Anda di halaman 1dari 18

PROFESIONALISME KEGURUAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Profesi Keguruan


Dosen Pengampu: Dr. H. Muh. Jamil Barambangi, M.Pd./Aprisal, S.Pd., M.Pd.

Oleh :
Kelompok I

1. Ijah Ramadhani H0217007


2. Pitri Handayani H0217304
3. Sukmawati H0217307
4. Suriyani H0217308
5. Lisdawati H0217503
6. Saharuddin H0217505

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULAWESI BARAT
2020

i
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Syukur alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah Swt. serta salam dan
salawat kita kirimkan kepada Rasulullah Saw. atas rahmat dan hidayah-Nya
penulis dapat menyelesaikan tugas kuliahnya.
Pembuatan makalah ini merupakan pemenuhan tugas sebagai bahan
presentasi pada mata kuliah Profesi Keguruan dengan judul materi yaitu
“Profesionalisme Keguruan”.
Penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang turut
membantu dalam upaya penyelesaian makalah ini terkhusus kepada Bapak Dr. H.
Muh. Jamil Barambangi, M.Pd. dan Bapak Aprisal, S.Pd., M.Pd. selaku dosen
pengampu mata kuliah Profesi Keguruan dan semoga makalah ini dapat
bermanfaat khususnya bagi penulis pribadi dan bagi para pembaca umumnya.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan sehingga kritik dan saran sangat
diharapkan demi perbaikan dan penyempurnaan pada pembuatan makalah yang
selanjutnya.
Majene, 5 Maret 2020

Penulis,

ii
DAFTAR ISI

SAMPUL......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 1
C. Tujuan Penulisan ................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN................................................................................. 3
A. Pengertian Profesionalisme Guru ........................................................ 3
B. Hakikat Profesi Guru ........................................................................... 3
C. Guru Sebagai Contoh atau Suriteladan ................................................ 4
D. Saran Sikap Profesional ....................................................................... 4
E. Pengembangan Sikap Profesional......................................................... 8
F. Peran Guru dalam pembelajaran Tatap Muka ..................................... 9
BAB III PENUTUP......................................................................................... 12
A. Kesimpulan........................................................................................... 12
B. Saran .................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 14

iii
1

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan rangkaian proses pemberdayaan potensi dan
kompetensi individu untuk menjadi manusia berkualitas yang berlangsung
sepanjang hayat. Proses ini dilakukan tidak sekedar untuk mempersiapkan peserta
didik agar dapat menggali, menemukan dan menempa potensi yang dimiliki tapi
juga untuk mengembangkannya dengan tanpa menghilangkan karakteristik
masing-masing. Untuk itu sistem pendidikan bangsa yang berpenduduk lebih dari
200 juta manusia ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga kualitas sumber
daya manusia (SDM) yang dihasilkannya mampu bersaing dengan negara-negara
lain di tengah kompetisi globalisasi. Untuk mendapatkan sumber daya manusia
yang berkualitas pun tidak mudah, haruslah SDM ini diperoleh dari pendidikan
yang bermutu unggul. Dan bagaimana pendidikan bermutu unggul ini didapatkan?
Tentunya pendidikan unggul ini diperoleh dari guru yang bermutu unggul (guru
yang profesional).
Dalam dunia pendidikan khususnya, guru adalah sebagai kekuatan
pembebasan (Liberating Force), karena posisi dan peranannya adalah untuk
mengajar dan membimbing peserta didik supaa menjadi manusia yang berkualitas
dalam hal memiliki ilmu pengetahuan, watak bermartabat, dan berguna bagi
masyarakat. Sehingga kompetensi yang dituntut dari guru profesional adalah
memiliki kebiasaan dan kemampuan ilmiah dalam merancang, melaksanakan,
menemukan kekuatan dan kelemahan dalam kegiatan pengembangan serta
memanfaatkannya untuk kegiatan perbaikan berikutnya.
Melalui pembahasan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang
profesionalisme keguruan dan aplikasinya. Oleh karena itu sebagai seorang guru
hendaknya mampu memahami bagaimana menjadi seorang guru yang profesional.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini sebagai berikut.
a. Apa yang dimaksud dengan profesionalisme guru?
2

b. Bagaimana hakikat profesi guru?


