Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini penanganan ibu hamil yang terinfeksi HIV lebih kompleks
daripada sebelumnnya. Terapi obat- obatan meningkat secara
eksponensial sejak epidemic ditemukan untuk pertama kalinya. Ahli
obstetric yang menangani ibu pengidap HIV harus bekerjasama dengan
praktisi klinis yang ahli dalam bidang terapi obat masa kini.HIV berkaitan
erat dengan hasil luaran kesehatan ibu yang membaik dan rendahnya
penularan perinatal HIV.

Di Indonesia, penularan HIV sebagian besar terjadi melalui


hubungan seksual tanpa proteksi pada mereka yang suka berganti
pasangan dan penggunaan jarum suntik tidak steril. Kementrian
Kesehatan memproyeksikan bahwa tanpa percepatan pencegahan,
sebanyak 542.700 orang terinfeksi HIV positif pada akhir tahun 2014.
Indonesia melaporkan infeksi HIV yang kumulatif dan berelanjutan
sehingga kasus AIDS meningkat dari total 79,979 pada tahun 2010
menjadi 106.758 pada tahun 2011, yang menunjukkan adanya 42,622
penderita HIV baru telah teridentifikasi selama periode dua tahun. selama
periode yang sama, jumlah fasilitas konsling dan pemeriksaan juga
meningkat lebih dari empat kali dai 156 pada provinsi di tahun 2009
menjadi 500 pada 33 provinsi di tahun 2011.

Sebagian besar penderita HIV yang menerima terapi antiretrovirus


dapat bertahan hidup dan sehat lebih lama daripada mereka yang
terinfeksi pada permulaan epidemi. Demikian juga penggunaan obat-
obatan antiretrovirus selama kehamilan yang telah mengurangi risiko
penularan HIV perintal secara drastis. Di Indonesia, kementrian
Kesehatan mengestimasikan bahwa dari 5.060.637 ibu hamil di Indonesia

1
pada tahun 2011, 0,4% (21,103) di antaranya telah melakukan
pemeriksaan HIV. Dari mereka yang melakukan pemeriksaan HIV 2,5% di
antaranya (354 ibu hamil) diketahui positif. Proporsi ibu hamil yang
diketahui menerima profilaksis antiretrovirus meningkat, dengan target
pada akhir tahun 2014 sejumlah 3,175 orang. Presentase ibu hamil positif
HIV di Indonesia yang menerima terapi antiretrovirus untuk mereduksi
risiko penularan HIV terhadap bayi dalam kandungannya semakin
bertambah dilihat dari tahun 2009 (4,6%) hingga 2011 (15,72%)

Berdasarkan kasus yang ditemui di RSUP Dr.Sardjito Poli Obsgyn


penyusun mengangkat topik asuhan kebidanan pada Ibu hamil dengan
B20. Alasan penyusun mengangkat topik tersebut karena penyusun
merasa kasus sangat menarik dilihat dari penanganan yang dilakukan.
Selain itu alasan mengapa penyusun memilih topik ini yaitu agar
penyusun dapat memahami dan mengetahui prosedur penatalaksanaan
kasus terhadap ibu hamil pengidap B20. Berdasarkan latar belakang di
atas penyusun memilih topik dengan judul “ Ny. Ar Usia 37 Tahun
G3P3Ab0Ah2 Usia Kehamilan 33+1 Minggu dengan HIV”.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Memperoleh gambaran hasil pengelolaan asuhan kebidanan pada ibu
hamil dengan HIV di RSUP Dr.Sardjito.
2. Tujuan khusus
a. Mampu melaksanakan pengkajian pada kasus ibu hamil dengan HIV.
b. Mampu mengidentifikasi diagnose/ masalah kebidanan berdasarkan
data subjektif dan data objektif.
c. Mampu menentukan masalah potensial yang mungkin terjadi
d. Mampu menentukan kebutuhan segera
e. Mampu melaksanakan perencanaan asuhan secara menyeluruh.

2
f. Mampu melakukan tindakan yang akan dilakukan untuk menangani
kasus persalinan yang aman.
g. Mampu melakukan evaluasi serta pendokumentasian kasus yang
ditemukan.

3
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Virus HIV


Virus HIV adalah virus RNA. Virus ini terdiri dari partikel virus yang
dikelilingi oleh membrane lipid. Retrovirus RNA mengenali beberapa
reseptor sel dan melekat pada dinding sel limfosit CD4. Setelah
perlekatan, partikel- partikel virus memasuki sitoplasma sel inang CD4.
Virus RNA kemudian dapat menggunakan enzim yang disebut reverse
transciptase untuk membentuk DNA, dengan menggunakan RNA virus.
Selanjutnya, DNA virus memasuki nucleus sel dan memulai mengambil
alih fungsi sel. Rantai DNA virus menggunakan sel inangnya untuk
memproduksi lebih banyak virus dan RNA-nya. Miliaran virion HIV
dibentuk dan dilepaskan ke dalam sirkulasi darah setiap harinya.
Banyaknya RNA HIV bebas ini dapat diukur oleh tes yang disebut viral
load. Peningkatan populasi limfosit CD4 mengakibatkan kerusakan fungsi
dan pemendekan waktu paruh. Pada pasien yang tidak diobati, jumlah sel
limfosit CD4 semakin lama semakin menurun dan mereka semakin rentan
terhadap komplikasi terkait HIV. Produksi virus berlangsung terus selama
sel masih hidup. Virus RNA yang baru kemudian masuk ke dalam sel
tubuh dan melanjutkan siklus replikasi.Terapi antiretrovirus HIV efektif
menginterupsi siklus ini. Hasilnya berupa penurunan produksi virus yang
dramatis, kenaikan jumlah sel- sel CD4 dan peningkatan fungsi imun.

B. Etiologi
Pada tahun 1981 sindrom AIDS yang ditemukan pada sekelompok
homoseksual laki- laki dan ditularkan melalui transfuse darah dilaporkan
dari New York dan Los Angeles. Pada tahun 1983 dapat diisolasi dari sel-
T penderita limfadenopati, sekarang disebut HIV1. Pada tahun 1986 dari
seorang penderita AIDS di Afrika Barat ditemukan virus yang sekerabat ,
yaitu HIV2.

4
Pada tahun 2010 diduga terdapat 34 juta orang terinfeksi virus HIV di
seluruh dunia, 22 juta diantaranya di Afrika sub Hara, HIV1 merupakan
penyebab utama pandemic AIDS.
Penularan HIV, infeksi ditularkan melalui beberapa cara yaitu melalui
hubungan seksual, penularan vertikal dan melalui darah
1. Hubungan seksual
Penularan melalui hubungan seksual meripakan cara penularan yang
paling umum terjadi di seluruh dunia. Risiko tertular HIV akan meningkat
jika pasangan juga menderita penyakit lain yang ditularkan melalui
hubungan seksual dan pada infeksi HIV primer.
2. Penularan vertikal
Penularan dari ibu pada janinnya merupakan cara penularan utama
kedua, yang terjadi secra utero selama kehamilan, infeksi pasca kelhiran
(postnatal) atau melalui ASI.
3. Paparan dengan darah
Penularan terjadi melalui jarum suntik bersama oleh pengguna narkoba
intravenous kecelakaan tertular melalui jarum suntik penderita atau
terinfesi melalui paparan mukokutan.

C. Komplikasi
Beberapa studi menunjukkan bahwa kehamilan dapat
mengakibatkan penurunan Th1 (imunitas seluler) namun dalam waktu
yang sama mengakibatkan peningkatan imunitas Th2 (antibody dan
humoral). Sitokin yang memproduksi antibodi meningkat, sedangkan yang
bersifat sitotoksik menurun. Belum ada penjelasan pasti tentang
bagaimana perubahan ini termediasi, namun plasenta dan hormone-
hormone kehamilan dainggap berperan. Sel- sel T aktif mempunyai
reseptor untuk progesterone. Selain itu, hasil penelitian in vitro
menunjukkan bahwa progestron dapat menyebabkan perubahan imunitas
yang diperantarai sel menjadi imunitas humoral. Imunitas yang
diperantarai sel tampak berubah untuk membantu toleransi janin.

5
Pada permulaan epidemik HIV, terdapat pemikiran bahwa
kehamilan akan mempercepat perkembangan infeksi HIV, sebab terdapat
perubahan imunitas terkait sel dalam kehamilan. Akan tetapi, dalam
penelitian terkontrol mengenai ibu hamil terinfeksi HIV yang dibandingkan
dengan perempuan- perempuan tak hamil terinfeksi HIV symptoamatic,
diketahui bahwa kehamilan tidak mempunyai dampak terhadap
perkembangan peyakit. Kehamilan tidak membuat infeksi HIV bertambah
parah.
Infeksi HIV primer dapat tidak bergejala (asymptomatic), bergejala
ringan (midly symptomatic) menyerupai flu atau bergejala parah (severely
symptomatic). Infeksi primer HIV bergejala disebut sindrom retrovirus akut
dan biasanya terjadi dalam beberapa minggu setelah infeksi HIV akut,
sehingga pemeriksaan antibody HIV bersifat nonreaktif, namun RNA HIV
(viral load) akan terdeteksi tinggi. Pengukuran antibody HIV dan viral load
harus dilakukan jika infeksi primer HIV diduga terjadi. Gejala biasanya
muncul pada 5- 30 hari setelah infeksi HIV. Gejala tersebut mencakup
demam, ruam, limfadenopati, faringitis dan myalgias. Gejala neurologis
juga dapat terjadi. Sindrom yang muncul menyerupai mononukleus namun
diagnosis yang tepat seringkali sulit mengalami perkembangan
imundefisiensi progresif jika infeksi HIV dapat bervariasi tergantung dari
system imun inang, kondisi komorbid dan virulensi virus. Beberapa
penderita akan menunjukkan progres defisiensi imun yang cepat dan
dalam kejadian tertentu penerita dapat mengalami kondisi rentan yang
mempercepat terjadinya AIDS.

