Anda di halaman 1dari 42

Program Kerja Kecamatan Rasa Kelurahan

Oleh Zen Isa Kresna – 041711233170

Pengalaman ini ditulis berdasarkan opini saya pribadi, tanpa maksud


merendahkan kelompok lain. Bismillah, perkenalkan nama saya zen, saya
mahasiswa Universitas Airlangga yang sedang melaksanakan kuliah kerja nyata ke
61 di Kabupaten Jember Kecamatan Sumbersari Kelurahan Wirolegi. Terdapat 7
kelurahan di Kecamatan Sumbersari berarti terdapat 7 kelompok. Saya menjabat
menjadi koordinator kelurahan alias ketua kelompok kuliah kerja nyata di Kelurahan
Wirolegi. Kelompok ini terdiri dari 10 anggota termasuk saya. Seperti yang diketahui
bahwa setiap kelompok kelurahan pada awalnya memiliki prorgam kerja tingkat
kelurahan masing-masing yang diutamakan. Permasalah muncul saat kami, 7
kelompok diberi tugas untuk mengadakan program kerja tingkat kecamatan. Dimana
membuat beberapa program kerja tingkat kelurahan terjadi perubahan tanggal
sebagai imbas dari adanya program kerja tingkat kecamatan. Kebetulan koordinator
kecamatan (korcam) berasal dari anggota kelompok saya. Tentu ini membuat saya
terpaksa harus meringankan tugas dia pada program kerja kelurahan agar dapat
berkerja secara maksimal mengkoordinir program kerja tingkat kecamatan.

Rapat pertama dilaksanakan pada minggu pertama setelah kami diterjunkan.


Dari percakapan untuk menentukan rapat pun menunjukan kurang rasanya
ketertarikan atas program kerja yang diberikan. Setelah di tentukan secara cepat,
ditentukannlah waktu dan lokasi yang dianggap cukup adil dari semua lokasi 7
kelompok tersebut yaitu yang berdekatan dengan kecamatan. Jam sudah
menunjukan waktu yang sudah disepakati, tetapi kebiasaan terlambat sudah
mendarah daging. Hanya 1-2 kelompok yang datang tepat waktu, termasuk
kelompok kami. Pembahasan cukup menyita waktu dan tenaga mengingat diadakan
pada malam hari dan program kerja ini merupakan amanah dari atas. Dari rapat
tersebut menghasilkan 2 kesimpulan, yang pertama adalah tanggal pelaksanaan
yaitu sekitar tanggal 19 januari 2020. Dengan 3 opsi kegiatan yaitu senam, cek
kesehatan, dan kerja bakti serempak. Setelah rapat penentuan program kerja maka
besoknya kami menghadap kecamatan untuk mengusulkan program kerja ini.

1
Rapat pengajuan dimulai direncanakan pukul 12 siang dan saya secara
pribadi meminta teman teman lain untuk datang lebih awal, dan benar saja
kebiaasaan telat sudah menjadi kebiasaan. Rapat pun dimulai, pengajuan program
kerja sudah disampaikan, seperti tanggal dan kegiatan utama yang akan diadakan.
Tetapi jawaban kecamatan tidak sesuai ekspetasi kami, pihak kecamatan meminta
untuk menggabungkan semua opsi. Yap! betul sekali, senam, cek kesehatan, dan
kerja bakti dijadikan satu pada lokasi yang berdekan. Tentu ini membuat kami malah
bingung, selain banyaknya susunan acara dan tentunya tidak adanya bantuan dana
dari kecamatan maupun kampus. Tapi hal tersebut tidak menjadikan kami mudah
untuk menyerah. Untungnya untuk opsi kesehatan awalnya merupakan program
kerja kelompok Kelurahan Tegalgede. Jadi mereka paham petinggi-petinggi siapa
yang harus di hubungi untuk koordinasi. Setelah rapat dengan kecamatan kamipun
bergegas ke puskesmas pusat untuk bertanya mengenai saran cek kesehatan dan
pejabat yang harus dihubungi mengenai kegiatan senam, karena senam juga
merupakan kegiatan rutin yang digilir tiap kelurahan di kecamatan. Tentu saja yang
berangkat dan menunggu selama 1 jam untuk bertemu perwakilan puskesmas
merupakan kelompok dari Wirolegi dan Tegalgede.

Setelah mendapatkan rekomendasi dari pihak puskesmas, maka saya dan


korcam segera menghubungi penanggung jawab bagian senam dari pihak
puskesmas dan memepersiapkan segala yang diperlukan untuk berlangsungnya
program kerja. Selang beberapa hari, tepatnya tanggal 7 januari, saya dan korcam
dipanggil pak lurah untuk memberitahukan suatu informasi. Didapatkan bahwa pihak
kecamatan meminta acara kami digabungkan dengan acara “tanggap bencana” dari
Polsek, Danramil, dan BNPB dan meminta acara kami mau tidak mau dimajukan
menjadi tanggal 10. Tentu hal ini membuat kami cukup kurang percaya diri karena
persiapan yang belum matang mengingat acara dilaksanakan 3 hari lagi. Terjadi
perdebatan dan masalah baru di grup para koordinator kelurahan (korlel) mengingat
pada tanggal tesebut setiap kelompok kelurahan sudah memiliki program kerja
masing-masing. Disini saya menyakinkan mereka bahwasannya ini merupakan
perintah yang lebih atas (kecamatan) maka agenda dibawahnya (kelurahan) pasti
akan mengikutinya. Dan rapat koordinasi tanggap bencana dilakukan besok pada
tanggal 8. Tentu kami para korlap harus hadir untuk menyusun program kerja tingkat
kecamatan agar selaras dengan acara tanggap bencana.

2
Rapat koordinasi sedang dilaksanakan, kami hanya mendengarkan, setelah
para petinggi menyampaikan inti acara tanggap bencana dimulailah rapat koordinasi
sendiri dari kami untuk menyelaraskan program kerja tingkat kecamatan kami.
Tetapi sebelum kami memulai rapat koordinasi program tingkat kecamatan, salah
satu kelompok mempertanyakan kenapa mereka tidak diberitahukan bahwa opsi
kerja bakti dihapuskan tanpa persetujuan mereka, padahal pada malam sebelumnya
sudah saya beritau kepada ketua kelompoknya bahwasannya kerja bakti dihapuskan
karena sudah termasuk acara dari tanggap bencana, jadi kami berfokus pada cek
kesehatan dan senam. Tetapi hingga saat itu kelompok tersebut tetap menyalahkan
korcam yang tidak menginfokan penghapusan kerja bakti dan mengaggap saya dan
korcam mengambil keputusan sepihak.

Rapat koordinasipun dimulai, dibantu dengan ibu seketraris kelurahan, kami


dikoordinasi untuk megurutkan acara dan dibantu perihal konsumsi, semua sudah
dijelaskan dan mengikuti budget kami. Dari hasil tersebut disimpuklan program kerja
tingkat kecamatan adalah senam pagi dan cek kesehatan ditambah donor darah bila
mampu. Setelah itu kami memisahkan diri dan koordinasi sendiri untuk mengirimkan
jumlah anggota yang wajib hadir. Serta berapa jumlah lansia yang akan dibawa
setiap kelurahan dan waktu pembayaran urunan tiap kelurahan. Setelah itu korcam
bergegas ke PMI untuk menanyakan kesanggupan mereka pada tanggal 10 yang
sebelumnya direncakan tanggal 17. Dan untuk cek kesahatan sudah diurus
kelompok Kelurahan Tegalgede. Dan saya mempesiapkan untuk senamnya.

Pada tanggal 9 kami ke kelurahan untuk menyusun meja dan kursi, karena ini
acara bersama, seharusmya semua kelompok ikut untuk menyusun meja dan kursi
bahkan menyapu pendopo kelurhan, tetapi mungkin karena rasa memiliki yang
kurang akan acara, maka yang hadir hanya 3 kelompok dan didominasi oleh
kelompok dari Wirolegi dan Tegalgede, walapun sebagian besar tenaga yang
mengangkat meja dan kursi berasal dari saya dan korcam. Pada malam harinya pun
dengan kerendahan hati dari kelompok yang tidak bisa hadir untuk membantu
menyusun meja dan kursi, memutuskan untuk datang ke basecamp Wirolegi untuk
memperjelas mekanisme acara besok. Yaitu dari kelompok Sumbersari dan
Karangrejo. Tidak lupa saya dan korcam ikut menyusun panggung pada malam hari
di lapangan wirolegi selain itu saya membagi jobdesc tiap anggota yang akan
dikirimkan setiap kelompok pada acara besok.

3
Hari pelaksanaan program kerja tiba, waktu yang dijanjikan untuk hadir
adalah pukul 05.30 untuk mempersiapkan, membersihkan, dan menyusun meja dan
kursi. Dan benar saja hanya ada 2-3 kelompok yang hadir pada tepat waktu, dan
itupun tidak segera membantu unutk mempersiapkan dan menunggu perintah.
Bahkan mereka pun tidak memiliki inisiatif untuk menyapu pendopo yang pada
akhirnya kelompok Wirolegi yang harus berkerja ekstra. Acara yang ditargetkan
mulai pukul 06.30 terpaksa mundur hingga pukul 07.00. Jadi karena pembagian
kerja sudah jelas, maka saat senam dimulai maka anggota yang kebagian cek
kesehatan bisa mempersiapkan dan membagi tugas karena cek kesehatan akan
dimulai sesudah senam. Senam pun dimulai dengan sambutan dari saya sebagai
ketua pelaksana dan pak camat yang hadir pada acara pembukaan. Senam pun
dimulai, tetapi banyak anggota kelompok yang seharusnya ikut senam malah berdiri
dipinggir sambil menonton kami. Serta ada beberapa anggota yang meninggalkan
lapangan sebelum senam berakhir, tentu ini sangat mengecewakan mengingat ini
“acara bersama”. Senam pun berakhir dan cek kesehatan dibuka, warga sangat
antusias dibantu oleh ibu-ibu PKK Kelurahan Wirolegi untuk mendata warganya.

Pada pertengahan acara cek kesehatan, terdapat masalah mengenai


konsum, kelompok lain mempermasalahkan bahaw konsumsi yang tidak bebentuk
satuan atau kerdus, tetapi yang berbentuk layaknya sajian katering (polo pendem).
Mereka menggap bahwa konsum tersebut tidak layak dan mereka meminta sisa
uang untuk segera dibelikan kue kering. Padahal saat rapat dengan ibu seketaris
kelurahan, sudah dijelaskan mengenai wujud konsumsinya, tetapi karena mereka
tidak mendengarkan dengan baik, terjadi miss komunikasi di tengah acara. Hingga
cek kesehatan telah selesai kami pun memutuskan untuk mengakhiri program kerja
kami, tentu setelah program kerja kami selesai maka segala peralatan harus
dikembalikan ke tempatnya seperti meja dan kursi, serta alat kesehatan yang harus
dikembalikan kepada puskesmas. Tapi sangat disayangkan, sudah banyak
kelompok yang pulang dan tidak bertanggung jawab mengembalikan meja dan kursi
kedalam kelurahan bahkan menyapu pendopo. Dan tentu saja kelompok dari
Wirolegi yang harus berkerja ekstra kembali, walapun saat membereskan meja dan
kursi terdapat mahasiswa dari kelompok yang hanya mengamati dan tidak peduli
untuk memantu kami. Tentu itu membuat jengkel dan tentunya kecewa karea

4
mahasiswa tersebut hobinya protes dan mengongfrontasi pendapat saat rapat tetapi
tidak mau berkerja.

Itulah mengapa saya memberi judul cerita ini adalah “Program Kerja
Kecamatan Rasa Kelurahan” karena dari awal hingga akhir hanya 1-2 kelompok
yang berkerja, terutama kelompok saya (Wirolegi), saya tau kami menjadi tuan
rumah, tetapi bukankah ini acara bersama? Seharusnya dikerjakan bersama dengan
rasa memiliki yang tinggi. Maka dari itu saya ucapkan terimakasih terhadap
kelompok yang mau dan sudah berkerja keras atas terlaksanakannya program kerja
tingkat kecamatan ini. Tentunya untuk anggota saya yang mau mengeluarkan
segenap tenaga yang dimiliki, memiliki inisiatif yang tinggi untuk keberlangsungan
acara yang katanya “ bersama”.

