Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

PENANGGULANGAN BENCANA DI RUMAH SAKIT


Makalah Disusun Sebagai Tugas Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Disusun oleh:
HANIFAH ETIKAWATI
NIM. P07134219006

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN
2020

i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
Penanggunalan Bencana di Rumah Sakit ini dengan baik. Makalah ini disusun
sebagai syarat kelulusan mata kuliah Bahasa Indonesia. Adanya penulisan
makalah ini, penulis mengharapkan dapat menambah pengetahuan tentang
Penanggunalan Bencana di Rumah Sakit.
Makalah ini dapat terwujud atas bantuan dari beberapa pihak yang telah
membimbing dan memberi masukan guna terselesainya makalah ini. Oleh karena
itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Joko Susilo, SKM, M.Kes. selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kementerian
Kesehatan Yogyakarta.
2. Subrata Tri Widada, SKM, M.Sc. selaku Ketua Jurusan Analis Kesehatan
Kementerian Kesehatan Yogyakarta.
3. Siti Nuryani, S.Si., M.Sc. selaku Ketua Prodi Sarjana Terapan Analis
Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta.
4. Budi Setiawan, S.Si., M.Sc. selaku Dosen Pengampu mata kuliah Kesehatan
dan Keselamatan Kerja (K3) yang telah membimbing penulis.
5. Orang tua penulis dan teman-teman yang telah banyak memberikan semangat
dan doa.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Kritik dan
saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi perbaikan makalah ini.
Akhir kata penulis mengharap laporan ini berguna bagi pembaca pada umumnya
dan penulis sendiri pada khususnya.

Yogyakarta, April 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i


KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Tujuan ................................................................................................. 2
C. Manfaat ............................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Bencana ................................................................................ 4
B. Peran Rumah Sakit Dalam Penanggulangan Bencana ....................... 5
C. Manajemen fasilitas dan keselamatan di rumah sakit dalam
kesiapan penanggulangan bencana..................................................... 9
D. Peran Tenaga Kesehatan Pada Tahapan Bencana ............................ 12
E. Manajemen Penanggulangan Bencana ............................................. 16
F. Peran Petugas Dalam Manajemen Penanganan Bencana ................. 19
BAB III KESIMPULAN
A. Kesimpulan ..................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bencana merupakan suatu peristiwa yang tidak dapat diprediksi kapan
terjadinya dan dapat menimbulkan korban luka maupun jiwa, serta mengakibatkan
kerusakan dan kerugian. Bencana merupakan rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor
manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda dan dampak psikologis. Bencana dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu bencana alam dan non alam. Bencana alam terjadi disebabkan
oleh alam, seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan,
puting beliung, tanah longsor dan sebagainya. Sedangkan bencana non alam
disebabkan oleh epidemi, wabah dan sebagainya (Badan Nasional
Penanggulangan Bencana, 2012).
Indonesia sendiri memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan
demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh
faktor alam, faktor non alam maupun faktor manusia yang menyebabkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan
dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan
nasional (Depkes RI, 2011).
Kondisi Indonesia yang rawan menyebabkan hampir setiap kejadian
bencana menimbulkan permasalahan kesehatan, seperti, korban meninggal,
menderita sakit, luka-luka, pengungsi dengan masalah gizinya, dan masalah air
bersih serta sanitasi lingkungan yang menurun. Selain masalah tersebut, bencana
sering pula menyebabkan kerusakan infrastruktur, gedung dan bangunan publik
termasuk fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, puskesmas
pembantu, gudang farmasi, dan lain-lain. Dengan adanya fasilitas kesehatan yang
rusak tentunya dapat mengganggu pelayanan kesehatan yang seharusnya
diberikan dalam situasi dan kondisi apapun, tidak terkecuali rumah sakit sebagai

1
2

fasilitas rujukan bagi penanganan korban bencana (Depkes RI, 2008).


Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas umum sering mengalami
gangguan fungsional maupun struktural akibat bencana internal (seperti
kebakaran, gedung runtuh, dan keracunan) maupun bencana eksternal (seperti
kehadiran pasien/korban dalam jumlah yang besar pada waktu hamper bersamaan)
sehingga rumah sakitpun menjadi lumpuh (kolaps). Selain itu, dalam situasi dan
kondisi bencana ataupun kedaruratan, diperlukan upaya penguatan rumah sakit
agar dapat berfungsi kembali untuk memberikan jaminan pelayanan rujukan bagi
masyarakat yang membutuhkan pertolongan spesialistik (Depkes RI, 2008).
Bencana yang kebanyakan terjadi dan kerap ditangani oleh Rumah Sakit,
secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua golongan, yaitu bencana alam
(natural disaster) dan Mass Casuality Incident (MCI). Bencana alam dapat
diartikan sebagai kejadian mendadak yang disebabkan oleh kekuatan alam yang
menimpa suatu tempat atau daerah dan menimbulkan kerusakan sehingga dapat
mengakibatkan kerugian jiwa dan harta benda. Adapun contoh dari bencana alam
yaitu gempa bumi, tanah longsor, banjir, angin topan, keracunan gas alam,
serangan hama tanaman, gelombang tsunami, kemarau pajang (Pedoman
Penanggulangan Bencana RS Muhammadiyah Palembang, 2010).
Sementara Mass Casuality Incident adalah segala peristiwa yang
menyebabkan korban dalam jumlah cukup besar, di mana mempengaruhi kegiatan
gawat darurat dan pelayanan kesehatan secara normal (Pedoman Penanggulangan
Bencana RS Muhammadiyah Palembang, 2010).
B. Tujuan
1. Menjelaskan definisi bencana.
2. Menjelaskan peran rumah sakit dalam penanggulangan bencana.
3. Menjelaskan manajemen fasilitas dan keselamatan di rumah sakit dalam
kesiapan penanggulangan bencana
4. Menjelaskan peran tenaga kesehatan pada tahapan bencana.
5. Menjelaskan manajemen penanggulangan bencana.
6. Menjelaskan peran petugas dalam manajemen penanganan bencana.
3

