Anda di halaman 1dari 7

Gambaran Klinis dan Hasil Pembedahan Dekompresi Bilateral Untuk Kasus

Hematoma Kontralateral Langsung / Akut Pasca Craniectomy pada Hematoma


Subdural Akut

Tujuan : Hematoma epidural (EDH) kontralateral akut dan hematoma intraserebral traumatik (T-ICH) setelah
craniectomy pada kasus hematoma subdural (SDH) traumatik merupakan kasus jarang namun merupakan
komplikasi pasca operasi yang serius. Gambaran klinis dan hasilnya tidak diketahui secara pasti. Pada penelitian
ini, kami menyajikan gambaran klinis dan hasil dari kasus EDH kontralateral akut yang membutuhkan operasi
lanjutan.
Metode : Penelitian ini melibatkan 10 kasus EDH kontralateral akut dan T-ICH pasca craniectomy bilateral untuk
evakuasi SDH traumatik dan hematoma kontralateral di antara tahun 2004 sampai 2015. Rekam medis dan hasil
pemeriksaan radiologi dianalisa secara retrospektif.
Hasil : Sepuluh dari 528 orang pasien (1.89%) yang menjalani craniectomy untuk evakuasi SDH traumatik
kemudian mengalami EDH pasca operasi (n=5), dan T-ICH (n=5). Trauma terjadi akibat jatuh pada 5 orang pasien
dan akibat kecelakaan lalu lintas pada 5 orang pasien. Pasien-pasien yang mengalami trauma akibat kecelakaan
pejalan kaki kemudian meninggal dunia. Tujuh pasien memiliki nilai GCS yang rendah (GCS <8) pada saat pra
operatif (rata-rata GCS saat dating 7.7; rata-rata GCS saat pulang 3.4). Edema serebri intra operatif yang berat
terjadi pada semua pasien, sedangkan fraktur tengkorak terjadi pada 8 pasien. Cedera multipel dan penggunaan
obat-obatan penyakit jantung ditemukan sebagai karakteristik pasien-pasien yang meninggal dunia.
Kesimpulan : Prognosis kasus hematoma kontralateral yang terlambat sangat buruk. Cedera multipel, riwayat
penyakit dahulu dan kecelakaan lalu lintas, terutama pejalan kaki, tampak berhubungan dengan tingginya angka
kematian. Fraktur tengkorak kontralateral dapat menjadi indikasi risiko tinggi terjadinya hematoma intracranial
kontralateral akut yang terlambat.

PENDAHULUAN
EDH kontralateral akut dan T-ICH setelah craniectomy pada SDH traumatic
merupakan komplikasi pasca operasi yang jarang namun serius. Diagnosis yang terlambat akan
menjadi fatal.
Kebutuhan pembedahan bilateral setelah craniectomy dekompresi sangat jarang (1-
4%). Maka, gambaran klinis dan hasilnya belum dipelajari dengan baik. Selain itu, pedoman
tatalaksana untuk hematoma kontralateral belum ditentukan.
Pada penelitian ini, kami akan menyajikan gambaran klinis dan hasil pada 10 kasus
hematoma kontralateral akut yang membutuhkan operasi lanjutan. Penelitian ini dapat
menambah pengertian mengenai komplikasi pasca operatif yang jarang terjadi.
MATERIAL DAN METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Sejumlah 528 pasien yang menjalani craniectomy untuk evakuasi SDH traumatik di
antara tahun 2004 sampai 2015 diteliti di Universitas Gachon, Gil Medical Center. Dari 528
kasus tersebut, data dari 10 pasien dengan EDH kontralateral akut dan T-ICH dianalisa secara
retrospektif.
Pengumpulan Data
Rekam medis termasuk data demografis, mekanisme trauma, cedera yang berhubungan,
riwayat penyakit dahulu, hasil laboratorium, penyebab kecelakaan, edema otak selama
evakuasi hematoma, dan pemeriksaan neurologis diteliti dan dianalisa. Parameter neurologis
berupa skor Glasgow Coma Scale (GCS) dan skor Glasgow Outcome Scale (GOS).
Data Radiologi
Hasil pemeriksaan radiologi, termasuk hasil CT scan pra dan pasca operatif dianalisa.
Semua pasien secara rutin menjalani pemeriksaan CT scan pasca operatif dalam 5 menit.
Lokasi hematoma dan fraktur tengkorak (bila ada), skor CT Rotterdam termasuk kompresi pada
sisterna basalis, pergeseran garis tengah (midline shift), lesi massa epidural, darah
intraventricular, dan/atau SDH traumatik dapat dilihat.
Analisa Statistik
Data dianalisa menggunakan SPSS versi 22.0. Analisa satu arah dilakukan untuk
mengevaluasi hubungan antara prognosis dengan faktor-faktor prognostic potensial , termasuk
riwayat penyakit dahulu, mekanisme cedera, dan jumlah cedera multipel yang berhubungan.
Pada penelitian ini, perbedaan antara GCS pra operasi dengan GCS saat pasien pulang
digunakan untuk evaluasi prognosis pasien.