5
Kuliah-Kerja-Nge-proker

Oleh Nur Salsabila Sandy - 151610383088

Dunia perkuliahan memang berwarna. Kehidupan kampus yang umumnya


sudah sangat rumit. Materi,tugas,ujian yang menghantui mahasiswa sehari-hari
ternyata belum bisa menjadi patokan keberhasilan akademik tiap mahasiswa.
Dibutuhkan sebuah program untuk mengasah skill yang telah dimiliki. Kuliah Kerja
Nyata atau yang biasa kita sebut KKN merupakah salah satu dari program tersebut.
Dalam program KKN mahasiswa diharuskan mengaplikasikan teori yang mereka
dapatkan saat perkulihan kepada masyarakat. Terdapat beberapa jenis KKN yang
ditawarkan oleh Universitas Airlangga,tempat dimana saya nur salsabila sandy
menimba ilmu. Jenis KKN yang dimaksudkan seperti KKN-BV(Back to Village),KKN
LN(Luar Negri),KKN Citarum-harum dan KKN-BBM(Belajar Bersama Masyarakat).
Mahasiswa yang berniat melaksanakan KKN dapat memilih salah satu dari pilihan
diatas,sesuai minat dan passion tiap individu.

Saya sendiri sebagai mahasiswa semester tua yang harus menjalani KKN
memutuskan untuk memilih KKN-BBM(Belajar-Bersama-Masyarakat). Harapan saya
saat itu mendapatkan penempatan di Surabaya. Karena saya tidak pernah merantau
atau merasakan berpergian jauh dari rumah. Jika ingin begitu maka orangtua harus
mengawal dan minimal mengantongi restu mereka. Klasik memang,tapi itulah suka
duka menjadi anak perempuan satu-satunya. Pada hari pengumuman pelaksanaan
dan penempatan KKN,saya membuka cybercampus dan ternyata kenyataannya
mengagetkan bung. Jember menjadi tempat dimana saya akan mengabdi selama
kurang lebih satu bulan dengan jangka waktu 28 Desember-23 Januari 2020.

Saat iu muka saya murung,merasa kesal karena mendapatkan tempat yang


jauh dari kehidupan rumah. Dan kemungkinan akan susah untuk menyelesaikan apa
yang harusnya diselesaikan oleh mahasiswa semester tua ini. Sedangkan tempat
tinggal saya,kabupaten Gresik tercinta menjadi salah satu tempat KKN-BBM ke-61.
Sungguh rasanya saya ingin bertukar tempat dengan teman yang mendapatkan
Gresik sebagai tempat KKN mereka. Namun tak ada satupun dari mereka yang
dengan ikhlas bertukar tempat ke Jember. Mereka bilang “nggamau deh sal jauh
banget ke Jember”,”No sal thankyou aku mau deket aja”,”aku udah merasakan jauh
di Jember waktu pkl. So sorry”,dan alasan blablabla lainnya.

6
Lantas dengan bijak orangtua saya meridhai untuk pergi mengabdi ke
Jember. Bukan hanya meminta restu mereka,saya juga mengunjungi saudara-
saudara terdekat untuk berpamitan. Dan respon mereka semua sama,”loh kok jauh
di Jember?”. Dasar memang anak perempuan satu ini tidak pernah jauh dari rumah
ternyamannya. 30 November 2019,tiba saatnya para peserta KKN mengikuti
pembekalan. Pada saat itulah saya bertemu teman-teman sekelompok yang
nantinya akan hidup bersama selama satu bulan kedepan. Teman kelompok saya
berasal dari fakultas yang berbeda-beda. Ada yang dari fakultas ekonomi
bisnis,fakultas kedokteran hewa,fakultas ilmu social politik,fakultas sains teknologi
dan fakultas ilmu budaya.

Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa angkatan 2017. Hanya saya dan
ryan mahasiswa fakultas sains dan teknologi yang mahasiswa angkatan 2016.
Setelah pembekalan,kami memutuskan untuk berkumpul mendiskusikan tentang
susunan organisasi dalam kelompok KKN dan survey ke tempat KKN yaitu
Kelurahan Wirolegi. Setelah didiskusikan maka didapatkan kesepakatan saya
menjadi sekretaris. Artinya,saya harus menyusun proposal kegiatan. Di sisi lain saya
masih menjalani masa magang di RSU Haji dengan pembagian shift pagi dan sore.
Bagaimanapun saya tetap harus bertanggungjawab atas amanat tersebut.

Setelah melaksanakan rapat berkali-kali maka proposal telah tersusun


dengan penjelasan program-program kerja yang akan kami laksanakan. Menurut
pak bambang sumaryono,drg selaku dosen pembina pembangunan desa. Program
kerja yang kami cantumkan bisa lebih maksimal jika pada saat survey kami benar-
benar mencari data permasalahan yang ada di Kelurahan Wirolegi. Sehingga beliau
menyarankan pada satu minggu pertama KKN kami melakukan survey kedua yang
lebih mendalam. Tujuannya agar mendapat data yang sesuai untuk penyusunan
program kerja.

Waktu yang ditunggu tiba,Sabtu 28 Desember 2019. Dinginnya udara pagi


seperti tidak menghalangi saya untuk berangkat KKN ke Kabupaten Jember.
Dengan membawa banyak barang berharga yang dipacking dengan rapi di koper
dan tas. Dan juga tak lupa membawa bantal dan selimut. Karena tanpa selimut saya
akan sulit tertidur. Diawali dengan acara upacara pelepasan mahasiswa KKN-BBM-
61 yang wajib dihadiri seluruh peserta dan diakhiri dengan keberangkatan. Bis yang

7
nyaman menjadi akomodasi kami menuju tempat penerjunan KKN. Separuh
perjalanan saya tertidur pulas karena harus bangun pagi-pagi untuk upacara
pelepasan sebelumnya. Sisanya menikmati pemandangan melalui jendela bis.

4 jam berlalu,sampailah kami semua di Kecamatan Sumbersari. Disana kami


disambut oleh perangkat Kecamatan dengan diadakannya acara penyambutan
KKN-BBM-61. Kemudian dilanjutkan perjalanan menuju rumah penginapan di
daerah Kaliwining. Dimana kita akan mengindap disalah satu ibu kader posyandu
yang bernama Ibu Hanafi. Perjalanan kami tempuh menggunakan grab kurang lebih
15 menit. Karena memang daerah KKN kami masih dekat dengan pusat kota.
Sesampainya di rumah Ibu Hanafi,kami disambut sangat baik dengan suguhan
donat dan the hangat. Selain itu kami juga mendapatkan fasilitas yang memuaskan
yaitu akses wifi. Tak seperti yang dibayangkan dalam otak saya,gambaran KKN di
pelosok desa yang susah sinyal. Sangat bersyukur masih dipermudah segala urusan
kami oleh Allah SWT.

Hari pertama kami disini dibuka dengan obrolan santai. Serunya waktu
pertama kali mandi kami menggunakan randomizer untuk mengacak urutan mandi.
Seminggu awal KKN kami pergunakan untuk berkunjung dan berkenalan dengan
warga sekitar,bapak RW dan RT. Semua orang yang terlibat sangat welcome. Pada
hari Selasa,31 Desember 2019 kami bertemu dengan bapak Lurah Wirolegi,bapak
Ir. Arief Dwiyantono,M.si. Tidak hanya bertemu kami juga memaparkan program
kerja serta meminta saran/masukan mengenai program kerja kami. Berhubungan
dengan program gerakan PHBS dan ayo belajar yang target sasaran utamanya
adalah siswa-siswi SD. Beliau menyarankan SDN 4 dan 5 Wirolegi sebagai tempat
pelaksanaan program tersebut. Tidak hanya itu,beliau juga menyarankan program
kampong anak gemar mengaji dapat dilaksanakan di daerah itu pula. Namun
dengan berat hati dan ucapan permintaan maaf kami terpaksa tidak
melaksanakannya. Karena kendaraan yang kami bawa sangat minim untuk
membawa seluruh anggota ke tempat sasaran seriap harinya. Maka program
kampong anak gemar mengaji dilaksanakan di mushola dekat rumah tinggal kami
setiap ba’da maghrib.

Beruntungnya kami pada perayaan malam tahun baru,ibu Hanafi


mengadakan bakar-bakar yang dihadari juga oleh warga sekitar. Acara tersebut juga

8
diiringi oleh musik dangdut yang sangat merakyat. Hari silih berganti hingga tiba
saatnya kami melaksanakan program kerja pertama kali kita yaiu cookimg class mini
sushi bersama ibu-ibu PKK kaliwining. Sebelum itu,ada beberapa persiapan
memasak bahan-bahan sushi yang akan digunakan. Sedangkan untuk alat kami
sudah membeli roll sushi bamboo dan sushi maker. Antusias para hadirin saat itu
sangat bagus,terutama kelompok saya. Ibu-ibu bersemangat membuat sushi sampai
bertumpuk menjulang tinggi di piring. Mereka juga berkeinginan menjadi juara agar
mendapatkan peralatan membuat sushi tersebut.

Tak disangka,Ibu sekretaris kelurahan yang biasa kita panggil dengan


panggilan bu sekel meminta kami mengadakan acara cooking class mini sushi di
Kelurahan Wirolegi bersama ibu-ibu PKK Kelurahan. Senang sekali
mendengarnya,karena kami dipercaya mengdakan acara tersebut. Bahkan saat hari
H penyelenggaraan kami dibantu secara maksimal oleh pihak Kelurahan. Sehingga
dapat menyukseskan acara kami. Program kerja cooking class mini sushi menjadi
program unggulan kelompok kami.

9
PENGALAMANKU
Oleh Amirul Muslim Amrullah - 061711133169

Nama saya Amirul Muslim Amrullah dari Fakultas Kedokteran Hewan, pada kali
ini saya ingin menceritakan pengalaman saya dalam menjalani KKN di Kabupaten
Jember, Kecamatan Sumbersari, tepatnya di Kelurahan Wirolegi. Saya ingin
menceritakan pengalaman saya saat diberikan amanah untuk menjadi Koordinator
Kecamatan Sumbersari khususnya saat diberikan tugas untuk membuat program
kerja dalam lingkup satu Kecamatan Sumbersari. Sebelumnya untuk KKN di daerah
Kabupaten Jember dibagi menjadi dua Kecamatan, yaitu Kecamatan Tanggul dan
Kecamatan Sumbersari. Kebetulan oleh Koordinator Kabupaten, saya diberikan
amanah untuk menjadi Koordinator Kecamatan Sumbersari.

Kecamatan Sumbersari memiliki 7 Kelurahan, yaitu Kelurahan Sumbersari,


Wirolegi, Tegal Gede, Kebonsari, Karangrejo, Kranjingan, dan Antirogo. Kelompok di
Kecamatan Sumbersari dibagi dalam 7 kelompok sesuai dengan jumlah kelurahan
yang ada di Kecamatan Sumbersari, dan kelompok saya sendiri berada di Kelurahan
Wirolegi. Untuk awalnya saya membuat grup whatsapp dengan seluruh ketua
kelompok yang ada di setiap Kelurahan di Kecamatan Sumbersari, untuk
mempermudah penyebarluasan informasi penting baik dari Koordinator Kabupaten
maupun dari LPPM Unair.

Setalah membuat grup whatsapp saya mengadakan rapat dengan ketua dan
sekretaris dari masing-masing kelompok untuk menentukan kira-kira program kerja
seperti apa yang cocok untuk kita lakukan dalam lingkup satu kecamatan, hasilnya
kami memutuskan dua kegiatan yaitu senam dan pemeriksaan kesehatan gratis,
kenapa kami memilih kegiatan seperti itu karena kebetulan salah satu dari ketua
kelompok yang lain sudah pernah mengadakan kegiatan seperti ini sebelumnya dan
kegiatan ini juga sangat bermanfaat bagi masyarakat Kecamatan Sumbersari,
terutama terkait dengan pola hidup bersih dan sehat serta untuk meningkatkan taraf
kesehatan masyarakat Kecamatan Sumbersari.

Kemudian kami mengadakan berkonsultasi dengan sekretaris kecamatan atas


usulan program kerja yang ingin kami lakukan, lalu beliau setuju karena biasanya
senam rutin itu biasa dilakukan tapi hanya di salah satu kelurahan secara bergantian

10
bukan secara serentak satu Kecamatan, beliau pun menyarankan kami untuk
bekerja sama dengan dua puskesmas yang ada di daerah Jember ini, yaitu
Puskesmas Tegalgede dan Puskesmas Gladak Pakem. Atas saran beliau kami
langsung membagi kelompok untuk menemui Kepala Puskesmas Tegalgede dan
Puskesmas Gladak Pakem untuk meminta bantuan dan dukungan demi kelancaran
kegiatan kami, dan Alhamdulillah permintaan kami disetujui oleh kedua puskesmas
tersebut, pihak puskesmas menyarankan untuk diadakan tanggal 17 januari 2020,
karena menurut mereka itu hari yang tepat dan puskesmas juga sedang tidak begitu
sibuk pada hari itu, dan puskesmas menyarankan untuk pemeriksaan kesehatan
cukup pemeriksaan tekanan dan gula saja dikarenakan alatnya murah dan mudah
penggunaannya sehingga kami juga bisa ikut membantu dalam pemeriksaan
tersebut.

