Anda di halaman 1dari 19

PSAK 10

PENGARUH PERUBAHAN NILAI TUKAR VALUTA ASING

Disusun Oleh :

Kelompok 1 (Malam)

Nafiya Ayu Kusumawardani 1762201122

Miken Gusnawati Dewi 1762201110

Erviana Miranti 1762201156

Dhariif Kholifah 1762201382

Hilwatu Syifa 1762201

6 SHIFT 4

PRODI AKUNTASI ( S1 )

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG

2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis ucapkan Kehadirat Allah

SWT. Sholawat serta salam senantiasa penulis tunjukan kepada

Nabi Muhammad SAW, para sahabatnya, dan para pengikut-

pengikutnya sekalian. Atas ridhonya penulis dapat menyusun

dan menyelesaikan tugas kelompok makalah yang berjudul

“PSAK 10 Pengaruh Perubahan Nilai Tukar Valuta Asing”.Adapun

tugas makalah ini diperuntukkan sebagai salah satu syarat untuk

memenuhi nilai pada mata kuliah Interpretasi PSAK.

Dalam penyusunan laporan ini masih banyak kesalahan

maupun kekurangan baik dari penyusunan maupun susunan

kata-kata yang kurang baik.Oleh karena itu, dengan segala

kerendahan hati penulis mohon berkenan kepada pembaca dan

pengguna sekalian untuk memberikan kritik dan saran yang

membangun demi perbaikan dan kesempurnaan makalah yang

penulis buat.

Akhir kata penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat

khususnya bagi penulis pribadi dan umumnya bagi pengguna

sekalian.Terima kasih.
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Entitas dapat melakukan aktivitas luar negeri dalam dua cara. Entitas

mungkin memiliki transaksi dalam valuta asing atau memiliki kegiatan usaha

luar negeri.Sebagai tambahan, entitas dapat menyajikan laporan keuangannya

dalam valuta asing. Kegiatan usaha luar negeri dapat berupa suatu anak

perusahaan, perusahaan asosiasi, joint ventureatau cabang perusahaan pelapor

yang aktivitasnya dilaksanakan di suatu negara di luar negara perusahaan

pelapor. Kegiatan usaha tersebut dapat merupakan suatu bagian integral dari

suatu perusahaan pelapor atau suatu entitas asing.Pernyataan ini mengatur

akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing yang meliputi penentuan

kurs yang digunakan dan pengakuan pengaruh keuangan dari perubahan kurs

vauta asing dalam laporan keuangan. Pada bulan Maret 2010, DSAK

mengesahkan PSAK 10 Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing yang

menggantikan PSAK 10 Revisi 1994 Transaksi dalam Mata Uang Asing dan

juga menarik dua PSAK lainnya yakni PSAK 11 Penjabaran Laporan

Keuangan dalam Mata Uang Asing dan PSAK 52 Mata Uang Pelaporan.

Pada bulan Agustus 2014 DSAK mengesahkan penyesuaian atas PSAK

10 tentang Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing yang menggantikan

PSAK 10 Revisi 2010. Sehingga dengan terbitnya PSAK 10 ini, akuntansi

untuk transaksi dan pelaporan laporan keuangan


valuta asing juga mengenai mata uang pelaporan diatur dalam satu PSAK

yakni PSAK 10 Revisi 2014. PSAK 10 Pengaruh Perubahan Kurs Valuta

Asing secara khusus mengatur tentang dua aspek akuntansi untuk pengaruh

perubahan kurs valuta asing.Pertama, mengenai akuntansi untuk transaksi

dalam mata uang asing dan yang kedua mengenai penjabaran dari laporan

keuangan.Pernyataan ini diterapkan pada ruang lingkup (1) akuntansi

transaksi dan saldo dalam mata uang asing kecuali transaksi dan saldo

derivatif (PSAK 55); (2) menjabarkan hasil dan posisi keuangan dari kegiatan

usaha luar negeri yang termasuk dalam laoran keuangan entitas secara

konsolidasi, proporsional atau metode ekuitas; (3) menjabarkan hasil dan

posisi keuangan suatu entitas ke dalam mata uang penyajian. PSAK 10

berlaku efektif untuk laporan keuangan yang mencakup periode laporan yang

dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2015.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana definisi mata uang fungsional dan mata uang pelaporan?

