Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anak merupakan hal yang penting artinya bagi keluarga, selain sebagai
penerus keturunan, anak pada akhirnya sebagai generasi penerus bangsa. Oleh
karena itu tidak satupun orang tua yang menginginkan anaknya jatuh sakit,
lebih – lebih bila anaknya mengalami kejang demam seperti ini sangat tidak
di inginkan oleh orang tua manapun. Insiden kejang demam ini dialami oleh
2% - 4% pada anak usia antara 6 bulan hingga 5 Tahun (ME. Sumijati 2000 )
dengan durasi kejang selama beberapa menit. Namun begitu, walaupun terjadi
hanya beberapa menit, bagi orang tua rasanya sangat mencemaskan,
menakutkan dan terasa berlangsung sangat lama, jauh lebih lama disbanding
yang sebenarnya.
Kejang demam merupakan salah satu kelainan neurologis yang paling
sering dijumpai pada bayi dan anak. Dari penelitian oleh beberapa pakar
didapatkan bahwa sekitar 2,2%-5% anak pernah mengalami kejang demam
sebelum mereka mencapai umur 5 tahun. Penelitian di jepang bahkan
mendapatkan angka kejadian (inseden) yang lebih tinggi, mendapatkan
angka 9,7% (pada pria 10,5% dan pada wanita 8,9% dan Tsuboi mendapatkan
angka sekitar 7%. (Maeda DKK, 2016)
Kejadian kejang demam diperkirakan 2-4% da Amerika Serikat, Amerika
Selatan dan Eropa Barat. Di Asia lebih tinngi kira-kira 20% kasus merupakan
kejang demam komplek.Akhir-akhir ini kejang demam diklasifikasikan
menjadi 2 golongan yaitu kejang demam sederhana yang berlangsung kurang
dari 15 menit dan umum, dan kejang demam komplek yang berlangsung lebih
dari dari 15 menit, fokal atau multifel (lebih dari 1 kali kejang demam dalam
24 jam) (Arif Manajer, 2000)

1
B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep teori tentang Kejang Demam pada anak?


2. Bagaimana asuhan keperawatan terhadap anak dengan gangguan kejang
demam ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui konsep teori tentang kejang demam pada anak


2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan terhadap anak dengan gangguan
kejang demam

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu mencapai >38C). kejang demam dapat terjadi karena proses
intracranial maupun ekstrakranial. Kejang demam terjadi pada 2-4% populasi
anak berumur 6 bulan sampai dengan 5 tahun (Amid dan Hardhi, NANDA NIC-
NOC, 2013).
Kejang demam merupakan gangguan transien pada anak yang terjadi
bersamaan dengan demam. Keadaan ini merupakan salah satu gangguan
neurologik yang paling sering dijumpai pada anak-anak dan menyerang sekitar
4% anak. Kebanyakan serangan kejang terjadi setelah usia 6 bulan dan biasanya
sebelum usia 3 tahun dengan peningkatan frekuensi serangan pada anak-anak
yang berusia kurang dari 18 bulan. Kejang demam jarang terjadi setelah usia
5 tahun. (Dona L.Wong, 2008)

B. Etiologi
1. Faktor-faktor prenatal
2. Malformasi otak congenital
3. Faktor genetika
4. Penyakit infeksi (ensefalitis, meningitis)
5. Demam
6. Gangguan metabolisme
7. Trauma
8. Neoplasma, toksin
9. Gangguan sirkulasi
10. Penyakit degeneratif susunan saraf.
11. Respon alergi atau keadaan imun yang abnormal.

