Anda di halaman 1dari 26

Bisnis.

com, DENPASAR - Perusahaan China turut menyuntukkan dana untuk


pembangunan bandara Bali Utara. 

Investor PT Pembangunan Bali Mandiri (Pembari) dan Power Construction


Corporation of China (PowerChina) melakukan penandatanganan kerja sama
untuk membangun Bandara di Bali Utara tepatnya di kawasan
Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali.

"Kami sangat serius menggandeng mitra lokal maupun mitra asing untuk
mewujudkan niat masyarakat Bali Utara mempunyai bandara baru dalam
rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat Bali Utara yang saat ini
tertinggal jauh oleh saudara-saudara mereka di Bali Selatan," kata Chairman
PT Pembari, K Suardhana dalam keterangan pers yang diterima Antara di
Denpasar, Kamis (10/5/2018).

Penandatanganan kerja sama itu berbarengan dengan kunjungan


kenegaraan Perdana Menteri China, Li Keqiang di Indonesia pada Senin (7/5).

Dalam kinjungan kenegaraanga PM Li Keqiang menginstruksikan kepada


perusahaan-perusahaan China untuk lebih banyak lagi berinvestasi di
Indonesia, baik itu di bidang infrastruktur maupun di bidang usaha lainnya
dengan catatan lebih banyak menggunakan tenaga kerja lokal Indonesia.

Bersamaan dengan kunjungan Perdana Menteri China, Li Keqiang beberapa


perusahaan China juga melakukan kunjungan Bisnis ke Indonesia pada
Selasa (8/5) di Jakarta. Salah satu delegasi China menjalin kesepakatan kerja
sama dengan PT Pembari untuk bekerja sama membangun bandara baru di
kawasan Bali Utara tepatnya di daratan Desa Kubutambahan, Kabupaten
Buleleng, Bali.

Penandatanganan kerja sama dihadiri langsung oleh Pimpinan Refresentatif


Power China Sinohydro corporation di Indonesia, Sun Xiaopeng dan Chairman
PT Pembari, K Suardhana di Jakarta.

K Suardhana mengatakan bahwa walaupun PT Pembari sebagai investor


utama pembangunan Bandara di Bali Utara telah menggandeng perusahaan
dari China, namun tetap menggunakan tenaga kerja lokal.

"Dalam perjanjian kerja sama itu sudah tertuang kesepakatan dalam


pembangunannya nanti tetap lebih banyak menggunakan tenaga kerja lokal
atau Indonesia, hanya tenaga kerja khusus di bidangnya yang menggunakan
tenaga kerja asal China," ujarnya.
Bersamaan dengan penandatanganan kerja sama itu rencana pembangunan
Bandara Bali Utara melalui PT Pembaei juga telah mendapat surat dukungan
dari Bank of China, Jakarta Branch.

Dengan demikian konsorsium kerja sama pembangunan Bandara Bali Utara


(Batara) akan lebih kuat secara Financial dan lebih profesional dalam
kemampuan pembangunannya.

Hal itu merupakan tindak lanjut atau respons positif atas saran atau anjuran
Menko Bidang Kemaritiman Luhut B Pandjaitan agar Konsorsium PT Pembari
memperkuat aspek pendanaan dan aspek teknis pelaksanaan
pembangunannya.

Perlu diketahui bahwa sebelumnya PT Pembari juga telah menjalin kerja


sama dengan BUMD BALI ( PT. PERUSDA BALI) dan BUMN PT. WIKA.tbk dan
ADHI KARYA tbk.

Pimpinan Representatif Power China Sinohydro corporation, Sun Xiaopeng


menyambut baik ajakan kerja sama antara Power China dan Pembari agar
dalam pelaksanaan proyek Bandara Bali Utara lebih banyak menggunakan
tenaga kerja lokal.

Power China - Sinohydro merupakan perusahan milik negara Tirai Bambu


yang telah lama beroperasi di Indonesia dan bahkan telah mengerjakan
beberapa mega proyek seperti Bendungan Jati Gede, Power Plant di
Bengkulu dan beberapa proyek besar lainnya.

Power China-Sinohydro juga berpengalaman membangun bandara di China


dan di beberapa negara besar lainnya serta termasuk perusahaan
multinasional urutan ke 190 dalam daftar FORTUNE 500.

Ikuti perkembangan terkini tentang gempa di Palu dan


penanganannya di sini.

Sumber : Antara

JAKARTA – Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara


diharapkan tetap berlanjut. Hal itu mengingat kapasitas Bandara
Internasional Ngurah Rai yang berada di sebelah selatan Bali sudah
melebihi kapasitas (overload).
Bandara yang berlokasi di Kabupaten Buleleng, Bali utara ini akan
menjadi salah satu fokus pengembangan infrastruktur. Diharapkan
pembangunan bandara ini akan membuat ekonomi di wilayah Bali
semakin merata.