Setelah itu kami langsung menemui sekretaris kecamatan untuk memberitahu


bahwa program kerja kami akan diadakan tanggal 17 Januari 2020 menurut saran
dari pihak puskesmas dan sekaligus bertanya pada sekretaris kecamatan kira-kira
dimana tempat yang cocok untuk diadakannya kegiatan senam dan pemeriksaan
kesehatan gratis tersebut. Lalu beliau memberikan dua pilihan yaitu di lapangan
kantor kelurahan Wirolegi atau dilapangan Sumbersari, kami lebih memilih lapangan
kantor kelurahan Wirolegi karena lapangannya bisa dijadikan sebagai tempat senam
dan balai kantor kelurahan bias dijadikan tempat pemeriksaan kesehatan gratis,
kemudian kami pergi menemui pak lurah Wirolegi untuk meminta izin untuk
diadakannya kegiatan di balai dan lapangan kelurahan Wirolegi, Alhamdulillah pak
lurah juga setuju untuk membantu program kegiatan kami, sehingga kami tinggal
mengurus proposal dan surat permohonan kerjasama dengan puskesmas.

Tak lama waktu berselang sekretaris kecamatan menghubungi saya perihal


program kegiatan dalam lingkup kecamatan, ternyata beliau menginginkan agar
tanggal program kegiatan itu dimajukan menjadi tanggal 10 Januari 2020, karena
pada saat itu kami belum siap dan proposal serta surat permohonan kerjasama juga
belum selesai jadi saya saat itu mengambil keputusan untuk menolak tawaran
tersebut, lalu keesokan harinya kami dipanggil oleh pak lurah Wirolegi untuk
membicarakan program kegiatan kami, atas perintah pak camat, pak lurah meminta
acara kami dimajukan menjadi tanggal 10 Januari 2020 karena setelah tanggal
tersebut pak camat akan menjalankan ibadah umroh sehingga tidak akan bias

11
menghadiri kegiatan kami, dan pada tanggal 10 Januari 2020 tersebut bersamaan
dengan acara tanggap bencana bersama TNI dan Polsek setempat, acara mereka
yaitu kerja bakti dan penanaman bibit pohon baru pada lahan yang kosong.

Dengan banyak pertimbangan dengan terpaksa kami menerima keputusan


tersebut untuk memajukan tanggal dari 17 menjadi 10 Januari 2020, akhirnya kami
langsung membagikan tugas yang pertama harus terdapat seseorang yang
bertanggung jawab mencari instruktur senam dan terdapat seseorang yang
bertanggung jawab berkomunikasi dengan pihak puskesmas, kami juga melakukan
sumbangan sebesar Rp. 200.000 untuk setiap kelurahan, sebagai uang konsumsi
untuk diberikan kepada masyarakat yang ingin melakukan pemeriksaan kesehatan
gratis.

Hari itu pun dimulai, kami berkumpul pada pukul 05.00 untuk menyiapkan
segala perlengakapan yang dibutuhkan, seperti panggung, sound sistem, meja,
kursi, dan perlengkapan penting lainnya. Pukul 06.30 kami mulai melakukan senam
pagi bersama masyarakat, senam berlangsung dengan meriah dan masyarakat pun
sangat antusias dalam mengikuti gerakan-gerakan yang dilakukan oleh instruktur
senam, senam berlangsung selama 40 menit, kemudian acara dilanjutkan dengan
pemeriksaan kesehatan gratis.

Untuk pemeriksaan kesehatan gratis kami membagi tugas menjadi beberapa


tim yaitu pada meja pertama yaitu meja registrasi bertugas mencatat nama, usia,
dan alamat masyarakat yang akan mengikuti pemeriksaan kesehatan dan diberikan
kupon antrian, setelah mengisi registrasi masyarakat dipersilahkan untuk duduk di
kursi antrian sembari menunggu nomor pada kupon antriannya dipanggil oleh meja
kedua yaitu meja anamnesa, di meja kedua diberikan pertanyaan untuk memastikan
kesehatan dan pola hidup sehat masyarakat yang melakukan pemeriksaan
kesehatan seperti; apakah mempunyai riwayat penyakit menular, apakah
mempunyai riwayat penyakit asam urat, hipertensi, dan diabetes, apakah di
lingkungan sekitar terdapat keluarga yang merokok, apakah sering mengkonsumsi
sayur dan buah setiap harinya, berapa lama berolahraga setiap harinya. Kemudian
dari meja kedua lanjut ke meja ketiga yaitu meja artropometri untuk dilakukan
pengukuran berat badan dan tinggi badan, untuk meja keempat dan kelima diisi oleh

12
pihak puskesmas untuk memberikan saran dan pengobatan gratis untuk
masyarakat.

Kesimpulan dari kegiatan ini yaitu kegiatan ini berjalan dengan lancar dengan
melihat tingkat antusiasme yang lumayan tinggi. Kelompok KKN, perangkat
pemerintahan, dan masyarakat bersama-sama bergabung dalam senam kebugaran.
Masyarakat dari tiap kelurahan juga banyak yang mengikuti kegiatan pemeriksaan
kesehatan gratis walaupun jauh dari kelurahan asal, mungkin cukup sekian cerita
yang dapat saya sampaikan semoga dapat memberikan manfaat bagi penulis dan
pembaca, terimakasih.

13
Ini Pengalaman Kuliah Kerja Nyataku
Siti Munawaroh - 041711133060

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan suatu hal yang ditunggu-tunggu ketika
duduk dibangku kuliah semester 4 akhir, dimana jiwa untuk mengabdi kepada
masyarakat sangat membara. Apalagi KKN ini juga sebagai bentuk Tri Dharma
Perguruan Tinggi yang ketiga yaitu pengabdian kepada masyarakat. Sehingga ini
adalah saatnya mencari pengalaman dan pembelajaran sebanyak-banyaknya ketika
mengambil KKN. Di Universitas Airlangga sendiri banyak berbagai jenis KKN, antara
lain KKN Back to Village, Citarum Harum, Kebangsaan, Program Kemitraan
Mahasiswa, Internasional dan sebagainya, akan tetapi kali ini aku ingin mengikuti
KKN Belajar Bersama Masyarakat (BBM) Tematik yang ke-61, karena aku ingin
belajar serta berkolaborasi dengan masyarakat. Sifat dari KKN sendiri adalah wajib
dan dapat diambil ketika sudah menempuh 110 sks keatas bagi mahasiswa Fakultas
Ekonomi dan Bisnis.

Alasan aku memilih KKN BBM ini salah satunya karena sistem
pengelompokannya adalah sistem acak, dimana terdiri dari mahasiswa berbagai
Fakultas dan progam studi. Hal inilah yang menjadikan aku untuk mendapatkan
teman baru diberbagai Fakultas dan proram studi, sehingga dapat menambah relasi.
Kemudian setelah diumumkannya kelompok KKN ini, aku terkejut ketika ditempatkan
di daerah Jember, karena bisa dikatakan cukup jauh. KKN ini beranggotaan 11
mahasiswa, antara lain mahasiswa dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis sendiri,
Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Ilmu Budaya,
Fakultas Vokasi serta Fakultas Ilmu Politik.

Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) berada di daerah Jember yaitu


tepatnya di Kecamatan Sumbersari, Kelurahan Wirolegi Kaliwining, untuk
penginapan sendiri berada dirumah Ibu Hanafi. Sosok ibu yang baik sekali yang
pernah aku kenal selama KKN, selalu memberi wejangan dan motivasi pada semua
anggota KKN. Setiap harinya Ibu Hanafi selalu memasakkan makanan untuk semua
anggota KKN. Hal tersebut menjadikan aku mengingat Ibu kandung sendiri, yang
selama ini membantu Ibu dirumah dan pada saat itu aku sangat merindukan Ibu.
Sehingga hati ini tergerak untuk membantu Ibu Hanafi memasak, karena Ibu Hanafi
terkadang juga memasak sendiri, tanpa ada yang membantu. Setiap aku membantu
14
memasak, Ibu Hanafi selalu bercerita mengenai keluarganya, dari cerita tentang
suami almarhumnya, anaknya yang sukses, hingga bagaimana cara keluarganya
menghadapi suatu masalah-masalah yang terjadi.

Dirumah Ibu Hanafi terdapat 4 kamar, dimana 3 kamar lainnya ditempati oleh
anggota KKN, dua kamar untuk perempuan, satu kamar untuk laki-laki. Kamar yang
aku tempati tidak pernah terjadi apa-apa, tidak ada serangga, dan lainnya, hanya
saja terasa pengap. Sedangkan kamar perempuan satunya banyak suatu
permasalahan, dari temanku yang digigit kutu, hingga ranjangnya banyak serangga,
yang kemudian terpaksa mengeluarkan springbed untuk dijemur dan dibersihkan.
Selain itu, kamar laki-laki juga sama, lebih kotor lagi, banyak serangga, kutu,
kelabang hingga laba-laba.

Kemudian ada hal yang menarik dilingkungan Ibu Hanafi, yaitu terdapat
mushola dekat rumah Ibu Hanafi. Mushola yang sangat ramai dan jika menjelang
maghrib, banyak anak-anak berbondong-bondong untuk mengerjakan sholat
jama’ah maghrib dan mengaji. Begitu pula setiap malam senin dan rabu, mushola
tersebut juga sangat ramai, karena digunakan kegiatan diba’ dan tahlil sebagai
rutinitas ibu-ibu dilingkungannya. Mushola yang aku ceritakan ini memiliki perbedaan
tersendiri dari mushola-mushola yang pernah aku lihat. Suatu ketika aku mengikuti
jama’ah sholat maghrib, aku merasa ada yang tidak beres dengan mushola tersebut.
ketika aku sujud, aku mencium bau yang tidak sedap, seperti karpet sajadah yang
tidak pernah dicuci ataupun dibersihkan.

Keesokan harinya aku mengecek mushola tersebut, dan ternyata memang


ada suatu permasalahan pada mushola, dimana banyak debu-debu yang melekat
pada karpet sajadah, banyak serangga-serangga yang sudah mati seperti laron
yang tidak disapu. Melihat kondisi tersebut aku kaget karena mushola yang sangat
ramai tersebut yang selalu digunakan ibadah dan banyak kegiatan, tidak kusangka
bahwa mushola tersebut sangat kotor. Sehingga aku langsung memberitahu kepada
ketua KKNku, dan akhirnya diputuskan bahwa hari Jum’at minggu pertama akan
dilaksanakan bersih-bersih di mushola tersebut sekaligus mencari keberkahan di
hari Jum’at.

Kemudian pegalaman yang tidak pernah aku lupakan adalah ketika aku
bersama teman-teman naik kendaraan Tossa, dimana pada saat berkegiatan di

15
kelurahan maupun ditempat lain yang sekiranya jauh ke tempat tujuan, aku dan
teman-teman selalu naik Tossa, karena setiap kelompok hanya dibekali dua motor
saja, sehingga kita kesulitan untuk mencari moda transportasi yang dapat digunakan
setiap kegiatan. Hal tersebut menjadikan aku dan teman-teman semakin kompak,
dan rasa kebersamaannya semakin kuat.

Di jember sendiri merupakah sebuah daerah pendalungan, dimana suatu


istilah untuk menyebut kebudayaan hasil asimilasi antara budaya Jawa dan Madura.
Jadi ketika pertama kali di Jember aku merasa sulit untuk mendekati masyarakat,
dan setiap Ibu berbicara menggunakan bahasa Madura, aku selalu tidak mengetahui
artinya, karena bahasa sehari-hari yang digunakan juga bahasa Madura. Tetapi
untungnya ada salah seorang dalam kelompokku yang asli Madura yaitu
Pamekasan, sehingga sedikit terbantu dalam penerjemahan. Hingga suatu ketika
aku dan teman-temanku merasa ingin tahu dan selalu bertanya “apa artinya kata
tersebut ?”, Dengan terbiasanya berbahasa Madura, kata-kata yang sering
diucapkan pun masih terngiang dan teringat dikepalaku. Dari hal tersebut aku
berpikir bahwa Indonesia memiliki banyak budaya dan banyak bahasa dari daerah
masing-masing. Sehingga kta sebagai generasi muda juga harus melestarikannya.

Selanjutnya pengalaman yang tidak pernah aku dapatkan adalah berbonceng


tiga, dan bahkan empat, dimana aku memiliki posisi sebagai anak. Hal ini
dikarenakan memang hanya dibekali sepeda motor dua. Selain itu, kenikmatan di
Jember juga sama seperti apa yang dilakukan di Surabaya, yaitu bisa memesan
Gofood, suatu kenikmatan tersendiri yang bisa melakukan hal tersebut.