D. Diagnosis

Pemeriksaan riwayat dan kondisi fisik harus dilakukan pada


perempuan hamil yang terinfeksi HIV untuk melihat apakah terdapat
kondisi kesehatan ibu yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan janin.
Penderita harus diwawancara seputar riwayat kemungkinan terkena

6
infeksi, tuberculosis, penyakit menular seksual, penggunaan obat- obatan,
status imunisasi, ataupun isu penyalahgunaan zat tertentu. Perempuan
yang mengalami imunosupresi dengan gejala demam dan penurunan
berat badan mungkin terkena infeksi oportunistik, yang dapat
membahayakan kesehatan ibu dan janin (kecuali tuberculosis)

Pemeriksaan fisik harus difokuskan pada pemeriksaan tanda- tanda


infeksi lanjutan HIV atau penyakit menular seksual yang menyertai
(seperti ulser genital atau keputihan). Karena banyak penderita HIV juga
berisiko terhadap virus hepatitis, suatu pemeriksaan seksama terhadap
tanda- tanda penyakit hati lanjutan (seperti hepatomegali, splenomegali
spider angiomata) juga perlu dilakukan.

Selain pemeriksaan fisik dan riwayat penderita, para praktisi medis


juga perlu menginvestigasi perubahan perilaku yang berkaitan dengan
kenaikan risiko penularan HIV perinatal seperti kebiasaan merokok,
penyelahgunaan obat- obatan terlarang (seperti kokain, heroin) dan
berganti- ganti pasangan seksual tanpa menggunakan pengaman.
Beberapa factor risiko ini juga berkaitan dengan bayi berat lahir rendah.

E. Penanganan
Para ibu harus diberi konseling seputar dampak berbahaya konsumsi
alcohol atau kokain terhadap perkembangan janin. Penderita juga harus
disarankan untuk menghentikan kebiasaan merokok mereka. Para
penderita perlu disarankan untuk menggunakan kondom setiap kali
mereka melakukan aktivitas seksual, sebab penyakit menular seksual
dapat memicu persalinan premature dan teratogenisitas (seperti sifilis
congenital). Pusat pelayanan kesehatan harus memasukkan evaluasi
bukti infeksi yang ditularkan secara seksual ke dalam program
penanganan antenatal rutin.
Pemeriksaan ultrasonografi digunakan untuk mengistemasi usia
kehamilan dan menghitung tanggal kelahiran. Penentuan usia kehamilan

7
yang akurat khususnya diperlukan bagi para ibu hamil yang menderita
infeksi HIV, sebab kelahiran dini mungkin dibutuhkan untuk menurunkan
risiko penularan HIV perinatal. Persalinan sesar sebaiknya dilakukan pada
usia kehamilan 38 minggu dengan supresi viral incomplete (≥1000
salinan/ mL). Untuk memenuhi kebutuhan persalinan sesar dini dengan
risiko imaturitas pulmonary janin, ultrasonografi pada trimester pertama
kehamilan harus dilakukan untuk memastikan USG kehamilan yang
akurat.

F. Pemeriksaan Laboratorium
1. Hematokrit
Anemia maternal telah diketahui berkaitan dengan peningkatan
berbagai risiko luaran kehamilan serta penularan infeksi HIV dari ibu ke
bayi. Perbaikan penyebab potensial seperti defisiensi zat besi penting
untuk mencegah komplikasi kehamilan terkait anemia.

2. Interpretasi jumlah sel T CD4+

Jumlah sel CD4+ harus diperiksa pada kunjungan pertama dan


setidaknya setiap tiga bulan selama kehamilan. Untuk penderita yang
telah menjalani terapi antiretrivirus selama lebih dari dua atau tiga tahun,
secara konsisten menjalani supresi virus dan stabil secara klinis,
pemantauan jumlah sel CD4+ dapat diakukan setiap enam bulan.
Kehamilan itu sendiri berkaitan dengan penurunan jumah CD4 absolut
yang mungkin dipengaruhi oleh kenaikan volume darah plasma meskipun
biasanya tidak berdampak terhadap presentase sel CD4. Oleh sebab itu,
beberapa klinisi lebih menyukai pemantauan presentase sel CD4 selama
kehamilan, namun rekomendasi pengobatan masih diprediksi berdasarkan
jumlah sel CD4 absolut. Keputusan inisiasi terapi antiretrovirus dan
profilaksis untuk infksi oportunitik diambil berdasarkan jumlah sel CD4
absolut. Kriteria sel CD4 untuk inisiasi terapi antiretrovirus atau profilaksis

8
untuk pnemocystis, toksoplasmosis atau kompleks Mycobacterium avium
sama dengan penderita tak hamil yang terinfeksi HIV

3. Pengukuran Viral Load


Kadar RNA HIV plasma dipantau secara berkala selamakehamilan untuk
mengonfirmasi pencapaian dan keberlangsungan proses supresi virus.
Penderita perlu menunjukkan setidaknya penurunan satu log viremia
plasma sekitar satu bulan setelah permulaan terapi. supresi virus lengkap
dapat tercapai dalam 16- 24 minggu setelah inisiasi terapi. Kadar RNA
HIV biasanya dipantau saat awal diterima di pusat perawatan hingga
perawatan berlangsung, pada saat permulaan terapi antiretrovirus, 2-4
minggu setelah permulaan atau perubahan terapi, supresi virus bulanan
hingga lengkap dan setidaknya setiap tiga bulan selama sisa waktu
kehamilan.
Selain itu, viral load plasma harus dapt diperiksa pada usia
kehamilan 34- 36 minggu untuk menambah pertimbangan bagi penentuan
tanggal dan metode persalinan. Jika viral laod terdeteksi, maka tes
resistensi mungkin perlu dilakukan. Jika viral load > 1000 persalinan/ mL
pada saat mendekati term kehamilan,penderita sebaiknya diberi knseling
mengenai manfaat pembedahan sesar terjadwal pada usia kehamilan 38
minggu untuk mencegah penularan perinatal.
4. Pemeriksaan resistensi obat- obatan
Pemeriksaan resistesi obat antiretrovirus sebaiknya dilakukan
sebelum memulai atau memodifikasikan regimen pengobatan
antiretrovirus pada semua ibu hamil dengan kadar RNA HIV di atas
ambang batas untuk pemeriksaan resistensi (yaitu >500 hingga 1000
salinan/ mL). Karena viral load berkaitan dengan risiko penularan perinatal
para ibu di masa akhir kehamilan, regimen antiretrovirus harus segera
dimulai tanpa menunggu hasil pemeriksaan resistensi, untuk
mengoptimalkan tindakan pencegahan penularan perinatal. Ketika hasil

9
pemeriksaan diperoleh regimen ARV dapat disesuaikan menurut
kebutuhan setiap penderita.
5. Pemeriksan Virus Hepatitis
Ibu hamil yang terinfeksi HIV harus menjalani skrining virus hepatitis
B dan C. Sebab koinfeksi sering ditemui pada penderita yang terinfeksi
HIV akibat penyebaran jalur penularan (misalnya penggunaan obat-
obatan). Pemeriksaan infeksi hepatitis B meliputi antigen dan antibody
permukaan hepatitis B terhadap antigen permukaan dan inti (core) seperti
anti-HB coredam anti-HBs. Pemeriksaan ineksi hepatitis C melingkupi
pemeriksaan serologis.Penderita dengan infeksi lanjutan HIV (jumlah sel
CD4 < 100 sel) dan risiko factor HCV (missal riwayat penyalahgunaan
jarum suntik untuk obat- obatan terlarang) juga perlu menjalani
pemeriksaan RNA HC, sebab hasil pemeriksaan antobodi mungkin
negative semu (fasely negative).
Ibu yang terinfeksi HIV namun tidak terbukti terinfeksi hepatitis B
(hasil anti-HB core dan anti-HBs nonreaktif) perlu memulai serangkaian
imunisasi HBV, karena vaksin rekombinan aman untuk diberikan selama
kehamilan. Ibu hamil yang terinfeksi HIV dengan bukti infeksi hepatitis B
kroni akan membutuhkan konsultasi denfan spesialis yang
berpengalaman dalam menangani penyakit HIV sekaligus hepar.
Ibu hamil yang terinfeksi HIV tanpa bukti infeksi HVC harus diberi
konseling berkaitan dengan penghindaran akuisisi HCV (misalnya
abstinensia dari penggunaan jarum suntik, penghindaran hubungan
seksual tanpa pengaman dengan pasangan yang seropositif terhadap
HCV). Ribavirin bersifat kontraindikasi selama kehamilan sehingga tidak
direkomendasikan bagi infeksi akut dengan HCV selama kehamilan.
Secara teori juga terdapat peningkatan risiko penularan HCV terhadap
bayi akibat tingginya kadar virema yang teramati selama permulaan
infeksi. Penularan vertikal HCV Nampak terfasilitasi akibat koinfeksi HIV,
jika dibandingkan dengan penderita HIV seronegati.

10
6. Pemeriksaan Tuberkolosis
Penderita yang terinfeksi HIV berisiko tinggi terhadap perkembngan
penyakit aktif setelah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Untuk itu,
semua penderita harus diperiksa terhadap infeksi tuberkolosis laten
setelah diagnosis HIV.
7. Screening penyakit menular seksual
Ibu yang terinfeksi HIV harus menjalani pemeriksaan penyakit
menular seksual, yang dapat berkaitan dengan kelahiran mati, persalinan
premature, dan baayi berat lahir rendah. Skrining terhadap infeksi sifilis
maternal tidak hanya penting dalam pencegahan sifilis congenital, namun
juga diketaui berhubungan dengan peningkatan risiko penularan HIV dari
ibu kepada bayi.
8. Serologi Toksoplasma
Toksoplasmosis congenital telah menjadi perhatian di kalangan ibu
hamil, namun seroprevalensinya bervariasi tergantung dari loaksi
geografis. Di antara perempuan negative HIV, bukti infeksi akut biasanya
ditentukan berdasarkan penemuan ultrasonografi abnormal.
Toksoplasmosis congenital dapat menyebabkan klasifikasi intracranial dan
kecacatan neurologis pada neonates. Akan tetapi, dalam kondisi infeksi
HIV, dokumentasi status serologis T.gondii maternal harus diperoleh
selama kehamilan.
9. Imunisasi
Imunisasi tertentu biasanya direkomendasikan selama kehamilan
secara umum, sedangkan yang lainnya secara spesifik ditunjukkan bagi
ibu- ibu yang terinfeksi HIV. Vaksin yang direkomendasikan untuk
digunakan toksoid difteri tereduksi (Td atau TdaP), dan vaksin
tetanus.Imunisasi ketika memungkinkan untuk meminimalkan factor-
factor yang berkaitan dengan teratogenisitas atau keguguran akibat vaksin
atau toksoid. Akan tetapi, imunisasi tetanus dan influenza dapat diberikan
selama trimester pertama untuk meminimalkan risiko- risiko yang dihadapi
oleh ibu hamil, janin ataupun neonates.Imunisasi rutin tambahan yang

11
diberikan pada ibu hamil terinfeksi HIV meliputi beberapa vaksin tak aktif
yaitu vaksin pneumokokus, vaksin hepatitis A dan B bagi mereka yang
belum pernah terinfeksi virus hepatitis.

