghubungi
dokter.

Kepatuhan pasien Menginformasikan kepada Setelah 2 hari, menelepon pasien


pasien bahwa kepatuhan dalam untuk menanyakan jumlah obat
menjalani terapi obat yang yang tersisa, dan menanyakan
diberikan merupakan faktor perkembangan kondisi kesehatan
penting yang menentukan pasien serta diberikan lembar
keberhasilan terapi yang informasi.
diberikan. Terutama untuk resep
antibiotik, harus diminum
sampai habis.

Kemungkinan Information sheet, KIE Menginformasikan kepada


penyakit tak pasien bahwa apabila penyakit
tersembuhkan belum sembuh setelah obat
dihabiskan atau gejala semakin
parah dan tidak berangsur
membaik segera kembali ke
dokter.

Interaksi obat Menanyakan kepada pasien Bila ada obat-obatan yang rutin
adakah obat lain yang rutin dikonsumsi dan berinteraksi
dikonsumsi. Proris bisa dengan kompenen dalam obat
dihentikan namun Stimuno bisa yang dapat menurunkan
dilanjutkan. Menjelaskan ada 2 efektivitasnya, maka apoteker
obat antihistamin yang menghubungi dokter untuk
menyebabkan mengantuk menayakan solusi, apakah dosis
Care Plan INFLUENZA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 96

(feniramin maleat dan obat tersebut dinaikkan atau


triprolidin). solusi lain.

3.3.2.5 Information
a. Etiket Obat
 Puyer Amoxsan
APOTEK “ Aviccena”
Jl. Raya Menganti Wiyung, Surabaya
Telp. (031) 5990101
Apoteker: Hargus H.B., S.Farm., Apt.
No. xxx Tgl. 20 November 2012
An. Mt
Tablet
3 x Sehari 1 Kapsul
Sesudah / sebelum makan dihabiskan (15) Bungkus

 Puyer Avil, Romilar, Salbutamol, Tremenza


APOTEK “ Aviccena”
Jl. Raya Menganti Wiyung, Surabaya
Telp. (031) 5990101
Apoteker: Hargus H.B., S.Farm., Apt.
No. xxx Tgl. 20 November 2012
An. Mt
Tablet
3 x Sehari 1 Kapsul
Sesudah/ Sebelum makan batuk/pilek (15) Bungkus

 Puyer Sanmol
APOTEK “ Aviccena”
Jl. Raya Menganti Wiyung, Surabaya
Telp. (031) 5990101
Apoteker: Hargus H.B., S.Farm., Apt.
No. xxx Tgl. 20 November 2012
An. Mt
Tablet
3 x Sehari 1 Kapsul
Sesudah/ Sebelum makan bila demam (15) Bungkus

b. Informasi lisan
Hal-hal yang perlu dijelaskan pada pasien saat menyerahkan obat yaitu :
1. Aturan pakai : Puyer Amoxsan® diminum sehari 3 kali 1 bungkus sebelum makan
rentang 8 jam hingga habis, jangan dicampur dengan susu. Puyer Avil®, Romilar®,
Salbutamol, Tremenza® diminum sehari 3 kali 1 bungkus untuk batuk pilek, bila batuk
Care Plan INFLUENZA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 96

pilek sudah reda boleh dihentikan. Puyer Sanmol® diminum sehari 3 kali 1 bungkus
bila demam.

2. Obat disimpan di tempat yang kering, terlindung dari cahaya matahari dan pada suhu
kamar (di bawah 27oC).
3. Penggunaan Proris bisa dihentikan, namun penggunaan Stimuno dapat dilanjutkan
(digunakan bersama obat dokter)
4. Diedukasi agar pasien istirahat yang banyak, mengurangi aktivitas, dan banyak
minum air putih. Menghindari mengkonsumsi makanan dan minuman yang memicu
kekambuhan gejala. Juga beritahukan pada pasien agar selalu menjaga kebersihan
(seperti: cuci tangan sebelum makan dengan sabun) untuk mencegah infeksi bakteri
kembali.
5. Informasi tertulis
APOTEK “Aviccena”
Jl. Semolowaru Tengah I No. 3B Surabaya
Telp. (031) 5990101
Apoteker : Hargus H.B, S. Farm., Apt.

LEMBAR INFORMASI

Nama : An. Mt
Umur : 4 tahun
Tgl : 20 November 2012
Dokter : dr. X, Sp.A
No. Resep: xxx
1. Puyer Amoxsan® diminum sehari 3 kali 1 bungkus sebelum makan
rentang 8 jam hingga habis, jangan dicampur dengan susu.
2. Puyer Avil®, Romilar®, Salbutamol, Tremenza® diminum sehari 3
kali 1 bungkus untuk batuk pilek, bila batuk pilek sudah reda boleh
dihentikan. Obat dapat menyebaban mengantuk.
3. Puyer Sanmol® diminum sehari 3 kali 1 bungkus bila demam.
4. Pemberian Proris dihentikan, Stimuno boleh dilanjut.
5. Obat disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat sejuk,
terlindung dari cahaya.
6. Istirahat yang cukup, dan banyak minum air putih, selalu jaga
kebersihan.
7. Periksakan diri anda ke dokter apabila setelah tiga hari
mengkonsumsi obat gejala tidak membaik.
Care Plan INFLUENZA
Program Pendidikan Profesi Apoteker FFUA Periode 96

3.3.3 Simpulan dan saran care plan


a. Simpulan
- Dalam membangun suatu care plan untuk penderita Influenza selain data dari resep
yang didapatkan juga perlu dilakukan assessment. Dari assessment dapat dianalisis
kemungkinan DRP aktual dan potensialnya yang berguna dalam membangun naskah
care plan yang lebih sesuai untuk kondisi pasien .
- Dalam membangun suatu naskah care plan untuk pasien dengan Influenza maka
dibutuhkan pengetahuan yang baik tentang penyakit Influenza itu sendiri (etiologi-
patofisiologi), terapi farmakologi maupun non-farmakologi terkait Influenza, serta
kondisi pasien. Sehingga care plan yang dibuat bersifat individual, sesuai untuk
kondisi pasien tersebut.

b. Saran
Agar implementasi care plan di apotek dapat berjalan dengan baik, maka hal mendasar
yang harus dilakukan adalah membangun suatu niat atau motivasi dari apoteker untuk mau
mengimplementasikan care plan di apoteknya. Dengan adanya care plan maka kemungkinan
tercapainya outcome terapi yang optimal bukannya hal yang tidak mungkin untuk
diwujudkan.