Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PROSES PENJABARAN TEORI PEMBENTUKAN RELASIONAL


SEBAGAI FAKTOR PENUNJANG KEBERHASILAN KOMUNIKASI
INTERPERSONAL

KELOMPOK 4 :
1. Hasni (50700118007)
2. Supriadi A. (50700118040)

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2020

Teori Pembentukan Relasional | 1


We offer a framework to use as a guide and tool for looking at the assumption,
perspectives and focal points of communication theories-to be able to see their
similarities and differences. (Littlejohn, 2011: 33) [1]

Dalam perkembangan manusia sebagai mahluk sosial, komunikasi telah


memegang peran vital dalam mengkoneksikan gagasan antar-pribadi dan
informasi yang dianggap menjadi sesuatu yang penting. Proses pencarian
dudukan dari komunikasi yang berlangsung beabad-abad dan melalui fase yang
panjang telah melahirkan suatu tatanan disiplin ilmu yang punya peran besar
dalam proses pembentukan dan penguatan relasi antar manusia.

Pada masa dini berkembangnya komunikasi, Harold D. Laswell (1948) telah


mengemukakan lima segi yang merupakan bidang analisis komunikasi (terkenal
dengan formula Laswell) yaitu (1) Siapa, (2) berkata apa, (3) melalui saluran
apa, (4) kepada siapa, dan (5) bagaimana efeknya (Who says what in which
channel to whom with what effect?). [2]

Manusia dijebak dalam lingkup penjabaran makhluk sosial, mahluk yang dalam
proses kehidupannya akan selalu membutuhkan bantuan berupa gagasan, tenaga
dan juga informasi penting dalam kehidupannya. Dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya yang paling mendasar hingga sekunder membangun relasi dengan
yang lainnya, sehingga kehidupan manusia merupakan bangunan relasi antar
personal satu dengan yang lainnya yang kemudian hari ini disebut sebagai relasi
interpersonal. Sebuah lingkungan yang akan saling menutupi kebutuhan
personal dan dinamikanyapun ditentukan oleh kekuatan emosional yang
terbangun pada setiap personalnya. [3]

1
Arief Fajar, “The Relationship; Kunci Relasi dalam InterpersonalContext (Pemetaan Tradisi
Teori Komunikasi mengenai Komunikasi Interpersonal dalam Pandangan Stephen W.
Littlejohn)”, dalam KomuniTi, Vol.V No.1 edisi Maret, 2013, hlm. 24

Teori Pembentukan Relasional | 1


A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Interpersonal

Menurut Jalaluddin Rahmat, komunikasi interpersonal akan lebih baik


lagi bila dilandasi beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi
interpersonal seperti:

1. Persepsi Interpersonal, yakni persepsi seseorang tentang orang lain,


bukan tentang benda sebagai objek persepsinya. Misal: persepsi seseorang
terhadap bosnya di kantor, persepsi mahasiswa tentang dosennya, persepsi
suami tentang istrinya, atau persepsi seseorang tentang tokoh di televisi.

2. Konsep Diri, yakni adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita,
yang meliputi gambaran fisik, sosial dan psikologis.

3. Atraksi Interpersonal, merupakan bentuk rasa suka atau positive mind


kepada orang lain. Alur komunikasi interpersonal yang akan terjadi dapat
dprediksi dan diketahui dengan mengetahui siapa tertarik pada siapa dan
siapa menghindari siapa. [4]

B. Model-Model Hubungan Interpersonal


Menurut Coleman dan Hammen, sebagaimana dikutip oleh Jalaluddiah
Rakhmat, ada empat buah model untuk menganalisa hubungan
interpersonal, yaitu:

1. Model pertukaran sosial (social exchange model). Model


ini memandang hubungan interpersonal sebagai proses transaksi
dagang (barter) atau simbiosis mutualisme, di mana orang
berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu
yang memenuhi kebutuhannya.

2
Anwar Arifin, Ilmu Komunikasi, Ujung Pandang : Lembaga Kajian Inovasi Indonesia (LKII),
1998, hlm. 12-13
3
Rustini Wulandari, Amelia Rahmi, “Relasi Interpersonal dalam Psikologi Komunikasi”, dalam
Islamic Comunication Journal Volume 03, nomor 1, Januari-Juni 2018, hlm. 57
4
Uus Uswatusolihah, “Membangun Pemahaman Relasional melalui Komunikasi
Interpersonal”, dalam Jurnal Komunika Vol. 7 No. 2 Juli-Desember, 2013, hlm. 4-5

Teori Pembentukan Relasional | 2


2. Model peranan (role model). Model ini melihat hubungan
interpersonal sebagai panggung sandiwara. Di sini setiap orang
harus memainkan peranannya sesuai dengan “naskah” yang telah
dibuat masyarakat.