G. Terapi Antiretrovirus
Intervensi medis dengan pengobatan antiretrovirus selama kehamilan
melibatkan dua tujuan yang terpisah namun saling berkaitan satu sama
lain yaitu reduksi penularan perinatal dan penanganan penyakit HIV
maternal. Semua ibu hamil yang terinfeksi HIV direkomendasikan untuk
menerima kombinasi regimen obat antiretrovirus, tanpa melihat julah
limfosit T CD4 atau jumlh salinan RNA HIV plasma, untuk mencegah
penularan perinatal.

Inisiasi terapi pada ibu hamil mungkin tidak mudah diputuskan, namun
terapi ini jelas dapat mereduksi risiko penularan vertikal. Untuk itu, klinisi
dan penderita perlu mempertimbangkan sejumlah factor, termasuk apakah
pengobatan diberikan untuk kebaikan ibu atau untuk mencegah penularan
vertikal. Umumnya terapi antiretrovirus harus dimulai setelah trimester
pertama untuk mencegah dampak teratogenetik yang mungkin terjadi,
kecuali apabila ibu membutuhkan terapi segera mungkin karena kondisi
kesehatannya. Berdasarkan petunjuk terkini, terapi antiretrovirus dapat
dimulai pada penderita asymptomatic jika jumlah CD4 kurang dari 350.
Tidak ada kombinasi sempurna dari obat- obatan atau aturan baku yang
dapat digeneralisasikan untuk semua penderita, sebab semua keputusan
terapeutik mempunyai risiko dan manfaat masing- masing. Salah satu
manfaatnya adalah rentang waktu bebas penyakit yang lebih lama karena
pertahanan fungsi imun dan berkurangnya risiko penularan virus pada
yang lain. Akan tetapi, antiretrovirus mempunyai toksisitas jangka panjang
maupun jangka pendek yang belum sepenuhnya dimengerti. Oleh karena
itu, penderita harus mengikuti jadwal pengobatan kompleks yang biasanya
sulit terpenuhi. Tidak terpenuhinya jadwal dapat menyebabkan resistensi

12
virus dan mempersulit terapi selanjutnya. Toleransi terhadap pengonbatan
mungkin juga sulit akibat hiperemesis. Selain itu, risiko teratogenisitas dari
berbagai pengobatan perlu dipertimbangkan meskipun seringkali data
yang tersedia sebagai petunjuk bagi para klinisi hanya sedikit. Terdapat
impliaksi janin yang signifikan bagi infeksi- infeksi seperti CMV atau
toksoplasmosis yang umumnya terjadi pada penderita dengan penurunan
imun.

H. Pencegahan Penularan Vertikal

Hal yang penting untuk mencegah penularan vertikal virus HIV


adalah dengan mengenali ibu hamil manakah yang terinfeksi, lalu
menggunakan terapi antiretrovirus untuk mereduksi viral load dalam darah
maupun sekresi genital. Secara umum, terdapat korelasi yang kuat antara
viral load dalam darah dan sekresi genital, namun dengan kadar yang
berbeda. Semakin lama ibu hamil menjalani pengobatan efeknya akan
semakin baik. Petunjuk terkini menyarankan bahwa terapi antiretrovirus
harus dimulai pada 28 minggu kehamilan.Jika penderita terinfeksi HIV
tidak mengambil antiretrovirus anterpatum, penderita harus menerima
pengobatan intrapartum dalamkaitannya dengan profilaksis bayi. Jika
seorang ibu hamil yang terinfeksi HIV tidak menerima pengobatan
antenatal atau intrapartum, bayi harus diobati dengan zidovudine selama
6 minggu pertama. Penurunan viral load marupakan factor yang paling
penting dalam mereduksi penularan virus. Akan tetapi, penularan perinatal
telah terkomfirmasi bahkan dengan kadar RNA virus dalam darah yang
tidak terdeteksi. Oleh karena itu, tingkat RNA bukanlah satu- satunya
indicator untuk pengobatan antiretrovirus. Terdapat beberapa pengukuran
lain yang mungkin membantu menurunkan penularan peinatal. Sekitar
70% penularan perinatal terjadi pada saat persalinan dan 30% terjadi di
dalam uterus. Sekitar dua per tiga penularan dalam uterus dianggap
terjadi dalam hari ke 14 sebelum persalinan. Pembedahan sesar dapat
mereduksi penularan vertikal, khususnya jika ibu mempunyai viral load

13
tinggi dan tidak mempunyai pemanjangan rupture membrane.
Pembedahan sesar tetap memiliki risiko, terutama jika viral load ibu tinggi.
Semakin tinggi viral load ibu, risiko morbiditas akibat infeksi pasca salin
semakin tinggi pula.

I. Prosedur Keamanan Tim Medis


Keseluruhan risiko penularan HIV terhadap tenaga media
bergantung pada jenis pendedaan, volume darah, viral load penderita,dan
respon imun tenaga kesehatan itu sendiri. Risiko infeksi HIV melalui
pendedahan perkutan adalah sebesar 0,3%, sedangkan risiko
pendedahan melalui membrane mucus adalah sekitar 0,09%.
Pendedahan terhadap kulit tampaknya berisiko minimal, namun risiko-
risiko tersebut menjadi lebih tinggi dengan menggunakan jarum yang lebih
besar, injeksi intramuskuler yang lebih dalam, volume darah yang lebih
banyak dan viral load yang lebih tinggi. Di sisi lain,risiko- risiko setelah
pendedahan terhadap cairan tubuh lainnya belum diketahui. Jika
pendedahan terjadi, daerah kontak harus dicuci segera dengan sabun dan
air, sedangkan larutan lain, seperti betadin bukan hal yang utama. Mata
harus dibilas dengan larutan salin normal. Tenaga medis yang terdedah
harus dievaluasi sesegera mungkin terhadap proilaksis pasca
pendedahan. Setelah pendedahan, pendapat para ahli penting untuk
segera diketahui, khususnya dalam kondisi tertentu seperti tenaga medis
yang tengah hamil atau terdedah virus yang resisten obat

J. Evident Based

TATALAKSANA INFEKSI HIV DALAM KEHAMILAN


Clara Marcaelia Valerian, Ketut Putera Kemara, I Wayan Megadhana

Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas


Udayana/Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar 2010

14
ABSTRAK
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus RNA yang dapat
menyebabkan penyakit klinis, yaitu Acquired Immunodeficiency Syndrome
(AIDS). Transmisi dari ibu ke anak merupakan sumber utama penularan
infeksi HIV pada anak dengan frekuensi mencapai 25-30%. Hal ini terjadi
akibat terpaparnya intrapartum terhadap darah maternal, sekresi saluran
genital yang terinfeksi dan ASI. Kombinasi terapi ARV yang tepat dan
persalinan dengan elektif seksio caesarean terbukti dapat menurunkan
prevalensi transmisi infeksi HIV dari ibu ke anak dan mencegah komplikasi
obstetrik secara signifikan. Konseling dan follow up dengan dokter spesialis
dari awal kehamilan sampai persalinan juga sangat dianjurkan.

Kata kunci: infeksi HIV, kehamilan

THE MANAGEMENT OF HIV INFECTION IN PREGNANCY


Clara Marcaelia Valerian, Ketut Putera Kemara, I Wayan Megadhana
Department of Obstetrics and Gynecology, Medical School, Udayana
University/Sanglah Hospital Denpasar

ABSTRACT
The Human Immunodeficiency Virus (HIV) is a RNA retrovirus which causes
the clinical disease termed the acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).
Mother-to-child transmission is the main source of spreading HIV infection to
the child with frequency is as high as 25-30%. This may occurred because of
the intrapartum maternal blood exposure, infected genital tract secretions and
during breastfeeding. The right combination of ARV treatment and elective
section caesarean delivery has been proved to reduce the mother-to-child
transmission of HIV infection prevalence and preventing obstetric
complications significantly. Consultation and follow up with specialists is
highly recommended.
Keywords: HIV, pregnancy

15
PENDAHULUAN
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah retrovirus RNA yang dapat
menyebabkan penyakit klinis, yang kita kenal sebagai Acquired
Immunodeficiency Syndrome (AIDS).1 Transmisi dari ibu ke anak merupakan
sumber utama penularan infeksi HIV pada anak. Peningkatan transmisi dapat
diukur dari status klinis, imunologis dan virologis maternal. Menurut beberapa
penelitian, kehamilan dapat meningkatkan progresi imunosupresi dan
penyakit maternal. Ibu hamil yang terinfeksi HIV juga dapat meningkatkan
resiko komplikasi pada kehamilan.1,2,3,4
Pada tahun 2001, United Nations General Assembly Special Session untuk
HIV/AIDS berkomitmen untuk menurunkan 50% proporsi infeksi HIV pada
bayi dan anak pada tahun 2010. Program tersebut termasuk intervensi yang
berfokus pada pencegahan primer infeksi HIV pada wanita dan pasangannya,
pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita infeksi HIV,
pencegahan transmisi dari ibu ke anak, pengobatan, perawatan serta
bantuan bagi wanita yang hidup dengan HIV/AIDS, anak dan keluarga
mereka. Oleh karena itu, untuk memberantas transmisi vertical HIV yang
terus meningkat diperlukan penatalaksanaan yang tepat pada ibu dan bayi
selama masa antepartum, intrapartum dan postpartum. 3