Kemudian mengingat waktu kecil aku selalu gemar mengaji, aku sangat
beruntung bisa mengaji, dan pastinya bersyukur dan inginku berterimakasih kepada
Ibu yang selalu mengajari ngaji hingga aku bisa membaca Al-Qur’an dengan baik.
Dalam bidang pendidikan, salah satunya program kerja “Kampung Anak Gemar
Mengaji”, aku ditunjuk sebagai penanggung jawab program kerja tersebut, dan
Alhamdulillah aku merasa senang ketika bisa berkesempatan mengajar anak-anak
mengaji Al-Qur’an. Sedikit cerita mengenai anak-anak yang selalu semangat
mengaji. Anak-anak tersebut mengaji dengan membaca Al-Qur’an. Cara
membacanya pun sudah cukup baik, akkan tetapi dalam baca’an tajwidnya masih
kurang, karena pengajar atau pun tenaga kerjanya juga tidak ada, hanya ada

16
seorang kakek-kakek yang cukup tua yang menjadi imam di mushola tersebut serta
mengajar anak-anak mengaji Al-Qur’an selepas sholat jama’ah maghrib. Sehingga
ketika kita mengajukan untuk membantu mengajar sekaligus menjadikan program
kerja, kakek tersebut sangat senang dan memberi komentar yang positif bagi teman-
teman KKN.

Kemudian yang terakhir kesan dan pesannya adalah sangat bersyukur sekali
masih diberikan kesehatan, dimana semua progam kerja juga telah terseleggara
dengan baik, walaupun ada sedikit kekurangan. Dengan adanya KKN ini aku telah
banyak sekali mendapatkan pengetahuan serta pengalaman, dengan berproses dan
mengabdi bersama teman-teman yang baik, kocak, dan tak kenal lelah, yang juga
membuat aku belajar banyak hal, yakni kebersamaan, kekompakan, kekeluargaan,
dan solidaritas. Kemudian masyarakat Kaliwining sendiri juga sangat besar
antusiasnya dalam mengikuti kegiatan yang diadakan.

Terakhir kalinya aku berpesan kepada teman-temanku KKN jangan pernah


lupakan perjuangan kita dalam mengabdi Kaliwining Jember. Jangan pernah lupa
juga akan kenangan manis ataupun pahit. Mohon maaf juga kepada semua jika aku
banyak salah yang disengaja maupun tidak disengaja. Aku berharap semoga
Kelurahan Wirolegi Kaliwining tetap menjaga budayanya, persaudaraannya, serta
selalu bersemangat untuk membangun wilayahnya tersebut.

17
AM I BEING MYSELF?
Oleh : Shafira Rakhmatillah Ruyani – 061711133110

Hari itu pertama kali bertemu, tidak ada yang tahu siapa aku bahkan teman
sefakultasku. Begitupun aku, tak tahu siapa mereka yang duduk berjejer di depan
dan di sampingku. Kita memulai percakapan dengan perkenalan dan sedikit
berbincang ‘sok akrab’ mengenai rencana kegiatan KKN kita kedepannya. Bahasan
kita hanya sekedar menjadwalkan pertemuan selanjutnya dan survey lokasi,
mengingat waktu sudah sore. Angin sepoi menghembus wajahku membawa asap
rokok sang ketua yang pas duduk di depanku.

“Anjirlah, ini orang” batinku dalam hati. Ya, aku memang dibesarkan di
lingkungan bebas rokok, toh wajar kan mengeluh tak suka. Begitu lihat ekspresinya,
fix aku menilai dia orang yang songong. Baru aja kenalan udah nambahin list orang
aneh yang pernah ku temui di hidupku. Tak hanya dia, aku mulai menilai hal-hal tak
penting semua teman-teman baruku dan menduga sifat mereka baik atau buruk.
Kurang kerjaan memang, tapi aku yakin teman-teman lain juga menilaiku dari luar
dulu sebagai first impression.

“Pamit rokoan yo rek“ ujarnya santai. Secara tak sadar aku mengangguk
mengizinkannya. ‘What!! What’s wrong with me?!’ semudah itu aku mengangguk
tanpa berfikir diri sendiri. Ya itu hak dia, terserah dia, tapi tak nyaman rasanya
sebagai orang yang duduk tepat didepannya. Oke aku mengalah, lagian kalau
melarang apa yang difikirkan orang-orang disekitarku. Cukup bertahan sedikit saja,
tidak lama.

Perbincangan kita berakhir sekitar 1 jam, cukup tak terasa bagiku walaupun
aku tak banyak bicara, hanya berkata sesingkatnya dan tersenyum. Jujur aku
merasa asing di tempat ini dengan wajah dan suara baru. Ya, memang aku selalu
tak nyaman dengan hal baru, walaupun aku belajar keluar dari zona nyaman
semenjak mulai merantau di kota pahlawan ini, masih saja ada serpihan-serpihan
diriku yang asli. Seringkali aku berfikir ‘apakah aku akan jadi diriku?’

Tak perlu cerita panjang, perkembangan ku sama saja di tiap pertemuan.


Berbicara secukupnya, mendengarkan penjelasan teman- teman baru dan
tersenyum agar terlihat ramah dan friendly. Tapi entah settingan atau bukan aku
18
mulai merasakan feel-nya teman kelompok, aku mulai enjoy dan membuang pikiran
burukku seperti di awal pertama kali bertemu. Perubahan drastis terasa saat
dipertemuan terakhir sebelum berangkat KKN, aku mulai banyak bicara mengenai
proker dengan santai, guyon, dan tertawa layaknya dengan teman dekatku. Ya
walaupun belum sepenuhnya tapi aku merasa aku berbeda dari sebelumnya.

Waktu KKN pun dimulai pikiranku pun mulai kemana-mana. “apa aku bisa
survive? Bisa ga ya? Haduh orang-orang baru nih” batin ku selama perjalanan. Mau
mulai percakapan di bis saja rasanya kaku sekali. Entah kenapa rasa khawatir itu
selalu muncul alhasil selama perjalanan aku tidur. Sesampainya di kecamatan, aku
kembali berfikiran buruk, “ini temen-temen bakalan temenan sama aku ga si?
Pokoknya aku harus survive!”. Oke tantangan baru untukku gimana caranya nyaman
dan bisa survive selama 3 minggu KKN.

Minggu pertama KKN proker belum jalan, kita hanya kenalan dengan pak
RW, orang-orang kelurahan, Ibu bidan, dan tetangga sekitar. Tak banyak yang kami
lakukan, hanya main kartu remi dan uno. Iya, hampir setiap malam kita bermain,
saking bosannya. Aku selalu ikut main apapun itu mengingat aku tak suka kalau
tidak ada kerjaan alias gabut. “hmm kok kkn bosenin sih?!” sekilas kata-kata itu
melintas di pikiranku. Aku takut sesuatu yang membosankan membuat ku malas
berbaur untuk dekat dengan teman-teman satu sama lain. Secara tak sadar aku
selalu melontarkan kata ‘bosan’ di depan teman-teman.

“Bosannyaaaa, ngapain ya rek?” keluh ku. Teman-teman hanya tertawa kecil


mendengarku, baik di ruang tamu ataupun di kamar aku selalu mengeluh. Bosan
juga bukan main kartu tiap hari? Sampai akhirnya kami cari permainan lain, memang
tak jauh dari permainan kartu, kita mulai main judi tapi uangnya pakai kartu uno.
Ternyata seru juga! Suatu ketika aku lagi sangat beruntung, sampai-sampai uang
bandar kalah banyaknya.

“Gila, parah beruntung banget cuk!, all in ini pasti dapet blackjack yakin deh!!”
ujar salah satu temanku. Aku yang pada dasarnya gak pernah beruntung dalam hal
apapun kaget tiba-tiba ternyata aku bisa se-hoki itu. Semua taruhanku balik dua kali
lipat. Wah gila, ternyata judi kalo hoki asik juga! Kita semua ketawa lepas, sampai-
sampai perutku sakit dan hampir nangis, begitu pula dengan temanku. Senang

19
rasanya bisa tertawa asik bareng mereka dan berasa lebih akrab. Walaupun tidak
semua anak ikut main, setidaknya aku bisa adaptasi dengan tiga orang ini dulu.

Hari program kerja makin dekat, banyak persiapan yang harus disiapkan.
Beda proker beda pula kebutuhan yang harus dibeli. Aku sebagai orang yang mudah
bosan dan gak betah kalau selalu dirumah, secara sukarela ikut membeli bahan
kebutuhan. Tidak hanya sekali, beberapa kali aku keluar dengan orang yang
berbeda. Dari situ secara tak langsung aku mengenal mereka satu per satu
walaupun hanya seberapa. Terkadang aku bingung kenapa aku selalu ingin
mengenal dan mengetahui orang seperti apa tiap mereka. Tidak berharap banyak
tapi hanya sekedar beberapa hal saja. Mungkin memang terlihat ‘sok’ asik, namun
dengan mengenal mereka aku bisa menyesuaikan bagaimana aku bertindak
sehingga aku bisa adaptasi di lingkungan tersebut. Ya itu tujuanku ‘Adaptasi’.

Satu persatu adaptasiku dengan tiap orang berjalan dengan baik. Mulai dari
saling cerita dengan teman sekamar, metik cabe di kebun ibu kampung, pergi ke
Jember Car Free Day,nyanyi-nyanyi gak jelas ditengah malam sampai mainin kucing
tetangga bareng-bareng. Bukan hanya dengan orang yang sama, tapi beda-beda
orang pastinya. Seru dan senang rasanya bisa berbaur dengan mereka apalagi bisa
menularkan apa yang kita suka dengan orang lain. Mungkin terdengar berlebihan
tapi menurutku itu merupakan hal yang besar, yaitu orang akan mengingat kita
sebagai balasannya.

Senang memang, namun tidak semudah itu juga untuk belajar beradaptasi.
Awalnya aku merasa aneh bersikap santai dengan orang baru dan bahkan
menerima berbagai sikap dari mereka. Namun lama-kelamaan hal itu jadi biasa dan
menjadi nyaman. Asal tidak menyeleweng dengan prinsip diri dan batasannya, it’s
gonna be okay dan aku masih merasa kalau aku adalah diriku sendiri, bukan
sandiwara hanya agar bisa berteman. Karena itulah seketika rasa khawatirku diawal
hilang bahkan aku lupa kalau aku takut tidak bisa survive saat KKN ini.

Hari demi hari dilewati, program kerja berjalan dengan baik sesuai dengan
ekspetasi. Memang tidak semuanya, namun sebagian besar cukup lancar. Banyak
proses yang kita lalui untuk menjalankan berbagai kegiatan. Selama proses itu pula
kita semua semakin dekat dan saling mengenal satu sama lain. Sifat masing-masing
orang pun mulai tampak. Namanya juga berkegiatan bersama dalam waktu yang

20
cukup panjang, pastinya hal tersebut tidak dapat dipungkiri lagi. Mereka mengenalku
begitupun aku mengenal mereka. Sikapku yang selalu mengeluh dan suka
berbahasa melayu ‘alay’ menjadi akrab ditelinga mereka. Itu semua terjadi karena
aku merasa nyaman di lingkungan baru ini, sehingga tak perlu sungkan bersikap
seperti halnya dengan teman dekat.

Berbicara sifat orang, yang paling ditakutkan adalah jika tidak ada yang ingin
mengalah. Konflik kecil memang wajar terjadi, namun yang perlu diperhatikan yaitu
bagaimana menyelesaikannya dengan kepala dingin. Untungnya di hari terakhir
KKN masalah kecil bisa terselesaikan. Memang kita tidak bisa mengenal sejauh
mana emosi semua orang. Jujur aku khawatir dengan hal sepele itu. Aku takut ada
yang merasa tidak nyaman nantinya . Ya aku mengkhawatirkan keutuhan kelompok
ini, karena itu yang terpenting! Di kelompok inilah aku hidup selama 3 minggu
menjalankan kegiatan yang gak full-full amat sampai akhirnya gabut bersama, dan
liburan bersama. Sadar gak sadar aku merasa memiliki mereka semuanya, dari
yang awalnya khawatir tak bisa.

Dimalam terakhir kita semua menghabiskan waktu bersama di salah satu


cafe di kota. Masing-masing anak menuliskan kesan pesan tiap orang di note
handphone. Sedih senang campur aduk rasanya. Senang program kita berakhir dan
sedih akan berpisah dan sibuk masing-masing. Kubaca semua kesan pesan yang
kuterima. Tak menyangka mereka menganggap dan meresponku dengan baik
selama ini. Friendly menjadi kata kunci yang aku simpulkan di tulisan itu. Bahkan
ada yang lucu dalam mengungkapkannya, kata ‘maaf’ nya tergiang sepanjang jalan.

