Anda di halaman 1dari 16

MENYUSUN ASKEP PADA IBU HAMIL DAN MENYUSUI

PENDERITA HIV/AIDS

Tugas Ini Untuk Memenuhi Mata Kuliah keperawatan HIV/AIDS

Disusun Oleh Kelompok 6

SEMESTER VI

1. Arista Ratna P (SK117005)


2. Era Rismatika Pd (SK117011)
3. Islahiyah Pratiwi (SK117019)
4. Putri Rahma D (SK117025)
5. Solikhatun (SK117031)
6. Nurul Faizah (SK118059)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDAL

2019/2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan sebuah
retrovirus yang memiliki genus lentivirus yang menginfeksi, merusak,
atau menggangu fungsi selsistem kekebalan tubuh manusia sehingga
menyebabkan sistem pertahanan tubuhmanusia tersebut menjadi melemah.
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi, dan ASI juga
dapat menurunkan resiko kesakitan pada anak-anak, terutama sakit pada
saluran pencernaan dan infeksi saluran nafas. ASI juga dapat
meningkatkan kualitas hidup pada anak dan juga kesehatan ibu melalui
jarak kehamilan.  Pada tahun 2001, Persatuan Kesehatan Dunia (the World
Health Assembly) mengeluarkan rekomendasi bahwa bayi harus diberikan
ASI secara eksklusif selama 6 bulan pertama dalam kehidupannya untuk
mendapatkan tingkat pertumbuhan, perkembangan serta kesehatan yang
optimal.
Setelah itu, bayi juga harus mendapatkan makanan pendamping
yang bergizi dan juga aman selain ASI yang diberikan sampai usia 24
bulan (WHO, 2007). Sejak awal pandemik HIV sampai 2006, 2.3 juta
anak-anak di dunia berusia kurang dari 15 tahun hidup dengan HIV.
Diperkirakan sekitar 530.000 anak-anak berusia kurang dari 15 tahun yang
baru terinfeksi oleh HIV, hampir selalu disebabkan oleh transmisi dari ibu
kepada anak [mother-to-child transmission (MTCT)]. Seperti yang
dikemukakan sebelumnya bahwa ASI dapat memberikan dampak
kesehatan yang baik bagi bayi dan anak, namun HIV dapat ditularkan dari
ibu yang positif HIV kepada bayinya melalui proses menyusui.
Di Afrika, HIV/AIDS merupakan penyebab penting terjadinya
kematian pada anak-anak dibawah usia lima tahun. Penurunan transmisi
ini (MTCT) merupakan salah satu perhatian para peneliti, tenaga
kesehatan professional, pembuat kebijakan dan juga para wanita dengan
HIV positif di banyak negara berkembang  (WHO, 2007). Panduan dari
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menitikberatkan pada pentingnya
menurunkan resiko transmisi HIV dari ibu ke bayinya, di lain pihak juga
meminimalkan resiko kesakitan maupun kematian terhadap bayi dengan
diberikannya makanan pengganti. Disebutkan bahwa “pemberian makanan
pada bayi dari ibu dengan HIV positif adalah disesuaikan dengan keadaan
individual ibu itu sendiri, termasuk didalamnya adalah keadaan kesehatan
ibu tersebut, keadaan lingkungan dan juga ketersediaan pelayanan dan
konseling kesehatan dan juga dukungan yang dibutuhkannya. 
ASI eksklusif direkomendasikan bagi ibu dengan HIV positif
selama 6 bulan pertama kecuali jika tersedia makanan pengganti yang
dapat diterima (acceptable), tersedia (feasible), terjangkau (affordable),
terpelihara (sustainable) dan aman (safe). Bila makanan pengganti dapat
memenuhi 5 kriteria tersebut maka pemberian ASI tidak
direkomendasikan (WHO, 2009).
B. TUJUAN
a. TUJUAN UMUM
Diharapkan mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang
HIV/AIDS pada ibu hamil dan menyusui penderita HIV/AIDS .
b. TUJUAN KHUSUS
a. Untuk mengetahui ibu hamil dengan HIV /AIDS
b. Untuk mengetahui Ibu Menyusui penderita HIV /AIDS
C. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu HIV Pada kehamilan dan Ibu menyusui?
2. Bagaimana penularan pada janin dan anak yg diberi ASI ?
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian HIV/AIDS
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan sebuah
retrovirus yangmemiliki genus lentivirus yang menginfeksi, merusak, atau
menggangu fungsi selsistem kekebalan tubuh manusia sehingga
menyebabkan sistem pertahanan tubuhmanusia tersebut menjadi melemah.
Virus HIV menyebar melalui cairan tubuhdan memiliki cara khas dalam
menginfeksi sistem kekebalan tubuh manusiaterutama sel Cluster of
Differentiation 4 (CD4) atau sel-T. HIV menyerang sel sel sistem
kekebalan tubuh manusia terutama sel-T CD4+ dan makrofag
yangmerupakan sistem imunitas seluler tubuh. Infeksi dari virus ini
akanmenyebabkan kerusakan secara progresif dari sistem kekebalan
tubuh,menyebabkan defisiensi imun sehingga tubuh tidak mampu
melawan infeksi danpenyakit. Seiring dengan berjalannya waktu, HIV
dapat merusak banyal sel CD4sehingga kekebalan tubuh semakin menurun
dan tidak dapat melawan infeksi danpenyakit sama sekali, infeksi ini akan
berkembang menjadi AcquiredImmunodeficiency Syndrome (AIDS).
AIDS merupakan tahap infeksi yang terjadi akibat menurunnya
kekebalantubuh akibat infeksi oleh virus HIV. AIDS merupakan stadium
ketika sistem imunpenderita jelek dan penderita menjadi rentan terhadap
infeksi dan kanker terkait infeksi yang disebut infeksi oportunistik. Infeksi
oportunistik adalah infeksi yang terjadi akibat sistem kekebalan tubuh
yang menurun dan dapat terjadipenyakit yang lebih berat dibandingkan
pada orang yang sehat. Seseorang dapatdidiagnosis AIDS apabila jumlah
sel CD4 turun di < 200 sel/mm3 darah, selain ituseseorang dapat
terdiagnosis dengan AIDS jika menderita lebih dari satu
infeksioportunistik atau kanker yang berhubungan dengan HIV dan perlu
waktu 10-15tahun bagi orang yang sudah terinfeksi HIV untuk
berkembang menjadi AIDS.

