Anda di halaman 1dari 8

BAB VII

DYE PENETRANT
5.1. Tujuan
1. Mengetahui dan memahami mekanisme pengujian dye penetrant.
2. Mengetahui kegunaan dari pengujian dye penetrant.
3. Mengetahui tahapan pengujian dye penetrant.
5.2. Teori Dasar
Pengevaluasian atau inspeksi terhadap suatu diskontinyuitas pada konstruksi yang
menggunakan material logam, sebaiknya dilakukan secara rutin, untuk mengurangi
resiko terjadinya kecelakaan kerja, dan juga akan mempermudah perawatannya.
Untuk melakukan pengevaluasian atau inspeksi tersebut diperlukan suatu metoda
pengujian yang sekiranya mampu mendeteksi keberadaan diskontinyuitas pada suatu
logam material.
Uji liquid penetrant merupakan salah satu metoda pengujian jenis NDT (Non
Destructive Test) yang relatif mudah dan praktis untuk dilakukan. Uji liquid
penetrant ini dapat digunakan untuk mengetahui diskontinyuitas halus pada
permukaan seperti retak, berlubang atau kebocoran. Pada prinsipnya metoda
pengujian dengan liquid penetrant memanfaatkan daya kapilaritas.
Liquid penetrant dengan warna tertentu (merah) meresap masuk kedalam
diskontinyuitas, kemudian liquid penetrant tersebut dikeluarkan dari dalam
diskontinyuitas dengan menggunakan cairan pengembang (developer) yang
warnanya kontras dengan liquid penetrant (putih). Terdeteksinya diskontinyuitas
adalah dengan timbulnya bercak-bercak merah (liquid penetrant) yang keluar dari
dalam diskontinyuitas.
Diskontinyuitas yang mampu dideteksi dengan pengujian ini adalah
diskontinyuitas yang bersifat terbuka dengan prinsip kapilaritas seperti pada gambar
dibawah. Deteksi diskontinyuitas dengan cara ini tidak terbatas pada ukuran, bentuk
arah diskontinyuitas, struktur bahan maupun komposisinya. Liquid penetrant dapat
meresap kedalam celah diskontinyuitas yang sangat kecil. Pengujian penetrant tidak
dapat mendeteksi kedalaman dari diskontinyuitas. Proses ini banyak digunakan untuk
menyelidiki keretakan permukaan (surface cracks), kekeroposan (porosity), lapisan-
lapisan bahan, dll. Penggunaan uji liquid penetrant tidak terbatas pada logam ferrous
dan non ferrous saja tetapi juga pada keramik, plastik, gelas, dan benda-benda hasil
powder metalurgi.
Penggunaan uji liquid penetrant ini sangat terbatas, misalnya:
Keretakan atau kekeroposan yang ada dapat dideteksi jika keretakan tersebut
merembat hingga ke permukaan benda. Sedangkan keretakan yang ada dibawah
permukaan benda, tidak akan terdeteksi dengan menggunakan metoda pengujian ini.
Pada permukaan yang terlalu kasar atau berpori-pori juga dapat mengakibatkan
indikasi palsu.
Metoda pengujian ini tidak dianjurkan untuk menyelidiki benda-benda hasil
hasil metallurgy yang kurang padat.
Klasifikasi liquid penetrant sesuai cara pembersihannya:
Liquid penetrant bila dilihat dari cara pembersihannya dapat
diklasifikasikan menjadi tiga macam metoda dan ketiganya memiliki perbedaan yang
mencolok. Pemilihan salah satu sistem bergantung pada faktor-faktor berikut ini :
1.Kondisi permukaan benda kerja yang diselidiki
2.Karakteristik umum discuntinuity/ keretakan logam
3.Waktu dan tempat penyelidikan
4.Ukuran benda kerja
5.Metoda pengujian liquid penetrant ini diklasifikasikan sesuai dengan cara
pembersihannya, yaitu:
Water washable penetrant sistem
Sistem liquid penetrant ini dapat berupa fluorescent. Proses pengerjaannya
cepat dan efisien. Pembilasan harus dilakukan secara hati-hati, karena liquid penetran
dapat terhapus habis dari permukaan diskontinyuitas.
Post emulsifible system
Biasa digunakan untuk menyelidiki keretakan yang sangat kecil,
menggunakan penetrant yang tidak dapat dibasuh dengan air. Penetrant jenis ini
dilarutkan dengan oli dan membutuhkan langkah tambahan pada saat penyelidikan
yaitu pembubuhan emulsifier yang dibiarkan pada permukaan spesimen.

