Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pelajaran matematika merupakan salah satu pelajaran yang dipelajari


siswa mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Menurut Frengky
(2012) pelajaran matematika untuk pertama kali diterima secara formal oleh
pengajar pada waktu mereka duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar (SD).
Dalam kehidupan sehari-hari siswa dihadapkan dengan masalah yang
berkaitan dengan penerapan matematika. Penguasaan matematika yang baik
akan dapat membantu menyelesaikan masalah tersebut (Johar, 2012). Untuk
memahami suatu pokok bahasan matematika tentunya siswa terlebih dahulu
harus menguasai konsep-konsep matematika (Puspitasari et al, 2015).
Meskipun telah dipejari sejak dibangku sekolah dasar namun nyatanya
matematika masih saja menjadi momok jika ia merupakan pelajaran tersulit
disekolah sehingga tidak mengherankan jika hassil belajar matematika siswa
secara umum masih belum memuaskan. Slamet Wibowo yang mewakili dari
forum guru dan MGP matematika, menerangkan banyaknya faktor yang
mempengaruhi hasil belajar matematika para siswa di Indonesia. Belajar
matematika yang baik dan ideal itu adalah harus dengan belajar bernalar dan
belajar matematika merupakan belajar untuk memecahkan masalah serta
belajar kreatif, pada kenyataannya hasil pembelajaran matematika masih
sangat rendah. Menurut Slamet Wibowo, diantara penyebabnya adalah:
1. Struktur materi pada kurikulum matematika yang tidak berurutan serta
kurikulumyang sebelumnya hanya menekankan pembelajaran
keterampilan berhitung maupun kurangnya aktivitas pembelajaran
bernalar dan pembelajaran pemecahan masalah
2. Rendahnya kemampuan penguasaan materi guru dan rendahnya
kemampuan metodologi pembelajaran oleh guru
3. Motivasi belajar siswa yang rendah.

1
Banyak cara yang telah diambil pemerintah untuk mengatasi permasalahan
tersebut termasuk pula perombakan kurikulum, keikutsertaan peserta didik
Indonesia dalam ajang perlombaan internasional dan lain sebagainya.
Informasi yang akurat mengenai mutu pendidikan di Indonesia dalam
mempersiapkan peserta didik untuk menjalankan kehidupan bermasyarakat di
era globalisasi sangat diperlukan. Selain itu, di era globalisasi benchmarking
mutu pendidikan antarnegara menjadi bagian penting dalam menentukan arah
pendidikan suatu negara. Sebagai salah satu upaya benchmarking pencapaian
program pendidikan nasional, Indonesia berpartisipasi dalam studi
internasional Programme for International Student Assessment (PISA). PISA
merupakan studi yang dikoordinasikan oleh negara-negara OECD
(Organisation for Economic Cooperation and Development).
Sebenarnya apa sih itu PISA? Bagaimana bentuk soal dan penilaiannya?
Apakah terdapat kegiatan literasi didalamnya?

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, kami mengangkat rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Apa itu PISA?
2. Apa sajakah aspek-aspek dalam PISA?
3. Bagaimana bentuk assesmen dalam PISA?
4. Soal seperti apakah yang digunakan?
5. Apa itu literasi matematika?

C. Tujuan penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, kami mengangkat tujuan penulisan
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa itu PISA.
2. Untuk mengetahui aspek-aspek dalam PISA.
3. Untuk mengetahui bentuk assesmen dalam PISA.
4. Untuk mengetahui soal yang digunakan dalam PISA.
5. Untuk mengetahui apa itu literasi matematika.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Filososfi PISA

