Anda di halaman 1dari 11

KEPALA DESA …………….

KECAMATAN SEBATIK TIMUR


KABUPATEN NUNUKAN

RANCANGAN PERATURAN DESA


NOMOR …… TAHUN 2020

TENTANG

KERJA SAMA DESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


KEPALA DESA ……………………

Menimbang : a. bahwa Desa memiliki hak asal usul dan hak


tradisional dalam mengatur dan mengurus
kepentinganmasyarakat setempat dan berperan
mewujudkan cita-cita kemerdekaan berdasarkan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;

b. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 91,


Pasal 92 ayat 1 Undang-undang Nomor 6 tahun 2014
tentang Desa jucto Pasal 143 ayat 2 Peraturan
Pemerintah Nomor 43 tahun 2014 tentang Peraturan
Pelaksana Undang-undang Nomor 6 tahun 2014
tentang Desa;

c. bahwa untuk mengoptimalkan penyelenggaraan


Pemerintahan Desa, pelaksanaan pembangunan Desa,
pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan
masyarakat Desa, perlu menetapkan Peraturan Desa
…………….. Badan Kerjasama Desa ………………..

Mengingat : 1. Undang–Undang Nomor 47 Tahun 1999 tentang


Pembentukan Kabupaten Nunukan, Kabupaten
Malinau, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai
Timur dan Kota Bontang (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 175, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3896)
sebagaimana telah diubah dengan Undang – Undang
Nomor 7 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang
– Undang Nomor 47 Tahun 1999 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 74, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3962);
2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5495);

3. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang


Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6
tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 213, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5539)
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 47 Tahun 2015 tentang Perubahan
atas Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014
tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 157,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5717);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang


Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara(Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 168,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5558) sebagaimana telah diubah terakhir kali
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2016
tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2014 tentang
Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 57, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5864);

5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 111 Tahun


2014 tentang Pedoman Teknis Peraturan di Desa
(Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor
2091);

6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun


2018 tentang Pengelolaan Keuangan Desa (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2018 Nomor 2093);

7. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah


Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 2 Tahun 2015
tentang Pedoman Tata Tertib dan Mekanisme
Pengambilan Keputusan Musyawarah Desa (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 159);

8. Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah


Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun 2015
tentang Pendirian, Pengurusan Dan Pengelolaan, dan
Pembubaran Badan Usaha Milik Desa (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 296);

Dengan ini bersama


BADAN PERMUSYAWARATAN DESA…………….
DAN
KEPALA DESA ………………..

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN DESA ………….. TENTANG KERJASAMA


DESA …………………………………….

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

1. Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan
nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan
masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang
berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat
berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul,
dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam
sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
3. Pemerintah Desa adalah kepala Desa atau yang disebut
dengan nama lain dibantu perangkat Desa sebagai unsur
penyelenggara Pemerintahan Desa.
4. Peraturan Desa adalah peraturan perundang-undangan
yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan
disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa.
5. Badan Permusyawaratan Desa atau yang disebut dengan
nama lain, yang selanjutnya disebut BPD adalah lembaga
yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya
merupakan wakil dari penduduk Desa berdasarkan
keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis.
6. Pembangunan Desa adalah upaya peningkatan kualitas
hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya
kesejahteraan masyarakat Desa.
7. Aset Desa adalah barang milik desa yang berasal dari
kekayaan asli desa, dibeli atau diperoleh atas beban
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa atau perolehan
hak lainnya yang sah.
8. Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban Desa
yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu
berupa uang dan barang yang berhubungan dengan
pelaksanaan hak dan kewajiban Desa.
9. Pemberdayaan Masyarakat Desa adalah upaya
mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan
masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap,
keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta
memanfaatkan sumber daya melalui penetapan kebijakan,
program, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan
esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat Desa.
10. Kerjasama Desa adalah suatu rangkaian kegiatan bersama
antar desa atau desa dengan pihak ketiga dalam bidang
pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.
11. Badan kerjasama desa yang selanjutnya disebut BKD
adalah badan kerjasama desa yang menjalankan
kerjasama desa dengan desa lain dan/atau kerjasama
desa dengan pihak ketiga.
12. Pihak Ketiga adalah Lembaga, Badan Hukum dan
perorangan di luar pemerintahan desa.
13. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa selanjutnya
disingkat APBDesa adalah rencana keuangan tahunan
pemerintahan desa yang dibahas dan disetujui bersama
oleh Pemerintah Desa dan BPD yang ditetapkan dengan
Peraturan Desa.