2. Bagaimana akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing?

3. Bagaimana penjabaran laporan keuangan?

4. Bagaimana translasi laporan keuangan?

5. Bagaimana anak perusahaan dan perusahaan asosiasi asing?

6. Bagaiman persyaratan pengungkapan?

7. Bagaimana ketentuan transisi?

8. Bagaimana perbedaan PSAK 10 dengan standar


C. Tujuan

1. Mengetahui mata uang fungsional dan mata uang pelaporan.

2. Mengetahui akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing.

3. Mengetahui penjabaran laporan keuangan.

4. Mengetahui translasi laporan keuangan.

5. Mengetahui anak perusahaan dan perusahaan asosiasi asing.

6. Mengetahui persyaratan pengungkapan.

7. Mengetahui ketentuan transisi.

8. Mengetahui perbedaan PSAK 10 dengan standar IASB.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Mata Uang Fungsional dan Mata Uang Pelaporan

1. Mata Uang Fungsional

Mata Uang Fungsional (mata uang pengukuran) adalah mata uang

yang digunakan dalam transaksi pengukuran (yaitu untuk mencatat ayat

jurnal dan akun-akun buku besar). PSAK 10 mensyaratkan bahwa suatu

entitas harus mengukur transaksinya menggunakan mata uang

fungsionalnya dan memperbolehkan entitas untuk menyajikan laporan

keuangannya menggunakan mata uang apa saja. Namun PSAK 10

paragraf 38 juga menegaskan bahwa mata uang pelaporan di Indonesia

umumnya adalah rupiah.Jika entitas mengadakan transaksi dalam mata

uang yang berbeda dengan mata uang fungsionalnya, maka entitas itu

harus ‘menghitung transaksi tersebut dalam mata uang

fungsionalnya’.Misalnya saja perusahaan Indonesia yang mayoritas

transaksinya menggunakan mata uang asing semisal dolar AS, maka

mata uang fungsionalnya adalah dolar AS dan bila perusahaan tersebut

memiliki transaksi rupiah, maka rupiah dianggap sebagai mata uang

asing oleh perusahaan.

Jika laporan keuangan suatu perusahaan hendak disajikan dalam

mata uang yang berbeda dengan mata uang fungsionalnya, maka

perusahaan harus ‘menjabarkan laporan keuangan’.Jika anak perusahaan


dan perusahaan asosiasi menyajikan laporan keuangan mereka dalam

mata uang yang berbeda dengan mata uang pelaporan induk perusahaan,

maka induk perusahaan harus menjabarkan laporan keuangan.PSAK 10

mendefinisikan mata uang fungsional entitas sebagai mata uang di

lingkungan ekonomi utama dimana entitas itu beroperasi (paragraf 8).

PSAK 10 menjelaskan bahwa lingkungan ekonomi utama dimana entitas

beroperasi biasanya adalah lingkungan tempat utamanya entitas

menghasilkan dan mengeluarkan kas (paragraf 9). Selain itu, PSAK 10

mensyaratkan entitas untuk mempertimbangkan faktor-faktor berikut

dalam menentukan mata uang fungsionalnya (paragraf 9):

a. Mata uang utama yang mempengaruhi harga jual barang dan jasa

b. Mata uang utama yang mempengaruhi biaya tenaga kerja, bahan

baku, dan biaya lainnya dalam penjualan barang dan jasa.

Jika kedua faktor di atas tumpang tindih, maka PSAK 10

menyatakan bahwa suatu entitas juga dapat mempertimbangkan bukti

pendukung lain berikut dalam menentukan mata uang fungsionalnya

(paragraf 10):

a. Mata uang yang digunakan dalam menghasilkan aktivitas pendanaan

b. Mata uang yang digunakan dalam menahan pendapatan dari aktivitas

operasi

Dalam menentukan mata uang fungsional entitas anak atau entitas

asosiasi di luar negeri (dan operasi di luar negeri lainnya) dan

menentukan apakah mata uang fungsionalnya sama dengan mata uang


fungsional entitas induk mempertimbangkan faktor-faktor tambahan

berikut (paragraf 11):

a. Apakah aktivitas operasi di luar negeri dilakukan sebagai

perpanjangan entitas induk.

b. Apakah transaksi dengan entitas induk memiliki proporsi yang tinggi

atau rendah dengan aktivitas operasi di luar negeri.

c. Apakah arus kas dari aktivitas operasi di luar negeri berpengaruh

secara langsung terhadap arus kas entitas induk.

d. Apakah arus kas dari aktivitas dari kegiatan luar negeri cukup untuk

membayar kewajiban utang yang ada

Apabila indikator-indikator diatas tumpang tindih dan mata uang

operasional tidak jelas, PSAK 10 mensyaratkan bahwa manajemen

menggunakan penilaiannya untuk menetukan mata uang fungsional yang

paling mencerminkan pengaruh ekonomi dari transaksi, peristiwa dan

kondisi (paragraf 12).