C. Manfaat
1. Mengetahui definisi bencana.
2. Mengetahui peran rumah sakit dalam penanggulangan bencana.
3. Mengetahui manajemen fasilitas dan keselamatan di rumah sakit dalam
kesipan penanggulangan bencana
4. Mengetahui peran tenaga kesehatan pada tahapan bencana.
5. Mengetahui manajemen penanggulangan bencana.
6. Mengetahui peran petugas dalam manajemen penganganan bencana.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Bencana
Bencana merupakan rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik
faktor alam dan/ atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian
harta benda, dan dampak psikologis (UU RI No. 24 Tahun 2007). Sebagian
wilayah di permukaan bumi berada pada letak geografis yang berpotensi terhadap
bencana seperti gempa bumi, tsunami, longsor, banjir, sampai angin topan yang
terjadi pada berbagai tempat di dunia. Selain karena aktivitas alami bumi bencana
bisa terjadi akibat aktivitas manusia yang menimbulkan banyak kerugian materi
dan korban jiwa.
Bencana merupakan kejadian luar biasa yang menyebabkan kerugian
besar bagi manusia dan lingkungan dimana hal itu berada diluar kemampuan
manusia untuk dapat mengendalikannya, disebabkan oleh faktor alam atau
manusia atau sekaligus oleh keduanya. Didalam penanganan bencana terdapat
beberapa aspek yaitu aspek mitigasi bencana (pencegahan), kegawatdaruratan saat
terjadinya bencana, dan aspek rehabilitasi. Penanganan kegawatdaruratan
targetnya adalah penyelamatan sehingga risiko tereliminir. Sedangkan rehabilitasi
merupakan upaya mengembalikan pada kondisi normal kembali (Sinaga, 2015).
Pengertian bencana menurut International Strategy for Disaster
Reduction (2004) adalah suatu gangguan serius terhadap aktivitas di masyarakat
yang menyebabkan kerugian luas pada kehidup-an manusia dari segi materi,
ekonomi atau ling-kungan dan melampaui kemampuan masyarakat yang
bersangkutan untuk mengatasi dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri
(Legg, 2010). World Health Organization (WHO), mendefinisi-kan bencana
adalah Kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan kerusakan ekologi,
kerugi-an kehidupan manusia serta memburuknya kesehatan dan pelayanan
kesehatan yang ber-makna sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari pihak
luar. Sedangkan Hodgetts & Jones (2002) mendefinisikan bencana dengan istilah
4
5

“Major Incident”. “In health service terms a major incident can be defined as
any incident where the location, number, severity, or type of live casualties
requires extraordinary resources”.
Indonesia sendiri memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan
demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh
faktor alam, faktor non alam maupun faktor manusia yang menyebabkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan
dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan
nasional (Depkes RI, 2011).
Berikut gambar yang menunjukkan bencana yang pernah terjadi di
Indonesia.

Gambar 1.1 Bencana yang terjadi di Indonesia (Sumber: bmkg.go.id)


Gambar di atas menunjukkan bahwa bencana yang sering terjadi di
Indonesia yaitu banjir, dan diikuti dengan puting beliung dan tanah longsor.
Bencana dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti kondisi geografis,
geologis, iklim maupun faktor-faktor lain seperti keragaman sosial, budaya dan
politik. Selain itu, bencana juga dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural
disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster) (Rustan, 2011).
B. Peran Rumah Sakit dalam Penanggulanagan Bencana
Kondisi Indonesia yang rawan menyebabkan hampir setiap kejadian
bencana menimbulkan permasalahan kesehatan, seperti, korban meninggal,
menderita sakit, luka-luka, pengungsi dengan masalah gizinya, dan masalah air
6

bersih serta sanitasi lingkungan yang menurun. Selain masalah tersebut, bencana
sering pula menyebabkan kerusakan infrastruktur, gedung dan bangunan publik
termasuk fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, puskesmas
pembantu, gudang farmasi, dan lain-lain. Dengan adanya fasilitas kesehatan yang
rusak tentunya dapat mengganggu pelayanan kesehatan yang seharusnya
diberikan dalam situasi dan kondisi apapun, tidak terkecuali rumah sakit sebagai
fasilitas rujukan bagi penanganan korban bencana (Depkes RI, 2008).
Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas umum sering mengalami
gangguan fungsional maupun struktural akibat bencana internal (seperti
kebakaran, gedung runtuh, dan keracunan) maupun bencana eksternal (seperti
kehadiran pasien/korban dalam jumlah yang besar pada waktu hampir bersamaan)
sehingga rumah sakitpun menjadi lumpuh (kolaps). Selain itu, dalam situasi dan
kondisi bencana ataupun kedaruratan, diperlukan upaya penguatan rumah sakit
agar dapat berfungsi kembali untuk memberikan jaminan pelayanan rujukan bagi
masyarakat yang membutuhkan pertolongan spesialistik (Depkes RI, 2008).
Bencana yang kebanyakan terjadi dan kerap ditangani oleh Rumah Sakit,
secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua golongan, yaitu bencana alam
(natural disaster) dan Mass Casuality Incident (MCI). Bencana alam dapat
diartikan sebagai kejadian mendadak yang disebabkan oleh kekuatan alam yang
menimpa suatu tempat atau daerah dan menimbulkan kerusakan sehingga dapat
mengakibatkan kerugian jiwa dan harta benda. Adapun contoh dari bencana alam
yaitu gempa bumi, tanah longsor, banjir, angin topan, keracunan gas alam,
serangan hama tanaman, gelombang tsunami, kemarau pajang (Pedoman
Penanggulangan Bencana RS Muhammadiyah Palembang, 2010).
Sementara Mass Casuality Incident adalah segala peristiwa yang
menyebabkan korban dalam jumlah cukup besar, di mana mempengaruhi kegiatan
gawat darurat dan pelayanan kesehatan secara normal (Pedoman Penanggulangan
Bencana RS Muhammadiyah Palembang, 2010).
7