Solvent removable system


Solvent removable sistem digunakan pada saat pre cleaning dan pembasuhan
penetrant. Penetrant jenis ini larut dalam oli. Pembersihan penetrant secara optimum
dapat dicapai dengan cara mengelap permukaan benda kerja dengan lap yang telah
dilembabkan dengan solvent. Tahap akhir dari pengelapan dilakukan dengan
menggunakan kain kering. Penetrant juga dapat dihilangkan dengan cara membanjiri
permukaan benda kerja dengan solvent.
Klasifikasi liquid penetrant berdasarkan pengamatannya berdasarkan pengamatannya
ada tiga jenis liquid penetrant, yaitu:
Visible penetrant
Visible penetrant adalah zat pewarna merah yang tampak jelas di bawah
kondisi pencahayaan normal. Pada umumnya visible penetrant berwarna merah. Hal
ini ditunjukkan pada penampilannya uang kontras terhadap latar belakang warna
developernya. Proses ini tidak membutuhkan pencahayaan ultra violet, tetapi
membutuhkan cahaya putih minimal 1000 lux untuk pengamatan.
Fluorescent penetrant
Liquid penetrant ini adalah yang dapat berkilau bila disinar UV Fluorescent
penetrant bergantung pada kemampuannya untuk menampilkan diri terhadap cahaya
ultra violet yang lemah pada ruangan yang gelap.
Evaluasi Indikasi
Indikasi akan dinyatakan oleh retensi penetrant partikel. Semua indikasi
seperti itu tidak selalu sempurna, tetapi bila permukaan yang kasar sangat banyak,
penetrant akan merembes ke HAZ, dll. Hal tersebut dapat menghasilkan indikasi yang
serupa. Indikasi yang tidak sempurna mungkin akan menjadi lebih besar. Namun
ukuran indikasi merupakan dasar untuk penerimaan evaluasi. Hanya indikasi yang
memiliki dimensi yang lebih besar dari 1/16 inchi akan dianggap relevan. Indikasi
apapun yang di pertanyakan atau meragukan akan dikaji ulang untuk menentukan
apakah relevan atau tidak relevan.

Standart penerimaan
Dalam pengujian penetrant dapat dinyatakan bahwa material tersebut dapat
diterima apabila permukaannya bebas dari :
Relevant linier indication
Suatu cacat dikatakan memiliki indikasi linier dan akan direject apabila pada
cacat tersebut memiliki panjang lebih dari 3 kali lebarnya dan yang besarnya lebih
dari 1/16 in. (1,6 mm).
Relevant rounded indication
Suatu cacat dikatakan memiliki indikasi lingkaran apabila pada cacat tersebut
memiliki panjang kurang dari 3 kali lebarnya.
Material tersebut akan direject apabila memiliki panjang atau lebar indikasi lingkaran
lebih dari 3/16 (4,8 mm).
Material tersebut akan direject apabila memiliki 4 atau lebih indikasi lingkaran yang
tersusun dalam satu baris, dengan jarak antara indikasi lingkaran kurang dari 1,6 mm.
5.3. Tata Cara Praktikum
5.3.1. Skema Proses

Persiapkan alat dan bahan

Pembersihan spesimen (Cleaner)