PSAK 10 menyatakan bahwa setelah ditentukan, mata uang

fungsional tidak boleh diubah, kecuali terjadi perubahan transaksi,

peristiwa, atau kondisi (paragraf 13).Jika diubah, maka mata uang

fungsionalnya harus diperhitungkan secara prospektif sejak tanggal

perubahan itu (paragraf 35).


2. Mata Uang Penyajian

Mata uang penyajian adalah mata uang yang digunakan dalam

menyajikan laporan keuangan (yaitu laporan posisi keuangan, laporan

laba rugi dan pendapatan komperehensif lain, laporan perubahan ekuitas,

dan laporan arus kas).Jika mata uang penyajian berbeda dengan mata

uang fungsional, maka entitas harus menjabarkan laporan keuangan

(translasi) sesuai dengan mata uang penyajian.

3. Akuntansi untuk Transaksi dalam Mata Uang Asing

Transaksi dalam mata uang asing terjadi ketika entitas mengadakan

transaksi dalam mata uang yang berbeda dengan mata uang

fungsionalnya.Dalam akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing,

terdapat isu mengenai kurs mana yang digunakan untuk menyaji ulang dan

bagaimana cara menangani perbedaan kurs yang timbul. PSAK 10

mengatur tentang kurs valuta asing mana yang digunakan untuk

menyajikan ulang mata uang asing ke dalam mata uang fungsional, yaitu

sebagai berikut:

a. Pada saat pengakuan awal

Suatu transaksi dalam mata uang asing harus dicatat sesuai dengan

‘nilai tukar spot pada tanggal transaksi’. Namun untuk alasan

kepraktisan, PSAK 10 memperbolehkan penggunaan kurs (nilai tukar)

yang mendekati nilai tukar spot pada tanggal transaksi (paragraf 22).

Misalnya kurs rata-rata satu bulan dapat digunakan untuk menyajikan


ulang seluruh transaksi dalam mata uang asing yang terjadi selama

bulan tersebut.Namun jika kurs berfluktuasi secara signifikan maka

penggunaan kurs rata-rata untuk periode itu menjadi tidak tepat

(paragraf 22).

b. Pada setiap tanggal pelaporan

1) Pos-pos moneter dalam mata uang asing harus disajikan ulang

menggunakan kurs penutup

2) Pos-pos nonmoneter yang dicatat pada biaya historis harus

dilaporkan menggunakan kurs tanggal transaksi

3) Pos-pos nonmoneter yang dicatat pada nilai wajar harus disajikan

ulang menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut

ditentukan.

4. Moneter vs Nonmoneter

Pos moneter adalah unit dari mata uang yang dipegang atau aset dan

liabilitas yang akan diterima atau dibayarkan dalam jumlah mata uang

yang tetap dan dapat dipastikan. Sebaiknya, pos nonmoneter tidak

memiliki jumlah yang tetap dan tidak dipastikan. Contoh dari pos

nonmoneter termasuk:

a. Biaya dibayar dimuka dan pendapatan diterima dimuka, karena tidak

ada uang yang dibayarkan atau diterima di masa yang akan datang.

b. Sekuritas ekuitas seperti saham, karena penerimaan di masa yang akan

datang tidak tetap dan tidak dapat ditentukan.


Sementara kebanyakan sekuritas utang merupakan pos moneter karena

arus kasnya tetap dan dapat dipastikan.

5. Selisih kurs

Untuk pos moneter yang dinyatakan dalam mata uang asing,

perubahan kurs valuta asing antara tanggal transaksi dan tanggal

penyelesaian akan menimbulkan selisih kurs. Secara teoritis terdapat dua

cara untuk menangani selisih kurs:

a. Perspektif satu transaksi

Perspektif ini memandang transaksi dagang dan transaksi pelunasan

sebagai transaksi tunggal dan selisih kurs akan disesuaikan dengan

transaksi dagang.

b. Perspektif dua transaksi

Perspektif ini memandang transaksi dagang dan transaksi pelunasan

sebagai dua transaksi yang berbeda dan selisih kurs akan dicatat

secara terpisah sebagai laba atau rugi selisih kurs.