BERITA TERKAIT+
 11 Oktober, Runway Bandara Palu Selesai dan Bisa Didarati
Pesawat Badan Besar
 Perbaikan Bandara di Sulteng Telan Dana Rp60 Miliar, Rampung
Satu Bulan
 Cerita di Balik Gempa dan Tsunami, Taji Bandara Palu yang
Tengah Memudar
“Saya akan ke Jakarta, berjuang agar Bandara Buleleng segera
diwujudkan,” ujar Calon Gubernur Bali Wayan Koster, Jumat
(29/6/2018).
Selain pembangunan Bandara Bali Utara, Koster yang unggul dalam
htung cepat pilkada Bali ini juga akan merancang Undang-Undang
(UU) untuk mengganti UU Nomor 64 Tahun 1958 tentang
pembentukan daerah tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa
Tenggara Timur. Usulan RUU itu dinamai RUU tentang Provinsi Bali.
Tujuan pengusulan undang-undang itu, ucap Koster, agar Pulau
Dewata memiliki undang-undang tersendiri sebagai pembentukan
Provinsi Bali maupun menyelenggarakan pembangunan sesuai
keunikan yang dimiliki Bali.
“Kami akan mengintegrasikan pembangunan satu pulau, satu tata
kelola, satu manajemen, sehingga pembangunan Bali bisa
terintegritasi,” jelasnya.
Dia juga menjanjikan akan menyusun Peraturan Daerah (Perda)
Nomor 3 Tahun 2001 untuk memperkuat kedudukan desa adat.
Selanjutnya membuat Perda untuk mengembangkan adat dan istiadat
tradisi Bali, Perda tentang standar pelayanan kesehatan di Bali sampai
tingkat kecamatan.
Selain itu juga membuat perda perlindungan sumber daya air agar
danau, laut, sungai, sumber-sumber mata air di Bali. “Untuk
pariwisata akan kami perbaiki mulai dari hulu hingga hilir, karena
pariwisata Bali sudah menurun. Perbaikan secara total secara teknis
dilaksanakan Wagub Cok Ace,” imbuh Koster.
Jakarta, CNN Indonesia -- Wayan Koster, Gubernur Bali yang baru terpilih, berjanji segera
merealisasikan rencana pembangunan bandar udara baru bertaraf internasional di wilayah Bali
Utara, tepatnya di Desa Kubutambahan, Kabupaten Buleleng.

Gubernur yang juga Ketua DPD PDI Perjuangan Bali itu menegaskan penetapan lokasi bandara
baru di Kubutambahan akan diterbitkan pada September 2018. Nantinya, bandara tersebut akan
menjadi infrastruktur penunjang pengembangan pariwisata di Pulau Dewata.

"Berkaitan dengan rencana pembangunan bandara baru di Bali, saya sudah tiga kali bertemu
dengan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi pada 10 Agustus, 27 Agustus dan 4 September
2018," ujarnya setelah serah terima jabatan di Kantor DPRD Provinsi Bali seperti dikutip Antara,
Sabtu (8/9).

Lihat juga:
Pemerintah dan BI Siapkan Mitigasi Risiko Tsunami Saat IMF-WB

Dia mengklaim sudah ada persamaan persepsi tentang pentingnya pembangunan bandara baru di
wilayah Bali Utara. 

Menurut dia, Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali Selatan yang sudah ada saat ini hanya
dikembangkan landasan pacu, parkir, apron dan terminal. Bandara diperkirakan hanya cukup
menampung kedatangan pesawat dan wisatawan hingga lima tahun ke depan.

Awalnya, ada rencana pembangunan landasan pacu baru di Bandara Ngurah Rai dengan cara
mereklamasi laut. Namun, biaya investasi terbilang bombastis mencapai Rp25 triliun serta
membutuhkan sejumlah teknologi tinggi dan berisiko tinggi pula.

Maka itu, akhirnya diputuskan untuk membangun bandara baru di Kubutambahan yang bertaraf
internasional dengan biaya investasi lebih murah serta kapasitas lebih besar.

Lihat juga:
Luhut: Rp300 M Bujet Gelaran IMF-World Bank Bakal Kembali

"Dengan anggaran segitu (Rp25 Triliun) Bandara di Buleleng akan terbangun dengan skala yang
lebih besar," ujarnya. 

Saat ini, pihaknya masih melakukan studi kelayakan pembangunan bandara dan diperkirakan
rampung pada akhir 2018. Setelah itu, pembangunan segera dilakukan.

Bandara baru yang berada di sisi utara Pulau Dewata itu diharapkan dapat mengatasi kesenjangan
antara wilayah selatan dan utara.

Sebelumnya, kepemimpinan Gubernur Bali periode 2008-2018 Made Mangku Pastika telah
merekomendasikan PT Pembangunan Bali Mandiri sebagai salah satu perusahaan lokal yang serius
membangun bandara baru di Kubutambahan tersebut.

Lihat juga:
DHE Tak Dibawa Pulang, Jonan Bakal Cabut Rekomendasi Ekspor

PT. Pembangunan Bali Mandiri telah menandatangani kerja sama dengan sejumlah perusahaan
seperti, PT Wijaya Karya (BUMN), Perusda Bali (BUMD), Desa Adat Kubutambahan, dan sejumlah
investor asing. (Antara/lav)

AKARTA – Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara sudah


sangat mendesak. Hal itu mengingat kapasitas Bandara Internasional
Ngurah Rai yang berada di sebelah selatan Bali sudah melebihi
kapasitas (overload).
Pengamat penerbangan Alvin Lie mengatakan, setiap maskapai
kesulitan mendapatkan slot terbang di Bandara Ngurah Rai. Untuk itu,
diperlukan penyeimbang dengan keberadaan bandara baru.

BERITA TERKAIT+
 11 Oktober, Runway Bandara Palu Selesai dan Bisa Didarati
Pesawat Badan Besar
 Perbaikan Bandara di Sulteng Telan Dana Rp60 Miliar, Rampung
Satu Bulan
 Cerita di Balik Gempa dan Tsunami, Taji Bandara Palu yang
Tengah Memudar
“Yang pasti kondisi Bandara Internasional Ngurah Rai saat ini sudah
overload. Bebannya sudah melampaui daya dukung bandara itu,” ujar
dia di Jakarta, kemarin.
 
Menurut dia, terdapat sejumlah opsi yang bisa dilakukan pemerintah
mengatasi overload Bandara Ngurah Rai. Pertama, perluasan bandara
eksisting Ngurah Rai melalui penambahan apron dan runway. Kedua,
pembangunan bandara baru yang sudah ditawarkan oleh prakarsa
melalui Bandara Internasional Bali Utara (BIBU).
“Alternatifnya memperluas Bandara Ngurah Rai dengan apron yang
lebih luas dan runway bangun satu lagi. Atau, membuat bandara baru
dengan catatan harus ada konektivitas antara wilayah utara dan
selatan. Tanpa itu, nantinya akan menimbulkan masalah tersendiri,”
ucap dia.
Dia juga meminta pemerintah jangan bersikap plinplan mengenai
rencana pembangunan bandara baru.
“Menteri yang satu bilang A, sedangkan menteri yang satu bilang B.
Nanti pemerintah yang lain bilang sedang jalan. Jangan
membingungkan masyarakat,” katanya.
 

Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) telah lama


diusulkan sejak 2009. Targetnya saat itu bisa selesai sebelum digelar
pertemuan puncak pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan
Bank Dunia pada Oktober 2018.
Dalam perjalanannya justru molor tanpa kejelasan. Padahal,
sebagaimana Peraturan Menteri Nomor 20 Tahun 2014 tentang Tata
Cara Prosedur Penetapan Lokasi Bandar Udara sudah dipenuhi oleh
BIBU.
“Kami sudah melakukan semua kajian dari kajian paling awal hingga
paling akhir. Finalnya sisa menunggu penetapan lokasi dari regulator
Kementerian Perhubungan,” ujar Presiden Komisaris Bandara
Internasional Bali Utara Iwan Erwanto saat berkunjung ke redaksi
KORAN SINDO, kemarin.
Dia memaparkan, potensi Bali Utara dengan pembangunan bandara
yang mengambil lokasi 600 hektare lahan di Kubu Tambahan,
Buleleng, Bali Utara. Dengan investasi dari investor sebesar Rp28
triliun, BIBU mantap meyakinkan pemerintah.
Apalagi, potensi yang bisa dihasilkan tidak hanya dari sisi pariwisata,
namun juga mampu menciptakan lahan kerja baru bagi masyarakat
Bali Utara. “Potensinya bisa menciptakan pariwisata baru. Dari sisi
bisnis logistik juga terbilang besar. Mirip-mirip dengan apa yang ada di
Dubai bisa kita wujudkan,” ujar dia.
Yang lebih penting dari itu, lanjut dia, kondisi Bandara Ngurah Rai
yang overload dan ada blocking penerbangan yang bisa terjadi kapan
saja akibat erupsi Gunung Agung mampu menjadi penyeimbang.
“Yang paling penting adalah sebagai penyeimbang. Karena kalau
sekali Gunung Agung batuk saja, kerugian yang dihasilkan juga sangat
besar sekali,” ujar Iwan.
 
JAKARTA, iNews.id – Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara sudah
sangat mendesak. Hal itu mengingat kapasitas Bandara Internasional Ngurah
Rai yang berada di sebelah selatan Bali sudah melebihi kapasitas (overload).

Pengamat penerbangan Alvin Lie mengatakan, setiap maskapai kesulitan


mendapatkan slot terbang di Bandara Ngurah Rai. Untuk itu, diperlukan
penyeimbang dengan keberadaan bandara baru.
“Yang pasti kondisi Bandara Internasional Ngurah Rai saat ini
sudah overload. Bebannya sudah melampaui daya dukung bandara itu,” ujar
dia kepada KORAN SINDO di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, terdapat sejumlah opsi yang bisa dilakukan pemerintah
mengatasi overload Bandara Ngurah Rai. Pertama, perluasan bandara
eksisting Ngurah Rai melalui penambahan apron dan runway. Kedua,
pembangunan bandara baru yang sudah ditawarkan oleh prakarsa melalui
Bandara Internasional Bali Utara (BIBU).
“Alternatifnya memperluas Bandara Ngurah Rai dengan apron yang lebih
luas dan runway bangun satu lagi. Atau, membuat bandara baru dengan
catatan harus ada konektivitas antara wilayah utara dan selatan. Tanpa itu,
nantinya akan menimbulkan masalah tersendiri,” ucap dia.

Dia juga meminta pemerintah jangan bersikap plinplan mengenai rencana


pembangunan bandara baru.

“Menteri yang satu bilang A, sedangkan menteri yang satu bilang B. Nanti
pemerintah yang lain bilang sedang jalan. Jangan membingungkan
masyarakat,” katanya.

Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) telah lama diusulkan


sejak 2009. Targetnya saat itu bisa selesai sebelum digelar pertemuan
puncak pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia
pada Oktober 2018.

Dalam perjalanannya justru molor tanpa kejelasan. Padahal, sebagaimana


Peraturan Menteri Nomor 20 Tahun 2014 tentang Tata Cara Prosedur
Penetapan Lokasi Bandar Udara sudah dipenuhi oleh BIBU.

“Kami sudah melakukan semua kajian dari kajian paling awal hingga paling
akhir. Finalnya sisa menunggu penetapan lokasi dari regulator Kementerian
Perhubungan,” ujar Presiden Komisaris Bandara Internasional Bali Utara Iwan
Erwanto saat berkunjung ke redaksi KORAN SINDO, kemarin.

Dia memaparkan, potensi Bali Utara dengan pembangunan bandara yang


mengambil lokasi 600 hektare lahan di Kubu Tambahan, Buleleng, Bali Utara.
Dengan investasi dari investor sebesar Rp28 triliun, BIBU mantap
meyakinkan pemerintah.

Apalagi, potensi yang bisa dihasilkan tidak hanya dari sisi pariwisata, namun
juga mampu menciptakan lahan kerja baru bagi masyarakat Bali Utara.
“Potensinya bisa menciptakan pariwisata baru. Dari sisi bisnis logistik juga
terbilang besar. Mirip-mirip dengan apa yang ada di Dubai bisa kita
wujudkan,” ujar dia.
Yang lebih penting dari itu, lanjut dia, kondisi Bandara Ngurah Rai
yang overload dan ada blocking penerbangan yang bisa terjadi kapan saja
akibat erupsi Gunung Agung mampu menjadi penyeimbang.