TEORI DAN KONSEP TENTANG TATALAKSANA INFEKSI HIV DALAM KEHAMILAN


Epidemiologi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh World Health Organization
(WHO) pada tahun 2008, lebih dari 15,7 juta wanita dan 2,1 juta anak
dibawah umur 15 tahun hidup dengan AIDS. 5 Di Amerika Serikat sendiri,
tercatat 71% terinfeksi HIV terjadi pada wanita berumur 25 sampai 44 tahun
dan 20% dari kasus tersebut mengidentifikasi wanita berkulit hitam.
Sebanyak 80% kasus disebabkan oleh hubungan heteroseksual, 20% akibat
terkontaminasi jarum suntik dan sisanya melalui transfusi darah dan transmisi
perinatal.2,4,6

HIV tipe 1 lebih banyak ditemukan di Amerika Serikat, sedangkan HIV tipe 2
merupakan virus endemik di Afrika, Portugal dan Perancis. Meskipun

16
demikian, kedua jenis virus ini akan berkembang menjadi AIDS dan
menyebabkan kematian.1,2,6

Virologi dan Patogenesis


HIV adalah jenis virus RNA rantai tunggal dari keluarga lentivirus.
Karakteristik dari virus ini adalah panjangnya periode inkubasi yang diikuti
dengan panjangnya durasi penyakit. HIV tipe1 lebih kuat, mematikan dan
mudah bertransmisi daripada HIV tipe2.
HIV masuk ke dalam makrofag dan sel T CD4+ melalui glikoprotein pada
permukaan sel menuju reseptor pada sel target. Keadaan ini diikuti oleh
penggabungan viral envelope dengan membran sel dan pelepasan capsid
HIV ke sel. Virus ini menggunakan virally-encoded enzyme reverse
transcriptase untuk membentuk salinan DNA yang akan disisipkan ke dalam
DNA sel host dan direkam, menyebabkan lepasnya virus baru dan
penghancuran limfosit CD4. Proses reverse transcription ini mudah tejadi
kesalahan, mutasi dapat terjadi dan mengarah pada resistensi obat.
HIV mempunyai kemampuan khusus untuk menginfeksi sel imun dan
menyebabkan penurunan jumlah sel T CD4+ melalui 3 mekanisme yaitu

1. Membunuh virus langsung dari sel yang terinfeksi,


2. Meningkatkan apoptosis sel yang terinfeksi, dan
3. Membunuh sel T CD4+ oleh limfosit CD8 sitotoksik. Apabila sel T CD4+
berada dibawah level kritis, tubuh lebih mudah terserang penyakit
oportunistik, mengarah ke diagnosis AIDS

Manifestasi Klinis
Infeksi HIV dibagi menjadi 4 fase. Fase awal atau masa inkubasi terjadi 2-4
minggu pertama setelah terinfeksi, tidak ada gejala yang terjadi. Beberapa
minggu kemudian, pasien masuk ke fase infeksi akut yang ditandai oleh
gejala mirip flu, termasuk fatigue, demam, sakit kepala, limfadenopati.
Karakteristik dari fase ini adalah viral load tinggi, berlangsung selama 28 hari
sampai beberapa minggu. Fase ini diikuti oleh fase laten panjang yaitu 5
sampai 10 tahun, gejala hampir tidak ada tetapi virus tetap aktif berkembang

17
dan menghancurkan sistem imun tubuh. Seiring dengan menurunnya jumlah
CD4, penurunan imun juga terjadi dan AIDS terdiagnosis saat CD4 <200/ml.
Pasien akan menghadapi ancaman hidup dari infeksi oportunistik, seperti
Pneumocystis Carinii pneumonia (PCP), Micobacterium avium complex
(MAC), tuberkulosis pulmonari, toksoplasmosis, kandidiasis, dan infeksi
cytomegalovirus (CMV) atau keganasan seperti sarkoma Kaposi dan limfoma
non-Hodgkin.1,2,4,6
Hampir 90% kasus infeksi HIV pada anak disebabkan oleh transmisi
perinatal. Transmisi perinatal bisa terjadi akibat penyebaran hematogen.
Beberapa penelitian melaporkan tingginya kasus terjadi akibat terpaparnya
intrapartum terhadap darah maternal seperti pada kasus episiotomi, laserasi
vagina atau persalinan dengan forsep, sekresi genital yang terinfeksi dan
ASI. Frekuensi rata-rata transmisi vertikal dari ibu ke anak dengan infeksi HIV
mencapai 25-30%.2,3 Faktor lain yang meningkatkan resiko transmisi ini,
antara lain jenis HIV tipe 1, riwayat anak sebelumnya dengan infeksi HIV, ibu
dengan AIDS, lahir prematur, jumlah CD4 maternal rendah, viral load
maternal tinggi, anak pertama lahir kembar, korioamnionitis, persalinan
pervaginam dan pasien HIV dengan koinfeksi.2,4
Interpretasi kasus sering menjadi kendala karena pasien yang terinfeksi HIV
adalah karier asimptomatik1 dan mempunyai kondisi yang memingkinkan
untuk memperburuk kehamilannya. Kondisi tersebut termasuk
ketergantungan obat, nutrisi buruk, akses terbatas untuk perawatan prenatal,
kemiskinan dan adanya penyakit menular seksual. Komplikasi yang mungkin
terjadi adalah bayi lahir prematur, premature rupture of membran (PROM),
berat bayi lahir rendah, anemia, restriksi pertumbuhan intrauterus, kematian
perinatal dan endometritis pospartum.1,2

Diagnosis
Diagnosis infeksi HIV dapat dikonfirmasi melalui kultur virus langsung dari
limfosit dan monosit darah tepi. Diagnosis juga dapat ditentukan oleh deteksi
antigen virus dengan polymerase chain reaction (PCR). Terlihat penurunan
jumlah CD4, ratio CD4 dan CD8 terbalik dan level serum imunoglobulin
meningkat pada HIV positif. Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)

18
merupakan tes skrining HIV yang paling sering digunakan unruk
mengidentifikasi antibodi spesifik virus, baik HIV tipe 1 maupun HIV tipe 2.
Tes ini harus dikonfirmasi dengan Western blot assay atau
immunoflourescent antibody assay (IFA), untuk mendeteksi antigen spesifik
virus yaitu p24, gp120/160 dan gp41.1,2,4,6
American Congress of Obstetrics and Gynecology (ACOG)
merekomendasikan wanita berumur 19-64 tahun untuk melakukan skrining
HIV secara rutin, khususnya wanita yang beresiko tinggi diluar umur
tersebut.6 Pada kunjungan prenatal pertama, ibu hamil harus melakukan
skrining untuk infeksi HIV. 1,4,6 Apabila ibu menolak untuk melakukan tes, hal
tersebut harus dicantumkan kedalam rekam medisnya dan skrining bisa
dilakukan lagi sebelum umur kehamilan 28 minggu. Apabila hasil tes negatif
tetapi dokter memutuskan bahwa ibu adalah resiko tinggi terinfeksi HIV, tes
bisa diulang kembali pada trimester ketiga.4,6,7

Skrining untuk penyakit seksual lainnya, seperti herpes dan sifilis, juga
dianjurkan pada kehamilan. Pemeriksaan dengan spekulum vagina
dikerjakan untuk mendapatkan hapusan sitologi servikal dan assays untuk
gonore dan klamidia. Skrining ini juga bisa dipakai untuk rubela, hepatitis B
dan C, varisella zoster, measles, CMV dan toksoplasmosis. Apabila tes
tuberkulin kulit positif, torak foto sebaiknya dikerjakan setelah umur
kehamilan >12minggu untuk mengidentifikasi penyakit paru aktif. Ibu hamil
dengan HIV positif harus mendapat vaksin hepatitis A, hepatitis B,
Pneumovax, untuk mencegah infeksi pneumokokal dan virus influenza,
termasuk vaksin H1N1.1,2,6,7
Selama kehamilan, status viral load (HIV RNA-PCR) harus diperiksa setiap
bulan sampai virus tidak terdeteksi, dan dilanjutkan 3 bulan sekali setelahnya.
Pengobatan yang tepat dapat menurunkan viral load sebanyak 1 sampai 2
log dalam bulan pertama dan menghilang setelah 6 bulan pengobatan.
Evaluasi jumlah CD4 juga sangat diperlukan untuk mengetahui derajat
imunodefisiensi, perencanaan terapi ARV, terapi antibiotik profilaksis dan
metode persalinan yang akan dilakukan.2,4,5

19
Tata Laksana Prenatal
Sebelum konsepsi, wanita yang terinfeksi sebaiknya melakukan konseling
dengan dokter spesialis. Program ini membantu pasien dalam menentukan
terapi yang optimal dan penanganan obstetrik, seperti toksisitas ARV yang
mungkin terjadi, diagnosis prenatal untuk kelainan kongenital (malformasi
atau kelainan kromosomal) dan menentukan cara persalinan yang boleh
dilakukan.7,8 Wanita yang terinfeksi disarankan untuk melakukan servikal
sitologi rutin, menggunakan kondom saat berhubungan seksual, atau
menunggu konsepsi sampai plasma viremia telah ditekan. Profilaksis
terhadap PCP tidak diperlukan, tetapi infeksi oportunistik yang terjadi harus
tetap diobati.7 Status awal yang harus dinilai pada ibu hamil dengan infeksi
HIV adalahriwayat penyakit HIV berdasarkan status klinis, imunologis (jumlah
CD4 <400/ml) dan virologis (viral load tinggi). 4,6 Riwayat pengobatan, operasi,
sosial, ginekologi dan obstetrik sebelumnya harus dilakukan pada kunjungan
prenatal pertama. Pemeriksaan fisik lengkap penting untuk membedakan
proses penyakit HIV dengan perubahan fisik normal pada kehamilan. 6

Intervensi untuk Mencegah Progresifitas Penyakit Pada Ibu Hamil.