PSAK 10 paragraf 28 mensyaratkan menggunakan perspektif dua

transaksi, sehingga selisih kurs yang muncul diakui sebagai

pendapatan atau beban pada periode terjadinya. Perpesktif dua

transaksi dalam paragraf 28 juga berlaku untuk “selisih kurs yang

belum direalisasi”, yaitu selisih kurs yang timbul akibat perubahan

kurs antara tanggal transaksi dan tanggal pelaporan.


6. Anak perusahaan dan Perusahaan asosiasi asing

PSAK memperbolehkan sebuah entitas untuk menggunakan mata uang

penyajian yang berbeda dengan mata uang fungsionalnya. Jika mata uang

penyajian entitas anak dan entitas asosiasi sama dengan entitas induk,

maka entitas induk hanya tinggal mengkonsolidasikan laporan

keuangannya menurut PSAK 65 dan PSAK 15. Namun jika mata uang

pelaporan entitas anak dan entitas asosiasi tidak sama dengan entitas

induk, maka entitas induk harus :

a. Menjabarkan laporan keuangan entitas anak dan entitas asosiasi

asingnya berdasarkan PSAK 10

b. Mengkonsolidasikan laporan keuangannya berdasarkan PSAK 65 dan

15.

7. Proses konsolidasi

Setelah menjabarkan laporan keuangan anak perusahaan dan

perusahaan asosiasi asing, langkah selanjutnya adalah mengkonsolidasikan

laporan keuangan anak perusahaan asing berdasarkan PSAK 4 dan laporan

ekuitas perusahaan asosiasi asing berdasarkan PSAK 15 dalam laporan

konsolidasian induk perusahaan.

a. Anak perusahaan asing

Setelah dijabarkan, lapran keuangan anak perusahaan asing akan

disajikan dalam mata uang pelaporan yang sama dengan induk

perusahaan dan proses konsolidasi akan mengikuti prosedur


konsolidasi normal sebagaimana yang diisyaratkan oleh PSAK 4,

seperti penghapusan transaksi antar perusahaan dan laporan posisi

keuangan antar perusahaan. Namun ada dua persoalan yang harus

dijelaskan lebih jauh

b. Goodwill pada konsolidasi

Umumnya, goodwill pada konsolidasi dapat dianggap sebagai

jumlah yang dibayar untuk :

1) Aset anak perusahaan

2) Aset grup perusahaan

Dalam kasus ketika goodwill muncul pada akuisisi entitas asing,

jumlah goodwill yang dilaporkan dalam laporan konsolidasi akan

berbeda, tergantung pada pandangan yang dianut. PSAK 10 menganut

pandangan bahwa goodwill adalah aset milik entitas

asing.Sebagaimana halnya aset milik asing, PSAK 10 mensyaratkan

goodwill dijabarkan dengan menggunakan kurs penutup (akhir tahun).

Perlu dicatat bahwa pandangan umum yang diterima di Indonesia

sebelum PSAK 10 berlaku adalah bahwa goodwill pada konsolidasi

hanya muncul selama proses konsolidasi, dan karenanya permasalahan

penjabaran goodwill tidak akan muncul.

8. Pengaruh Perpajakan (PSAK 46)

Keuntungan atau kerugian pada transaksi mata uang asing dan selisih

nilai tukar yang timbul pada penjabaran hasil dan posisi keuangan dari
suatu entitas ke dalam suatu mata uang yang berbeda mungkin memiliki

pengaruh pajak. Dalam PSAK 46, yang menjadi sasaran untuk dikenakan

pajak adalah terkait dengan perbedaan pertukaran karena translasi laporan

keuangan operasional luar negeri. Tarif pajak dari perbedaan karena

translasi ini adalah sebesar 25%.

9. Pengungkapan

Berikut adalah beberapa kriteria terkait pengungkapan bagi entitas

yang pelaporan kegiatan operasinya dipengaruhi oleh PSAK 10 :

a. Jumlah dari selisih kurs yang diakui dalam laba rugi kecuali untuk

selisih kurs yang timbul pada instrumen keuangan yang diukur pada

nilai wajarnya melalui laba atau rugi PSAK 55 (revisi 2006).

b. Selisih kurs neto diakui dalam pendapatan komprehensif lain dan

diakumulasikan dalam komponen ekuitas terpisah, serta rekonsiliasi

kurs tersebut pada awal dan akhir periode.