B. Penularan HIV/AIDS ke bayi


Masih belum mengetahui secara persis bagaimana HIV menular
dari ibu-ke-bayi.Namun, kebanyakan penularan terjadi saat persalinan
(waktu bayinya lahir).Selain itu, bayi yang disusui oleh ibu terinfeksi HIV
dapat juga tertular HIV. Ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan
kemungkinan bayi terinfeksi HIV.Yang paling mempengaruhi adalah viral
load (jumlah virus yang ada di dalam darah) ibunya.Oleh karena itu, salah
satu tujuan utama terapi adalah mencapai viral load yang tidak dapat
terdeteksi – seperti juga ART untuk siapa pun terinfeksi HIV. Viral load
penting pada waktu melahirkan.Seperti ditunjukkan pada gambar,
penularan dapat terjadi dalam kandungan.Hal ini dapat disebabkan oleh
kerusakan pada plasenta, yang seharusnya melindungi janin dari infeksi
HIV.Kerusakan tersebut dapat memungkinkan darah ibu mengalir pada
janin. Pada perinatal lebih dari 90% anak yang terinfeksi HIV didapat dari
ibunya,penularan melalui ibu kepada anaknya.
Transmisi vertikal dapat terjadisecara transplasental, antepartum,
maupun postpartum. Mekanisme transmisi intauterin diperkirakan melalui
plasenta. Hal ini dimungkinkan karena adanya limfosit yang terinfeksi
masuk kedalamplasenta. Transmisi intrapartum terjadi akibat adanya lesi
pada kulitatau mukosa bayi atau tertelannya darah ibu selama proses
kelahiran. Beberapa faktor resiko infeksi antepartum adalah ketuban pecah
dini,lahir per vaginam.
Transmisi postpartum dapat juga melalui ASI yaknipada usia bayi
menyusui, pola pemberian ASI, kesehatan payudara ibu,dan adanya lesi
pada mulut bayi. Seorang bayi yang baru lahir akanmembawa antibodi
ibunya, begitupun kemungkinan positif dan negatifnya bayi tertular HIV
adalah tergantung dari seberapa parahtahapan perkembangan AIDS pada
diri sang ibu.
C. Faktor yang berperan dalam penularan HIV dari ibu ke anak
Ada tiga faktor utama yang berpengaruh pada penularan HIV dari ibu
keanak, yaitu faktor ibu, bayi/anak, dan tindakan obstetrik.
1. Faktor Ibu
a. Jumlah virus (viral load)
Jumlah virus HIV dalam darah ibu saat menjelang atau
saatpersalinan dan jumlah virus dalam air susu ibu ketika ibu
menyusuibayinya sangat mempengaruhi penularan HIV dari ibu
ke anak.Risiko penularan HIV menjadi sangat kecil jika kadar
HIV rendah(kurang dari 1.000 kopi/ml) dan sebaliknya jika kadar
HIV di atas100.000 kopi/ml.
b. Jumlah Sel CD4
Ibu dengan jumlah sel CD4 rendah lebih berisiko
menularkanHIV ke bayinya. Semakin rendah jumlah sel CD4
risiko penularanHIV semakin besar.
c. Status gizi selama hamil
Berat badan rendah serta kekurangan asupan seperti asam
folat,vitamin D, kalsium, zat besi, mineral selama hamil
berdampak bagikesehatan ibu dan janin akibatntya dapat