c. Seperti apa itu guru sebagai contoh atau suriteladan?
d. Bagaimana sasaran sikap profesional ?
e. Bagaimana pengembangan sikap profesional?
f. Bagaimana peran guru dalam pembelajaran tatap muka?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini sebagai berikut.
a. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Profesi Keguruan.
b. Untuk mengetahui pengertian profesionalisme guru.
c. Untuk mengetahui hakikat profesi guru.
d. Untuk mengetahui guru sebagai contoh suriteladan.
e. Untuk mengetahui sasaran sikap profesional.
f. Untuk mengetahui pengembangan sikap profesional.
g. Untuk mengetahui peran guru dalam pembelajaran tatap muka.
3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Profesionalisme Guru


Profesionalisme (profésionalisme) ialah sifat-sifat (kemampuan, kemahiran,
cara pelaksanaan sesuatu dan lain-lain) sebagaimana yang sewajarnya terdapat
pada seorang profesional. Profesionalisme berasal dari kata profesion yang
bermakna berhubungan dengan profesi dan memerlukan kepandaian khusus untuk
menjalankannya (KBBI, 1994). Jadi, profesionalisme adalah tingkah laku,
kepakaran atau kualitas dari seseorang yang professional.
Profesionalisme guru merupakan kemampuan guru untuk melakukan tugas
pokoknya sebagai pendidik dan pengajar. Profesionalisme guru mempunyai
kriteria tertentu yang dapat dilihat dan diukur berdasarkan kompetensi yang harus
dimiliki oleh setiap guru.
Berdasarkan Undang-Undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
(UUGD) pasal 10 ayat 1 menyebutkan bahwa ciri-ciri guru profesional adalah
mempunyai kompetensi-kompetensi di bawah ini:
1) Kompetensi Profesional
2) Kompetensi Pedagogik
3) Kompetensi Kepribadian
4) Kompetensi Sosial

B. Hakikat Profesi Guru


Profesi guru dapat diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu
yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif (Webstar, 1989).
Maksudnya suatu pekerjaan atau jabatan yang disebut profesi tidak dapat
dipegang oleh sembarang orang, tetapi memerlukan persiapan melalui pendidikan
dan pelatihan secara khusus. Sedangkan professional adalah pekerjaan atau
kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan
kehidupan yang memerlukan keahlian, kemajiran atau kecakapan yang memenuhi
4

standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU
Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen).
Profesi menunjukkan lapangan yang khusus dan mensyaratkan studi dan
penguasaaan pengetahuan khusus yang mendalam, seperti bidang hukum, militer,
kependidikan, keperawatan dan sebagainya. Pekerjaan yang bersifat professional
adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka khusus dipersiapkan
untuk itu.
Profesi biasanya berkaitan dengan mata pencaharian seseorang dalam
memenuhi kebutuhan hidup. Dengan demikian, profesi guru adalah keahlian dan
kewenangan khusus dalam bidang pendidikan, pengajaran dan pelatihan yang
ditekuni unutk menjadi mata pencaharian dalam memenuhi kebutuhan hidup yang
bersangkutan. Guru sebagai profesi berarti guru sebagai pekerjaan yang
mensyaratkan kompetensi (keahlian dan kewenangan) dalam pendidikan dan
pembelajaran agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut secara efektif dan
efisien serta berhasil guna. Guru yang professional adalah guru yang memiliki
kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan
pengajaran. Dengan kata lain, guru professional adalah orang yang memiliki
kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu
melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.
C. Guru Sebagai Contoh atau Suriteladan
Teladan adalah segala sesuatu yang terkait dengan perkataan, perbuatan,
sikap dan prilaku seorang yang dapat ditiru atau diteladani oleh pihak lain.
Sedangkan guru merupakan pengajar ataupun pendidik. Jadi keteladan guru
adalah contoh yang baik dari guru yang berhubungan dengan sikap, perilaku, tutur
kata, maupun yang terkait dengan akhlak moral yang patut dijadikan contoh.
Guru sebagai teladan bagi siswa adalah guru yang harus mempunyai
keteladanan yang lebih dari siswanya, guru harus memiliki sikap dan perilaku
yang baik. Selain itu, guru juga harus selalu mengajarkan kepada siswa sifat –
sifat keteladanan yang baik.
D. Sasaran Sikap Profesional
a. Sikap Terhadap Peraturan Perundang-undangan
5

