Anda di halaman 1dari 15

APLIKASI SIRKULASI KUALITATIF DAN

FUNGSIONAL PADA INTERIOR SUZUYA MALL DI


BANDA ACEH

NAMA MAHASISWA : FIRLY CUT NABILA

NIM : 1704104010102

MATAKULIAH : METODOLOGI PENELITIAN

DOSEN KELAS : Dr. MIRZA FUADY, ST., MT.

UNIVERSITAS SYIAH KUALA


FAKULTAS TEKNIK
PRODI ARSITEKTUR

TAHUN PERIODE 2020/2021


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya
dapat menyelesaikan tugas “ Proposal Penelitian ” ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan ini dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pada matakuliah
“Metodologi Penelitian”. Selain itu makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan
tentang “Proposal Aplikasi Sirkulasi Kualitatif dan Fungsional pada Interior di Suzuya Mall
Banda Aceh.” bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Saya mengucapkan terimakasih karena telah diberikan tugas ini sehingga dapat menambah
wawasan saya serta menambah pengetahuan dalam bidang studi ini.

Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Takengon, 31 Maret 2020


BAB I
Aplikasi Sirkulasi Kualitatif dan Fungsional pada Interior Suzuya Mall di Banda
Aceh

ABSTRAK

Suzuya mall adalah pusat perbelanjaan yang menawarkan beragam fashion,handphone store, food and
beverages, hingga kantor cabang bank.Didalam bangunan mall terdapat area sirkulasi untuk pengguna.
Sirkulasi adalah elemen yang mengorganisasi dan menghubungkan antar bagian dari pusat
perbelanjaan, seperti pertokoan dan fasilitas mall lainnya. Menurut Peter Coleman, pengorganisasian
sirkulasi dapat diidentifikaskan secara terpisaah dalam persyaratan fungsional dan kualitatif. Penelitian
ini menggunakan metode kualitatif sebagai tolak ukurnya. Persyaratan sirkulasi kualitatif adalah
perencanaan yang direkomendasikan berdasarkan pertimbangan penggunaan mall dari sudut pandang
pengunjung serta dapat memberikan karakter pada pusat perbelanjaan sehingga membuat fasilitas
mall lebih berkesan dan menyenangkan.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pasca terjadinya bencana alam tsunami tahun 2004 silam, provinsi Aceh kini telah bangkit dan
berkembang dengan baik, terutama pada sektor ekonomi dan pengembangan tata kota. Kota Banda Aceh
sebagai ibukota dari provinsi tersebut juga turut mengalami perkembangan yang sangat signifikan, seperti
pada bidang tata kota, pariwisata, perdagangan, pendidikan dan budaya, dan lain-lain. Seiring dengan
perkembangan zaman, Kota Banda Aceh memiliki banyak tuntutan yang harus dipenuhi dalam rangka
mengembangkan potensi daerah Kota Banda Aceh, agar terus mampu bersaing, baik dalam tingkat
nasional maupun internasional.

Shopping mall adalah suatu pusat perbelanjaan yang merupakan bangunan atau kumpulan
beberapa bangunan dalam satu lokasi yang didalamnya terdapat sejumlah vendor independent, anchor
store dan berbagai jenis ritel. Shopping mall atau mal kini bukan lagi sekedar tempat untuk berbelanja,
seiring dengan berjalannya waktu mal merangkap fungsi dimana menjadi tempat untuk melakukan
berbagai kegiatan dimulai dengan kegiatan komersial, sosial, rekreasi, relaksasi, olahraga bahkan kegitan
seperti beribadah dimana banyak melibatkan antar masyarakat dari usia anak-anak, remaja, dewasa dan
orang tua.

Pada awal tahun 90-an mulai marak dibangun pusat-pusat perbelanjaan (shopping center)/
Shopping Mall yang kemudian seiring perkembangannya mulai dipadukan dengan konsep hiburan
(entertainment), sehingga mulai memicu perkembangan mall untuk bersaing dalam dunia bisnis dengan
memberikan konsep-konsep yang berbeda untuk menarik minat masyarakat. Terlihat perkembangan
ketertarikan konsumen akan tempat berbelanja yang menawarkan fasilitas hiburan untuk menghabiskan
waktu dari kejenuhan hidup perkotaan (refreshing) lebih diminati daripada hanya sekedar tempat untuk
berbelanja. Sehingga di Banda Aceh sebagai ibukota provinsi dengan laju pertumbuhan penduduk
tertinggi kedua, memerlukan suatu pusat perbelanjaan yang mampu memberikan konsep entertainment
yang dapat memenuhi tingkat kebutuhan hidup, taraf hidup masyarakat perkotaan, serta sifat
konsumerisme masyarakat kota Banda Aceh.

