Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

Konsep Promosi Kesehatan dan Konsep Teori Belajar Mengajar


Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Promosi dan Pendidikan
Kesehatan I
Dosen : Yelstria Ulina Tarigan, S.Kep., Ners

Disusun oleh :
Cindy Masdy
NIM : 2019.C.11a.1002

YAYASAN EKA HARAP PALANGKA RAYA


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PRODI S1 KEPERAWATAN
TAHUN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Konsep
Promosi Kesehatan dan Konsep Teori Belajar Mengajar. Dalam penyusunan
makalah mungkin ada sedikit hambatan. Namun berkat bantuan dan dukungan
dari teman-teman serta bimbingan dari dosen pembimbing. Sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat membantu proses
pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca. Penulis juga
tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas bantuan, dukungan
dan doanya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca.
Makalah ini mungkin kurang sempurna untuk itu penulis mengharap kritik dan
saran untuk penyempurnaan makalah ini.

Palangka Raya, 1 April 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................... i


DAFTAR ISI ......................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................... 1
1.3 Tujuan ...................................................................................... 2
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Promosi Kesehatan dan Perilaku ............................ 3
2.2 Batasan Promosi Kesehatan ..................................................... 4
2.3 Promosi Kesehatan ................................................................... 5
2.4 Visi dan Misi Promosi Kesehatan ............................................ 7
2.5 Strategi Promsi Kesehatan ....................................................... 8
2.6 Sasaran Promosi Kesehatan ..................................................... 11
2.7 Ruang Lingkup Promosi Kesehatan ......................................... 12
2.8 Sub-Bidang Keilmuan Promosi Kesehatan .............................. 13
2.9 Arti dan Lingkup Belajar .......................................................... 15
2.10 Beberapa Teori Proses Belajar ................................................. 16
2.11 Berbagai Teori Belajar Sosial (Social Learning) ..................... 17
2.12 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar .................. 19
2.13 Proses Belajar Pada Orang Dewasa .......................................... 20
2.14 Prinsip-Prinsip Belajar .............................................................. 23
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan ............................................................................... 25
3.2 Saran ......................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 26

3
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan kesehatan yang dikenal dengan promosi kesehatan adalah
suatu pendekatan untuk meningkatkan kemauan (willingness) dan kemampuan
(ability) masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan. Tujuan
promosi kesehatan bukan sekedar menyampaikan pesan-pesan atau informasi-
informasi kesehatan agar masyarakat mengetahui dan berperilaku hidup sehat,
tetapi juga bagaimana mampu memelihara dan meningakatkan kesehatannya.
Upaya memecahkan masalah kesehatan ditujukan atau diarahkan kepada
faktor perilaku dan faktor non perilaku (lingkungan dan pelayanan). Pendekatan
terhadap faktor perilaku adalah promosi atau pendidikan kesehatan. Sedangkan,
pendekatan terhadap faktor nonperilaku adalah dengan perbaikan lingkungan fisik
dan peningkatan lingkungan sosial budaya, serta peningkatan pelayanan
kesehatan.
Pendidikan merupakan aspek utama yang harus dikembangkan untuk
mencapai segala indikator kemajuan suatu negara. Pendidikan meliputi aktivitas
belajar dan mengajar. Segala macam ilmu ditransfer melalui proses pendidikan.
Sistem pendidikan juga dikenal dalam dunia kesehatan. Fungsi pendidikan dalam
bidang kesehatan adalah untuk pencegahan, mempertahankan dan meningkatkan
kualitas kesehatan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa Pengertian Promosi Kesehatan dan Perilaku?
2. Apa Batasan Promosi Kesehatan?
3. Apa yang dimaksud Promosi Kesehatan?
4. Apa Visi dan Misi Promosi Kesehatan?
5. Apa Strategi Promsi Kesehatan?
6. Apa Sasaran Promosi Kesehatan?
7. Apa Ruang Lingkup Promosi Kesehatan?
8. Apa Sub-Bidang Keilmuan Promosi Kesehatan?
9. Apa yang dimaksud Arti dan Lingkup Belajar?
10. Apa Teori Proses Belajar?

4
11. Apa Teori Belajar Sosial (Social Learning)?
12. Apa Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar?
13. Bagaimana Proses Belajar Pada Orang Dewasa?
14. Apa Prinsip-Prinsip Belajar?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui Pengertian Promosi Kesehatan dan Perilaku
2. Mengetahui Batasan Promosi Kesehatan
3. Mengetahui tentang Promosi Kesehatan
4. Mengetahui Visi dan Misi Promosi Kesehatan
5. Mengetahui Strategi Promsi Kesehatan
6. Mengetahui Sasaran Promosi Kesehatan
7. Mengetahui Ruang Lingkup Promosi Kesehatan
8. Mengetahui Sub-Bidang Keilmuan Promosi Kesehatan
9. Mengetahui yang dimaksud Arti dan Lingkup Belajar
10. Mengetahui Teori Proses Belajar
11. Mengetahui Teori Belajar Sosial (Social Learning)
12. Mengetahui Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar
13. Mengetahui bagaimana Proses Belajar Pada Orang Dewasa
14. Mengetahui Prinsip-Prinsip Belajar

5
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Promosi Kesehatan dan Perilaku


Perilaku merupakan faktor terbesar kedua setelah faktor lingkungan yang
mempengaruhi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat. Oleh sebab itu, dalam
rangka membina dan meningkatkan kesehatan masyarakat, intervensi atau upaya yang
ditujukan kepada faktor perilaku ini sangat strategis. Intervensi terhadap faktor perilaku
secara garis besar dapat dilakukan melalui dua upaya yang saling bertentangan. Masing-
masing upaya tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kedua upaya tersebut
dilakukan melalui:
a. Tekanan (enforcement)
Upaya agar masyarakat mengubah perilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan
dengan cara-cara tekanan, paksaan atau koersi (coertion).
b. Pendidikan (education)
Upaya agar masyarakat berperilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan dengan cara
persuasi, bujukan, imbauan, ajakan, memeberikan informasi, memberikan kesadaran,
dan sebagainya.
Dalam rangka pembinaan dan peningkatan perilaku kesehatan mssyarakat,
tampaknya pendekatan, edukasi (pendidikan kesehatan) lebih tepat dibandingkan dengan
pendekatan koersi.disimpulkan bahwa pendidikan atau promosi kesehatan adalah suatu
bentuk intervensi atau upaya yang ditujukan kepada perilaku, agar perilaku tersebut
kondusif untuk kesehatan.konsep umum yang digunakan untuk mendiagnosis perilaku
adalah konsep Daro Lewrence Green (1980). Menurut Green, perilaku dipengaruhi oleh 3
faktor utama, yaitu:
 Faktor predispoisi (predisposing factor)
Mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan
kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.
 Faktor pemungkin (enambling factor)
Mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat,
misalnya air bersih, tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja,
ketersediaan makanan yang bergizi.
 Faktor penguat (reinforcing factor)
Meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma), tokoh agama (toga),
sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan.