Pada butir sembilan Kode Etik Guru Indonesia di sebutkan bahwa : “guru
melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan”.
Kebijaksanaan pendidikan dinegara kita dipegang oleh pemerintah, dalam hal
ini departemen pendidikan dan kebudayaan. Dalam rangka pengembangan di
bidang pendidikan di Indonesia departemen pendidikan dan kebudayaan
mengeluarkan ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang merupakan
kebijaksanaan yang akan dilaksanakan oleh aparatanya, yang meliputi antara
lain: pembangunan gedung-gedung pendidikan, pemerataan kesempatan belajar
antara lain dengan melalui kewajiban belajar, peningkatan mutu pendidikan,
pembinaan generasi muda dengan meningkatkan kegiatan karang taruna, dan
lain-lain.
Kebijaksanaan pemerintah tersebut biasanya akan dituangkan ke dalam
bentuk ketentuan-ketentuan pemerintah. Dari ketentuan-ketentuan pemerintah
ini selanjutnya dijabarkan ke dalam program-program umum pendidikan.
Guru merupakan unsur aparatur negara dan abdi negara. karena itu, guru
mutlak perlu mengetahui kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah dalam
bidang pendidikan, sehingga dapat melaksanakan ketentuan-ketentuan yang
merupakan kebijaksanaan tersebut.
b. Sikap Terhadap Organisasi Profesional
Guru secara bersama-sama memlihara dan meningkatkan mutu organisasi
PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. Dasar ini menunjukan
kepada kita betapa pentingnya peranan organisasi profesi sebagai wadah dan
sarana pengabdian. PGRI sebagai organisasi profesi memerlukan pembinaan,
agar lebih berdaya guna dan berhasil guna sebagai mana usaha untuk
membawakan misi dan memantapkan profesi guru. Keberhasilan usaha
tersebut sangat bergantung kepada kesadaran para anggotanya, rasa tanggung
jawab, dan kewajiban bagi para anggotanya. Organisasi PGRI merupakan suatu
sistem, dimana unsur pembentukannya adalah guru-guru. Oleh karena itu, guru
harus bertindak sesuai dengan tujuan sistem. Ada hubungan timbal antara
profesi dengan organisasi, baik dalam melaksanakan kewajiban maupun dalam
mendapatkan hak.
6