meningkatkan risiko ibuuntuk menderita penyakit infeksi yang
dapat meningkatkan jumlahvirus dan risiko penularan HIV ke
bayi.
d. Penyakit infeksi selama hamil
Penyakit infeksi seperti sifilis, infeksi menular
seksual,infeksisaluran reproduksi lainnya, malaria,dan
tuberkulosis, berisikomeningkatkan jumlah virus dan risiko
penularan HIV ke bayi.
e. Gangguan pada payudara
Gangguan pada payudara ibu dan penyakit lain, seperti mastitis,
abses, dan luka di puting payudara dapat meningkatkan
risikopenularan HIV melalui ASI sehingga tidak sarankan
untukmemberikan ASI kepada bayinya dan bayi dapat
disarankandiberikan susu formula untuk asupan nutrisinya.
2. Faktor Bayi
a. Usia kehamilan dan berat badan bayi saat lahirBayi lahir prematur
dengan berat badan lahir rendah (BBLR) lebihrentan tertular HIV
karena sistem organ dan sistem kekebalantubuhnya belum
berkembang dengan baik.
b. Periode pemberian ASI
Semakin lama ibu menyusui, risiko penularan HIV ke bayi
akansemakin besar.
c. Adanya luka dimulut bayi
Bayi dengan luka di mulutnya lebih berisiko tertular HIV
ketikadiberikan ASI.
3. Faktor obstetric
Pada saat persalinan, bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan
lahir.Faktor obstetrik yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV
dari ibuke anak selama persalinan adalah
a. Jenis persalinan
Risiko penularan persalinan per vagina lebih besar
daripadapersalinan melalui bedah sesar (seksio sesaria).
b. Lama persalinan
Semakin lama proses persalinan berlangsung, risiko penularan
HIVdari ibu ke anak semakin tinggi, karena semakin lama
terjadinyakontak antara bayi dengan darah dan lendir ibu.
c. Ketuban pecah lebih dari 4 Jam sebelum persalinan
meningkatkanrisiko penularan hingga dua kali lipat dibandingkan
jika ketubanpecah kurang dari 4 jam.
d. Tindakan episiotomi, ekstraksi vakum dan forceps
meningkatkanrisiko penularan HIV karena berpotensi melukai ibu
D. Waktu dan resiko penularan HIV dari ibu ke Anak
Pada saat hamil, sirkulasi darah janin dan sirkulasi darah ibu
dipisahkanoleh beberapa lapis sel yang terdapat di plasenta.Plasenta
melindungi janin dariinfeksi HIV.Tetapi, jika terjadi peradangan, infeksi
ataupun kerusakan padaplasenta, maka HIV bisa menembus plasenta,
sehingga terjadi penularan HIV dariibu ke anak.Penularan HIV dari ibu ke
anak pada umumnya terjadi pada saatpersalinan dan pada saat
menyusui.Risiko penularan HIV pada ibu yang tidak mendapatkan
penanganan PPIA saat hamil diperkirakan sekitar 15-45%.Risikopenularan
15-30% terjadi pada saat hamil dan bersalin, sedangkan peningkatanrisiko
transmisi HIV sebesar 10-20% dapat terjadi pada masa nifas dan
menyusui.
Tabel waktu dan risiko penularan HIV dari ibu ke anak.