6
2.2 Batasan Promosi Kesehatan
Sejalan dengan perkembangan promosi kesehatan seperti telah diuraikan
di atas, maka batasan promosi kesehatan juga mengalami berbagai ragam
perkembangan, antara lain:
1. Pada 1986 Konferensi Promosi Kesehatan di Ottawa, Canada mengeluarkan
Piagam Ottawa (Ottawa Charter). Dalam Ottawa Charter antara lain
merumuskan batasan promosi kesehatan, yang lebih luas dan padat: “ Health
promotion is the process of enabling people to increase control over, and to
improve their health.” (promosi kesehatan adalah suatu proses untuk membuat
orang atau masyarakat mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya).
2. Yayasan kesehatan dari Victoria Australia (VicHealth,1996) merumuskan
definisi yang lebih tegas, jelas, dan komprehensif, yakni: “ Health promotion is
a program are design to bring about change within people, organization,
communities, and their environment”. (Promosi kesehatan adalah suatu proses
untuk melakukan perubahan perilaku, organisasi, komunikasi, dan
lingkungannya).
3. Promosi kesehatan terus berkembang, yang menyebabkan WHO harus
merumuskan kembali batasan promosi kesehatan, sebagai berikut: “Health
promotion is the process of enabling individuals and communities to increase
control over the determinants of health and thereby improve their health”
(WHO, 2003).
Batasan ini lebih luas lagi, bahwa promosi kesehatan tidak hanya
berurusan dengan perilaku sebagai salah satu determinan kesehatan, tetapi
berkepentingan terhadap semua determinan kesehatan dalam rangka peningkatan
kesehatan individu dan masyarakat. Promosi kesehatan adalah suatu proses untuk
membuat individu dan masyarakat mampu dalam meningkatkan dan
mengendalikan faktor-faktor (determinan-determinan) yang mempengaruhi
kesehatan mereka, sehingga kesehatan individu maupun masyarakat meningkat.
Dari tiga kutipan batasan tersebut di atas, secara implisit diartikan bahwa
promosi kesehatan tidak hanya berfokus pada perubahan perilaku saja, melainkan
juga melakukan upaya perubahan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun
lingkungan sosial-budaya, dan organisasi di mana orang tersebut berada. Promosi

7
kesehatan meyakini bahwa dengan terjadinya perubahan perilaku saja tidak akan
efektif. Perubahan perilaku harus disertai dengan perubahan lingkungan agar
terjadi perilaku yang langgeng.
Oleh sebab itu, dapat dirumuskan dalam bentuk lain, bahwa promosi
kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi
yang terkait dengan ekonomi, politik, dan organisasi yeng dirancang untuk
memudahkan terjadinya perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi
kesehatan. Sejalan dengan perkembangan batasan promosi kesehatan tersebut,
dapat ditarik beberapa kata-kata kunci promosi kesehatan sebagai berikut;
Strategi yang diarahkan untuk menyampaikan informasi, mempengaruhi, serta
membantu individu dan kelompok sehingga lebih;
1. Strategi yang diarahkan untuk menyampaikan informasi, mempengaruhi, serta
membantu individu dan kelompok sehingga lebih aktif dan bertanggung jawab
dalam kesehatan fisik dan mental.
2. Aktivitas di mana individu dan komunitas dapat menggunakannya untuk
meningkatkan gaya hidup sehat.
3. Kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi organisasi, politik, dan
ekonomi yang dirancang guna memfasilitasi adaptasi perilaku dan lingkungan
sehingga dapat meningkatkan kesehatannya.
2.3 Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan sebagai bagian atau cabang dari ilmu kesehatan, juga
mempunyai dua sisi, yakni sisi ilmu dan seni. Dari sisi seni, yakni praktisi atau
aplikasi promosi kesehatan, merupakan penunjang bagi program-program
kesehatan lain. Artinya setiap program kesehatan, misalnya pemberantasan
penyakit, perbaikan gizi masyarakat, sanitasi lingkungan, kesehatan ibu dan anak,
program layanan kesehatan, dan sebagainya, perlu ditunjang atau dibantu oleh
promosi kesehatan. Hal ini esensial, karena masing-masing program tersebut
mempunyai aspek perilaku masyarakat yang perlu dikondisikan dengan promosi
kesehatan.
Dari pengalaman bertahun-tahun pelaksanaan pendidikan ini, baik di
negara maju maupun negara berkembang, mengalami berbagai hambatan dalam
rangka pencapaian tujuannya, yakni mewujudkan perilaku hidup sehat bagi

8
masyarakatnya. Hambatan yang paling besar dirasakan ialah faktor pendukungnya
(enable factor). Dari penelitian-penelitian yang ada terungkap, meskipun
kesadaran dan pengetahuan masyarakat sudah tinggi tentang kesehatan, namun
praktik (practice) tentang kesehatan atau perilaku hidup sehat masyarakat masih
rendah. Setelah dilkukan pengkajian oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),
terutama di negara-negara berkembang, ternyata faktor pendukung atau sarana
dan prasarana tidak mendukung masyarakat untuk berprilaku hidup sehat.
Misalnya, meskipun kesadaran dan pengetahuan orang atau masyarakat tentang
kesehatan sudah tinggi, tetap apabila tidak di dukung oleh fasilitas, yaitu
tersedianya jamban sehat, air bersih, makanan yang bergizi, fasillitas imunisasi,
pelayanan kesehatan, dan sebagainya, maka mereka sulit untuk mewujudkan
perilaku tersebut.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa promosi kesehatan merupakan revitalisasi
pendidikan kesehatan pada masa lalu. Promosi kesehatan bukan hanya proses
penyadaran masyarakat atau pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat
tentang kesehatan saja, tetapi juga disertai upaya-upaya memfasilitasi perubahan
perilaku.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa promosi kesehatan adalah proses untuk
meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatannya. Selain itu, untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik
fisik, mental, dan sosial, maka masyarakat harus mampu mengenal dan
mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi
lingkungannya.
Hal ini berarti bahwa promosi kesehatan adalah program kesehatan yang
dirancang untuk membawa perubahan baik di dalam masyarakat sendiri, maupun
dalam organisasi dan lingkungannya. Dari dua kutipan di atas dapat disimpulkan
bahwa promosi kesehatan tidak hanya mengaitkan diri pada peningkatan
pengetahuan, sikap, dan praktik kesehatan saja, tetapi juga meningkatkan atau
memperbaiki lingkungan dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesehatan
mereka.

