Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFARMASETIKA

PRAKTIKUM 2 (SISTEM DISPERSI PADAT)

Disusun Oleh :
Febriana Lulu S.
(201704034)

DOSEN : Nuzul Gyanata Adiwisastra, M.Farm., Apt

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MITRA KELUARGA
BEKASI
2020
PRAKTIKUM II

SISTEM DISPERSI PADAT

I. Tujuan
Agar mahasiswa mengetahui dan memahami teknik pembuatan disperse padat
dengan metode peleburan dan evaluasi sifat-sifat fisiko-kimia
II. Pendahuluan
Dispersi Padat
Sistem dispersi padat adalah suatu sistem dimana satu atau lebih zat aktif
dalam bentuk padat terdispersi dalam pembawa inert pada keadaan padat. Suatu
zat aktif yang sukar larut dalam air jika diformula sebagai sistem dispersi padat
menggunakan pembawa yang hidrofilik, maka akan terlihat peningkatan kelarutan
zat aktif dalam air, laju disolusi dan bioavailabilitasnya. Dengan demikian, sistem
dispersi padat menjadi salah satu pilihan dalam memperbaiki sifat yang kurang
menguntungkan dari suatu senyawa obat.
Pembuatan dispersi padat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain:
metode peleburan (melting method), metode pelarutan (solvent method), dan
metode campuran (melting-solvent method) (Chiou dan Sydney, 1971).
a. Metode Peleburan
Pada metode ini komponen zat aktif dan pembawa dileburkan pada temperatur
atau diatas temperatur zat aktif dan pembawa. Hasil leburan didinginkan dengan
cepat sehingga diperoleh massa padat yang kemudian dihaluskan dan diayak
untuk menghasilkan serbuk. Metode ini secara teknik sederhana dan ekonomis
tetapi tidak dapat digunakan pada bahan obat atau pembawa yang tidak stabil pada
peleburan atau pada bahan yang mudah menguap pada proses pembuatan dengan
temperatur tinggi.
b. Metode Pelarutan
Metode ini menggunakan pelarut organik untuk melarutkan zat aktif dan
pembawa. Hasil pelarutan diuapkan sehingga diperoleh massa padat yang
kemudian dihaluskan dan diayak untuk menghasilkan serbuk. Dispersi padat yang
dihasilkan tidak akan menyebabkan terjadinya dekomposisi zat aktif maupun
pembawa dan umumnya digunakan untuk bahan yang tidak tahan pemanasan.
Kelemahannya, penguapan pelarut organik yang digunakan akan memakan waktu
yang relatif lama serta penggunaan pelarut organik dalam jumlah banyak.
c. Metode Peleburan-Pelarutan
Dalam metode ini, zat aktif pertama kali dilarutkan dalam sejumlah kecil
pelarut organik, kemudian ditambahkan lelehan zat pembawa. Dicampurkan dan
segera dikeringkan sehingga diperoleh massa padat yang kemudian dihaluskan
dan diayak untuk menghasilkan serbuk.
Sifat bahan pembawa memiliki pengaruh besar pada karakteristik pelarutan
obat. Bahan pembawa harus memenuhi kriteria berikut untuk meningkatkan laju
disolusi obat: a) dapat larut dengan mudah dalam air dengan sifat intrinsik disolusi
yang cepat; b) tidak toksik dan inert secara farmakologi; c) stabil dengan titik
lebur rendah untuk metode peleburan; d) dapat larut dalam berbagai pelarut dan
dapat menembus kaca saat penguapan pelarut untuk metode pelarutan; e) mampu
