Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH KEPERAWATAN BENCANA

TANAH LONGSOR

Kelompok 3

Kelas 6B

Disusun oleh :

Ana Sulistiya 201702054


Berliana Crishmawati 201702057
Lulut Oktavia 201702079
Reka Riesta Ardiyanti 201702089
Tsalisa Regita Cahyani 201702097
Yoqi Putra Prastya 201702102

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN
2020

11
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat serta
karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah ini dengan judul
“PENANGGULANGAN KONDISI BENCANA : TANAH LONGSOR”
Makalah ini disusun bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Bencana.
Selain itu sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan memotivasi mahasiswa dalam
menyusun makalah.
Terimakasih kepada Bu Tantri Arini,S.Kep.,Ns.,M.Kep Selaku dosen Keperawatan
Bencana dan juga kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini. Selain
itu sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan dan memotivasi mahasiswa dalam menyusun
makalah.
            Penyusun menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan dalam
penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan saran dan kritik dari pembaca
sekalian demi memperbaiki  makalah ini dalam penulisan lain di kemudian hari.
            Dan semoga makalah ini dapat mendatangkan manfaat bagi kita semua. Sekian dan
terimakasih.

Madiun, 13 Maret 2020


Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Alam merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia, oleh karena
itu manusia tidak dapat dipisahkan dari alam. Alam memang sangat erat kaitannya dengan
kehidupan manusia, akan tetapi selain menguntungkan alam juga dapat merugikan bagi
manusia, contohnya akhir-akhir ini banyak sekali bencana alam khususnya di Indonesia.
Melihat fenomena tersebut sehausnya manusia dapat berpikir bagaimana untuk dapat hidup
selaras dengan alam. Karena alam tidak dapat ditentang begitu pula dengan bencana.
Tanah longsor merupakan jenis bencana terbesar ke 3 (tiga) di Indonesia setelah
bencana banjir dan puting beliung. Jenis tanah pelapukan yang sering dijumpai di
Indonesia adalah hasil letusan gunung api. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar
lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Tanah pelapukan yang berada di atas
batuan kedap air pada perbukitan/punggungan dengan kemiringan sedang hingga terjal
berpotensi mengakibatkan tanah longsor pada musim hujan dengan curah hujan
berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan
dalam, maka kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor. (Nandi. 2007)

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana faktor penyebab kondisi bencana?
2. Bagaimana permasalahan kesehatan dan solusi dalam kondisi tanah longsor?
3. Bagaimana teknik evakuasi?
4. Bagaimana perawatan saat dan setelah tanah longsor?
5. Bagaimana upaya pencegahan tanah longsor?
6. Bagaimana contoh kasus bencana tanah longsor yang pernah terjadi di suatu daerah?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui faktor penyebab kondisi bencana


2. Untuk mengetahui permasalahan kesehatan dan solusi dalam kondisi tanah longsor
3. Untuk mengetahui teknik evakuasi
4. Untuk mengetahui perawatan saat dan setelah tanah longsor
5. Untuk mengetahui upaya pencegahan tanah longsor
6. Untuk mengetahui contoh kasus bencana tanah longsor yang pernah terjadi di suatu
daerah