Tabel 1.1. Tingkatan Mass Casuality Incident

Kegawatdaruratan dan bencana dapat terjadi kapan saja, di mana saja,


dan menimpa siapa saja sehingga komponen-komponen penting dalam Sistem
Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) harus dipersiapkan dengan
baik, mulai dari tingkat Pra-Rumah Sakit, di Rumah Sakit, serta rujukan intra
Rumah Sakit sampai dengan rujukan antar Rumah Sakit. Kesiapan dalam SPGDT
dapat mempersingkat waktu tanggap (respon time) dan penanganan pasien gawat
dapat dilakukan dengan cepat, tepat, cermat, dan sesuai standar (Depkes RI,
2009).
Rumah Sakit memegang peranan penting dalam kesiapsiagaan
penanganan korban gawat darurat sehari-hari dan bencana. Oleh sebab itu,
fasilitas kesehatan tersebut harus selalu siap menerima korban gawat darurat
sehari-hari dan bencana yang membutuhkan pertolongan cepat dan tepat (Depkes
RI, 2009). Khusus hal penanganan bencana terhadap kerugian secara kesakitan
sampai kematian, perlu mendapat perhatian serius. Hal ini mengingat pada saat
terjadi bencana biasanya menghasilkan jumlah korban yang banyak dan
mendadak. Kondisi inilah yang akan menyebabkan rumah sakit sebagai tempat
rujukan korban bencana akan kewalahan, terutama dalam hal penyediaan tenaga
medis, penyediaan obat-obatan, serta dalam hal administratif.
Rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan rujukan khususnya bagi
kasus-kasus emergensi, sebaiknya lebih siap dalam menghadapi dampak bencana
baik bencana di dalam atau di luar rumah sakit. Kesiapan rumah sakit dalam
8

keadaan bencana dituntut harus mampu mengelola pelayanan sehari-hari,


pelayanan korban akibat bencana, serta aktif membantu dalam penyelamatan
nyawa korban bencana (Depkes RI, 2007).
Peran rumah sakit sebagai ujung tombak pelayanan medik harus aktif di
saat bencana, yang juga merupakan mata rantai dari Sistem Penanggulangan
Gawat Darurat Terpadu (SPGDT). Mulai dari pra rumah sakit, di rumah sakit,
rujukan intra rumah sakit sampai dengan rujukan antar rumah sakit. Kesiapan
dalam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dapat
mempersingkat waktu tanggap dan penanganan pasien gawat dapat dilakukan
dengan cepat, tepat, dan sesuai standar. Berdasarkan pengalaman di lapangan,
terkesan bahwa rumah sakit seringkali tidak menunjukkan kesiapan yang
memadai dalam menghadapi bencana. Ketidaksiapan rumah sakit dalam
menghadapi bencana karena belum adanya petunjuk baku dalam menangani
masalah yang terjadi akibat bencana. Oleh karena itu, setiap rumah sakit harus
memiliki Pedoman Perencanaan Penyiagaan Bencana bagi Rumah Sakit (Hospital
Disaster Plan) sebagai akselerasi dan dorongan yang kuat bagi rumah sakit untuk
meningkatkan kesiapan menghadapi bencana dalam suatu kerangka dan persepsi
yang baku (Depkes RI, 2009)
Kesiapan rumah sakit dalam menghadapi bencana dalam bentuk
kerangka dan persepsi yang baku tertuang dalam Hospital Disaster Plan secara
tertulis. Hospital Disaster Plan juga merupakan salah satu syarat penilaian
akreditasi rumah sakit. Rumah sakit yang telah memiliki Hospital Disaster Plan
bukan berarti rumah sakit telah siap dalam penanganan bencana, karena kesiagaan
terhadap bencana memerlukan pelatihan dan simulasi. Kesiagaan rumah sakit baru
dapat diwujudkan bila perencanaan tersebut ditindaklanjuti dengan dibentuknya
tim penanganan bencana di rumah sakit (Depkes RI, 2009)
Tim penanganan bencana rumah sakit dibentuk oleh tim penyusun
perencanaan penyiagaan bencana bagi rumah sakit yang di keluarkan dalam surat
keputusan direktur rumah sakit. Dalam Pedoman Manajemen Sumber Daya
Kesehatan dalam Penanggulangan Bencana kebutuhan minimal tim penanganan
bencana terdari Tim Reaksi Cepat (TRC), Tim Rapid Health Assesment (RHA)
9

dan Tim Bantuan Kesehatan. Tim TRC yaitu tim yang diharapkan dapat segera
bergerak dalam waktu 0-24 jam setelah ada informasi kejadian bencana. Tim
RHA yakni tim yang bisa diberangkatkan bersamaan dengan TRC atau menyusul
dalam waktu kurang dari 24 jam. Sedangkan Tim Bantuan Kesehatan yakni Tim
yang diberangkatkan berdasarkan kebutuhan setelah TRC dan RHA kembali
dengan hasilkegiatan mereka di lapangan. Tim penanggulangan bencana
bekerjasama dengan instansi-instansi/ unit kerja di luar rumah sakit (pelayanan
ambulans, bank darah, dinas kesehatan, PMI, media, dan rumah sakit lainnya)
serta pelatihan berkala terhadap tim penanggulangan bencana sehingga mereka
mengetahui dan terbiasa dengan perencanaan yang telah disusun agar dapat
diterapkan (Depkes RI, 2009).
C. Manajemen Fasilitas dan Keselamatan di Rumah Sakit dalam Kesiapan
Penanggulangan Bncana
Rumah sakit dalam kegiatannya harus menyediakan fasilitas yang aman,
berfungsi, dan suportif bagi pasien, keluarga, staf, dan pengunjung. Untuk
mencapai tujuan tersebut fasilitas fisik, peralatan medis, dan peralatan lainnya
harus dikelola secara efektif. Secara khusus, manajemen harus berupaya keras
(Sutoto, dkk., 2017):
1. mengurangi dan mengendalikan bahaya dan risiko;
2. mencegah kecelakaan dan cidera; dan
3. memelihara kondisi aman.
Manajemen yang efektif melibatkan multidisiplin dalam perencanaan,
pendidikan, dan pemantauan (Sutoto, dkk., 2017).
1. Pimpinan merencanakan ruangan, peralatan, dan sumber daya yang
dibutuhkan yang aman dan efektif untuk menunjang pelayanan klinis yang
diberikan.
2. Seluruh staf dididik tentang fasilitas, cara mengurangi risiko, serta bagaimana
memonitor dan melaporkan situasi yang dapat menimbulkan risiko.
3. Kriteria kinerja digunakan untuk mengevaluasi sistem yang penting dan
mengidentifikasi perbaikan yang diperlukan.
10