BAB II
RUANG LINGKUP KERJA SAMA

Pasal 2
Ruang Lingkup Kerjasama Desa meliputi:
a. Kerja sama antar-Desa; dan
b. Kerja sama Desa dengan pihak ketiga.

Pasal 3

(1) Desa dapat melakukan kerjasama antar-Desa sesuai


dengan kewenangan yang dimilikinya.
(2) Desa dapat melakukan kerjasama dengan pihak ketiga.

Pasal 4

Ruang lingkup kerjasama antar-Desa sebagaimana dimaksud


dalam pasal 3 ayat (1) meliputi bidang :
a. Pengembangan usaha bersama yang dimiliki oleh desa
untuk mencapai nilai ekonomi yang berdaya saing;
b. Kegiatan kemasyarakatan, pelayanan, pembangunan, dan
pemberdayaan masyarakat antar-desa; dan/atau
c. Keamanan dan ketertiban.

Pasal 5

(1) Ruang lingkup bidang kerjasama Desa dengan pihak


ketiga sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (2)
meliputi :
a. Meningkatkan pelayanan pemenuhan kebutuhan
dasar;
b. Mengadakan sarana prasarana desa;
c. Melestarikan sumberdaya alam dan lingkungan desa;
d. Meningkatkan kapasitas desa dalam
menyelenggarakan pemerintahan desa;
e. Meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan
desa;
f. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan
desa;
g. Meningkatkan partisipasi masyarakat;
h. Menguatkan peran dan fungsi lembaga
kemasyarakatan.

(2) Ruang lingkup bidang kerjasama Desa dengan pihak


ketiga bersifat strategis meliputi :
a. Pengembangan ekonomi Perdesaan;
b. Pengembangan dan pelestarian sosial budaya
masyarakat desa;
c. Pengembangan dan perlindungan kearifan lokal desa;
d. Pengembangan dan perlindungan aset desa; dan
e. Hal-hal lain yang disepakati melalui musyawarah desa.

Pasal 6

(1) Bidang kerjasama antar-Desa sebagaimana dimaksud


dalam pasal 4 huruf a meliputi :
a. kerjasama BUM Desa antar-Desa;
b. pembentukan BUM Desa bersama;
c. pendayagunaan sumberdaya alam dan lingkungan;
d. pengembangan pasar antar-Desa;
e. pengembangan sarana prasarana ekonomi antar-Desa;
f. pengembangan komoditas unggulan desa;
g. pengembangan dan pengelolaan aset dana bergulir
hasil kegiatan Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat Mandiri Perdesaan dan dana bergulir hasil
program lainnya.

(2) Bidang kerjasama antar-Desa sebagaimana dimaksud


dalam pasal 4 huruf b meliputi :
a. pengembangan kapasitas pemerintah Desa, Badan
Permusyawaratan Desa, kelembagaan kemasyarakatan
Desa, BUM Desa, dan unsur masyarakat Desa lainnya;
b. pengembangan sistem dan kelembagaan hasil Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan
dan Program Pemberdayaan lainnya;
c. pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak;
d. peningkatan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan
pembangunan antar-Desa;
e. pengembangan seni dan budaya;
f. peningkatan mutu layanan kebutuhan dasar kepada
g. masyarakat antar-Desa;