“Yang paling penting adalah sebagai penyeimbang. Karena kalau sekali


Gunung Agung batuk saja, kerugian yang dihasilkan juga sangat besar
sekali,” ujar Iwan.
Sementara itu, Direktur Operasional BIBU Tulus Pranowo mengungkapkan,
banyak potensi besar yang bisa digarap melalui perwujudan Bandara Bali
Utara. Apalagi dengan konsep pembangunan runway bandara ini berada di
atas laut menambah daya tarik Bali.
“Saya kira akan memungkinkan lahirnya wisata baru melalui seaplane yang
akan memudahkan konektivitas ke daerah-daerah eksotis. Ini penting kalau
melihat permasalahan utama di Ngurah Rai yang sudah overload,” ucap dia.

Saat ini PT BIBU hanya tinggal menunggu penetapan lokasi. Setelah


penetapan lokasi (penlok) disetujui, kajian lebih mendalam akan dilakukan
dari sisi analisis dan dampak lingkungan.
“Yang kami perlukan saat ini hanya izin penlok. Penlok keluar, kemudian
studi amdal. Setelahnya ada masterplan. Kalau disetujui masterplan, kita
tinggal membangun dengan target tiga tahun bisa selesai,” kata Tulus.

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan maupun Kementerian


Koordinator Bidang Kemaritiman masih belum tegas soal pembangunan
Bandara Bali Utara ini. Menteri Per hubungan Budi Karya Sumadi hanya
mengatakan, kajian masih terus dilakukan.
“Kami masih mengkaji studinya. Dua sampai tiga bulan ke depan kami
umumkan,” ujar dia belum lama ini. Padahal, kajian telah lama dilakukan
pihak BIBU. Regulator dalam hal ini Direktorat Udara hanya perlu melakukan
asistensi. (Ichsan Amin)

Editor : Rahmat Fiansyah


Kabarnusa.com - Gubernur Bali Made Mangku Pastika memberikan rekomendasi kepada
Airports Kinesis Consulting (AKC) Kanada melakukan 'Feasibility Study' (FS) untuk
pembangunan Bandara International Buleleng (BIB). 

Dalam surat yang ditandatangani Gubernur Mangku Pastika, diterima perwakilan Airports
Kenesis di Bali, I Made Mangku, dan tim, di ruang Sespri Gubernur Bali Kamis, 9 Juli 2015

Sebelumnya Kepada tim AKC Kanada saat melakukan audiensi, Gubernur Pastika berjanji
segera memproses dan menandatangani surat permohonan untuk melakukan kajian
terhadap  pembangunan BIB dengan konsep pembangunan di lautan lepas (of shore). 

Akhirnya, rekomendasi gubernur, diserahkan Sekretaris Pribadi (Sespri) Gubernur Bali I


Wayan Wiastha Ika Putra. kepada perwakilan AKC di Bali I Made Mangku yang seorang
tokoh lingkunganitu.

Diketahui, surat tertanggal 9 Juli itu ditujukan kepada Trade Commissioner Kedutaan Besar
Canada yang ditembuskan kepada tiga instansi, Menteri Perhubungan RI, di Jakarta,
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI di Jakarta, dan
Bupati Buleleng di Sangaraja.  
Dalam suratnya, diingatkan agar sebelum melakukan studi kelayakan agar terlebih dahulu
berkordinasi dengan pemerintah Provinsi Bali dan Pemkab Buleleng. 

"Studi kelayakan sudah diselesaikan selambat-lambatnya 31 Desember 2015," tulis dalam


surat itu. 

Pada bulan Mei lalu, tim AKC telah melakukan presentasi di Buleleng yang dihadiri, Wakil
Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra, Sekda Buleleng Dewa Puspaka, tokoh agama dan
masyarakat dan juga anggota DPRD Buleleng. 

Dalam presentasi tersebut, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana sempat hadir, namun
meninggalkan lokasi dengan alasan ada undangan mendadak.

Dalam paparannya Made Mangku mengungkapkan, pembangunan BIB akan dilakukan di


atas laut dengan cara direklamasi. 

"Pembangunan Bandara ini akan menghabiskan dana sebesar Rp30 triliun," sebut Made
Mangku. 

Keseriusan pihak investor dalam mega proyek itu ditunjukkan dengan kesiapan 80 persen
dana dari total biaya pembangunan Bandara. 

Adapun luasan lahan yang direncanakan dalam jangka pendeknya mencapai 600 hektar.
Lahan itu untuk landasan pacu 2 line. Dalam jangka menengah akan diperluas menjadi 900
hektar. 
Nantinya, secara keseluruhan akan memanfaatkan lahan seluas 1.400 hektare, yang
dilakukan melalui reklamasi laut, dengan jarak dari bibir pantai mencapai 125 meter. 

"Nantinya, akan dibangun jembatan sebagai landasan akses menuju ke Bandara,"


sambung tokoh yang getol dalam penyelamatan pesisir pantai di Bali itu.

"Presentasi ini bertujuan memberi pemaparan untuk mendapatkan dukungan dari


Pemerintah Buleleng dan masyarakat Buleleng secara umum," kata Mangku keke,
sapaannya. 

Dengan adanya dukungan semua pihak itu, akan digunakan sebagai dasar untuk
memperoleh rekomendasi dari Pemerintah Provinsi Bali. 

Pihaknya dari AKC hanya memberi pemaparan terkait rencana pembangunan Bandara di
atas laut karena masyarakat dan tokoh di Buleleng juga sudah mendukung. 

"Sekarang tinggal proses izinnya, Kami sudah siap dari dukungan anggaran, karena sudah
di-back up penuh Kedutaan Besar Kanada,” ucap Mangku Keke. (rhm)
Investor Tetap Mau Bangun Bandara Bali Utara
di Lepas Pantai
Selfie Miftahul Jannah - detikFinance

Share 0 Tweet 0 Share 0 3 komentar

Foto: Dok. Pribadi

Jakarta - Pembangunan Bandara Internasional Bali Utara tetap berjalan.