Situasi darurat yang terjadi di masyarakat, kejadian epidemi, atau


bencana alam akan melibatkan rumah sakit seperti gempa bumi yang
menghancurkan area rawat inap pasien atau ada epidemi flu yang akan
menghalangi staf masuk kerja. Penyusunan program harus dimulai dengan
identifikasi jenis bencana yang mungkin terjadi di daerah rumah sakit berada dan
dampaknya terhadap rumah sakit. Contohnya, angin topan (hurricane) atau
tsunami kemungkinan akan terjadi di daerah dekat laut dan tidak terjadi di daerah
yang jauh dari laut. Kerusakan fasilitas atau korban masal sebaliknya dapat terjadi
di rumah sakit manapun (Sutoto, dkk., 2017).
Melakukan identifikasi dampak bencana sama pentingnya dengan
mencatat jenis bencana yang terjadi. Sebagai contoh, kemungkinan dampak yang
dapat terjadi pada air dan tenaga listrik jika terjadi bencana alam seperti gempa
bumi. Mungkinkah gempa bumi akan menghambat anggota staf untuk merespons
bencana hanya karena jalan terhalang atau keluarga mereka menjadi koban gempa
bumi? Dalam situasi demikian, mungkin akan terjadi konflik kepentingan dengan
keharusan merespons kejadian bencana di rumah sakit. Rumah sakit juga harus
mengetahui peranan staf ini di masyarakat. Sebagai contoh, sumber daya apa yang
perlu disediakan rumah sakit untuk masyarakat dalam situasi bencana dan metode
komunikasi apa yang harus dipakai di masyarakat? (Sutoto, dkk., 2017).
Untuk merespons secara efektif maka rumah sakit perlu menyusun
program manajemen disaster tersebut. Program tersebut menyediakan proses
untuk (Sutoto, dkk., 2017):
1. menentukan jenis yang kemungkinan terjadi dan konsekuensi bahaya,
ancaman, dan kejadian;
2. menentukan integritas struktural di ingkungan pelayanan pasien yang ada dan
bagaimana bila terjadi bencana;
3. menentukan peran rumah sakit dalam peristiwa/kejadian tersebut;
4. menentukan strategi komunikasi pada waktu kejadian;
5. mengelola sumber daya selama kejadian termasuk sumber-sumber alternatif;
6. mengelola kegiatan klinis selama kejadian termasuk tempat pelayanan
alternatif pada waktu kejadian;
11

7. mengidentifikasi dan penetapan peran serta tanggung jawab staf selama


kejadian; dan
8. proses mengelola keadaan darurat ketika terjadi konflik antara tanggung
jawab pribadi staf dan tanggung jawab rumah sakit untuk tetap menyediakan
pelayanan pasien.
Dalam keadaan darurat, bencana, dan krisis lainnya maka masyarakat
harus dapat melindungi kehidupan dan kesejahteraan penduduk yang terkena
dampaknya terutama dalam hitungan menit dan jam segera setelah dampak atau
keterpaparan tersebut. Kemampuan pelayanan kesehatan untuk berfungsi tanpa
gangguan dalam situasi ini adalah masalah antara hidup dan mati. Kelanjutan
fungsi layanan kesehatan bergantung pada sejumlah faktor kunci, yaitu bahwa
layanan ditempatkan di struktur (seperti rumah sakit atau fasilitas) yang dapat
menahan paparan dan kekuatan dari semua jenis bahaya; peralatan medis dalam
keadaan baik dan terlindung dari kerusakan; infrastruktur masyarakat dan layanan
penting (seperti air, listrik, dll.) tersedia bagi layanan kesehatan; dan petugas
kesehatan dapat memberikan bantuan medis dalam situasi aman saat mereka
sangat dibutuhkan (Sutoto, dkk., 2017).
Rumah sakit yang aman adalah rumah sakit yang fasilitas layanannya
tetap dapat diakses dan berfungsi pada kapasitas maksimum, serta dengan
infrastruktur yang sama, sebelum, selama, dan segera setelah dampak keadaan
darurat dan bencana. Fungsi rumah sakit yang terus berlanjut bergantung pada
berbagai faktor termasuk keamanan bangunan, sistem dan peralatan pentingnya,
ketersediaan persediaan, serta kapasitas penanganan darurat dan bencana di rumah
sakit terutama tanggapan dan pemulihan dari bahaya atau kejadian yang mungkin
terjadi (Sutoto, dkk., 2017).
Untuk mengukur kesiapsiagaan rumah sakit dalam menghadap bencana
maka rumah sakit agar melakukan self assessment dengan menggunakan
instrument hospital safety index dari WHO tersebut. Dengan melakukan self
assessment tersebut maka rumah sakit diharapkan dapat mengetahui kekurangan
yang harus dipenuhi untuk menghadapi bencana (Sutoto, dkk., 2017).
12

