Anda di halaman 1dari 14

PEMBELAJARAN MATEMATIKA SD KELAS TINGGI

Disusun Oleh
Kelompok 5

Dosen Pengampu: Mrs. Yunika Lestaria Ningsih S.Si, M.Pd

Nama Anggota:

Umi kalsum (2018143126)


Hikmah Ayu Lastari (2018143134)
Marlina ayu lestari (2018143142)
Hesti Yuliarni (2018143118)
Helda shalsabila (2018143150)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
A. Model Pembelajaran Kooperatif

Dengan menggunakan model Cooperative pembelajaran akan efektif dan


berjalan sesuai dengan fitrah peserta didik sebagai mahluk sosial yaitu mahluk
yang tidak bisa berdiri sendiri, namun selalu membutuhkan kerjasama dengan
orang lain untuk mempelajari gagasan, memecahkan masalah dan menerapkan apa
yang mereka pelajari namun lebih menekankan melatih siswa untuk mempunyai
kemampuan sosial, yaitu kemampuan untuk saling berkerjasama, berkelompok
dan bertanggungjawab terhadap sesama teman kelompok untuk mencapai tujuan
umum kelompok.

Menurut Johnson dalam B.Santoso Cooperative Learning adalah kegiatan


belajar mengajar secara berkelompok-kelompok kecil, siswa belajar dan berkerja
sama untuk sampai pada pengalaman belajar yang optimal, baik pengalaman
individu atau kelompok. Sedangkan Nurhadi mengartikan Cooperative Learning
sebagai pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi
yang silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang
dapat menimbulkan permasalahan. Secara umum model pembelajaran
Cooperative merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya
kelompok-kelompok.

Model Cooperative dibangun atas dasar konstruktivis sosial dari


Vygotsky, Teori konstruktivis personal dari piaget dan teori motivasi. Menurut
prinsip utama teori Vygotsky, perkembangan pemikiran merupakan proses sosial
sejak lahir. Anak dibantu oleh orang lain (baik orang dewasa maupun teman
sebaya dalam kelompok) yang lebih kompeten didalam keterampilan dan
teknologi dalam kebudayaannya. Bagi Vigotsky, aktivitas kolaboratif diantara
anak-anak akan mendukung pertumbuhan mereka karena anak-anak yang sesuai
lebih senang berkerja dengan orang yang satu zone (Zone Of Proximal
Development, ZPD) dengan yang lain. Pada pandangan ini, bahwa kepribadian
atau kejiwaan dari pada peserta diteropong secara keseluruhan artinya bagian atau
elemen kejiwaan tidak berdiri sendiri melainkan terorganisir menjadi suatu
keseluruhan. Oleh karena itu, tidak mengherankan dalam model Cooperative
sangat mengutamakan keseluruhan (holistik) dari pada bagian kecil dalam proses
pembelajaran yang mengutaman kerja kelompok.
1. Unsur-Unsur Model Cooperative

Menurut Roger dan David Johnson dalam Anita Lie, tidak semua
kerja kelompok bisa dianggap sebagai Cooperative. Untuk memperoleh
manfaat yang diharapkan dari implementasi pembelajaran Cooperative,
Johnson menganjurkan lima unsur penting yang harus dibangun dalam
aktivvitas intruksional, mencakup sebagai berikut.

1) Saling Ketergantungan Positive (Positif Interdependence)

Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap


anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif,
pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa, sehingga setiap
anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang
lain bisa mencapai tujuan mereka.Interaktif

2) Tatap Muka (Face to Face Interaction)

Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu


muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para
pembelajaran untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua
anggota.

3) Tanggung Jawab Individual (Individual Accountability)

Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama.


Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model
Cooperative setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk
melakukan yang terbaik.

4) Ketrampilan Social (Social Skill)


Yang dimaksud dengan keterampilan sosial adalah keterampilan
dalam berkomunikasi dalam kelompok.