(3) Bidang kerjasama antar-Desa sebagaimana dimaksud


dalam pasal 4 huruf c meliputi :
a. Peningkatan keamanan dan ketertiban masyarakat
antar desa;
b. Pencegahan dan penyelesaian masalah sosial ;
c. Pencegahan dan penyelesaian konflik antar desa;

Pasal 7

Kerjasama antar-Desa dapat dilakukan antara:


(1) Desa dengan Desa dalam 1 (satu) Kecamatan; dan
(2) Desa dengan Desa di lain Kecamatan dalam satu
kabupaten / kota.
Pasal 8

Apabila Desa dengan Desa di lain Kabupaten dalam 1 (satu)


Provinsi mengadakan kerjasama maka harus mengikuti
ketentuan Kerjasama Antar-Daerah.

Pasal 9

Kerjasama Desa dengan pihak ketiga dapat dilakukan dengan


perseorangan, lembaga swadaya masyarakat, perguruan
tinggi, organisasi kemasyarakatan, atau perusahaan sesuai
dengan obyek yang dikerjasamakan.

Pasal 10

(1) Pelaksanaan Kerja sama Desa tidak boleh bertentangan


dengan Arah kebijakan Daerah dan Desa yang tertuang
dalam Dokumen Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Desa;
(2) Pelaksanaan Kerjasama Desa yang menyangkut
penggunaan kekayaan Desa harus dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Pasal 11

(1) Pelaksanaan kerjasama antar-Desa diatur dengan


Peraturan Bersama Kepala Desa;
(2) Pelaksanaan kerjasama Desa dengan pihak ketiga diatur
dengan Perjanjian Bersama yang disyahkan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
tentang perjanjian kerjasama.

BAB III
TATA CARA DAN KETENTUAN PELAKSANAAN
KERJASAMA
Pasal 12

(1) Rencana kerjasama Desa dibahas dalam musyawarah


Desa dan dipimpin oleh Ketua Badan Permusyawaratan
Desa;
(2) Musyawarah Desa yang diselenggarakan dalam rangka
Rencana kerjasama antar-Desa atau kerjasama Desa
dengan pihak ke tiga membahas antara lain:
a. Ruang lingkup dan bidang kerjasama;
b. Tata cara dan ketentuan pelaksanaan kerjasama;
c. Delegasi desa dalam badan kerjasama antar-Desa
d. Delegasi Desa dalam pembahasan kerjasama desa
dengan pihak ke tiga;
e. Jangka waktu;
f. Hak dan kewajiban;
g. Pendanaan;
h. Tata cara perubahan, penundaan dan pembatalan;
i. Penyelesaian perselisihan; dan
j. Lain-lain ketentuan yang diperlukan
(3) Delegasi Desa sebagaimana dimaksud dalam pasal 12
ayat (2) huruf c dan huruf d dipimpin oleh kepala desa
dan beranggotakan dari unsur meliputi:
a. Perangkat Desa;
b. Anggota BPD;
c. Lembaga Kemasyarakatan Desa;
d. Lembaga Desa lainnya; dan
e. Tokoh Masyarakat dengan mempertimbangkan
keadilan Gender.
(4) Keputusan Musyawarah Desa perihal delegasi desa
sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) menjadi lampiran
dari berita acara hasil musyawarah desa dan untuk
selanjutnya ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala
Desa.

Pasal 13

(1) Hasil kesepakatan pembahasan rencana kerjasama Desa


sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 dibahas bersama
dengan Desa lain melalui musyawarah antar desa.
(2) Hasil pembahasan rencana kerja sama Desa sebagaimana
yang dimaksud dalam ayat (1) dituangkan dalam
rancangan Peraturan Bersama Kepala Desa untuk
selanjutnya dibahas dan ditetapkan oleh Kepala Desa
yang melakukan kerja sama menjadi Peraturan bersama
Kepala Desa.
(3) Hasil kesepakatan pembahasan rencana kerja sama Desa
dengan pihak ke tiga sebagaiman dimaksud dalam pasal
12 dibahas antara delegasi Desa dengan pihak ke tiga
hasil pembahasan selanjutnya dituangkan dalam
perjanjian bersama.
(4) Peraturan bersama atau perjanjian bersama paling sedikit
memuat :
a. Ruang lingkup kerjasama;
b. Bidang kerjasama;
c. Tata cara dan ketentuan pelaksanaan kerjasama;
d. Jangka waktu;
e. Hak dan kewajiban;
f. Pendanaan;
g. Tata cara perbahan, penundaan, dan pembatalan; dan
h. Penyelesaian perselisihan.