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Faktor Penyebab Kondisi Bencana Tanah Longsor
Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar
daripada gaya penahan. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan
kepadatan tanah. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng, air,
beban serta berat jenis tanah batuan (Moch Bachri, 2006 & Nandi, 2007). Berikut beberapa
faktor penyebab tanah longsor :
a. Hujan
Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada bulan November karena
meningkatnya intensitas curah hujan. Musim kering yang panjang akan menyebabkan
terjadinya penguapan air di permukaan tanah dalam jumlah besar. Hal itu mengakibatkan
munculnya pori-pori atau rongga tanah hingga terjadi retakan dan merekahnya tanah
permukaan.
Ketika hujan, air akan menyusup ke bagian yang retak sehingga tanah dengan cepat
mengembang kembali. Pada awal musim hujan, intensitas hujan yang tinggi biasanya
sering terjadi, sehingga kandungan air pada tanah menjadi jenuh dalam waktu singkat.
Hujan lebat pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui tanah
yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng, sehingga
menimbulkan gerakan lateral. Bila ada pepohonan di permukaannya, tanah longsor dapat
dicegah karena air akan diserap oleh tumbuhan. Akar tumbuhan juga akan berfungsi
mengikat tanah.
b. Lereng terjal
Lereng atau tebing yang terjal akan memperbesar gaya pendorong. Lereng yang terjal
terbentuk karena pengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angin. Kebanyakan sudut
lereng yang menyebabkan longsor adalah 180 apabila ujung lerengnya terjal dan bidang
longsorannya mendatar.
c. Tanah yang kurang padat dan tebal
Jenis tanah yang kurang padat adalah tanah lempung atau tanah liat dengan ketebalan
lebih dari 2,5 m dan sudut lereng lebih dari 220. Tanah jenis ini memiliki potensi untuk
terjadinya tanah longsor terutama bila terjadi hujan. Selain itu tanah ini sangat rentan
terhadap pergerakan tanah karena menjadi lembek terkena air dan pecah ketika hawa
terlalu panas.
d. Batuan yang kurang kuat
Batuan endapan gunung api dan batuan sedimen berukuran pasir dan campuran
antara kerikil, pasir, dan lempung umumnya kurang kuat. Batuan tersebut akan mudah
menjadi tanah bila mengalami proses pelapukan dan umumnya rentan terhadap tanah
longsor bila terdapat pada lereng yang terjal.
e. Jenis tata lahan
Tanah longsor banyak terjadi di daerah tata lahan persawahan, perladangan, dan
adanya genangan air di lereng yang terjal. Pada lahan persawahan akarnya kurang kuat
untuk mengikat butir tanah dan membuat tanah menjadi lembek dan jenuh dengan air
sehingga mudah terjadi longsor. Sedangkan untuk daerah perladangan penyebabnya adalah
karena akar pohonnya tidak dapat menembus bidang longsoran yang dalam dan umumnya
terjadi di daerah longsoran lama.
f. Getaran
Getaran yang terjadi biasanya diakibatkan oleh gempabumi, ledakan, getaran mesin,