PISA (Programme for International Student Assessment) merupakan studi


yang dikoordinasikan oleh negara-negara OECD (Organisation for Economic
Cooperation and Development). PISA adalah salah satu asesmen berskala
internasional yang menilai kemampuan literasi matematika siswa. PISA
dilaksanakan secara reguler sekali dalam tiga tahun sejak tahun 2000 untuk
mengetahui literasi siswa usia 15 tahun dalam matematika, sains, dan
membaca (Johar, 2012). Hal-hal yang dinilai dalam studi PISA meliputi
literasi matematika, literasi membaca dan literasi sains (Wardhani & Rumiati,
2011). PISA mentransformasikan prinsip-prinsip literasi matematika menjadi
tiga komponen yaitu komponen konten, proses dan konteks (Wardhani &
Rumiati, 2011).
Menurut Wardhani & Rumiati (2011) Komponen konten dimaknai sebagai
isi atau materi matematika yang dipelajari di sekolah. Komponen proses
dimaknai sebagai langkah-langkah seseorang untuk menyelesaikan suatu
permasalahan dalam situasi tertentu dengan menggunakan matematika
sebagai alat sehingga permasalahan itu dapat diselesaikan. Komponen
konteks adalah situasi yang tergambar dalam suatu permasalahan. Materi
yang diujikan dalam komponen konten meliputi perubahan dan keterkaitan,
ruang dan bentuk, kuntitas dan ketidakpastian data. Materi yang diujikan
dalam komponen proses meliputi mampu merumuskan masalah secara
sistematis, mampu menggunakan konsep, fakta, prosedu dan penalaran
matematika dan mampu menafsirkan, menerapkan dan mengevaluasi hasil
dari suatu proses matematika. materi yang diujikan dalam komponen konteks
meliputi pribadi, pekerjaan, sosial dan ilmu pengetahuan.
B. Aspek-aspek dalam PISA
Aspek yang diukur dalam PISA itu terdiri atas tiga aspek utama, yaitu:
1. Konten / Isi.

3
Sesuai dengan tujuan PISA untuk menilai kemampuan siswa
menyelesaikan masalah real (student’s capacity to solve real problems),
maka masalah pada PISA meliputi konten (content) matematika yang
berkaitan dengan fenomena. Dalam PISA fenomena ini dikenal dengan
over-arching ideas. Karena domain matematika sangat banyak dan
bervariasi, tidak mungkin mengidentifikasi secara lengkap. Oleh karena
itu, PISA hanya membatasi pada 4 over-arching ideas yang utama, yaitu:
a. Perubahan dan hubungan (Change and relationship)
Merupakan kejadian atau peristiwa yang dapat terjadi secara
alami maupun sengaj didesain oleh manusia. Sifatnya juga beragam,
ada yang bersifat terus menerus, bersiklus, permanen, dan sementara,
misalnya perubahan jumlah penduduk di suatu daerah, pertumbuhan
dan perkembangan organism, siklus musim, pola dari cuaca, dan lain
sebagainya. Konten perubahan dan hubungan berkaitan dengan
pemahaman pada tipe-tipe mendasar dari perubahan yang
membutuhkan pemodelan matematika dalam menjelaskan dan
memprediksi suatu fenomena yang terjadi. Kategori ini berkaitan
dengan aspek konten matematika pada kurikulum yaitu fungsi dan
aljabar. Bentuk aljabar, persamaan, pertidaksamaan representasi
dalam bentuk tabel dan grafik merupakan sentral yang
menggambarkan, memodelkan, dan menginterpretasi perubahan dari
suatu fenomena.
b. Ruang dan bentuk (Space and Shape)
Ruang dan bentuk merupakan fenomena yang dapat kita jumpai
dimana saja yang terbentukdari dunia visual dan fisik seperti pola,
bentuk visual, sifat, posisi dan arah benda, menafsirkan informasi
visual, interaksi dinamis dengan bentuk yang nyata. Soal tentang
ruang dan bentuk ini menguji kemampuan siswa dalam mengenali
bentuk, mencari persamaan dan bentuk ini menguji kemampuan
siswa dalam mengenali bentuk, mencari persamaan dan perbedaan
dalam berbagai dimensi dan representasi bentuk, serta mengenali ciri

4
suatu benda dalam hubungannya dengan posisi benda tersebut.
Kategori ini termasuk dalam konten geometri pada matematika yang
ada pada kurikulum.
c. Kuantitas (Quantity)
Bilangan berkaitan dengan hubungab bilangan dan pola
bilangan, antara lain kemampuan untuk memahami ukuran,
pengenalan pola bilangan, penggunaan angka untuk mewakili jumlah
dan sifat objek nyata, kemampuan merepresentasikan sesuatu dalam
angka, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan bilangan dalam
kehidupan sehari-hari. Aspek penting terkait konten quantity yaitu
kemampuan bernalar secara kuantitatif. Komponen penting dalam
pemikiran kuantitatif antara lain number sense, memahami makna
operasi, perhitungan matematika, mental aritmetika, dan estimasi
atau perkiraan.
Beberapa domain konten quantity yang paling sering digunakan
dalam kehidupan sehari-hari misalnya pengukuran jarak, panjang,
luas, volume, tinggi, massa, kecepatan, tekanan, dan lain sebagainya.
Memahami makna operasi meliputi kemampuan pengoperasian
termasuk perbandingan, rasio, dan persentase.
d. Ketidakpastian dan Data (Uncertainty and Data)
Konten ketidakpastian dan data ini berhubungan erat
dengan domain statistic dan peluang. Dalam kehidupan sehari-hari,
konten ketidakpastian dan data sering dijumpai dalam kehidupan
sehari-hari, seperti data tentang pertumbuhan penduduk di suatu
daerah, tingkat kemiskinan di suatu negara, fluktuasi indeks saham,
hasil pemilu, hasil survey dan lain sebagainya. Konsep dan aktivitas
matematika yang penting pada bagian ini adalah mengumpulkan
data, analisis dan menyajikan data, peluang, dan inferensi.
2. Konteks / Situasi.
PISA menguji kemampuan siswa dalam menganalisis, bernalar, dan
mengkomunikasikan gagasan matematika secara efektif, serta