9
2.4 Visi dan Misi Promosi Kesehatan
Visi umum promosi kesehatan (WHO) yakni : meningkatnya kemampuan
masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, baik fisik,
mental, dan sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun sosialnya
(Natoatmodjo, 2007).
Promosi kesehatan di Indonesia telah mempunyai visi, misi, dan strategi
yang jelas, sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 1193/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi
Kesehatan. Visi, misi, dan strategi tersebut sejalan bersama program kesehatan
lainnya dalam mengisi pembangunan kesehatan serta kerangka Paradigma Sehat
menuju Visi Indonesia Sehat.
Visi Promosi Kesehatan adalah : “PHBS 2010“ yang mengindikasikan
tentang terwujudnya masyarakat Indonesia baru yang berbudaya sehat. Visi
tersebut adalah benar-benar visioner, menunjukkan arah, harapan yang berbau
impian, tetapi bukannya tidak mungkin untuk dicapai. Visi tersebut juga
menunjukkan dinamika atau gerak maju dari suasana lama (yang ingin diperbaiki)
ke suasana baru (yang ingin dicapai). Visi tersebut juga menunjukkan bahwa
bidang garapan Promosi Kesehatan adalah aspek budaya (kultur), yang
menjanjikan perubahan dari dalam diri manusia dalam interaksinya dengan
lingkungannya dan karena nya bersifat lebih lestari.
Misi Promosi Kesehatan yang ditetapkan adalah : (1) memberdayakan
individu, keluarga, dan masyarakat untuk hidup sehat; (2) membina suasana atau
lingkungan yang kondusif bagi terciptanya PHBS di masyarakat; (3) melakukan
advokasi kepada para pengambil keputusan dan penentu kebijakan. Misi tersebut
telah menjelaskan tentang apa yang harus dan perlu dilakukan oleh Promosi
Kesehatan dalam mencapai visinya. Misi tersebut juga menjelaskan fokus, upaya,
dan kegiatan yang perlu dilakukan. Dari misi tersebut jelas bahwa berbagai
kegiatan harus dilakukan serempak.

10
2.5 Strategi Promsi Kesehatan
Untuk meningkatkan visi dan misi promosi kesehatan, diperlukan cara
pendekatan yang strategis agar tercapai secara efektif dan efisien. Cara ini disebut
“strategi” jadi strategi ialah, cara untuk mencapai atau mewujudkan visi dan misi
promosi kesehatan secara efektif dan efisien.
1. Strategi Global (Promosi Kesehatan) Menurut WHO 1984
a). Advokasi (Advocacy)
Kegiatan yang di tunjukan kepada pembuat keputusan (decision makers)
atau penentu kegiatan kebijikan (policy makers) baik di bidang kesehatan maupun
sektor lain di luar kesehatan, yang mempunyai pengaruh terhadap publik.
Tujuannya adalah agar para pembuat keputusan mengeluarkan kebijakan-
kebijakan, antara lain dalam bentuk peraturan, undang-undang, instruksi, dan
sebagainya yang menguntungkan kesehatan publik. Bentuk kegiatan advokasi ini
antara lain lobbying, pendekatan atau pembicaraan-pembicaraan formal atau
informal terhadap para pembuat keputusan, penyajian isu-isu atau masalah-
masalah kesehatan atau yang mempengaruhi kesehatan masyarakat setempat,
seminar-seminar kesehatan, dan sebagainya.
Output kegitan advokasi adalah undang-undang, peraturan-peraturn
daerah, instruksi-instruksi yang mengikat masyarakat dan instansi-instansi yang
terkait dengan masalah kesehatan. Oleh sebab itu sasaran advokasi adalah para
pejabat pejabat eksekutif, dan legislative, cara pemimpin dan pengusaha, serta
pusat, promosi, kabupaten, kecamatan maupun desa atau kelurahan.
b). Dukungan sosial (social support)
Strategi dukungan sosial ini adalah suatu kegiatan untuk mencari
dukungan sosial melalui tokoh-tokoh masyarakat (toma), baik tokok masyarakat
formal maupun informal. Tujuan utama kegiatan ini adalah agar para tokoh
masyarakat, sebagai  jembatan antara sektor kesehatan sebagai pelaksana program
kesehatan dengan masyarakat (penerima program) kesehatan. Dengan kegiatan
mencari dukungan sosial melalui toma pada dasarnya adalah mensosialisasikan
program-program kesehatan, agar masyarakat mau menerima dan mau
berpartisipasi terhadap program-program tersebut. Oleh sebab itu, strategi ini juga
dapat dikatakan sebagai upaya bina suasana, atau membina suasana yang kondusif

11
terhadap kesehatan. Bentuk kegiatan dukungan sosial ini antara lain: pelatihan-
pelatihan paratoma, seminar, lokakarya, bimbingan kepada toma, dan sebagainya.
Dengan demikian maka sasaran utama dukungan sosial atau bina suasana adalah
para tokoh masyarakat di berbagai tingkat (sasaran sekunder)
c). Pemberdayaan masyarakat (Empowerment)
Pemberdayaan adalah strategi promosi kesehatan yang ditujukan pada
masyarakat langsung. Tujuan utama pemberdayaan adalah mewujudkan
kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka
sendiri (visi promosi kesehatan).
Bentuk kegiatan pemberdayaan ini dapat diwujudkan dengan berbagai
kegiatan, antara lain: penyuluhan kesehatan, pengorganisasian dan pengembangan
masyarakat dalam bentuk misalnya: koperasi, pelatihan-pelatihan untuk
kemampuan peningkatan pendapatan keluarga (income generating skill). Dengan
meningkatnya kemampuan ekonomi keluarga akan berdampak terhadap
kemampuan dalam pemeliharaan kesehatan mereka, misalnya terbentuknya dana
sehat, terbentuknya pos obat desa, berdirinya polindes, dan sebagainya. Kegiatan-
kegiatan semacam ini di masyrakat sering disebut “gerakan masyarakat” untuk
kesehatan. Dari uraian tersebut sasaran pemberdayaan masyarakat adalah
masyarakat. 
2. Strategi Promsi Kesehatan berdasarkan Piagam Ottawa (Otawa Charter)
Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa Canada pada tahun
1986 menghasilkan piagam Otawa (Ottawa Charter). Di dalam piagam Ottawa
tersebut dirumuskan pula strategi baru promosi kesehatan, yang mencakup 5 butir,
1). Kebijakan berwawasan kesehatan (Healthy Public Policy)
Suatu strategi promosi kesehatan yang di tujukan kepada para
penentu atau pembuat kebijakan, agar mereka mengeluarkan kebijakan-kebijakan
publik yang mendukung atau menguntungkan kesehatan.
Dengan perkataan lain, agar kebijakan- kebijakan dalam bentuk peraturan,
perundangan, surat-surat keputusan dan sebagainya, selalu berwawasan atau
berorientasi kepada kesehatan publik. Misalnya, ada peraturan atau undang-
undang yang mengatur adanya analisis dampak lingkungan untuk mendirikan
pabrik, perusahaan, rumah sakit, dan sebagainya. Dengan kata lain, setiap