“Kamu itu friendly banget sama semua orang, sama cowok juga!” kalimat itu
terdengar jelas melalui celah helm di kepalaku. Seketika aku berfikir apakah aku
salah selama ini? Mungkin aku baik-baik saja, tapi bagaimana dengan orang lain?
Selama KKN aku berusaha melakukan apapun sebaik mungkin begitu juga dalam
bergaul agar aku bisa beradaptasi dengan semuanya. Sesungguhnya tak pernah
aku mendengar kalimat itu sebelumnya. Ya selama ini aku fine-fine aja, mendengar
hal itu malah menimbulkan masalah baru dibenakku. “Apakah aku benar-benar
menjadi diriku selama ini? Apakah semua ini palsu?” Yes or no aku pun tak tahu
apa jawabannya.

21
TUGAS INDIVIDU KKN RYAN

Oleh : Ryan Andriansyah – 081611233081

Perkenalkan nama saya Ryan Andriansyah dari Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga dengan Nomor Induk Mahasiswa yaitu 081611233081. Saya
akan menceritakan pengalaman saya mengikuti acara Kuliah Kerja Nyata Belajar
Bersama Masyarakat ke 61. Saya mendapatkan kelompok yang beranggotakan 11
orang yang berasal dari berbagai fakultas, Ini merupakan tantangan bagi saya yang
seorang introvert untuk bekerjasama dengan orang yang tidak saya kenal. Kami
ditempatkan di kelurahan Wirolegi di kota Jember. Persiapan KKN telah kami
lakukan sebelum pemberangkatan secara matang mulai dari survey lokasi di
kelurahan wirolegi hingga mencari penginapan. Wirolegi memiliki beberapa wilayah
seperti kaliwining, sumberketangi, dan lain-lain. Kami mendapat penginapan di ibu
kampong yang bertempat tinggal di wilayah kaliwining. Pada tanggal 28 Desember
2019 kami berangkat menuju Jember.. Kami datang di kecamatan dan disambut
oleh kecamatan dengan baik dan mendapatkan info bahwa Kota Jember sedang
terkena wabah penyakit dan dianjurkan untuk berhati-hati dalam membeli jajan di
pinggir jalan. Setelah itu kami pergi menuju ke tempat rumah ibu kampong yang
menyediakan kami tempat tinggal.. Kami tidak ada kegiatan pada hari itu. Keesokan
harinya, kami mengunjungi rumah bapak Rukun Warga (RW) setempat lalu menuju
ke tempat kerja bakti warga untuk merenovasi suatu rumah warga yang mengasuh
anak-anak yatim. Kami tidak bisa banyak membantu dalam kerja bakti tersebut. Lalu
tidak ada kegiatan lagi pada hari itu. Keesokan hainya kami berencana menuju
kelurahan untuk berkunjung namun pada hari itu kelurahan sedang libur.Kami
memutuskan berkunjung esok hari. Pada malam hari kami berkunjung ke inbu bidan
setempat yang bernama ibu wji.. Kami disambut dengan baik oleh beliau dan mau
mejelaskan kondisi kesehatan di wirolegi. Menurut informasi dari beliau, kasus
stunting yang berada di wirolegi sangatah sedikit dan angka kasus terkena hepatitis
juga sedikit. Kami juga berkonsultasi tentang pelaksanaan program kerja
penyuluhan stunting dari kami apakah dapat dilaksanakan atau tidak dan beliau
menyetujui program kerja kami. Lalu kami melanjutkan keesokan harinya hingga
minggu pertama kami berakhir untuk mengunjungi kelurahan, musholla terdekat,
Kader-kader posyandu dan mengikuti acara warga yaitu acara tahun baruan dan
22
acara pengajian rutin untuk mempelajari adat di sekitar sekaligus berkonsultasi
tentang program kerja kami yang telah kami rencanakan.

Pada hari sabtu tanggal 4 Januari 2020 kami memulai program kerja kami
yang pertama yaitu Sushi class yang diadakan setelah pertemuan ibu-ibu PKK
wilayah kaliwining. Kami disambut meriah oleh warga. Kami membagi peserta ke
dalam 4 kelompok lalu kami memulai demonstrasi membuat sushi dari bahan-
bahan yang telah kami beli di pasar sekitar penginapan dan kami masak bahan-
bahan seperti masak nasi, rebus wortel, dan masak nugget. Untuk tiap kelompok
terdapat 2 orang yang mendemonstrasikan dari kelompok kami. Antusiasme peserta
meriah,bahkan ada warga yang tidak sabar menunggu giliran membuat sushi di alas
yang kami sediakan dan langsung membuat dengan alas tisu. Alhamdulillah dengan
sedikit usaha sushi yang warga tersebut buat tidak menempel sisa-sisa tisu.
Kemudian kami membagikan alat roll sushi kepada peserta sebagai hadiah. Di
penghujung acara kami makan-makan dengan warga dan acara sushi class kami
berakhir lancar. Kami bahagia karena tanggungan melaksanakan program kerja
sushi class telah usai. Namun kebahagiaan kami tertunda karena keesokan harinya
Ibu Sekertaris Kelurahan menghubungi kami untuk mengadakan sushi class di acara
Ibu-Ibu PKK sekelurahan. Kami kaget karena alat-alat roll sushi telah dibagikan dan
kami tidak tahu dimana alat roll sushi dijual di Jember. Akhirnya kami menyanggupi
keinginan Ibu Sekertaris Kelurahan dan memesan alat roll sushi dari Surabaya.

Pada tanggal 6 Januari 2020 kami pelakukan program kerja Pola Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS) di SD 04 dilanjutkan ke SD 05 keesokan harinya. Program
kerja ini kami mengajarkan pola hidup bersih dengan mencuci tangan dan
menggosok gigi kepada para murid. Kami mendapat antusiasme dari murid yang
sangat baik. Kami mendapatkan pengalaman yang menarik seperti mengajar dan
mengatur para murid. Kami juga mendapatkan hal-hal yang lucu dari ulah beberapa
murid seperti mereka memakan odol yang kami sediakan dan memakannya seperti
es krim. Odol yang kami sediakan ialah odol kodomo yang dapat dimakan oleh anak
kecil dan memiliki rasa anggur atau rasa stroberi. Ada juga murid yang setelah
membersihkan mulut dengan air mereka tidak membuang air tersebut melainkan
meminumnya.

23
Pada keesokan hari yaitu tanggal 7 Januari, setelah program kerja Pola
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kami melaksanakan program kerja Anti Hoax yaitu
penyuluhan bahaya hoax dan cara mencegah penyebaran hoax serta cara
mengenali isu yang bersifat hoax. Program kerja ini dilakukan setelah acara
pengajian rutin warga dan dimulai sekitar pukul 20.00. Kami mendapatkan
antusiasme dari warga yang meriah. Acara berakhir dengan lancar. Keesokan
harinya kami mengikuti acara posyandu yang bertempat di rumah warga. Pada
tanggal 9 Januari 2020, kami melaksanakaan program kerja Ayo Belajar di SD 05
Wirolegi dan dilanjutkan di SD 04 Wirolegi pada tanggal 14 Januari 2020. Teknisnya
yaitu kami mengajarkan bahasa inggris dengan materi warna-warna dan nama-
nama buah dalam bahasa inggris dengan gaya yang berbeda. Kami mengajari murid
melalui permainan-permainan yang seru dan kami memberikan hadiah untuk
pemenangnya. Oleh karena permainan-permainan itu, murid tidak merasa bosan
dalam belajar bahasa inggris.

Pada tanggal 13 Januari 2020, kami mengadakan acara permintaan dari Ibu
Sekertaris Kelurahan yaitu Sushi Class untuk ibu-ibu PKK se-kelurahan.. Acara ini
bertempat di balai kelurahan dan kami disediakan meja besar untuk kami
mendemonstrasi membuat sushi. Karena memakai meja, maka kami mengubah
teknis dengan peserta dibagi menjadi 4 kelompok dan 1 demonstran dari kelompok
kami yang memperagakan pembuatan sushi. Berkaca dari Sushi Class pertama,
kami meminta tiap ibu-ibu pkk untuk membawa alas yaitu talenan. Acara berjalan
dengan meriah dan tidak ada peserta yang membuat sushi dengan alas tisu lagi.
Pada ujung acara, kami meminta peserta untuk melakukan plating dan bagi
pemenang akan mendapatkan hadiah. Tiap kelompok menghiasi plate mereka yaitu
telenan dengan kreatif hingga saya menelan ludah saat melihat plate mereka.

Pada tanggal 17 Januari 2020, kami melaksanakan program kerja


Pencegahan Stunting di Balai Kelurahan. Peserta yang kami undang ialah ibu-ibu
kader yang berada dibawah naungan ibu bidan posyandu. Teknis acara ini ialah
kami melakukan ceramah tentang pencegahan stunting melalui pola makan yang
sehat dan dilanjutkan dengan permainan-permainan seperti Isi Piringku , dan lain-
lain. Di permainan Isi Piringku, peserta mencari gambar makanan yang tersedia
untuk menjadi bahan makanan yang peserta ingin makan dalam 1 porsi dengan
waktu tertentu dan untuk menang, peserta diharuskan untuk menemukan gambar

24
makanan yang mengikuti pola makan sehat. Acara berlangsung dengan meriah dan
antusiasme peserta yang sangat baik.

Selain kegiatan-kegiatan yang saya sebutkan diatas, masih banyak


kegiatan-kegiatan yang kami lakukan dan tidak direncanakan di awal seperti kerja
bakti renovasi rumah, kerja bakti membersihkan musholla, mengikuti acara tahun
baru bersama warga, mengikuti penyuluhan anti bencana alam yang diadakan oleh
Polsek dan lain-lain.

25
Suatu Ketika di Wirolegi

Oleh ‘Aisy Dian Sulistia – 121711333016

Saya sebagai mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya diwajibkan untuk


mengikuti kegiatan KKN setelah SKS mencukupi. Bimbang, tentu. Resah, tentu.
Awalnya saya gundah gulana apakah harus mengambil jatah tersebut atau tidak,
karena teman-teman saya kebanyakan akan mengikutinya di semester enam nanti.
Berbekal dengan do’a dan tekad saya pun berani untuk memilih KKN. Bulan berlalu
dengan pikiran saya yang masih resah akan ditempatkan di mana KKN saya nanti,
akhirnya bulan November pun datang. Dengan hati yang kalut dan penasaran, saya
buka Cybercampus milik saya. KKN-BBM Tematik 61. Jember. Sumbersari.
Wirolegi. Kata-kata tersebut secara berulang kali berputar di otak saya.

Teman-teman saya? Didominasi anak FEB. Saya terkejut karena hanya saya
yang berasal dari FIB. Namun saya mencoba untuk tenang dan memutuskan untuk
membuat grup WA agar bisa lebih akrab dengan teman-teman. Syukurlah mereka
bisa dihubungi dan kelihatan ramah. Hari berlalu hingga pembekalan KKN pun
datang. Saya adalah anak yang pertama datang di tempat tersebut dan kelihatan
panik karena saya tidak begitu mengenal mereka. Maka saya ambil inisiatif
mengambil kertas tanda tangan bukti kehadiran. Saat itu saya bertemu dengan
salah satu anggota KKN saya dan juga sebagai kakak senior dari FV yang sangat
ramah. Mbak Salsa, saya otomatis memanggilnya seperti itu.

Setelah pembekalan selesai, kami saling berkenalan. Dalam kelompok KKN


ini, ada saya dari FIB, Mbak Salsa dari FV, Siti dari FEB, Zen dari FEB, Oza dari
FEB, Dimas dari FISIP, Zahra dari FISIP, Shafira dari FKH, Rulik dari FKH, dan Mas
Ryan dari FST. dan merundingkan bagaimana dengan nasib kami ke depannya.
Dimulai dari survey tempat tinggal, makanan, lingkungan, kendaraan, dan lainnya.
Pembicaraan berakhir dengan tenang dengan kesepakatan Zen sebagai ketua KKN
kami. Kami harus bertemu untuk beberapa kali lagi untuk membicarakan hal
mengenai proposal, namun kami harus menundanya karena mingu depan kami akan
menghadapi UAS. Beberapa kali kami mengadakan pertemuan untuk membicarakan
KKN dan tidak terasa kami semakin dekat. Akhirnya proposal kami disetujui.