Untuk menyiapkan Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit dalam


menghadapi bencana ekternal maka di Instalasi Gawat Darurat perlu ada ruang
dekontaminasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan sebagai berikut
(Sutoto, dkk., 2017):
1. ruangan ini ditempatkan di sisi depan/luar ruang gawat darurat atau terpisah
dengan ruang gawat darurat;
2. pintu masuk menggunakan jenis pintu swing membuka ke arah dalam dan
dilengkapi dengan alat penutup pintu automatis;
3. bahan penutup pintu harus dapat mengantisipasi benturan-benturan brankar;
4. bahan penutup lantai tidak licin dan tahan terhadap air;
5. konstruksi dinding tahan terhadap air sampai dengan ketinggian 120 cm dari
permukaan lantai;
6. ruangan dilengkapi dengansinkdan pancuran air (shower).
D. Peran Tenaga Kesehatan pada Tahapan Bencana.
Disaster atau bencana dibagi beberapa tahap yaitu: tahap pra-disaster,
tahap serangan atau saat terjadi bencana (impact), tahap emergency dan tahap
rekonstruksi (Ballay,2006).
1. Tahapan Pra Disaster
Tahap ini dikenal juga sebagai tahap pra bencana, durasi waktunya mulai saat
sebelum terjadi bencana sampai tahap serangan atau impact. Tahap ini
dipandang oleh para ahli sebagai tahap yang sangat strategis karena pada
tahap pra bencana ini masyarakat perlu dilatih tanggap terhadap bencana yang
akan dijumpainya kelak. Latihan yang diberikan kepada petugas dan
masyarakat akan sangat berdampak kepada jumlah besarnya korban saat
bencana menyerang (impact), peringatan dini dikenalkan kepada masyarakat
pada tahap pra bencana. Dengan pertimbangan bahwa, yang pertama kali
menolong saat terjadi bencana adalah masyarakat awam atau awam khusus
(first responder), maka masyarakat awam khusus perlu segera dilatih oleh
pemerintah kabapaten kota. Latihan yang perlu diberikan kepada masyarakat
awam khusus dapat berupa: Kemampuan minta tolong, kempuan menolong
13

diri sendiri, menentukan arah evakuasi yang tepat, memberikan pertolongan


serta melakukan transportasi.
Peran tenaga kesehatan dalam fase Pra Disaster adalah:
a. Tenaga kesehatan mengikuti pelatihan dan pendidikan yang berhubungan
dengan penanggulangan ancaman bencana untuk tiap fasenya.
b. Tenaga kesehatan ikut terlibat dalam berbagai dinas pemerintah,
organisasi lingkungan, palang merah nasional, maupun lembagalembaga
kemasyarakatan dalam memberikan penyuluhan dan simulasi persiapan
menghadapi bencana kepada masyarakat.
c. Tenaga kesehatan terlibat dalam program promosi kesehatan untuk
meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana yang
meliputi hal-hal berikut ini:
1) Usaha pertolongan diri sendiri ketika ada bencana.
2) Pelatihan pertolongan pertama dalam keluarga seperti menolong
anggota keluarga yang lain.
3) Tenaga kesehatan dapat memberikan beberapa alamat dan nomor
telepon darurat seperti dinas kebakaran, rumah sakit dan ambulan.
2. Tahapan Bencana (Impact)
Pada tahap serangan atau terjadinya bencana (Impact phase), waktunya bisa
terjadi beberapa detik sampai beberapa minggu atau bahkan bulan. Tahap
serangan dimulai saat bencana menyerang sampai serang berhenti. Waktu
serangan yang singkat misalnya: serangan angin puting beliung, serangan
gempa di Jogyakarta atau ledakan bom, waktunya hanya beberapa detik saja
tetapi kerusakannya bisa sangat dahsyat. Waktu serangan yang lama
misalnya: saat serangan tsunami di Aceh terjadi secara periodik dan berulang-
ulang, serangan semburan lumpur lapindo sampai setahun lebih bahkan
sampai sekarang belum berhenti yang mengakibatkan jumlah kerugian yang
sangat besar.
14

Peran tenaga kesehatan pada fase Impact adalah:


a. Bertindak cepat
b. Do not promise, tenaga kesehatan seharusnya tidak menjanjikan apapun
secara pasti dengan maksud memberikan harapan yang besar pada korban
selamat
c. Berkonsentrasi penuh terhadap apa yang dilakukan
d. Koordinasi dan menciptakan kepemimpinan untuk setiap kelompok yang
menanggulangi terjadinya bencana
3. Tahapan Emergency
Tahap emergensi dimulai sejak berakhirnya serangan bencana yang pertama,
bila serangan bencana terjadi secara periodik seperti di Aceh dan semburan
lumpur Lapindo sampai terjadi-nya rekonstruksi. Tahap emergensi bisa
terjadi beberapa minggu sampai beberapa bulan. Pada tahap emergensi ini,
korban memerlukan bantu-an dari tenaga medis spesialis, tenaga kesehatan
gawat darurat, awam khusus yang terampil dan tersertifikasi. Diperlukan
bantuan obat-obatan, balut bidai dan alat evakuasi, alat transportasi yang
efisien dan efektif, alat komunikasi, makanan, pakaian dan lebih khusus
pakaian anakanak, pakaian wanita terutama celana dalam, BH, pembalut
wanita yang kadang malah hampir tidak ada. Diperlukan mini hospital
dilapangan, dapur umum dan mana-jemen perkemahan yang baik agar
kesegaran udara dan sanitasi lingkung-an terpelihara dengan baik.
Peran tenaga kesehatan ketika fase emergency adalah:
a. Memfasilitasi jadwal kunjungan konsultasi medis dan cek kesehatan
sehari-hari
b. Tetap menyusun rencana prioritas asuhan ketenaga kesehatan harian
c. Merencanakan dan memfasilitasi transfer pasien yang memerlukan
penanganan kesehatan di RS
d. Mengevaluasi kebutuhan kesehatan harian
e. Memeriksa dan mengatur persediaan obat, makanan, makanan khusus
bayi, peralatan kesehatan
15

