Anda di halaman 1dari 3

1.

Ahmad mengalami reaksi alergi berat


a. Apa gejala dari alergi berat?
Reaksi alergi bisa bersifat ringan atau berat. Kebanyakan reaksi terdiri dari mata
berair, mata terasa gatal dan kadang bersin. Pada reaksi yang ekstrim bisa terjadi
gangguan pernafasan, kelainan fungsi jantung dan tekanan darah yang sangat rendah
yang menyebabkan syok. Reaksi jenis ini disebut anafilaksis
(Nuzulul hikmah & I dewa Ayu ratna Dewanti. ( 2015 ). Seputar reaksi
hipersensitivitas. jurnal bagian biomedik unej )

b. Bagaimana proses terjadinya alergi?

alergen makanan akan dikenali oleh sel penyaji antigen untuk selanjutnya
mengekspresikan pada sel-T secara langsung atau melalui sitokin. Sel T tersensitisasi
dan akan merangsang sel-B menghasilkan antibodi dari berbagai subtipe. Alergen
yang intak akan diserap oleh usus dalam jumlah cukup banyak dan mencapai sel-sel
pembentuk antibodi di dalam mukosa usus dan orgalimfoid usus. Pada umumnya
anak-anak membentuk antibodi dengan subtipe IgG, IgA dan IgM. Pada anak atopi
terdapat kecenderungan lebih banyak membentuk IgE, selanjutnya mengadakan
sensitisasi sel mast pada saluran cerna, saluran napas, kulit dan banyak oragan tubuh
lainnya. Sel epitel intestinal memegang peranan penting dalam menentukan kecepatan
dan pola pengambilan antigen yang tertelan. Selama terjadinya reaksi yang
dihantarkan IgE pada saluran cerna, kecepatan dan jumlah benda asing yang terserap
meningkat. Benda asing yang larut di dalam lumen usus diambil dan dipersembahkan
terutama oleh sel epitel saluran cerna dengan akibat terjadi supresi (penekanan)
sistem imun atau dikenal dengan istilah toleransi. Antigen yang tidak larut, bakteri
usus, virus dan parasit utuh diambil oleh sel M (sel epitel khusus yang melapisi patch
peyeri) dengan hasil terjadi imunitas aktif dan pembentukan IgA. Ingesti protein diet
secara normal mengaktifkan sel supresor TCD8+ yang terletak di jaringan limfoid
usus dan setelah ingesti antigen berlangsung cukup lama. Sel tersebiut terletak di
limpa. Aktivasi awal sel-sel tersebut tergantung pada sifat, dosis dan seringnya
paparan antigen, umur host dan kemungkinan adanya lipopolisakarida yang
dihasilkan oleh flora intestinal dari host. Faktor-faktor yang menyebabkan absorpsi
antigen patologis adalah digesti intraluminal menurun, sawar mukosa terganggu dan
penurunan produksi IgA oleh sel plasma pada lamina propia.
( judarwanto,widodo.2005. alergi makanan,diet,dan autisme.jakarta : departemen
kesehatan )

Alergi makanan bermanifestasi dengan menginduksi reaksi hipersensitivitas yang


utamanya diperantarai oleh Ig E. Reaksi ini harus dibedakan dengan reaksi toksik
terhadap makanan ataupun intoleran karena defisiensi enzim kebanyakan reaksi alergi
timbul dalam beberapa menit hingga dua jam setelah menelan makanan yang
dicurigai. Waktu antara makan dan timbulnya gejala serta lamanya gejala
berlangsung sangat penting dalam prosedur diagnostik alergi makanan. ( modul alergi
makanan dan alergi susu sapi, Fakultas Kedokteran UNS )

c. Bagaimana alergi bisa digolongkan sebagai alergi berat?


Manifestasi klinik utama dari makanan Ig E mediatif biasanya terjadi dalam waktu
dua jam setelah konsumsi dan melibatkan gejala akut yang mempengaruhi kulit,
saluran nafas dan saluran pencernaan serta sering menyebabkan episode anafilaksis
parah .( Zurial Zubir dan Herlina M Sitorus, patofisiologi alergi makanan. Jurnal
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran USU).

d. Apakah stimulus dari alergi berat selalu berupa gatal-gatal?