Rencananya, Bandara itu akan dibangun di sekitar Pantai Kubutambahan,
Buleleng, Bali.

Menurut pihak investor, PT Bandara Internasional Bali Utara (BIBU), bandara


itu akan dibangun lepas pantai. 
"Kita tetap di lepas pantai karena di sanalah yang mengakomodir keinginan
warga sana untuk tidak mengganggu Pura tidak mengganggu tanah tanah
produkif kalau di lepas pantai hubungannya dengan pemerintah. Semuanya
happy dan bisa cepat. Bandara kan nggak ada 1 2 hektar pasti kena lah,
(kalau di darat) Pura pasti kegusur," papar dia kepada detikFinance, Rabu
(18/4/2018).

Rencananya, BIBU akan dibangun di atas lahan seluas 1.060 hektar. Panjang
landasan 4.100 meter dan fasilitas tambahan yaitu 30 gedung serta terminal
seluas 230.000 meter. Kawasan Bali Utara akan dijadikan pusat ekonomi Bali
dengan konsep aero city. 

Baca juga: Investor Klaim Masyarakat Ingin Ada Bandara di Bali Utara

Tulus menjelaskan pembangunan bandara tambahan di bali dibutuhkan untuk


antisipasi jika terjadi sesuatu di Bandara Ngurah Rai. 

"Ada alternatif aero drome kalau ada terjadi apa-apa di bandara selatan,
maka masih ada bandara Bali Utara gitu kalau ada event internasional kan
bisa bantu," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan,


mengatakan BIBU akan dibangun di darat. 

"Di darat (pembangunannya). Itu yang dilaporkan ke saya tadi," katanya di


Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Senin (2/4/2018).

Baca juga: Luhut Sebut Bandara Bali Utara Bakal Dibangun di Darat

Luhut menambahkan mengatakan ingin pembangunan Bandara Utara Bali


yang menelan dana hingga Rp 6,3 triliun tersebut dibiayai oleh pihak swasta
seperti pembangunan Bandara Kediri.

"Rp 6,3 triliun. Mereka semua non-APBN, kalau dia mau semua biarkan saja.
Kita ingin seperti Bandara Kediri kan yang dibangun swasta juga sekitar Rp 5
triliun," terang Luhut. (hns/hns)

Pembangunan bandara baru diperkirakan lebih murah ketimbang


menambah runway di Ngurah Rai.

KATADATAMenteri Koordinator Maritim Luhut Binsar Pandjaitan.


Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan
apabila Bandara Bali Utara jadi dikembangkan maka PT Angkasa Pura I
(Persero) tidak perlu membangun landasan pacu (runway) kedua di Bandara
Internasional Ngurah Rai. Pembangunan bandara baru diperkirakan lebih
murah ketimbang menambah runway di Ngurah Rai.
Luhut menjelaskan pengembangan landas pacu kedua Bandara Ngurah Rai
dapat memakan biaya Rp 17 triliun. Sedangkan di sisi lain pembangunan
bandara baru hanya memakan biaya Rp 6,8 triliun. Dirinya melihat apabila
angka tersebut benar dan bandara di Utara Bali jadi dibangun, maka AP I tak
perlu membangun runway lagi. 
News Alert
Dapatkan informasi terkini seputar ekonomi dan bisnis langsung lewat email Anda

Daftar

"Dari mereka (AP I) sendiri telah bilang tidak karena setelah studi mereka
habiskan Rp 17 triliun. Namun maksimum penumpang bertambah hanya 10
juta. Tidak worth it," ujar Luhut di Kompleks Istana Kepresidenan, beberapa
waktu lalu.
(Baca: Mendapat Restu Presiden, Proyek Bandara Bali Utara Siap Dilanjutkan)
Luhut mengatakan hal ini telah dibahas bersama dengan pihak AP I. Dalam
rapat tersebut telah diperhitungkan bahwa perbandingan investasi dengan
penambahan penumpang dengan membangun runway kedua di Ngurai Rai
memang tidak sesuai. Makanya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini
sekarang sedang berfokus untuk memperbesar apron atau tempat parkir
pesawat saja.

"Jadi, Bandara yang di utara sepertinya memang perlu dibangun," ujarnya.

Meski telah mengambil ancang-ancang membangun bandara baru, Luhut


tetap ingin memastikan perhitungan kebutuhan investasi Bandara Bali Utara
pada pekan depan. Apabila angka tersebut akurat maka pemerintah
mendapatkan nilai investasi bagus untuk direalisasikan. Apalagi dengan
adanya bandara, perlu juga dibangun jalan tol yang membentang dari selatan
ke utara Bali.

(Baca: Bali Ajukan Pembangunan Enam Infrastruktur Baru)


Bulan lalu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan pemerintah
masih harus mempertimbangkan faktor ekologi serta lingkungan dalam
rencana pembangunan bandara kedua di Pulau Dewata itu. Dia menyebutkan
ada rekomendasi dari Bank Dunia serta PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI)
agar pemerintah fokus mengembangkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah
Rai, tanpa membangun bandara baru di utara. 

"Beberapa pihak menyarankan agar kami fokus di wilayah Selatan saja," kata
Budi.

Namun sebulan sebelumnya PT Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) Panji


Sakti selaku pengembang proyek Bandara Bali Utara mengklaim pemerintah
telah setuju rencana membangun Bandara Bali Utara. Presiden Direktur PT
BIBU Panji Sakti Made Mangku menyatakan telah mendatap restu Presiden
Jokowi dan berharap dapat menyelesaikan segala hambatan dalam
pembangunan bandara terutama dalam menentukan lokasinya.

"Kami berterima kasih ke Pak Presiden (yang) melalui Sekretariat Negara


mengeluarkan surat yang diharapkan,” kata Made.