3. Model permainan (the “game people play” model). Dalam


model ini, orangorang berhubungan dengan berbagai macam
permainan. Dalam hubungan ini kita menampilkan salah satu
aspek kepribadiannya, dan orang lain pun membalasnya dengan
salah satu aspek tersebut juga.

4. Model interaksional (interactional model). Dalam model ini,


hubungan interpersonal dijabarkan sebagai suatu sistem yang
terdiri dari subsistem-subsistem yang saling berkorelasi dan
bertindak sebagai satu kesatuan. Lebih jelasnya, setiap hubungan
interpersonal harus dipandang dari kacamata tujuan kolektif,
metode dalam komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan,
serta permainan yang dilakukan. Secara singkat, model
interaksional coba mengolaborasikan model pertukaran, peranan
dan permainan. [5]

Kekuatan relasi interpersonal sangat ditentukan oleh stimulan


yang diungkapkan oleh seseorang sebagai suatu kebutuhan atau
kepentingannya dengan respon yang muncul dari pihak lain yang
menjadi sasaran kebutuhannya. Proses tersebut direproduksi terus
menerus sehingga relasi interpersonal bisa berlangsung dengan baik.
Kondisi atau perasaan saling membutuhkan merupakan energi yang
memperkuat relasi tersebut. Selain itu ada upaya dari masing – masing
pihak untuk menjaganya, meskipun kadang ada perbedaan – perbedaan
kebutuhan atau kepentingan. Adanya kebutuhan atau kepentingan yang

Teori Pembentukan Relasional | 3


harus terpenuhi seseorang seringkali harus menekan perbedaan yang
muncul. [6]2

Proses pengelolaan yang baik dalam relasi interpersonal akan


menghasilkan personal yang penuh percaya diri dan kompetitif.
Beberapa ahli psikologi menarasikan asumsi bahwa tigkat kompetensi
personal dalam relasi interpersonal akan membawa sukses pada banyak
jalan. Berdasarkan hasil penelitiannya, Hayes (2006) menemukan hal
yang membedakan seorang manager yang sukses dan tidak sukses
berdasarkan kompetensi interpersonal (Idrus. 2009: 171). Sedangkan
Suchy (2000) melayangkan sebuah pandangan bahwa 80% faktor
kompetensi relasi interpersonal menentukan menjadi penentu efektifitas
kehidupan dan kesuksesan seseorang. [7]

Tingkat kompetensi relasi interpersonal seseorang merupakan


faktor sentral dalam ranah psikologi setiap personal. Daniel Coleman
memasukkannya dalam salah satu aspek konstruksi kecerdasan
emosional. Aspek konstruksi kecerdasan emosional lainnya adalah:
kesadaran diri, mengelola emosi, memanfaakan secara produktif, dan
empati. (Wahyuni.2011:2) Tingkat kompetensi relasi interpersonal
seseorang bisa dilihat pada kemampuannya menciptakan dan
memelihara atau merawat hubungan dengan orang lain (antarpribadi)
dengan baik dan memuaskan. Indikator tersebut melekat didalamnya
karakteristik psikologis. (Idrus.2009:172) [8]

5
Ibid.
6
Wulandari, Op.Cit., hlm. 57
7
Loc.it.
8
Loc.it

Teori Pembentukan Relasional | 4


Dipandang dan dianalasis dalam sisi psikologis, setiap individu
yang terlibat dalam komunikasi atau relasi interpesonalakan
memperoleh keuntungan. Hadirnya orang lain dalam kehidupan
seseorang akan bisa menjadi sarana merefleksi diri dengan bercermin
dan atau mendapatkan penilaian dari orang lain. Relasi interpersonal
pada tiap individu akann memungkinkannya untuk lahirnya sebuah
kebebasan personal dalam mengekspresikan beban dan kebutuhan
psikologis yang tidak bisa dirunutkan sendiri akar permasalahannya.