c. Sikap Terhadap Teman Sejawat


Dalam ayat 7 kode etik guru disebut bahwa “ guru memelihara hubungan
seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial”. ini berarti
bahwa:
1) Guru hendaknya menciptakan dan memelihara hubungan sesama guru
dalam lingkungan kerjanya , dan
2) guru hendaknya menciptakan dan memelihara semangat kekeluargaan dan
kesetiakawanan sosial di dalam dan di luar lingkungan kerjanya.
Dalam hal ini kode etik guru indonesia menunjukan kepada kita betapa
pentingnya hubungan yang harmonis perlu diciptakan dengan mewujudkan
perasaan bersaudara yang mendalam antara sesama anggota profesi. Hubungan
antara sesama anggota profesi dapat dilihat dari dua segi, yakni hubungan
formal dan hubungan kekeluargaan.
d. Sikap Terhadap Anak Didik
Dalam kode etik guru indonesia dengan jelas dituliskan bahwa: Guru
berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia indonesia
seutuhnya yang berjiwa pancasila. Dasar ini mengandung beberapa prinsip
yang harus dipahami oleh seorang guru dalam menjalankan tugasnya sehari-
hari, yakni : Tujuan Pendidikan Nasional, Prinsip Membimbing, dan Prinsip
Pembentukan Manusia Indonesia seutuhnya.
Tujuan pendidikan Nasional dengan jelas dapat dibaca dalam undang-
undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni membentuk
manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila. Prinsip yang lain adalah
membimbing peserta didik, bukan mengajar atau mendidik saja. Pengertian
membimbing sepeti yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam sistem
amongnya. Tiga kalimat padat yang terkenal dari sistem itu adalah ing ngarso
sung tulodo, ing madyo mangun kurso, dan tutwuri handayani. Ketiga kalimat
itu mempunyai arti bahwa pendidikan harus dapat memberi contoh, harus dapat
memberikan pengaruh, dan harus dapat mengendalikan peserta didik.
e. Sikap terhadap tempat kerja
7

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa suasana yang baik ditempat kerja
akan meninggalkan produktivitas. Hal ini di sadari dengan sebaik-baiknya oleh
setiap guru, dan guru berkewajiban menciptakan suasana yang demikian dalam
lingkungannya. Untuk menciptakan suasana kerja yang baik ini ada dua hal
yang harus diperhatikan, yaitu: (a) guru sendiri, (b) hubungan guru dengan
orang tua dan masyarakat sekeliling.
Terhadap guru sendiri dengan jelas juga ditulikan dalam salah satu butir dari
kode etik yang berbunyi: “ Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya
yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar”. Oleh sebab itu, guru
harus aktif mengusahakan suasana yang baik itu dengan berbagai cara, baik
dengan penggunaan metode mengajar yang sesuai, maupun dengan penyediaan
alat belajar yang cukup, serta pengaturan organisasi kelas mantap, ataupun
pendekatan lainnya yang diperluka.
f. Sikap terhadap pemimpin
Sebagai salah seorang anggota organisasi, baik organisasi guru maupun
organisasi yang lebih besar (Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan) guru
akan selalu berada dalam bimbingan dan pengawasan pihak atasan. Dari
organisasi guru , ada strata kepemimpinan mulai dari pengurus cabang, daerah,
sampai ke pusat. Begitu juga sebagai anggota keluarga besar Depdikbud, ada
pembagian pengawasan mulai dari kepala sekolah, Kakandep, dan seterusnya
sampai ke Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Sudah jelas bahwa pemimpin suatu unit atau organisasi akan mempunyai
kebijaksanaan dan arahan dalam memimpin organisasinya, dimana tiap
anggota organisasinya itu dituntut berusaha untuk bekerja sama dalam
melaksanakan tujuan organisasi tersebut.
g. Sikap Terhadap Pekerjaan
Profesi guru berhubungan dengan anak didik, yang secara alami mempunyai
persamaan dan perbedaan. Tugas melayani orang yang beragam sangat
memerlukan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi, terutama bila berhubungan
dengan peserta didik yang masih kecil. Barangkali tidak semua orang dikarunia
8