HASIL PENELITIAN
Sejumlah 528 pasien menjalani craniectomy untuk evakuasi SDH traumatik. Di antara
mereka, 10 pasien (1.89%) mengalami EDH pasca operasi akut (n=5), dan T-ICH (n=5)
(Gambar 1). Semua pasien mendapat infus mannitol untuk mengontrol peningkatan tekanan
intrakranial (TIK) sebelum evakuasi perdarahan. Gambaran klinis dan data radiologis
tercantum pada tabel 1.
Gambar 1.
Seorang wanita, 58 tahun,
membutuhkan craniectomy
bilateral akibat EDH terlambat
setelah craniectomy pada SDH
akut.
(A) CT scan pra operatif
menunjukkan SDH
traumatik dan perdarahan
subarachnoid pada regio
frontotemporoparietal
sinistra.
(B) CT scan pra operatif (bone
setting) menunjukkan
fraktur tengkorak pada
tulang temporoparietal
dextra.
(C) CT scan setelah
craniectomy bilateral.

Mekanisme trauma terbagi menjadi kecelakaan lalu lintas (n=5) dan terjatuh (n=5). Di
antara pasien-pasien yang mengalami traium akibat kecelakaan lalu lintas, ada dua kasus
kecelakaan pada pejalan kaki, dan keduanya meninggal dunia. Mekanisme cedera merupakan
salah satu faktpr prognostik yang penting. Namun, pada penelitian ini, tidak menunjukkan hasil
signifikan secara statistik (Tabel 2). Tujuh pasien memiliki skor GCS yang rendah saat datang
(GCS <8), dan tiga pasien memiliki skor GCS yang tinggi saat datang (GCS >8) ketika masa
pra operatif. Skor GCS rata-rata saat datang adalah 7,7. Lima pasien meninggal dunia (50%)
dan prognosis secara keseluruhan sangat buruk. Skor GCS rata-rata saat pasien pulang adalah
3,4, sedangkan skor GOS rata-rata saat pasien pulang adalah 2,0. Pergeseran dan edema serebri
intra operatif yang berat didapatkan pada semua pasien. Hasil pemeriksaan CT scan
menunjukkan adanya fraktur tengkorak pada hematoma kontralateral pada enam pasien, dan
kompresi sisterna basalis pada seluruh kasus. Skor CT Rotterdam rata-rata adalah 4,3. Fraktur
tengkorak pada EDH kontralateral ditemukan pada seluruh kasus EDH (n=5).