Waktu Risiko
Selama hamil 5 – 10 %
Bersalin 10 – 20 %
Menyusui (ASI) 5 – 20 %
Resiko penularan keseluruhan 20 – 50 %

Apabila ibu tidak menyusui bayinya, risiko penularan HIV menjadi


20-30% dan akan berkurang jika ibu mendapatkan pengobatan anti
retrovirus (ARV). Pemberian ARV jangka pendek dan ASI eksklusif
memiliki risiko penularan HIV sebesar 15-25% dan risiko penularan
sebesar 5-15% apabila ibu tidak menyusui.Akan tetapi, dengan terapi
antiretroviral jangka panjang, risiko penularan HIV dari ibu ke anak dapat
diturunkan lagi hingga 1-5%, dan ibu yang menyusui secara eksklusif
memiliki risiko yang sama untuk menularkan HIV ke
anaknyadibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui. Dengan pelayanan
PPIA yang baik, maka tingkat penularan dapat diturunkan menjadi kurang
dari 2%.

Tabel resiko penularan HIV dari ibu ke anak saat hamil, bersalin dan menyusui.
Masa kehamilan Persalinan Postpartum melalui ASI
0-14 14-16 36 minggu Selama 0-6 bulan 6-24
minggu minggu kelahiran persalinan bulan
1% 4% 12% 8% 7% 3%