secara baik meningkatkan kelarutan obat dalam air; f) kompatibel secara kimia
dengan obat dan tidak membentuk ikatan kompleks yang kuat dengan obat.
Mekanisme peningkatan kecepatan pelarutan pada dispersi padat, antara lain
(Aulton, 1988): a) pereduksian ukuran partikel; b) bahan pembawa yang mudah
larut dalam air akan membentuk lapisan difusi yang mengelilingi setiap partikel
obat, sehingga akan diperoleh efek pelarutan pada bahan obat; c) mereduksi atau
menghilangkan agregasi dan aglomerasi dari partikel obat; d) pembasahan
(wettability) dan dispersibilitas yang baik dari partikel obat pada cairan
gastrointestinal akibat peningkatan luas permukaan efektif obat untuk kontak
dengan cairan gastrointestinal; e) kemungkinan terbentuknya polimorfisme
metastabil pada saat pembentukan dispersi padat.
Furosemide
Furosemid atau asam 4-kloro-N-furfuril-5-sulfamoil antranilat merupakan
derivat sulfonamid. Furosemid mempunyai rumus molekul C12H11ClN2O5S
dengan berat molekul 330,74. Nama lain yang biasa digunakan untuk furosemid
diantaranya adalah frusemide, frusid, frusetic, furosid, lasilix, dan lasix (Depkes
RI, 1995; Moffat, 1986). Rumus bangun furosemid:
[Sumber: Moffat, 1986]
Gambar 2.1. Struktur kimia furosemide
Furosemid berbentuk serbuk hablur berwarna putih sampai hampir kuning
dan tidak berbau. Furosemid tidak larut dalam air, mudah larut dalam aseton (1
dalam 15 bagian), dalam dimetilformamida, dan dalam alkali hidroksida, larut
dalam metanol, agak sukar larut dalam etanol (1 dalam 75 bagian), sukar larut
dalam eter (1 dalam 850 bagian), dan sangat sukar larut dalam kloroform.
Furosemid mempunyai titik lebur 2060C (Depkes RI, 1995; Moffat, 1986).
Furosemid merupakan golongan diuretik kuat yang lebih banyak
digunakan daripada obat diuretik kuat lainnya karena efek gangguan cerna yang
lebih ringan. Furosemid merupakan obat diuretik kuat yang efektif untuk
pengobatan udem akibat gangguan jantung, hati, atau ginjal. Furosemid sebaiknya
diberikan secara oral, kecuali jika bila diperlukan diuresis segera maka dapat
diberikan secara intravena atau intramuskular. Furosemid tersedia dalam bentuk
tablet 20, 40, 80 mg dan preparat suntikan. Umumnya pasien membutuhkan
kurang dari 600 mg/hari. Dosis anak 2 mg/kg berat badan, bila perlu ditingkatkan
menjadi 6 mg/kg berat badan (Ganiswara, 1994).
Berdasarkan Biopharmaceutical Classification System (BCS), furosemid
termasuk dalam kelas IV yaitu memiliki kelarutan dan permeabilitas yang rendah
sehingga akan mempengaruhi bioavailabilitas dari furosemid (Wagh, 2010).
III. Alat dan bahan
A. Alat-Alat:
1. Cawan Uap 12. Spektrofotometer UV-Vis
2. Lumpang dan Alu
3. Ayakan 425 μm
4. Beaker Glass
5. Batang Pengaduk
6. Erlenmeyer
7. Water Bath
8. Timbangan
9. Mikroskop
10. Object Glass
11. Magnetic Stirrer
B. Bahan-Bahan:
1. Furosemide
2. PEG 6000/PVP
3. Dapar Fosfat pH 7.2
4. Paraffin Cair
5. Glibenklamid/Ketoprofen
6. Es Batu
7. Aquadest
IV. Prosedur Kerja
A. Pembuatan serbuk system disperse padat dengan metode peleburan