5
merumuskan dan menafsirkan masalah matematika dalam proses
pemecahan masalah diberbagai konteks. Untuk menjadi seorang pemecah
masalah (problem solver) yang baik, siswa diharapkan mampu bekerja
dalam berbagai konteks. Sehubungan dengan hal ini, dalam framework
PISA (OECD, 2013a; OECD, 2013b) disebutkan bahwa konteks
matematika dalam PISA dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu:
a. Personal (Konteks Pribadi)
Konteks pribadi berfokus pada permasalahan yang berhubungan
langsung dengan aktivitas pribadi siswa, baik kegiatan diri sendiri,
kegiatan dengan keluarga, maupun dengan kegiatan dengan teman
sebaya. Permasalahan nyata yang termasuk dalam konteks personal
diantaranya makanan, kesehatan pribadi, belanja, permainan,
olahraga, transportasi pribadi, perjalanan, serta permasalahan yang
berkaitan dengan keuangan dan penjadwalan pribadi.
b. Occupational (Konteks Pekerjaan)
Konteks pekerjaan berkaitan dengan kehidupan siswa di sekolah dan
atau di lingkungan tempat bekerja. Konteks pekerjaan ini dapat berupa
hal-hal seperti mengukur, biaya dan pemesanan bahan bangunan,
menghitung gaji, penjadwalan di sekolah, desain bangunan/arsitektur,
dan lain sebagainya.
c. Societal (Konteks Umum)
Konteks umum berkaitan dengan penggunaan pengetahuan
matematika dalam kehidupan bermasyarakat dan lingkungan yang
lebih luas dalam kehidupan sehari-hari. Konteks ini dapat berupa
pemerintah, kebijakan publik, periklanan, statistic nasional, masalah
ekonomi, dan lain sebagainya. Walaupun seseorang dilibatkan dalam
segala hal secara pribadi, namun konteks sosial difokuskan pada
masalah yang ada dalam masyarakat. Oleh karenanya, siswa dapat
menyumbangkan pemahaman mereka tentang pengetahuan dan
konsep mate,atikanya untuk mengevaluasi berbagai situasi yang
relevan dalam kehidupan masyarakat.

6
d. Scientific (Konteks Ilmiah).
Konteks ilmiah dalam PISA secara khusus berhungan dengan kegiatan
ilmiah yang lebih abstrak dan penguasaan teori secara mendalam yang
digunakan dalam melakukan pemecahan masalah matematika.
Konteks ilmiah juga berkaitan dengan penerapan matematika di alam,
isu- isu dan topik-topik yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan
teknologi, seperti ekologi, kedokteran, ilmu ruang, genetika, dan lain
sebagainya.
3. Kompetensi (Competencies)
Kemampuan yang menggambarkan keterampilan proses matematika
yaitu:
a. Kelompok Reproduksi
Pertanyaan pada PISA yang termasuk dalam kelompok
reproduksi meminta siswa untuk menunjukkan bahwa mereka
mengenal fakta, objek-objek dan sifat-sifatnya, ekivalensi,
menggunakan prosedur rutin, algoritma standar, dan menggunakan
skill yang bersifat teknis. Item soal untuk kelompok ini berupa pilihan
ganda, isian singkat, atau soal terbuka.
b. Kelompok Koneksi
Pertanyaan pada PISA yang termasuk dalam kelompok koneksi
meminta siswa untuk menunjukkan bahwa mereka dapat membuat
hubungan antara beberapa gagasan dalam matematika dan beberapa
informasi yang terintegrasi untuk menyelesaikan suatu permasalahan.
Dalam koneksi ini siswa diminta untuk menyelesaikan masalah yang
non-rutin tapi hanya membutuhkan sedikit translasi dari konteks ke
model (dunia) matematika.
c. Kelompok Refleksi
Pertanyaan pada PISA yang termasuk dalam kelompok refleksi
ini menyajikan masalah yang tidak terstruktur dan meminta siswa
untuk mengenal dan menemukan ide matematika dibalik masalah
tersebut. Kompetensi refleksi ini adalah kompetensi yang paling