Highly active anti-retroviral therapy (HAART) adalah kemoterapi antivirus
yang disarankan oleh WHO untuk ibu hamil sebagai pengobatan utama HIV
selama masa kehamilan dan postpartum. Selain memperbaiki kondisi
maternal, HAART terbukti dapat mencegah transmisi perinatal yaitu dengan
mengurangi replikasi virus dan menurunkan jumlah viral load
maternal.2,3,4,5,6,8
Obat pilihan pertama yang boleh digunakan untuk ibu hamil adalah
lamivudine (3TC) 150 mg dan zidovudine (ZDV) 250 mg untuk golongan
nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTIs), nevirapine (NVP) 200 mg
untuk golongan non-NRTIs (NNRTIs), indinavir 800 mg dan nelfinavir 750 mg
untuk golongan protease inhibitors (PI).2 Obat-obatan ini terbukti memiliki
potensi teratogenik dan efek samping maternal yang sanagt minimal.
Sasaran terapi ARV pada kehamilan adalah untuk menjaga viral load
dibawah 1000 kopi/ml. Kombinasi terapi ARV dianjurkan untuk semua kasus

20
yaitu 2 NRTIs/NNRTIs dengan 1 PI.3,5 Berhubung ZDV merupakan satu-
satunya obat yang menunjukkan penurunan transmisi perinatal, obat ini harus
digunakan kapan saja memungkinkan sebagai bagian dari HAART. Apabila
viral load <10,000 kopi/mL, monoterapi ZDV 250 mg dapat diberikan secara
oral 2x sehari, dimulai antara umur kehamilan 20 sampai 28 minggu. Jika
wanita yang terinfeksi HIV ditemukan pada proses kelahiran, baik dengan
status HIV positif sebelumnya atau dengan hasil rapid test, lebih dari satu
pilihan pengobatan tersedia, tetapi semua harus termasuk infus ZDV. 3,4,6,9

Ibu hamil yang terinfeksi HIV dan tidak pernah mendapatkan terapi ARV,
HAART harus dimulai secepat mungkin, termasuk selama trimester pertama.
Pada kasus dimana ibu hamil yang sebelumnya mengkonsumsi HAART
untuk kesehatannya sendiri, harus melakukan konseling mengenai pemilihan
obat yang tepat. Efek samping obat terlihat meningkat pada ibu hamil dengan
jumlah sel T CD4+ <250/mL. Misalnya pada ibu dengan CD4 <200/ml yang
sebelumnya mendapat pengobat single dose NVP, ritonavir-boosted lapinavir
ditambah tenofovir-emtricitabine, diganti dengan NVP ditambah tenofovir-
emtricitabine sebagai terapi awal. Oleh karena itu, NVP sebaiknya bukan
single dose karena berpotensi menimbulkan hepatotoksik yang fatal pada ibu
hamil.6 Ibu hamil juga membutuhkan antibiotik profilaksis terhadap infeksi
oportunistik yang dideritanya. Apabila CD4 <200/ml, profilaksis pilihan untuk
PCP adalah Trimetrophine/sulfamethoxazole (TMX/SMX). Pada trimester
pertama, sebaiknya obat ini diganti dengan pentamidine aerosol karena obat
berpotensi teratogenik. TMX/SMX juga digunakan untuk mencegah
toksoplasmik ensefalitis dan diberikan saat level CD4 <100/ml. Azithromycin
menggantikan clarithromycin sebagai profilaksis MAC. Dosis seminggu sekali
jika jumlah CD4 <50/ml. Wanita yang sebelumnya mengkonsumsi obat-
obatan tersebut sebelum hamil sebaiknya tidak menghentikan
pengobatannya.1,2,3,6,7

Intervensi untuk Mencegah Transmisi Perinatal (PMTCT). Selain terapi


ARV dan profilaksis, pemilihan susu formula dibandingkan ASI terbukti dapat
menurunkan transmisi HIV dari ibu ke anak dari 15-25% sampai kurang dari

21
2%. Persalinan dengan elektif seksio sesaria ternyata juga dapat
menurunkan transmisi perinatal. Persalinan ini dinilai dapat meminimalkan
terpaparnya janin terhadapa darah maternal, akibat pecahnya selaput
plasenta dan sekresi maternal, saat janin melewati jalan lahir. Indikasi
persalinan dengan elktif seksio sesaria adalah wanita tanpa pengobatan
antiviral, wanita yang mengkonsumsi HAART dengan viral load >50kopi/mL,
wanita yang hanya mengkonsumsi monoterapi ZDV, wanita dengan HIV
positif dan koinfeksi virus hepatitis, termasuk HBV dan HCV. 2,4,5,6,7,9

HIV dengan koinfeksi dapat meningkatkan resiko transmisi HBV dan HCV
para perinatal. Oleh sebab itu, kombinasi 3 obat antivirus sangat
direkomendasikan tanpa memperdulikan level viral load. Misalnya pada
wanita dengan koinfeksi HBV/HIV, obat yang digunakan adalah kombinasi
dual NRTI tenofovir dengan 3TC/emitricitabine. Pasien juga harus sadar akan
gejala dan tanda dari toksisitas hati dan pemeriksaan transamninase
dilakukan setiap 2-4minggu. Selain ibu, bayi juga harus menerima
imunoglobulin hepatitis B dan memulai vaksinnya pada 12 jam pertama
kelahiran. Seperti HIV, PROM juga dapat meningkatkan transmisi HCV pada
perinatal. Persalinan dengan elektif seksio sesaria merupakan indikasi pada
kasus ini. Bayi harus dievaluasi dengan tes HCV RNA pada umur 2 dan 6
tahun atau HCV antibodi setelah umur 15 bulan.

Tata Laksana Komplikasi Obstetrik. Wanita dengan HIV positif yang


menjadi lemah mendadak pada masa kehamilannya, harus segera dievaluasi
oleh tim multidisiplin (dokter obstetrik, pediatrik dan penyakit dalam) untuk
mencegah kegagalan diagnostik. Komplikasi yang berhubungan dengan HIV
sebaiknya dianggap sebagai penyebab dari penyakit akut pada ibu hamil
dengan status HIV tidak diketahui. Pada keadaan ini, tes diagnostik HIV
harus segera dikerjakan.

Tata Laksana Persalinan.


Cara persalinan harus ditentukan sebelum umur kehamilan 38 minggu untuk
meminimalkan terjadinya komplikasi persalinan. Sampel plasma viral load
dan jumlah CD4 harus diambil pada saat persalinan. Pasien dengan HAART

22
harus mendapatkan obatnya sebelum persalinan, jika diindikasikan, sesudah
persalinan.4,5,7 Semua ibu hamil dengan HIV positif disarankan untuk
melakukan persalinan dengan seksio sesaria. Infus ZDV diberikan secara
intravena selama persalinan elektif seksio sesaria dengan dosis 2 mg/kg
selama 1 jam, diikuti dengan 1 mg/kg sepanjang proses kelahiran. Pada
persalinan ini, infus ZDV dimulai 4 jam sebelumnya dan dilanjutkan sampai
tali pusar sudar terjepit. National Guidelines menyarankan pemberian
antibiotik peripartum pada saat persalinan untuk mencegah terjadinya
infeksi.3,4,6,7,9

Ruangan operasi juga harus dibuat senyaman mungkin untuk mencegah


PROM sampai kepala dilahirkan melalui operasi insisi. Kelompok meta-
analisis Internasional Perinatal HIV, menemukan bahwa resiko transmisi
vertikal meningkat 2% setiap penambahan 1 jam durasi PROM. Jika
persalinan sesaria dikerjakan setelah terjadi PROM, keuntungan operasi jelas
tidak ada. Pada kasus ini, pemilihan jalan lahir harus disesuaikan secara
individu. Oleh karena itu, usahakan agar membran tetap intak selama
mungkin.6,7 Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh ACOG pada tahun
2000, pasien HAART dengan viral load >1000 kopi/mL, harus konseling
berkenaan dengan keuntungan yang didapat dari persalinan dengan elektif
seksio sesaria dalam menurunkan resiko transmisi vertikal pada perinatal.
Persalinan pervaginama yang direncanakan hanya boleh dilakukan oleh
wanita yang mengkonsumsi HAART dengan viral load <50 kopi/mL. Jika
pasien ini tidak ingin melakukan persalinan lewat vagina, seksio sesaria
harus dijadwalkan pada umur kehamilan 39+ minggu, untuk meminimalkan
resiko transient tachypnea of the newborn (TTN).7 Prosedur invasif seperti
pengambilan sampel darah fetal dan penggunaan eletrode kulit kepala fetal
merupakan kontraindikasi.2,7 Pada persalinan pervaginam, amniotomi harus
dihindari, tetapi tidak jika proses kelahiran kala 2 memanjang. Jika terdapat
indikasi alat bantu persalinan, forsep dengan kavitas rendah lebih disarankan
untuk janin karena insiden trauma fetal lebih kecil. 6,7

23
Tata Laksana Posnatal
Setelah melahirkan, ibu sebaiknya menghindari kontak langsung dengan
bayi. Dosis terapi antibiotik profilaksis, ARV dan imunosuportif harus
diperiksa kembali. Indikasi penggunaan infus ZDV adalah kombinasi single
dose NVP 200 mg dengan 3TC 150 mg tiap 12 jam, dan dilanjutkan ZDV/3TC
kurang lebih selama 7 hari pospartum untuk mencegah resistensi NVP.
Imunisasi MMR dan varicella zoster juga diindikasikan, jika jumlah limfosit
CD4 diatas 200 dan 400. Ibu disarankan untuk menggunakan kontrasepsi
pada saat berhubungan seksual.1,2,4,6,7