(Baca: Menhub Belum Pastikan Kelanjutan Pembangunan Bandara Bali Utara)


SHARE
 
 
 
 
 
 

Jakarta - Pengkajian pembangunan bandara Bali Utara terus


dilakukan pemerintah. Dalam pembangunan infrastruktur yang
dimaksudkan untuk pemerataan pembangunan di Bali itu
setidaknya ada dua opsi yang bisa ditempuh, yakni pembangunan
dilakukan di darat dan di laut.

Kedua opsi ini memiliki konsekuensi masing-masing. Pembangunan


bandara di laut atau pesisir pantai dinilai memiliki dampak sosial
yang lebih kecil. Sebab, di darat terdapat banyak pura dan tanah
adat milik masyarakat yang sulit untuk digeser. Sementara,
pembangunan bandara di laut memiliki konsekuensi lain, seperti
mahalnya investasi dan membutuhkan penerapan teknologi yang
cukup canggih dibanding pembangunan bandara di daratan.
Sekretaris Komisi III DPRD Bali, I Ketut Kariyasa Adhyana
mengatakan, pembangunan Bandara Bali Utara seharusnya berada
di laut mengingat dampak sosialnya yang lebih kecil dibandingkan
di darat. "Bupati Buleleng dan Gubernur Bali juga menginginkan
pembangunan bandara itu di laut," kata I ketut Kariyasa saat
ditemui di kantor Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman,
Jakarta, Kamis (12/4)

Pembangunan bandara dilakukan di darat tentunya harus


membebaskan lahan yang juga tergolong mahal dan belum lagi
terdapat beberapa pura, termasuk mengganti lahan produktif.
Karena itu, kata dia, pihaknya menginginkan secepatnya
dipastikan pembangunan bandara. Apalagi, saat ini sudah ada
pengkajian dan tinggal menunggu penentuan lokasi.

Ketua DPRD Bali I Nyoman Adi Wiryatama menjelaskan, dirinya


mendatangi Kemko Kamaritiman tidak lain ingin mendapatkan
kepastian, karena bandara itu sudah menjadi harapan masyarakat
Bali sejak 2004. Dari hasil pertemuan dengan Staf Ahli Menteri
Koordinator Kemaritiman, Septian Hario Seto, dan Kabid
Infrastruktur Pariwisata Bahari Deputi Bidang Koordinasi
Infrastruktur Velly Asvaliantina, disebutkan bahwa saat ini tahap
pengkajian pembangunan bandara itu sudah hampir selesai.

"Katanya, segera. Tentunya makin cepat makin bagus hingga tidak


menjadi pertanyaan bagi masyarakat, sekaligus tidak mengganggu
program Nawacita Presiden Jokowi. Kalau tidak terealisasikan, saya
khawatir akan memberikan citra buruk," ujarnya.

Pembangunan bandara Bali Utara diyakini akan semakin


meningkatkan perekonomian Bali, khususnya juga di sektor
pariwisata. Jika segera terealisasi, selain secara ekonomi dapat
lebih menguntungkan, tentunya juga akan terjadi pemerataan
pembangunan. Selama ini pembangunan di pulau Bali terlalu
terkonsentrasi di bagian selatan.

Yang tidak kalah penting, dari sisi sektor pariwisata akan muncul
dampak berganda bagi kesejahteraan masyarakat. Semua itu akan
timbul dengan sendirinya ketika bandara sudah beroperasi,
termasuk juga di bidang lapangan pekerjaan. Selama ini,
pariwisata Bali utara tertinggal, karena tidak ada fasilitas
penunjang, seperti bandara. Padahal, di sisi utara dan timur Bali
banyak sekali potensi yang bisa dikembangkan.

Sumber: Suara Pembaruan

DPR Angkat Bicara soal Manfaat Pembangunan Bandara


Bali Utara

Ilyas Istianur Praditya

03 Apr 2018, 16:07 WIB






 0

18
Peletakan batu pertama (Ground Breaking) North Bali International Airport (NBIA) akan
dilaksanakan 28-29 Agustus 2017.

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi V DPR RI Bambang Haryo meminta Kementerian


Perhubungan (Kemenhub) segera menerbitkan penetapan lokasi (penlok) Bandara Bali
Utara.

Selain karena faktor alam, perekonomian Bali akan terangkat jika bandara ini segera
dibangun. Bambang kurang setuju dengan rencana pembesaran Bandara Ngurah Rai.
Sebab di selatan Bali, terdapat garis patahan Asia-Australia yang sewaktu-waktu
mengguncang dan merusak sarana dan prasarana bandara.

BACA JUGA

 Menko Luhut: Pembangunan Bandara Bali Utara Hanya Masalah Waktu


 Pembangunan Bandara Bali Utara Terkendala Penetapan Lokasi
 Bangun Bandara Bali Utara Butuh Investasi Rp 27 Triliun

"Ada tiga patahan di Jawa Bali, dan salah satu yang terbesar itu di selatan Bali. Maka waktu
itu saya usulkan ke Kemenhub dan Angkasa Pura I untuk membangun bandara di utara,
yang direncanakan di Buleleng," ujar dia kepada wartawan di Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Bambang menuturkan, pembangunan Bandara Bali Utara sangat potensial. Pertama,


daerah utara Bali lebih aman dari gempa ketimbang selatan karena dilindungi Gunung
Agung. Kedua, jika terjadi letusan, biasanya sangat dipengaruhi arah angin, timur ke
selatan atau barat ke utara.

2 dari 2 halaman

Alternatif Bandara

Bentuk kesiapan Angkasa Pura I yaitu meningkatkan kapasitas Bandara I Gusti Ngurah Rai
Bali dan melakukan pembangunan infrastruktur lima bandara milik Angkasa Pura I lainnya.
Dengan dua bandara, Bambang menyebut salah satunya bisa dijadikan alternatif jika terjadi
erupsi Gunung Agung. Lantaran bandara di Pulau Dewata harus selalu terjaga karena
kebanyakan pelancong berasal dari mancanegara, dan Bali sering menjadi tempat kegiatan
internasional.