sifat seperti itu, namun bila seseorang telah memilih untuk memasuki profesi
guru, ia dituntut untuk belajar dan berlaku seperti itu.
Orang yang telah memilih suatu karir tertentu biasanya akan berhasil baik
bila mencintai karirnya dengan sepenuh hati. Artinya, ia akan berbuat apapun
agar karirnya berhasil baik, ia commited dengan pekerjaannya. Ia harus mau
dan mampu melaksanakan tugasnya serta mampu melayani dengan baik
pemakai jasa yang membutuhkannya.
Agar dapat memberikan layanan yang memuaskan masyarakat, guru harus
selalu dapat menyesuaikan kemampuan dan pengetahuannya dengan keinginan
dan permintaan masyarakat, dalam hal ini peserta didik dan para orang tuanya.
Keinginan dan permintaan ini selalu berkembang sesuai dengan perkembangan
masyarakat yang biasanya dipengaruhi perkembangan ilmu dan teknologi.
Oleh karenanya, guru selalu dituntut untuk secara terus-menerus meningkatkan
dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan mutu layanannya.
Keharusan meningkatkan dan mengembangkan mutu ini merupakan butir yang
ke enam dalam Kode Etik Guru Indonesia yang berbunyi: Guru secara pribadi
dan bersama-sama, mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat
profesinya.
Dalam butir keenam ini dituntut kepada guru, baik secara pribadi maupun
secara kelompok, untuk selalu meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
Guru sebagaimana juga dengan profesi lainnya, tidak mungkin dapat
meningkatkan mutu dan martabat profesinya bila guru itu tidak meningkatkan
atau menambah pengetahuan dan keterampilannya, karena ilmu dan
pengetahuan yang menunjang profesi itu selalu berkembang sesuai dengan
kemajuan zaman.
E. Pengembangan Sikap Profesional
a. Pegembangan Sikap Selama Prajabatan
Dalam pendidikan prajabatan, calon guru dididik dalam berbagai
pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaannya
nanti. Karena tugasnya yang bersifat unik , guru selalu menjadi panutan bagi
siswanya, dan bahkan bagi masyarakat sekelilingnya. Oleh sebab itu,
9

bagaimana guru bersikap terhadap pekerjaan dan jabatannya selalu menjadi


perhatian siswa dan masyarakat.
Pembentukan sikap yang baik tidak mungkin muncul begitu saja, tetapi
harus dibina sejak calon guru memulai pendidikannya di lembaga pendidikan
guru. Berbagai usaha dan latihan, contoh-contoh dan aplikasi penerapan ilmu,
keterampilan dan bahkan sikap profesional dirancangan dilaksanakan selama
calon guru berada dalam pendidikan prajabatan.
b. Pengembangan Sikap Selama Dalam Jabatan
Pengembangan sikap profesional tidak berhenti apabila calon guru selesai
mendapatkan pendidikan prajabatan. Banyak usaha yang dapat dilakukan
dalam rangka peningkatan sikap profesional keguruan dalam masa
pengabdian sebagai guru. Seperti telah disebut, peningkatan ini dapat
dilakukan dengan cara formal melalui kegiatan mengikuti penataran,
lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainnya, ataupun secara informal
melalui media massa televisi, radio koran dan majalah maupun publikasi
lainnya. Kegiatan ini sering dapat meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan, sekaligus juga dapat meningkatkan sikap profesional keguruan.
F. Peran Guru dalam Pembelajaran Tatap Muka
Terdapat beberapa peran guru dalam pembelajaran tatap muka yang
dikemukakan oleh Moon (1998), yaitu sebagai berikut :
1. Guru sebagai Perancang Pembelajaran (Designer Instruction)
Pihak Departemen Pendidikan Nasional telah memprogram bahan
pembelajaran yang harus diberikan guru kepada peserta didik pada suatu waktu
tertentu. Disini guru dituntut untuk berperan aktif dalam merencanakan PBM
tersebut dengan memerhatikan berbagai komponen dalam sistem pembelajaran
yang meliputi :
a. Membuat dan merumuskan bahan ajar
b. Menyiapkan materi yang relevan dengan tujuan, waktu, fasilitas,
perkembangan ilmu, kebutuhan dan kemampuan siswa,
komprehensif,sistematis, dan fungsional efektif.
c. Merancang metode yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa.
10