Dalam relasi tersebut individu akan lebih bisa mengembangkan


potensi diri secara psikis dan sosial. Kuatnya relasi interpersonal akan
membangun kepercayaan individu satu kepada individu yang lain
sehingga lahirlah sebuah proses komunikasi yang terbuka Ada
hubungan timbal balik diantara individu dalam hal menghadapi
persoalan kehidupannya. Ketika salah satu pihak menghadapi masalah,
maka bisa minta bantuan pihak lain sebagai saudara atau sahabat. Begitu
pula sebaliknya individu akan menolong pihak lain yang menghadapi
masalah. Oleh karena itu relasi interpersonal merupakan kebutuhan
sosial yang primer bagi setiap individu sehingga akan bisa mencapai
kebahagiaan dan penyangga terhadap tekanan hidup yang bisa
membikin stress. [9]

Relasi interpersonal terjalin dari kemampuan komunikasi antar


individu untuk kemajuan organisasi dan menghilangkan hambatan-
hambatan atau permasalahan yang terjadi dalam organisasi. Dalam
penyelesaian permasalahan, relasi interpersonal dibutuhkan untuk
mendalami sebuah permasalahan dari sisi pendekatan individu degan
individu. Hubungan interpersonal yang baik dapat ditunjukkan dengan
adanya perilaku-perilaku memberikan dukungan emosi, setia kawan,
sehingga menumbuhkan rasa perhatian dengan orang lain (Floyd, 2011 :
306). [10]

Teori Pembentukan Relasional | 5


Teori pembentukan relasional menjelaskan bagaimana seseorang
mengatur pesan untuk mendukung kesimpulan tentang hubungan yang
terjadi dengan komunikator. Dengan teori ini seseorang dapat mengerti
bahwa pesan-pesan relasional yang ditafsirkan sebagai indikator-
indikator kekuasaan dan kepatuhan. Teori pembentukan relasional
memposisikani ini dengan cara yang baru, khususnya teori ini
memandang kekuasaan dan kepatuhan sebagai bentuk-bentuk
fungsional yang membantu seseorang memproses pesan-pesan. Isi
pesan-pesan relasional yang dibuat seseorang tentang kekuasaan dan
kepatuhan mengacu pada tingkat dimana seseorang mengatur,
menguasai dan telah didokumentasikan melalui analisis faktor mengenai
respon-respon terhadap pesan. Sedangkan kekuasaan dan kepatuhan
ditetapkan oleh faktor yang sesuai dari pesan relasional yang
merupakan ide yang berbeda dan menambahkan enam faktor yaitu
kesamaan, memengaruhi, kesediaan menerima, persamaan, ketenangan
dan formalitas. [11]

C. Teori Pembentukan Relasional


Teori pembentukan relasional hadir dari paradigm, paradigma ini
menyatakan bahwa kenyataan objektif itu ada, dan merupakan
kewajiban dari ilmu pengetahuan untuk menemukan kenyataan melalui
penelitian. Mengikuti empirisme logis dan diinformasikan melalui
fakta-fakta yang dapat diamati. Teori pembentukan relasional juga
berteori tentang sebab-sebab mengenai pemprosesan pesan relasional
pada tingkat yang paling tepat, dan juga menempatkan sumber yang
utama tentang kesimpulan-kesimpulan relasional mengenai tujuan
interaksi dan ciri-ciri konteks. Namun pada tingkat yang lain, teori ini
merealisasikan bahwa sebuah kemampuan untuk menarik kesimpulan-
kesimpulan relasionl dengan kecakapan manusia yang merupakan
pengembangan kognitif dan sosialisasi. [12]

Teori Pembentukan Relasional | 6


Teori pembentukan rasional mewujudkan dua kumpulan asumsi.
Kumpulan asumsi pertama mengenai pernyataan yang membahas sifat
dan penilaian-penilaian relasional. Dengan kata lain, penilaian yang
dibuat apabila manusia menarik kesimpulan tentang hubungan mereka.
Kumpulan asumsi kedua mengenai pernyataan yang mengutamakn
pada proses yang mengarahkan pada kesimpulan relasional. Bagian dari
teori ini mengambarkan karakteristik mengenai konteks interaksi dan
proses-proses kofnitif secara bersama-sama dengan berkontribusi pada
penilaian relasional. [13]