7
tinggi dalam PISA , yaitu kemampuan bernalar dengan menggunakan
konsep matematika. Mereka dapat menggunakan pemikiran
matematikanya secara mendalam dan menerapkannya untuk
memecahkan masalah. Dalam melakukan refleksi ini siswa melakukan
analisis terhadap situasi yang dihadapinya , menginterpretasikan, dan
mengenbangkan strategi penyelesaian mereka sendiri.

No. Aspek PISA Matematika

1. Dimensi Konten / Bidang dan konsep matematika:


Isi
 Bilangan (Quantity).

 Ruang dan bentuk (Space and Shape ).

 Perubahan dan hubungan (Change and


Relationship ).

 Probabilitas ketidakpastian
(Uncertainty).

2. Dimensi Proses / Kemampuan yang menggambarkan


Kompetensi keterampilan proses matematika:

 Reproduksi

 Koneksi (menggabungkan gagasan


untuk memecahkan masalah secara
langsung).

 Refleksi (berpikir matematika lebih


luas).

 Pada setiap kelompok soal tingkat


kesulitannya bervariasi dan bertingkat.

8
3. Dimensi Situasi beragam sesuai dengan hubungan
Konteks / Situasi yang ada dalam lingkungan:

 Pribadi

 Pendidikan dan pekerjaan

 Masyarakat luas, dan

 Ilmiah
C. Bentuk assesmen dalam PISA
Dasar penilaian prestasi literasi membaca, matematika, dan sains dalam
PISA memuat pengetahuan yang terdapat dalam kurikulum dan pengetahuan
yang bersifat lintas kurikulum. Masing-masing aspek literasi yang diukur
adalah sebagai berikut:
1. Membaca : memahami, menggunakan, dan merefleksikan dalam bentuk
tulisan.
2. Matematika : mengidentifikasikan dan memahami serta menggunakan
dasar-dasarmatematika yang diperlukan seseorang dalam menghadapi
kehidupan sehari-hari.
3. Sains : menggunakan pengetahuan dan mengidentifikasi masalah untuk
memahamifakta-fakta dan membuat keputusan tentang alam serta
perubahan yang terjadi padalingkungan.

Penilaian PISA dapat dibedakan dari penilaian lainnya dalam hal


sebagaimana disebutkan di bawah ini ( Hayat, 2009):
1. PISA berorientasi pada kebijakan desain dan metode penilaian dan
pelaporan disesuaikan dengan kebutuhan masing- masing negara peserta
PISA agar dapat dengan mudah ditarik pelajaran tentang kebijakan yang
telah dibuat oleh negara peserta melalui perbandingan data yang
disediakan.

9
2. PISA menggunakan pendekatan literasi yang inovatif, suatu konsep
belajar yang berkaitan dengan kapasitas para siswa untuk menerapkan
pengetahuan dan keterampilan dalam mata pelajaran kunci disertai
dengan kemampuan untuk menelaah, memberi alasan dan
mengomunikasikannya secara efektif, serta memecahkan dan
menginterpretasikan permasalahan dalam berbagai situasi.
3. Konsep belajar dalam PISA berhubungan dengan konsep belajar
sepanjang hayat, yaitu konsep belajar yang tidak membatasi pada
penilaian kompetensi siswa sesuai dengan kurikulum dan konsep lintas
kurikulum, melainkan juga motivasi belajar, konsep diri mereka sendiri,
dan strategi belajar yang diterapkan.
4. Pelaksanaan penilaian dalam PISA teratur dalam rentangan waktu tertentu
yang memungkinkan negara-negara peserta untuk memonitor kemajuan
mereka sesuai dengan tujuan belajar yang telah ditetapkan.
D. Soal yang digunakan dalam PISA
Soal-soal PISA sangat menuntut kemampuan penalaran dan pemecahan
masalah. Seorang siswa dikatakan mampu menyelesaikan masalah apabila ia
dapat menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya ke dalam
situasi baru yang belum dikenal (Wardhani, 2005). Di dalam soal-soal PISA
terdapat tujuh kemampuan dasar matematika yaitu :
a. Komunikasi (Communication).
Literasi matematika ini melibatkan kemampuan untuk
mengkomunikasikan masalah. Ketika dihadapkan pada suatu
permasalahan, siswa diharapkan merasa tertantang untuk mengenali dan
memahami masalah, membaca, memahami symbol, dan menafsirkan
pernyataan, pertanyaan, tugas atau objek yang memungkinkan siswa
membuat model matematika sebagai langkah penyelesaian masalah
tersebut. Komunikasi yang dimaksud adalah bagaimana menafsirkan
informasi yang relevan. Aktivis dari kemampuan komunikasi akan
semakin meningkat seiring dengan semakin kompleksnya materi yang
ditafsirkan dalam memahami sebuah masalah.