Siapkan bahan furosemide dan PEG 6000 dengan perbandingan (1:9) dan (9:1).

PEG 6000 dilebur dalam cawan uap di atas water bath dan ditambahkan furosemide.

Setelah melebur, dinginkan dalam wadah es sampai terbentuk padatan.

Massa yang telah padat tersebut, kemudian digerus dan dilewatkan pada ayakan 425
μm.

Serbuk sistem dispersi padat siap dilakukan evaluasi.


B. Evaluasi serbuk system dispersi padat
1.) Penentuan panjang gelombang maksimum furosemide dalam dapar
fosfat Ph 7,2
Buat larutan standar furosemide dalam dapar fosfat pH 7.2 dengan konsentrasi 10
μg/ml.

Ukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang


gelombang 220-350 nm.

Buat spektrum serapan (Absorbansi vs Panjang Gelombang).


2.) Pembuatan kurva baku furosemide dalam dapar fosfat ph 7.2
Buat larutan standar furosemide dengan konsentrasi 2; 4; 6; 8; 10 μg/ml.

Ukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang


gelombang maksimum.

Buat kurva baku furosemide (Absorbansi vs Konsentrasi).


3.) Bentuk Mikroskopik (Metode Mikroskopik)
Sejumlah serbuk didispersikan dalam paraffin cair dan diteteskan pada gelas
objek.

Amati di bawah mikroskop bentuk partikel dari serbuk sistem dispersi padat dari
campuran furosemide dan PEG 6000 (1:9) dan (9:1), serta amati perbedaannya
(Gambarkan!).
4.) Uji Kelarutan
a. Sejumlah serbuk dispersi padat dari campuran furosemide dan PEG 6000
(1:9) dan (9:1) yang setara dengan 10 mg glibenklamid dilarutkan dalam 25
ml larutan dapar fosfat pH 7.2 dalam erlemeyer bertutup.
b. Penentuan kelarutan:
Dilarutkan dengan bantuan magnetic stirrer selama 1.5 jam sampai larutan jenuh.

Masing-masing sampel yang telah jenuh disaring dengan kertas saring.

Hitung kadar furosemide dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada


panjang gelombang maksimum.

Buat kurva serapan dan kadar perbandingan campuran furosemide dan PEG 6000
(1:9) dan (9:1).
V. Hasil dan pembahasan
V.1Hasil
A. Panjang gelombang maksimum furosemide 277,0 nm
B. Konsentrasi larutan stok
10 gram dalam 100 ml aquadest
10 gram
Kons = = 0,1 g/ml =100 mg/ml
100 ml
C. Larutan intermediet
V1.M1 =V2.M2
X. 100mg/ml = 100 ml. 10mg/ml
X = 10 ml
Jadi diambil 10 ml dari larutan stok kemudian di larutkan dengan aquadest ad
100 ml sehingga konsentrassinya 10mg/ml
D. Perhitungan larutan seri kadar furosemide
 Konsentrasi 2 mg/ml
V1.M1 =V2.M2
X. 10 mg/ml = 10 ml. 2 mg/ml
10 ml .2 mg/ml
X= = 2 ml
1 0 ml
 Konsentrasi 4 mg/ml
V1.M1 =V2.M2
X. 10mg/ml = 10 ml. 4 mg/ml
10 ml . 4 mg/ml
X= = 4 ml
10 ml
 Konsentrasi 6 mg/ml
V1.M1 =V2.M2
X. 10mg/ml = 10 ml. 6 mg/ml
10 ml .6 mg/ml
X= = 6 ml
10 ml
 Konsentrasi 8 mg/ml
V1.M1 =V2.M2
X. 10mg/ml = 10 ml. 8 mg/ml
10 ml . 8 mg/ml
X= = 8 ml
10 ml
 Konsentrasi 10 mg/ml
V1.M1 =V2.M2
X. 10mg/ml = 10 ml. 10 mg/ml
10 ml .10 mg /ml
X= = 10 ml
10 ml
E. Data absorbansi kurva baku larutan standar Furosemide

Konsentrasi (mg/ml) Absorbansi Kadar (mg/ml)


2 0,24 1,96
4 0,36 4,26
6 0,45 6
8 0,52 7,35
10 0,68 10,42

Grafik Kurva Baku Furosemide A = 0,138


0.8
0.7 B = 0,052
0.6 f(x) = 0.05 x + 0.14
Absorbansi

0.5 R² = 0.98
0.4 Absorbansi R = 0,991
0.3 Linear (Absorbansi)
0.2
0.1 R2 = 0,982
0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 Persamaan
Konsentrasi (mg/ml)
Y = 0,138 + 0,052X

PERHITUNGAN KADAR

 Konsentrasi 2 mg/ml
Y = 0,138 + 0,052X
0,24 = 0,138 + 0,052x
0,102
X= = 1,96 mg/ml
0,052
 Konsentrasi 4 mg/ml
Y = 0,138 + 0,052X
0,36 = 0,138 + 0,052x
0,222
X= = 4,26 mg/ml
0,052
 Konsentrasi 6 mg/ml
Y = 0,138 + 0,052X
0,45 = 0,138 + 0,052x
0,312
X= = 6 mg/ml
0,052
 Konsentrasi 8 mg/ml
Y = 0,138 + 0,052X
0,52 = 0,138 + 0,052x
0,382
X= = 7,35 mg/ml
0,052
 Konsentrasi 10 mg/ml
Y = 0,138 + 0,052X
0,68 = 0,138 + 0,052x
0,542
X= = 10,42 mg/ml
0,052
F. Penentuan Kelarutan serbuk disperse padat (SD = 0,283 ; ẋ = 0,83)