Secara teori, ASI dapat membawa HIV dan dapat meningkatkan transmisi
perinatal. Oleh karena itu, WHO tidak merekomendasikan pemberian ASI
pada ibu dengan HIV positif, meskipun mereka mendapatkan terapi ARV. 2,3,5
Saran suportif mengenai susu formula pada bayi sangat diperlukan untuk
mencegah gizi buruk pada bayi. Menurut penelitian yang dilakukan di Eropa,
semua wanita dengan HIV positif direkomendasikan untuk mengkonsumsi
kabergolin 1 mg oral dalam 24 jam setelah melahirkan, untuk menekan
laktasi.7

Tata Laksana Neonatus


Semua bayi harus diterapi dengan ARV <4jam setelah lahir. Kebanyakan bati
diberikan monoterapi ZDV 2x sehari selama 4 minggu. Jika ibu resisten
terhadap ZDV, obat alternatif bisa diberikan pada kasus bayi lahir dari ibu HIV
positif tanpa indikasi terapi ARV. Tetapi untuk bayi beresiko tinggi terinfeksi
HIV, seperti anak lahir dari ibu yang tidak diobati atau ibu dengan plasma
viremia >50 kopi/mL, HAART tetap menjadi pilihan utama. 3,5,7
Pemberian antibiotik profilaksis, cotrimoxazole terhadap PCP wajib dilakukan.
Tes IgA dan IgM, kultur darah langsung dan deteksi antigen PCR merupakan
serangkaian tes yang harus dijalankan oleh bayi pada umur 1 hari, 6 minggu
dan 12 minggu. Jika semua tes ini negatif dan bayi tidak mendapat ASI,
orang tua dapat menyatakan bahwa bayi mereka tidak terinfeksi HIV.
Konfirmasi HIV bisa dilakukan lagi saat bayi berumur 18 sampai 24 bulan. 1,7

24
RINGKASAN
Di negara berkembang, lebih dari 10 juta wanita hamil hidup dengan
HIV/AIDS. Sebanyak 80% kasus disebabkan oleh hubungan heteroseksual,
20% akibat terkontaminasi jarum suntik dan sisanya melalui transfusi darah
dan transmisi perinatal. Frekuensi rata-rata transmisi vertikal dari ibu ke anak
dengan infeksi HIV mencapai 30%. Kasus tertinggi terjadi akibat terpaparnya
intrapartum terhadap darah maternal, sekresi saluran genital yang terinfeksi
dan ASI. ACOG merekomendasikan wanita berumur 19-64 tahun untuk
melakukan skrining HIV secara rutin, khususnya wanita yang beresiko tinggi
diluar umur tersebut. Kombinasi terapi ARV yang tepat dan pemilihan cara
persalinan, yaitu persalinan dengan elektif seksio sesaria terbukti dapat
menurunkan prevalensi transmisi HIV dari ibu ke anak dan mencegah
komplikasi obstetrik secara signifikan. Konseling dan follow up dengan dokter
spesialis dari awal kehamilan sampai persalinan juga sangat dianjurkan.

K. Standart Pelayanan Opersional RSUP DR.Sardjito


1. SOP Asuhan Antenatal
- Pengertian
Asuhan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan pada
ibu hamil untuk mempersiapkan dirinya dalam melakukan
pemeliharaan kesehatan selama masa kehamilan, persalinan dan
nifas.
- Tujuan
Sebagai acuan dalam melakukan pemeriksaan asuhan antenatal
sehingga dapat melewati masa kehamilan dengan baik, melahirkan
bayi yang sehat dan memperoleh kesehatan yang optimal pada masa
nifas.
- Kebijakan
Semua ibu hamil yang datang di unit pelayanan rawat jalan dilakukan
pemeriksaan antenatal

25
- Prosedur
Alat
Leanec
2 Doppler/ speculum corong
Meteran pengukur LILA
Selimut
Reflek Hammer
Jarum suntik disposibel 2,5 ml
Air hangat
Timbangan berat badan dewasa
Tensimeter air raksa
Stetoskop
Bed Obstetrik
Spekulum ginekologi
Lampu halogen/ senter
Kalender kehamilan

Bahan
Sarung tangan
Kapas steril
Kassa steril
Alkohol 70%
Jelly
Sabun antiseptic
Wastafel dengan air mengalir
Vaksin TT

Prosedur
PERSIAPAN
1. Dokter/ bidan mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan

26
2. Dokter/ bidan mempersiapkan ibu hamil mengosongkan kandung
kemih.
3. Dokter/ bidan mencuci tangan dengan sabun antiseptic dan bilas
dengan air mengalir dan keringkan

PELAKSANAAN

1. Anamnesa
a. Riwayat perkawinan
b. Riwayat penyakit ibu dan keluarga
c. Kapan HPHT, untuk menentukan HPL
d. Riwayat imunisasi ibu saat ini
e. Kebiasaan ibu
f. Riwayat persalinan terdahulu

2. a. Pemeriksaan Umum
- Keadaan umum ibu hamil
- Ukur TB, BB dan LILA
- Tanda vital: tekanan darah, nadi dan respirasi
- Pemeriksaan fisik menyeluruh
- Mata (konjungtiva, ikhterus, gigi)
- Kaki: edema kaki
b. Pemeriksaan khusus

UMUR KEHAMILAN > 20 MINGGU


a. INSPEKSI
1. Tinggi fundus uteri
2. Hiperpigmentasi dan striae gravidarum
3. Keadaan dinding perut

27
b. PALPASI
Lakukan pemeriksaan Leopold dan intruksi kerjanya.
Pemeriksaan berada disisi kanan ibu hamil, menghadap bagian lateral
kanan
1. Leopold I
- Letakkan sisi lateral telunjuk kiri pada puncak fundus uteri untuk
menentukan tinggi fundus uteri.
- Angkat jari telunjuk kiri kemudian atur posisi pemeriksa sehingga
menghadap kebagian kepala ibu.
- Letakkan ujung telapak tangan kiri dan kanan pada fundus uteri dan
rasakan bagian bayi yang ada pada bagian tersebut dengan jalan
menekan secara lembut dan menggeser telapak tangan kiri dan kanan
secara bergantian
2. Leoplod II
- Letakkan telapak tangan kiri pada dinding perut lateral kanan dan
telapak kanan pada dinding perut lateral kiri ibu sejajar dan pada
ketinggian yang sama
- Mulai dari bagian atas, tekan secara bergantian atau bersamaan
telapak tangan kiri dan kanan kemudian geser kearah bawah dan
rasakan adanya bagian yang rata dan memenjang (punggung) atau
bagian yang kecil (ekstremitas).
3. Leopold 3
- Atur posisi pemeriksa pada sisi kanan dan menghadap sebagian kaki
ibu
- Letakkan ujung telapak tangan kiri pada dinding lateral kiri bawah,
telapak tangan kanan pada dinding lateral kanan bawah perut ibu,
tekan secara lembut bersamaan atau bergantian untuk menentukan
bagian bawah bayi.

28
4. Leopold IV
- Letakkan ujung telapak tangan kiri dan kanan pada dinding lateral kiri
dan kanan uterus bawah, ujung- ujung jari tangan kiri dan kanan
berada pada tepi atas simfisis.
- Temukan kedua jari kiri dan kanan, kemudian rapatkan semua jari- jari
tangan kanan yang meraba dinding bawah uterus
- Perhatikan ibu jari dan telunjuk tangan kiri pada bagian terbawah bayi
- Fiksasi bagian tersebut kearah pintu atas panggul, kemudian letakkan
jari- jari tangan kanan diantara tangan kiri simfisis untuk menilai
seberapa jauh bagian terbawah telah memasuki pintu atas panggul.

c. AUSKULTASI
Pemeriksaan bunyi dan frekuensi jantung janin

d. PEMERIKSAAN TAMBAHAN
1. Laboratorium rutin, HB, HBsAg, urinalisis
2. USG

Akhir Pemeriksaan

1. Dokter/ bidan membuat kesimpulan hasil pemeriksaan


2. Dokter/ bidan membuat prognosis dan rencana penatalaksanaan
3. Dokter/ bidan mencatat hasil pemeriksaan pada buku KIA dan status
pasien
4. Dokter/ bidan menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu hamil
meliputi UK, letak janin, posisi jann, HPL, risiko yang ditemukan atau
adanya penyakit lain
5. Dokter/ bidan menjelaskan untuk melakukan kunjunga ulang
6. Dokter/ bidan menjelaskan rencana asuhan ANC berkaitan dengan
hasil pemeriksaan
7. Doker/ bidan menjelaskan pentingnya imunisasi
8. Dokter/ bidan menjelaskan menjadi akseptor KB setelah melahirkan.

29
BAB III

TINJAUAN DAN PEMBAHASAN

A. Tinjauan Kasus

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

Ny.Ar Usia 37 Tahun G3P3Ab0Ah2 Usia Kehamilan 33+1 Minggu dengan


HIV

di RSUP DR. SARDJITO

MASUK RS TANGGAL, JAM : 16 Maret 2018, 11.30 WIB

DIRAWAT DI RUANG : Obsgyn Ruang B

Biodata Istri Suami

Nama : Ny. AR Tn.AN


Umur : 37 tahun 35 tahun
Agama : Katolik Katolik
Suku : Jawa Jawa
Bangsa : Indonesia Indonesia
Pendidikan : SMA SMA
Pekerjaan : Wiraswasta Wiraswasta
Alamat : Jl.Turi KM 3 RT 4/10 Pendeman Trimulyo, Sleman

DATA SUBJEKTIF 16 MARET 2018, 11.30


1. Keluhan Utama/ Alasan masuk RS
Pasien mengatakan penderita B20 sejak 2008, masih mengonsumsi
ARV sampai saat ini. Ibu mengatakan tidak ada keluhan, gerak janin
aktif.

