Anda di halaman 1dari 9

Metode Delphi

Salah satu tahapan dalam studi ini adalah penjaringan opini ahli (expert opinion
polling) yang dilakukan dengan memanfaatkan metode Delphi. Pada bagian ini
dijelaskan secara rinci konsep dan aplikasi metode Delphi yang dipakai dalam studi
ini.

Konsep Metode Delphi


Delphi, sebenarnya adalah nama satu set prosedur untuk memperoleh dan
menyaring opini-opini dari sebuah kelompok yang biasanya adalah sekelompok panel
ahli. Metode ini adalah suatu cara di mana sebuah konsensus dari sekelompok ahli
tercapai setelah memperoleh opini-opini dalam mendefinisikan masalah berdasarkan
pengetahuan dan intuisi para ahli. Penilaian kolektif dari para ahli ini, walaupun
diperoleh dari opini yang subyektif tetap lebih baik daripada sebuah pernyataan
perorangan dan menghasilkan ‘outcome’ yang lebih obyektif.

Metode Delphi dibuat pertama kali oleh Olaf Helmer dan Norman Dalkey di RAND
Corporation Amerika Serikat pada tahun 1953 untuk digunakan memecahkan
masalah di kemiliteran. Menurut Delbecq, metode Delphi dapat digunakan untuk :

1. Menentukan atau membentuk alternatif program yang layak.

2. Mencari asumsi atau informasi yang digunakan untuk pengambilan


keputusan.

3. Mencari informasi yang dapat menghasilkan suatu konsensus dalam suatu


kelompok.

4. Menghasilkan keputusan suatu masalah yang berdasarkan berbagai disiplin


ilmu.

Metode Delphi mempunyai empat karakteristik utama : (1) pertanyaan yang


terstruktur, (2) iterasi, (3) umpan balik ( feedback) yang terkontrol, dan (4)
anonimitas (anonymity) dari responden. Pertanyaan yang terstruktur ini diwujudkan
melalui penggunaan kuesioner. Kuesioner ini akan menjaga agar pemecahan
masalah tetap fokus dan membuat moderator dapat mengontrol proses agar
menghasilkan hasil yang baik. Iterasi adalah proses di mana kuesioner dibagikan
dan dijawab dalam beberapa putaran agar responden dapat memikir ulang jawaban
yang telah diberikan. Umpan balik yang terkontrol dapat dicapai dengan
membagikan hasil jawaban kelompok kepada seluruh responden untuk bahan
pertimbangan untuk memikir ulang jawabannya. Anonymity diwujudkan dengan
kuesioner yang di jawab secara bebas dalam mengekspresikan pendapat tanpa takut
akan adanya ‘tekanan’ dari anggota panelis lain. Pengambilan keputusan dalam
suatu kelompok dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya dominannya
beberapa panelis dan kepribadian panelis yang kuat. Kadangkala hal-hal tersebut
akan mengurangi kemampuan untuk menghasilkan keputusan atau ramalan yang
tidak bias. Dengan karakteristik ’anonymity’ keraguan akan keputusan yang bias
dapat dihindarkan.

Teknis Pelaksanaan Metode Delphi


Tahap-tahap yang dilakukan dalam Metode Delphi:
1. Mengidentifikasi sekelompok panel ahli yang akan terlibat.

2. Panelis yang dipilih harus mempunyai pengetahuan yang ‘akrab’ dengan


permasalahan yang dihadapi, atau berpengalaman sehingga dapat melakukan
suatu penentuan prioritas yang efektif.

3. Penarikan opini putaran pertama.

4. Pada putaran pertama, dibuat kuesioner yang diisi oleh para panelis dimana
setiap pertanyaan yang direspon dinilai dengan angka. Pada setiap pertanyaan
(variabel), panelis melakukan pemberian angka yang menurut panelis
merupakan angka yang paling logis untuk menjawab pertanyaan (variabel)
tersebut. Setiap panelis melakukan penilaian secara individual dengan tidak
mencantumkan nama (anonim) serta tidak diperkenankan melakukan interaksi
satu dengan yang lain.

5. Melakukan analisis statistik pada Delphi putaran pertama.

6. Seluruh jawaban dari para ahli dianalisa secara statistik. Untuk variabel
dihitung rata-rata (mean) dan simpangan baku (standard deviation)-nya.
Berdasarkan nilai rata-rata dan simpangan baku tersebut, dibuat interval
keyakinan (confidence interval) untuk setiap variabel.

7. Pembuatan kuesioner putaran kedua.

8. Kuesioner ini menanyakan hal yang sama dengan kuesioner pertama namun
perbedaannya, kuesioner kedua ini menyajikan nilai rata-rata, simpangan baku,
dan batas atas (upper limit) serta batas bawah (lower limit) interval keyakinan
setiap variabel disertai dengan alasan dari setiap panelis sewaktu mengisi
kuesioner pada putaran pertama. Data-data ini diberikan kepada panelis
sebagai umpan balik yang berguna waktu pengisian kuesioner pada putaran
berikutnya.