10
b. Matematisasi (Mathematizing).
Literasi matematika ini melibatkan kemampuan untuk mengubah
(transform) permasalahan dari dunia nyata ke dalam bentuk matematika,
termasuk di dalamnya membuat struktur, konsep, membuat asumsi-
asumsi, atau merumuskan sebuah model, menafsirkan/ mengevaluasi
hasil matematika atau model matematika yang berkaitan dengan masalah
yang diberikan. Selanjutnya, Turner (2012) mengemukakakn bahwa
aktivasi dari kemampuan matematisasi semakin bertambah seiring
dengan bertambahnya tingkat kreativitas, wawasan yang mendalam, dan
pengetahuan yang dibutuhkan untuk menerjemahkan konteks, ke dalam
struktur matematika dari masalah yang dipecahkan.
c. Representasi (Representation)
Kemampuan untuk menyajikan kembali (representasi) suatu
permasalahan atau suatu objek matematika dapat diartikan sebagai
kegiatan memilih, menafsirkan, menerjemahkan, dan menggunakan
berbagai representasikan hasil kerja seseorang. Bentuk-bentuk
representasi yang dimaksud meliputi grafik, tabel, diagram, gambar,
persamaan, rumus, dan benda-benda konkrit (OECD, 2013b)
d. Penalaran dan Argumentasi (ReasoArgumentation)
Kemampuan ini melibatkan proses berpikir logis yang
mengeksplorasi dan menghubungkan elemen-elemen masalah sehingga
dapat membuat sebuah kesimpulan dari elemen-elemen tersebut,
memeriksa pembenaran yang diberikan, atau memberikan pembenaran
laporan atau solusi untuk masalah (OECD, 2013b).
e. Merancang Strategi untuk Memecahkan Masalah ( Devising Strategies
for Sloving Problems)
Perumusan strategi melibatkan serangkaian proses kontrol yang
kritis untuk mengarahkan seorang siswa untuk secara efektif mengenali,
merumuskan dan memecahkan masalah. Ini ditandai dengan kemampuan
memilih dan merancang rencana atau strategi untuk menggunakan

11
matematika dalam memecahkan masalah yang timbul dari tugas atau
konteks (OECD, 2013b; OECD, 2013b).
f. Bahasa dan Operasi Simbolik (Formal and technical language and
operations).
Kemampuan ini berkaitan dengan kompetensi mengaktifkan pengetahuan
konten matematika, seperti defenisi-defenisi matematis, hasil (fakta),
aturan-aturan, algoritma dan prosedur, menggunakan ekspresi simbolik
(seperti kecepatan dan rata-rata), memahami dan memanipulasi formula,
hubungan fungsional ataupun ekspresi aljabar yang lain. Turner (2012)
menyatakan level kemampuan ini akan semakin bertambah seiring
dengan bertambahnya kempleksitas konten matematika dan pengetahuan
proseduran yang dibutuhkan.
g. Menggunakan Alat-Alat Matematika (Using Mathematical Tools)
Kemampuan dalam literasi matematika adalah kemampuan
menggunakan alat-alat matematika. Alat-alat matematika yang dimaksud
di sini berhubungan dengan kemampuan menggunakan beragam alat fisik
seperti kalkulator, alat berbasis komputer.
Ketujuh kemampuan kognitif matematika itu sangat sesuai dengan tujuan
pembelajaran matematika yang terdapat pada kurikulum kita. Dari penjelasan
di atas dapat disimpulkan bahwa soal-soal PISA bukan hanya menuntut
kemampuan dalam penerapan konsep saja, tetapi lebih kepada bagaimana
konsep itu dapat diterapkan dalam berbagai macam situasi, dan kemampuan
siswa dalam bernalar dan berargumentasi tentang bagaimana soal itu dapat
diselesaikan.
Dalam menjawab soal-soal PISA, seseorang perlu mengaktivasi berbagai
kemampuan dasar matematika yang mencerminkan kerangka PISA. Semakin
sulit pula soal PISA, semakin bertambah pula kemampuan yang dibutuhkan
untuk mengaktifkan kemampuan dasar tersebut. Untuk tujuan
memperjelaskan perbedaan dari tiap-tiap kemampuan dasar matematika.
Namun demikian, perlu diketahui bahwa kedelapan kemampuan tersbeut bisa
saja saling tumpang tindih sampai batas tertentu.