12
kebijakan yang dikeluarkan oleh pejabat publik, harus memperhatikan dampaknya
terhadap lingkungan (kesehatan masyarakat).
2). Lingkungan yang mendukung (supportive enviromment)
Kegiatan untuk mengembangkan jaringan kemitraan dan suasana yang
mendukung. Kegiatan ini ditunjukan kepada para pemimpin organisasi
masyarakat pengelola tempat umun (public places). Kegiatan mereka diharapkan
memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, baik linkungan fisik maupun
lingkungan nonfisik yang mendukung atau konduktif terhadap kesehatan
masyarakat.
3). Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health service)
Kesehatan masyarakat bukan hanya masalah pihak pemberi pelayanan
(Provider), baik pemerintah maupun swasta saja, melainkan juga masalah
masyarakat sendiri (konsumer). Oleh sebab itu, penyelenggaraan pelayanan
kesehatan juga merupakan tanggung jawab bersama antara pihak pemberi
pelayanan dan pihak penerima pelayanan. Dewasa ini titik berat pelayanan
kesehatan masih berada pihak pemerintah dan swasta, dan kurang melibatkan
masyarakat sebagai penerima pelayanan. Bentuk pemberdayaan masyarakat dalam
pemeliharaan dan peningkatan kesehatan ini bevariasi, mulai dari terbentuknya
lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap kesehatan, baik dalam bentuk
pelayanan maupun bantuan-bantuan teknis, sampai dengan upaya-upaya swadaya
masyarakat sendiri.
4). Keterampilan individu (Personal skill)
Kesehatan masyarakat adalah kesehatan agregat yang terdiri dari individu,
keluarga, dan kelompok-kelompok. Oleh sebab itu, kesehatan masyarakat akan
terwujud apabila kesehatan indivu-individu, keluarga-keluarga dan kelompok-
kelompok tersebut terwujud. Strategi untuk mewujudkan keterampilan individu-
individu (personnels kill) dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan adalah
sangat penting. Langkah awal dari peningkatan keterampilan dalam memelihara
dan meningkatkan kesehatan mereka ini adalah memberikan pemahaman-
pemahaman kepada anggota masyarakat tentang cara-cara memelihara kesehatan,
mencegah penyakit, mengenal penyakit, mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan

13
profesional, meningkatkan kesehatan, dan sebagainya. Metode dan teknik
pemberian pemahaman ini lebih bersifat individual daripada massa.
5). Gerakan masyarakat (community action)
Untuk mendukung perwujudan masyarakat yang mau dan mampu
memelihara dan meningkatkan kesehatannya seperti tersebut dalam visi promosi
kesehatan ini, maka di dalam masyarakat itu sendiri harus ada gerakan atau
kegiatan-kegiatan untuk kesehatan. Oleh karena itu, promosi kesehatan harus
mendorong dan memacu kegiatan-kegiatan di masyarakat dalam mewujudkan
kesehatan mereka. Tanpa adanya kegiatan masyarakat di bidang kesehatan, maka
akan terwujud perilaku yang kondusif untuk kesehatan atau masyarakat yang mau
dan mampu memelihara serta meningkatkan kesehatan mereka.

2.6 Sasaran Promosi Kesehatan


a). Sasaran Primer
Sasaran primer adalah kelompok masyarakat yang akan diubah
perilakunya. Masyarakat umum yang mempunyai latar belakang heterogen seperti
disebutkan di atas, merupakan sasaran primer dalam pelaksanaan promosi
kesehatan. Akan tetapi, dalam praktik promosi kesehatan, sasaran primer ini
dikelompokkan menjadi kelompok kepala keluarga, ibu hamil, ibu menyusui, ibu
anak balita, anak sekolah, remaja, pekerja di tempat kerja, masyarakat di tempat-
tempat umum, dan sebagainya.
b). Sasaran Sekunder
Tokoh masyarakat setempat (formal, maupun informal) dapat digunakan
sebagai jembatan untuk mengefektifkan pelaksanaan promosi kesehatan terhadap
masyarakat (sasaran primer). Tokoh masyarakat merupakan tokoh panutan bagi
masyarakatnya. Perilakunya selalu menjadi acuan bagi masyarakat di sekitarnya.
Oleh sebab itu, tokoh masyarakat dapat dijadikan sasaran sekunder dengan cara
memberikan kemampuan untuk menyampaikan pesan-pesan bagi masyarakat, di
samping mereka sendiri dapat menjadi contoh perilaku sehat bagi masyarakat di
sekelilingnya.
c). Sasaran Tersier
Seperti telah disebutkan di atas bahwa masyarakat memerlukan faktor
pemungkin (enabling) untuk berperilaku sehat, yakni sasaran dan prasarana untuk

14
terwujudnya perilaku tersebut. Namun, untuk pengadaan sarana dan prasarana
untuk berperilaku sehat ini sering kali masyarakat sendiri tidak mampu. Untuk itu
perlu dukungan dari penentu atau pembuat keputusan di tingkat lokal, utamanya,
misalnya lurah, camat, bupati atau pejabat pemerintah setempat. Misalnya di
daerah yang sangat kekurangan air bersih, padahal masyarakatnya tidak mampu
mengadakan sarana air bersih tersebut. Oleh sebab itu, kegiatan promosi
kesehatan dapat menjadikan para pejabat setempat ini sebagai sasaran tersier.
Caranya misalnya, bupati atau camat dapat menganggarkan melalui APBD untuk
pembangunan sarana air bersih tersebut.

2.7 Ruang Lingkup Promosi Kesehatan


a. Mengembangkan kebijaksanaan pembangunan berwawasan kesehatan.
b. Mengembangkan jaringan kemitraan dan suasana yang mendukung.
c. Memperkuat kegiatan masyarakat.
d. Meningkatkan keterampilan perorangan.
e. Mengarahkan pelayanan kesehatan yang lebih memberdayakan masyarakat.

2.8 Sub-Bidang Keilmuan Promosi Kesehatan


Promosi kesehatan merupakan usaha intervesi untuk mengarahkan
perilaku kepada 3 faktor, yaitu faktor predisposisi, faktor pendukung, dan faktor
pendorong. Perbedaan strategi dan pendekatan untuk ketiga faktor berbeda-beda,
maka ajaran tersebut adalah sebagai berikut:
1. Komunikasi
Komunikasi di sini diperlukan untuk mengkondisikan faktor-faktor
predisposisi. Kurangnya pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan
dan penyakit, adanya tradisi, kepercayaan yang negatif tentang penyakit,
makanan, lingkungan dan sebagainya, mengakibatkan mereka tidak berperilaku
sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Untuk itu maka diperlukan komunikasi,
pemberian informasi-informasi kesehatan. Untuk berkomunikasi yang efektif,
para petugas kesehatan perlu dibekali ilmu komunikasi, termasuk media
komunikasinya.
2. Dinamika kelompok
Dinamika kelompok adalah salah satu metode promosi kesehatan yang
efektif untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada sasaran pendidikan.

