Anda di halaman 1dari 5

NAMA : NUR JUNINDA DEWI

NIM : N1A117084

KELAS : 6K

Definisi Komunitas Adat Terpencil (KAT)

Komunitas Adat Terpencil yang selanjutanya disingkat dengan KAT adalah sekumpulan
orang dalam jumlah tertentu yang terikat oleh kesatuan demografis, ekonomi, dan/atau social
budaya, dan miskin, terpencil, dan/atau rentan social ekonomi. Dalam Pasal 1Perpres 186 Tahun
2014 adalah bagian warga Negara Indonesia yang memerlukan perhatian dan penanganan
khusus. Meski secara jumlah relative kecil sekitar 250.000 KK (database KAT Kemensos RI
2018), dan data sesungguhnya jauh lebih besar, namun kelompok ini memerlukan perhatian
khusus.

Persoalan KAT tidak semata keterpencilan tetapi juga terkait dengan kemiskinan, hak
asasi manusia, ketersedian kebutuhan dasar, isu marjinalisasi, ketidaksertanaan, keadialan,
pemerataan pembangunan, pendidikan, kesehatan, persoalan tanah (ulayat), degradasi
lingkungan hingga persoalan kesulitan penjangkauan wilayah.

Gambaran Umum SAD

Suku Anak Dalam (SAD) merupakan salah satu etnik tradisional yang ada di
Indonesia;  merupakan sebutan  bagi komunitas adat terpencil yang hidup dan tersebar dalam
hutan di provinsi Jambi dan provinsi Sumatera Selatan.  Sebutan ini menginterpretasikan situasi
dari kehidupan Suku Anak Dalam (SAD) yang sejak nenek moyangnya menggantungkan hidup
pada berbagai hasil dan manfaat hutan.

Suku Anak Dalam (SAD) bermukim di berbagai kawasan hutan provinsi Jambi yang
pada saat ini terutama  pada kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas dan Bukit Tigapuluh.
Suku Anak Dalam atau Orang Rimba asal Jambi tersebar dikawasan Taman Nasional Bukit Dua
Belas yang luasnya lebih dari 60.000 hektar,9 yang telah dilindungi dan ditetapkan sebagai
kawasan hidup Orang Rimba melalui Surat Usulan Gubernur Jambi No 522/51/1973/1984.
Kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas meliputi tiga kabupaten: kabupaten Batanghari,
kabupaten Tebo dan kabupaten Sarolangun. Tempat hidup SAD tersebar di daerah sungai
Sarolangun, sungai Terap, sungai Kejasung Besar dan Kejasung Kecil, sungai Makekal dan
sungai Sukalado.

Secara administratif  kawasan akses Suku Anak Dalam (SAD) menyebar di kabupaten


Sarolangun Bangko, Bungo, Tebo dan Batang Hari. Kawasan yang di diami Orang Rimba ini
secara geografis adalah kawasan yang dibatasi oleh Batang Tabir di sebelah barat, Batang
Tembesi di sebelah timur, Batang Hari di sebelah utara dan Batang Merangin di sebelah selatan.
Selain itu, kawasan ini pun terletak di antara beberapa jalur perhubungan yaitu lintas tengah
Sumatera, lintas tengah penghubung antara kota Bangko, Muara Bungo dan Jambi serta lintas
timur Sumatera. Dengan letak yang demikian, maka dapat dikatakan kawasan ini berada di
tengah-tengah provinsi Jambi.

Data Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Propinsi Jambi


menyebutkan bahwa pada tahun 2012 jumlah total SAD berkisar 28.611 jiwa, 13.664 sudah
dilakukan kegiatan permberdayaan terhadap mereka dan 14.947 jiwa belum menerima kegiatan
pemberdayaan pemerintah. Berikut adalah Jumlah SAD Berdasarkan Jenis Kelamin dan
Kabupaten :