1.2 Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini penulis mencoba merumuskan persoalan dalam bentuk pertanyaan:

1. Bagaimana pola sirkulasi pada pusat perbelanjaan terhadap pola penyebaran pengunjung ?
2. Bagaimana Pengeorganisasi dan syarat secara kualitatif dan secara fungsional ?
3. Bagaimana sirkulasi pada suzuya Mall di Banda Aceh ?

1.3 Maksud Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui Sirkulasi secara fungsional dan secara kualitatif
pada bangunan mall.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aplikasi sirkulasi kualitatif pada interior Suzuya
Mall Banda Aceh dan untuk mengetahui akan aplikasi ruang sirkulasi berdasarkan persyaratan fungsional
yang merupakan aturan-aturan dasar perencanaan umum shopping mall.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

A. Pola Sirkulasi pusat perbelanjaan terhadap pola penyebaran pengunjung

Pola tata letak mall menentukan keberhasilan dari bangunan mall tersebut. Kecendrungan perilaku
pengunjung mall yang menginginkan kemudahan dan kese-derhanaan untuk menuju tempat yang dituju,
membuat pola mall harus sederhana dan sirkuaasi yang jelas. Menurut Frich, Northen dan Haskoll (1977)
pola tata letak mall yang banyak berhasil sesuai kondisi di Amerika adalah yang memiliki bentuk huruf I,
L dan T. Pada Prinsipnya pola mall adalah Linier Tambahan variasi bertujuan untuk menghindari
kemonotonan secara visual, tetapi tanpa mengurangi pola yang sederhana. Panjang mall harus
mempertimbangkan kemampuan pengunjung untuk berjalan dari ujung sampai ke ujung mall.

Menurut Ruben (1978), shopping mall adalah penggambaran kota yang terbentuk oleh elemen-
elemen:

1. Anchor magnet, merupakan node yang berfungsi sebagai landmark, perwu-judannya berupa plaza
dalam shopping mall.
2. Magnet sekunder, berupa toko-toko pengecer, supermarket, super store dan bioskopS
3. Street mall, berupa pedestrian atau jalur sirkulasi yang menghubungkan magnet-magnet.
4. Landscaping, berupa pembatas luar dipertokoan.

Pusat perbelanjaan yang berhasil tidak terlepas dari adanya sirkulasi yang baik tidak terjadinya
kerumitan dan berkum-pulnya pengunjung tidak hanya terjadi pada salah satu bangunan tetapi terjadi
merata disetiap ruang bangunan. Pola sirkulasi juga ditentukan oleh pola susunan ruang, untuk bangunan
shopping mall pola susunan ruang yang baik adalah yang berbentuk I, T dan L karena akan membentuk
pola sirkulasi yangmemiliki orientasi yang jelas. Pola sirkulasi dirancang sedemikian rupa dengan tujuan
pengunjung dapat melewati seluruh retail toko yang dapat menguntungkan bagi penyewa retail dan
penyelenggara pusat perbelanjaan. Dan Pola sirkulasi sangat menentukan ber-hasil atau tidaknya fungsi
suatu bangunan. Pola susunan ruang dari suatu bangunan secara langsung menentukan pola alur sirkulasi.

B. Syarat sirkulasi secara fungsional dan kualitatif

Pertimbangan pengorganisasian ruang sirkulasi publik dapat diidentifikasi menjadi persyaratan


sirkulasi secara fungsional dan kualitatif. Persyaratan kualitatif secara umum, memberi karakter pada
suatu tempat dan membantu membuat fasilitas lebih mudah diingat dan dinikmati. Persyaratan kualitatif
lebih mengarah pada pertimbangan penggunaan mal dari sudut pandang pengunjung dan mengenai detail
desain mall sehingga dapat membuat perbedaan antara satu mal dengan mal yang lain.