D. Landasan Operasional Teori Pembentukan Relasional


1. QS. At-Thalaq ayat 6

..dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu)


dengan baik; QS. At Thalaq 6

Al Maraghi menafsirkan ayat ini bermusyawarahlah kalian para


Bapak dan Ibu dalam urusan anak anak dengan apa yang lebih baik bagi
anak anak itu dalam urusan kesehatan, moral dan peradaban. Jangan
kalian menjadikan harta benda sebagai penghalang untuk kebaikan anak
anak. Jangan lah para bapak mendapatkan kesulitan dalam hal upah dan
nafkah nafakah lainnya. Dan jangan pula para ibu menyusahkan dan
menyempitkan para bapak; karena anak anak itu adalah belahan hati
para orang tua. Maka hendaklah para orang tua itu memelihara mereka
dengan semampu-mampunya. [14]

Dari ayat ini jelas keluarga yang terdiri dari ayah ibu dan anak
merupakan bagian dari organisasi terkecil dalam sebuah komunitas
sosial, hal ini sudah ditolerir oleh Allah agar mendapat kedamaian,
komunikasikan dengan arif dan ambil jalan yang terbaik sehingga
semuanya selesai dan saling menyenangi keadaan, dengan jalan
musyawarah dan kemufakatan. [15]

Teori Pembentukan Relasional | 7


2. Sabda Rasulullah SAW

‫ر‬ ‫ر‬ ‫هي‬ ‫أ‬ ‫ع‬ ‫م ام‬ ‫ه‬ ‫ع‬ ‫ما ر‬ ‫أ‬ ‫اق‬ ‫ال‬
‫عا‬ ‫أ‬ ‫ور‬ ‫م‬ ‫اق‬ ‫إا‬ ‫ي‬ ‫ك‬ ‫ص‬
‫ع اس‬ ‫ال‬ ‫ممى‬ ‫س‬ ‫ك‬ ‫و‬ ‫ع‬ ‫ال ى‬
‫ص‬ ‫ال‬ ‫ر سو‬ ‫قا‬ ‫قا‬ ‫ع‬ ‫ال‬ ‫ص‬ ‫اس‬ ‫ال‬
‫يل ع‬ ‫ال ش‬ ‫ه‬ ‫ف‬ ‫ت‬

Artinya :

Telah bercerita kepada kami Ishaq bin Manshur telah mengabarkan


kepada kami 'Abdur Rozaq telah mengabarkan kepada kami Ma'amr
dari Hammam dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap ruas tulang pada manusia
wajib atasnya shadaqah dan setiap hari terbitnya matahari di mana
seseorang mendamaikan antara manusia maka terhitung sebagai
shadaqah". (HR. Bukhari)

Pada hadis di atas Rasulullah SAW ada kata “ya’dilu” yaitu


mendamaikan, dimana Rasulullah SAW selalu mendamaikan diantara
shahabat jika ada perselisihan, dan menyelesaikannya dengan cara yang
bijaksana tanpa menimbulkan efek negatif dari kedua belah pihak. Hal
yang serupa juga pernah terjadi tatkala merenovasi Ka’bah sampai di
bagia Hajar al Aswad, orang-orang Quraisy saling berselisih tentang
siapa yang berhak mendapat kehormatan meletakkan Hajar al Aswad itu
di tempatnya semula. Perselisihan ini terus berlanjut selama empat atau
lima hari, tanpa ada keputusan bahkan perselisihan itu semakin
meruncing dan hampir saja menjurus kepada pertumpahan darah di
tanah suci. Abu Umayyah bin al Mughirah al Makhzumy tampil dan
menawarkan jalan keluar dari perselisihan di antra mereka, dengan
menyerahkan urusan ini kepada siapa pun yang pertama kali masuk
lewat pintu masjid. Mereka menerima cara ini. Allah menghendaki

Teori Pembentukan Relasional | 8


orang yang berhak tersebut adalah Rasulullah SAW., tatkala mengetahui
hal ini mereka berbisik-3bisik, inilah al Amin, kami ridha kepadanya,
dia adalah Muhammad orang yang dapat dipercaya. [16]

Setelah mereka semua berkumpul di sekitar beliau dan


mengabarkan apa yang harus beliau lakukan, maka beliau meminta
sehelai kain selendang, lalu beliau meletakkan Hajar al Aswad ditengah
tengah selendang itu, lalu meminta pemuka pemuka kabilah yang saling
berselisih itu memegang ujung ujung selendang, lalu memerintahkan
mereka segar bersama sama mengangkatnya. Setelah mendekati
tempatnya, beliau mengambil Hajr al Aswad dan meletakknnya di
tempat semuala. Ini merupakan solusi pemecahan yang sangat jitu dan
diridhai semua orang. [17]