15
Oleh sebab itu, dinamika kelompok diperlukan dalam mengkondisikan faktor-
faktor predisposisi perilaku kesehatan, dan harus dikuasai oleh setiap petugas
kesehatan.
3. Pengembangan dan Pengorganisasian Masyarakat (PPM)
Untuk memperoleh perubahan perilaku yang efektif diperlukan faktor-
faktor pendukung yang berupa sumber-sumber dan fasilitas yang memadai.
Sumber-sumber dan fasilitas-fasilitas tersebut sebagian harus digali dan
dikembangkan dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat harus mampu untuk
mengorganisasikan komunitasnya sendiri untuk berperan serta dalam penyediaan
fasilitas-fasilitas. Untuk itu maka para petugas kesehatan harus dibekali ilmu
Pengembangan dan Pengorganisasian Masyarakat (PPM).
4. Pengembangan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD)
PKMD pada dasamya adalah bagian dari PPM. Bedanya, PKMD ini lebih
khusus, mengarah kepada kesehatan. PKMD pada prinsipnya adalah wadah
partisipasi masyarakat dalam bidang pengembangan kesehatan. Filosofi dari
PKMD adalah pelayanan kesehatan untuk mereka, dari mereka, dan oleh mereka.
Di samping itu, PKMD adalah bentuk operasional dari Primary Health Care yang
merupakan wahana untuk mencapai kesehatan untuk semua, dan merupakan
kesepakatan intemasional (Dekiarasi Alma Atta). Oleh sebab itu semua petugas
kesehatan harus dibekali dengan PKMD.
5. Pemasaran sosial (Sosial Marketing)
Untuk memasyarakatkan produksi (Products) kesehatan. baik yang berupa
peralatan, fasilitas maupun jasa-jasa pelayanan, perlu usaha pemasaran.
Pemasaran jasa-jasa pelayanan ini menurut istilah dunia bisnis disebut pendidikan
kesehatan. Pemasaran sosial diperlukan untuk intervensi pada faktor-faktor
pendukung dan faktor-faktor pendorong dalam perubahan perilaku masyarakat.
6. Pengembangan organisasi
Agar institusi kesehatan sebagai organisasi pelayanan kesehatan, dan
organisasi-organisasi masyarakat mampu berfungsi sebagai faktor pendukung dan
pendorong perubahan perilaku kesehatan masyarakat, maka perlu dinamisasi dari
organisasi-organisasi tersebut.

16
7. Pendidikan dan pelatihan
Semua petugas kesehatan, baik dilihat dari jenis maupun tingkatnya, pada
dasamya adalah pendidik kesehatan (health educator). Di tengah-tengah
masyarakat petugas kesehatan menjadi tokoh panutan di bidang kesehatan. Untuk
itu maka petugas kesehatan harus mempunyai sikap dan perilaku yang sesuai
dengan nilai-nilai kesehatan. Demikian pula petugas lain atau tokoh-tokoh
masyarakat. Mereka juga merupakan panutan perilaku, termasuk perilaku
kesehatan. Oleh sebab itu mereka harus mempunyai sikap dan perilaku yang
positif. Sikap dan perilaku petugas kesehatan dan petugas-petugas lain merupakan
pendorong atau penguat perilaku sehat masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut
maka petugas kesehatan dan para petugas lain harus memperoleh pendidikan
pelatihan khusus tentang kesehatan atau pendidikan kesehatan dan ilmu perilaku.
8. Perkembangan media (teknologi promosi kesehatan)
Agar diperoleh hasil yang efektif dalam proses promosi kesehatan
diperlukan alat bantu atau media pendidikan. Fungsi media dalam pendidikan
adalah sebagai alat peraga untuk menyampaikan informasi atau pesan-pesan
tentang kesehatan.
9. Perencanaan dan evaluasi promosi kesehatan
Untuk mencapai tujuan program dan kegiatan yang efektif dan efisien
diperlukan perencanaan dan evaluasi. Perencanaan dan evaluasi program
pendidikan kesehatan mempunyai kekhususan bila dibandingkan dengan evaluasi
program kesehatan yang lainnya. Hal ini karena tujuan program pendidikan
sebagai indikator keberhasilan dari program pendidikan kesehatan adalah
perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku sasaran yang memerlukan
pengukuran khusus. Oleh sebab itu untuk evaluasi secara umum, mereka perlu
diberikan perencanaan dan evaluasi pendidikan kesehatan.
10. Antropologi kesehatan
Perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungannya, baik lingkungan fisik
maupun lingkungan sosio-budaya. Untuk melakukan pendekatan perubahan
perilaku kesehatan, petugas kesehatan harus menguasai berbagai macam latar
belakang sosio-budaya masyarakat yang bersangkutan. Oleh sebab itu petugas
kesehatan harus menguasai antropologi.

17
11. Sosiologi kesehatan
Latar belakang sosial, struktur sosial dan ekonomi mempunyai pengaruh
terhadap perilaku kesehatan masyarakat. Petugas kesehatan juga perlu mendalami
tentang aspek-aspek sosial masyarakat. Oleh karena itu mereka pun harus
menguasai sosiologi dan kesehatan.
12. Psikologi sosial
Psikologi merupakan dasar dari ilmu perilaku. Untuk memahami perilaku
individu, kelompok atau masyarakat orang harus mempelajari psikologi. Dalam
memahami perilaku masyarakat, psikologi sosial sangat diperlukan. Oleh sebab
itu semua petugas kesehatan harus menguasai psikologi, terutama psikologi sosial.

2.9 Arti dan Lingkup Belajar


1). Arti Belajar
Pendidikan tidak lepas dari proses belajar. Kadang-kadang bahan
pengajaran disamakan dengan pendidikan. Kedua pengertian tersebut memang
identik, karena proses belajar berada dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Dengan kata lain pendidikan dilihat secara makro sedangkan pengajaran (proses
belajar) dilihat secara mikro.
Belajar adalah suatu usaha untuk menguasai segala sesuatu yang berguna
untuk hidup. Akan tetapi menurut konsep Eropa, arti belajar itu agak sempit,
hanya mencangkup menghapal, mengingat, dan memproduksi sesuatu yang di
pelajari.
2). Proses Belajar
Oleh karena promosi kesehatan juga merupakan proses pendidikan yang
tidak lepas dari proses belajar, maka dalam bab ini akan sedikit diungkap prinsip-
prinsip dan teori-teori proses belajar. Di dalam belajar akan tercangkup hal-hal
berikut.
a). Latihan
Latihan adalah penyempurnaan potensi tenaga-tenaga yang ada dengan
mengulang-ulang aktivitas tertentu. Latihan adalah suatu perbuatan pokok dalam
kegiatan belajar, sama halnya dengan pembiasaan.

18
b). Menambah/memperoleh tingkah laku
Belajar sebenarnya merupakan suatu usaha untuk memperoleh hal-hal baru
dalam tingkah laku (pengetahuan, kecakapan, keterampilan, dan nilai-nilai)
dengan aktivitas kewajiban sendiri. Dari pernyataan tersebut tampak jelas bahwa
sifat khas dari proses belajar ialah memperoleh sesuatu yang baru, yang dahulu
belum ada, sekarang diketahui, yang dahulu belum mengerti, sekarang mengerti.
1). Ciri-Ciri Kegiatan Belajar
Pada proses belajar terdapat kegiatan jiwa sendiri. Pengajar hanyalah
menyediakan kondisi-kondisi dan stimulus-stimulus tertentu. Tanpa aktivitas dari
subjek yang bersangkutan tidak mungkin terjadi apa yang dinamakan belajar.
Pada kegiatan belajar tidak semua yang terjadi merupakan hal baru. Kadang-
kadang hanya sebagian saja yang baru.
Kegiatan belajar dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja.
Seseorang dapat dikatakan belajar apabila di dalam dirinya terjadi perubahan dari
tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dapat mengerjakan sesuatu menjadi dapat
mengerjakan sesuatu. Namun demikian tidak semua perubahan itu terjadi karena
belajar, misalnya perkembangan anak dari tidak dapat berjalan menjadi berjalan.
Perubahan tersebut terjadi bukan karena belajar tetapi karena proses ketenangan.
Dari uraian singkat tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan belajar itu
mempunyai ciri-ciri :
a.) Belajar adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan pada diri individu yang
sedang belajar, baik aktual maupun potensial.
b.) Perubahan tersebut pada pokoknya didapatkan karena kemampuan baru yang
berlaku untuk waktu yang relatif lama.
c.) Perubahan-perubahan itu terjadi karena usaha, bukan karena proses
kematangan.
2.10 Beberapa Teori Proses Belajar
Perkembangan teori proses belajar yang ada dapat dikelompokkan ke
dalam dua kelompok besar, yakni teori stimulus-respons yang kurang
memperhitungkan faktor internal dan teori transformasi yang memperhitungkan
faktor internal. Teori stimulus-respons yang berpangkal pada psikologi asosiasi
dirintis oleh John Locke dan Herbart. Di dalam teori ini apa yang terjadi pada diri