Hari keberangkatan pun tiba dan kami sudah siap untuk berangkat ke tempat
kami KKN. Kami sudah siap untuk melaksanakan Program Kerja (Proker) yang telah

26
kami rencanakan matang-matang. Setibanya di Wirolegi pada sore hari, kami
disambut dengan sangat baik oleh Bu Hanafi sekeluarga. Pada malam hari kami
melakukan rapat dan diputuskan bahwa minggu awal kami hanya akan melakukan
survey tempat, perkenalan dengan satu sama lain, silahturahmi dengan warga
setempat, dan persiapan untuk proker. Proker yang akan kami lakukan dibagi
menjadi 5 bidang yakni : Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan.
Rencana Proker yang akan kami lakukan adalah Gerakan PHBS, Sosialisasi
Keluarga Hebat Paham Stunting, Sosialisasi Pencegahan Penyebaran Hoax,
Kampung Anak Gemar Mengaji, Ayo Belajar! SD, dan Cooking Class Mini Sushi.

Pada minggu awal kami berencana untuk bersilahturahmi dengan Pak RW


daerah setempat dan keluarga Bu Hanafi. Saat mendatangi rumah Pak RW kami
diberi banyak nasihat dan sambutan yang hangat. Kami juga sempat diajak untuk
melihat bagaimana jalannya kegiatan yang akan diadakan untuk waktu dekat, yakni
membangun rumah untuk anak yatim piatu yang ada di daerah itu. Setelah hari itu,
kami sibuk untuk survey tempat yang akan digunakan untuk tempat proker kami.
Seperti SD Wirolegi 4 dan 5, Pendopo Kelurahan, dan Musholla. Tidak disangka,
kami mendapat info bahwa Cooking Class Mini Sushi tidak dapat diadakan minggu
depan tanggal 11, sehingga kami memajukan jadwal menjadi tanggal 4 bersama ibu-
ibu PKK Lingkungan Dusun Kaliwining. Saat itu, yang menjadi penanggung jawab
adalah saya sendiri. Dengan info yang mendadak tersebut, saya harus bisa
menyesuaikan keadaan dan menyiapkan bahan dan alat membuat mini sushi. Hari
pelaksanaan proker pertama pun tiba. Ibu-ibu menyambutnya dengan antusias, bisa
dilihat dari kreatifitas mereka saat membuat sushi.

Proker kedua pun tiba. Proker ini adalah Gerakan PHBS untuk anak SD.
Kami menujukan anak SD kelas dua dan tiga, kepala sekolah pun sudah
menyetujuinya. Hanya saja kami mengalami kendala. Kami tidak memiliki proyektor
dan manikin gigi palsu sebagai praktek untuk menunjukkan bagaimana cara sikat
gigi yang benar. Akhirnya kami membuat manekin gigi dari kertas yang diwarnai dan
proyektornya kami dapatkan dengan meminjam kelurahan. Esok harinya kami pergi
ke SDN Wirolegi 4 yang berada cukup jauh ke dalam desa. Diperjalanan banyak
hamparan sawah dan truk yang bergantian lewat untuk membawa hasil tambang
keluar dari desa. Anak-anak yang kami ajarkan mengenai PHBS terlihat sangat

27
senang dan sportif untuk mendapatkan hadiah dari kami. Begitupun dengan SDN 5
Wirolegi yang dilaksaakan di lain hari, antusias para murid sangat tinggi.

Proker ketiga kami adalah Kampung Anak Gemar Mengaji. Proker ini
dilaksanakan setelah hari tahun baru. Awalnya kami minta izin kepada guru ngaji
anak-anak tersebut untuk ikut memberikan ilmu kepada anak-anak. Kami disambut
dengan baik oleh mereka. Mereka juga sangat akrab kepada kami. Layaknya bocah
kebanyakan, mereka sesekali suka membuat onar dan ribut, namun masih bisa
dikendalikan. Terkadang tingkah mereka lucu dan meenggemaskan. Tiap hari ada
tiga orang yang aan mengajarkan mereka mengaji, terkadang juga hanya dua orang
bila kami sangat sibuk. Kegiatan mengaji ini tidak hanya sekadar mengaji, namun
juga diajarkan bagaimana membaca yang baik dan apa saja tajwid yang ada dalam
Al-Qur’an. Selain itu terdapat kegiatan menghafalkan surat-surat pendek dimulai dari
An-Nas. Siapa yang bisa menghafalkan banyak surat, maka akan mendapat hadiah,
begitulah kata kami. Akhirnya, setelah pertemuan terakhir, anak-anak itu
mendapatkan hadiah sesuai dengan prestasi mereka dalam menghafalkan surat-
surat pendek.

Proker keempat kami adalah Sosialisasi Pencegahan Penyebaran Hoax.


Proker ini terbilang cukup sederhana dan hanya memakan waktu sebentar karena
hanya diadakan satu kali. Targetnya adalah para ibu dan bapak yang tinggal di
Kaliwining. Pengadaan proker ini dilakukan di musholla, dan bertujuan agar para
warga bisa membedakan apa itu hoax dan penipuan. Selain itu program ini juga
memberi informasi kepada warga bagaimana mencari berita yang benar dan sesuai
dengan sumber. Terutama Hoax yang banyak beredar di WhatsApp.

Proker kelima kami adalah Ayo Belajar! SD. Program ini dilaksanakan di dua
sekolah seperti pelaksanaan proker PHBS, yakni di SDN 4 dan 5 Wirolegi. Saat
kami akan melakukan kegiatan di SDN 4 Wirolegi, kami mengalami kendala berupa
turunnya hujan. Namun kami tetap melaksanakan tugas ini, karena yakin bahwa
banyak anak telah menunggu kami di SDN. Kami disambut dengan gembira oleh
mereka, dan proker ini berjalan dengan baik. Beberapa hari kemudian saat kami ada
di SDN 5 Wirolegi melaksanakan proker, terlihat juga anak-anak yang antusias
menyambut kami.

28
Proker keenam kami adalah Sosialisasi Keluarga Hebat Paham Stunting.
Proker ini ditargetkan kepada para Ibu-Ibu kader Wirolegi. Program ini dilakukan di
pendopo Kelurahan dengan sasaran 33 orang. Program ini bertujuan untuk
memberikan info kepada para ibu mengenai apa saja makanan yang sehat, apa saja
makanan yang tidak sehat, bagaimana itu konsep “isi piringku”, dan games menarik
yang dilakukan dengan hadiah sembako jika menang. Dalam proker ini, disayangkan
yang datang hanya separuh dari sasaran yang diinginkan. Namun ibu-ibu yang telah
datang mengikuti kegiatan ini dengan antusias, terutama dalam eat bulaga.

Tiba saat kami melakukan perpisahan dengan para warga dan keluarga Bu
Hanafi. Kami merasa sedih dengan perpisahan yang terjadi di tanggal 23. Kami
melakukan perpisahan dengan para staff kelurahan yang dilaksanakan pada tanggal
20 Januari 2020. Saat itu kami mengadakan perpisahan di pendopo kelurahan yang
dihadiri oleh 22 orang staff, Lurah, dan Sekretaris Lurah. Kami mengadakan acara
penutupan dengan semi-formal yang berlangsung sekitar satu jam. Makanan yang
dimakan adalah makanan yang telah disediakan oleh Bu Hanafi, yakni soto. Setelah
penyampaian kegiatan Proker yang telah kami lakukan selama KKN, kami berfoto
bersama dan memberikan plakat sebagai penutup acara.

Setelah perpisahan, pada tanggal 22 Januari terdapat acara seminar


penyampaian hasil akhir KKN dari tiap kelompok yang berada di Kecamatan
Sumbersari. Pelaksanaan kegiatan ini ada di Pendopo Kecamatan. Kegiatan yang
paling kami tonjolkan adalah proker Cooking Class mini sushi karena didakan dua
kali, dan yang kedua kalinya adalah permintaan dari Kelurahan. Proker tersebut juga
berhubungan dengan tema KKN kami yang berjudul stunting. Dengan sushi mini,
diharapkan para ibu memahami bagaimana memberikan makanan yang sehat pada
anak untuk mencegah stunting. Akhir acara, kami semua berfoto.

Tibalah pada akhir kegiatan kami dari KKN, yakni kembali ke Surabaya. Kami
harus sampai di Pendopo Kecamatan pada pukul setengah enam. Kami dibawakan
bekal oleh Bu Hanafi berupa bakso. Kami dan Bu Hanafi sekelurga merasa sedih
karena harus berpisah setelah hampir satu bulan hidup bersama. Pada malam
sebelumnya kami telah memberikan buah tangan kepada keluarga Beliau. Kami
sedih, namun juga senang bisa bertemu dengan mereka. Namun satu hal yang
terasa kurang. Kami sekelompok lupa tidak membeli oleh-oleh khas Jember.

29
My KKN Story From A-Z and The Political Point Of Views
Oleh Az Zahra Zahira Putri Katili 071711333096
Kuliah Kerja Nyata merupakan sebuah nama sebutan yang sudah tidak asing
lagi terutama bagi para mahasiswa semester 5 sepantaran saya. Bagi sebagian
orang, ketiga kalimat itu terdengar sangat mengasyikkan, namun entah kenapa saya
sangatlah skeptis akan KKN. Rasanya sangat kurang baik memulai sebuah
perjalanan dengan pikiran negatif, namun saya merupakan seorang yang takut
berjauhan dengan keluarga, dengan orang – orang yang saya kasihi ditambah
dengan ketidaksukaan saya akan perpisahan, oleh karena itu saya tidak se excited
itu.

Ketika KRS sedang berlangsung, saya merasa lega ketika SKS saya
mencukupi untuk mengambil mata kuliah KKN, tidak sabar bertemu dan berkenalan
dengan teman baru, menjalani kehidupan bermasyarakat dan menerapkan serta
menggunakan kemampuan menganalisis dalam bekerja nyata, ditambah lagi
dengan fantasi dapat melakukan KKN Citarum di jawa barat, bertemu dan
bercengkrama dengan warga lokal dengan bahasa sundanya. Sayangnya segala
fantasi mengenai jawa barat tersebut sirna karena kolom KKN di Cybercampus saya
masih kosong ketika sebagian teman – teman saya sudah mendapatkan kelompok
beserta lokasi KKN di citarum harum. Sungguh tidak adil rasanya karena saya ingat
betul bahwa saya telah mengumpulkan formulir dengan cepat, ingin rasanya
berteriak ke LPPM “Ini ga adil woiii” namun life goes on, tidak ada yang dapat saya
lakukan untuk merubah itu. Dari fase “yah ko ga keterima Citarum siihhh”, “tau gitu
gue terima tawaran KKN BV ke Bali” hingga saya berubah menjadi pasrah “yaudah
deh Zar, pasrah aja, mungkin ini yang terbaik buat diri lo sendiri”. Namun tidak lama
setelah bersedih ria itu, semangat saya bangkit lagi ketika teman saya menawarkan
spot untuk menjadi anggota kelompok KKNnya di Citarum. Sempat bimbang antara
harus menerima tawaran tersebut atau tidak, namun keputusan saya telah bulat..
mungkin memang saya ditakdirkan untuk menjalani KKN BBM, jadi saya menolak
ajakan citarum tersebut, karena Jember hitungannya jauh lebih baik daripada
mendapatkan KKN Brantas yang berlokasi di Surabaya (notes: saya sangat
menghindari KKN yang berlokasi di Surabaya hahah).

30
Ketika pengumuman kelompok KKN muncul, entah mengapa saya merasa
very excited, rasanya pengen ngebuatin group WA pada saat itu juga, tapi
something was also stopping me, seperti “sabar zar nunggu di add aja..” atau “bener
ga ya ngambil BBM? Ga citarum aja?” tetapi tidak lama setelah itu, saya kemudian
di add sama salah dua anggota kelompok KKN saya dan kemudian saya di add di
group wa, dari situlah saya membulatkan niat untuk menerima kelompok KKN BBM
saya. Senang rasanya telah disambut dengan hangat dan secara baik, walaupun
saya tidak dapat menghadiri acara pembekalan KKN pertama dikarenakan adanya
presentasi Kuliah Lapangan yang sangat penting juga. Disaat itu saya merasa
bahwa saya telah melewatkan kesempatan saya bonding untuk yang
pertamakalinya, saya takut karena teah melewatkan golden moment untuk
bersosialisasi, atau untuk mencari teman yang sefrekuensi.

Setelah drama post-pengumuman kelompok KKN beserta terewatkannya


golden moment, kelompok saya akhirnya menyetujui untuk mengadakan kumpul
kelompok untuk yang pertamakalinya di sepanjang sejarah kelompok KKN kami,
yang untungnya bertepatan di galeri FISIP namun lagi – lagi saya hampir
melewatkan perkumpulan itu karena adanya presentasi kuliah lapangan lainnya
yang juga penting. “halo rek maaf telat” “iya gapapa, zarkat ya?” “iya halo semua aku
zahra salam kenal” akhirnya saya duduk dan mengikuti alur pembicaraan, senang
sekali karena saya bertemu temah se FISIP saya, dimana akhirnya saya tidak
merasa sebegitu asing di kelompok itu. Kumpul kelompok berikutnya kemudian
terjadi satu persatu. Dari membahasa mengenai brainstorming kegiatan, hingga
Proker yang akan pasti dilakukan beserta Pjnya dan tentunya tidak lupa membahas
dresscode keberangkatan supaya kami terlihat sangat kompak.