3
C. Patofisiologi
Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah
menjadi CO2dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan
dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal
membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K +) dan sangat
sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (Cl–).
Akibatnya konsentrasi ion K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah,
sedang di luar sel neuron terdapat keadaan sebalikya. Karena perbedaan jenis dan
konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka terdapat perbedaan potensial
membran yang disebut potensial membran dari neuron. Untuk menjaga
keseimbangan potensial membran diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K
ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan potensial membran ini
dapat diubah oleh :
a. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraselular
b. Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme, kimiawi atau aliran
listrik dari sekitarnya
c. Perubahan patofisiologi dari membrane sendiri karena penyakit atau
keturunan
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10-15 % dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada
anak 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubuh dibandingkan
dengan orang dewasa yang hanya 15 %. Oleh karena itu kenaikan suhu tubuh
dapat mengubah keseimbangan dari membrane sel neuron dan dalam waktu yang
singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium akibat terjadinya lepas
muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas
keseluruh sel maupun ke membrane sel sekitarnya dengan bantuan “neuro
transmitter” dan terjadi kejang. Kejang demam yang berlangsung lama (lebihdari
15 menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energy
untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia,
asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anerobik, hipotensi artenal disertai
denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh meningkat yang disebabkan

4
makin meningkatnya aktifitas otot dan mengakibatkan metabolisme otak
meningkat.

D. Pathway
Rangsang mekanik dan
Infeksi virus biokimia.
dan bakteri
Gangguan keseimbangan cairan
& elektrolit

Reaksi
inflamasi
Perubahan konsentrasi ion
diruang ekstraseluler
Proses
demam

Ketidakseimbangan Kelainan neurologis


hipertermia potensial membran perinatal/prenatal
ATPase

Risiko
kejang
berulang Difusi Na+ dan K+

Risiko
Pengobatan KEJANG Cedera
perawatan kondisi, DEMAM
prognosis, lanjut dan Lebih dari
diit 15 menit
Kurang dari
15 menit
Perubahan suplay
darah ke otak

Tidak
menimbulkan
gejala sisa RIsiko kerusakan
sel neuron otak

Risiko ketidakefektifan
perfusi jaringan otak
5
E. Tanda dan gejala
Ada 2 bentuk kejang demam (menurut Lwingstone), yaitu:
1. Kejang demam sederhana (Simple Febrile Seizure), dengan ciri-ciri gejala
klinis sebagai berikut :

a. Kejang berlangsung singkat, < 15 menit


b. Kejang umum tonik dan atau klonik
c. Umumnya berhenti sendiri
d. Tanpa gerakan fokal atau berulang dalam 24 jam
2. Kejang demam komplikata (Complex Febrile Seizure), dengan ciri-ciri
gejala klinis sebagai berikut :

a. Kejang lama > 15 menit


b. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang
parsial
c. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

F. Klasifikasi
A. Kejang demam sederhana
1) Dikeluarga penderita tidak ada riwayat epilepsi
2) Sebelumnya tidak ada riwayat cedra otak oleh penyakit apapun
3) Serangan kejang demam yang pertama terjadi antara usia 6 bulan –
6 tahun
4) Lamanya kejang berlangsung < 20 menit
5) Kejang tidak bersifat tonik klonik
6) Tidak didapatkan gangguan atau abnormalitas pasca kejang
7) Sebelumnya juga tidak didapatkan abnormalitas neurologi atau
abnormalitas perkembangan
8) Kejang tidak berulang dalam waktu sngkat
9) Tanpa gerakan focal dan berulang dalam 24 jam (H. Nabiel Ridha,
2014)

6
B. Kejang demam kompleks
Terdapat gangguan kesadaran, walaupun pada awalnya sebagai
kejang parsial simpleks. Dapat mencangkup otomatisme atau gerakan
otomatik; mengecap-ecapkan bibir, mengunyah, gerakan mencongkel
yang berulang-ulang pada tangan, dan gerakan tangan lainnya. Dapat
tanpa otomatisme tatapan terpaku. (Cecily L.Betz dan Linda A.Sowden,
2002)