Pasal 14

1. Kerja sama antar-Desa sebagaimana dimaksud dalam


pasal 13 ayat (2) dilaksanakan oleh Badan Kerjasama
antar-Desa
2. Badan Kerja sama antar-Desa sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dibentuk atas dasar kesepakatan
musyawarah antar-Desa dan ditetapkan melalui
Peraturan Bersama Kepala Desa.
3. Badan kerja sama antar-Desa Melaksanakan Peraturan
Bersama Kepala Desa dan ketentuan lain yang ditetapkan
dalam Musyawarah antar-Desa;
4. Ketentuan Teknis tentang Badan Kerja sama antar-Desa
diatur lebih lanjut dalam Peraturan Bersama Kepala Desa.
BAB IV
JANGKA WAKTU

Pasal 15

Jangka waktu kerjasama Desa ditentukan dalam kesepakatan


oleh para pihak yang melakukan kerjasama yang dituangkan
dalam Peraturan Bersama Kepala Desa atau perjanjian
bersama.

Pasal 16

(1) Penentuan jangka waktu Kerjasama Desa sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 15 antara lain harus
memperhatikan:
a. Ketentuan yang berlaku;
b. Ruang lingkup;
c. Bidang kerjasama;
d. Pembiayaan;
e. Ketentuan lain mengenai Kerjasama Desa.

(2) Penentuan jangka waktu Kerjasama Desa sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) memperhatikan saran dari Camat
selaku pembina dan pengawas Kerjasama Desa.

BAB V
HAK DAN KEWAJIBAN

Pasal 17

(1) Desa berhak:


a. mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat
berdasarkan hak asal usul, adat istiadat dan nilai
sosial budaya masyarakat Desa;
b. mendapatkan nilai manfaat dari hasil kerjasama;
c. mendapatkan sumber pendapatan dari hasil usaha
bersama antar-Desa atau pihak ke tiga;
d. Mengirim delegasi desa pada musyawarah antar-Desa;
dan
e. Menyampiakan pendapat pada musyawarah antar-
Desa.
f. Menerima hasil kerjasama antar desa sebagai
pendapatan asli desa dan dituangkan dalam Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa.
(2) Desa berkewajiban:
a. Mematuhi peraturan bersama kepala desa;
b. Mematuhi tata tertib musyawarah antar-Desa;
c. Berpartisipasi dalam pembiayaan kerja sama antar-
Desa yang telah disepakati pada musyawarah antar-
Desa;
d. Membayar biaya kerugian yang diakibatkan dalam
kerja sama antar-Desa;
e. Menjalankan Perjanjian Bersama antara desa dengan
pihak ke tiga;
f. Melindungi dan menjaga persatuan kesatuan, serta
kerukunan dengan para pihak yang melakukan kerja
sama.

Pasal 18

Pihak ke tiga yang melakukan kerja sama Desa mempunyai


kewajiban:
a. Mentaati segala ketentuan yang telah disepakati bersama;
b. Memberdayakan masyakat desa;
c. Mempunyai orientasi meningkatkan kesejahteraan
masyarakat; dan
d. Mengembangkan potensi obyek yang dikerjasmakan
dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup.