f. Membantu penanganan dan penempatan pasien dengan penyakit menular


maupun kondisi kejiwaan labil hingga membahayakan diri dan
lingkungannya.
g. Mengidentifikasi reaksi psikologis yang muncul pada korban (ansietas,
depresi yang ditunjukkan dengan seringnya menangis dan mengisolasi
diri) maupun reaksi psikosomatik (hilang nafsu makan, insomnia, fatigue,
mual muntah, dan kelemahan otot)
h. Membantu terapi kejiwaan korban khususnya anak-anak, dapat dilakukan
dengan memodifikasi lingkungan misal dengan terapi bermain.
i. Memfasilitasi konseling dan terapi kejiwaan lainnya oleh para psikolog
dan psikiater
j. Konsultasikan bersama supervisi setempat mengenai pemeriksaan
kesehatan dan kebutuhan masyarakat yang tidak mengungsi.
4. Tahap Rekonstruksi
Pada tahap ini mulai dibangun tempat ting-gal, sarana umum seperti sekolah,
sarana ibadah, jalan, pasar atau tempat pertemuan warga. Pada tahap
rekonstruksi ini yang dibangun tidak saja kebutuhan fisik tetapi yang lebih
utama yang perlu kita bangun kembali adalah budaya. Kita perlu melakukan
rekonstruksi budaya, melakukan re-orientasi nilai-nilai dan norma-norma
hidup yang lebih baik yang lebih beradab. Deng-an melakukan rekonstruksi
budaya kepada masyarakat korban bencana, kita berharap kehidupan mereka
lebih baik bila dibanding sebelum terjadi bencana. Situasi ini seharus-nya
bisa dijadikan momentum oleh pemerintah untuk membangun kembali
Indonesia yang lebih baik, lebih beradab, lebih santun, lebih cerdas hidupnya,
lebih me-miliki daya saing di dunia internasional. Hal ini yang nampaknya
kita rindukan, karena yang seringkali kita baca dan kita dengar adalah
penyalahgunaan bantuan untuk korban bencana dan saling tunggu antara
pemerintah daerah dengan pemerintah pusat.
16

Peran tenaga kesehatan pada fase rekonstruksi adalah:


a. Tenaga kesehatanan pada pasien post traumatic stress disorder (PTSD)
b. Tim kesehatan bersama masyarakat dan profesi lain yang terkait
bekerjasama dengan unsur lintas sector menangani masalah kesehatan
masyarakat pasca gawat darurat serta mempercepat fase pemulihan
(Recovery) menuju keadaan sehat dan aman.
Kompetensi seorang tenaga kesehatan dalam manajemen bencana
merupakan kemampuan mengarahkan dan memobilisasi (respon eksternal
multisektoral), dengan mengakses kebutuhan sumber daya lintas instansi
kesehatan secara cepat, tepat dan terpadu dalam kondisi bencana. Tenaga
kesehatan bukanlah satu-satunya tim yang terlibat dalam proses penanggulangan
bencana, berikut ini merupakan tim penang gulangan bencana terpadu yang
terlibat dalam penanggulangan bencana di Indonesia berdasarkan jenis
kompetensi yang dimiliki.
E. Manajemen Penanggulangan Bencana
Manajemen penanggulangan bencana memiliki kemiripan dengan
sifat‐sifat manajemen lainnya secara umum. Meski demikian terdapat beberapa
perbedaan, yaitu nyawa dan kesehatan masyarakat merupakan masalah utama,
waktu untuk bereaksi yang sangat singkat, risiko dan konsekuensi kesalahan atau
penundaan keputusan dapat berakibat fatal, situasi dan kondisi yang tidak pasti,
petugas mengalami stres yang tinggi, informasi yang selalu berubah.
Manajemen penanggulangan bencana adalah pengelolaan penggunaan
sumber daya yang ada untuk menghadapi ancaman bencana dengan melakukan
perencanaan, penyiapan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi di setiap tahap
penanggulangan bencana yaitu pra, saat dan pasca bencana. Pada dasarnya, upaya
penanggulangan bencana meliputi tahap pra bencana, terdiri atas situasi tidak
terjadi bencana, kegiatannya adalah pencegahan dan mitigasi, situasi potensi
terjadi bencana, kegiatannya berupa kesiapsiagaan. Sedangkan pada tahap saat
bencana, kegiatan adalah tanggap darurat dan pemulihan darurat. Dan tahap pasca
bencana, kegiatannya adalah rehabilitasi dan rekonstruksi. Setiap tahap
penanggulangan tersebut tidak dapat dibatasi secara tegas. Dalam pengertian
17

bahwa upaya pra bencana harus terlebih dahulu diselesaikan sebelum melangkah
pada tahap tanggap darurat dan dilanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu pemulihan.
Keberhasilan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana ditentukan
oleh kesiapan masing-masing unit kesehatan yang terlibat, manajemen
penanganan bencana serta kegiatan pokok seperti penanganan korban massal,
pelayanan kesehatan dasar di pengungsian, penanggulangan dan pengendalian
penyakit, penyediaan air bersih dan sanitasi, penanganan gizi darurat, penanganan
kesehatan jiwa, serta pengelolaan lagistik dan perbekalan kesehatan (Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, 2007)
Siklus ini harus dipahami bahwa pada setiap waktu, semua tahapan dapat
dilaksanakan secara bersama‐sama pada satu tahapan tertentu dengan porsi yang
berbeda. Misalnya, tahap pemulihan kegiatan utamanya adalah pemulihan tetapi
kegiatan pencegahan dan mitigasi dapat juga dilakukan untuk mengantisipasi
bencana yang akan datang (Depkes RI, 2011).
World Health Organization (2011), juga menuangkan dalam buku
Hospital Emergency Response Checklist, yang menjadi pegangan bagi tiap
instansi rumah sakit dalam melakukan tindakan pada saat terjadi bencana.
Meliputi sistem administratif dan juga manajerial rumah sakit, adapun komponen-
komponennya antara lain sistem kontrol dan komando, alur komunikasi, sistem
keamanan, sistem triase, kapasitas fungsional rumah sakit, pelayanan kesehatan
secara kontinyu, sumber daya manusia, manajemen dan suplai logistik, serta
kesembuhan setelah bencana. Manajemen risiko bencana merupakan pengelolaan
bencana dengan melakukan observasi secara sistematis dan analisis bencana untuk
meningkatkan tindakan-tindakan terkait dengan pencegahan, pengurangan,
perisapan, respon darurat dan pemulihan (Paidi, 2012). Manajemen tersebut
sangat diperlukan untuk mengidentifikasi bencana apa saja yang dapat terjadi di
lingkungan sekitar rumah sakit. Dengan demikian, sebelum bencana tersebut
terjadi, telah dipersiapkan terlebih dahulu penanganannya agar korban jiwa serta
kerugian lainnya dapat diminimalisir.
18

Tujuan dari manajemen bencana:


1. Mengurangi atau menghindari kerugian secara fisik, ekonomi
maupun jiwa yang dialami oleh perorangan, masyarakat negara.
2. Mengurangi penderitaan korban bencana
3. Mempercepat pemulihan
4. Memberikan perlindungan kepada pengungsi atau masyarakat yang
kehilangan tempat ketika kehidupannya terancam
Didalam siklus manajemen bencana terdapat beberapa tahapan dalam
upaya untuk menangani suatu bencana yaitu:
1. Penanganan Darurat; yaitu upaya untuk menyelamatkan jiwa dan melindungi
harta serta menangani gangguan kerusakan dan dampak lain suatu bencana.
Sedangkan keadaan darurat yaitu kondisi yang diakibatkan oleh kejadian luar
biasa yang berada di luar kemampuan masyarakat untuk menghadapinya
dengan sumber daya atau kapasitas yang ada sehingga tidak dapat memenuhi
kebutuhankebutuhan pokok dan terjadi penurunan drastis terhadap kualitas
hidup, kesehatan atau ancaman secara langsung terhadap keamanan banyak
orang di dalam suatu komunitas atau lokasi.
2. Pemulihan (recovery) adalah suatu proses yang dilalui agar kebutuhan pokok
terpenuhi. Proses recovery terdiri dari:
a. Rehabilitasi: perbaikan yang dibutuhkan secara langsung yang sifatnya
sementara atau berjangka pendek.
b. Rekonstruksi: perbaikan yang sifatnya permanen
3. Pencegahan (prevension); upaya untuk menghilangkan atau mengurangi
kemungkinan timbulnya suatu ancaman. Namun perlu disadari bahwa
pencegahan tidak bisa 100% efektif terhadap sebagian besar bencana.
4. Mitigasi (mitigation); yaitu upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak
buruk dari suatu ancaman. Misalnya: penataan kembali lahan desa agar
terjadinya banjir tidak menimbulkan kerugian besar.
5. Kesiap-siagaan (preparedness); yaitu persiapan rencana untuk bertindak
ketika terjadi (kemungkinan akan terjadi) bencana. Perencanaan terdiri dari
perkiraan terhadap kebutuhan-kebutuhan dalam keadaan darurat
19

danidentifikasi atas sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan


tersebut. Perencanaan ini dapat mengurangi dampak buruk dari suatu
ancaman. Struktur organisasi ini dikembangkan dan di adopsi di Indonesia
sebagai acuan pengembangan struktur organisasi teknis dalam manajemen
bencana baik skala lokal, regional maupun nasional. Pengembangan struktur
organisasi ini juga dipakai sebagai di BNPB maupun Kementrian Kesehatan
RI.
F. Peran Petugas Dalam Manajemen Penganganan Bencana

Gambar 2. Struktur Organisasi Penanganan Bencana


Tugas dan Peran setiap team penanganan bencana (Sinaga, 2015):
1. Team Pendukung
Kelompok ini melakukan analisis kemungkinan-kemungkinan dari resiko
yang terjadi di Rumah Sakit. Beberapa tanggung jawab mereka adalah:
a. Mengamankan perlengkapan rumah sakit.
20

b. Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan setelah bencana, termasuk air


bersih, makanan dan pengobatan yang dibutuhkan.
c. Menggambar dari peta daerah tersebut lokasi dari rumah sakit serta
mengidentifikasi tempat yang aman atau yang berbahaya.
d. Mengaktifkan sistem manajemen bencana di rumah sakit
2. Team Manajemen Informasi
Bagian aktifitas dari kelompok manajemen informasi selama bencana, adalah
meliputi:
a. Waspada terhadap kondisi yang mungkin bisa terjadi saat itu.
b. Menyediakan informasi dan panduan untuk pasien dan personal rumah
sakit lainnya.
c. Mengatur informasi dan menghubungkan informasi tersebut pada setiap
team pencarian, penampungan, pemadam kebakaran serta team
pendukung.
d. Memeriksa setiap pintu keluar darurat serta jalan-jalan yang saling
digunakan.
e. Kewaspadaan publik melalui media massa.
f. Memberikan list dari nomer telepon darurat untuk kepentingan pasien
yang membutuhkan.
g. Melaporkan segala akibat dari bencana
3. Team Pencarian
Kelompok ini bertujuan untuk pencarian dan penyelamatan pada saat dan
selama terjadinya bencana. Kegiatan utama mereka adalah:
a. Membangun penyidikan untuk mencari korban dan yang terjebak
b. Melakukan observasi dari kerusakan di daerah tersebut dan mencegah
orang untuk masuk di daerah tersebut
c. Memindahkan dan mengevakuasi yang cedera dari tempat yang berbahaya
ke tempat yang aman.
4. Team Penampungan Sementara
Kelompok ini termasuk penempatan tenda, tempat penampungan sementara
atau tenda darurat setelah bencana. Beberapa aktifitas mereka adalah:
21

a. Melakukan list kondisi fisik dari setiap pasien untuk mengidentifikasi


siapa diantara mereka yang membutuhkan perawatan lebihdalam kondisi
emergency.
b. Mengidentifikasi list dari pasien yang mana tidak membutuhkan bantuan
yang darurat.
c. Menyediakan asisten atau bantuan pada yang terluka, terutama pada orang
yang membutuhkan bantuan alat-alat kesehatan
d. Menyediakan alat-alat kesehatan seperti alat-alat kesehatan yang steril,
pelayanan kesehatan dan peralatan medis yang bisa dimobiliasikan.
e. Kebutuhan emergency bagi pasien termasuk suplai air dan distribusi
makanan dan obatobatan diantara pasien dan yang terluka.
f. Menyediakan tempat penampungan bagi korban, pasien maupun yang
terluka pada daerah yang aman.
5. Team Pemadam Kebakaran
Kemungkinan untuk terjadinya kebakaran ketika terjadi bencana adalah
sangat tinggi, kelompok pemadam kebakaran mempunyai tugas sebagai
berikut:
a. Memeriksa gedung rumah sakit akan kemungkinan terjadinya kebakaran
b. Menyiapkan panduan untuk keamanan dari terjadinya kebakaran
c. Menyediakan sistem penanggulangan terjadinya kebakaran di Rumah
Sakit ketika bencana
d. Melatih secara perseorangan untuk menjadi team pemadam kebakaran dan
menyarankan mereka untuk tenang ketika terjadi kebakaran
e. Melakukan evakuasi di Rumah Sakit apabila terjadi kebakaran
6. Team Pemulihan
Bagian dari team pemulihan adalah:
a. Pemulihan jangka panjang dan membantu menstabilkan kondisi rumah
sakit
b. Melakukan pelayanan kesehatan ulang di rumah sakit
c. Menyediakan bantuan fisik dan psikologis pada pasien, korban yang
terluka dan pada mereka yang kehilangan anggota keluarganya
22