5) Evaluasi Proses Kelompok (Group Debrieving)

Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok


untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama
mereka agar selanjutnya bisa berkerja sama dengan lebih efektif.

2. Teknik-Teknik Dalam Cooperative

Berikut ini beberapa teknik belajar dalam model cooperative sebagai


berikut.

a) STAD (Student Team Achievement Devision)

STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya


diuniversitas John Hopkin. Guru yang menggunakan STAD, juga
mengacu kepada belajar kelompok siswa setiap minggu menggunakan
presentasi verbal dan teks. Dalam satu kelompok siswa terdiri dari 4-5
orang yang heterogen. Anggota team menggunakan lembar kegiatan
atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi dan
kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan
pelajaran melalui tutorial, kuis atau diskusi. (Muslimin Ibrohimin:
2000, 20).

Materi-materi yang relevan dengan pembelajaran Cooperatif


Tife Student Team Achievement Divisions (STAD) adalah materi-
materi yang hanya untuk memahami fakta-fakta, konsep-konsep dasar
dan tidak memerlukan penalaran yang tinggi dan juga hapalan,
misalnya bilangan bulat, himpunan-himpunan, bilangan, jam, dll.
Dengan penyajian materi yang tepat dan menarik bagi siswa, seperti
halnya pembelajaran Cooperative Tife STAD dapat dimaksimalkan
proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar
siswa.

b) Group Investigation (Investigasi Kelompok)

Startegi model ini merupakan suatu strategi yang memberikan


keleluasaan bagi siswa untuk berkelompok dan berkomunikasi antar
sesama kelompok untuk memunculkan kreasi, ide-ide dan juga solusi
yang lebih mengena terhadap permasalahan yang dihadapi kelompok
tersebut.

c) Numbered Head Together

Teknik ini dikembangkan oleh Spenser Kagan untuk melibatkan


lebih banyak siswa untuk menelaah materi yang tercangkup dalam
suatu pembelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi
pelajaran tersebut. Guru melempar pertanyaan, lalu para siswa
berkonsultasi sekedar untuk meyakinkan apakah siswa tersebut telah
mengetahui jawaban dari soal tersebut. Setelah itu, seorang siswa
dipanggil untuk menjawab pertanyaan.

3. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Cooperative

Belajar kooperatif mempunyai beberapa kelebihan. Kelebihan belajar


kooperative menurut Hill (1993:1-6) sebagai berikut.

a) Meningkatkan prestasi siswa

b) Memperdalam pemahaman siswa

c) Menyenangkan siswa

d) Mengembangkan sikap kepemipinan


e) Mengembangkan sikap positif siswa

f) Mengembangkan sikap menghargai diri sendiri

g) Membuat belajar secara inklusif

h) Mengembangkan rasa saling memiliki

i) Mengembangkan keterampilan untuk masa depan

Selain mempunyai kelebihan, belajar kooperatif juga mempunyai


beberapa kelemahan. Menurut Dess (1991:411) beberapa kelemahan belaja
kooperatif sebagai berikut.

a) Membutuhkan waktu yang lama bagi siswa, sehingga sulit mencapai


target kurikulum

b) Membutuhkan waktu yang lama bagi guru sehingga sehingga guru


tidak mau menggunakan strategi kooperatif

c) Membutuhkan kemampuan khusus guru sehingga tidak semua guru


dapat melakukan atau menggunakan strategi kooperatif

d) Menuntut sifat tertentu dari siswa misalnya sifat suka berkerja sama.

B. Model Pembelajaran Kreatif

Pembelajaran kretif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan


dosen dapat memberikan motivasi dan memunculkan kreatifitas peserta didik
selama proses pembelajaran berlangsung. Belajar adalah sebuah proses yang
sangat kompleks yang terjadi pada semua orang yang berlangsung seumur hiidup,
sejak lahir sampai liang lahat (minal mahdi illalahdi) salah satu tanda bahwa
seorang itu melakukan belajar adalah adanya perubahan perilaku dalam dirinnya,
baik perilaku yang menyangkut pengetahuan (kognitif), keterampilan
(psikomotorik), maupun perilaku yang menyangkut nilai dan sikap (efektif).
Model pembelajaran kreatif adalah model pembelajaran yang memungkinkan
peserta didik mengerjakan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan
keterampilan, sikap, pemahaman berbagai sumber.