Sedangkan persyaratan sirkulasi secara fungsional adalah pertimbangan perencanaan dasar atau
utama bangunan (penting), yang merupakan kebutuhan pengorganisasian umum untuk sebuah pusat
perbelanjaan atau mal. Persyaratan sirkulasi secara Fungsional menurut Peter Coleman antara lain :

 Menetapkan kerangka pengorganisasian untuk semua akomodasi


 Membentuk akses yang menghubungkan dengan fasilitas yang berbeda termasuk pada bagian
tengah
 Menyediakan lingkungan yang nyaman dan menarik untuk aktivitas belanja, makan dan rekreasi
 Menyediakan ruang sirkulasi yang aman dan mengamankan untuk digunakan
 Membentuk ruang sirkulasi yang menghubungkan dengan jalan yang ada
 Menghubungkan dengan berbagai sarana transportasi termasuk kendaraan pribadi dan kendaraam
umum
 Strategis mengatur akomodasi untuk memastikan bagian depan pertokoan dilewati oleh
pengunjung
 Ukuran ruang sirkulasi :

- Mengakomodasi pengunjung secara aman dan nyaman pada saat ramai yang memungkinkan
untuk bebas bergerak ke segala arah (peak period)
- Tetap menciptakan kegiatan dan bisnis pada saat sepi (quitter period)

 Membentuk urutan perngorganisasian yang mudah untuk dipahami


 Menyediakan ruang sirkulasi yang baik saat siang dan malam hari
 Mengatur ruang sirkulasi publik menjadi area yang dikenali melalui depan pertokoan
 Memanfaatkan ujung sirkulasi untuk mengakomodasi perubahan arah atau memungkinkan untuk
interkoneksi
 Mengatur ruang sirkulasi untuk membentuk rangkaian pejalan kaki yang memungkinkan seluruh
deret terlewati tanpa terulang
 Membentuk ruang simpul (node space) pada ujung
 Memanfaatkan ruang simpul (node space) bertindak sebagai fokus, yang mengarahkan
pengunjung menuju area yang lain
 Secara strategis melokasikan anchor dan pertokoan medium (MSU) untuk mengarahkan
pengunjung dari satu tempat ke tempat lainnya
 Mengatur ruang sirkulasi dan akomodasi untuk menuju perubahan tingkat yang dapat dilakukan
disepanjang area
 Pengaturan lantai bertingkat :

- Mengorganisasi akomodasi dan sirkulasi vertikal agar setiap pertokoan terlewati dengan jumlah
langkah kaki yang seimbang di setiap lantai
- Memberikan pilihan jenis sirkulasi vertikal yang berbeda untuk kenyamanan akses antar lantai
- Mengatur luasan ruang dan akomodasi untuk memiliki tampilan yang baik antara ruang sirkulasi
dan pertokoan di tingkat yang berbeda
- Memposisikan pertokoan di masing-masing sisi untuk mendapatkan tampilan yang baik diantara
deret pertokoan

 Menyediakan titik persimpangan yang nyaman untuk diakses, menghubungkan bukaan antar sisi
galeri.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

Pendekatan Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif analisis,
yaitu data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka, dimana data yang
diperoleh bersifat naturalistik. Kemudian dari data-data yang terkumpul dianalisis dengan teori
kepustakaan sebagai tolak ukurnya.

Pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung terhadap obyek penelitian dengan
melakukan pengamatan langsung terhadap ruang sirkulasi di “ Suzuya Mall ” guna memperoleh
informasi. Pengamatan dilakukan berdasarkan batasan ruang lingkup penelitian yaitu persyaratan sirkulasi
fungsional menurut Peter Coleman. Pengamatan meliputi area sirkulasi horisontal dan vertikal, elemen
interior dan fasilitas mall yang berpengaruh pada area sirkulasi. Data yang dihasilkan melalui observasi
dapat berupa dokumentasi foto, catatan atau memo.

3.2 Lokasi Penelitian

Suzuya Mall Banda Aceh berada di Jalan. Teuku Umar, Lamtemen Tim., Kec. Jaya Baru, Kota Banda
Aceh, Aceh.