Sesampainya di Jember, kami disambut hangat oleh Ibu Hanafi alias Ibu
Kampung, bertemu keluarga ibu yang disertai dengan segalas teh hangat yang
rasanya sangat unik yang ditemani dengan donat kentang yang memanjakan mulut.
Tidak lupa, kami juga dibuatkan makan siang oleh Ibu yang tentunya kami santap
dengan lahap. Minggu pertama kami habiskan untuk melakukan sowan kepada
para petinggi kelurahan, desa dan warga sekitar Wirolegi . Mencari rekomendasi
tempat pelaksanaan program kerja dan tidak luput dari mengenalkan diri kepada
para warga.

31
Sesampainya di rumah RW, yang namanya saya tidak ingin sebutkan, kami
pun turut berbincang dan bercerita bersama Bapak RW 10. Kala itu beliau banyak
bercerita mengenai polemik pemillihan ketua RT dan RW yang terjadi di Wirolegi.
Beliau berkata bahwa orang – orang disini sudah sangat mempercayai beliau,
dimana siapapun yang mencalonkan akan dikalahkan dengan suara masyarakat
yang lebih memilih beliau. Dari situasi ini dapat dilihat bahwa bapak RW merupakan
seorang elit di desanya, mengapa? Karena ia merupakan segelintir orang yang
mempunyai indeks tertinggi dalam hal sosial dan politik, dan memiliki kemampuan
memimpin yang tidak dimiliki oleh orang lain sama seperti apa yang dideskripsikan
oleh Vilfredo Pareto. Vilfredo Pareto mengatakan bahwa terdapat 2 lapisan
masyarakat yang berbentuk segitiga. Puncak teratas ditempati oleh para elit dan
lapisan bawah disinggahi oleh para non elit. Bapak RW ini digambarkan sebagai elit
dan warga kaliwining digambarkan menjadi lapisan bawah yaitu non elit, lapisan
yang diperintah (tunduk dan patuh akan perintah elit).

Dapat dianalisis juga bahwa kejadian yang terjadi di RW 10 ini merupakan


salah satu bentuk kecil dari adanya Iron Law Of Oligarchy atau Hukum Besi
Oligarki dari Robert Mischels. Walaupun tidak dapat dikatakan oligarchy secara
konkret, tapi dominasi elit tidak dapat dihindari dikasus ini. Lingkaran elit yang terjadi
tidak dapat ditembus oleh para non elit, secara orang – orang lain tidak dapat
menggantikan posisi dari bapak RW 10 sendiri.

Fast forward di hari ketika kami bertemu dengan kepala sekolah – kepala
sekolah SDN 04 dan 05 Wirolegi. Mereka sangat menerima kami dengan baik dan
mengizinkan kami melakukan apa yang harus kami telah persiapkan. Bapak lurah
merekomenkasikan kami untuk menjalankan program di kedua SD ini, karena
mungkin akses sekolah mereka yang agak terpencil dan susah/ jauh untuk dijangkau
(melewati sawah, hutan dan jalan yang kurang baik). Untuk proker kami Ayo Belajar!
SD yang pembahasannya mengenai pelajaran bahasa inggris dan warna serta
sayur- sayuran dan buah – buahan, SDN 04 Wirolegi merekomendasikan kami untuk
mengajar di kelas 1, berhubung bahan ajaran kami sesuai dengan mata ajar kelas 1.
Namun sayangnya ketika pelaksanaan, para murid masih kurang memahami mata
ajaran yang kami bawakan. Faktor yang mempengaruhi dapat berupa memang
mereka baru mempelajari mata ajaran tersebut atau mereka masih merasa asing
dengan pengajar baru atau memang mereka belum dapat memahami mata ajaran

32
tersebut. Sangat disayangkan bahwa ternyata SD Wirolegi ini untuk mata ajaran
bahasa Inggrisnya agak tertinggal, dimana ketika kita melihat SD - SD yang ada di
surabaya atau kota – kota besar, pelajaran seperti itu seharusnya sudah diterapkan
di taman kanak – kanak.

Lanjut ke SD kedua. SDN Wirolegi 05 dimana guru yang mengajar disana


semuanya merupakan guru honorer dan hanya ada 1 guru PNS yaitu yang menjabat
sebagai kepala sekolah. Guru di SD ini sangat menyerahkan segalanya kepada
kami mulai dari kelas berapa yang ingin kami ajar dan apa saja yang ingin diajarkan.
Ketika saya bertanya kepada salah satu guru yang mengajar disana, saya
mendapatkan informasi bahwa pelajaran yang diajarkan tidaklah pasti, jadi
tergantung mata ajaran yang ingin diajarkan sang guru. “Bu, kalau pelajaran bahasa
Inggris, kira – kira anak – anak kelas dua ini sudah sampai sejauh apa ya
belajarnya?” lalu Ibu guru tersebutpun menjawab “kalo disini engga ada yang
ngajarin bahasa Inggris, tergantung gurunya aja mbak” dari itu dapat disimpulkan
bahwa tenaga pengajar di sekolah ini masih sangat minim, dan betapa kasihannya
anak – anak ini tidak mendapatkan kesempatan sama yang dimiliki oleh anak – anak
SD pada umumnya. Atas rekomendasi guru yang sekiranya berkuasa di SD
tersebut, kami dianjurkan untuk masuk ke kelas 4 SD karena anak – anaknya dapat
diatur dan lebih memahami menghargai orang. Semua berjalan lancar, para anak
SD sudah mengerti mata ajaran yang kami bawakan sehingga akhirnya kamipun
mengajar bedasarkan LKS mereka.

Selebihnya di KKN ini saya mendapatkan pengalaman yang berharga dan


juga beragam, saya dapat bertemu dan bertukar pikiran dengan orang – orang baru.
Tidak selalu sepemikiran karena satu duahal dan sebenarnya sayapun mempunyai
argumentasi – argumentasi yang cukup banyak, namun tidak perlulah memperkeruh
suasana karena pada akhirnya semua perdebatan itu tidak akan berguna, toh kami
disini seharusnya menikmati pengalaman yang bisa dibilang sekali seumur hidup.
Saya sangat senang sekali karena setiap hari saya dapat disambut dengan
pemandangan alam yang sungguh indah, matahari disertai awan yang beradu
kecantikan, banyak sekali pemandangan, hewan, dan juga objek foto lainnya.
Sekarang saya hanya bisa menertawakan perjuangan kami menuju kota Jember dari
desa untuk mendapatkan peralatan – peralatan bagi proker kami. Sungguh
kenangan yang sangat indah dan tidak dapat saya lupakan. Terakhir sesampainya di

33
Surabaya, kamipun berpelukan and said our last goodbyes. I hope that is not our
last goodbyes, and i do home to see my friends again. I love you guys <3.

34
KKN WIROLEGI, JEMBER

Oleh Vriliandia Iranoza – 041711233115

Di semester 5 ini saya mendapatkan kesempatan untuk KKN di Jember yang


lebih tepatnya di Kecamatan Sumbersari, Kelurahan Wirolegi, dan kami sekelompok
ber-sepuluh, yang terdiri dari saya sendiri, Zen sebagai ketua kelompok, Rulik
sebagai koor kecamatan, Ryan, Dimas, Zahra, Shafira, Siti, Salsa, dan Ais. Pada
tanggal 28 Desember 2019, kami semua yang akan melaksanakan KKN berkumpul
di halaman Gedung Airlangga Convention Center (ACC) pada pukul 6 pagi dan
berangakat ke tujuan KKN masing-masing pada sekitar pukul 10. Tujuan KKNnya
tidak hanya di Jember saja, melainkan ada yang di Tuban, Lamongan, Gresik,
Banyuwangi, dan lain sebagainya. Perjalanan ke Jember menghabiskan waktu
sekitar 4 sampai 5 jam-an.

Se-sampainya di Jember, kami langsung diarahkan ke Kecamatan


Sumbersari untuk disambut dengan aparat kecamatan dan dijelaskan beberapa
karakteristik daerah yang akan kami tinggali selama kurang lebih satu bulan dan
juga karakteristik penduduk setempat agar dapat dengan mudah beradaptasi
dengan lingkungan setempat. Setelah itu, kami menuju rumah yang akan kami
tinggali yaitu di Jalan Sritanjung, dimana rumah tersebut adalah milik Bu Hanafi “Bu
Kampung” setempat yang terkenal sering menjamu tamu-tamu dari luar seperti yang
melaksanakan KKN sebelumnya dari Universitas lain dan Alhamdulillah jarak dari
kota ke rumah kami tidak lah begitu jauh, sehingga jika kami memerlukan sesuatu
kami dapat dengan mudah kami dapatkan dan untuk selama seminggu ini proker
kami belum jalan karena memang waktu seminggu ini digunakan untuk masa
adaptasi dengan lingkungan setempat.

Keesokan harinya, di pagi hari kami melaksanakan gotong-royong bersama


warga setempat dan dilanjut tahlilan di masjid sebelah rumah. Kemudian pada
tanggal 30 Desember 2019, kami berkunjung ke rumah Pak RW, Bu Bidan, Pak
Lurah untuk mengenalkan diri sekaligus menyampaiakan progam kerja kami selama
disini dan mohon bantuan atau kerjasamanya.

35
Selama KKN ini, kami memiliki beberapa proker yang bergerak di bidang
kesehatan yang terdiri dari gerakan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).
Kemudian bidang Sosial yaitu Sosialisasi Keluarga Hebat Paham Stunting,
Soalialisasi Pencegahan Penyebaran Hoax. Setelah itu di Bidang Pendidikan yaitu
Kampung Anak Gemar Mengaji dan Ayo Belajar. Serta pada Bidang Ekonomi yaitu
Cooking Class Mini Sushi.

Gerakan PHBS itu sendiri adalah bertujuan untuk mengajarkan kepada anak-
anak SD untuk menurunkan dan mencegah peyakit infeksi yang sering diderita anak.
Selain itu juga dapat menjaga kesehatan gigi dengan menggosok gigi yang baik dan
benar. Sasaran kami adalah Siswa-siswi SDN 04 dan 05 Wirolegi kelas 3 dan 4.
Tingkat antusias dari siswa maupun guru sangat tinggi, karena berdasarkan cerita
dari guru setempat, banyak siswa-siswi mereka yang tidak mandi ketika pergi ke
sekolah. Selain kami memberi materi tentang cara yang benar dalam mencuci
tangan, pentingnya mencuci tangan, dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, kami juga
mengajak siswa-siswi untuk praktik langsung agar lebih paham dan mudah diingat.
Kegiatan PHBS ini kami lakukan pada tanggal Senin, 6 Januari 2020 dan Selasa, 7
Januari 2020.
Setelah itu progam kerja selanjutnya yaitu Sosialisasi Keluarga Hebat Paham
Stunting dimana disiapkan untuk mengajak masyarakat memahami stunting melalui
sosialiasi materi stunting secara umum dan program kalender gizi yang akan
dilaksanakan pada tanggal yang telah ditentukan saat KKN berlangsung. Sosialisasi
ini di adakan karena dikabarkan bahwa Jember menduduki peringkat yang cukup
tinggi dalam stunting. Tapi berdasarrkan bu bidan setempat, bahwa kawasan
wirolegi dapat dijamin sedikit yang terkena stunting. Maka dalam kesempatan ini,
kami mengdukasi para ibu kader tentang “Tumpeng Gizi” dimana yang sering kita
tahu bahwa makanan yang sehat adalah yang mengandung 4 sehat 5 sempurna,
namun di Indonesia kini diganti dengan tumpeng gizi dimana ada penambahan
seperti minum air putih 8 gelas per hari atau setara dengan 2 liter per harinya,
setelah itu juga diimbangi dengan olahraga yang cukup dan pola hidup bersih.
Selain itu kami juga mengajarkan tentang pemberian asupan gizi yang pas,
yaitu dengan menggunakan “isi piringku” dimana dalam isi piringku tersebut sudah
ada takarannya antara karbohidrat, lauk, sayur, buah, dan lain-lain. Dimana
karbohidrat atau makanan pokok tidak boleh setengah atau lebih dari piring.