Semprotkan penetrant hingga rata serta tunggu ± 10 menit

Bersihkan cairan penetrant dan semprotkan dengan cairan developer


serta tunggu ± 10 menit

Amati dan pengumpulan data

Analisa dan pembahasan

Kesimpulan

Gambar 7.2 Skema Proses Pengujian Bending


5.3.2. Penjelasan Skema Proses
1) Siapkan alat dan bahan
Mempersiapkan alat dan bahan yang berhubungan dengan praktikum dye
penetrant.
2) Pembersihan spesimen (Cleaner)
Membersihkan permukaan material dengan tiner dan digosok dengan kain
bekas pada permukaan hingga bersih.
3) Semprotkan penetrant hingga rata serta tunggu ± 10 menit
Menyemprotkan cairan penetrant yang berwarna pada permukaan
spesimen hingga merata lalu didiamkan hingga ± 10 menit.
4) Semprotkan dengan cairan penetrant
Sebelum disemprotkan bersihkan kembali permukaan spesimen dengan
lalu semprotkan dengan cairan developer tunggi hingga ± 10 menit
5) Amati dan pengumpulan data
Amati degradasi pewarna pada permukaan spesimen serta.
6) Analisa dan pembahasan
Menganalisa dan membahas data yang telah didapatkan dan penyebab
atau pengaruh nilai sifat mekanik yang di dapatkan.
7) Kesimpulan
Menyimpulkan analisa dan menjawab tujuan yang ada.
5.4. Alat Dan Bahan
5.4.1 Alat
1) UTM (Universal Testing Machine) 1 buah
2) Penggaris (Segitiga dan lurus) 1 buah
5.4.2 Bahan
1) Kain major 1 buah
2) Cairan developer Secukupnya
3) Thinner Secukupnya
4) Spesimen 1 buah
5) Cairan developer secukupnya
5.5. Pengumpulan dan Pengolahan Data
5.5.1 Pengumpulan Data
Data Pengamatan
Tabel 5.1 Tabel Pengujian Penetrant
No Data Keterangan
1 Jenis NDT Dye Penetrant
2 Standart pengujian ASTM 165-02
3 Tipe Visible
4 Teknik pengaplikasian Spray (Semprot)
5 Preparasi permukaan Cleaner (Thinner)
6 Dwell time 10 menit
7 Foto interprestasi cacat

5.5.2 Pengolahan Data


-
5.6. Analisa Dan Pembahasan
Pada praktikum ini kita ingin melihat cacat pada permukaan material, yang
dimana prinsipnya cairan masuk kedalam celah permukaan yang dimana prinsipnya
cairan masuk kedalam celah permukaan yang dimana cairan ini harus memiliki
kapilaritas yang tinggi karena jika tidak kita tidak dapat memprediksi cacat
permukaan dengan tepat, rujukan atau standart yang digunakan adalah ASTM E 165-
02
Tahapan-tahapannya ialah pembersihan material menggunakan tinner, karena
tinner dapat meresap kedalam cacat/retakan pada permukaan material yang akan
menghilangkan debu (anorganik), dan minyak (organik) yang dapat menurunkan
ketepatan dari nilai pengujian ini. Setelah dikeringkan spesimen disemprotkan dengan
cairan penetrant yang memiliki kapilaritas yang tinggi, jarak penyemprotan tidak
boleh terlalu dekat hal ini dilakukan agar cairan yang menempel tidak terlalu tebal,
setelah itu dibiarkan selama 10 menit yang bertujuan untuk cairan penetrant dapat
masuk ke dalam.
Permukaan spesimen yang memiliki cacat/crack, setelah itu bersihkan kembali
dengan cleaner dan kain untuk membersihkan dari pengotor organik dan anorganik
serta visible yang digunakan adalah cairan penetrant berwarna, sehingga saat
disemprotkan cairan developer cairan berwarna yang masuk kedalam celah terangkat
ke permukaan spesimen cairan penetrant harus dibersihkan kembali menggunakan lap
dan tinner karena yang akan dibersihkan hanya permukaanya, saja. Sedangkan
didalam permukaan cairan tidak terbersihkan jadi pada saat dilihat bener akan terlihat
bagian-bagian yang cacat dipermukaan yang dimana mekanismenya adalah cairan
developer memberi tegangan pada permukaan sehigga cairan penetrant naik
kepermukaan akibat adanya saya kapilaritas, serta diamkan selama 10 menit untuk
memberikan waktu cairan penetrant naik ke atas permukaan.
Pada saat melihat fisik setelah proses dye penetrant terdapatnya cacat banyak
dipermukaan jika ada yang berwarna disitu ada cacat, jika warnanya terlalu tebal dan
pekat maka cacat tersebut dalam.
Dye penetrant adalah pengujian portable, murah, tidak merusak spesimen, dan
dapat dilakukan pada berbagai jenis material, sedangkan kekurangan dipengaruhi
oleh banyak faktor, dan hanya mendeteksi cacat permukaan.
5.7. Kesimpulan
1) Mekanismenya adalah dengan menggunakan daya kapilaritas cairan penetrant.
2) Kegunaannya pada cacat permukaan seperti saat proses pemesinan atau lasan
yang telah di uji bengkok.
3) Pembersihan, penyemprotan penetrant, penyemprotan developer.
4) Faktor yang mempengaruhi nilai pengujian ini adalah cairan pembersihannya
bagus atau tidaknya, nilai kapilaritas, cairan penetrant, dan nilai dari cairan
developernya.