12
Pada soal PISA tediri atas 6 level yang menunjukkan tingkat kerumitan
soal. Semakin tinggi level kemampuan PISA, maka soalnya akan semakin
rumit. Level kemampuan tertinggi adalah level 6 dan level terendah adalah
level 1. Berikut adalah deskripsi masing-masing level soal tersebut (OECD,
2013a; OECD, 2013b):
1. Level 1
Pada level ini siswa dapat menjawab pertanyaan yang konteksnya umum
dan dikenal serta semua informasi relevan yang tersedia dengan
pertanyaan yang jelas. Siswa bisa mengidentifikasi informasi dan
menyelesaiakan prosedur rutin menurut instruksi yang eksplisit. Siswa
dapat melakukan tindakan sesuai dengan stimulus yang diberikan.
Contoh :
In June 2014, the latest album from the band Maroon 5 and Taylor Swift
was released, in July the latest album from One Direction and MAGIC
was also released. The following is a chart of CD sales from their album
from June to November 2014.

In what month did One Direction CD sales outperform Taylor Swift CD


sales for the first time?
a. There is no
b. August
c. September
d. October

13
2. Level 2
Pada level ini, siswa dapat menginterpretasikan dan mengenali situasi
dalam konteks yang memerlukan inferensi langsung. Siswa dapat
memilah informasi yang relevan dari sumber tunggal dan menggunakan
cara representasi tunggal, atau siswa menginterpretasikan masalah dan
meneyelesaikannya dengan rumus.
Contoh:
A giant wheel spinning on the riverbank. Look at the following picture
and diagram!

The wheel turns around at a steady speed. The wheel rotates one full turn
for 40 minutes. Joni rides the pinwheel at P point. Where is Joni after half
an hour?
a. At point R
b. Between R and S
c. At point S
d. Between S and P

3. Level 3
Pada level ini, siswa dapat melaksanakan prosedur dengan baik dalam
menyelesaikan soal serta dapat memilih strategi pemecahan masalah
sederhana.
Contoh:

14
The small road called Gotemba that is traversed to the top of Mount Fuji
has a length of about 9 km. A climber must return at 20.00 from the climb
as far as 18 km. Toshi, a pedestrian, estimates that he can climb
mountains at an average speed of 1.5 km per hour, and is twice as fast as
going down. this speed includes time to eat and rest.
Using Toshi's estimated speed, at what time is the slowest he must start
the climb so he can return at 20.00?

4. Level 4
Pada level ini, siswa dapat bekerja secara efektif dengan model dan dapat
memilih serta mengintegrasikan representasi yang berbeda, dan
menghubungkannya dengan situasi nyata.
Contoh:
A pizza parlor provides two different sizes of pizza, but has the same taste
and thickness. The small pizza has a diameter of 30 cm and is sold at Rp.
30,000 and a large diameter of 40 cm and can be sold at a price of Rp.
40,000
Which Pizza Sales are more profitable for the seller?

5. Level 5
Pada level ini siswa dapat bekerja dengan model untuk situasi yang
kompleks, mengetahui kendala yang dihadapi, dan melakukan dugaan-
dugaan. Mereka dapat memilih, membandingkan, dan mengevaluasi

15
strategi untuk memecahkan masalah yang rumit dan berhubungan dengan
model.
Contoh:
The webs of a cube can be made by cutting the cube's ribs in a specific
cutting direction in such a way that its shape can be rebuilt into a cube.
The direction mark in the cube image below shows the direction of
cutting on the cube's ribs
Draw cube webs based on the direction of the cut!