E. Manifestasi Klinis HIV


Manifestasi klinis infeksi HIV merupakan gejala dan tanda pada
tubuhhost akibat intervensi HIV. Manifestasi ini dapat merupakan gejala
dan tandainfeksi virus akut, keadaan asimptomatis berkepanjangan, hingga
manifestasiAIDS berat.Manifestasi gejala dan tanda dari HIV dapat dibagi
menjadi 4 tahap.Pertama merupakan tahap infeksi akut, pada tahap ini
muncul gejala tetapitidak spesifik.Tahap ini muncul 6 minggu pertama
setelah paparan HIV dapatberupa demam, rasa letih, nyeri otot dan sendi,
nyeri telan, dan pembesarankelenjar getah bening di leher.Kedua
merupakan tahap asimptomatik, pada tahap ini gejala dan
keluhanhilang.Tahap ini berlangsung 6 minggu hingga beberapa bulan
bahkan tahunsetelah infeksi.
Pada stadium ini terjadi perkembangan jumlah virus disertai
makinberkurangnya jumlah sel CD-4.Pada tahap ini aktivitas penderita
masih normal.Ketiga merupakan tahap simptomatis pada tahap ini gejala
dan keluhanlebih spesifik dengan gradasi sedang samapi berat.Berat badan
menurun tetapitidak sampai 10%, pada selaput mulut terjadi sariawan
berulang, terjadiperadangan pada sudut mulut, dapat juga ditemukan
infeksi bakteri pada salurannapas bagian atas namun penderita dapat
melakukan aktivitas meskipunterganggu. Penderita lebih banyak di tempat
tidur meskipun kurang 12 jam per hari dalam bulan terakhir. Keempat
merupakan pasien dengan jumlah sel CD4 < 200 sel/ulmerupakan pasien
dikategorikan pada tahap yang lebih lanjut atau tahap AIDS.Pada tahap ini
terjadi penurunan berat badan lebih dari 10%, diare lebih dari 1bulan,
panas yang tidak diketahui sebabnya lebih dari satu bulan, kandidiasis
oral,oral hairy leukoplakia, tuberkulosis paru dan pneumonia bakteri.
Penderitaberbaring di tempat tidur lebih dari 12 jam dalam sehari selama
sebulan terakhir.
Hampir 90% kasus infeksi HIV pada anak disebabkan oleh
transmisi perinatal. Transmisi perinatal bisa terjadi akibat penyebaran
hematogen. Beberapa penelitian melaporkan tingginya kasus terjadi akibat
terpaparnya intrapartumterhadap darah maternal seperti pada kasus
episiotomi, laserasi vagina ataupersalinan dengan forsep, sekresi genital
yang terinfeksi dan ASI. Frekuensi rata-rata transmisi vertikal dari ibu ke
anak dengan infeksi HIV mencapai 25 - 30%. Faktor lain yang
meningkatkan resiko transmisi ini, antara lain jenis HIV tipe 1,riwayat
anak sebelumnya dengan infeksi HIV, ibu dengan AIDS, lahir
prematur,jumlah CD4 maternal rendah, viral load maternal tinggi,
korioamnionitis,persalinan pervaginam dan pasien HIV dengan koinfeksi.
Interpretasi kasus sering menjadi kendala karena pasien yang
terinfeksi HIV adalah karier asimptomatik dan mempunyai kondisi yang
memungkinkanuntuk memperburuk kehamilannya.Kondisi tersebut
termasuk ketergantunganobat, nutrisi buruk, akses terbatas untuk
perawatan prenatal, kemiskinan danadanya penyakit menular seksual.
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah bayilahir prematur, premature
rupture of membran (PROM), berat bayi lahir rendah,anemia, restriksi
pertumbuhan intrauterus, kematian perinatal dan endometritispostpartum.
Saat ini terdapat dua sistem klasifikasi utama yang digunakan, yaitu :
sistem klasifikasi menurut the U.S. Centers for Disease Control and
Prevention(CDC), dan sistem klasifikasi stadium klinis dan penyakit
menurut organisasi kesehatan dunia WHO.
F. Klasifikasi HIV
Klasifikasi HIV menggunakan beberapa sistem klasifikasi,
klasifikasiberdasarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC)
jarang digunakandalam pengelolaan rutin pasien HIV secara klinis, sistem
CDC lebih seringdigunakan dalam penelitian klinis dan
epidemiologi.31CDC mengklasifikasikan HIV/AIDS yaitu dengan melihat
jumlahkekebalan tubuh yang dialami pasien serta stadium klinis. Jumlah
kekebalantubuh ditunjukan oleh limfosit T Helper.

G. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Biodata klien
1) Nama : NY. M
2) Umur : 35
3) Jenis kelamin : P
4) Diagnosa medis : HIV/AIDS
2. Keluhan utama : Mudah lelah
3. Riwayat penyakit sekarang: Mudah lelah, pusing, kelelahan otot
H. ANALISA DATA

No Data focus Etiologi Problem


1 Ds : Pasien mengeluh Kehamilan Keletihan
merasa lelah, pusing (00093)
Do : Pasien tampak
kelelahan
TTV =
TD :140/80 mmHg
Suhu : 29OC
Nadi : 84 x/menit
RR : 26 x/menit
2 Ds : Pasien mengeluh Penurunan Hambatan
mengalami kelemahan otot kekuatan otot Mobilitas Fisik
Do : Tampak berbaring (00085)
ditempat tidur