3.3 Instrumen Penelitian

Suharsimi Arikunto ( 2002 ; 136), menyatakan bahwa instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas
yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya
lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistemati sehingga lebih mudah diolah. Berdasarkan
teknik pengumpulan data yang digunakan makan instrumen penelitian ini menggunakan panduan
dokumentasi.

3.4 Jadwal Penelitian

Penelitian tentang aplikasi sirkulasi kualitatif dan fungsional pada interior ini dilaksanakan di Suzuya
Mall Banda Aceh. Kegiatan penelitian ini dimulai sejak di sahkannya proposal penelitian dalam Rangka
Tugas mata kuliah metodologi penelitian.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Peneliti melakukan observasi langsung dengan menempatkan diri sebagai pengunjung dan
melakukan pengamatan pada fasilitas dan ruang sirkulasi “ Suzuya Mall ”. Hasil dari penelitian ini
memberikan sebuah gambaran dari ruang sirkulasi yang diaplikasikan “ Suzuya Mall ” berupa data
lapangan, dan rangkuman dari hasil persyaratan sirkulasi secara fungsional maupun secara kualitatif pada
“ Suzuya Mall ”.

Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa secara garis besar “Suzuya
Mall” mengaplikasikan persyaratan sirkulasi fungsional dan kualitatif sesuai dengan parameter, meskipun
terdapat bebrapa persyaratan yang teraplikasi tidak sesuai dengan parameter. Persyaratan Sirkulasi
kualitatif yang teraplikasikan diantaranya adalah identitas area sirkulasi yang dikenali oleh pengunjung,
susunan ruang berdasarkan kepentingan dan fungsi ruang, kenyamanan lingkungan, perawatan
lingkungan mal, dan memberikan pengalaman positif kepada pengunjung dengan menyediakan fasilitas
tempat duduk, serta kualitas elemen interior dalam mal.

Persyaratan sirkulasi kualitatif yang tidak teraplikasikan pada Suzuya Mall antara lain
memberikan pengalaman positif kepada pengunjung mengenai proporsi ruang. Banyak pengunjung
merasa bahwa proporsi ruang di Suzuya Mall tidak sebanding dengan banyaknya pengunjung yang
datang. Hal ini menyebabkan sirkulasi pengunjung menjadi tidak nyaman karena terlalu padat, terlebih
lagi pada saat weekend. Elemen-elemen dekorasi pada Suzuya Mall tidak dipasang secara permanen dan
hanya digunakan untuk kepentingan acara tertentu, contohnya adalah dekorasi pada saat natal, chinese
new year, ataupun idul fitri. Suzuya Mall tidak menyediakan lingkungan yang panas karena faktor iklim
di Indonesia tidak memiliki musim dingin, sehingga parameter ini disesuaikan dengan kondisi lingkungan
penelitian.

Pembahasan aplikasi sirkulasi “ Suzuya Mall ” berikut ini adalah berdasarkan hasil analisis yang
mewakili dasar utama dari persyaratan sirkulasi secara fungsional dan kualitatif, yaitu aplikasi
pengorganisasian ruang sirkulasi (horisontal) dan sirkulasi vertikal di “ Suzuya Mall ” dan sirkulasi
dengan persyaratan kualitatif berdasarkan Peter Coleman.

A. Sirkulasi Horizontal

Kerangka pengorganisasian tata letak dan perencanaan sirkulasi horisontal pada hakekatnya
adalah saling terkait dan berpengaruh satu sama lain. Tata letak menurut Coleman adalah fundamental
atau dasar bagi keberhasilan pusat perbelanjaan dan karena itu dianggap di sini sebagai bagian dari dasar
secara singkat. Perencanaan pola sirkulasi bertujuan untuk membentuk alur yang mengarahkan dan
mengakomodasi setiap fasilitas yang ada pada bangunan mal seperti pertokoan, katering atau food court,
anchor store, dan fasilitas bersantai. Sirkulasi horisontal meliputi ruang sirkulasi koridor, jembatan,
atrium, dan setiap perencanaan tata ruang sirkulasi secara mendatar.