E. Analisa Dasar Teori Pembentukan Relasional


Di luar pengetahuan mengenai hakikat hubungan antarpribadi,
seseorang melakukan pertimbangan tentang intensitas mereka.
Perbedaan antara hal-hal positif dan ketaatan sejati, otoritas dan
kebencian yang merupakan perbedaan didalam setiap hubungan-
hubungan antarpribadi. Keterlibatan posisi teori pembentukan relasional
mengenai pertimbangan yang berkaitan dengan tingkat koordinasi,
keterlibatan dan kesegeraan hadir di dalam sebuah interaksi. Dari segi
pentingnya keterlibatan dikonseptualisasikan sebagai pemikiran yang

15
Muniruddin, “Komunikasi Pengembangan Masyarakat Islam Analisis Teori Dialektika
Relasional”, dalam Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Volume 7 No. 1. 2019. Hal. 71
16
Ibid.
17
Ibid.
18
Budyatna, Muhammad. Teori-Teori Mengenai Komunikasi Antarpribadi. Jakarta : Prenada
Media Group.2015. Hal. 105
19
Ibid.
20
Loc.it., Hal. 106
21
Ibid.
22
Ibid.
23
Ibid.

Teori Pembentukan Relasional | 9


tidak memiliki kandungan relasional. Konsep mengenai bentuk-bentuk
relasional menggabungkan tiga dimensi pesan-pesan relasional. Bentuk-
bentuk relasional merupakan struktur-struktur yang terdiri dari
pengetahuan yang terorganisasi tentang hubungan-hubungan sosial. Hal
ini serupa dengan skema hubungan atau model-model hubungan yang
berisikan asumsi-asumsi tentang asosiasi antarpribadi yang berasal dari
pengalaman sebelumnya.

Kekuasaan dan kepatuhan merupakan bentuk-bentuk untuk


mengatasi pemahaman mengenai isyarat-insyarat interaksi. Seperti pada
contoh struktur-struktur ini mengarahkan apa yang kita perhatikan,
bagaimana kita mengatur informasi dan apa yang kita persepsikan.
Karena keterlibatan dapat membawakan baik kekuasaan maupun
afiliasi, hal ini terutama dipengaruhi oleh bentuk relasional melalui
mana hal yang dilihatnya. Jadi bentuk-bentuk relasional baik
memfokuskan perhatian pada isyarat-isyarat khusus maupun
mengendalikan makna yang orang camtunkan pada indikator-indikator
yang lebih ambigu mengenai intensitas pesan. Dengan mengambil
sebuah posisi berkenaan dengan jumlah dan hakikat pertimbangan-
pertimbangan relasional, mencerminkan sebuah jumlah dari usaha-usaha
sebelumnya untuk mengklarifikasikan bagaimana orang mengatur
pengalaman-pengalamam sosial mereka. Namun demikian teori
pembentukan relasional menyampaikan tradisi ini dengan menentukan
di antara struktur-struktur kognitif, isyarat-isyarat interaksi dan
pertimbangan relasional. [18]

Proses pembentukan relasional dimulai dengan bentuk-bentuk


kekuasaan dan kepatuhan yang dipengaruhi oleh keanekaragaman
faktor. Khususnya isi dari ungkapan-ungkapan itu sendiri dapat
diklarifikasi apakah interaksi-interaksi mengenai penguasaan sosial.
Pada tingkat yang lebih tinggi mengenai abstraksi, fungsi peristiwa

Teori Pembentukan Relasional | 10


sosial yang memusatkan perhatian pada masalah-masalah kekuasaan.
Jika para pasangan memiliki sejarah mengenai interaksi-interaksi yang
memfokuskan pada kekuasaan, pola itu akan mengarahkan perhatian
dalam pertukaran khusus.