1. Mengenal beberapa model pembelajaran kreatif

Tulisan ini menyajikan ikhtisar beberapa model pembelajaran kreatif


yang dapat digunakan guru untuk kepentingan efektifitas pembelajaran
dianatarannya sebagai berikut.

a. Role Playing

Langkah-langkah:

a) Guru menyusun atau menyiapkan skenario yang akan


ditampilkan

b) Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua


sebelum KBM

c) Guru membentuk kelompok siswa yang anggotannya 5 orang

d) Memberikan penjelasan tetntang kompetensi yang ingin dicapai

e) Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan


skenario yang sudah dipersiapkan

f) Masing-masing siswa duduk dikelompoknya, masing-masing


sambil memperhatikan dan mengamati skenario yang sedang
diperagakan

g) Setelah selesai dipentaskan. Masing-masing siswa diberikan


kertas sebagai lembar kerja untuk membahas

h) Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kerjanya

i) Guru memberikan kesimpulan secara umum


j) Evaluasi

k) Penutup.

b. Group Investigation

Langkah-langkah:

a) Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen

b) Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok

c) Guru memenggil ketua untuk satu materi tugas sehingga satu


kelompok dapat tugas satu materi/tugas yang berbedadari
kelompok lain

d) Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada


secara koomperatif berisi penemuan

e) Setelah selesai diskusi, lewat juru bicara ketua menyampaikan


hasil pembahasan kelompok

f) Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberikan


kesimpulan

g) Evaluasi

h) Penutup.

c. Talking stick

Langkah-langkah:

a) Guru menyiapkan sebuah tongkat.


b) Guru menyampaikan materi apa yang yang kan dipelajari,
kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk
membaca dan mempelajari materi pada buku paketnya.
c) Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya
mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya.
d) Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah
itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang
tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya.
Sebagian besar siswa harus mendapat bagian untuk menjawab
pertanyaan dari guru.
e) Guru memberikan kesimpulan.
f) Evaluasi.
g) Penutup.

d. Bertukar Pasangan
Langkah-langkah:
a) Setiap siswa mendapat satu pasangan.
b) Guru memberikan tugas kepada siswa dan siswa mengerjakan
tugas dengan pasangannya.
c) Setelah selesai setiap pasangan bergabung dengan satu pasangan
yang lain.
d) Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan masing-masing,
pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mengukuhkan
jawaban mereka.
e) Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian
dibagikan kepada pasangan semula.
f) Evaluasi.
g) Penutup.

e. Snowball Throwing
Langkah-langkah:
a) Guru menyampaikan materi yang akan disampaikan.
b) Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-
masing ketua kelompok untuk memberi penjelasan tentang
materi.
c) Masing-masing ketua kelompok kembali kekelompoknya
masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang
disampaikan oleh guru kepada temannya.
d) Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas
kerja, untuk menuliskan pertanyaan apa saja yang menyangkut
materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
e) Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari
satu siswa kesiswa yang lain selama kurang lebih 15 menit.
f) Setelah siswa dapat satu bola /satu pertanyaan diberikan
kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang
tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
g) Evaluasi.
h) Penutup.

f. Fecilitator and Explaning


Siswa mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta lainnya.
Langkah-langkah:
a) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
b) Guru menyajikan materi.
c) Memberikan kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada
peserta peserta lainnya baik melalui peta konsep maupun yang
lainnya.
d) Guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa.
e) Guru menyiapkan semua materi yang disajikan saat itu.
f) Evaluasi.
g) Penutup.