30
2. Riwayat Perkawinan
a. Menikah umur 25 tahun. Usia suami 31 tahun. Lama pernikahan 12
tahun. Suami pertama meninggal tahun 2011 karena B20
b. Menikah umur 33 tahun. Usia suami 39 tahun. Lama pernikahan 2
tahun. Suami sekarang belum cek HIV.
3. Riwayat Menstruasi
Menarche umur 15 tahun, siklus 28 hari, teratur. Lamanya 7 hari, sifat
darah encer. Bau amis khas darah. Tidak ada flour albus maupun
disminorea. Banyaknya ganti pembalut 3 kali ganti pembalut.
HPHT 26-7-2017 HPL 4-5- 2018
4. Riwayat Kehamilan ini
a. ANC sejak umur kehamilan 6+3 minggu. ANC di Poli Obsgyn RSUP Dr.
Sardjito
Frekuensi:
- Trimester I 3 kali
- Trimester II 4 kali
- Trimester III 5 kali
b. Pergerakan janin yang pertama pada umur kehamilan 20 minggu.
Pergerakan janin dalam 12 jam terakhir > 10 kali.
c. Keluhan yang dirasakan
- Trimester I : Ibu mengatakan mengalami mual
- Trimester II : TAK
- Trimester III : pinggang sakit, sering BAK
d. Imunisasi
- TT 1 saat SD
- TT 2 saat SD
- TT 3 Caten (2005)
- TT 4 Hamil (2006)
- TT 5 Hamil (2011)

31
5. Riwayat Obstetri
Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu.
G3P2Ab0Ah2

Hamil Persalinan Nifas


ke
Tgl UK Jenis Penolong Komplikasi JK BB laktasi komplikasi
lahir persalinan lahir
Ibu Bayi

1 13/2/2006 aterm SC Dokter Tdk Tdk P 3200 Ya HIV (-)


(letak lintang) ada ada
2 2/12/2010 aterm SC Dokter Tdk Tdk P 3400 Ya HIV (-)
(HIV + dan ada ada
pernah SC)
3 Hamil Ini

6. Riwayat Kontrasepsi yang digunakan

No Jenis Mulai memakai Berhenti/Ganti Cara


Kontrasepsi
Tanggal Oleh Tempat Keluhan Tanggal Oleh Tempat Alasan

Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi sebelumnya


Ibu mengatakan mengunakan kondom selama ini jika akan melakukan aktivitas seksual tanpa
program

7. Riwayat pola pemenuhan kebutuhan sehari- hari


a. Pola Nutrisi Makan Minum
Frekuensi 3 kali sehari 7 gelas sehari
Macam nasi, sayur, lauk air putih, teh,susu
Jumlah 1 porsi sedang 250 cc per gelas
Keluhan TAK TAK

32
b. Pola Eliminasi
Frekuensi 1 kali/ hari 4 kali/hari
Warna Kekuningan Kekuningan
Bau Khas feses Khas urine
Konsisten lembek cair
c. Pola Aktivitas
Kegiatan sehari-hari : Ibu mengatakan mengerjakan pekerjaan
rumah.
Istirahat/ tidur : Malam 8 jam untuk tidur ,siang 1 jam hanya duduk-
duduk
Seksualitas : Frekuensi 1 kali/ minggu menggunakan kondom
: Keluhan TAK
d. Personal Hygiene
Kebisaan mandi : 2 kali/hari
Kebiasaan membersihkan alat kelamin : saat mandi, BAB dan
BAK
Kebiasaan mengganti pakaian dalam : setelah mandi, basah/
kotor
Jenis pakaian dalam yang digunakan : kain katun
e. Kebiasaan sehari- hari
Merokok : Ibu mengatakan tidak merokok, tapi suami merokok
Minum jamu : Ibu mengatakan tidak pernah minum jamu
Minuman keras : Ibu mengatakan tidak menkonsumsi minuman kers
Perubahan pola makan: Ibu mengatakan tidak ada gangguan nafsu
makan maupun minum
Konsumsi Obat : Ibu mengatan mengonsumsi obat Duviral 2x1,
neviral 2x1, asam folat 1x1, SF 1x1, Kalsium 1x1

8. Riwayat Kesehatan

33
a. Penyakit yang pernah atau sedang diderita
Ibu mengatakan tidak pernah atau sedang menderita penyakit
jantung, hipertensi, hepatitis, DM, TBC, IMS.
Ibu mengatakan pengidap penyakit HIV sejak tahun 2008.
b. Penyakit yang pernah atau sedang diderita oleh keluarga
Ibu mengatakan keluarga tidak pernah atau sedang menderita
penyakit jantung, hipertensi, hepatitis, DM, TBC, IMS.
Ibu mengatakan suami pertama meninggal karena HIV tahun 2011
karena pengguna narkoba.
c. Riwayat psikologi keluarga
Ibu mengatakan baik dirinya maupun keluarga tidak pernah atau
sedang mengalami gangguan kejiwaan
d. Riwayat keturunan kembar
Ibu mengatakan baik keluarga dirinya maupun suami tidak
mempunyai riwayat keturunan kembar.

e. Riwayat Alergi
- Makanan : Ibu mengatakan tidak mempunyai alergi makanan
- Obat : Ibu mengatakan tidak mempunyai alergi obat
- Zat lain : Ibu mengatakan tidak mempunyai alergi apapun

9. Riwayat Psikologi Spiritual


a. Pengetahuan ibu tentang kehamilan
Ibu mengatakan kehamilannya sekarang seperti kehamilannya kedua,
sama- sama hamil dengan B20.
b. Pengetahuan ibu tentang kondisi/ keadaan yang dialami sekarang
Ibu mengatakan harus menjaga kesehatan dirinya dan disiplin minum
ARV demi dirinya dan janinnya.

c. Penerimaan ibu terhadap kehamilan ini

34
Ibu mengatakan sesuai program hamil,ibu senang karena program
hamilnya berhasil
d. Tanggapan keluarga terhadap kehamilan
Ibu mengatakan keluarga sangat menanti kehadiran anaknya lahir.
e. Persiapan/ rencana persalinan
Ibu mengatakan akan mengambil cuti kerja untuk persiapan kelahiran
anaknya.

DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a. KU : Baik kesadaran Compos Mentis
b. Tanda Vital
TD : 110/69 mmhg
N : 88 x/menit
R : 20 x/menit
S : 36,6 ‘C
c. TB : 157 cm
BB sblm hamil : 52 kg
LLA : 25 cm
IMT : 20,8 kg/m2
d. Kepala dan leher
Oedem Wajah : tidak ada oedema wajah
Chloasma gravidrm : tidak ada chloasma gravidarum
Mata : sclera putih,konjungtiva merah muda
Mulut : bersih,tidak ada sariawan
Leher : tidak ada pembengkaan kelenjar limfe, tyroid,
dan vena jugularis
e. Payudara
Bentuk : simetris, sama besar
Aerola mammae : hiperpigmentasi
Putting susu : menonjol

35
Colostrum : belum keluar
f. Abdomen
Bentuk : simetris
Bekas luka : terdapat bekas luka SC
Palpasi Leoplod
Leoplod I : TFU setinggi pusat-prosesus xiphodeus (px)
Teraba bulat, keras, melenting (kepala)
Leoplod II : Kanan teraba luas, datar, memanjang (punggung)
Kiri teraba bagian- bagian kecil dan bergerak
(ekstremitas)
Leopolod III : Teraba bulat,tidak melenting, lunak (bokong)
Leopold IV : Tangan konvergen belum masuk panggul
TFU : 27 cm
Auskultasi DJJ : punctum maximum pusar atas sebelah kanan
Frekuensi DJJ 142 x/menit
g. Genetalia Luar
Tanda Chadwick: tidak terdapat tanda Chadwick
Varices : tidak terdapat varices
Bekas luka : tidak mempunyai bekas luka
Kelenjar Barthilini : normal,tidak ada pembengkaan
Pengeluaran : tidak terdapat pengeluaran
h. Anus : tidak terdapat hemoroid
i. Ekstremitas
Oedem : tidak terdapat oedem
Varices : tidak terdapat varices
Reflek Patela : kanan +, Kiri +
2. Pemeriksaan Penunjang
1/2/2018
Viral Load : tidak terdeteksi
CD4 : 473 sel/uL
16/3/2018

36
Hasil USG : Janin normal. tunggal, memanjang, presentasi
bokong, DJJ + 142 x/ menit,air ketuban cukup, gerak aktif, plasenta
terdapat di corpus anterior

16/3/2018
Hasil NST : DJJ 145x/menit, variabilitas >5, akselerasi +,
deselerasi -, gerak

1/2/2018
Hasil Laboratorium

PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN SATUAN METODE

hematologi
hemoglobin 12,6 12,00-16,00 g/dl Clorometic
hematocrit 39,1 37-43 % Analizer Calculater
leukosit 7,34 4,0 – 10,5 10ᵔ3/uL Impedance
Trombosit 202 150-450 10ᵔ3/uL Impedance
Eritrosit 4,37 3,90-5,50 10ᵔ6/uL

Imunoserologi Analizer Calculater


FAAL HEPAR
HBSAg (rapid) Non Reaktif Non Reaktif

ANALISA

Ny.Ar Usia 37 Tahun G3P3Ab0Ah2 Usia Kehamilan 33+1 Minggu dengan


HIV

PENATALAKSANAAN

37
1. Memberitahu ibu bahwa ibu dan janinnya dalam keadaan sehat
berdaasarkan hasil pemeriksaan.
Ibu mengerti dan merasa senang.
2. Memberitahu ibu ketidaknyamanan yang dirasakan pada trimester III
adalah sering buang air kecil karena adanya tekanan bayi pada perut
ibu. Sebaiknya ibu jangan menahan kencing, selalu memastikan
celana dalam keadaan kering.
Ibu mengerti
3. Memberitahu ibu untuk tetap menjaga pola makan dimana makan
makanan yang bergizi seimbang serta mengonsumsi air putih yang
cukup, menghindari makanan- makanan yang banyak mengandung
pengawet, menjaga pola istirahat, dan menjaga kebersihan diri.
Ibu paham dan mengerti
4. Mengingatkan ibu untuk patuh mengonsumsi ARV demi kebaikan
dirinya dan janin yang dikandungnya, yaitu Duviral 2x1 dan Neviral
2x1.
Ibu akan melaksanakannya
5. KIE ibu untuk mempersiapkan baik secara materi dan psikologis
menjelang persalinan cesar 5 minggu lagi yaitu saat usia kehamilan
38 minggu di RSUP Dr,Sardjito
Ibu paham dan mengerti.
6. KIE suami untuk melakukan screening HIV karena suami berisiko
tertular HIV dari istrinya.
Suami mengatakan akan melakukannya

NO Nama Tindakan Rasionalisasi

38
1 NST Untuk memantau kesejahteraan janin
2 USG Untuk memantau keadaan janin dari segi air ketuban,
letak plasenta, ada tidaknya kelainan kongnital
3 Tes CD4 Untuk mengetahui jumlah CD4 dalam tubuh
4 Tes Viral load Untuk mengetahui jumlah viral load dalam tubuh
5 Leoplod Untuk mengetahui presentasi janin, kanan- kiri, masuk
panggul atau belum
6 KIE tindakan SC SC dilakukan untuk mencegah penularan secara vertikal
antara ibu dan bayi lewat jalan lahir.
Alasan lain dilakukan SC karena ibu mempunyai riwayat
SC 2 kali pada persalinan tahun 2006 dan 2010.

B. PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dibahas mengenai asuhan kebidanan antenatal
Ny.A dengan HIV di RSUP DR. Sardjito pada tanggal 16 Maret 2018
dengan membandingkan anara teori dan SOP dengan kejadian nyata
ketika melakukan asuhan kebidaan pada Ny.A
Pada kasus asuhan kebidanan antenatal care ibu dengan HIV,
saya mengambil SOP ibu hamil normal. Karena pada dasarnya tidak ada
perbedaan yang signifikan antara ibu hamil normal dengan ibu hamil
dengan HIV. Pemeriksaan dan penatalaksanaan yang dilakukan sama
saja dengan ibu hamil pada umunya. Hanya saja, jika terdapat
pemeriksaan yang berhubungan dengan cairan tubuh pasien, pemeriksa
harus lebih hati- hati. Namun, terlepas dari itu kita sebagai petugas medis
memang selayaknya harus melindungi diri kita dari cairan tubuh pasien
tanpa melihat diagnosa yang ada pada pasien.
Pengkajian dilakukan pada tanggal 16 Maret 2016 pukul 11.30 WIB
didapatkan hasil Ibu mengatakan menderita penyakit HIV sejak 2008
lewat screening yang dilakukannya setelah suami terdiagnosa mengidap
penyakit HIV. Didapatkan karena suami pertamanya pengguna narkoba
yang mengakibatkan dirinya tertular lewat hubungan seksual tanpa

39
pelindung dengan suami pertamanya. Suami pertamanya meninggal sejak
tahun 2011 karena mengidap HIV. Ibu mengataan disiplin dalam
mengonsumsi ARV sejak terdiagnosa HIV. Dengan suami pertama Ibu
mengatakan mempunyai dua anak yang lahir tahun 2006 dan tahun 2010.
Kedua anaknya telah di screening HIV dan dinyatakan negative mengidap
HIV. Dan pada tahun 2015 Ibu menikah dengan suami keduanya. Dengan
suami keduanya ini, Ibu mengatakan baru hamil ini. Ibu mengatakan
suami sekarang belum pernah melakukan screening HIV sampai saat ini.
Dengan melihat kasus diatas, penyebab ibu mengidap HIV karena
suami pertamanya adalah pengguna narkoba yang tertular melalui jarum
suntik penderita HIV. Setelah suami pertamanya ibu mengidap HIV, maka
dengan melakukan hubungan seksual Ibu juga akan tertular virus HIV
melalui hubungan seksual dengan suami pertama. Namun, berkat usaha
ibu untuk mengonsumsi ARV secara rutin dan tepat waktu dapat
memutuskan ranta penularan vertikal dari ibu ke janin. Terbukti anak
keduanya dinyatakan bebas dari virus HIV.
Pemeriksaan umum didapatkan ibu dalam keadaan baik,
kesadaran compos mentis. Tinggi badan 157 cm, Berat badan 52,8 cm,
LILA 27 cm, tekanan darah 110/70 mmhg,nadi 81x/menit, respirasi
18x/menit, head to toe didapatkan pemeriksaan normal tanpa ada
penyimpangan, tidak terdapat oedem pada kaki. Dengan hasil pemerikaan
yang dilakukan, didapatkan bahwa ibu dalam keadaan baik dan sehat.
Keadaan ini sangat menunjang ibu dalam kehamilannya.
Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan Leopold dengan hasil tinggi
fundus uteri setinggi px (pusat-prosesus xiphodeus). Puncak fundus
teraba bulat melenting (kepala), sebelah kanan teraba luas datar
memanjang (punggung) sebelah kiri teraba bagian- bagian kecil
(ekstremitas), bagian terendah teraba tidak melenting dan lunak (bokong),
dan tangan berada pada posisi konvergen (belum masuk panggul). Tinggi
fundus uteri menurut Mc Donald 27 cm. Auskultasi DJJ hasil NST

40
sebesar 145x/menit, dengan variabilitas >5, akselerasi +, deselerasi
-,gerak + aktif, BB 2325
Hasil pemeriksaan Leopold presentasi ibu adalah presentasi
bokong. Namun, hal ini bukanlah suatu masalah besar karena ibu akan
melakukan persalinan secara SC.Tindakan SC yang dilakukan dapat
mengurangi risiko penularan vertikal pada ibu ke janin. Pada kasus ini,
pemeriksaan kesejahteraan janin dilakukan dengan NST. Ini dilakukan
agar pemantauan janin lebih akurat dan tepat. Hasil NST pun janin dalam
keadaan baik dan sehat. Sedangkan melihat dari tinggi fundus uteri 27
cm, dapat diperkirakan berat janin kurang lebih 2325. Berat janin ini
adalah berat janin normal dengan usia kehamilan 33+1 minggu.
Pemeriksaan laboatorium juga dilakukan sebagai pemeriksaan
penunjang untuk mengetahui kesehatan ibu dan janin. Hasil pemeriksaan
laboratorium hematologi yang terdiri dari hemoglobin, hematokrit,leukosit,
trombosit, eritrosit dalam keadaan normal. Sedangkan untuk Imunologi
HBSAg non reaktif. Untuk pemeriksaan Viral load dan CD4, viral load tidak
terdeteksi dan CD4 473 sel/uL. Dan dari pemeriksaan USG terpantau
janin normal, tunggal, memanjang, presentasi bokong, DJJ 142x/ menit,
air ketuban cukup, gerak aktif, plasenta terdapat corpus anterior
Dari hasil laboratorium didapatkan hasil bagus dalam rentan angka
yang ada. Sedangkan untuk viral load tidak terdeteksi ini merupakan
tanda yang baik untuk kesehatan. Untuk pemeriksaan USG presentasi
bokong, namun dalam hal ini tidak menjadi asalah yang serius karena
pada akhirnya terminasi kehamilan akan diakukan secara sesar. Tindakan
sesar ini akan dilakukan saat umur kehamilan ibu mencapai 38 minggu. Ini
dilakukan untuk mengurangi penularan vertikal antar ibu dengan janin.

BAB IV

41
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan apa yang penulis dapatkan dalam tinjauan kasus dan


pembahasan dalam “Laporan Seminar Kasus Praktek Kebidanan Klinik
Komprehensif” pada Ny.Ar Usia 37 Tahun G3P3Ab0Ah2 Usia
Kehamilan 33+1 Minggu dengan HIV di Poli Obsgyn RSUP DR.Sardjito
tanggal 16 Maret 2018, maka penulis mampu mengambil kesimpulan
yaitu:

1. Penulis melakukan pengkajian asuhan antenatal dengan HIV melalui


anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan dalam serta dilakukan
pemeriksaan penjunjang. Setelah dilakukan anamnesa diperoleh data
bahwa pasien bernama Ny.A umur 37 tahun, mengatakan hamil
dengan B20.Ibu mengatakan terkena B20 sejak tahun 2008. Saat ini,
ibu mengatakan tidak ada keluhan. Dari hasil pemeriksaan penunjang
diperoleh pemeriksaan NST normal tanpa ada akselerasi, gerakan aktif
DJJ normal. Pemeriksaan USG TBJ sesuai dengan umur kehamilan,
DJJ normal, tidak terdapat kelainan congenital.
2. Berdasarkan data perkembangan pada kasus ini, dapat ditegakkan
diagnose kebidanan Ny.A umur 37 tahun, mengatakan hamil dengan
B20. Masalah yang muncul adalah riwayat ibu yang memiliki diagnose
terkena HIV sejak tahun 2008.
3. Penulis menegakkan adanya diagnose potensial yaitu bagi janin bisa
tertular lewat penularan vertikal dari ibu ke janin. Antipasi
penanganannya yaitu dengan melakukan sesar.
4. Pada kasus ini tidak memerlukan tindakan segera karena Ibu dan janin
dalam keadaan sehat.
5. Rencana yang diberikan pada kasus Ny.A adalah melakukan operasi
sesar saat usia kehamilan 38 minggu. Beri dukungan psikologis untuk

42
mengurangi kecemasan ibu, anjurkan pada ibu makan dan minum yang
sehat dan bergizi.
6. Pelaksanaan yang dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah
dibuat.
7. Evaluasi asuhan kebidanan yang diberikan kepada Ny.A adalah ibu dan
bayi sehat, keadaan ibu baik dan hasil screening HIV bayi negative.
Tidak ada tanda- tanda kegawatan kehamilan yang ditunjukkan dari
kesimpulan hasil pemeriksaan dan didukung dengan pemeriksaan
penjunjang.

B. Saran
1. Bagi tenaga kesehatan
Diharapkan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pemeriksaan
ibu hamil dengan mendeita HIV, sehingga tepat dalam penanganan dan
terhindar dari hal- hal yang membahayakan baik ibu maupun janin.
2. Bagi mahasiswa kebidanan
Diharapkan dapat mengikuti dan melakukan ANC sesui SOP yang
berlaku. Sehingga pengetahuan dan keterampilannya bertambah.
3. Bagi responden
Diharapkan bagi ibu untuk menjaga kehamilannya dengan cara ANC
rutin dan tidak melakukan aktifitas banyak dan terlalu berat

43