Demikian juga orang dapat memiliki kecenderungan watak


untuk fokus pada kekuasan dan kepatuhan apabila mereka berinteraksi
dengan orang lain. Pada tingkat yang paling umum, norma-norma
didikte oleh konteks sosial atau kultural perhatian langsung kepada
sifat-sifat kekuasaan dan kepatuhan pada sebuah interaksi. Informasi
yang diberikan oleh interaksi disajikan didalam konteks dan tanggung
jawab oleh para partisipan, bergabung untuk menggiatkan bentuk-
bentuk kekuasaan dan kepatuhan. Sebuah asumsi penting mengenai
teori pembentukan relasional ialah bahwa tingkat-tingkat penggiatan
diberikan kepada masing-masing bentuk seringkali dalam bentuk
persaingan. Dengan kata lain teori ini menegaskan bahwa bentuk-bentuk
cenderung untuk menggantikan satu sama lain untuk memahami
interaksi. Pelaksanaan secara simultan dari kedua bentuk akan
mengurangi pemprosesan yang efisian. Ini tidak berarti bahwa tidaklah
mungkin bagi kedua bentuk digiatkan, tetapi dengan berbuat begitu
menghabiskan kapasitas kognitif dan secara subjektif tidaklah nyaman.
Jadi sistem kognitif lebuh condong ke salah satu bentuk atau yang
lainnya.

Bentuk relasional yang penting menunjukkan perhatian kepada


ciri-ciri interaksi yang mengimformasikan pertimbangan-pertimbangan
relasional. Dalam hal ini keterlibatan bentuk relasional yang penting
memberi makna bagi pesan-pesan dan menginformasikan kebutuhan
yang sangat mempertimbangkan relasional, bahwa keterlibatan
semacam itu dapat menimbulakan persepsi-persepsi mengenai
kekuasaan yang lebih besar, tergantung kepada bentuk relasional. Secara

Teori Pembentukan Relasional | 11


ringkasnya bentuk-bentuk relasional digiatkan oleh macam-macam
faktor konstektual, mencakup mulai dari isi pesan yang khusus sampai
kepada norma-norma sosial dan kultural untuk interaksi. Hipotesis
differensial yang penting menyatakan bahwa dua bentuk mengenai
kekuasaan dan kepatuhan berada dalam persaingan terhadap satu sama
lain, salah satunya perlu menggantikan yang laiinnya apabila individu-
individu memahami pesan-pesan relasional. Sebagai tambahan hipotesis
yang umum memposisikan keterlibatan sebagai variabel yang
mempertentangkan pertimbangan-pertimbangan relasional yang penting.
[19]

Teori pembentukan relasional bergantung pada dua asumsi


penting tentang sifat komunikasi, yaitu :

1. Teori pembentukan relasional sangat terpengaruh oleh aksioma yang


sudah berjalan lama bahwa komunikasi memiliki komponen-komponen
isi dan relasional. Isi pesan-pesan meliputi makna semantik atau
denotatif mengenai lambang-lambang yang dipertukarkan. Pesan-pesan
relasional membicarakan asumsi-asumsi tentang atau pilihan-pilihan
bagi hubungan yang diimplikasikan oleh tindakan-tindakan simbolis.

2. Teori pembentukan relasional menyoroti sifat komunikasi yang


bermakna banyak dengan perkataan lain cara dimana komunikasi
membenarkan penafsiran-penafsiran dan makna-makna multipel. [20]

Teori pembentukan relasional dapat membantu kita untuk


memahami kamunikasi antarpribadi pada banyak tingkat yang
mengungkapkan nuansa-nuansa yang berbeda dengan teori. Ujian-ujian
awal teori menelaah bagaimana seseorang membentuk pesan-pesan dari
teman-teman didasarkan pada tujuan strategis. Pengujian-pengujian
teori juga telah menunjukkan bagaimana karakteristik pribadi dapat
mempengaruhi pemrosesan informasi relasional. Teori pembentukan

Teori Pembentukan Relasional | 12


relasional juga telah digunakan untuk memahami pengaruh normatif dan
bersifat menerangkan dalam kelompok-kelompok. [21]

Perbedaan aspek-aspek tentang komunikasi antarpribadi


memberikan alat konseptual untuk menggambarkan komunikasi
antarpribadi sebagai sebuah proses. Meskipun ilmu pengetahuan
komunikasi memberikan hak untuk pertukaran pesan-pesan dan
pembuatan bersama tentang makna sebagai sebuah kerangka yang
penting pada perilaku manusia, beberapa kerangka teoritis menjelaskan
bagaimana norma-norma sosial, perbedaan-perbedaan individual dan
ciri-ciri kontekstual dirangkai menjadi satu dan saling melengkapi
pemprosesan pesan. Sebagaimana teori pembentukan relasional
mengembangkan kekuatan-kekuatan dan keterbatasan-keterbatasan teori
dan penelitian yang sesuai. Kekuatan yang utama terletak pada nilai
heuristic yaitu memberikan petunjuk dalam penyelesaian masalah. Teori
pembentukan relasional fokus pada proses-proses dasar komunikasi
antarpribadi yang dapat memberikan keterangan pada macam-macam
situasi interaksi. [22]