4 Ds : Pasien mengeluh takut


Resiko gangguan
jika penyakit yang Penyakit
hubungan ibu-
diderita menular ke
anaknya
janin (00209)
Do :
Hasil pemeriksaan
dinyatakan POSITIF
HIV/AIDS
TD : 140/80 mmHg

I. DIAGNOSA PRIORITAS
1. Resiko gangguan hubungan ibu-janin berhubungan dengan penyakit
2. Keletihan berhubungan dengan kehamilan
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan
otot
J. INTERVENSI KEPERAWATAN

No Dx. NOC NIC


Keperawatan
1 Resiko Pengetahuan : Peningkatan keteribatan
gangguan pengobatan (1808) keluarga (7110)
hubungan ibu- Setelah dilakukan a. Fasilitasi
janin tindakan keperawatan manajemen aspek
berhubungan 3 x 24 jam diharapkan medis penyakit
dengan hubungan ibu-janin dengan anggota
penyakit baik dengan criteria keluarga
hasil : b. Berikan
informasi penting
a. Efek samping kepada anggota
obat dari 3 keluarga
ditingkatkan mengenai pasien
ke 4 sesuai dengan
b. Strategi untuk keinginan pasien
memporoleh c. Kolaborasi
obat-obatan dengan dokter
yang dalam pemberian
dibutuhkan obat sesuai
dari 3 kebutuhan pasien
ditingkatkan
ke 4
c. Strategi untuk
memperoleh
suplai yang
dibutuhkan
dariditingkatka
n ke 4
d. Komplikasi
yang terjadi
pada
kehamilan
dari 3
ditingkatkan
ke 4

2 Keletihan Tingkat Keletihan Manajemen Energi


berhubungan (0007) (0180)
dengan Setelah dilakukan a. Anjurkan pasien
kehamilan tindakan keperawatan menggungkapkan
1 x 24 jam diharapkan perasaan secara
letih berkurang verbal mengenai
dengan criteria hasil : keterbatasan yang
a. Keletihan dialami
ditingkatkan b. Ajarkan pasien
dari 3 ke 4 mengenai
b. Sakit kepala pengelolaan
ditingkatkan kegiatan dan
dari 3 ke 4 teknik
c. Kelesuan manajemen
ditingkatkan waktu untuk
dari 3 ke 4 mencegah
kelelahan
c. Anjurkan pasien
istirahat
secukupnya
d. Konsultasikan
aktivitas-aktivitas
yang dapat
dilakukan untuk
mencegah
kelelahan
3 Hambatan Pergerakan (0208) peningkatan latihan
mobilitas fisik Setelah dilakukan (0200)
berhubungan tindakan keperawatan a. Lakukan latihan
dengan 2 x 24 jam diharapkan bersama individu
penurunan kekuatan otot seperti latihan
kekuatan otot berfungsi dengan ROM
criteria hasil : anjurkan keluarga
a. Keseimbangan untuk membantu
ditingkatkan pasien berpindah
dari 3 ke 4 posisi setiap 2
b. Gerakan otot jam
dari 2 b. Anjurkan pasien
ditingkatkan makan makanan
ke 4 yang bergizi
c. Bergerak untuk
dengan mudah meningkatkan
dari 2 kekuatan
ditingkatkan pergerakan otot
ke 4 c. Kolaborasi
dengan ahli terapi
jika penurunan
kekuatan otot
tidak mengalami
peningkatan
DAFTAR PUSTAKA

Gloria, M.B, dkk. (2013). Nursing Interventions Classification (NIC). Sixth Indonesian Edition.
Elsevier

Herdman, T. Heather. 2018. NANDA-I Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2018-
2020. Jakarta : EGC

Moorhead S, dkk. (2013). Nursing Outcome Classification (NOC). Fifth Indonesian Edition.
Elsevier

Nuraif, Amin huda. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan
Nanda. Jilid 1-3 Yogyakarta : Media Action

Purwaningsih, wahyu, Dkk. 2010. Asuhan Keperawatan Matetrnitas. Yogyakarta.