19
subjek belajar merupakan rahasia atau biasa disebut sebagai black box. Belajar
adalah mengambil tanggapan-tanggapan dan menggabung-gabungkan tanggapan
dengan jalan mengulang-ulang. Tanggapan-tanggapan tersebut diperoleh melalui
pemberian stimulus atau rangsangan-rangsangan. Makin banyak dan sering
diberikan stimulus, maka makin memperkaya tanggapan pada subjek belajar.
Teori ini tidak memperhitungkan faktor internal yang terjadi pada diri subjek
belajar.
Sedangkan kelompok teori proses belajar yang kedua adalah
memperhitungkan faktor internal maupun eksternal. Pertama, teori transformasi
yang berlandaskan pada psikologi kognitif seperti dirumuskan oleh Neisser,
bahwa proses belajar adalah transformasi dan masukan (input), kemudian input
tersebut direduksi, diuraikan, disimpan, ditemukan kembali, dan dimanfaatkan.
Selanjutnya dijelaskan bahwa belajar dimulai dari kontak individu dengan dunia
luar. Transformasi dari masukan-masukan bersifat aktif melalui proses seleksi
untuk dimasukkan ke dalam ingatan (memory). Meskipun teori ini dikembangkan
berdasarkan psikologi kognitif, tetapi tidak membatasi penelahannya pada
kawasan efektif dan psikomotorik yang ditunjukkan dalam berbagai bentuk
permainan.

2.11 Berbagai Teori Belajar Sosial (Social Learning)


1. Teori Belajar Sosial dan Tiruan dari N.E. Miller dan J. Dollard
Pandangan N.E. Miller dan J. Dollard bertitik-tolak dari teori Hull yang
kemudian dikembangkan menjadi teori tersendiri. Mereka berpendapat bahwa
tingkah laku manusia merupakan hasil belajar. Oleh karena itu, untuk memahami
tingkah laku sosial dan proses belajar sosial, kita harus mengetahui prinsip-prinsip
psikologi belajar. Prinsip-prinsip belajar ini terdiri dari 4, yakni dorongan (drive),
isyarat (cue), tingkah laku balas (response), dan ganjaran (reward). Keempat
prinsip ini saling mengait satu sama lain dan saling dipertukarkan, yaitu dorongan
menjadi isyarat, isyarat menjadi ganjaran, dan seterusnya.
Dorongan adalah rangsangan yang sangat kuat terhadap organisme
(manusia) untuk bertingkah laku. Stimulus-stimulus ini disebut dorongan primer
yang menjadi dasar utama untuk motivasi. Menurut N.E. Mille dan J. Dollard,

20
semua tingkah laku (termasuk tingkah laku tiruan) didasari oleh dorongan-
dorongan primer ini.
Isyarat adalah rangsangan yang menentukan bila dan dimana suatu
respons akan timbul dan terjadi. Isyarat ini dapat disamakan dengan rangsangan
diskriminatif. Di dalam belajar sosial, isyarat yang terpenting adalah tingkah laku
orang lain, baik yang langsung ditujukan kepada orang tertentu maupun yang
tidak, misalnya: anggukan kepala merupakan isyarat untuk berjabatan tangan.
Mengenai tingkah laku balas (respons), mereka berpendapat bahwa
tingkah laku balas itu adalah hierarki bawaan tingkah laku-tingkah laku. Pada saat
manusia dihadapkan untuk pertama kali kepada suatu rangsang tertentu, maka
respons (tingkah laku balas) yang timbul didasarkan pada hierarki bawaan
tersebut. Setelah beberapa kali terjadi ganjaran dan hukuman, maka timbul
tingkah laku balas yang sesuai dengan faktor-faktor penguat tersebut. Tingkah
laku yang disesuaikan dengan faktor-faktor penguat tersebut disusun menjadi
hierarki resultan (resultan hierarecy of response).
Ganjaran adalah rangsangan yang menetapkan apakah tingkah laku balas
diulang atau tidak dalam kesempatan yang lain. Menurut Miller dan Dollard, ada
dua reward atau ganjaran, yakni ganjaran primer yang memenuhi dorongan
primer. Lebih lanjut mereka membedakan adanya 3 macam mekanisme tingkah
laku tiruan.
a. Tingkah laku sama (Same behaviour)
Tingkah laku ini terjadi apabila dua orang yang bertingkah laku balas (berespons)
sama terhadap rangsangan atau isyarat yang sama.
b. Tingkah laku tergantung (Matched dependent behaviour)
Tingkah laku ini timbul dalam interaksi antara dua pihak. Salah satu pihak
mempunyai kelebihan (lebih pandai, lebih mampu, lebih tua dan sebagainya) dari
pihak lain. Dalam hal ini, pihak yang lain atau pihak yang kurang tersebut akan
menyesuaikan tingkah laku (match) dan akan tergantung (depent) pada pihak yang
lebih.
c. Tingkah laku salinan (Copying behaviour)
Seperti tingkah laku tergantung, pada tingkah laku salinan peniru bertingkah atas
dasar isyarat yang berupa tingkah laku yang diberikan oleh model. Pengaruh

21
ganjaran hukuman sangat besar terhadap kuat atau lemahnya tingkah laku tiruan.
Perbedaannya dalam tingkah laku tergantung peniru hanya bertingkah laku
terhadap isyarat yang diberikan oleh model pada saat itu saja, sedangkan pada
tingkah laku Salinan si peniru memperhatikan juga tingkah laku model masa yang
lalu maupun yang dilakukan di waktu mendatang.
2. Teori Belajar Sosial dari A. Bandura dan R.H. Walter
Teori belajar sosial yang dikemukakan oleh Bandura dan Walter disebut
teori proses pengganti. Teori ini menyatakan bahwa tingkah laku tiruan adalah
suatu bentuk asosiasi dari rangsang dengan rangsang lainnya. Penguat
(reinforcement) memang memperkuat tingkah laku balas (response), tetapi dalam
proses belajar sosial hal ini tidak terlalu penting. Menurut A. Bandura dan R.H.
Walter, pengaruh tingkah laku model terhadap tingkah laku peniru ini dibedakan
menjadi tiga macam.
a. Efek modeling (modeling effect), yaitu peniru melakukan tingkah laku-tingkah
laku baru melalui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model.
b. Efek penghambat (inhibition) dan penghapus hambatan (disinhibition) yaitu
tingkah laku model dihambat timbulnya, sedangkan tingkah laku-tingkah laku
yang sesuai dengan tingkah laku model dihapuskan hambantannya sehingga
timbul tingkah laku yang dapat menjadi nyata.
c. Efek kemudahan (facilitation effects), yaitu tingkah laku-tingkah laku yang
sudah pernah dipelajari oleh peniru, lebih mudah muncul kembali dengan
mengamati tingkah laku model.
Akhirnya A. Bandura dan R.H. Walter menyatakan bahwa teori proses
pengganti ini dapat pula menerapkan gejala timbulnya emosi pada peniru dengan
emosi yang ada pada model.
2.12 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar
Di dalam kegiatan belajar terdapat tiga persoalan pokok, yakni masukan
(input), proses, dan keluaran (output). Persoalan masukan menyangkut subjek atau
sasaran belajar itu sendiri dengan berbagai latar belakangnya. Persoalan proses
adalah mekanisme atau proses terjadinya perubahan kemampuan pada diri subjek
belajar. Sedangkan keluaran merupakan hasil belajar itu sendiri, yang terdiri dari
kemampuan baru atau perubahan baru pada diri subjek belajar.