dan getaran lalulintas kendaraan. Akibat yang ditimbulkannya adalah tanah, badan jalan,
lantai, dan dinding rumah menjadi retak.
g. Susut muka air danau atau bendungan
Akibat susutnya muka air yang cepat di danau maka gaya penahan lereng menjadi
hilang, dengan sudut kemiringan waduk 220 mudah terjadi longsoran dan penurunan tanah
yang biasanya diikuti oleh retakan.
h. Adanya beban tambahan
Adanya beban tambahan seperti beban bangunan pada lereng, dan kendaraan akan
memperbesar gaya pendorong terjadinya longsor, terutama di sekitar tikungan jalan pada
daerah lembah. Akibatnya adalah sering terjadinya penurunan tanah dan retakan yang
arahnya ke arah lembah.
i. Pengikisan/erosi
Pengikisan banyak dilakukan oleh air sungai ke arah tebing. Selain itu akibat
penggundulan hutan di sekitar tikungan sungai, tebing akan menjadi terjal.
j. Adanya material timbunan pada tebing
Untuk mengembangkan dan memperluas lahan pemukiman umumnya dilakukan
pemotongan tebing dan penimbunan lembah. Tanah timbunan pada lembah tersebut belum
terpadatkan sempurna seperti tanah asli yang berada di bawahnya. Sehingga apabila hujan
akan terjadi penurunan tanah yang kemudian diikuti dengan retakan tanah.
k. Bekas longsoran lama
Longsoran lama umumnya terjadi selama dan setelah terjadi pengendapan material
gunung api pada lereng yang relatif terjal atau pada saat atau sesudah terjadi patahan kulit
bumi. Bekas longsoran lama memilki ciri :
1) Adanya tebing terjal yang panjang melengkung membentuk tapal kuda.
2) Umumnya dijumpai mata air, pepohonan yang relatif tebal karena tanahnya gembur dan
subur.
3) Daerah badan longsor bagian atas umumnya relatif landai.
4) Dijumpai longsoran kecil terutama pada tebing lembah.
5) Dijumpai tebing-tebing relatif terjal yang merupakan bekas longsoran kecil pada
longsoran lama.
6) Dijumpai alur lembah dan pada tebingnya dijumpai retakan dan longsoran kecil.
7) Longsoran lama ini cukup luas.
l. Adanya bidang diskontinuitas (bidang tidak sinambung)
Bidang tidak sinambung ini memiliki ciri:
1) Bidang perlapisan batuan
2) Bidang kontak antara tanah penutup dengan batuan dasar
3) Bidang kontak antara batuan yang retak-retak dengan batuan yang kuat.
4) Bidang kontak antara batuan yang dapat melewatkan air dengan batuan yang tidak
melewatkan air (kedap air).
5) Bidang kontak antara tanah yang lembek dengan tanah yang padat.
6) Bidang-bidang tersebut merupakan bidang lemah dan dapat berfungsi sebagai
bidang luncuran tanah longsor.
m. Penggundulan hutan
Tanah longsor umumnya banyak terjadi di daerah yang relatif gundul dimana
pengikatan air tanah sangat kurang.
n. Daerah pembuangan sampah
Penggunaan lapisan tanah yang rendah untuk pembuangan sampah dalam jumlah
banyak dapat mengakibatkan tanah longsor apalagi ditambah dengan guyuran hujan,
seperti yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Leuwigajah di Cimahi. Bencana
ini menyebabkan sekitar 120 orang lebih meninggal.