  Sumber: Website BPS Kabupaten Sarolangun,( 2011

Sejarah SAD
Suku Anak Dalam (SAD) merupakan salah satu suku asli yang ada di Propinsi
Jambi,keterangan yang pasti asal usul kedatangan nenek moyang suku ini belum ditemui secara
tertulis,pendapat para ahli dan sejarahwan ada yang menyebutkan bahwa suku ini berasal dari
peercampuran antara suku Wedda dan suku Negrito yang kemudian disebut suku
Weddoid,pendapat ini didasarkan pada cirri-ciri pisik suku anak dalam yang memiliki kesamaan
dengan suku Negrito dan Weddoid,ciri yang bersamaan itu antara lain Kepala berbentuk
sedang(kecil),posisi mata agak menjorok kebelakang,kulit sawo matang dan umumnya warga
suku anak dalam berambut keriring (ikal,berombak dan hitam legam).
Hingga kini, tidak diketahui secara pasti asal muasal Suku Anak Dalam. Versi
Departemen sosial dalam data dan informasi Depsos RI (1990) menyebutkan asal usul Suku
Anak Dalam dimulai sejak tahun 1624 ketika Kesultanan Palembang dan Kerajaan Jambi, yang
sebenarnya masih satu rumpun, terus menerus bersitegang sampai pecahnya pertempuran di Air
Hitam pada tahun 1929. Versi ini menunjukkan mengapa saat ini ada 2 kelompok masyarakat
anak dalam dengan bahasa, bentuk fisik, tempat tinggal dan adat istiadat yang berbeda. Mereka
yang menempati belantara Musi Rawas (Sumatera Selatan) Berbahasa Melayu, berkulit kuning
dengan berpostur tubuh ras Mongoloid seperti orang palembang sekarang. Mereka ini keturunan
pasukan Palembang. Kelompok lainnya tinggal dikawasan hutan Jambi berkulit sawo matang,
rambut ikal, mata menjorok ke dalam. Mereka tergolong ras wedoid (campuran wedda dan
negrito ). Konon mereka tentara bayaran Kerajaan Jambi dari Negara lain.

Cerita yang dituturkan dari mulut kemulut dan dipercayai oleh sebagian besar suku anak
dalam di pedalaman Taman Nasional Bukit Dua Belas dan suku anak dalam yang hidup
dikawasan Hutan Kabupaten Merangin, Bungo,Tebo dan sebagian suku anak dalam yang
bermukim di kawasan Bathin VIII, Sarolangun menyebutkan nenek moyang mereka berasal dari
Kerajaan Pagaruyung di Sumatera Barat.Dikisahkan pada zaman dahulu kerajaan Pagaruyung
mengirimkan tentara bala bantuan untuk kerajaan Melayu Jambi yang saat itu sedang mendapat
ancaman dari temtara kerajaan lain.

Puluhan orang bala tentara kerajaan pagaruyung diberangkatkan ke Kerajaan Melayu


Jambi, setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh melewati hutan belantara dan
menyeberangi puluhan sungai sungai besar tentara Pagaruyung terpaksa menghentikan
perjalanan karena mereka kehabisan bekal dalam perjalanan, saat itu mereka berpikir tidak
mungkin untuk kembali ke pagaruyung,karena perjalanan masih sangat jauh, dan mereka
khawatir jika mereka kembali mereka akan mendapat hukuman dari kerajaan. Untuk melanjutkan
perjalanan ke Jambi mereka sudah tidak mampu karena kehabisan bekal,setelah mengalami
berbagai pertimbangan akhirnya mereka memutuskan untuk hidup mengembara di dalam hutan
hutan belantara jambi. Sehingga seperti yang telah dijelaskan diatas, asal usul atau sejarah
Komunitas Adat Terpencil Suku Anak Dalam (SAD) berasal dari tiga keturunan dari Sumatera
Selatan, dari Minang Kabau dan keturunan dari Jambi asli yang berdomisili di daerah Air Hitam
Kabupaten Sarolangun Bangko.
Wilayah Hidup ;  Dinamika sosial budaya dan ekonomi  SAD.

Hutan adalah habitat Suku Anak Dalam (SAD). Hutan merupakan rumah, sumber
penghidupan dan perlindungan bagi Suku Anak Dalam (SAD). Hutan adalah tempat Anak –
Anak Rimbo tumbuh berkembang menjadi manusia yang arif terhadap alam. Dalam keteduhan
pepohonan, Suku Anak Dalam (SAD) menganyam kehidupan mereka.

Sebagai masyarakat hutan,  Suku Anak Dalam (SAD) sejak dulu  sudah membedakan


berbagai area hutan yang memiliki nilai kemanfaatan berbeda, misalnya ada area yang
dinamakan halom bungaron, yaitu kawasan hutan yang masih utuh dan memiliki kerapatan
vegetasi yang tinggi. Area ini nyaris tidak dimanfaatkan oleh Suku Anak Dalam (SAD).  Lalu
ada halom balolo dan ranah yang merupakan kawasan dimana Suku Anak Dalam (SAD) biasa
berburu dan mengambil berbagai hasil hutan. Kemudian ada area halom benuaron dan humo
yang dimanfaatkan untuk berladang.