9. Pengisian kuesioner putaran kedua.

10. Pada kuesioner kedua ini, para panelis diberi kesempatan untuk mengubah
jawaban mereka atau tetap membiarkan jawabannya sama seperti semula.
Panelis yang untuk suatu pernyataan pada putaran sebelumnya memberikan
nilai yang jatuh pada interval keyakinan tidak diharuskan untuk mengubah
opininya. Tetapi, panelis yang penilaiannya di luar interval keyakinan sangat
disarankan untuk mengubah jawabannya atau, jika tidak, memberikan
argumen yang kuat yang berkaitan dengan jawabannya.

11. Membuat dan membagikan kuesioner berikutnya dengan prosedur yang


sama.

12. Proses ini berlanjut sampai dicapai suatu konvergensi yang mencerminkan
konsensus antar responden (panelis).

Secara skematis, proses pelaksanaan metode Delphi dapat dilihat pada Gambar xxx
yang memperlihatkan gambaran pelaksanaan Delphi sebanyak tiga tahap, yaitu opini
panelis dijaring sebanyak tiga tahap. Meskipun secara teoritis, untuk mencapai
konvergensi opini, Delphi dapat dilakukan puluhan putaran, pada prakteknya tiga
sampai lima putaran biasanya dianggap sudah cukup. Kriteria yang menjadi acuan
adalah perbedaan simpangan baku setiap variabel dari putaran satu ke putaran
berikutnya. Jika perbedaan simpangan baku ini kurang dari 10 persen (menurun),
maka Delphi tidak perlu dilanjutkan ke putaran berikutnya. Pada kasus tertentu
dimana akurasi konvergensi menjadi tujuan utama, jumlah putaran Delphi dapat
ditingkatkan.

Gambar xxx
Skema Tahap-Tahap Yang Dilakukan Dalam Metode Delphi

P a n e l A h li:
T im M o n it o r in g :
M engem ukakan
1 . M e r e k a p H a s il pendapat
K u is o n e r II m e la lu i
2 . M e n d e s a in K u is o n e r I II
K u is o n e r III

T im
T im
M o n it o r in g
M o n ito r in g
1 . M e r e k a p H a s il
M e n d e s a in K u is o n e r I
k u is o n e r 2 . M e n d e s a in
b e rd a s a rk a n K u is o n e r II
P a n e l A h li: h ip o te s a a w a l

M engem ukakan
pendapat
T im M o n it o r in g :
m e la lu i
K u is o n e r II P a n e l A h li:
M e r e k a p H a s il
M engem ukakan K u is o n e r d a n
pendapat m e m f o r m u la s ik a n
dengan
m e la lu i H ip o t e s a
k u is o n e r aw al

Proses Pelaksanaan Metode Delphi


Dalam studi ini, proses pelaksanaan metode Delphi dilakukan sebanyak tiga putaran
dengan mempergunakan 8 orang panelis. Dengan perkataan lain, proses penarikan
opini dari para panelis dilakukan dengan cara pengisian kuesioner sebanyak tiga
tahap dengan tahap keempat dipergunakan sebagai tahap rekapitulasi. Tujuan yang
ingin dicapai dari proses pelaksanaan metode Delphi, yaitu untuk menyaring serta
menajamkan angka-angka variabel yang telah dibuat berdasarkan penelusuran
literatur dan pengolahan data pada tahapan pra Delphi dengan memanfaatkan nilai
rata-rata dan simpangan baku persepsi para panelis sebagai alat pembandingnya.
Pada putaran pertama, para pakar (panelis ahli) dimintakan pendapatnya tentang
pertanyaan-pertanyaan (variabel-variabel) yang sebelumnya telah dirumuskan oleh
tim peneliti berdasarkan berbagai studi literatur dan diskusi. Panelis tersebut diminta
untuk memberikan angka terhadap berbagai pertanyaan yang terkait dena
kebutuhan studi, yang dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu “Needs Analysis”
dan “Programme sfecifications”

Pada putaran kedua para panelis dimintakan kembali pendapatnya untuk hal yang
sama dengan putaran pertama, dengan diberikan lampiran berupa hasil rekapitulasi
delphi pada putaran pertama yang mencantumkan rata-rata angka, standar deviasi,
serta batas interval bawah dan atas. Panelis yang pada putaran pertama
memberikan penilaian di luar interval keyakinan suatu variabel, mengganti pilihan
responnya atau, jika tidak, memberikan ‘strong argument’ terhadap respon yang
menjadi pilihannya.