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Elektro encephalograft (EEG)
Untuk pemeriksaan ini dirasa kurang mempunyai nilai prognostik. EEG
abnormal tidak dapat digunakan untuk menduga kemungkinan terjadinya epilepsi
atau kejang demam yang berulang dikemudian hari. Saat ini pemeriksaan EEG
tidak lagi dianjurkan untuk pasien kejang demam yang sederhana. Pemeriksaan
laboratorium rutin tidak dianjurkan dan dikerjakan untuk mengevaluasi sumber
infeksi.
2. Pemeriksaan cairan cerebrospinal
Hal ini dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya meningitis,
terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Pada bayi yang masih kecil
seringkali gejala meningitis tidak jelas sehingga harus dilakukan lumbal pungsi
pada bayi yang berumur kurang dari 6 bulan dan dianjurkan untuk yang berumur
kurang dari 18 bulan.
3. Darah
a.  Glukosa Darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang  (N < 200
mq/dl)
b. BUN: Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan
indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat.
c.  Elektrolit : K, Na
Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang
Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl )
Natrium ( N 135 – 144 meq/dl )

7
4. Cairan Cerebo Spinal   : Mendeteksi tekanan abnormal dari CCS tanda
infeksi, pendarahan penyebab kejang.
5.  Skull Ray :Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya
lesi
6. Tansiluminasi    : Suatu cara yang dikerjakan pada bayi dengan UUB
masih terbuka (di bawah 2 tahun) di kamar gelap dengan lampu khusus
untuk transiluminasi kepala.

H. Penaktalaksanaan
1. Pengobatan
a. Pengobatan fase akut
Obat yang paling cepat menghentikan kejang demam adalah
diazepam yang diberikan melalui interavena atau indra vectal.
Dosis awal : 0,3 – 0,5 mg/kg/dosis IV (perlahan-lahan).
Bila kejang belum berhenti dapat diulang dengan dosis yang sama
setelah 20 menit.
b. Turunkan panas
Anti piretika : parasetamol / salisilat 10 mg/kg/dosis.
Kompres air PAM / Os
c. Mencari dan mengobati penyebab
Pemeriksaan cairan serebro spiral dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam
yang pertama, walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan
pungsi lumbal hanya pada kasus yang dicurigai sebagai meningitis,
misalnya bila aga gejala meningitis atau bila kejang demam
berlangsung lama. 
d. Pengobatan profilaksis
Pengobatan ini ada dalam cara : profilaksis intermitten / saat
demam dan profilaksis terus menerus dengan antikanulsa setiap
hari. Untuk profilaksis intermitten diberikan diazepim secara oral
dengan dosis 0,3 – 0,5 mg/hgBB/hari.
e. Penanganan sportif

8
1) Bebaskan jalan napas
2) Beri zat asam
3) Jaga keseimbangan cairan dan elektrolit
4) Pertahankan tekanan darah

2. Pencegahan
a. Pencegahan berkala (intermitten) untuk kejang demam sederhana. Beri
diazepam dan antipiretika pada penyakit-penyakit yang disertai demam.
b. Pencegahan kontinyu untuk kejang demam komplikasi
Dapat digunakan :
Penobarbital : 5-7 mg/kg/24 jam dibagi 3 dosis
Fenitorri : 2-8 mg/kg/24 jam dibagi 2-3 dosis
Diazepam : (indikasi khusus)

I. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi Berhubungan dengan penyakit
2. Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak/cerebral berhubungan dengan
kerusakan sel neuron otak
3. Risiko cedera berhubungan dengan gangguan mekanisme pertahanan primer
J. Intervensi
DIAGNOSA NOC NIC
KEPERAWATAN
indikator IR ER
Hipertermia
Peningkata
Risiko Setelah
Setelah dilakukan
dilakukan tindakan
tindakan NICNIC::pengaturan
Monitor suhu
n suhuBerhubungan
ketidakefektifan keperawatan
kulit keperawatanmasalah hipertermia
masalah Monitor suhuTekanan
Risiko 1.(Pemantauan) paling
Hipertermia
dengan
perfusipenyakit.
Menggigil jaringan dapat teratasi.
ketidakefektifan tidak
perfusi jaringan Intra setiap(TIK)
Kranial 2 jam,