22
Beberapa ahli pendidikan, antara lain J.Guilbert, mengelompokkan faktor-
faktor yang mempengaruhi proses belajar ke dalam empat kelompok besar, yakni
faktor materi, lingkungan, instrumental, dan faktor individual subjek belajar.
Faktor yang pertama, materi ikut menentukan proses dan hasil belajar. Misalnya
belajar pengetahuan. Faktor yang kedua adalah lingkungan yang dikelompokkan
menjadi dua yakni lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik
diantaranya suhu, kelembaban udara, dan kondisi tempat belajar. Sedangkan
contoh lingkungan sosial adalah manusia dengan segala interaksinya. Faktor yang
ketiga, instrumental yang terdiri dari perangkat keras (hardware) dan perangkat
lunak (software). Faktor yang keempat, kondisi individual subjek belajar yang
dibedakan ke dalam kondisi fisiologis seperti kekurangan gizi.

2.13 Proses Belajar Pada Orang Dewasa


Pendidikan kesehatan masyarakat merupakan salah satu bentuk pendidikan
orang dewasa (adult education). Menurut UNESCO, yang dikutif oleh Lunardi,
pendidikan orang dewasa apapun isi, tingkatkan, dan metodenya, baik formal
maupun tidak, merupakan lanjutan atas pengganti pendidikan di sekolah ataupun
universitas.
Subjek belajar di dalam pendidikan orang dewasa sudah jelas, yaitu orang
dewasa atau anggota masyarakat umum yang ingin mengembangkan pengetahuan,
keterampilan, perilaku, dan kemampuan-kemampuan lainnya.
Hasil pendidikan orang dewasa adalah perubahan kemampuan,
penampilan atau perilakunya. Selanjutnya perubahan perilaku didasari adanya
perubahan atau penambahan pengetahuan, sikap, atau keterampilan. Namun
demikian, perubahan pengetahuan dan sikap ini belum merupakan jaminan
terjadinya perubahan perilaku, sebab perilaku baru tersebut kadang-kadang
memerlukan dukungan material. Misalnya, seorang ibu memerlukan uang untuk
dapat mengelola dan memberikan makanan yang bergizi kepada anaknya.
Perubahan perilaku di dalam proses pendidikan orang dewasa (andragogi)
pada umumnya lebih sulit dari pada perubahan perilaku di dalam pendidikan anak
(pedagogi). Ihwal ini dapat dipahami karena orang dewasa sudah mempunyai
pengetahuan, sikap, dan keterampilan tertentu yang mungkin sudah mereka miliki
bertahun-tahun. Jadi pengetahuan, sikap, dan perilaku baru yang belum mereka

23
yakini tersebut menjadi sulit diterima. Untuk itu diperlukan usaha-usaha tersendiri
agar subjek belajar meyakini pentingnya pengetahuan, sikap, dan perilaku tersebut
bagi kehidupan mereka. Dengan kata lain, pendidikan orang dewasa dapat efektif
menghasilkan perubahan perilaku apabila isi dan cara atau metode belajar
mengajarnya sesuai dengan perubahan yang dirasakan oleh subjek belajar.
Salah satu upaya agar pesan-pesan pendidikan tersebut dapat dipahami
oleh orang dewasa dan dapat memberikan dampak perubahan perilaku adalah
dengan memilihkan metode belajar mengajar yang tepat. Diskusi kelompok, studi
kasus, dan simulasi tampaknya merupakan metode yang sangat cocok untuk
pendidikan orang dewasa. Akan tetap sering terjadi bahwa masyarakat atau subjek
belajar tidak selalu dapat merasakan kebutuhan sendiri. Untuk itu diperlukan
upaya awal guna menumbuhkan rasa membutuhkan tersebut.
Maslow, seorang ahli psikologi dari Amerika, mengemukakan bahwa
kebutuhan manusia terdiri dari 5 tingkat, yaitu kebutuhan fisik, keamanan,
pengakuan dari orang lain, harga diri, dan perwujudan diri. Selanjutnyan Maslow
menyatakan bahwa kebutuhan manusia yang paling dasar harus terpenuhi terlebih
dahulu sebelum ia mampu mencapai kebutuhan yang lebih tinggi tingkatnya.
Apabila kebutuhan yang paling dasar, yakni kebutuhan fisik berupa pangan dan
perumahan belum terpenuhi, maka sekarang akan sulit untuk mencapai kebutuhan
harga diri.
Pendidikan bagi orang dewasa yang menyangkut masalah harga diri tidak
akan bearti dalam proses belajar apabila kebutuhan fisik (makanan) untuk
mempertahankan hidupnya sebelum terpenuhi. Sebaliknya pendidikan untuk
orang dewasa tentang cara mencapai kebutuhan fisik tidak akan diperhatikan
apabila sasaran pendidikan tersebut telah berkecukupan dalam kebutuhan fisiknya
(makanan, pakaian, dan perubahan), keamanan milik serta dirinya, bahwa telah
mencapai tingkat pengakuan sebagai anggota masyarakat yang terhormat. Pada
tingkatan ini yang dibutuhkan oleh mereka adalah pengetahuan yang lebih luas
dan sikap yang lebih mantap untuk meningkatkan harga dirinya dalam pergaulan
yang lebih luas.
Dengan pengetahuan kebutuhan kelompok sebagai subjek pendidikan
orang dewasa, maka dapat ditentukan strategi dan susunan belajar mengajar yang