6. Level 6
Pada level ini, siswa dapat melakukan konseptualisasi dan generalisasi
dengan menggunakan informasi berdasarkan modeling dan penelaahan
dalam situasi yang kompleks. Siswa dapat menghubungkan sumber
informasi berbeda dengan fleksibel dan menerjemahkannya.
Contoh :
Mount Krakatau is a volcano that is still active and is in the Sunda Strait
between Java and Sumatra. The name of the child of Mount Krakatau
based on its parent is Mount Krakatau which disappeared because of its
eruption on August 27, 1883

Mount Anak Krakatau each year gets about 20 feet taller. The cause of
this high increase is the material coming out of the lava hole. At present
the height of Anak Krakatau reaches about 230 meters above sea level,

16
while Mount Krakatau before erupting has a height of 813 meters above
sea level. in what year would the height of the Anak Krakatau be the same
as its parent before it erupted? Explain your strategy (Remarks: 1 foot =
0.3048).
E. Literasi Matematika
Literasi matematika adalah kemampuan seseorang untuk merumuskan,
menggunakan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Literasi
matematika tidak hanya pada penguasaan materi saja. Literasi matematika
juga menggunakan penalaran, konsep, fakta dan alat matematika dalam
pecahan masalah sehari-hari (Sari, 2015). Sedangkan menurut OECD
kemampuan literasi juga mencakup penalaran matematis dan kemampuan
menggunakan konsep-konsep matematika, prosedur, fakta dan fungsi
matematika untuk menggambar, menjelaskan dan memprediksi suatu
fenomena. Konsep matematika dalam literasi matematika digunakan
seseorang untuk mengkomunikasikan dan menjelaskan masalah yang
dihadapi, khususnya masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi matematika sejalan dengan tujuan pembelajaran matematika di
Indonesia (Wardhani & Rumiati, 2011). Namun, kemampuan literasi
matematika siswa masih kurang baik. Capaian literasi siswa Indonesia dapat
terlihat dari keikutsertaan Indonesia dalam studi komparatif internasional,
seperti PISA (Program for Internastional Student Assessment). Hasilnya,
Anak Indonesia di PISA belum ada yang mencapai level tertinggi 6. Anak
Indonesia di PISA yang tidak mencapai level 2 sebanyak 76%, level minimal
keluar dari kategori low achievers dan jumlah anak yang mencapai level
tertinggi 5 hanya 0,3% (Baswedan, 2014). Rendahnya hasil PISA
menunjukkan bahwa literasi matematika siswa Indonesia sangat rendah.
Padahal literasi matematika membantu seseorang untuk mamahami peran
serta kegunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari (Sari, 2011).
Penguasaan matematika yang baik dapat membantu siswa menyelesaikan
masalah (Johar, 2012).

17
Dalam kehidupan yang selalu berkembang seseorang tidak cukup hanya
mempunyai kemampuan metamatika saja, juga bagaimana menggunakan
kemampuan matematika dalam kehidupan sehari-hari (Putra, 2016).
Kemampuan matematika harus diikuti kemampuan literasinya. Kemampuan
literasi matematika sangat penting karena matematika banyak berkaitan
dengan kehidupan sehari-hari, yang memerlukan pemahaman literasi dalam
menyelesaikannya. Literasi matematika berkaitan dengan kemampuan
menerapkan matematika dalam masalah sehari-hari (Sari, 2015) Literasi
matematika dapat membantu seseorang untuk memahami peran atau
kegunaan matematika di dalam kehidupan sehari-hari (OECD, 2013).
Mengingat pentingnya kemampuan literasi matematika, maka diperlukan
usaha untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Proses pembelajaran
matematika memiliki peranan penting dalam mewujudkannya. Pembelajaran
matematika hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menyelesaikan masalah dalam berbagai situasi, bukan hanya memberikan
soal rutin. Melalui cara ini siswa akan mengaktifkan kemampuan literasinya.

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

PISA (Programme for International Student Assessment) merupakan studi


yang dikoordinasikan oleh negara-negara OECD (Organisation for Economic
Cooperation and Development). PISA adalah salah satu asesmen berskala
internasional yang menilai kemampuan literasi matematika siswa. PISA
dilaksanakan secara reguler sekali dalam tiga tahun sejak tahun 2000 untuk
mengetahui literasi siswa usia 15 tahun dalam matematika, sains, dan
membaca (Johar, 2012).
Aspek yang diukur dalam PISA itu terdiri atas tiga aspek utama, yaitu:
1. Konten / Isi.
2. Konteks / Situasi.
3. Kompetensi (Competencies)
Penilaian PISA dapat dibedakan dari penilaian lainnya dalam hal
sebagaimana disebutkan di bawah ini ( Hayat, 2009):

