Anda di halaman 1dari 7

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TN Z

DENGAN BPH POST TURP

A. PENGKAJIAN
I. Identitas Klien
Nama : TN Z

Umur : 71 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Alamat : RT 02/ RW 04 Kelurahan Tebet

Status : Menikah

Pekerjaan : Pedagang

Pendidikan : SR

Masuk RS : 25 Februari 2008

No RM : 3020053

Ruangan : IRNA A IV Kanan

Tgl Pengkajian : 26 Februari 2008, pukul 11.00 WIB pasien

post TURP hari ke-0

II. Keluhan Utama :


Tidak bisa bisa kencing, pasien rencana operasi.

Riwayat Singkat Pasien

Tanggal 20 Desember 2007, sekitar jam 14.00 pasien merasa kencingnya seret, kurang
merasa lega setelah kencing. Sebelumnya pasein mengeluh sering kencing pada malam hari
4-6 kali dalam semalam). Jam 16.00, pasien tidak bisa kencing dan perut bagian bawah terasa
penuh dan tegang serta sakit. Oleh keluarga dibawa ke rumah sakit terdekat. Dirumah sakit
tersebut pasien dipasang kateter (pasien tidak tahu penyakitnya). Pasien pulang pada tangga
itu juga dengan menggunakan kateter. Pasien melakukan rawat jalan. Setetah satu minggu
rawat jalan kateter dibuka dan pasien dapat kencing seperti semula.
Tanggal 10 Januari 2008, pasien mengeluh tidak bisa kencing dan disertai dengan perdarahan
saat kencing. Oleh keluarga diajak ke RSUPNCM. Pasien didiagnosa BPH. Pasien dipasang
kateter dan melakukan perawatan jalan sambil menunggu jadwal opersi.

Tanggal 25 Februari 2008 pasien masuk rumah sakit RSUPNCM untuk dilakukan operasi
TURP. Pasien dirawat di ruang 308 IRNA B IV Kanan, RSUPNCM.

Tanggal 26 Februari 2008 pasien dioperasi TURP. Jam 11 pasien diantar kembali keruang
rawat.

Riwayat Kesehatan Dahulu :

Pasien tidak memiliki riwayat penyakit hipertensi, DM dan jantung. Tidak Ada riwayat
keluarga dengan DM.

III. Pola – pola fungsi kesehatan


1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Kebiasaan merokok (-)penggunaan obat bebas (-), ketergantungan terhadap bahan kimia
(-), konsumsi jamu (-).
2. Pola nutrisi dan metabolisme
Sebelum masuk RS klien makan 3x sehari dengan porsi cukup, saat masuk RS postop hari
ke-0 pasien masih puasa.
3. Pola eliminasi
Pasien belum BAB karena puasa dan post op hr ke -0. Pasien terpasang kateter irigasi.
Urine 200 cc, warna merah, bekuan darah tidak adan dan debris tidak ada.
4. Pola tidur dan istirahat
Pasien biasanya tidur malam jam 21.00 WIB dan tidak biasa tidur siang, karena pasien
berjualan buah di pasar Tebet. Selama di rumah sakit pasien tidak ada keluahan dalam
istirahat dan tidur.
5. Pola aktivitas
Kegiatan klien sehari-hari sebelum sakit bekerja sebagai pedagang buah (bekerja selama
10-11 jam sehari).
IV. Pola Sensori dan kognitif
Sensori : Penciuman, rasa, raba dan pendengaran baik

Kognitif : Proses berfikir, isi pikir dan daya ingat baik.

V. Pola Penanggulangan stress


Penyebab stress, mekanisme terhadap stress, adaptasi terhadap stress dan
pertahanan diri, biasanya pasien tanggulangi dengan berdoa dan ngobrol dengan
teman-temannya saat di pasar.

VI. Kebutuhan belajar


Keluarga mengatakan tidak tahu apa yang harus dilakukan agar pasien cepat
sembuh Keluarga dan pasien salah menyebutkan penyakit pasien. Kurang tepat
dalam mengikuti program terapi (pasien mau diberi minum)

VII. Pemeriksaan Fisik


1. Status Kesehatan Umum
TD : 130/80 mmHg Suhu : 36,5 0C Nafas : 20 x/menit Nadi 100 x/menit,
BB 46 kg, TB 160 cm. Kesadaran Composmentis.

