Anda di halaman 1dari 3

Pengukuran yang akurat

Meskipun prosedur pengukuran mungkin sangat andal, memberikan hasil yang sangat
tepat, namun mungkin menghasilkan hasil yang tidak akurat. Konsistensi hasil ketepatan dan
keandalan tidak secara signifikan berkaitan dengan keakuratan. Sebab keakuratan berkaitan
dengan seberapa dekat pengukuran dengan "nilai yang sesungguhnya" pada pengukuran sifat-
sifat, sasaran, kemudian baru menjelaskannya.
Permasalahan dalam banyak pengukuran, nilai sesungguhnya (true value) tidaklah
diketahui. Untuk menentukan akurasi dalam akuntansi, kita perlu tahu atribut yang harus diukur
untuk mencapai tujuan dari pengukuran. Tujuan akuntansi adalah mendapat informasi yang
berguna, sehingga akurasi dalam akuntansi berhubungan dengan hubungan pragmatis dalam hal
ini adalah kegunaan. Namun para akuntan masih belum satu suara dalam hal standar yang
spesifik dan kuantitatif mengenai kegunaan suatu informasi. Yang harus diingat, pengulangan
operasi tidak memastikan menghasilkan keakuratan, contohnya mengukur cost persediaan
menggunakan FIFO secara berulang ratusan kali dan mendapatkan hasil yang sama, bukan
berarti hasil tersebut akurat (menunjukkan true value), kecuali dalam hal untuk mengecek
kesalahan perhitungan matematik. Daripada menggunakan istilah akurasi, akan lebih bijaksana
jika menerapkan istilah para ilmuwan sosial, yaitu "validitas"

Pengukuran dalam akuntansi


Pengukuran akuntansi masuk dalam kategori pengukuran turunan, yaitu untuk
pengukuran modal dan keuntungan. Menurut Standar akuntansi internasional, Laba akuntansi
adalah turunan dari perubahan atas modal dalam suatu periode yang berasal dari segala aktivitas
termasuk kenaikan dan penurunan nilai wajar aset. Modal adalah turunan dari pengukuran net
fair value dari aset dan kewajiban.
Sebelum dikenalkan standar internasional, pendekatan pengukuran berbeda dengan
sekarang. Pendapatan disandingkan (match) dengan aset bersih yang digunakan dalam periode
tersbut dan jika pendapatan lebih besar daripada penggunaan aset (beban), maka terdapat
peningkatan modal. Keuntungan tidak diperoleh sampai modal awal dari biaya historis
dipertahankan dan laba direalisasikan. Sehingga, modal selalu dinyatakan sebesar harga
perolehan dan perubahan dalam aktiva bersih tidak dianggap sebagai keuntungan. Maka, kita
dapat melihat bahwa laba turunan sangat tergantung pada bagaimana kita mengukur modal awal
dan bagaimana kita mengukur biaya dan alokasi modal. Kita juga dapat melihat bahwa konsep
penilaian modal dalam akuntansi telah berkembang dari waktu ke waktu dengan hasil bahwa kita
memiliki beberapa pengukuran atas modal secara umum dan konsep laba

PERMASALAHAN PENGUKURAN DAN AUDITOR

Perubahan fokus dari pengukuran laba yang merupakan hasil penandingan antara
pendapatan dan beban, ke perubahan nilai wajar aset bersih.

Ketika laba ditentukan oleh pencocokan transaksi pendapatan dan beban selama periode auditor
dapat berkonsentrasi pada pengumpulan bukti bahwa transaksi tersebut telah ditangani dengan
benar oleh system akuntansi klien. Namun, ketika keuntungan berasal dari perubahan nilai wajar
timbul pertanyaan lebih sulit bagi auditor sekitar mengumpulkan bukti pada perkiraan
manajemen.

Pedoman audit standar internasional untuk kerugian akibat penurunan nilai auditing dan
lainnya memperkirakan nilai wajar terkandung adalah ISA 540. Auditor diharuskan untuk
mengumpulkan bukti untuk menilai apakah manajemen telah mengikuti standar akuntansi
dengan tepat dan jika jumlah yang diakui sebagai kerugian penuruna nnilai wajar.Untuk
melakukan hal ini, auditor harus menentukan apakah manajemen telah memilih metode penilaian
yang tepat dan masuk akal dan asumsi. Jika standar akuntansi tidak meresepkan metode
penilaian atas aktiva tertentu dan kewajiban yang dipertimbangkan, auditor bisa menerima
metode penilaian yang wajar.

Dalam tambahan untuk isu yang terkait dengan penggunaan nilai wajar dan masalah
terkait, auditor juga menghadapi masalah yang disebabkan ole variabilitas dalam tingkat
keandalan dan ketepatan pengukuran biaya historis. Sebagai contoh, system produksi standar
biaya didasarkan pada biaya historis berbagai masukan, asumsi tentang volume pengolahan dan
metode, dan isu-isu lingkungan penugasan biaya overhead antara produk, proses, dan
departemen .semua factor tersebut mempengaruhi biaya persediaan di tangan pada akhir periode
dan barang yang dijual selama periode tersebut. Dalam konteks ini, auditor perlu untuk menguji
kewajaran dari prosedur yang diterapkan dalam mengembangkan standar dari spesifikasi
teknik.Initermasuk mengumpulkan bukti tentang kewajaran asumsi yang mendasari dan
penggunaan data yang konsisten. Biaya persediaan per unit akan tampak sangat tepat, tapi
perubahan kondisi operasi dapat menghasil kanvariasi yang signifikan dan membuat asumsi yang
mendasari untuk alokasi biaya tidak valid.

Kegiatan audit yang di lakukan adalah pengukuran audit di masa datang menggunakan
fair value bukan historical cost. Kalau sudah wajar pengujian selanjutnya menguji apakah sudah
mematuhi sistem manajemen yang ditetapkan oleh manajamen bisa membantu pemakai laporan
keuangan dalam prospek perusahaan di masa yang akan datang.