c. Jumlah dari selisih kurs yang diakui dalam laba rugi kecuali untuk

selisih kurs yang timbul pada instrumen keuangan yang diukur pada

nilai wajarnya melalui laba atau rugi PSAK 55 (revisi 2006).

d. Ketika terdapat suatu perubahan dalam mata uang fungsional dari

entitas pelapor maupun dari suatu kegiatan usaha luar negeri yang

signifikan, fakta tersebut dan alasan untuk perubahan dalam mata

uang fungsional harus diungkapkan.


e. Ketika entitas menyajikan laporan keuangan dalam mata uang yang

berbeda dengan mata fungsionalnya, maka entitas menjelaskan bahwa

laporan keuangan mereka tunduk pada SAK hanya jika entitas

mematuhi semua persyaratan dari setiap Pernyataan dan setiap

Interpretasi dari Pernyataan yang berlaku termasuk metode penjabaran

sebagaimana dijelaskan dalam paragraf 37.

f. Entitas menyajikan laporan keuangan dalam mata uang yang berbeda

dari mata uang fungsionalnya maupun dari mata uang pelaporannya,

dan persyaratan-persyaratan dari paragraf 52 tidak dipenuhi, maka

entitas :

1) Mengidentifikasikan secara jelas informasi sebagai informasi

tambahan untuk membedakannya dari informasi yang tunduk

dengan PSAK.

2) Mengungkapkan mata uang di mana informasi tambahan tersebut

disajikan.

3) Mengungkapkan mata uang di mana informasi tambahan tersebut

disajikan

10. Investasi neto pada kegiatan usaha luar negeri

a. Ruang lingkup investasi neto dalam kegiatan usaha luar negeri

Sebuah perusahaan memiliki pos moneter yang diterima dari atau

dibayarkan ke kegiatan usaha luar negeri.Pos yang penyelesaiannya

tidak direncanakan atau tidak memiliki kemungkinan dilaksanakan


dimasa mendatang.Secara substansi, adalah bagian dari investasi neto

dari perusahaan tersebut dalam kegiatan luar usaha luar negeri.Hal ini

telah dijelaskan dalam PSAK 10 paragraf 15.

b. Pengakuan selisih kurs

Paragraf 30 dari PSAK 10 menetapkan bahwa selisih kurs yang

muncul dari pos moneter yang membentuk bagian dari investasi neto

suatu entitas dalam kegiatan usaha luar negeri dan dinyatakan baik

dalam mata uang fungsional dari entitas yang melaporkanmaupun dari

perusahaan diluar negeri yang diakui dalam laporan laba rugi

komprehensif perusahaan pelapor atau perusahaan di luar negeri,

tetapi akan diklasifikasikan kembali ke kekomponen ekuitas yang

terpisah dalam laporan keuangan yang meliputi perusahaan asing dan

perusahaan pelapor.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam aktivitas terkait kurs valuta asing, ada dua tindakan yang

umumnya dilaksanakan oleh entitas yaitu terkait dengan melakukan transaksi

dalam mata uang asing dan atau memiliki kegiatan usaha luar negeri (foreign

operations).Untuk memasukkan transaksi dalam valuta asing pada laporan

keuangan suatu perusahaan, transaksi tersebut harus dinyatakan dalam mata

uang pelaporan perusahaan. Ada beberapa hal yang terkait dengan aktivitas

perusahaan dalam transaksi dengan mata uang asing misalnya melakukan

konsolidasi dengan perusahaan asing, memperoleh goodwill dari proses

konsolidasi tersebut. Dalam transaksi ini juga perusahaan menghadapi

fluktuasi kurs yang setiap saat selalu berubah.Sehingga perlu dilakukan

penyesuaian terhadap goodwill yang diperoleh serta dikenakan pajak terkait

dengan keuntungan yang diperoleh perusahaan ketika melakukan translasi

sebesar 25%. Entitas yang melakukan konsolidasi juga harus membuat

laporan keuangan sesuai dengan PSAK terkait laporan keuangan

konsolidasian menurut PSAK 65 dan PSAK 15 agar sesuai dengan standar

yang berlaku di Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Chairi. 2011. PSAK 10 Transaksi Mata Uang Asing, (Online),

(http://chairianwar.blogspot.co.id), diakses 28Maret 2017.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2014. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan

(PSAK). Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2015. Modul Chartered Accountant: Pelaporan

Korporat. Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia.

Juan, Wahyuni. 2012. Panduan Praktis Akuntansi Keuangan, Edisi Dua. Jakarta:

Salemba Empat.

www.idx.co.id