Anda di halaman 1dari 5

NAMA : TARYANDI

NIM : 030664473
MATKUL : ADMINISTRASI KEUANGAN
DISKUSI 6

1. Silahkan anda cari APBD suatu daerah (provinsi/kabupaten/kota), lalu anda


bandingkan persentasi Pendapatan Asli Daerah dan Pendapatan dana transfernya.
Mana yang lebih besar ? dari data yang anda peroleh tersebut, apa yang dapat anda
maknai jika dikaitkan dengan desentralisasi fiscal dan kemandirian daerah ?
2. Silahkan anda amati kembali APBD yang anda peroleh, lalu amati jenis-jenis
Pendapatan Asli Daerah di daerah tersebut. Menurut anda, sector mana yang
menyumbang PAD terbesar bagi daerah yang anda amati tersebut ? Apa yang dapat
anda maknai dari data tersebut ?
3. Secara umum, menurut saudara, bagaimana cara untuk meningkatkan potensi
pendapatan asli daerah dari suatu daerah ?

Jawab:
Berikut data APBD Pemerintah Kota Surabaya Tahun 2018:
1. Dari data APBD di atas, dapat diketahui:
Total Pendapatan = Rp 8.175.219.120.669,10
Yang terdiri dari:

 PAD = Rp 4.973.031.004.727,10 (Persentase: 60,83%)


 Pendapatan Transfer = Rp 2.971.893.970.892,00 (Persentase: 36,35%)
 Lain-lain pendapatan = Rp 230.294.145.050,00 (Persentase: 2,82%)

A. Rasio Derajat Desentralisasi Fiskal


Derajat Desentralisasi Fiskal adalah kemampuan pemerintah daerah
dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah guna
membiayai pembangunan. Derajat Desentralisasi Fiskal, khususnya
komponen PAD dibandingkan dengan Total Pendapatan Daerah.

Kemampuan Keuangan daerah:


 1,00 – 10,00 : Sangat Kurang
 10,01 – 20,00 : Kurang
 20,01 – 30,00 : Cukup
 30,01 – 40,00 : Sedang
 40,01 – 50,00 : Baik
 > 50,00 : Sangat Baik
Sumber: (Abdul Halim, 2007 : 234)
B. Kemandirian Daerah
Rasio kemandirian mengggambarkan ketergantungan daerah
terhadap sumber Dana Pusat ekstern. Semakin tinggi resiko
kemandirian mengandung arti bahwa tingkat ketergantungan daerah
terhadap bantuan pihak ekstern semakin rendah dan demikian pula
sebaliknya. Rasio kemandirian juga menggambarkan tingkat
partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah. Semakin tinggu
rasio kemandirian, semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam
membayar pajak dan retribusi daerah menggambarkan bahwa tingkat
kesejahteraan masyarakat semakin tinggi.

Sehingga yang dapat saya maknai adalah bahwa dengan PAD sebesar Rp
4.973.031.004.727,10 (60,83%), posisi PAD lebih besar dibandingkan dengan Dana
Transfer. Ini berarti rasio kemandirian keuangan daerah dan derajat desentralisasi
keuangan Pemkot Surabaya di tahun 2018 berada dalam kategori Sangat Baik
“60,83%”. Kebutuhan biaya pembangunan untuk percepatan pembangunan di Kota
Surabaya ketergatungannya pada pusat/ fiskal pusat hanya 36,35% (Sisanya
sebanyak 2,82% bersumber dari lain-lain pendapatan yang sah.) Ini artinya
Pemerintah Kota Surabaya tidak bergantung sepenuhnya kepada Pusat.
2. Sektor penyumbang PAD terbesar dari data APBD Pemkot Surabaya tahun 2018
adalah dari sektor Pajak Daerah yakni mencapai 76,76% dari total PAD.