Ketiga, lalu lintas di selatan Bali terlampau padat. Ia menyatakan,  pembangunan Bandara
Bali Utara segera direalisasikan untuk menyeimbangkan pembangunan Bali selatan dan
utara. Berdasarkan data yang ada, terdapat 41 ribu keluarga miskin di Bali utara.

"Kemenhub seharusnya sudah menentukan penlok, karena ini sudah direncanakan dari
zamannya Pak Harto. Pesan saya ke Menhub atau Kabinet Jokowi, jangan dulu
mengerjakan yang tidak prioritas," ujar dia.

Bambang juga menilai, pembangunan Bandara Bali Utara bisa diintegrasikan dengan
pelabuhan yang erat kaitannya dengan logistik. Alhasil, truk-truk bisa dialihkan lewat utara
dan volume jalan di selatan Bali bisa terurai.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menegaskan,


Bandara Internasional Bali Utara segera dibangun. Luhut juga mengatakan bandara
tersebut akan dibangun di darat. (Yas)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 Bandara Bali Utara


 DPR
rgensi Pembangunan Bandara Bali Utara

Maju mundur rencana pembangunan Bandara Bali Utara telah membuat warga yang tinggal di Bali
bagian Utara “harap-harap cemas”. Mereka khawatir jika rencana tersebut hanya isapan jempol
yang tak kunjung terealisasi. Kecemasan warga setempat cukup beralasan karena selama puluhan
tahun mereka merasa seperti anak tiri yang tak bisa menikmati secara langsung keuntungan sosio-
ekonomi dari industri Pariwisata Bali yang telah mendunia. Maka pembangunan Bandara Bali Utara
dipandang warga sebagai salah satu langkah penting dalam konteks pemerataan pembangunan
dan distribusi kesejahteraan ke wilayah-wilayah di luar Bali Selatan (Denpasar, Kuta, Sanur, Ubud
dan sekitarnya) yang selama ini menjadi pusat industri pariwisata sekaligus juga pusat
pembangunan di Bali.

Di samping kerinduan dan harapan warga Bali Utara akan akselerasi pembangunan sebagaimana
digambarkan di atas, realisasi pembangunan Bandara Bali Utara perlu segera dituntaskan dengan
pertimbangan berikut:
Pertimbangan Teknis dan Strategis
BLOG TERKAIT
 Menikmati Sajian Minuman Bandrek di Kota Denpasar
 Tanah Lot: Pantai Batu Cadas Hitam di Bali
 5 Makanan Ini Jangan Lupa Dibeli sebagai Oleh-oleh Dari Bali
 Meneropong Wisata Syariah
 Bali di Mata Mead dan Bateson

Pemerintah saat ini sedang berfokus menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu sektor
unggulan pemasukan negara. Karena itu Pemerintah menggalakkan berbagai proyek penting di
bidang pengembangan pariwisata disertai dengan target-target prestisius baik yang bersifat jangka
pendek maupun jangka panjang. Bali sebagai pintu gerbang sekaligus tulang punggung pariwisata
Indonesia mesti terus berbenah untuk memberi nilai tambah dan alternatif-alternatif baru di luar daya
tarik yang selama ini telah dikenal dunia. Kemunculan berbagai destinasi wisata baru di seluruh
dunia dapat menggerus daya tarik Bali jika tidak disertai dengan langkah-langkah antisipatif yang
tepat.

Bandara Ngurah Rai yang selama ini menjadi pintu gerbang utama menuju Bali telah menjelma
menjadi salah satu Bandara Internasional tersibuk di dunia. Berbagai hasil penelitian menunjukkan
tingkat penggunaan Bandara Ngurah Rai saat ini telah mencapai 70 % dan sering mengalami over
crowded pada peak time. Sementara itu, pelebaran dan perluasan Bandara Ngura Rai tidak ideal
lagi dilakukan karena keterbatasan lokasi.

Melihat tingkat kunjungan wisatawan yang terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, dapat
dipastikan tingkat kepadatan penggunaan bandara Ngurah Rai akan naik secara signifikan dari
tahun  ke tahun. Maka jika tidak diantisipasi secara cepat dan tepat, tingkat kepadatan pengguna
Bandara Ngurah Rai akan menjadi masalah serius di kemudian hari yang pada akhirnya akan
mengerus citra Bali sebagai salah satu destinasi favorit dunia. Satu-satunya solusi untuk
mengantisipasi masalah di atas adalah menyediakan bandara baru.

Secara teknis salah satu lokasi yang paling tepat untuk pembangunan bandara baru adalah
Buleleng yang berada di Bali Utara. Buleleng diapit laut di kedua sisisnya sehingga dari sisi
kemanan (safety) sangat tepat untuk melakukan pendaratan pesawat. Selain itu, Buleleng
merupakan daerah paling siap dari segi kemudahan mempersiapkan infratruktur pendukung seperti
kreta api dan bus.

Dari sisi strategi pengembangan industri pariwisata, pembangunan Bandara di Bali Utara akan
memberi alternatif-alternatif  destinasi baru bagi para wisatawan yang selama ini hanya akrab
dengan Kuta, Sanur, Nusa Dua, Ubud dan sekitarnya. Bali utara memiliki berbagai destinasi wisata
yang potensial untuk dikembangkan jika didukung infratruktur yang baik. Selama ini, destinasi-
destinasi wisata tersebut kurang dikenal dan kurang diminati wisatawan karena membutuhkan waktu
tempuh relatif lama dari Denpasar.