d. Menyediakan sumber belajar, dalam hal ini guru berperan sebagai


fasilitator dalam pengajaran.
e. Media, dalam hal ini guru berperan sebagai mediator dengan
memerhatikan relevansi (seperti juga materi), efektif,efisien, kesesuaian
dengan metode, serta pertimbangan praktis.
Jadi dengan waktu yang sedikit atau terbatas tersebut, guru dapat
merancang dan mempersiapkan semua komponen agar berjalan dengan efektif
dan efisien. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan yang cukup memadai
tentang prinsip-prinsip belajar, sebagai landasan dari perencanaan.
2. Guru sebagai Pengelola Pembelajaran (Manager Instruction)
Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan
fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan tujuan
khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan
alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa
bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang
diharapkan.
Selain itu guru juga berperan dalam membimbing pengalaman sehari-hari
ke arah pengenalan tingkah laku dan kepribadiannya sendiri. Salah satu ciri
manajemen kelas yang baik adalah tersedianya kesempatan bagi siswa untuk
sedikit demi sedikit untuk mengurangi ketergantungannya pada guru hingga
mereka mampu membimbing kegiatannya sendiri.
Sebagai manajer, guru hendaknya mampu mempergunakan pengetahuan
tentang teori belajar mengajar dari teori perkembangan hingga memungkinkan
untuk menciptakn situasi belajar yang baik mengendalikan pelaksanaan
pengajaran dan pencapaian tujuan.
3. Guru sebagai Pengaruh Pembelajaran
Hendaknya guru senantiasa berusaha menimbulkan, memelihara, dan
meningkatkan motivasi peserta didik untuk belajar. Dalam hubungan ini guru
mempunyai fungsi sebagai motivator dalam keseluruhan kegiatan belajar
mengajar.
4. Guru sebagai Evaluator (Evaluator of Student Learning)
11

Tujuan utama penilaian adalah adalah untuk melihat tingkat keberhasilan,


efektifitas dan efisiensi dalam proses pembelajaran. Selain itu untuk
mengetahui kedudukan peserta didik dalam kelas atau kelompoknya . Dalam
fungsinya sebagai penilai hasil belajar peseta didik guru hendaknya secra terus-
menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai peserta didik dari waktu ke
waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini akan menjadi umpan
balik terhadap proses pembelajaran. Umpan balik akan dijadikan titik tolak
untuk memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran selanjutnya. Dengan
demikian proses pembelajaran akan terus menerus ditingkatkan untuk
memperoleh hasil yang optimal.
5. Guru sebagai Konselor
Sesuai dengan peran guru sebagai konselor adalah ia diharapkan akan
dapat merespon segala masalah tingkah laku yang terjadi dalam proses
pembelajaran, Oleh karena itu, guru harus dipersiapkan agar :
a. Dapat menolong peserta didik memecahkan masalah-masalah yang timbul
antara peserta didik dengan orang tuanya,
b. Bisa memperoleh keahlian dalam membina hubungan yang manusiawi dan
dapat mempersiapkan untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan
bermacam-macam manusia.
6. Guru sebagai Pelaksana Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat pengalaman belajar yang akan didapat oleh
peserta didik selama ia mengikuti suatu proses pendidikan. Keberhasilan dari
suatu kurikulum yang ingin dicapai sangat bergantung pada faktor kemampuan
yang dimiliki oleh seorang guru. Artinya guru bertanggung jawab dalam
mewujudkan segala sesuatu yang telah tertuang dalam suatu kurikulum resmi.
Bahkan pandangan mutakhir menyatakan bahwa meskipun suatu kurikulum itu
bagus, namun berhasil atau gagalnya kurikulum tersebut pada akhirnya terletak
di tangan pribadi guru.
12