BAB VI
TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB

Pasal 19

(1) Kepala Desa selaku pemimpin penyelenggaraan


pemerintahan Desa mempunyai tugas memimpin
pelaksanaan kerjasama antarDesa;
(2) Kepala Desa mempunyai tugas mengkoordinasikan
penyelenggaraan kerjasama antar-Desa secara
partisipatif;
(3) Kepala Desa wajib memberikan laporan keterangan
pertanggungjawaban pelaksanaan kerjasama antar-Desa
kepada masyarakat melalui BPD.

BAB VII
PENDANAAN

Pasal 20

(1) Kerjasama Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2


yang membebani masyarakat dan desa, harus
mendapatkan persetujuan BPD;
(2) Segala kegiatan, biaya dan pendapatan dari bentuk
Kerjasama Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
wajib dituangkan dalam APBDesa.

Pasal 21

Pendanaan dalam rangka Kerjasama Desa dibebankan


kepada pihak- pihak yang melakukan kerjasama;

BAB VIII
PERUBAHAN, PENUNDAAN DAN PEMBATALAN

Pasal 22

Perubahan, penundaan dan pembatalan Kerjasama Desa


harus dimusyawarahkan untuk mencapai mufakat dengan
melibatkan berbagai pihak yang terikat dalam Kerjasama
Desa.
Pasal 23

Perubahan kerjasama Desa dapat dilakukan apabila:


a. terjadi situasi force majeur;
b. atas permintaan salah satu pihak yang melakukan kerja
sama;
c. atas hasil pengawasan dan evaluasi Badan
Permusyawaratan Desa;
d. kerjasama desa telah habis masa berlakunya.

Pasal 24

Penundaan kerjasama Desa dapat dilakukan apabila:


a. terjadi situasi force majeur;
b. atas permintaan salah satu pihak yang melakukan
kerjasama;

Pasal 25

Pembatalan kerjasama desa dapat dilakukan apabila:


a. salah satu pihak dan atau kedua belah pihak melanggar
kesepakatan;
b. kerjasama desa bertentangan dengan ketentuan diatasnya;
dan
c. merugikan kepentingan masyarakat.

BAB IX
PENYELESAIAN PERSELISIHAN

Pasal 26

Setiap perselisihan yang timbul dalam Kerjasama Desa harus


diselesaikan secara musyawarah dan mufakat serta dilandasi
dengan semangat kekeluargaan.

Pasal 27

(1) Perselisihan Kerjasama Desa dalam satu Kecamatan,


difasilitasi dan diselesaikan oleh Camat;
(2) Perselisihan Kerjasama Desa lain Kecamatan pada satu
Kabupaten/Kota difasilitasi dan diselesaikan oleh
Bupati/Walikota;
(3) Perselisihan Kerjasama Desa lain Kabupaten/Kota dalam
satu Provinsi difasilitasi dan diselesaikan oleh Gubernur.

Pasal 28

Penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 26 bersifat final dan ditetapkan dalam suatu
keputusan.

BAB X
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

Pasal 29
(1) Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota wajib membina
dan mengawasi pelaksanaan Kerjasama Desa;
(2) Pembinaan dan Pengawasan Pemerintah Provinsi dan
Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. menetapkan pengaturan yang berkaitan dengan
kerjasama desa;
b. memberikan pedoman teknis pelaksanaan kerjasama
desa;
c. melakukan evaluasi dan pengawasan pelaksanaan
kerjasama desa; da
d. memberikan bimbingan, supervisi dan konsultasi
pelaksanaan kerjasama desa.

BAB XI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 30
Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan ini sepanjang
mengenai pelaksanaannya, diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Kepala Desa.

Pasal 31

Peraturan Kepala Desa ini mulai berlaku pada tanggal


diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan


pengundangan Peraturan Kepala Desa ini dengan
penempatannya dalam Berita Desa.

Ditetapkan di ……………………….
pada tanggal ……..Maret 2020

KEPALA DESA …………………………

(NAMA)

Diundangkan di………………….
pada tanggal …..Maret 2020
SEKRETARIS DESA………………

(NAMA)

LEMBAR DESA………………… TAHUN ……….. ,Nomor …………..