Stimulus dari alergi berat tidak selalu berupa gatal – gatal. Reaksinya bisa berupa
Reaksi alergi yang dimediasi IgE berhubungan
dengan gejala yang bervariasi, yaitu generalisata
(hipotensi, syok,diare), kutan (urtikaria, angioedema, bercak
seperti morbili yang gatal), oral dan gastrointestinal
(gatal dan sembab pada bibir, lidah, palatum, edema
laring, muntah, diare), dan siste sistem respirasi (kongesti
nasal, edema faring )adapun reaksi alergi yang bermediasi dengan non ige memiliki
reaksi berupa traktus gastrointestinal dan kulit,
contohnya adalah enterokolitis dan proktitis yang
diinduksi oleh protein, gangguan celiac dan dematitis
herpetiformis. ( Alexander Kam1& Raveinal, Imunopatogenesis dan Implikasi Klinis
Alergi Makanan pada
Dewasa. Jurnal Fakultas Kedokteran UNAND )

Apa faktor yang menyebabkan alergi?


Faktor penyebab alergi antara lain :
1. Makanan ( misal alpukat, pisang,kiwi,kacang, makanan olahan laut, jamur )
2. Terpapar zat alergen ( misal zat kimia,agen farmakalogi )
3. Terpapar alergen lingkungan ( misal debu, tumbuhan musim tertentu )
4. Sengatan serangga.
( SDKI Edisi 1, 2017 )
Penyebab alergi di dalam makanan adalah protein, glikoprotein atau polipeptida
dengan berat molekul lebih dari 18.000 dalton, tahan panas dan tahan ensim
proteolitik. Sebagian besar alergen pada makanan adalah glikoprotein dan berkisar
antara 14.000 sampai 40.000 dalton. Beberapa makanan yang berbeda kadang
menimbulkan gejala alergi yang berbeda pula, misalnya pada alergi ikan laut
menimbulkan gangguan kulit berupa urtikaria, kacang tanah menimbulkan gangguan
kulit berupa papula (bintik kecil seperti digigit serangga) atau furunkel (bisul).
Timbulnya gejala alergi bukan saja dipengaruhi oleh penyebab alergi, tapi juga
dipengaruhi oleh pencetus alergi. . Faktor pencetus tersebut dapat berupa faktor fisik
seperti tubuh sedang terinfeksi virus atau bakteri, minuman dingin, udara dingin,
panas atau hujan, kelelahan, aktifitas berlebihan tertawa, menangis, berlari, olahraga.
Faktor psikis berupa kecemasan, sedih, stress atau ketakutan. Alergen
bisa berupa tumbuhan musim tertentu
(misalnya serbuk rumput atau rumput liar)
atau bahan tertentu (misalnya bulu kucing).
( jurnal departemen kesehatan- gizi ).

e. Bagaimana cara penanganan alergi

penanggulangan terapi dapat dilaksanakan dengan melakukan terapi, ada 3 terapi


utama yang dapat dilaksanakan untuk menangani alergi, antara lain :
1. Terapi menghindari alergen
Terapi ini merupakan terapi yang paling efektif pada semua alergi dan harus
mempertimbangkan pada penambahan terapi farmakologi dan terapi imunologi.
Terapi ini digunakan untuk menghindari terpaparnya alergen namun tidak
mengurangi sensitivitas imunologi pada alergen yang mendasarinya
2. Terapi gejala ( farmakologi )
Terapi ini digunakan untuk penyakit yang diperantarai IgE
3. Imunoterapi
Terapi atopi yang dikhususkan untuk pasien rinitis alergika dengan injeksi alergen
secara berulang dalam jangka panjang
( Tierney, Lawrence M dkk.2003. Dignosis & Terapi Kedokteran Penyakit
Dalam.jakarta : salemba medika )