Bila digambarkan dengan lingkaran-lingkaran, maka halom bungaron adalah lingkaran


terdalam, dibagian luarnya adalah halom balolo, dan terluar adalah halom benuaron. Tempat
berladang Suku Anak Dalam tersebar di pinggir dan di dalam kawasan hutan. Suku Anak Dalam
sangat mengenal hutan dan isinya, mereka memanfaatkan berbagai tumbuhan dan hasil hutan
yang terdapat di dalam hutan untuk memenuhi kehidupan mereka.

Hutan merupakan habitat bagi Suku Anak Dalam, Rumah tempat mereka tinggal yang
biasa disebut sudung, hanya terdiri dari atap rumbia, dengan lantai anak kayu, dan tanpa dinding.
Di sudung inilah mereka berkumpul bersama keluarga, bahkan dengan hewan-hewan piaraan
pula. Pola hidup Suku Anak Dalam (SAD) pada umumnya adalah berkelompok dengan satu
pemimpin suku yang bergelar Temenggung dan satu wakil yang disebut dengan Depati yang
bertugas mewakili Temenggung ketika yang bersangkutan berhalangan hadir dalam acara-acara
penting suku mereka.

Seorang yang bergelar Depati bertugas menyelesaikan hal-hal yang terkait dengan hukum
dan keadilan. Strata sosial lainnya yang terdapat dalam susunan kepemimpinan suku Rimba
adalah adanya seorang yang bergelar Debalang yang tugasnya terkait dengan stabilitas keamanan
masyarakat dan seorang yang bergelar Manti yang tugasnya memanggil masyarakat pada waktu
tertentu. Sementara, Pengulu adalah sebuah institusi sosial yang mengurus dan memimpin
masyarakat orang Rimba. Ada juga yang bertugas seperti dukun, atau Tengganai dan Alim yang
mengawasi dan melayani masyarakat dalam masalah spiritual dan di bidang kekeluargaan,
nasehat adat dan sebagainya.

Seorang pemimpin atau Temenggung sendiri dalam masyarakat Rimbo dan Batin
Sembilan dapat dikenali dengan bentuk rumahnya yaitu seorang Temenggung mendiami sebuah
rumah yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Kediaman Temenggung ini memiliki
dinding kayu, atapnya dari daun dengan lantai yang kira-kira 2 meter lebih tinggi dari tanah.
Rumah ini oleh masyarakat Suku Rimba disebut dengan Bubangan. Sedangkan rumah warga
biasa yang disebut sampaeon lebih sederhana, dengan lantai kira-kira setengah meter tingginya
dari tanah. Lantai dibuat dari batang kecil kayu bulat dan atapnya dibuat dari plastik hitam.

Untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, Suku Anak Dalam, melaksanakan


kegiatan berburu, meramu, menangkap ikan dan memakan buah-buahan yang ada di dalam
hutan. Berburu binatang seperti Babi, Kera, Beruang, Monyet, Ular, Labi-labi, Rusa, Kijang dan
berbagai jenis unggas, merupakan salah satu bentuk mata pencaharian mereka. Kegiatan berburu
dilaksanakan secara bersama-sama dengan membawa anjing. Alat yang digunakan adalah
Tombak dan Parang. Di samping itu untuk mendapatkan binatang buruan juga menggunakan
sistem perangkap dan jerat.

Jenis mata pencaharian lain yang dilakukan adalah meramu didalam hutan, yaitu
mengambil buah-buahan dedaunan dan akar-akaran sebagai bahan makanan. Lokasi tempat
meramu sangat menentukan jenis yang diperoleh. Jika meramu dihutan lebat, biasanya
mendapatkan buah-buahan, seperti cempedak, durian, arang paro, dan buah-buahan lainnya. Di
daerah semak belukar dipinggir sungai dan lembah mereka mengumpulkan pakis, rebung,
gadung, enau, dan rumbia. Mencari rotan, mengambil madu, menangkap ikan adalah bentuk
mata pencaharian lainnya. Sedangkan kondisi social dan kebudayaan suku anak dalam yang
hidup diluar hutan saat ini telah mengalami perubahan dan peregeseran dari kebudayaan
tradisional memasuki peradaban baru, beberapa warga telah menikah dengan   masyarakat di luar
kelompok mereka, warga suku anak dalam juga telah mengenal dunia modern dan teknologi
informasi.