Teori pembentukan relasional juga memberikan kerangka yang


mengintegrasikan kekuatan-kekuatan kultural, personal, relasional dan
episodik yang mempengaruhi komunikasi antarpribadi. Keterbatasan
yang utama dari teori pembentukan relasional ialah kurangnya kejelasan
tentang dimana terjadinya pemindahan bentuk dan dalam kondisi apa.
Sedangkan teori ini menyatakan bahwa bentuk-bentuk kekuasaan dan
kepatuhan berbeda secara nyata, penelitian empiris memberi kesan
hanya sebuah kecenderungan terhadap bentuk pemindahan. [23]

Teori Pembentukan Relasional | 13


F. Kesimpulan
1. Teori pembentukan relasional menjelaskan bagaimana seseorang
mengatur pesan untuk mendukung kesimpulan tentang hubungan
yang terjadi dengan komunikator. Dengan teori ini seseorang dapat
mengerti bahwa pesan-pesan relasional yang ditafsirkan sebagai
indikator-indikator kekuasaan dan kepatuhan.
2. Teori pembentukan relasional hadir dari paradigma, paradigma ini
menyatakan bahwa kenyataan objektif itu ada, dan merupakan
kewajiban dari ilmu pengetahuan untuk menemukan kenyataan
melalui penelitian. Mengikuti empirisme logis dan diinformasikan
melalui fakta-fakta yang dapat diamati. Teori pembentukan
relasional juga berteori tentang sebab-sebab mengenai pemprosesan
pesan relasional pada tingkat yang paling tepat, dan juga
menempatkan sumber yang utama tentang kesimpulan-kesimpulan
relasional mengenai tujuan interaksi dan ciri-ciri konteks. Namun
pada tingkat yang lain, teori ini merealisasikan bahwa sebuah
kemampuan untuk menarik kesimpulan-kesimpulan relasionl dengan
kecakapan manusia yang merupakan pengembangan kognitif dan
sosialisasi.
3. Teori pembentukan relasional bergantung pada dua asumsi penting
tentang sifat komunikasi, yaitu :
1. Teori pembentukan relasional sangat terpengaruh oleh
aksioma yang sudah berjalan lama bahwa komunikasi
memiliki komponen-komponen isi dan relasional. Isi
pesan-pesan meliputi makna semantik atau denotatif
mengenai lambang-lambang yang dipertukarkan. Pesan-
pesan relasional membicarakan asumsi-asumsi tentang
atau pilihan-pilihan bagi hubungan yang diimplikasikan
oleh tindakan-tindakan simbolis.

2. Teori pembentukan relasional menyoroti sifat


komunikasi yang bermakna banyak dengan perkataan lain
cara dimana komunikasi membenarkan penafsiran-
penafsiran dan makna-makna multipel. [20]

Teori Pembentukan Relasional | 14


DAFTAR PUSTAKA

Arief Fajar, “The Relationship; Kunci Relasi dalam InterpersonalContext


(Pemetaan Tradisi Teori Komunikasi mengenai Komunikasi Interpersonal
dalam Pandangan Stephen W. Littlejohn)”, dalam KomuniTi, Vol.V No.1 edisi
Maret, 2013.

Anwar Arifin, Ilmu Komunikasi, Ujung Pandang : Lembaga Kajian Inovasi


Indonesia (LKII), 1998.

Budyatna, Muhammad. Teori-Teori Mengenai Komunikasi Antarpribadi.


Jakarta : Prenada Media Group.2015. Hal. 105

Muniruddin, “Komunikasi Pengembangan Masyarakat Islam Analisis Teori


Dialektika Relasional”, dalam Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Volume 7 No.
1. 2019.

Rustini Wulandari, Amelia Rahmi, “Relasi Interpersonal dalam Psikologi


Komunikasi”, dalam Islamic Comunication Journal Volume 03, nomor 1,
Januari-Juni 2018.

Uus Uswatusolihah, “Membangun Pemahaman Relasional melalui Komunikasi


Interpersonal”, dalam Jurnal Komunika Vol. 7 No. 2 Juli-Desember, 2013.

Teori Pembentukan Relasional | 15