2. Sistem Integument
Kulit teraba dingin dan perfusi perifer cukup, kelembaban cukup.

3. Kepala
Kepala simetris, kulit kepala dan rambut bersih.

4. Muka
Simetris, bells palsy tidak ada, tic facialis tidak ada dan tidak ada kelainan
kongenital

5. Mata
Gangguan pengelihatan tidak ada, reaksi cahaya +/+, pupil bulat miosis, isokor
 3/3 mm. Konjunctiva tidak anemis, sclera tidak ikterik. Pergerakan bola
mata baik
6. Telinga
Berdengung tidak ada, secret -/-, serumen -/-, benda asing tidak ada, gangguan
pendengaran tidak ada.

7. Hidung
Tidak ada gangguan penciuman, simetris, epistaksis tidak ada

8. Mulut dan Faring


Mulut simetris, lidah simetris, mukosa mulut dan bibir lembab

9. Leher
Simetris, kaku kuduk tidak ada, pembesaran kelenjar getah bening dan
pembesaran vena jugularis (-). Kemampuan menelan baik.

10. Thoraks
I : Dada simetris dan tidak ada retraksi dada.

P : tidak ada benjolan, nyeri dada tidak ada,

P:-

A : ronkhi -/-. Wheezing -/-, suara S1/S2 murni, murmur tidak ada

11. Abdomen
Datar, lemas, Bising usus (-), tidak teraba massa. Distensi kandung kemih
tidak ada.

12. Inguinal-Genital-Anus
Tidak ada perdarahan pada orifisium uretra, terpasang katetr irigasi dan traksi
kateter.

13. Ekstremitas
Akral dingin, perfusi perifer cukup, kelembaban baik. Nyeri tidak ada.
Kesemutan( +), edema (-), denyut nadi dorsal pedis (+), CRT < 3”.

VIII. Status Neurologis


IX. Pemeriksaan Penunjng
Tanggal 16 Februari 2008 : PSA : 54,77 (N : ≤ 40 ng/ml)
Tanggal 25 Februari 2008:
Lab darah :
Hb : 14,2 g% Ht : 41,9%
Leukosit : 10.00 103/ul Trobosit : 337.000
MCV : 80,1 MCH : 271
MCHC : 33,9 Ureum : 36, 5 mg/dl
Kreatinin : 1,5 mg/dl Cl : 106 mEq/l
Natrium : 138 mEq/l Kalium : 5,01 mEq/l

Pemeriksaan Diagnostik :

Biopsi Prostat (21 Februari 2008) : hiperplasia prostat

Kasus :Kaitan dengan teori dan kasus, lakukan analisis

1. Berdasarkan kasus diatas, mengapa terjadi gejala – gejala tersebut , bagaimana


pathwaynya? Kaitkan dengan hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan.

2. Pemeriksaan apa yang perlu dilakukan (pemeriksaan fisik dan penunjang) pada pasien
tersebut, mengapa harus dilakukan pada pasien tersebut. Bandingkan antara teori dan
kasus

3. Apa yang dilakukan sebelum pemasangan TURP dan Mengapa pasien dilakukan
TURP, apa yang harus dimonitor oleh perawat setelah pemasangan TURP.
Komplikasi apa yang muncul pada pasien BPH dan mengapa dapat terjadi?
.Bandingkan antara teori dan kasus

4. Bagaimana masalah keperawatan, intervensi keperawatan beserta rasionalnya, data


apa yang mendukung terhadap penegakan masalah keperawatan pada pasien
tersebut.Bandingkan teori dan kasus.
JAWABAN NO 1

Gejala pada kasus di atas :

 Tidak bisa bisa kencing,


 kencingnya seret,
 kurang merasa lega setelah kencing.

Pada kasusu BPH ini proses pembesaran prostate ini terjadi secara perlahan-lahan, sehingga
perubahan pada saluran kemih juga terjadi penyempitan lumen uretra prostatika dan akan
menghambat aliran urine, keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk
dapat mengeluarkan urine, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan
tersebut. Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli
berupa hipertrofi otot detrusor (menebal dan meregang) sehingga terbentuklah selula, sekula
dan divertikel buli-buli.
Fase penebalan detrusor ini disebut juga fase kompensasi. Dan apa bila berlanjut, maka
detrusor akan mengalami kelelahan dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu
lagi untuk berkontraksi, sehingga terjadi retensio urine yang selanjutnya dapat menyebabkan
hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas. (Arief Manjoer, et al, 2000)
Turp merupakan pembedahan bph yang paling sering di lakukan dimana endoskopi
dimasukkan melalui penis (uretra).
PATWAY