otak/cerebral NOC : Termoregulasi


otak/cerebral dapat teratasi. 1. sesuaiMonitor
kebutuhan
tekanan
saat dingin
Berkeringat
berhubungan 2. Monitor
aliran darahsuhu
otak dan
NOC : Perfusi Jaringan :
saat panas
dengan kerusakan 2. warnaMonitor
kulit status
Denyut nadi Serebral
sel neuron otak 3. Tingkatkan
neurologis intake
radial Indikator IR ER
Tekanan darah 3. cairanMonitor
dan intake
nutrisi
adekuat
dan output
sistolik
Tekanan darah 4. Sesuaikan
4. suhu
Letakkan kepala
lingkungan untuk
kebutuhan pasien
9
5. Berikan pengobatan
antipiretik, sesuai
kebutuhan
diastolik dan leher pasien
Sakit Kepala dalam posisi netral,
Mengerang dan
hindari fleksi
menangis
Kegelisahan pinggang yang
Kelesuan berlebihan
Muntah
Demam 5. Sesuaikan kepala
tempat tidur untuk
mengoptimalkan
perfusi serebral

Risiko cedera Setelah dilakukan tindakan NIC : Manajemen


berhubungan keperawatan masalah Risiko Lingkungan :
dengan gangguan Cedera dapat teratasi. Keselamatan
mekanisme 1. Identifikasi kebutuhan
NOC : Keparahan Cedera
pertahanan primer keamanan pasien
Fisik
berdasarkan fungsi
Indikator IR ER
Lecet pada kulit fisik dan kognitif serta
Cedera gigi riwayat perilaku di
Pendarahan
masa lalu
2. Identifikasikan hal-hal
yang membahayakan
di lingkungan
(misalnya, [bahaya]
fisik, biologi, dan
kimiawi)
3. Singkirkan bahan
berbahaya dari
lingkungan jika
diperlukan

10
BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Kejang demam adalah suatu keadaan dimana bangkitan kejang yang

terjadi karena peningkatan suhu tubuh (suhu rectal > 380 C yang sering di jumpai

pada usia anak dibawah lima tahun. Kejang demam merupakan kelainan

neurologis yang sering dijumpai pada saat seorang bayi atau anak mengalami

demam tanpa infeksi sistem saraf pusat. Kejang demam biasanya terjadi pada

awal demam. Anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku,

kelojotan dan memutar matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa waktu,

napas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah

kejang, anak akan segera normal kembali. Kejang biasanya berakhir kurang dari 1

menit, tetapi walaupun jarang dapat terjadi selama lebih dari 15 menit.

11
Oleh karena itu, sangat penting bagi para orang tua untuk melakukan

pemeriksaan sedini mungkin pada anaknya agar hal-hal yang tidak di inginkan

dapat diketahui secara dini sehingga kejang demam dapat dicegah sedini mungkin

D. Saran

Kepada pembaca terutama orangtua dan tenaga medis diharapkan dengan

adanya makalah ini dapat memahami dan mempraktekkan dalam kehidupan

sehari-hari bagaimana tindakan yang dapat dilakukan jika anak atau pasien

anakmenderita Varicella dan tindakan yang dilakukan untuk mencegah Kejang

Demam pada anak.

DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, G.M., Butcher, H.K., Dochterman, J.M., Wagner, C.M. 2016. Nursing


Interventions Classification (NIC), 6th Indonesian editions. Singapore : Elsevier,
Indonesia : Mocomedia
Moorhed, S., Johnson, M., Maas, L.M., Swanson, E. 2016. Nursing Outcomes
Classification (NOC), 5th Indonesian editions. Singapore : Elseiver, Indonesia :
Mocomedia
North American Nursing Diagnosis Association (NANDA). 2015.  Diagnosis
Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2015-2017. Jakarta : EGC.

12