7. Team Rekonstruksi
Bagian dari tanggung jawab team rekonstruksi adalah:
a. Mempertimbangkan area yang rusak dari rumah sakit
b. Merekonstruksi struktur kerusakan yang ada di Rumah Sakit
c. Pembangunan jangka panjang dari gedung
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Bencana merupakan kejadian luar biasa yang menyebabkan kerugian
besar bagi manusia dan lingkungan dimana hal itu berada diluar kemampuan
manusia untuk dapat mengendalikannya, disebabkan oleh faktor alam atau
manusia atau sekaligus oleh keduanya. Didalam penanganan bencana terdapat
beberapa aspek yaitu aspek mitigasi bencana (pencegahan), kegawatdaruratan saat
terjadinya bencana, dan aspek rehabilitasi. Penanganan kegawatdaruratan
targetnya adalah penyelamatan sehingga risiko tereliminir. Sedangkan rehabilitasi
merupakan upaya mengembalikan pada kondisi normal kembali.
Rumah Sakit memegang peranan penting dalam kesiapsiagaan
penanganan korban gawat darurat sehari-hari dan bencana. Oleh sebab itu,
fasilitas kesehatan tersebut harus selalu siap menerima korban gawat darurat
sehari-hari dan bencana yang membutuhkan pertolongan cepat dan tepat. Rumah
sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan rujukan khususnya bagi kasus-kasus
emergensi, sebaiknya lebih siap dalam menghadapi dampak bencana baik bencana
di dalam atau di luar rumah sakit. Kesiapan rumah sakit dalam keadaan bencana
dituntut harus mampu mengelola pelayanan sehari-hari, pelayanan korban akibat
bencana, serta aktif membantu dalam penyelamatan nyawa korban bencana.
Peran tenaga kesehatan sangat diperlukan pada saat terjadi bencana.
Tegaa kesehatan memiliki peran penting pada tahap Pra-Disaster, Impact,
Emergency, dan Rekrontruksi. Kompetensi seorang tenaga kesehatan dalam
manajemen bencana merupakan kemampuan mengarahkan dan memobilisasi
(respon eksternal multisektoral), dengan mengakses kebutuhan sumber daya lintas
instansi kesehatan secara cepat, tepat dan terpadu dalam kondisi bencana.
Manajemen penanggulangan bencana adalah pengelolaan penggunaan
sumber daya yang ada untuk menghadapi ancaman bencana dengan melakukan
perencanaan, penyiapan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi di setiap tahap
penanggulangan bencana yaitu pra, saat dan pasca bencana. Pada dasarnya, upaya
penanggulangan bencana meliputi tahap pra bencana, terdiri atas situasi tidak
23
24

terjadi bencana, kegiatannya adalah pencegahan dan mitigasi, situasi potensi


terjadi bencana, kegiatannya berupa kesiapsiagaan. Sedangkan pada tahap saat
bencana, kegiatan adalah tanggap darurat dan pemulihan darurat. Dan tahap pasca
bencana, kegiatannya adalah rehabilitasi dan rekonstruksi.
Terdapat beberapa team yang memiliki peran masing-masing saat terjadi
bencana. Team ini disebut Struktur Organisasi Manajemen Bencana Seksi
Operasional. Team tersebut adalah: team pendukung, manajemen informasi,
pencarian, penampungan sementara, pemadam kebakaran, pemulihan dan
rekontruksi.
Salah satu syarat sukses penanganan emergency bencana adalah
kepemimpinan. Ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan adalah kebingungan,
kehancuran, kerugian, dan malapetaka. Kepemimpinan yang dimaksud tentu
selayaknya dari unsur pemilik otoritas (pemerintah). Keberhasilan semua elemen
masyarakat dalam kancah bencana sangat tergantung keberadaan pemimpin.
Kepemimpinan dalam penanganan emergency bencana haruslah mampu dengan
cepat, tepat, dan berani mengambil keputusan, bersikap tegas, menjalankan sistem
instruksi bukan diskusi.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2013. Indeks Risiko Bencana
Indonesia 2013. Jakarta: BNPB.
Ballay, C. 2006. Hospital Incident Command System: Guide book, EMSA:
California.
Depkes RI. 2007. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat
Bencana. In: RI DK, editor. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI. 2008. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI. 2009. Pedoman Perencanan Penyiagaan Bencana bagi Rumah Sakit.
In: RI DK, editor. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI. 2011. Pedoman Pelaksanaa Jaminan Kesehatan Masyarakat, Jakarta:
Kemenkes.
Hodgetts T.J. dan Jones K.M. 2002. Major Incident Medical Management and
Support, 2nd ed., BMJ Books: London.
International Strategy for Disaster Reduction (ISDR). 2004. Living with Risk - A
Global Review of Disaster Reduction Initiatives. New York and Geneva:
United Nations Publication.
Kementerian Hukum dan HAM. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24
Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. In: Indonesia KHdHR,
editor. Jakarta: Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia; 2007
Legg, T. J. 2010. Nursing in Disaster Situations: Are You Prepared to Answer the
Call?. Pennsylvania Nurse 4-9.
RS Muhammadiyah Palembang. 2010. Pedoman Penanggulangan Bencana RS
Muhammadiyah Palembang. Palembang: RS Muhammadiyah
Palembang.
Sinaga, S.N. 2015. Peran Petugas Kesehatan dalam Manajemen Penanganan
Bencana Alam. Jurnal Ilmiah “Integritas”. 01(01): 85-92.
Sutoto, dkk. 2017. Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit Edisi 1. Jakarta:
Komisi Akreditasi Rumah Sakit.