Sirkulasi horisontal di Suzuya Mall terdiri dari 4 lantai diantaranya yaitu dengan memiliki
koridor-koridor spiral dan atrium pada bagian tengah bangunan, yang membuat pengunjung dapat
menikmati semua lantai dengan berjalan santai dan nyaman.
Gambar 1. Sirkulasi Horizontal di Suzuya Mall

B. Sirkulasi Vertikal

Sirkulasi vertikal juga berperan penting dalam memfasilitasi pengunjung untuk berpindah dari
satu lantai ke lantai yang lain. Fasilitas sirkulasi vertikal meliputi tangga, eskalator, lift, ramp, dan
travelators. Suzuya Mall dilengkapi dengan lift dan eskalator sebagai sirkulasi vertikalnya, Eskaltor di “
Suzuya Mall ” pada lantai 2 – 4 diposisikan pada area yang berbeda, eskalator naik berada di sisi koridor
kanan dan eskalator turun di sisi koridor kiri .Eskalator di area ini menggunakan konfigurasi posisi
pasangan (paired) yang diletakkan secara terpisah dan eskalator dengan arah yang sama melapis atau
bertumpuk di atas pasangan eskalator awal. Eskaltor di “ Suzuya Mall ” pada lantai 1 terletak pada satu
titik area dengan menggunakan konfigurasi stacked escalator yaitu disusun dengan berpasangan dan
ditumpuk secara paralel.

Terdapat satu lift yang terletak di bagian utara bangunan mall, dan Lift yang digunakan di “
Suzuya Mall ” terletak pada area yang berdekatan dengan akses parkiran dan tangga darurat. Lift
disediakan di “ Suzuya Mall ” dari lantai 1-4 dapat diakses melalui lift tersebut.

Gambar 2. Sirkulasi Vertikal di Suzuya Mall

C. Identitas Area Sirkulasi

Ruang sirkulasi berguna untuk memperlihatkan karakter di setiap area Suzuya Mall, yang dapat
mempengaruhi ingatan pengunjung mengenai tempat yang pernah dikunjunginya. Berdasarkan hasil
Survey, banyak pengunjung mengenali identitas Suzuya Mall melalui pertokoan favorit, area makan,
kantor cabang bank dan ATM centre, toko perhiasan, fasilitas publik seperti toilet, tempat duduk, atrium,
dan elemen-elemen interior dalam mall. Fasilitas ATM centre dan kantor cabang bank merupakan salah
satu identitas area sirkulasi yang dikenali pengunjung di Suzuya Mall. Terdapat berbagai jenis ATM
center yang terdapat pada lantai 1, yang mana membuat kesulitan bagi pengunjung untuk bertransaksi
atau mengambil uang. Karena tidak ada ATM di setiap lantai ,sehingga pengunjung yang berada dilantai
atas harus turun ke lantai 1 untuk ke ATM.

Suzuya Mall juga dikenali melalui pertokoan yang khusus dengan lokasi strategis,. Pertokoan
yang khusus tersebut ialah Suzuya Market Suzuya Market merupakan toko yang menjual berbagai macam
dan yang retailnya berjumlah lebih dari 1. Suzuya Market di lantai 2 dan lantai 3 memilki luas yang
cukup besar dibandingkan dengan retail lainnya sehingga dapat menjadi area magnet pengunjung.
Pertokoan ini, juga dapat membantu pengunjung untuk mengingat area sirkulasi mall pada tiap lantai.

Gambar 4. Lokasi anchor tenant di Suzuya Mall

Suzuya Mall juga banyak dikenali dari retail makanan yang berada di tiap lantai. Peletakan retail
makanan di depan main entrance ini dapat membentuk ingatan pengunjung mengenai area sirkulasi dalam
mall. Pada lantai 1 juga terdapat atrium yang sering digunakan untuk mengadakan event sehingga dapat
menarik perhatian pengunjung.

Gambar 5. Ratail makanan dan Atrium di Suzuya Mall

D. Susunan Ruang Berdasarkan Kepentingan dan Fungsi Ruang

Sirkulasi sekunder adalah bagian dari sirkulasi di Suzuya Mall yang area sirkulasinya lebih
sempit.Sirkulasi sekunder ini biasanya digunakan untuk mengarahkan pengunjung kepada retail-retail
selain retail magnet yang ada di Suzuya Mall. Sirkulasi sekunder merupakan koridor-koridor yang pada
bagian tengahnya terdapat area void atau stan-stan yang berjualan berbagai jenis produk,.
Gambar 6.SirkulasSekunder dan area void di Suzuya Mall