2.2 Permasalahan Kesehatan dan Solusi dalam Kondisi Tanah Longsor


Permasalahan bencana terhadap kesehatan masyarakat relatif berbeda-beda, antara
lain tergatung dari jenis dan besaran bencana yang terjadi. Seperti halnya pada kondisi
bencana tanah longsor termasuk daalam jangka pendek yang dapat mengakibatkan korban
meninggal, cedera berat yang memerlukan perawatan intensif, peningkatan risiko penyakit
menular, kerusakan fasilitas kesehatan dan sistem penyediaan air (pan American Health
Organization,2006). Adapun cara mencegah agar tidak terjadinya bencana tanah longsor
yaitu :
1. Tidak membuat rumah dibawah, tepat di pinggir, atau dekat tebing.
2. Membuat teraserig atau sengkedan di lereng jika membuat pemukiman.
3. Tidak membuat kolam atau perkebunan di lereng yang dekat pemukiman.
4. Tidak memotong tebing menjadi tegak, biarkan miring.
5. Membuat saluran pembuangan air yang otomatis bisa menjadi saluranpenampungan air
tanah.
6. Menanam tanaman keras dan ringan dengan jenis akar dalam, di wilayah curam.

2.3 Teknik Evakuasi dalam Kondisi Bencana Tanah Longsor


Menurut BNPB ada upaya untuk melakukan evakuasi mandiri, antara lain :
A. Prabencana :
1. Mengurangi tingkat keterjalan lereng permukaan maupun airtanah. (Perhatikan fungsi
drainase adalah untuk menjauhakan airdari lereng, menghindari air meresap ke dalam
lereng atau menguras air ke dalam lereng ke luar lereng. Jadi drainase harus dijaga
agar jangan sampaitersumbat atau meresapkan air ke dalam tanah).
2. Pembuatan bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling.
3. Hindarkan daerah rawan bencana untuk pembangunan pemukiman dan fasilitas utama
lainnya.
4. Terasering dengan sistem drainase yang tepat (drainase pada teras - teras dijaga jangan
sampai menjadi jalan meresapkan air ke dalam tanah).
5. Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak tanam yang
tepat (khusus untuk lereng curam, dengan kemiringan lebih dari 40 derajat atau sekitar
80% sebaiknya tanaman tidak terlalu rapat serta diseling-selingi dengan tanaman yang
lebih pendek dan ringan, di bagian dasar ditanam rumput).
6. Melakukan pemadatan tanah di sekitar perumahan. Pengenalan daerah rawan longsor.
7. Pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall).
8. Penutupan rekahan di atas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat ke dalam
tanah.
9. Pondasi tiang pancang sangat disarankan untuk menghindari bahaya liquefaction
(infeksi cairan).
10. Dalam beberapa kasus relokasi sangat disarankan. Menanami kawasan yang gersang
dengan tanaman yang memiliki akar kuat, banyak dan dalam seperti nangka, durian,
pete, dan sebagainya.
11. Tidak mendirikan bangunan permanen di daerah tebing dan tanah yang tidak stabil
(tanah gerak).
12. Membuat selokan yang kuat untuk mengalirkan air hujan.
13. Waspada ketika curah hujan tinggi.
14. Jangan menggunduli hutan dan menebang pohon sembarangan.
15. Utilitas yang ada di dalam tanah harus bersifat fleksibel.
B. Saat Bencana
1. Segera evakuasi untuk menjauhi suara gemuruh atau arah datangnya longsoran.
2. Apabila mendengar suara sirine peringatan longsor, segera evakuasi ke arah zona
evakuasi yang telah ditentukan. (Beberapa wilayah di Indonesia telah terpasang Sistem
Peringatan Dini Longsor).
C. Pascabencana
1. Hindari wilayah longsor karena kondisi tanah yang labil.
2. Apabila hujan turun setelah longsor terjadi, antisipasi longsor susulan.

2.4 Upaya Pencegahan Tanah Longsor


Pada masyarakat yang tinggal di pengunungan ataupun di berada tanah rawan
longsor untuk melakukan pencegahan terhadapbencana longsor, berikut upaya pencegahan
yang bisa dilakukan oleh masyarakat itu sendiri, antara lain :
1. Tidak menebang atau merusak hutan
2. Melakukan penanaman tumbuh-tumbuhan berakar kuat, seperti nimba, bambu, akar
wangi, lamtoro, dsb, maupun pada lereng-lereng yang gudul
3. Membuat saluran air hujan
4. Membangun dinding penahan di lereng-lereng yang terjal
5. Memeriksaan keadaan tanah secara berkala
6. Mengukur tingkat kederasan hujan.

2.5 Perawatan Saat dan Setelah Tanah Longsor


A. Perawatan saat terjadi tanah longsor sebagai berikut :
1. Jangan panik dan tetap tenang ; berusaha bersikap tenang, karena kondisi panik akan
mengakibatkan masyarakat itu sendiritidak dapat bertindak dengan tepat.
2. Cepat tinggalkan rumah, jika tanah longsor terjadi di sekitar rumah. Berlindung ke
tempat yang aman dan jangan mendekati daerah longsoran, karena longsor susulan
masih mungkin terjadi.
3. Bila memungkinkan bantu keluarga dan orang lain yang mengalami situasi sulit
akibat longsor.
4. Segera hubungi petugas dilinkungan tempat tinggal.
5. Jika kondisi di sekitar tempat tinggal membahayakan, mengungsilah.
6. Pantau terus informasi apabila informasi menyatakan kondisi belum aman, jangan
dulu kembali kerumah.
B. Perawatan setelah terjadi tanah longsor sebagai berikut :
1. Jauhi kawasan yan terkena longsor dan tetap berada di tempat yang aman.
2. Ikuti terus informasi untuk memastikan sudah berada ditempat yang tepat dan aman.
3. Berikanlah pertolongan bagi yang membutuhkan tanpa membahayakan keselamatan
diri sendiri.
4. Laporkan kondisi dan kejadian dengan singkat dan jelas.
5. Kembalilah ke rumah jika situasi dan kondisi di tempat tinggal sudah dinyatakan
aman.
6. Ikuti perintah relokasi apabila telah diputuskan oleh pihak yang berwenang.