36
Kemudian untuk para ibu kader lebih paham lagi, kami mengadakan games
menyusun porsi makan sehat yang sesuai di isi piringku serta ada juga games
tentang membedakan mana makanan yang sehat dan tidak sehat bagi tubuh kita
dan pemenenangnya nanti akan mendapatkan hadiah berupa sembako dan
beberapa alat dapur. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal Jum’at,17 Januari 2020
yang bertempatan di pendopo kelurahan wirolegi.
Tidak hanya itu, kami juga memberikan sosialisasi pencegahan penyebaran
hoax dimana disiapkan untuk mengajak masyarakat memahami bahaya adanya
hoax dan konsekuensi penyebaran hoax. Program sosialisasi pencegahan
penyebaran hoax memberikan penyuluhan kepada warga wirolegi mengenai cara-
cara mengidentifikasi apakah suatu isu bersifat hoax dengan memperkenalkan ciri-
ciri suatu isu yang bersifat hoax seperti isu yang tidak tercantum siapa penulisnya ,
isu yang merugikan suatu pihak tertentu, atau isu yang membuat warga marah atau
kecewa dan memperkenalkan cara untuk mengecek suatu isu hoax menggunakan
media sosial Facebook dengan mengikuti komunitas anti-hoax. Kegiatan ini berjalan
dengan lancar namun kami antusiasme yang baik dari warga Wirolegi. Jumlah
warga yang mengikuti program sosialisasi pencegahan penyebaran hoax yaitu 32
orang dari target peserta yang berdasarkan 80 % dari total jumlah warga yang
mengikuti acara pengajian rutin yaitu sekitar 60 orang.
Kemudian ada juga Kampung anak gemar mengaji yayng merupakan untuk
mendidik anak-anak agar gemar mengaji setiap hari dan memiliki hafalan surat
pendek Al-Qur’an. Program kerja ini akan dilaksanakan pada setiap hari ba’da
maghrib selama KKN berlangsung serta untuk menumbuhkan rasa gemar mengaji
pada anak-anak dan melatih mereka untuk memiliki hafalan surat-surat pendek Al-
Qur’an. Selain kegiatan mengajar Al-Qur’an juga terdapat kegiatan menghafal surah-
surah pendek, dimana anak-anak melakukan setoran surah-surah kepada
penanggung jawab. Tujuan setoran hafalan ini agar anak-anak bisa menghafal
surah-surah pendek yang terdapat di Al-Qur’an dan dapat mengaplikasikannya
dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam melaksanakan sholat. Di akhir
pertemuan, anak-anak diberikan hadiah sebagai bentuk motivasi agar selalu
mengaji.
Ayo Belajar! SD, kami mengajarkan bahasa inggris karena kami anggap
pelajaran tersebut sangat bermanfaat di era global ini. Dan kebetulan tenaga
pendidik untuk pelajaran bahasa inggris ini juga kurang jadi dapat dikatan bahwa
37
materi yang diajarkan sangat ketinggalan dengan wilayah-wilayah yang lain dan
telah kami lakukan 1 minggu sekali selama 2 minggu berturut - turut selama KKN
berlangsung.

Program Cooking Class adalah program kerja yang disiapkan untuk mengajak
masyarakat khususnya ibu-ibu warga wirolegi membuat makanan dengan gizi
seimbang yang nantinya diharapkan menekan angka stunting di Kelurahan Wirolegi
serta dapat dipasarkan di lingkungan sekitar. Selain itu, sushi class ini juga
diperuntukkan untuk ibu-ibu agar dapat mengkreasikan bekal atau makanan
anaknya agar semua gizi terpenuhi, karena di dalam sushi sudah terdapat sayuran
seperti wortel dan mentimun yang sudah disajikan menarik sehingga akan
menambah nafsu makan anak dan tentunya anak jadi suka makan sayur.

38
Mengabdi Sebulan Jember

Dimas Ilham Pramudya - 071711533011

Setelah mendapatkan informasi lewat cybercampus alhamdulillah aku


mendapatkan lokasi KKN di Jember. Saya memang dari awal telah mengingkan
mendapatkan Jember untuk melakukan kegiatan. Ini merupakan sebuah peluang
dan kesempatan untuk bisa belajar di lingkungan yang baru jauh dari rumah dan
asal. Saya sedikit bisa berbagai beberapa ilmu yang sudah didaptakan di kuliah
untuk bisa diterapkan di masyarakat. Kami juga bisa belajar bersama apa yang
belum kita mengatahui di masyarakat

Kami bersepuluh bertemu untuk mengadakan rapat pembahasan proker yang


pertama . Tema yang diberikan pihak kampus adalah program kerja yang berkaitan
masalah stunting, karena menurut data yang diberikan Bakesbangpol Jember angka
stunting di Jember masih terbilang cukup tinggi sehingga kami memutuskan untuk
merancang konsep program antara lain penerapan hidup bersih sehat seperti cara
menyikat gigi baik dan benar dan demo cuci tangan untuk memberikan edukasi
kepada siswa SD sejak dini. Tidak hanya itu dibidang sosial kami mengadakan
sosialisasi pemehaman gizi kepada ibu kader untuk dapat diterapkan ke lingkungan
sekitar untuk pemenuhan gizi di keluarga, selain itu dibidang ekonomi kami
mengadakan mini cooking class pembuatan sushi dengan bahan yang mudah
ditemu disekitar. Program lain bidang pendidikan adalah ayo belajar dilakukan di
beberapa SD di wilayah Kelurahan Wirolegi. Saya pribadi cenderung dapat
mengimplementasikan kembali karena saat PKL program studi beberapa program
bersinggungan dengan tema yang ada pada KKN

Sebelum KKN tiba, kami lewat ketua kelompok Zen telah berkomunikasi
dengan pihak kelurahan dan ibu kampung untuk permintaan izin dan akomodasi
penginapan selams berkegiatan. Selama suvei untungnya kami dimudahkan dalam
segala mengurus izin dan segala sesuatunya.

Hari yang ditunggu tiba segala persiapan sudah siap hingga kami menuju
Jember, kami berkumpul di Kampus C Universitas Airlangga pukul 06.00, namun
sbelumnya pukul 04.00 saya harus menaruh motor sebagai perlengkapan

39
transportasi kelompok saat KKN. Saya membawa 1 koper besar dan satu tas jinjing.
Saya sengaja membawa pakaian lebih dari cukup untuk sekedar jaga dan aman
ketika ada kegiatan event mendadak sekalipun.

Saat sampai bus sudah berdatangan dan semua peserta mahasiswa KKN
dilepaskan ke masing masing tujuan Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Jember,
hingga Banyuwangi. Perjalanan Jember membutuhkan waktu sekitar 5 jam
perjalanan, satu bus diisi rombongan KKN wilayah Kecamatan Sumbersari. Pukul
14.00 kami tiba di Pendopo Kecamatan Sumbersari disambut perangkat kecamatan.
Pihak kecamatan menerima kami dengan senang hati dan berharap adanya
perubahan terhadap pola perilaku masyarakat untuk menjadi lebih baik. Kami juga
mendapat informasi tentang kondisi wilayah kecamatan saat itu yanh mengalamu
kejadian luar biasa (KLB) Hepatitis A yang menyerang sekitar kampus dan sudah
banyak warga sekitar kampus Unej Setelah di sambut dan mengikuti acara serah
terima dan perkenalan kami melanjutkan ke masing-masing kelurahan.

Sesampainya di rumah tempat tinggal kami disambut hangat oleh keluarga


ibu, kebetulan saat itu ibu dan keluarga sedang mempersiapkan acara haul suami.
Ibu seorang single parent, suami ibu meninggal 2 tahun lalu karena sakit. Saat ini
ibu tinggal bersama 3 orang anaknya. Jumlah kamar ibu berjumlah 3 jadi kmu
semua bisa tidur di kamar. Ibu salah satu orang yang disegani di kampungnya,
dulunya ibu dan bapak adalah bapak kampung kaliwining.

Keesekoan harinya kami membantu sedikit persiapan haul tahunan kirim


doa,kami membuat kue lanon yang terbuat dari tepung ketan dan bumbu2 serta
parutan kelapa. Dibantu ibu dan beberapa warga yang lain. Mayoritas warga sekitar
adalah Madura. Memang Jember dikenal sebagai daerah Padhalungan yaitu
warganya banyak dari suku Madura yang dapat juga berbahasa Indonesia. Saya
tidak mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan Madura, untunglah dari
sepuluh anggota kami, satu teman saya dapat berbahasa Madura. Cukup
membantu dalam hal komunikasi. Sedikit demi sedikit kami belajar kosakata bahasa
Madura dasar.

Minggu pertama kami rencanakan untuk melakukan survei dan mengurus


perizinan ke berbagai pihak terkait untuk berjalannya proker. Sesuai pepatah tak
kenal maka tak sayang. Kami juga berusaha mengikuti berbagai kegiatan yang

40
diselanggarakan oleh warga sekitar guna memperkenalkan diri kepada warga
sekaligus ingin mengajak warga juga ikut serta berpartisipasi terhadap program kerja
yang akan dilakukan selama kegiatan KKN. Kami sowan ke rumah Pak RW untuk
silaturahim serta menayakan beberapa kegiatan warga. Tiap selasa malam rabu ada
kegiatan ngaji malam reboan dimana dibedakan untuk laki-laki dan perempuan.
Ngaji laki-laki berpindah rumah secara bergantian setiap minggunya, sementara
ngaji perempuan ditempat yang sama yaitu disamping rumah Ibu Hanafi. Kegiatan
ini juga sebagai pertemuan rutin warga Dusun Kaliwining.

Selain itu kami juga sowan ke rumah Bidan Desa Wirolegi untuk perihal
perizinan kegiatan yang berhubungan dengan bidang kesehatan. Kami juga
menanyakan kondisi kesehatan warga wirolegi. Ternyata angka stunting terbilang
sudah minim, namun masih ada beberapa ibu dan balita yang kekurangan gizi.
Kami diberikan saran dari bidan untuk bisa mengajak warga lewat kader dalam
upaya peningkatan gizi keluarga. Bidan menginfokan masih banyak warga
cenderung mengonsumsi makanan yang kurang sehat dan kurang dari standar
ketetapan pemenuhan gizi. Acara yang melibatkan kader cukup sering dilakukan
hingga menurut bidan kader wilayah wirolegi cukup tau tentang informasi stunting
dan masalah kesehatan lainnya. Kami juga mengganti rancangan kegiatan untuk
dapat memberikan informasi tentang gizi. Minggu pertama kami juga gunakan untuk
sowan ke Kelurahan secara formal kepada Lurah dan seluruh perangkat yang ada di
Kelurahan Wirolegi serta mempaparkan secara singkat program kerja yang akan
kami lakukan di Kelurahan Wirolegi. Minggu pertama juga kami gunakan untuk izin
ke beberapa pihak sekolah setelah mendapat rekomendasi dari Lurah. Loksi SD
cukup jauh melewati jalanan yang digunakan sebagai aksed truk mengambil
tambang pasir. Jalanan sangat berdebu dan akses jalan cukup terjal bebatuan
hingga kami dapat mencapai lokasi.

Malam tahun baru 2020 kami juga mengikutu kegiatan warga dengan
diadakan electone makan-makan bersama warga. Suasananya sederhana namun
vibes tahun baru sangat terasa, benar pepatah bahagia itu sederhana. Karaoke
bersama warga joget bareng hingga makan malam setelah pukul 00.00. Di minggu
pertama juga kami merencanakan untuk dapat menyesuaikan beberapa program
lain seperti mengadakan kegiatan Belajar Ngaji dimusholla setelah maghrib.

41
Minggu kedua dan ketiga digunakan untuk mengeksuksi beberapa program
seperti sosialiasi penyebaran hoax yang dihadiri warga setelah ngaji reboan. Warga
sangat antusian karena topik yang diangkat sangat relare dengan maslaha yang
ditemukan yaitu hoax kesehatan. Selain itu kegiatan mini sushi juga diadakan dua
kali yang pertama adalah dengan ibu PKK RW dan kedua dengan PKK Kelurahan
atas permintaan spesial. Warga sangat antusias dengan program ini karena
bentuknya demo membuat makanan yang modern dengan bahan yang sangat
mudah ditemukan disekitar. Sushi dapat digunakan sebagai modifikasi bentuk
penyajian gizi yang berimbang.

Di minggu kedua hari Jumat keluarahan kami menjadi tuan rumah acara
kecamatan. Kami mengadakan kegiatan Jumat Berkah. Kami banyak belajar
tentang bermasyarakat disana belajar bahasa Madura. Tidak hanya itu kami juga
dapat menghargai waktu dan sesama warga sekitar. Jember mengejarkan kita
untuk bisa lebih bisa toleransi. Kerjasama antar kelompok perlu untuk meningkatkan
rasa solidaritas.

42