Perbandingan Campuran Absorbansi Kadar


Furosemid : PEG 600 (mg/ml)
1 2 3 Rata-rata
1:9 0,56 0,58 0,61 0,58 8,5
9:1 0,54 0,56 0,59 0,56 8,1

PERHITUNGAN KADAR
 Perbandingan 1 : 9
Y = 0,138 + 0,052X
0,58 = 0,138 + 0,052x
0,442
X= = 8,5 mg
0,052
- Perolehan kembali
Kadar terukur 8,5 mg/ml
x 100% = x 100% = 85%
kadar diketahui 10 mg/ml
- Kesalahan Sistematik = 100 – P
= 100 – 85 = 15%

 Perbandingan 9 : 1
Y = 0,138 + 0,052X
0,56 = 0,138 + 0,052x
0,422
X= = 8,1 mg
0,052
- Perolehan kembali
Kadar terukur 8,1 mg/ml
x 100% = x 100% = 81%
kadar diketahui 10 mg/ml
- Kesalahan Sistematik = 100 – P
= 100 – 81 = 19 %

Kesalahan acak

Simpangan Baku 0,283


x 100% = x 100% = 3,41 %
ẋ 8,3

V.2Pembahasan

Praktikum kali ini adalah praktikum disperse padat, zat aktif yang
digunakan adalah furosemide. Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa
mengetahui dan memahami teknik pembuatan disperse padat dengan metode
peleburan dan evaluasi sifat-sifat fisikokimia.