Sesuai dengan hasil survey, ada pengunjung yang kurang merasa nyaman dengan beberapa area
sirkulasi di Suzuya Mall karena memanfaatkan ruang sirkulasi dengan peletakan stan-stan di tengah area
sirkulasi. Hal tersebut dapat menghambat sirkulasi pengunjung karena banyak pengunjung yang berhenti
untuk melihat. Selain itu, ada beberapa stan yang meletakkan barang dagangan melebihi dari batas area,
sehingga sirkulasi semakin sempit. Tetapi secara keseluruhan, Suzuya Mall sudah menetapkan hierarki
yang jelas antara ruang sirkulasi yang berbeda sesuai dengan kepentingan relatif dari fungsi ruang.

Gambar 7.Stand di area sirkulasi Suzuya Mall

E. Kenyamanan Lingkungan

Suzuya Mall memiliki tipe fisik bangunan enclosed dimana bangunan malnya memiliki ruang
yang tertutup secara keseluruhan. Menurut hasil survey, sebagian besar pengunjung sudah merasa
nyaman dan terlindungi dari cuaca maupun suhu eksternal. Pengunjung merasa nyaman dalam mal karena
terdapat AC sehingga suhu udara lebih sejuk. Selain itu, pengunjung juga merasa terlindungi dari cuaca
luar karena bentukan plafon yang sederhana dan kokoh.

Gambar 8.Bagain atap dengan pencahayaan buatan


F. Menyediakan Ruangan Dingin (chilled) di Musim Panas

Suzuya Mall dilengkapi dengan pendingin ruangan sentral, yang terkontrol dari pusat saat jam
operasional. Berdasarkan hasil survey, suhu udara dalam Suzuya Mall sudah cukup karena dapat
membuat penggunjung merasa nyaman saat beraktivitas. Mayoritas pengunjung mall banyak didominasi
oleh perasaan cukup puas terhadap suhu ruangan dingin yang diberikan pada musim panas.

Gambar 9.Instalasi pendingin ruangan di area sirkulasi Suzuya Mall

G. Perawatan (maintenance)

Setiap area sirkulasi di Suzuya Mall memperhatikan elemen-elemen interior yang dirawat dengan
baik. Sebelum mulai beroperasional, terdapat banyak cleaning service yang bertugas untuk merawat dan
membuat mall menjadi bersih. Berdasarkan hasil survey, lingkungan dalam mall sudah bersih dan terawat
dengan baik, walaupun toiletnya masih kurang bersih. Petugas kebersihan dalam mal tanggap dalam
mengerjakan tugas dan kewajiban yang dimilikinya sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan,
sehingga tidak mengganggu sirkulasi pengunjung.

Gambar 10. Cleaning service secara rutin membersihkan ruang mal

a. Kualitas dan proporsi ruang

Sebagian besar pengunjung merasa nyaman beraktivitas dalam mall, tetapi pada saat ramai (weekend)
kenyamanan pengunjung berkurang karena jumlah pengunjung yang padat. Berdasarkan hasil Survey,
banyak pengunjung merasa lebar area sirkulasi sekunder (koridor-koridor) tergolong sempit apalagi pada
saat ramai. Lingkungan mall di Suzuya Mall memiliki kualitas yang baik. Banyak pengunjung
memaklumi tampilan interior Suzuya Mall, karena pengunjung merasa bahwa Suzuya Mall adalah mal
yang ditujukan untuk berbelanja. Pengunjung tidak terlalu memperhatikan desain mall karena yang
terpenting adalah kebutuhan berbelanja mereka terpenuhi.
Gambar 11. Kondisi area sirkulasi sekunder saat ramai

b. Membentuk ruang yang memfasilitasi pertemuan informal:

- Fasilitas tempat duduk

Suzuya Mall menyediakan area fasilitas tempat duduk untuk pengunjungnya. Mayoritas
pengunjung Suzuya Mall biasanya berkeliling mall untuk berbelanja agar kebutuhannya terpenuhi
sehingga dibutuhka fasilitas tempat duduk untuk beristirahat. Tata letak tempat duduk harus diposisikan
agar tidak bertentangan dengan gerakan pejalan kaki menuju pertokoan.