Cedera lain yang berhubungan pada kasus pembedahan dekompresi bilateral


dicantumkan pada Tabel 1 dan 3. Cedera multipel dengan setidaknya 4 fraktur merupakan
karakteristik seluruh pasien yang meninggal dunia (kecuali kasus 3). Pasien-pasien tersebut
meninggal setelah donasi organ.
Kasus 6 dan 9 menunjukkan peningkatan skor GCS, yang kemudian semakin menurun
lebih dari 7 poin setelah pembedahan dibanding skor saat pasien datang. Pasien-pasien tersebut
sedang dalam pengobatan penyakit jantung, yang meningkatkan kemungkinan perdarahan.
Riwayat penyakit dahulu dan pengobatan dicantumkan dalam Tabel 3. Analisa statistik
menggambarkan perbedaan signifikan antara skor GCS pra operatif dan skor GCS saat pasien
pulang pada pasien dengan riwayat penyakit tertentu maupun tanpa riwayat penyakit (Tabel 4).
Diagnosis pra operatif pada hematoma intrakranial dicantumkan dalam Tabel 3. Pada
kasus 3, jumlah EDH meningkat setelah craniectomy pertama, sehingga membutuhkan
pembedahan ke dua. Pada kasus lainnya, kami tidak menemukan hubungan antara diagnosis
pra operatif hematoma intracranial dengan hematoma intrakranial kontralateral akut yang
membutuhkan pembedahan ke dua.
Kami mempelajari hasil pemeriksaan laboratorium pra operatif yang mencakup jumlah
trombosit, PT, aPTT, dan INR. Semua pasien memiliki jumlah trombosit lebih dari 100.000
dan semua nilai PT, aPTT, dan INR didapati normal.
PEMBAHASAN
Hematoma intrakranial kontralateral akut setelah pembedahan dekompresi pada kasus
SDH merupakan komplikasi yang jarang namun mematikan.
Prognosis keseluruhan pada kasus craniectomy bilateral adalah buruk. Metode untuk
memprediksi prognosis belum diinvestigasi. Untuk memprediksi prognosis, mengetahui
mekanisme terjadinya cedera otak sangatlah penting. Pada penelitian ini, semua pasien yang
mengalami trauma akibat kecelakaan pejalan kaki meninggal dunia. Hasil ini kemungkinan
berhubungan dengan cedera otak berat sepertu cedera akson difus yang tidak tampak pada CT
scan. Cedera akson difus pada struktur-struktur yang dalam diketahui akan memiliki hasil yang
buruk.
Mekanisme pasti terjadinya EDH pasca operatif masih diperdebatkan. Hipotesis yang
paling banyak diterima adalah pembedahan dekompresi inisial pada cedera countercoup
memiliki efek kompresi pada hematoma kontralateral. Penurunan tekanan intrakranial dan efek
tamponade berkontribusi terhadap pembentukan hematoma kontralateral pada kasus cedera
coup. Penelitian sebelumnya mengenai faktor risiko terjadinya EDH kontralateral setelah
craniectomy dekompresi menunjukkan bahwa usia dan jumlah tulang yang mengalami fraktur
merupakan faktor risiko yang penting. Hasil penelitian kami juga mendukung hipotesis
tersebut. Pada penelitian sebelumnya, edema serebri berat dan fraktur tengkorak kontralateral
merupakan indikator risiko tinggi terjadinya hematoma intrakranial kontralateral akut. Pada
penelitian ini, serupa dengan hasil penelitian sebelumnya, edema serebri berat dan fraktur
tengkorak kontralateral muncul sebagai tanda waspada terjadinya hematoma intrakranial
kontralateral akut.
Penemuan CT scan seperti klasifikasi CT Rotterdam digunakan sebagai prediktor hasil
pembedahan craniectomy dekompresi. Pada penelitian ini, kemampuan prediktif klasifikasi CT
Rotterdam terbatas dan kurang jelas. Skor rata-rata pasien yang menjalani craniectomy
dekompresi bilateral adalah 4,3. Kami meyakini bahwa distribusi skor yang tidak merata
menurunkan kemampuan prediktif.
Hal yang menarik, cedera lain yang berhubungan tampaknya menjadi faktor prognostik
yang penting. Semua pasien yang meninggal dunia (kecuali kasus 3) mengalami 4 jenis atau
lebih cedera. Mekanisme trauma yang lebih berat menimbulkan cedera multipel dan kerusakan
otak yang berat. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa cedera ekstremitas dan cedera
eksternal berat sering terjadi pada pejalan kaki pada kasus kecelakaan lalu lintas. Penelitian
lainnya menunjukkan bahwa 40% pejalan kaki mengalami cedera pada 3 regio. Namun,
penelitian ini tidak menunjukkan signifikan secara statistik (Tabel 5).
Hasil lainnya pada penelitian kami adalah bahwa riwayat penyakit terdahulu pada
pasien merupakan suatu faktor prognostik yang penting. Signifikansi secara statistik
ditampilkan pada Tabel 4.
Merupakan hal yang sulit untuk menghasilkan statistik yang signifikan pada penelitian
kami karena kecilnya jumlah sampel penelitian. Pada penelitian selanjutnya, lebih banyak
kasus dibutuhkan untuk mengasilkan statistik yang signifikan. Namun, di samping fakta bahwa
jumlah kasusnya hanya sedikit, penelitian ini bermanfaat untuk mengetahui gambaran klinis
dan hasil dari craniectomy bilateral.
KESIMPULAN
Prognosis hematoma kontralateral akut sangatlah buruk, terutama pada kasus
kecelakaan lalu lintas pada pejalan kaki. Edema otak berat dan fraktur tengkorak kontralateral
merupakan tanda waspada terjadinya hematoma intrakranial kontralateral akut. Cedera lain
yang berhubungan dan riwayat penyakit dahulu merupakan faktor-faktor prognostik yang
penting.