2.6 Contoh Kasus Bencana Tanah Longsor yang Pernah Terjadi Di Suatu Daerah
Bukit di Kawasan Wisata Bromo Longsor, Akses ke Lautan Pasir Lumpuh
Jurnalistik : Muhajir Arifin - detikNews
Rabu, 12 Feb 2020 22:03 WIB
Pasuruan - Tebing di kawasan Gunung Bromo, tepatnya di Pakis Bincil, Desa
Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, longsor. Material longsor berupa
tanah dan bebatuan menutup jalan di bawahnya.
Akibat tertimbun longsor, jalan yang merupakan satu-satunya akses menuju Lautan
Pasir Bromo dari arah Pasuruan lumpuh. Jalan tersebut hanya bisa dilalui dengan berjalan
kaki.
"Longsor terjadi pukul 17.00 WIB. Tak ada korban, namun jalan menuju lautan pasir
tertutup total," kata Koordinator Lapangan Bagian Kedaruratan BPBD Kabupaten
Pasuruan, Subandi, Rabu (12/2/2020).
Jalur Utama Menuju Wisata Gunung Bromo dari Probolinggo Longsor
Tebing yang longsor setinggi 15 meter dengan lebar sekitar 6 meter. Seluruh badan
jalan di bawahnya tertimbun tanah dan bebatuan setinggi 1-2 meter.
Untuk membersihkan material longsor, tak bisa dilakukan dengan peralatan manual.
Dibutuhkan alat berat terutama untuk memindahkan batu-batu besar yang jatuh dari tebing.
"Nggak bisa dengan alat sederhana untuk membersihkan tanah longsoran, harus
menggunakan alat berat," terang Subandi.
Seorang Warga Lereng Bromo Tewas Terjatuh ke Jurang Sedalam 75 Meter.
Hingga pukul 22.00 WIB, material longsor masih menutup jalan. Akses ke Lautan
Pasir Bromo tersebut dipastikan lumpuh hingga esok hari.
"Besok rencananya mendatangkan alat berat ke lokasi," pungkas Subandi
BAB III
PENUTUP

3.1   Kesimpulan

Berikut beberapa faktor penyebab tanah longsor : Hujan, Lereng terjal, Tanah yang
kurang padat dan tebal, Batuan yang kurang kuat, Jenis tata lahan, dll.
Permasalahan bencana terhadap kesehatan masyarakat relatif berbeda-beda, antara
lain tergatung dari jenis dan besaran bencana yang terjadi. Seperti halnya pada kondisi
bencana tanah longsor termasuk daalam jangka pendek yang dapat mengakibatkan korban
meninggal, cedera berat yang memerlukan perawatan intensif, peningkatan risiko penyakit
menular, kerusakan fasilitas kesehatan dan sistem penyediaan air (pan American Health
Organization,2006). Adapun cara mencegah agar tidak terjadinya bencana tanah longsor
yaitu : Tidak membuat rumah dibawah, tepat di pinggir, atau dekat tebing, membuat
teraserig atau sengkedan di lereng jika membuat pemukiman, tidak membuat kolam atau
perkebunan di lereng yang dekat pemukiman, dll.
Menurut BNPB ada upaya untuk melakukan evakuasi mandiri, antara lain :
Prabencana, Saat Bencana, Pascabencana.

3.2 Saran
  

Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa dalam mengikuti


proses pembelajaran mengenai bencana tanah longsor yang ada di indonesia. Sebagai
petugas kesehatan perlu mengetahui pengetahuan masyarakat tentang kesehatan. Dengan 
mengetahui pengetahuan masyarakat, maka petugas kesehatan akan mengetahui mana yang
perlu ditingkatkan, diubah dan pengetahuan mana yang perlu dilestarikan dalam
memperbaiki status kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA

https://siaga.bnpb.go.id/hkb/po-content/uploads/documents/Buku_Saku-10Jan18_FA.pdf, di akses
pada tanggal 13 Maret 2020.
http://ejurnal.kependudukan.lipi.go.id/index.php/jki/article/download/21/15, 13 Maret 2020.

https://m.detik.com/news/berita-jawa-timur/d-4896995/bukit-di-kawasan-wisata-bromo-longsor-akses-
ke-lautan-pasir-lumpuh?_ga=2.87016664.1524870608.1584604011-407379419.1540828975, 13 Maret
2020.