Pajak Daerah adalah salah satu sumber pendapatan daerah (APBD) yang penting
untuk membiayai pelaksanaan pemerintahan daerah dan pembangunan yang
digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Pajak Daerah adalah iuran wajib terutang yang dilakukan oleh wajib Pajak Orang
Pribadi atau Badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang.
Pemungutan pajak daerah dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Dengan besarnya pajak daerah yang didapat sebagai PAD kota Surabaya tersebut,
berarti bahwa Pemerintah Kota Surabaya betul-betul telah optimal dalam
pemungutan berbagai jenis pajak daerah. Juga mengindikasikan tingginya partisipasi
dan kepatuhan masyarakat Surabaya dalam membayar pajak daerah.

3. Cara untuk meningkatkan potensi PAD

 Intensifikasi
Intensifikasi pajak adalah kegiatan yang dilakukan untuk menambah jumlah
penerimaannya dari wajib pajak yang sudah terdaftar sebagai wajib pajak
daerah. Sedangkan proses pelaksanaan kegiatan intensifikasi pajak daerah
dimulai dari melakukan pemembinaan, sosialisasi peraturan terkait pajak
daerah, pengawasan sekaligus melakukan pemeriksaan dalam rangka
meningkatkan kesadaran dan kepatuhan wajib pajak dalam melakukan
kewajiban perpajakan daerahnya sesuai dengan peraturan dan ketentuan
yang berlaku dan juga khususnya untuk peningkatan penerimaan pajak
daerah.

Dengan intensifikasi, fiskus mencermati apakah wajib pajak telah melaporkan


seluruh obyek pajak yang ada padanya dengan jumlah yang sebenarnya.
Titik beratnya adalah masalah teknis pemungutan pajak. Secara umum
dilakukan dengan penyuluhan, dengan beragam cara dan melalui berbagai
media. Secara khusus untuk wajib pajak tertentu, bisa dalam bentuk
himbauan, konseling, penelitian, pemeriksaan dan bahkan penyidikan apabila
terdapat indikasi adanya pelanggaran hukum.

 Ekstensifikasi.

Ekstensifikasi pajak adalah kegiatan untuk mencari informasi terkait objek


dan subyek pajak yang telah memenuhi syarat atau belum memenuhi syarat
sebagai wajib pajak daerah, tetapi belum terdaftar sebagai wajib pajak lalu
dilakukan pengawasan serta pembinaan melalui media sosialisasi sampai
mereka terdaftar sebagai wajib pajak daerah.

Ekstensifikasi dalam skala mikro, fiskus menambah wajib pajak terdaftar dari
hasil mencermati adanya wajib pajak yang memiliki obyek pajak untuk
dikenakan pajak, namun belum terdaftar. Ekstensifikasi dapat terjadi secara
‘soft’, yaitu wajib pajak secara suka rela mendaftarkan diri, atau dapat juga,
berdasarkan data yang dimiliki fiskus melakukan pengukuhan secara jabatan.
Ekstensifikasi dalam skala makro, ada dalam tataran kebijakan.
Fiskus mengenakan pajak atas subyek ataupun obyek pajak yang semula
belum dikenakan pajak, Ini dilakukan sejalan dengan perkembangan potensi
ekonomi dan melalui perkembangan informasi. Dengan pengkajian yang
komprehensif, dapatlah ditentukan subyek ataupun obyek pajak baru yang
akan menambah penerimaan pajak.

 Meningkatkan pengawasan
Hal ini dapat ditingkatkan yaitu antara lain dengan melakukan pemeriksaan
secara dadakan dan berkala, memperbaiki proses pengawasan, menerapkan
sanksi terhadap penunggak pajak dan sanksi terhadap pihak fiskus, serta
meningkatkan pembayaran pajak dan pelayanan yang diberikan oleh daerah.
Upaya yang dapat dilakukan antara lain.

 Meningkatkan efisiensi administrasi dan menekan biaya pemungutan


Tindakan yang dilakukan oleh daerah yaitu antara lain memperbaiki prosedur
administrasi pajak melalui penyederhanaan admnistrasi pajak, meningkatkan
efisiensi pemungutan dari setiap jenis pemungutan.

 Memperkuat proses pemungutan


Upaya yang dilakukan dalam memperkuat proses pemungutan, yaitu antara
lain mempercepat penyusunan Perda, mengubah tarif khususnya tarif
retribusi.

Sumber:
https://www.radarbanten.co.id/eksentisikasi-dan-intensifikasi-pajak-daerah/