g. Demonstration
Langkah-langkah:
a) Guru menyampaikan TPK.
b) Guru menyajikan gambaran sekilas materi yang akan
disampaikan.
c) Siapkan bahan alat yang diperlukan.
d) Menunjuk salah satu seseorang siswa untuk mendemonstrasikan
sesuai skenario yang telah disiapkan.
e) Seluruh siswa memperhatikan demonstrasi dan menganalisa.
f) Guru membuat kesimpulan.

h. Explicit Instruction/ Pengajaran langsung


Pembelajaran langsung khusus yang dirancang untuk
mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedur dan
pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan dengan pola selangkah
demi selangkah.
Langkah-langkah:
a) Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
b) Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan
c) Membimbing pelatih
d) Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
e) Memberi kesempatan untuk latihan lanjutan.

i. Cooperative Integrated Reading and Composition/Kooperatif Terpadu


Membaca dan Menulis
Langakah-langkah:
a) Membentuk kelompok yang tiap anggotanya terdiri dari 4 orang
secara acak.
b) Guru memberikan wacana sesuai dengan topik pembelajaran.
c) Siswa saling bekerjasama untuk mengemukakan dan
membacakan ide pokok dan materi tanggapan terhadap wacana
dan ditulis diselembar kertas.
d) Membacakan hasil kelompok.
e) Guru membuat kesimpulan bersama.
f) Penutup.

j. Lingkaran kecil-Lingkaran Besar


Langakah-langkah:
a) Separuh kelas berdiri membentuk lingkaran kecil dan
menghadap keluar
b) Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran diluar lingkaran
pertama menghadap kedalam
c) Dua siswa yang saling berpasangan dilingkaran kecil dan
besarberbagi informasi.
d) Kemudian siswa berada dilingkaran kecil diam ditempat,
sementara siswa yang berada dilinglaran besar bergeser satu
atau dua langkah bergeser searah jarum jam.
e) Sekarang giliran siswa berada dilingkaran yang membagi
informasi.dan seterusnya.

2. Manfaat Model Pembelajaran Kreatif


Menurut Jumanta Hamdayama, memiliki beberapa karakter penting
yaitu sebagai berikut.
a. Berpusat pada anak atau siswa.
b. Memberikan pengalaman pada anak.
c. Pemisahan mata pelajaran tak begitu jelas.
d. Bersifat lues.
e. Menyajikan konsep dan mata pelajaran dalam proses pembelajaran.
f. Hasil pembelajarannya dapat berkembang sesuai dengan minat dan
kebutuhan anak.

Pembelajaran kreatif dapat dipandang sebuah bentuk pembelajaran


yang berkaitan erat dengan inteligensi. Menurut Gardner (1978) dengan
karya Florence (2013) menyebutkan bahwa kreativitas sebagai bentuk dari
“multiple inteligensi” yang meliputi berbagai macam fungsi otak. Ada
beberapa kelebihan dan keunggulan model pembelajaran kreatif ini, yaitu
sebagai berikut.
a. Pengalaman dan kegiatan pembelajaran akan selalu relevan dengan
tingkat perkembangan anak.
b. Kegiatan yang dipilih dalam pembelajaran selalu disesuaikan dengan
minat dan kebutuhan anak.
c. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak, sehingga hasil
belajar akan bertahan lebih lama.
d. Pembelajaran kreatif akan menumbuhkan keterampilan berfikir anak.
e. Menyajikan kegiatan yang bersifat prakmatis sesuai dengan
permasalahan yang sering ditemui anak dalam lingkungan.
f. Menumbuhkembangkan dalam keterampilan sosial anak, seperti
kerjasama, toleransi, serta respect terhadap gagasan orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Hamdayana, Jumanta. 2014. Model Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter. Bogor:
Ghalia Indonesia.

Eveline Siregar & Hatini Nara. 2011. Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia
Indonesia.

Rofiq, Nafiur. 2010. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning). Jurnal Falafisah


1(1):1-14.