Tahap ketiga merupakan pengulangan tahap kedua dan dipakai sebagai proses
penghalusan (refinement) untuk mendapatkan konvergensi opini dari para panelis.
Tahap ketiga ini merupakan tahapan terakhir dari proses pengambilan opini karena
konvergensi yang diinginkan sudah mampu dicapai pada tahapan ini.

Pada tahap rekapitulasi, hasil dari putaran ketiga dikonfirmasikan kepada para pakar
untuk mendapatkan konvergensi pendapat atas variabel-variabel yang akan
dijadikan pedoman dalam feasibility study yang dilakukan dalam studi ini.

Lokakarya diselenggarakan di Jakarta bertempat di hotel Millenium pada tanggal 12


November 2008 dengan mengundang para panelis yang kompeten dalam masalah
ketenagakerjaan di Indonesia, yaitu sebagai berikut :
Tabel xxx
Daftar Nama Panelis Delphi

No. Nama Panelis Badan/Instansi

1 Prof. Dr. Sri Lembaga Demografi, Universitas


Moertiningsih Adioetomo Indonesia

2 Prof. Dr. Sutyastie Universitas Padjadjaran


Soemitro Remi

3 Dr. Fifi Aryanti Kapuslitbang, DEPNAKERTRANS

4 Dr. Sudarno Sumarto Smeru Research Institute

5 Dr. Ahmad Khemal Wakil Ketua, Dewan Pengupahan Propinsi


Hidayat Jawa Barat

6 Dr. Budiono Universitas Padjadjaran

7 Bangkit Sitepoe National Vocational Training


Development Center (NVTDC)

8 Ema Liliefna Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera


Indonesia (KSBSI)

Sedangkan pertanyaan-pertanyan (variabel-variabel) yang ditanyakan dalam


kuesioner adalah sebagai berikut:
Tabel XXX
Variabel-variabel Delphi
No Variabel
1.1 Berdasarkan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia dari waktu ke waktu, diperlukan institusi yang
menyelenggarakan short course dengan kekhususan "Labour Market Planning" untuk mendidik
perencana pasar tenaga kerja di Indonesia
1.2 Berdasarkan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia dari waktu ke waktu, diperlukan institusi yang
menyelenggarakan Program Magister dengan kekhususan "Labour Market Planning" untuk
mendidik perencana pasar tenaga kerja di Indonesia
1.3 Program-program seperti BLK dan lembaga-lembaga pelatihan yang ada sudah memadai
1.4 Perencanaan "labour market development" hanya merupakan tanggung jawab Pemerintah Pusat
1.5 Penyelenggaraan program "Labour Market Development" difokuskan pada Planning skills
1.6 Penyelenggaraan program "Labour Market development" difokuskan pada Research skills
1.7 Penyelenggaraan program "Labour Market development" difokuskan pada Monitoring &
Evaluation skills
1.8 Penyelenggaraan program "Labour Market development" difokuskan pada Statistical analysis skills