24
tepat. Strategi belajar yang tepat mencakup isi atau materi belajar yang relevan,
metode, dan teknik belajar mengajar yang sesuai dengan kondisi subjek belajar
tersebu. Di dalam pendidikan orang dewasa terutama di dalam pendidikan
nonformal, yang terpenting adalah apa yang dipelajari subjek belajar, bukan apa
yang diajarkan oleh pengajar.
Ungkapan ini mengandung maksud, hasil akhir yang dimiliki dalam
pendidikan orang dewasa adalah apa yang diperoleh sasaran belajar, bukan apa
yang dilakukan oleh pelatih atau fasilitator belajar.
Sehubungan dengan kondisi fisik subjek belajar, Vernet dat Davison yang
dikutip oleh Lunardi mengidentifikasikan adanya faktor-faktor yang dapat
menghambat proses belajar pada orang dewasa yakni;
1. Dengan bertambahnya usia, titik dekat penglihatan atau titik terdekat yang
dapat dilihat secara jelas, mulai bergerak makin jauh. Pada usia 20 tahun,
seseorang dapat melihat jelas suatu benda pada jarak 10 cm dari matanya,
tetapi pada usia 40 tahun titik dekat penglihatannya sudah sampai 23 cm.
2. Dengan bertambahnya usia, titik jauh penglihatan atau titik terjauh yang dapat
dilihat secara jelas mudah berkurang (makin pendek).
3. Makin bertambah usia, makin besar pula jumlah penerangan yang diperlukan
dalam suatu situasi belajar.
4. Makin bertambah usia, persepsi kontras warna cenderung ke arah merah
daripada spektrum. Hal ini disebabkan menguningnya kornea atau lensa mata
sehingga cahaya masuk agar tersaring. Akibatnya ialah kemampuan untuk
membedakan warna-warna lembut menjadi berkurang.
5. Makin bertambah usia, kemampuan menerima suara makin menurut. Mulai
usia 20 tahun pendengaran orang berkurang hanya lebih kurang 11%, tetapi
pada usia 70 tahun, pendengaran orang berkurang sampai lebih kurang 51%.
6. Makin bertambah usia, kemampuan untuk membedakan bunyi makin
berkurang. Dengan demikian pembicaraan orang lain yang terlalu cepat makin
sukar ditangkap.

25
2.14 Prinsip-Prinsip Belajar
 Prinsip 1
Belajar adalah sesuatu pengalaman yang terjadi didalam diri pelajar yang
aktif oleh individu itu sendiri. Perubahan persepsi pengetahuan, sikap, dan
perilaku adalah suatu produk manusia itu sendiri, bukan kekuatan yang
dipaksakan kepada individu. Belajar bukan berarti melakukan apa yang dikatakan
atau yang diperbuat oleh pengajar saja tetapi sesuatu proses perubahan yang unik
didalam di sisi pelajar sendiri.
 Prinsip 2
Belajar adalah penemuan diri sendiri. Berarti bahwa belajar adalah proses
penggalian ide-ide yang berhubungan dengan diri sendiri dan masyarakat
sehingga pelajar dapat menentukan kebutuhan dan tujuan yang akan dicapai.
Implikasi prinsip ini adalah proses pendidikan kesehatan akan lebih baik apabila
yang disediakan rangsagan-rangsangan saja.
 Prinsip 3
Belajar adalah suatu konsekuensi dari pengalaman seseorang menjadi
bertanggung jawab ketika ia diserahi tanggung jawab. Orang tidak akan
mengubah perilakunya hanya karena seseorang mengatakan kepadanya untuk
mengubahnya.
 Prinsip 4
Belajar adalah proses proses kerjasama dan kolaborasi. Kerjasama akan
memperkuat proses belajar. Pada hakikatnya orang bergantung dan saling
membantu. Dengan kerjasama, saling berinteraksi, dan berdiskusi, disamping
memperoleh pengalaman dari orang lain juga dapat mengembangkan pemikiran-
pemikiran dan daya kreasi individu.
 Prinsip 5
Belajar adalah proses evolusi, proses evolusi karena perubahan perilaku
memerlukan waktu dan kesabaran. Perubahan prilaku adalah sesuatu proses yang
lama, karena memerlukan pemikiran-pemikiran dan pertimbangan orang lain.
Untuk itu melakukan pendidikan kesehatan hasilnya tidak dapat kita peroleh
dengan segera dan tidak boleh tergesa-gesa, tetapi memerlukan kesabaran dan
ketekunan.

26
 Prinsip 6
Belajar kadang merupakan suatu proses menyakitkan karena menghendaki
perubahan kebiasaan yang sangat berharga bagi dirinya dan mungkin harus
melepaskan sesuatu yang menjadi jalan hidup atau pegangan hidupnya.
 Prinsip 7
Belajar adalah proses emosional dan intelektual, belajar dipengaruhi oleh
keadaan individu atau si pelajar secara keseluruhan. Belajar bukan hanya proses
intelektual, tetapi emosi juga turut menentukan.demikian juga iklim proses belajar
harus diciptakan sedemikian rupa sehingga terasa tidak tegang, kaku, dan mati.
Harus diciptakan situasi hidup, gembira, dan tidak terlalu formal.
 Prinsip 8
Belajar bersifat individual dan unik. Setiap orang mempunyai gaya belajar
dan keunikan sendiri dalam belajar. Untuk kita harus menyediakan media belajar
yang bermacam-macam sehingga tiap individu dapat memeperoleh pengalaman
belajar sesuai dengan keunikan dan gaya masing-masing.
Seluruh prinsip-prinsip belajar di atas, mencakup situasi proses belajar
yang menguntungkan, mempunyai ciri-ciri komunikasi yang bebas dan terbuka,
konfrontasi penerimaan, respek, diakuinya hak untuk salah, kerja sama kolaborasi,
saling mengevaluasi, keterlibatan tiap individu, aktif, kepercayaan, dan
sebagainya.

27
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Promosi kesehatan merupakan proses pemberdayaan seseorang untuk
meningkatkan control dan peningkatan kesehatannya. WHO menekankan bahwa
promosi kesehatan merupakan suatu proses yang bertujuan memungkinkan
individu meningkatkan kontrol terhadap kesehatan dan meningkatkan
kesehatannya berbasis filosofi yang jelas mengenai pemberdayaan diri sendiri
Sasaran promosi kesehatan yang dilakukan oleh perawat adalah individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat. Agar promosi kesehatan dapat lebih tepat
sasaran, maka sasaran tersebut perlu dikenali lebih rinci, dan jelas melalui
pengelompokkan sasaran promosi kesehatan
Belajar, menurut Kozier (2010) merupakan berubahnya kemampuan
seseorang yang terus berlanjut dalam suatu waktu. Sementara mengajar dapat
disimpulkan sebagai suatu kegiatan yang bertujuan untuk menularkan ilmu
pengetahuan yang dimiliki kepada orang yang belajar sehingga dapat
menumbuhkan sikap kritis dari para pelajar hingga mengubah sikap pelajar dan
juga agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

3.2 Saran
Dalam melakukan promosi kesehatan perawat harus menjaga hubungan
dengan klien, agar isi dari promosi kesehatan yang disampaikan dapat diterima
dan diterapkan oleh klien. Dalam menerima promosi kesehatan klien harus
berperan dalam menentukan keputusan untuk dirinya sendiri.

28
DAFTAR PUSTAKA

Notoatmodjo Soekidjo Prof. Dr. S.K.M, M.Com. H. 2012. Promosi Kesehatan


dan Perilaku Kesehatan. Jakarta. PT Rineka Cipta
Notoatmodjo Soekidjo Prof. Dr. S.K.M, M.Com.H. 2007 promosi kesehatan dan
ilmu perilaku. Jakarta. PT Rineka Cipta

29