Sistem dispersi padat adalah suatu sistem dimana satu atau lebih zat aktif
dalam bentuk padat terdispersi dalam pembawa inert pada keadaan padat. Suatu
zat aktif yang sukar larut dalam air jika diformula sebagai sistem dispersi padat
menggunakan pembawa yang hidrofilik, maka akan terlihat peningkatan kelarutan
zat aktif dalam air, laju disolusi dan bioavailabilitasnya. Dengan demikian, sistem
dispersi padat menjadi salah satu pilihan dalam memperbaiki sifat yang kurang
menguntungkan dari suatu senyawa obat.
Pembuatan dispersi padat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain:
metode peleburan (melting method), metode pelarutan (solvent method), dan
metode campuran (melting-solvent method) (Chiou dan Sydney, 1971).
Metode Peleburan Pada metode ini komponen zat aktif dan pembawa
dileburkan pada temperatur atau diatas temperatur zat aktif dan pembawa. Hasil
leburan didinginkan dengan cepat sehingga diperoleh massa padat yang kemudian
dihaluskan dan diayak untuk menghasilkan serbuk. Metode ini secara teknik
sederhana dan ekonomis tetapi tidak dapat digunakan pada bahan obat atau
pembawa yang tidak stabil pada peleburan atau pada bahan yang mudah menguap
pada proses pembuatan dengan temperatur tinggi.
Praktikum diawali dengan pembuatan serbuk disperse padat dengan
metode peleburan yaitu dengan carameleburkan furosemide dalam PEG 6000
dengan perbandingan (9:1 dan 1:9) diatas waterbath, lalu kemudian didinginkan
dalam wadah es sampai berbentuk padat, setelah padat kemudian digerus dan
diayak dengan ayakan 425µm, kemudian dilakukan evaluasi.
Proses selanjutnya adalah penentuan panjang gelombang maksimum
furosemide dengan cara membuat larutan stok dahulu yaitu 10 gram furosemide
dilarutkan ke dalam aquaadest 100 ml dan kemudian diambil 10 ml dan dilarutkan
kembali kedalam 100 ml aquadesr sehingga didapat konsentrasi 10 mg/ml. Dan
setelah itu diukur absorbansinya kemudian didapatkan panjang gelombang
maksismum untuk furosemide adalag 277,0 nm. Dapat dilihat digrafik dibaawah
ini
Setelah itu dibuat kurva baku furosemide dengan konsentrasi 2; 4; 6; 8; 10
mg/ml. Kemudian ukur absorbansinya dengan panjang gelombang yang sudah
diketahui sebelumnya. Dan buat kurva bakunya. Didapatkan dari hasil absorbansi
berturut dari konsentrasi 2; 4; 6; 8; 10 mg/ml adalah 0,24; 0,36; 0,45; 0,52; 0,68
dan untuk persamaan didapatkan Y = 0,138 + 0,052X, untuk nilai r sendiri
didapatkan 0,991 menandakan bahwa percobaan yang dilakukan sudah
presisi.Kemudian dari persamaan tersebut di hitung kadar masing-masing
konsentrasi didapatkan hasil berturut-turut adalah 1,96 mg/ml; 4,26 mg/ml; 6
mg/ml; 7,35 mg/ml; 10,42 mg/ml.
Langkah selanjutnya adalah uji kelarutan dilakukan dengan cara sejumlah
serbuk disperse padat furosemide dan PEG (1;9) dan (9:1) dilarutkan ke dalam 25
ml aquadest. Kemudian dilarutkan dengan magnetic stirrer selama 1,5 jm sampai
larutan jernih, Masing-masing sampe yang telah jenuh kemudian disaring dan
ukur absorbansinya. Didapatkan hasil untuk absorbansi perbandingan 1:9 adalah
repetisi 1 yaitu 0,56; repitisi 2 yaitu 0,58; dan repetisi 3 yaitu 0,61, dari data
tersebut didapatkan rata-rata kadarnya 0,58, kadar yang didapatkan adalah 8,5
mg/ml, perolehan kembalinya adalah 85%, kesalahan sistemik 15%. Untuk
Perbandingan 9:1 di dapatkan nilai absorbansi repetisi 1 yaitu 0,54; repitisi 2 yaitu
0,56; dan repetisi 3 yaitu 0,59 dari data tersebut didapatkan rata-rata kadarnya
0,56, kadar yang didapatkan adalah 8,1 mg/ml, perolehan kembalinya adalah
81%, kesalahan sistemik 19%.Untuk kesalahan acak didapatkan hasil 2,46%.Nilai
Kesalahan sistematik yang didapat masih masuk rentang yatu 80-110%..
V1. KESIMPULAN
- Panjang gelombang maksimum furosemide 277 nm
- Absorbansi yang di dapatkan masih masuk rentang 0,2-0,8 yaitu berturut-turut
dari konsentrasi 2; 4; 6; 8; 10 mg/ml yaitu 0,24; 0,36; 0,45; 0,52; 0,68
- Penentuan kelarutan serbuk disperse padat didapatkan absorbansi untuk
perbandingan (1:9) berturut-turut dari repetisi 1,2, 3 adalah 0,56; 0,58; 0,61 dan
untuk perbandingan (9:1) berturut-turut dari repetisi 1,2,3 yaitu 0,54; 0,56; 0,59
- Perbandingan (1:9) didapatkan hasil perolehan kembali 85% dan kesalahan
sistetemik 15%
- Perbandingan (9:1) didapatkan hasil perolehan kembali 81% dan kesalahan
sistestemik 19%
- Hasil untuk Kesalahan acak adalah 2,46%

DAFTAR PUSTAKA
Aderine, Olvu. 2010. Karakteristik disperse padat furosemide menggunakan
maltodekstrin de 10-15 sebagai pembawa. Depok. Fakultas matematika dan
ilmu pengetahuan alam
Chiou, W.L. & Sydney Riegelman. (1971). Journal Pharmaceutical Science, 60 (9):
Pharmaceutical Application of Solid Dispersion System: 1281-1303.
Depkes RI. (1995). Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta.
Ganiswara, S.G.(1995). Farmakologi dan Terapi (Ed.4). Jakarta: Gaya Baru:389- 392.
Moffat, A.C. (1986). Clarke’s Isolation and Identification of Drug (2nd ed.). London: The
Pharmaceutical Press: 634-635.
Wagh, Milind P. & Jatin Patel. (2010). Biopharmaceutical Classification System:
Scientific Basis for Biowaiver Extensions. International Journal of
Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, 2(1), 12-19.