1.9 Penyelenggaraan program "Labour Market development" difokuskan pada Quantitative survey
and data collection skills
1.10 Penyelenggaraan program "Labour Market development" difokuskan pada Generic skills (report
writing, information dissemination, ICT, etc)
1.11 Perencanaan "labour market" merupakan tanggung jawab Pemerintah Daerah
2.1 Program "Labor Market Develoment " ini sebaiknya dimulai dari program studi S1
2.2 Jumlah institusi penyelenggara (Perguruan Tinggi) program lebih dari 1
2.3 Khusus untuk Program Magister bentuk yang tepat adalah Jurusan/Program studi
2.4 Khusus untuk Program Magister bentuk yang tepat adalah Peminatan/konsentrasi
2.5 Khusus untuk Program Magister bentuk yang tepat adalah Mata Kuliah
2.6 Institusi penyelenggara (Perguruan Tinggi) merupakan institusi yang memiliki background Ilmu
Ekonomi yang kuat
2.7 Institusi penyelenggara (Perguruan Tinggi) merupakan institusi yang memiliki background Ilmu
Hukum yang kuat
2.8 Institusi penyelenggara (Perguruan Tinggi) merupakan institusi yang memiliki background
Sosiologi dan Antropologi yang kuat
2.9 Institusi penyelenggara (Perguruan Tinggi) merupakan institusi yang memiliki background Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik yang kuat
2.10 Institusi penyelenggara (Perguruan Tinggi) merupakan institusi yang memiliki background Ilmu
Sosial Kemasyarakatan yang kuat
2.11 Perlu kerjasama antar Perguruan Tinggi dalam negeri di dalam penyelenggaraan Program
2.12 Perlu kerjasama Perguruan Tinggi penyelenggara di dalam negeri dengan perguruan tinggi
penyelenggara Program di luar negeri
2.13 Penyelenggara program harus memiliki akreditasi A
2.14 Perguruan Tinggi peyelenggara program harus memiliki kualitas dan sumber daya yang berkorelasi
dengan masalah ketenagakerjaan
2.15 Perguruan Tinggi peyelenggara program harus memiliki networking yang kuat dengan sektor dunia
usaha
Hasil Rekapitulasi Delphi
Berdasarkan lokakarya yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel XXX
95 % Confidence Interval Mean Standar
No Variabel
Batas Bawah Batas Atas (Rata-rata) Deviasi
1.1 Berdasarkan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia
dari waktu ke waktu, diperlukan institusi yang
menyelenggarakan short course dengan
8.38 9.37 8.88 0.99
kekhususan "Labour Market Planning" untuk
mendidik perencana pasar tenaga kerja di
Indonesia
1.2 Berdasarkan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia
dari waktu ke waktu, diperlukan institusi yang
menyelenggarakan Program Magister dengan
7.42 9.08 8.25 1.67
kekhususan "Labour Market Planning" untuk
mendidik perencana pasar tenaga kerja di
Indonesia
1.3 Program-program seperti BLK dan lembaga-
2.71 3.54 3.13 0.83
lembaga pelatihan yang ada sudah memadai
1.4 Perencanaan "labour market development" hanya
1.71 2.54 2.13 0.83
merupakan tanggung jawab Pemerintah Pusat
1.5 Penyelenggaraan program "Labour Market
5.82 8.68 7.25 2.87
Development" difokuskan pada Planning skills
1.6 Penyelenggaraan program "Labour Market
5.84 8.66 7.25 2.82
development" difokuskan pada Research skills
1.7 Penyelenggaraan program "Labour Market
development" difokuskan pada Monitoring & 5.84 8.66 7.25 2.82
Evaluation skills
1.8 Penyelenggaraan program "Labour Market
development" difokuskan pada Statistical analysis 6.16 9.09 7.63 2.92
skills
1.9 Penyelenggaraan program "Labour Market
development" difokuskan pada Quantitative 5.98 8.52 7.25 2.55
survey and data collection skills
1.10 Penyelenggaraan program "Labour Market
development" difokuskan pada Generic skills
6.45 8.30 7.38 1.85
(report writing, information dissemination, ICT,
etc)
1.11 Perencanaan "labour market" merupakan
2.11 4.14 3.13 2.03
tanggung jawab Pemerintah Daerah
2.1 Program "Labor Market Develoment " ini
4.45 7.05 5.75 2.60
sebaiknya dimulai dari program studi S1
2.2 Jumlah institusi penyelenggara (Perguruan Tinggi)
4.24 7.26 5.75 3.01
program lebih dari 1
2.3 Khusus untuk Program Magister bentuk yang
6.87 8.38 7.63 1.51
tepat adalah Jurusan/Program studi
2.4 Khusus untuk Program Magister bentuk yang
5.00 7.00 6.00 2.00
tepat adalah Peminatan/konsentrasi
2.5 Khusus untuk Program Magister bentuk yang
3.01 4.74 3.88 1.73
tepat adalah Mata Kuliah
2.6 Institusi penyelenggara (Perguruan Tinggi)
merupakan institusi yang memiliki background 8.23 9.27 8.75 1.04
Ilmu Ekonomi yang kuat
2.7 Institusi penyelenggara (Perguruan Tinggi)
merupakan institusi yang memiliki background 3.48 6.02 4.75 2.55
Ilmu Hukum yang kuat
2.8 Institusi penyelenggara (Perguruan Tinggi)
merupakan institusi yang memiliki background 4.43 6.57 5.50 2.14
Sosiologi dan Antropologi yang kuat
2.9 Institusi penyelenggara (Perguruan Tinggi)
merupakan institusi yang memiliki background 5.19 7.31 6.25 2.12
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang kuat
2.10 Institusi penyelenggara (Perguruan Tinggi)
merupakan institusi yang memiliki background 4.90 6.85 5.88 1.96
Ilmu Sosial Kemasyarakatan yang kuat
2.11 Perlu kerjasama antar Perguruan Tinggi dalam
6.45 8.30 7.38 1.85
negeri di dalam penyelenggaraan Program
2.12 Perlu kerjasama Perguruan Tinggi penyelenggara
di dalam negeri dengan perguruan tinggi 5.50 8.25 6.88 2.75
penyelenggara Program di luar negeri
2.13 Penyelenggara program harus memiliki akreditasi
4.70 7.05 5.88 2.36
A
2.14 Perguruan Tinggi peyelenggara program harus
memiliki kualitas dan sumber daya yang 6.84 9.91 8.38 3.07
berkorelasi dengan masalah ketenagakerjaan
2.15 Perguruan Tinggi peyelenggara program harus
memiliki networking yang kuat dengan sektor 5.69 8.31 7.00 2.62
dunia usaha