Adanya fasilitas tempat duduk dalam mall membuat pengunjung tidak susah mencari tempat
beristirahat sehabis berbelanja. Berdasarkan hasil survey, banyak pengunjung merasa puas dengan adanya
fasilitas tempat duduk yang disediakan oleh Suzya Mall dan juga ada pengunjung merasa tidak puas
karena fasilitas tempat duduk hanya di lantai 2. Jumlah fasilitas duduk tidak banyak dan tidak tersebar di
tiap lantainya.

Gambar 12. Fasilitas tempat duduk yang disediakan di Suzuya Mall

- Ruangan untuk mengadakan acara

Suzuya Mall menyediakan ruang untuk pertemuan pada area khusus seperti atrium, maupun
ruang node. Area tersebut dapat meningkatkan aktivitas pengunjung yang biasanya dipergunakan untuk
mengadakan acara tertentu. Area atrium maupun node di Suzuya Mall digunakan untuk menghias
ruangan pada saat menyambut event tertentu, misalnya natal, idul fitri, tahun baru imlek, maupun event
yang lain.
Gambar 13. Atrium dan area node untuk mengadakan acara

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa secara garis
besar Suzuya Mall telah mengaplikasikan persyaratan sirkulasi kualitatif oleh Peter Coleman daan ruang
sirkulasi fungsional sesuai dengan parameter, walaupun masih terdapat beberapa persyaratan yang tidak
teraplikasikan. Sirkulasi kualitatif yang teraplikasikan diantaranya adalah identitas area sirkulasi yang
dikenali oleh pengunjung, susunan ruang berdasarkan kepentingan dan fungsi ruang, kenyamanan
lingkungan, menyediakan ruang dingin di musim panas, perawatan lingkungan mall, dan memberikan
pengalaman positif kepada pengunjung dengan menyediakan fasilitas tempat duduk, ruang pertemuan
informal dalam mal.

Menurut peneliti, Suzuya Mall sudah memperhatikan kenyamanan pengunjungnya dari fasilitas
publik yang disediakan dan pemeliharaan lingkungan mall. Suzuya Mall hanya perlu memperluas area
sirkulasi khususnya pada bagian koridor-koridor (sirkulasi sekunder), sehingga sirkulasi pengunjung
menjadi lebih nyaman khususnya pada saat weekend. Objek penelitian yang dibahas pada penelitian ini
hanya berdasarkan sirkulasi interior dengan persyaratan kualitatif dan fungsional. Masih terdapat banyak
bahasan yang dapat dikembangkan melalui penelitian lanjutan pada bangunan Suzuya Mall, antara lain
seperti sirkulasi interior berdasarkan persyaratan fungsional, pendekatan nilai estetika, sistem
pencahayaan, dan sebagainya. Bagi pengelola, diharapkan dapat terus meningkatkan dan menjaga kualitas
khususnya tingkat kenyamanan pengunjung pada area sirkulasi, fasilitas mal, dan interior bangunan
Suzuya Mall.
DAFTAR PUSTAKA

 Coleman, Peter. Shopping Environments Evolution, Planning and Design. Burlington:


Architectural Press, 2006.
 Rahmat, P. S. “Penelitian Kualitatif.” Equilibrium 5.9 (Januari–Juni 2009): 1-8. 7 Januari
2017. <http://yusuf.staff.ub.ac.id/files/2012/11/Jurnal-Penelitian-Kualitatif.pdf>
 Rengel, R. J. Shaping Interior Space. United States of America: Bloomsbury, 2014.
 Syoufa, A. & Hapsari, H. “Pengaruh Pola Sirkulasi Pusat Perbelanjaan Mal Terhadap
Pola Penyebaran Pengunjung, Studi Kasus: Margocity, Depok.” Jurnal Desain Konstruksi
13.2 (Desember 2014): 46-57. 7 November 2016.
 https://www.slideshare.net/RoyadiNusa/bab-iii-metode-penelitian-kualitatif
 Lusiana, M. dan Sari, Sriti M. “Aplikasi Sirkulasi Secara Fungsional dan Kualitatif pada
Interior Shopping Mall “Tunjungan Plaza” di Surabaya.” Jurnal Intra 2.2 (2014): 555-
562. 4 Februari 2017. <http://webcache.googleusercontent.com/search?
q=cache:http://studentjournal.petra.ac.id/index.php/desain-