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pengertian profesionalisme guru
Profesionalisme guru merupakan kemampuan guru untuk melakukan
tugas pokoknya sebagai pendidik dan pengajar. Profesionalisme guru
mempunyai kriteria tertentu yang dapat dilihat dan diukur berdasarkan
kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru.
2. Hakikat profesi guru
Profesi guru adalah keahlian dan kewenangan khusus dalam bidang
pendidikan, pengajaran dan pelatihan yang ditekuni unutk menjadi mata
pencaharian dalam memenuhi kebutuhan hidup yang bersangkutan. Guru
sebagai profesi berarti guru sebagai pekerjaan yang mensyaratkan
kompetensi (keahlian dan kewenangan) dalam pendidikan dan pembelajaran
agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut secara efektif dan efisien serta
berhasil guna.
3. Guru sebagai contoh atau suriteladan
Guru sebagai teladan bagi siswa adalah guru yang harus mempunyai
keteladanan yang lebih dari siswanya, guru harus memiliki sikap dan
perilaku yang baik. Selain itu, guru juga harus selalu mengajarkan kepada
siswa sifat – sifat keteladanan yang baik.
4. Sasaran sikap profesional
a. Sikap terhadap peraturan-perundang undangan
b. Sikap terhadap organisasi Profesional
c. Sikap terhadap teman sejawat
d. Sikap terhadap anak didik
e. Sikap terhadap tempat kerja
f. Sikap terhadap pemimpin
g. Sikap terhadap pekerjaan
13

5. Pengembangan sikap profesional


a. Pengembangan sikap selama prajabatan
b. Pengembangan sikap selama dalam jabatan
6. Peran guru dalam pembelajaran tatap muka
a. Guru sebagai perancang pembelajaran (Designer intruction)
b. Guru sebagai pengelola pembelajaran (Manager intruction)
c. Guru sebagai pengaruh pembelajaran
d. Guru sebagai evaluator (Evaluator of student learning)
e. Guru sebagai konselor
f. Guru sebagai pelaksana kurikulum
B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dengan
sebuah pedoman yang bisa dipertanggungjawabkan. Oleh sebab itu, penulis
mengharap kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan dan
penyempurnaan pada pembuatan makalah yang selanjutnya.
14

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Y. 2010. Kompetensi dan Peranan Guru dalam Pembelajaran.


URL:http://yenynurfianadewi.wordpress.com/kompetensi-dan-peranan-
guru-dalam-pembelajaran/. Diakses tanggal 4 Maret 2020.

Duli, D., dkk. 2016. Sasasan Sikap Profesional dan Pengembangan Sikap
Profesional. URL: http://eksplorasialam.blogspot.com/2016/12/sasaran-
sikap-profesional-dan.html?m=1. Diakses tanggal 4 Maret 2020.

Nina. 2013. Hakikat Profesi Keguruanl. URL: http://ninamath-wordpress-


com.cdn.amproject.org/v/s/ninamath.wordpress.com/2013/03/14/8/amp/?
amp_js_v=a2&amp_gsa=1&usgp=mq331AQCKAE
%3D#aoh=15832831541024&referrer=https%3A%2F
%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s&ampshare=https%3A
%2F%2Fninamath.wodpress.com%2F2013%2F03%2F14%2F8%2F.
Diakses tanggal 4 Maret 2020.

Nuraeni, L. 2015. Guru Sebagai Teladan Bagi Siswa.


URL:https://unismapgsd.wordpress.com/2015/04/23/guru-sebagai-teladan-
bagi-siswa-lilis-nuraeni-411-821-091-30-183/. Diakses tanggal 4 Maret
2020.

Rofiah, N. 2015. Makalah Profesionalisme Guru.


URL:https://www.academia.edu/11981358/makalah_profesionalisme_guru.
Diakses tanggal 5 Maret 2020.

2016. Hakikat Profesi Guru dan Pengembangan Profesi Guru Sebagai Tenaga
Profesional. URL: http://allamalinsaan.blogspot.com/2015/04/HAKIKAT-
PROFESI-GURU-dan-pengembangan_82.html?m-1. Diakses tanggal 4
Maret 2020.
15