19
1. PISA berorientasi pada kebijakan desain dan metode penilaian dan
pelaporan disesuaikan dengan kebutuhan masing- masing negara peserta
PISA agar dapat dengan mudah ditarik pelajaran tentang kebijakan yang
telah dibuat oleh negara peserta melalui perbandingan data yang
disediakan.
2. PISA menggunakan pendekatan literasi yang inovatif, suatu konsep belajar
yang berkaitan dengan kapasitas para siswa untuk menerapkan
pengetahuan dan keterampilan dalam mata pelajaran kunci disertai dengan
kemampuan untuk menelaah, memberi alasan dan mengomunikasikannya
secara efektif, serta memecahkan dan menginterpretasikan permasalahan
dalam berbagai situasi.
3. Konsep belajar dalam PISA berhubungan dengan konsep belajar sepanjang
hayat, yaitu konsep belajar yang tidak membatasi pada penilaian
kompetensi siswa sesuai dengan kurikulum dan konsep lintas kurikulum,
melainkan juga motivasi belajar, konsep diri mereka sendiri, dan strategi
belajar yang diterapkan.
4. Pelaksanaan penilaian dalam PISA teratur dalam rentangan waktu tertentu
yang memungkinkan negara-negara peserta untuk memonitor kemajuan
mereka sesuai dengan tujuan belajar yang telah ditetapkan.
Di dalam soal-soal PISA terdapat tujuh kemampuan dasar matematika yaitu :
1. Komunikasi (Communication).
2. Matematisasi (Mathematizing).
3. Representasi (Representation)
4. Penalaran dan Argumentasi (Reaso Argumentation)
5. Merancang Strategi untuk Memecahkan Masalah ( Devising Strategies for
Sloving Problems)
6. Bahasa dan Operasi Simbolik (Formal and technical language and
operations).
7. Menggunakan Alat-Alat Matematika (Using Mathematical Tools)

20
Pada soal PISA tediri atas 6 level yang menunjukkan tingkat kerumitan soal.
Semakin tinggi level kemampuan PISA, maka soalnya akan semakin rumit.
Level kemampuan tertinggi adalah level 6 dan level terendah adalah level 1.
Literasi matematika adalah kemampuan seseorang untuk merumuskan,
menggunakan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Literasi
matematika tidak hanya pada penguasaan materi saja. Literasi matematika
juga menggunakan penalaran, konsep, fakta dan alat matematika dalam
pecahan masalah sehari-hari (Sari, 2015).
B. Saran
Keikutsertaan Indonesia dalam PISA menjadi kebanggan tersendiri dalam
dunia pendidikan. Sayangnya, disisi lain hasil capain Indonesia dalam PISA
sangat memprihatinkan, menjadi tolak ukur seberapa berkualitas pendidikan
di negeri ini dan menjadi jendela bagi negara lain untuk melihat pendidikan di
Indonesia terkhusus pada bidang yang dilombakan dalam PISA.
Salah satu yang menjadi fokus dalah masalah literasi matematika.
Rendahnya literasi matematika yang ada di Indonesia haruslah segera diatasi.
Untuk mengatasi rendahnya literasi matematika siswa, dapat dilatih dengan
pemberian soal PISA secara rutin. Kesesuaian dan kesepahaman antara
literasi matematika dan PISA membuat soal PISA dapat digunakan untuk
melatih literasi matematika. Karena yang dinilai dalam studi PISA meliputi
literasi matematika.
Untuk mewujudkannya, dilakukan pembiasaan mengerjakan soal-soal tipe
PISA. Diharapkan setelah kebiasaan mengerjakan soal ini siswa akan terbiasa
menghadapi soal PISA dan kemampuan literasi matematika siswa akan
membaik.

21
DAFTAR PUSTAKA

Mansur Nabila. 2018. Matematika Melatih Literasi Siswa dengan Soal PISA.
PRISMA 1 2018.
Harsiati Titik. 2018. Karakteristik Soal Literasi Membaca Pada Program PISA.
LITERA, Vol. 17, No. 1.
Dewantara, A.H. 2018. Soal Matematika model PISA: Alternatif Materi Program
Pengayaan. Vol. 12, No. 2.
Nuraini Novia. 2017. Analisis Soal Model PISA dalam Buku Siswa Matematika
Kelas VII SMP/MTs Semester I. Skripsi: Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
Indonesia PISA Center. 2013. Sekilas tentang PISA”. Diakses pada 28 Februari
2020 dari http://www.indonesiapisacenter.com/2013/08/sekilas-tentang-
pisa_3.html?m=1

22
Wulie Ni. 2014. PISA (Programme Internationale for Student Assesment).
Diakses pada 01 Maret 2020 dari
http://wulieokti.blogspot.com/2014/04/pisa-programme-internationale-
for.html?m=1

23