Distribusi Kesejahteraan
Pembangunan Bandara Bali Utara sejalan dengan kebijakan Pemerintahan Presiden Jokowi yang
memiliki perhatian pada isu-isu desentralisasi pembangunan dan distribusi kesejahteraan. Kendati
Bali selama puluhan tahun telah terkenal sebagai salah satu pemimpin dalam industri pariwisata,
tidak serta merta dapat ditarik kesimpulan bahwa mayoritas masyarakat Bali telah menikmati
kesejahteraan yang diperoleh dari sektor pariwisata. Secara garis besar, dampak sosio ekonomi dari
industri pariwisata hanya dinikmati masyarakat yang tinggal di Bali Selatan yang selama puluhan
tahun menjadi pusat pembangunan Bali.

Dari sisi demografi, Bali Utara memiliki jumlah penduduk (sekitar 500.000 orang) terbesar dibanding
wilayah lain di Bali. Namun dari sisi pembangunan, Bali Utara jauh tertinggal dari Bali Selatan.
Disparitas pembangunan tersebut berpengaruh pada disparitas kesejahteraan. Penduduk di Bali
Selatan yang bersentuhan langsung dengan industri pariwisata memiliki pendapatan per kapita jauh
lebih tinggi dibanding penduduk Bali Utara yang mengandalkan sektor pertanian.

Dalam konteks distribusi kesejahteraan tersebut, pembangunan Bandara Bali Utara akan menjadi
langkah penting yang akan menstimulus kemunculan berbagai sumber-sumber ekonomi baru bagi
penduduk Bali Utara. Pembangunan Bandara yang akan diikuti dengan pembangunan infrastruktur
pendukung akan menarik minat para investor dan pelaku industri untuk berinvestasi di Bali Utara
yang pada akhirnya secara signifikan membuka banyak lowongan kerja bagi penduduk setempat.

Konservasi Sosio-Kultural

Masyarakat Bali terkenal sebagai masyarakat yang berpegang erat dengan adat-istiadat dan tradisi.
Adat istiadat dan tradisi tersebut dipraktekkan secara komunal dalam banjar yang merupakan unit
pengorganisasian kegiatan adat, budaya dan agama masyarakat Bali. Tiap masyarakat Bali terikat
dengan banjar yang ada di lingkungannya. Dengan motivasi meningkatkan kesejahteraan, banyak
masyarakat Bali Utara merantau ke wilayah lain sehingga tidak bisa menunaikan kegiatan adat dan
agama yang ada di banjarnya. Dapat dikatakan, kondisi seperti ini membuat dia “tercerabut” dari
akar sosio-kultural yang telah dihidupi selama bertahun-tahun.

Pembangunan Bali Utara tentu akan membuka peluang-peluang ekonomi baru bagi penduduk
setempat sehingga mereka tidak perlu merantau dan meninggalkan banjar tempat mereka
menunaikan tugas dan kewajiban adat sesuai tradisi nenek moyang. Perbaikan ekonomi sebagai
dampak dari pembangunan, tentu juga akan memberi modal lebih bagi penduduk setempat untuk
membuat perayaan-perayaan adat dan budaya yang lebih semarak dan dapat menjadi salah satu
daya tarik bagi para wisatawan. Dengan demikian, konservasi budaya dapat dijalankan di tengah
aktivitas ekonomi.
Bandara Bali Utara Bakal Dibangun di Lepas Pantai? Ini Komentar Menhub

Sabtu, 24 Februari 2018 16:43 WIB

Bandara Bali Utara Bakal Dibangun di Lepas Pantai? Ini Komentar Menhub
Syahrizal Sidik/Tribunnews.com

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Syahrizal Sidik

TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG — Pemerintah sedang mengupayakan rencana penambahan bandar


udara baru di Bali.

Kementerian Perhubungunan saat ini tengah melakukan kajian secara komprehensif untuk mewujudkan
bandara baru di Pulau Dewata itu.

Baca: 16 Tahun Berlalu, Kisah Keluarga Korban Bom Bali I Masih Mengundang Isak Tangis

Sebagaimana diketahui, sebelumnya, PT Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) berencana akan
membangun bandara baru di kawasan Buleleng, Bali Utara di lepas pantai atau offshore.

Nilai investasi pembangunan bandara baru ini ditargetkan menelan dana sebesar Rp 27 triliun.

Bandara Bali Utara akan dibangun di atas laut di kawasan Buleleng dengan luas 1.060 hektar dan
panjang landasan pacu atau runway 4.100 meter.

Presiden Direktor PT BIBU, I Made Mangku menegaskan pembangunan tidak akan menggusur
pemukiman, rumah ibadah, jalanan, maupun situs-situs bersejarah.

"Kecil sekali kemungkinan bandara dibangun di darat. Untuk itu Bandara Bali Utara dirancang dibangun
di lepas pantai. Nanti akan dikaji secara teknis kedalaman," ungkap I Made Mangku saat mengelar
konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis (22/2/2018)

Namun demikian, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, belum memberi jawaban secara rinci
terkait inisiasi rencana pembangunan bandara baru tersebut oleh PT BIBU, karena saat ini Kemenhub
sedang menggodok kajian tersebut.

“Saya belum bisa berkomentar terkait itu, karena studinya sedang kita jalani,” ungkap Budi di Bandara
Budiarto, Curug, Tangerang, Banten, Sabtu (24/2/2018).

Mantan Direktur Utama PT Angkasa Pura II itu menambahkan, kajian akan menelisik aspek sosial,
budaya dan lingkungan ditarget bisa rampung pada tahun ini.

Mengingat, kata dia, ada juga gagasan untuk menambah dua landasan terbang atau runway di daerah
Bali Selatan yang saat ini menjadi lokasi Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar.

“Ya solusinya kita sampaikan tahun ini, karena ada ide juga di selatan itu jadi dua runway. Studinya akan
kita lakukan komprehensif,” tukasnya.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Bandara Bali Utara Bakal Dibangun di Lepas
Pantai? Ini Komentar Menhub, http://www.tribunnews.com/bisnis/2018/02/24/bandara-bali-utara-
bakal-dibangun-di-lepas-pantai-ini-komentar-menhub.
Penulis: Syahrizal Sidik

Editor: Malvyandie Haryadi